DISCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO
RATE : T
WARNING : AU, 1ST POV
MONSTER HUNTER©CAPCOM
.
.
.
(AUTHOR NOTE : Diharapkan kepada readers sekalian untuk mencari nama monster yang author cetak tebal di *monsterhunter. wikia* demi kelancaran dan kenyamanan dalam membaca.)
.
.
.
~Two Beasts In The Same Moment~
Naruto dan Sakura memacu langkah mereka dengan kecepatan setinggi mungkin. Berusaha untuk memancing sang pemimpin spesies raptorial bird-wyvern agar mengarah ke tempat di mana Shikamaru memasang jebakannya.
"Sakura-chan! Percepat langkahmuuu!" jerit Naruto Uzumaki. Dia bergerak gesit untuk menghindari kejaran Iodrome yang kini entah sudah sedekat apa dengannya. Pepohonan serta semak belukar yang menghalangi jalan mengurangi kecepatan larinya.
"Naruto dia sepertinya tidak ada di belakang kita." kata Sakura tiba-tiba. Dua kali wanita berambut merah muda itu menengok ke arah belakang dan tidak didapatinya seekor monster berwarna merah marun yang diperkirakan sedang mengejarnya.
Sakura melambatkan gerakan kedua kakinya. Begitu juga dengan Naruto.
"Hosh...hosh..., aku pikir Iodrome itu berbalik ar..." belum selesai kalimat yang diucapkan oleh pria pengguna great lance itu, tiba-tiba saja dari arah atas...
KRAAHH!
"KYAAA!" Sakura berteriak sangat lantang. Beruntung refleknya sangat bagus sehingga dia mampu menghindari terkaman vertikal dari makhluk beracun itu yang sebenarnya sedari tadi mengikuti mereka berdua dari atas dahan pepohonan.
"Sakura-chan!"
"Aku tidak apa-apa Naruto." balas Sakura. Nafasnya terengah-engah dan dia benar-benar merasa sangat waspada karena jarak antara tempatnya berdiri dengan monster berjengger mirip kapak itu kurang lebih hanya tiga meteran.
Iodrome itu siap untuk menerjang. Sakura sudah bersiap dengan kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Dipegangnya erat sebuah kunai di telapak tangan kanan.
KRAH!
"Minggir kau sialan!"
(JLEB)
Naruto dengan sigapnya segera menusukkan ujung tombak besarnya ke betis kiri Iodrome itu sebelum sang monster menyentuh kulit Haruno Sakura. Bagus!
"Hahaha, kau lihat kan kekuatanku makhluk bodoh? Sebaiknya kau jangan meremehkan Uzumaki Naruto dan Rasengan yang aku pegang ini." Naruto memandangi wajah Iodrome dengan tatapan mengintimidasi. Kini betis kiri pemimpin kawanan Ioprey itu yang baru saja terkena serangan langsung mengucurkan cairan berwarna merah dengan intensitas lumayan banyak.
'O ya, aku lupa sesuatu.' Sakura mengambil sebuah bola kecil seukuran buah kelengkeng yang berwarna senada dengan rambutnya, pink, dari dalam tool pocket nya. Itu adalah paintball. Alat yang digunakan untuk melacak keberadaan monster apa saja dengan cara kerja menempelkannya di kulit sang monster. Durasi pelacakkan berkisar antara tiga puluh sampai empat puluh menitan sebelum paintball ini non-aktif dengan sendirinya.
Sakura bergerak mengendap-endap di belakang tubuh Iodrome saat makhluk karnivora itu sedang fokus menghadap ke arah Naruto yang ada di depannya. Dilemparkannya sekuat mungkin paintball itu ke bagian belakang tubuh Iodrome dan...berhasil! Alat itu menancap di bagian paha belakang.
Naruto yang heran dengan gerak-gerik Sakura tiba-tiba saja bertanya, "Sakura-chan, apa yang sedang kau lakukan?"
Bodohnya dia. Kewaspadaannya menurun drastis dan monster merah itu menggunakan kesempatan ini untuk menyerang secara frontal!
"Naruto awas!"
KRAAAHHH!
Monster beracun itu melompat jauh dari jarak empat meteran menuju ke arah Naruto dan sempat menggigit bahu kanannya juga kedua kakinya mencakar armor depan yang dipakai olehnya.
"Gyaahh!" pria berambut pirang itu terjungkal ke atas tanah seketika.
Kedua mata Naruto terpejam erat menahan rasa sakit. Tombak andalannya terlempar ke arah samping dari genggamannya. Efek racun yang konon dua kalilipat dari Ioprey kini mulai bereaksi di sekitar bahu kanan Naruto. Ditambah luka-lukanya yang tadi semakin membuat keadaannya memprihatinkan.
"Naruto..." Sakura berjalan mundur ke belakang selangkah demi selangkah. Warna kulit wajahnya berubah menjadi pucat pasi. Kunai yang ia pegang terjatuh dan kedua tangannya bergetar ringan disertai butiran-butiran keringat dingin yang mulai muncul dari pori-pori kulitnya.
Dilihatnya tubuh rekan satu timnya itu yang kini tergeletak tak berdaya di atas tanah. Armor yang menutupi bagian perut serta dada Naruto retak serta armor pelindung bagian bahunya hancur. Ini mengerikan, sungguh mengerikan. Di satu sisi Sakura ingin menolong Naruto sedangkan di sisi yang lain nyawanya berada di ujung tanduk. Tak ada yang bisa melindunginya lagi. Naruto sepertinya sekarat, aku (Sasuke) tidak ada di situ, dan Kakashi-sensei tidak akan menolongnya dalam kondisi apapun jika dirinya ingin lulus dalam ujian kali ini.
"Saku...ra-chan uhuk la...a...ri." rintih Naruto. Kaki kanan Iodrome itu diinjakkan ke atas perut Naruto sehingga yang bersangkutan memuntahkan sedikit darah dari mulutnya.
"Tidak-tidak..." wanita medic-hunter itu menggelengkan kepala berulang kali. Air mata mulai mengalir dari pelupuk matanya. Ketakutan, frustasi, amarah, semua bercampur menjadi satu.
KRAAAHH!
"Tidaaakk!" Sakura akhirnya memutuskan untuk lari dari situ saat Iodrome itu mulai berlari mengejar.
Di atas dahan pepohonan yang berjarak puluhan meter dari lokasi pertarungan, Y berusaha menahan mati-matian Kakashi Hatake agar tidak turun tangan ke dalam pertarungan yang sebenarnya merupakan ujian kenaikan level 3.
"Tahan dirimu Kakashi-san, tenanglah." ujar Y sembari memegangi lengan kekar milik pria di sampingnya yang kini sudah bersiap dengan crossbow serta anak panah.
"Aku sudah tidak bisa menahan lagi. Lepaskan aku!" seru sensei.
"Jika sekali saja kau menyentuh monster itu maka dipastikan keempat peserta ujian kali ini akan dicoret. Apa kau mau seperti itu?" tanya Y. Mencoba untuk mempersuasi anggota San Koken'nin itu.
Emosi Kakashi-sensei mulai mereda. Cengkeraman tangan Y di lengan sensei mulai dilepaskan.
Pria berambut perak itu menghirup nafas dalam-dalam sebelum menghembuskannya panjang. "Sudah kuputuskan..."
Y mengamati Kakashi-sensei dengan seksama.
"...lebih baik murid-muridku gagal daripada mati."
Secepat kilat sensei melompati satu dahan ke dahan yang lain sebelum pria bertopeng kucing itu menahannya lagi seperti tadi.
"Huuuhh, sampai kapan kau akan seperti ini...senpai?"
H
U
N
T
E
R
Selagi Naruto dan Sakura memancing Iodrome itu untuk menuju ke arah jebakan, aku memutuskan untuk tetap diam di tempat. Luka-luka yang kuterima dari pertempuran tadi benar-benar menguras energi. Aku jujur masih penasaran dengan serangan api hitam yang tadi sempat membunuh kelima ekor Ioprey sekaligus. Serangan itu...seperti tidak disengaja. Aku mencoba beberapa kali lagi tapi tetap saja nihil. Api hitam yang berasal dari tebasan Amaterasuku ini hanya muncul sekali. Saat dimana emosiku benar-benar memuncak.
"Ennggh sakitnya..." gumamku. Untung saja aku menemukan sebotol kecil antidote yang kebetulan terjatuh di balik batu besar di mana Sakura sempat bersembunyi tadi. Jika tidak maka bisa dipastikan aku sekarang sedang dalam kondisi sekarat dan tinggal menunggu ajal menjemput.
Kuputuskan untuk berbaring terlentang di atas rerumputan ini. Sembari beristirahat juga untuk mempercepat proses penyembuhan luka-lukaku. Terutama luka infeksi akibat racun Iodrome itu. Semoga saja mereka berhasil dan aku bisa dijemput oleh mereka semua setelah pertarungan selesai. Semoga...
Segumpalan awan di langit yang nampak dari bola mata hitamku benar-benar membuat hati sejuk. Terutama setelah semuanya yang baru saja terjadi. Tapi...itu tidak berlangsung lama. Mataku tak berkedip selama belasan detik setelah menangkap sesosok objek besar bersayap yang sedang terbang berputar-putar ratusan meter di atas sana.
'Apa itu?'
H
U
N
T
E
R
"Hah...hah...hah..." deru nafas Sakura terpacu sangat cepat. Kedua kakinya terasa nyeri serta sangat lelah setelah dipaksa untuk berlari sedari tadi. Dan kini pun ia tetap memaksakan diri untuk berlari jika tidak ingin nyawanya melayang di tangan Iodrome itu. Yang kini berada persis di belakangnya.
"Aaahh!" wanita pink itu terlempar cukup jauh ke depan setelah barusan terkena tandukan kepala dari sang monster.
Sakura berusaha untuk bangkit perlahan-lahan. Tenaganya bisa dibilang sudah hampir habis. Iodrome mendekati tubuh Sakura dan menginjak telapak tangannya hingga terdengar bunyi 'krek'. Beberapa jarinya patah.
"Aaa...agh." tak ada suara lantang dari pengekspresian rasa sakit. Tatapan medic-hunter itu mulai buram dan memburam. Desahan mengerikan dari makhluk beracun itu semakin tidak terdengar oleh kedua telinganya. Tanpa dia sadari mulut Iodrome itu terbuka lebar dan bersiap-siap untuk menyemburkan segumpal racun berwarna keunguan yang jelas sangat mematikan jika terkena di bagian vital.
trap...trap...trap...
Suara derap langkah samar-samar terdengar dari arah belakang Iodrome. Suara itu terdengar jelas dan semakin keras.
trap...trap...TRAP...TRAP...
"Mati kau monster biadaaaaaappp!" Naruto sudah berada persis di belakang Iodrome. Dengan tubuh yang sudah lemah, dia berusaha mati-matian untuk membunuh makhluk yang telah melukai kawan-kawannya agar tak ada lagi yang terluka atau mati. Dia bersumpah akan menyelesaikan ini dalam sekali serang. Menang atau mati.
Naruto terkejut saat menyadari jika tiba-tiba saja pangkal Rasengan miliknya memancarkan cahaya menyilaukan disertai pusaran angin aneh yang mengelilingi tombaknya dengan pola spiral. Cahaya itu teramat cepat melaju ke depan, ke ujung, bersamaan dengan meluncurnya angin spiral yang kini membentuk kerucut tajam.
(CLAAASSH)
KRAAAAAAAHHHHH!
Monster itu menjerit teramat keras saat serangan aneh Naruto barusan menembus tubuhnya dan mengakibatkan terlempar sangat jauh dengan kecepatan tinggi ke arah depan. Semak serta pepohonan di sekeliling Naruto bergoyang kesana-kemari seiring dengan selesainya serangan pamungkas yang menimbulkan efek angin kencang.
Cipratan darah menghiasi wajah serta armor Naruto. Dia tersenyum puas sebelum akhirnya spontan terjatuh tak sadarkan diri karena pingsan.
"Naruto!" seru Kakashi-sensei panik. Dia baru saja tiba sesaat setelah Naruto mengeluarkan serangan aneh yang mampu melontarkan tubuh Iodrome sejauh puluhan meter ke depan sana.
'Serangan barusan jangan-jangan...' kata sensei dalam hati.
Sontak sensei segera mengecek denyut nadi Naruto. Denyut nadinya melemah. Walaupun begitu dari sorot mata Kakashi Hatake terpancar raut kelegaan serta bangga. Ketiga muridnya berhasil lulus ujian kenaikan level.
"Kau tidak apa-apa Sakura?"
Yang ditanyai hanya menggeleng pelan. Sakura menggerakkan tubuhnya yang pastinya terasa sangat lelah dan nyeri untuk bangkit.
"Naruto harus segera kuobati sensei." ucapnya lirih. Dikeluarkannya sebotol antidote, ration, dan terakhir potion dari medic-tool.
"Bagus." sensei menepuk pelan pundak murid wanitanya itu, "Kalian semua lulus."
"Kakashi-san."
Sakura serta Kakashi menoleh bersamaan.
"Selamat ya. Kalian berempat telah lulus dalam ujian kali ini." Y memberikan ucapan selamat seraya bertepuk tangan. Sakura hanya tersenyum menanggapi hal tersebut.
H
U
N
T
E
R
Di tempat Shikamaru berada, pria pemalas itu sedang duduk santai di dahan pohon yang paling tinggi. Sudah bisa ditebak apa yang akan dia lakukan.
"Mendokusei, sepertinya mereka telah berhasil tanpa bantuan pitfall trap dariku. Tahu seperti ini lebih baik aku tidur saja dari tadi. Percuma aku membuat trap susah payah selama lima belas menit." keluhnya. Putra Shikaku itu meregangkan otot-otot tubuhnya dan kemudian meletakkan kedua telapak tangannya di belakang kepala sebagai bantalan.
"Hoaahmm..." kedua matanya mulai menutup. Tapi itu hanya sebentar sebelum telinganya mendengar suara seperti kepakkan sayap samar-samar dari angkasa.
Mata kirinya dibuka perlahan. Rasa kantuknya sirna dalam sekejap setelah mengetahui siapa pemilik suara sayap mengepak barusan.
Shikamaru segera turun ke dahan di bawahnya dan mengambil pistol SOS. Diisinya benda itu dengan sebuah peluru kecil lalu dengan segera ia arahkan moncong pistol ke atas.
Sssshhh...DHORRR!
H
U
N
T
E
R
Sssshhh...DHORRR!
Kepulan asap memanjang vertikal ke udara disertai suara letusan tembakan membuat perhatian kami semua teralih. Baik aku yang berada di dekat tebing maupun yang lain yang berada di tengah hutan lebat.
'SOS? Apa maksudnya itu, Shika?' aku mencermati dengan seksama luncuran asap yang membumbung tinggi. Tiba-tiba saja aku teringat tentang apa yang pernah diajarkan oleh sensei tentang sinyal SOS dalam berburu monster.
Hijau artinya sesuatunya berjalan lancar atau bisa dibilang selesai dengan baik.
Kuning maksudnya rekan butuh bantuan karena situasinya mulai memburuk.
Merah pertanda bahaya besar yang bersifat mendadak datang mengancam.
Dan warna asap yang barusan diluncurkan oleh Shikamaru berwarna...merah.
"Jangan-jangan sesuatu yang kulihat tadi di langit itu..." perasaanku mulai tidak enak.
H
U
N
T
E
R
Kakashi-sensei, Y, serta Sakura juga ikut melihat tembakan sinyal asap itu dari tengah hutan yang rimbun.
"Apa-apaan Shikamaru itu? Bukannya misi ujian kali ini sudah selesai?" Sakura terheran dengan apa yang barusan dilihatnya. "Sensei, kau bawa pistol SOS kan? Cepat kau tembakkan sinyal SOS berwarna hijau supaya pria itu tahu kalau ujian ini telah berakhir." hardiknya.
Tatapan Kakashi masih fokus ke angkasa. Tak bergeming barang sedikit pun walau muridnya memanggil.
"Semoga saja tidak terjadi apa-apa." ujar Y.
"Aku sering mendengar dari Asuma jika Shikamaru bukanlah orang yang suka jahil atau bermain-main." sensei masih menatap ke arah kepulan asap berwarna merah yang kini mulai memudar.
Sakura menelan ludah.
Pria bermata satu itu menoleh ke arah Sakura, "Sakura, persiapkan dirimu baik-baik. Bahaya serius sebentar lagi akan mengancam kita."
H
U
N
T
E
R
Dari arah angkasa, sesosok makhluk besar berwarna hijau menukik dengan kecepatan tinggi menuju ke bawah. Sepertinya dia kelaparan dan sedang terbang guna mencari mangsa. Bau darah dari beberapa Ioprey yang tewas telah menarik perhatiannya. Ekornya yang berduri tajam dengan jumlah duri yang sangat banyak membuat siapa saja akan berpikir tiga kali untuk menghadapinya. Cakar di kedua kakinya tajam, kokoh, dan kuat. Sayapnya membentang lebar. Dan wajahnya menampakkan aura keganasan dari seekor wyvern.
GRRROOOAAAARRR!
-TSUZUKU-
Hohoho, ketemu lagi sama author. *plak, gak ada yang kangen*
Author akan mencoba untuk menjawab beberapa pertanyaan singkat dari pereview di chapter 10.
raitogecko : Waduh, jujur author belum memikirkan sampai ke situ. Tapi sepertinya sih nanti akan author coba mengingat di game aslinya memakai konsep item monster sebagai bahan baku dari weapon/armor.
Guest : Naruto gak pakai tameng (shield). Author soalnya lupa dari awal dan sudah terlanjur, hehehe. Maklum, amatiran.
Yosh, terima kasih banyak bagi yang sudah meluangkan waktu dan kesempatannya untuk membaca fic ini. :)
O ya, apakah ada yang tahu wyvern apa yang akan author tampilkan di chapter mendatang? Apa coba? :D
