DISCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO

RATE : T

WARNING : AU, 1ST POV

MONSTER HUNTER©CAPCOM

.

.

.

(AUTHOR NOTE : Diharapkan kepada readers sekalian untuk mencari nama monster yang author cetak tebal di *monsterhunter. wikia* demi kelancaran dan kenyamanan dalam membaca.)

.

.

.

~Rathian~

groooaaarr!

Suara...suara itu? Aku bangkit dari posisi berbaring. Kuarahkan pandangan ke sekeliling guna meningkatkan kewaspadaan. Tidak ada apa-apa. Hanya terlihat beberapa bangkai Ioprey yang dua jam lalu aku habisi bersama Naruto.

groooAAAARRR !

Suara auman mengerikan itu terdengar semakin jelas. Sepertinya sesosok makhluk yang entah apa itu sedang mendekat kemari dari udara. Aku ambil pedang besarku dan berusaha untuk bersembunyi di balik dahan besar pepohonan yang berjarak puluhan meter di depanku. Terlalu beresiko untuk berdiam diri di tanah lapang seperti ini.

wush..wush..Wush..Wushh..WUSHH...

Aku menelan ludah berulang kali. Mencoba untuk mengintai makhluk apa yang mulai mendaratkan tubuhnya dari atas langit. Kepakan sayap besarnya mengakibatkan semak-semak serta rerumputan yang berada di bawahnya bergoyang amat kencang. Dedaunan pohon juga turut bergerak kesana-kemari.

Makhluk itu telah berhasil mendarat. Melongokkan kepalanya ke kanan dan kiri berulang kali. Mencoba mengecek situasi sekitar. Kemudian monster berjenis wyvern itu berjalan pelan mendekati bangkai kedelapan ekor Ioprey yang ada di dekatnya. Pasti indra penciumannya yang tajam telah membantunya untuk menemukan mangsa dari jarak ratusan meter di udara.

Aku...aku sepertinya pernah melihat wujud makhluk itu sebelumnya beberapa kali di buku ensiklopedia ecology. Sebentar-sebentar. Wyvern berkulit hijau tua, mempunyai janggut lancip, ekor duri yang runcing dan banyak, namanya kalau tidak salah...

"SASUKE-KUN!"

'Sial! Suara itu...Sakura?' dari balik rerimbunan semak belukar yang berada di hadapanku tiba-tiba munculah sosok wanita berambut panjang berwarna merah muda. Itu Sakura.

GRRR...

Bodohnya dia. Suara kerasnya membuat perhatian wyvern itu teralih ke sini. Tapi mau bagaimana lagi, mungkin Sakura tidak mengetahui jika wyvern itu sedang berdiri tak jauh dari sini.

Aku menunjuk-nunjukkan telunjukku ke arahnya sambil mengucapkan mimik yang berbunyi 'lari' tanpa suara sedikitpun.

Wajah Sakura memucat saat melihat sosok besar yang sedang merentangkan sayapnya ke atas, membusungkan dadanya, dan terakhir meneriakkan auman pertanda marah...

GRROOOAAAAARR!

-XXXXXXXXXX-

RATHIAN

Tipe Monster : Karnivora.

Ukuran : Sedang.

Gerakan Andalan : Semburan bola api, terjangan, gigitan, dan backflip (mampu membunuh hunter dalam sekali sabetan ekor saat melakukan backflip).

Rathian adalah versi betina dari spesies Rathalos. Wyvern ini lebih sering berpatroli di darat ketimbang di udara. Mampu menyemburkan tiga bola api sekaligus dan sanggup bermanuver saat menerjang. Duri-duri di ujung ekornya beracun dan sangat mematikan jika mangsa terkena sabetannya.

-XXXXXXXXXX-

Aku segera mengambil langkah seribu sebelum wyvern itu mulai melangkahkan kedua kaki raksasanya untuk mengejar kami berdua.

"Lari bodooohh!" kutarik pergelangan tangan Sakura dan membawanya kabur dari situ secepat yang aku bisa.

"Kyaaa!"

Tidak jauh dari posisiku berlari terlihat Kakashi-sensei yang sedang bersandar ke sebuah pohon sembari mengisi Raikirnya dengan beberapa anak panah berukuran besar.

"Sasuke, cepat kau temui Naruto yang ada di sebuah goa kecil bersama dengan Y. Biar aku yang akan menghadang Rathian itu." perintahnya tegas.

Rathian ya? Aku akhirnya ingat nama wyvern itu. Pasangan dari Rathalos dan merupakan spesies berjenis kelamin betina.

Kuhentikan lariku sejenak, "Di mana posisinya?"

"Y akan menembakkan pistol SOS untuk memudahkan kau mencarinya." jawab sensei.

Dan benar saja, tiba-tiba terdengar bunyi letusan pistol diikuti dengan munculnya kepulan asap berwarna kuning yang memanjang vertikal ke atas.

"Hati-hati sensei. Ayo Sakura."

Sakura mengangguk, "Hm."

Sementara kami kabur untuk menyelamatkan diri, Hatake Kakashi berusaha untuk menghadang Rathian yang sedang berlari sangat kencang menuju ke arahnya.

GROAAARR!

Jarak di antara mereka berdua semakin menyempit. 50 meter...30 meter...15 meter...

Dengan sigap sensei mengarahkan moncong crossbownya ke depan. "Kau jangan ganggu kami semua."

(CTAAR)

Tembakkan anak panah bermuatan listrik itu sukses mengenai leher sang wyvern. Rathian itu terlihat sedikit kesakitan, namun ia tidak menyerah dan tetap melanjutkan terjangannya.

GROAAARR!

"Astaga..." bola mata kanan sensei melebar.

H

U

N

T

E

R

Akhirnya aku sudah sampai di tempat di mana Naruto dan Y berada. Sebuah goa kecil tempat Mosswine bersarang. Karena monster mirip babi berukuran kecil itu adalah jenis herbivora jinak maka mereka tidak masalah jika didekati oleh kami asal tidak diserang ataupun disakiti.

"Naruto, kau tidak apa-apa?" aku panik saat melihat tubuh Naruto yang sedikit membiru dan tak sadarkan diri di pojokan.

"Dia tidak apa-apa Uchiha-san." kata Y. "Dia sedang dalam proses penyembuhan dari infeksi racun serta luka yang diterima. Berterima kasih lah kepada Haruno-san yang telah rela bekerja keras untuk menyembuhkan rekannya sekalipun telapak tangan kirinya cedera." lanjutnya.

Aku sontak menoleh ke arah telapak tangan kiri wanita di sampingku yang ternyata diperban.

"Tanganmu kenapa Sakura?"

Dia hanya menggeleng pelan seraya tersenyum simpul, "Ini tidak apa-apa kok Sasuke-kun. Hanya retak di bagian jari tengah dan jari manis."

"Baiklah." pria bertopeng kucing itu bangkit dari posisi duduknya. "Sepertinya kini giliranku. Uchiha-san, kau di sini saja untuk beristirahat dan menyembuhkan luka-lukamu. Serta paling tidak kau menjaga kedua rekanmu yang keadaannya lebih parah. Terutama Uzumaki-san." dia menoleh ke arah Naruto yang masih belum sadarkan diri.

"Sasuke-kun, segera minum antidote ini." Sakura menyodorkan sebuah botol kecil dengan cairan berwarna biru keunguan di dalamnya.

Aku menggerakkan telapak tangan kanan ke kanan dan kiri berulang kali, "Tidak perlu. Kebetulan aku sudah meminumnya tadi dari antidote milikmu yang terjatuh."

"Baiklah kalau begitu. Paling tidak kau minum potion ini untuk menyembuhkan luka-luka dalam dan memakan ration ini untuk memulihkan energi yang menghilang." wanita medic-hunter itu kembali menyodorkan sebuah botol kecil yang berisi cairan berwarna hijau serta sebuah potongan daging berwarna keoranyean kepadaku. Tapi kali ini aku terima.

"Kau mau ke mana Y-san?" tanyaku penasaran.

Pria suruhan Danzou itu mengambil sebuah kapak berukuran besar dan memegangnya dengan kedua tangan. "Aku akan membantu Kakashi-san. Aku sampai lupa untuk memakai armor karena kupikir tak akan ada halangan pada ujian kali ini."

'Bukannya dia hanya berposisi sebagai pendamping pengawas ujian? Apakah pria misterius itu mampu bertarung?' batinku.

"O ya Uchiha-san, ini kuberi kau pistol SOS milikku sebagai alat untuk berjaga-jaga." dia menyerahkan sebuah pistol berukuran kecil kepadaku beserta beberapa peluru asap yang berwarna hijau, kuning, dan merah.

Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, Y segera angkat kaki dari hadapanku dan Sakura. Aku hanya bisa memandangi punggungnya yang semakin tidak terlihat di kejauhan.

H

U

N

T

E

R

DHUUUAARR!

Dinding di samping ruang kerja Mizu Tate hancur berkeping-keping. Zabuza terlempar dari dalam gedung dan disusul dengan Kisame yang kembali ingin menyerangnya.

Zabuza menggunakan ujung pedang Kubikiri Hocho nya sebagai pijakkan di atas air agar dia tidak tercebur ke dalam danau kecil sedalam kurang lebih satu meteran yang ada di belakang gedung pemerintahan Kirigakure.

"Kau sudah semakin kuat, Kisame." puji pria bermasker itu. Diacuhkannya paha kanan yang terluka dan mengucurkan darah segar setelah terkena serangan dari mantan rekannya itu.

Kisame memanggul Samehadanya di atas bahu kanan. Pria tinggi itu menyeringai, "Khekhe, kau juga semakin bagus."

Choujuro melompat dari lantai tiga melalui dinding yang hancur berlubang. Dipegangnya erat Hiramekarai lalu dipukulkannya pedang berbentuk aneh itu ke punggung Kisame.

"Uwaah!" anggota Akatsuki itu terlempar cukup jauh ke depan dan terjerembab ke tepian danau kecil setelah terkena serangan dadakan dari Choujuro.

"Senpai, sebaiknya kau jangan meremehkan pedangku yang merupakan salah satu dari keempat pedang pusaka." ujar pengganti Kisame sebagai 'Futatsu no Akuma' yang bertugas untuk mengawal langsung Yagura.

Rekan Uchiha Itachi itu mengelap setitik darah yang menghiasi samping bibirnya menggunakan punggung tangan kiri. "Kau sudah semakin dewasa ya Choujuro, kheh."

Orang-orang mulai menyingkir dari sekitar mereka bertiga sekalipun itu adalah seorang hunter. Kebanyakan dari masyarakat Kiri tahu bahwa kekuatan hunter yang telah menjabat sebagai anggota 'Futatsu no Akuma' sangat tidak pantas untuk diremehkan.

"Aku akan mengakhiri permainan kanak-kanak ini dengan cepat." Kisame menusukkan ujung Samehada yang kini sudah tak terlilit oleh kain ke dasar air. Kemudian dia tebaskan pedangnya vertikal ke atas, "Great White Shaarrk!"

Tebasan Samehadanya itu menimbulkan gelombang besar yang perlahan membentuk wujud seekor hiu putih besar dan dengan cepat hiu itu meluncur ke arah Zabuza dan Choujuro.

Choujuro memasang posisi kuda-kuda bertahan, sementara Zabuza mengayunkan pedang besarnya diagonal dari bawah ke atas.

"Water Dragon!"

Seekor naga terbentuk dari ayunan pedangnya dan dengan cepat naga air itu meluncur ke arah depan. Menyerang hiu putih buatan Kisame.

BLAAARR!

Benturan antara dua serangan senjata berelemen air itu menimbulkan gelombang dahsyat yang mengakibatkan isi danau dangkal berkurang separuh.

Kedua pemilik serangan hebat barusan terengah-engah. Serangan hiu putih mampu dihancurkan oleh serangan naga air.

"Aku sedikit tercengang kau mampu menghancurkan serangan elemen air milikku, Zabuza." ucap Kisame dengan nada sinis.

"Aku sudah tahu hampir dari semua kekuatanmu. Jangan lupa kalau kita pernah menjadi rekan satu tim selama bertahun-tahun lamanya." balas pengawal pribadi Yagura itu.

Kisame menghela nafas, kemudian dia kembali menancapkan pedangnya ke dasar air. "Choujuro dan Momochi Zabuza, coba kalian terima serangan ini." sambil tersenyum licik, pria berkulit biru itu kembali mengeluarkan serangannya.

"Ice Areaaa!"

kretek..kretek..kretek...

Hanya dalam hitungan detik, Kisame membekukan air yang ada di hadapannya dengan cepat hingga menyentuh kedua kaki musuhnya dan membuat mereka terperangkap.

"E...es? Aku tidak bisa bergerak Zabuza-san." keluh Choujuro. Digerak-gerakkan kedua kakinya namun nihil.

"Aku tidak menyangka kau telah memiliki kekuatan elemen es semenjak keluar dari desa lima tahun yang lalu, pengkhianat." ucap Zabuza. Dia berusaha untuk memecah gumpalan es yang berada di sekitar pahanya dengan Kubikiri Hocho. Namun sepertinya es itu sangat keras dan butuh waktu lama untuk meremukkan.

"Khakhakha!" Kisame tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini dan berlari kencang ke arah mereka berdua melalui jalan es yang baru saja dibuatnya. "Aku akan membunuh kalian berdua!"

(CRASH)

Samehada itu berhasil menyobek kulit dada Choujuro.

"Aarrgh!" yang bersangkutan terjatuh dan memuncratkan darah cukup banyak dari bagian dada.

Kisame berbelok ke arah Zabuza dan kembali melakukan gerakkan yang sama seperti barusan. Tapi Zabuza mampu menangkis dengan cepat.

(CTANG)

Lagi-lagi kedua pedang pusaka itu saling beradu kekuatan. Samehada melawan Kubikiri Hocho.

"Kau tahu Zabuza, aku ingin sekali membunuhmu sekarang." sindir Kisame dari jarak wajah yang sangat dekat.

"Begitu juga denganku. Aku ingin memenggal kepalamu, enghh..." dengan kedua kaki yang masih terperangkap di dalam es, Zabuza kesulitan untuk menahan gesekkan pedang Kisame dan mulai terjepit.

"Berhenti mempermainkan bawahanku, Kisame."

Sesosok pria berpostur pendek melompat dari ruang kerjanya yang sedikit porak poranda. Pria dengan luka gores di bawah mata kiri itu mengambil pedang besarnya yang memiliki aksesoris sebuah bunga besar pada bagian pangkal.

Kisame dan Zabuza menengok bersamaan ke arah pemimpin dari desa Kirigakure itu.

"Ohh, bos besar ingin ikut bermain rupanya?" ejek anggota Akatsuki itu. Dia melepaskan gesekkan pedangnya dan bersiap untuk melayani orang terkuat di negara Air.

"Yagura-sama, jangan libatkan diri anda ke dalam bahaya!" seru Ao dari dinding yang hancur itu. Namun sia-sia, atasannya seakan tak mendengar sama sekali.

" 'Hanashi' (Flower Of Death) ini sudah lama tidak kugunakan." kedua genggaman tangan Yagura dipererat, konsentrasinya dipusatkan kepada Kisame, terakhir dia sempat menghirup nafas sekali lalu menghembuskannya.

Dengan posisi kuda-kuda condong ke belakang, Yagura menebaskan pedangnya yang kini sudah bersinar keunguan dari atas ke bawah secara vertikal.

"Crescent Moon!"

Tebasan pedang Hanashi itu memunculkan sebuah kilatan berbentuk bulan sabit berwarna ungu yang melesat sangat cepat bagaikan kilat menuju ke arah Kisame berdiri.

(ZZRAAAASSHH)

Tak sempat menghindar atau menangkis karena saking cepatnya, Kisame terkena serangan Yagura itu telak dan terlempar jauh ke belakang hingga menghancurkan tembok.

"Kau pikir kau sudah sangat kuat?" Yagura bergumam dengan ekspresi wajah tetap datar.

H

U

N

T

E

R

GRRROOOOAAAAAARRR!

Rathian itu mengaum sangat keras sehingga menyebabkan banyak burung-burung yang sedang bertengger di pohon beramai-ramai terbang ke udara. Auman itu juga membuat sensei terpaksa harus menutupi kedua telinganya agar tidak rusak mengingat jarak di antara keduanya tidak kurang dari lima meter saja.

'Sial sekali. Anak panah yang kumiliki tinggal berjumlah lima buah. Delapan tembakkan tapi seakan tak ada hasilnya. Seandainya saja aku memiliki senjata dengan elemen air pasti mudah untuk membunuh Rathian yang berelemen api. Sepertinya aku harus menghentikan langkahnya saja agar kami semua bisa kabur dengan selamat dari hutan Sairento ini.' pikiran Kakashi-sensei berkecamuk. Untung saja dirinya memiliki tingkat kegesitan yang sangat tinggi sehingga tembakkan bola api tiga kali berurutan maupun terjangan berulang kali ala Rathian mampu dihindarinya. Namun dia tetaplah manusia biasa yang memiliki batasan. Dipaksa untuk selalu menghindar sambil sesekali menyerang saat ada kesempatan selama hampir lima belas menit tanpa jeda membuat staminanya terkuras cukup drastis.

Dari dalam mulut Rathian muncul seperti nafas api yang selalu berhembus tanpa henti. Pertanda pasangan Rathalos itu mulai marah.

Rathian itu menarik nafas dalam-dalam lalu menyemburkan bola api berdiameter delapan puluh centimeter sebanyak tiga kali.

BWOSH...

Sensei salto ke arah kiri guna menghindari tembakkan yang pertama.

BWOSH...

Dia mengarahkan moncong Raikiri untuk membalas tembakkan. Namun tak disangkanya jika Rathian itu tengah menembakkan bola api lagi sebelum dia sempat menginjakkan kedua kakinya di atas tanah.

BWOSH...

"Gyaaah!" pria berambut perak itu terpelanting sejauh beberapa meter ke belakang dibarengi dengan luka bakar pada bagian dada. Armor yang melindungi bagian dadanya menghitam.

Gawat! Rathian itu tidak mau melepaskan kesempatan untuk menghabisi sensei dan langsung berlari menerjangnya setelah selesai menyemburkan bola api yang ketiga.

GRROOAARR!

Kakashi-sensei hanya pasrah dengan apa yang akan terjadi. Dengan cekatan dia mengarahkan ujung crossbownya ke depan untuk melakukan serangan terakhir yaitu Triple Thunder Dog. Wyvern itu semakin mendekat dan mendekat. Mulutnya terbuka lebar dan menampilkan deretan gigi-gigi taring yang runcing dan kokoh.

(CLASH)

Hampir saja sensei menarik pelatuk crossbow jika tidak ada yang menginterupsi. Sesosok pria bertopeng tiba-tiba saja sudah ada persis di depannya dan mencabik kepala wyvern hijau itu dengan kapak besarnya.

GRARR!

Rathian itu terjatuh ke samping kanan seketika.

"Y...Y?" Kakashi-sensei sangat terkejut dengan kehadiran pria itu.

Pria bernama Y itu tiba-tiba saja membuka topeng berbentuk kucing yang sedari awal ia pakai. Kemudian dia menoleh ke belakang, "Susah jika bertarung menggunakan topeng. Benar kan, senpai?"

Bola mata Hatake Kakashi melotot. Tak percaya dengan wajah pria yang dia lihat.

"Ya...Yam...Yamato?!"

Pria yang diketahui bernama Yamato itu tersenyum kecil. "Sekarang bukan waktunya untuk kaget senpai. Cepat tembakkan SOS ke udara agar kita bisa melacak di mana letak persisnya jebakan yang dibuat oleh Shikamaru Nara itu."

Tanpa menunggu lama sensei segera memasukkan peluru asap berwarna kuning ke dalam pistol lalu menembakkannya ke atas.

Sssshhh...DHORRR!

Rathian kembali bangkit. Kepalanya digerakkan miring ke kanan dan kiri berulang kali untuk melemaskan otot-otot. Sayap besarnya direntangkan serta tak lupa dadanya dibusungkan...

GRROOOOOAAARRR!

"Senpai, kau duluan." suruh Yamato kepada Kakashi.

"Aku Duluan?"

Sssshhh...DHORRR!

SOS balasan dari Shikamaru telah dikirimkan ke udara. Asap panjang berwarna hijau yang membumbung tinggi ke langit itu membuat sensei dan Yamato mengetahui di mana posisi Shikamaru beserta pitfall trap yang dibuatnya.

"Cepat senpai!" gertak Yamato.

Tanpa mengucapkan sepatah kata, sensei langsung menuruti apa yang diperintahkan oleh pria yang sudah lama dikenalnya itu. Kini tinggal lah Yamato bersama Rathian saling berhadapan.

"Apa kau tahu Rathian? Jujur aku belum pernah berhadapan dengan jenis wyvern sepertimu sebelumnya."

GRR...

Rathian itu berjalan selangkah demi selangkah mendekati Yamato.

"Tapi yang jelas kau akan sial berhadapan denganku di tengah hutan seperti ini. Karena apa?"

GRRR...

Pasangan wyvern Rathalos itu akan menembakkan bola-bola api.

"Ayo Mokuton..." Yamato mengayunkan kapak besarnya ke batang pohon oak berdiameter sekitar satu setengah meter hingga menyebabkan pohon itu tumbang dalam sekejap.

BUUGGHHH!

Rathian mulai menyembur...

BWOSH!

BWOSH!

BWOSH!

Asap tebal memenuhi wilayah di sekitar situ. Ketiga bola api besar milik Rathian telah dilepaskan ke arah Yamato. Asap mulai memudar dan samar-samar nampak sesosok pria bermata besar yang sedang berdiri tenang dibalik batang pohon oak yang tumbang.

Yamato memanfaatkan batang pohon besar itu sebagai perisai alami. Cerdas!

"Kuberitahu kau ya, Mokuton milikku ini adalah kapak yang memiliki elemen kayu. Combo element yang tersusun dari 70% elemen tanah dan 30% elemen air. Akibatnya aku mampu menebang jenis pohon apa saja dan sebesar apapun dengan rasa seperti sedang mengiris daging empuk." jelas Yamato seraya menyeringai.

Rathian itu mengambil ancang-ancang ke belakang lalu kemudian melompati batang pohon oak yang baru saja ditebang.

GROAAAAARRR!

"Kejar aku wyvern wanita." pria berambut cokelat itu mengambil langkah seribu menuju ke tempat Shikamaru.

-TSUZUKU-

Chapter 12 sudah author update :)

Terima kasih banyak sudah mau membaca ;)