DISCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO
RATE : T
WARNING : AU, 1ST POV
MONSTER HUNTER©CAPCOM
.
.
.
(AUTHOR NOTE : Diharapkan kepada readers sekalian untuk mencari nama monster yang author cetak tebal di *monsterhunter. wikia* demi kelancaran dan kenyamanan dalam membaca.)
.
.
.
~Raging Green Wyvern~
GROOAAARRR!
Yamato terus berlari melintasi semak dan deretan pepohonan demi menuju ke tempat Shikamaru. Tempat di mana jebakan pitfall trap itu dipasang.
Sesekali kepalanya dia tolehkan seratus lima puluh derajat ke belakang untuk mengecek sejauh mana jarak antara dirinya dengan Rathian yang sedang mengejarnya.
GROOAARRR!
'Bisa berbahaya jika aku sampai diterkam olehnya sebelum sampai ke tempat jebakan.' batinnya cukup panik. Jarak di antara keduanya sekarang hanya terpaut belasan meter saja. Dan hal itu mengakibatkan pria bernama sandi Y memutuskan untuk mencegat langkah sang wyvern sementara.
Tumit kaki kanannya ditekan sekuat mungkin ke permukaan tanah untuk menghentikan langkahnya, kemudian dia berbalik ke arah belakang sembari menebaskan mata kapak Mokuton ke sebuah batang pohon cendana yang ada di samping kirinya.
(ZRAASSH)
Karena dia sudah banyak makan garam dalam hal menebang pohon maka perhitungannya nyaris tidak meleset sama sekali. Dahan cendana berdiameter lima puluh centimeter itu jatuh tepat saat wyvern betina itu melintas di bawahnya.
BUGGH
GWARR!
"Hosh...hosh...hosh..." Yamato menggunakan kesempatan ini untuk menarik oksigen sebanyak mungkin ke dalam paru-parunya setelah berlari non-stop selama hampir lima menit lamanya.
'Seharusnya aku tadi tidak memberikan pistol SOS itu kepada Uchiha Sasuke. Jika begini aku tidak akan tahu di sebelah mana letak Shikamaru persisnya.' pria berambut cokelat itu menatap ke arah langit.
Kayu besar itu sepertinya tidak serta-merta membuat sang monster berelemen api itu kewalahan. Kedua kaki besarnya mulai bergerak naik. Perlahan-lahan batang pohon itu mulai diangkat oleh sang wyvern hingga akhirnya ia terbebas. Sepasang sayapnya ia rentangkan lebar...
GRROAR!
Kedua bola mata Rathian menatap Yamato dengan sangat tajam. Kemudian wyvern itu kembali mengejarnya seakan staminanya tak terbatas.
"Aku harus tetap berlari hingga sampai di tujuan." gumamnya sebelum kembali mengambil langkah seribu setelah menyadari jika Rathian itu sudah sangat ingin menerkamnya.
H
U
N
T
E
R
"Shikamaru!" teriakku lantang saat aku sudah sampai di posisinya. Aku tadi sempat menembakkan SOS berwarna kuning sebelumnya untuk mengetahui posisi Shikamaru. Dia pun segera membalasnya dengan SOS hijau sehingga aku bisa sampai kemari tanpa memakan waktu lama.
"Sa...Sasuke!?" dia sepertinya terkejut menyadari kehadiranku. Kemudian pria berambut nanas itu melompat dari atas dahan pohon untuk menghampiriku yang sedang berdiri di bawah.
"Apa kau sudah menyiapkan dengan baik pitfall trap-nya? Sepertinya senseiku dan orang misterius itu akan menggiring Rathian kemari." ucapku serius.
Shikamaru mengangguk, "Iya, aku pun sudah bisa menebaknya. Kemarilah dan lihat sendiri jebakan yang aku pasang."
Kami berdua berjalan ke arah tempat pemasangan pitfall trap yang jaraknya hanya belasan meter dari situ.
"Jadi ini yang dinamakan pitfall trap?" aku berjongkok dan mencoba menyentuh tepian dari jaring besar berdiameter kisaran tiga setengah meter yang diletakkan di atas permukaan tanah dan ditutupi dengan tumpukan daun kering.
"Hati-hati. Jangan menyentuh bagian tengah karena itu sangat reaktif." telunjuk tangan kanan Shika menunjuk ke arah tengah-tengah pitfall trap.
"Memangnya ada apa dengan bagian tengahnya?" tanyaku penasaran. Jujur aku baru pernah sekali ini melihat dengan mata kepala sendiri tentang apa yang dinamakan jebakan monster. Ada dua jenis jebakan monster yang terkenal di kalangan para hunter. Kesatu adalah pitfall trap dan yang kedua adalah shock trap. Walau aku tidak tahu lebih spesifik lagi selain nama dari masing-masing jebakan.
Pria di sampingku menoleh ke arahku dengan ekspresi malas, "Kau tahu? Pitfall trap yang kubuat ini tidak hanya bekerja dengan prosedur standar tapi sudah kumodifikasi agar lebih efektif lagi."
Aku mengernyitkan dahi.
Sebuah seringaian tipis terbentuk di bibirnya, "Aku telah memasang bom rancanganku sendiri berjumlah lima buah yang sangat peka terhadap getaran sekalipun kecil. Bom yang kurakit sendiri dengan bahan gunpowder yang dicampur dengan fire herb ini mampu menghasilkan kekuatan ledakan hampir setara dengan small barrel bomb. Dan praktisnya mampu meledak tanpa melalui sumbu. Yaah walau terasa merepotkan saat kau mempraktekannya."
Tidak salah jika dia dijuluki hunter rookie paling jenius.
"O ya, kita sudah lulus." aku memberitahunya karena sepertinya Shikamaru belum tahu sama sekali tentang informasi ini. Aku saja diberitahu oleh Sakura di goa tadi.
"Hoahmm...sudah kuduga." kedua matanya berair, dia lalu kembali memanjat dahan pohon. "Ayo Sasuke, kita persiapkan baik-baik rencana ini." ujarnya seraya mengarahkan moncong pistol SOS ke angkasa.
"Hn." jawabku singkat.
Sssshhh...DHORRR!
H
U
N
T
E
R
BUUGH
BUGHH
Dua batang pohon cemara tumbang bersamaan setelah beberapa detik sebelumnya ditebang dengan instan oleh Yamato. Namun sepertinya kegesitan Rathian di atas tanah tidak boleh diremehkan. Wyvern yang memang spesialis berburu di darat dan bukan di udara ini sangat lihai dalam bermanuver sehingga dua batang pohon yang tumbang ke arahnya tidak mampu menyentuh kulitnya barang sedikitpun.
Kedua sayap besarnya direntangkan tiba-tiba dan ia kemudian terbang ke arah depan.
Wuuussh...
Yamato mendongakkan kepalanya ke atas dan melihat wyvern hijau itu terbang cepat menuju ke arah depan. Sayap Rathian ditutup dan kedua kakinya diturunkan ke bawah guna mendarat.
'Sialan, monster itu berusaha untuk mengejarku melalui udara. Aku jelas terkejar dan akan terjepit jika seperti ini.' keringat dingin mulai bercucuran di leher orang suruhan Danzou itu saat mengetahui jika musuhnya tidaklah sebodoh yang dia kira.
Rathian itu kini telah menghadap ke arah Yamato dari jarak lima belas meteran. Kepalanya diangkat ke atas kemudian ia bersiap untuk melepaskan tembakan tiga bola api sekaligus.
BWOSH
Menyadari ada sebuah serangan cepat menuju ke arahnya membuat pemilik elemen kayu itu melompat miring ke arah samping kanan.
BWOSH
Saat semburan kedua mengarah kepadanya, Yamato kembali melompat ke arah kanan. Akan tetapi tiba-tiba saja tungkai kaki kirinya sedikit terkilir sehingga membuat pria itu tidak mampu melompat tepat waktu dan harus berpikir sangat cepat untuk mengantisipasi serangan.
DHUAR!
Bola api besar itu membentur mata kapak milik Yamato. Rasa panas dari api menjalari sekujur tubuhnya dan efek ledakan barusan membuat pertahanannya melemah.
'Sekali lagi aku menahan serangannya maka aku pasti tidak akan kuat' pikirnya sangat cemas.
BWOSH
Bola api terakhir yang meluncur dari mulut Rathian secepat kilat mengarah kepada Yamato.
DHUAR!
"Uwaagh!" pria bermata lebar itu terlempar cukup jauh ke belakang. Kapak andalannya terlepas dari genggaman.
Rathian itu berjalan mendekati tubuh Yamato yang tengah tersungkur di atas tanah. Yamato mencoba untuk merangkak mundur karena sadar jika sudah tidak ada peluang baginya untuk melanjutkan ini semua tanpa senjatanya. Jarak di antara mereka berdua sudah sangat dekat.
Rathian itu menundukkan tubuhnya seperti sedang mengancer-ancer untuk melakukan sesuatu. Ujung ekor berdurinya dikibas-kibaskan kesana-kemari. Kedua pahanya bergerak-gerak.
Bola mata Yamato terbelalak lebar. Dia sepertinya sudah paham dengan situasi yang akan terjadi. Perasaan takut yang luar biasa tiba-tiba saja menyergap hati kecilnya yang terbiasa tenang dan datar.
Backflip.
Serangan salto dari seekor Rathian yang menurut rumor beredar mampu membunuh seorang hunter dengan armor terkeras sekalipun. Racun yang terkandung di antara duri-duri ekor itu konon sangat kuat serta sangat mematikan.
Kedua mata Yamato terpejam. Dia sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi setelah ini. Sudah pasti, kematian.
GRRR...
Wyvern berkulit hijau itu bersiap untuk melancarkan serangan backflip-nya. Tapi...sebuah bayangan tiba-tiba saja melintas di atas mereka berdua. Menginterupsi serangan pamungkas dari Rathian.
Crossbow besar berwarna biru tua yang terisi dengan tiga anak panah sekaligus. Seorang pria berambut perak yang hanya memiliki satu mata. Dia meloncat dari atas dahan pohon besar dan bersiap untuk menembak dengan posisi tubuh terbalik vertikal.
"Triple...THUNDER DOG!"
(CTAAAAARRR)
Rathian itu tidak sempat membunuh Yamato karena tembakan tiga anak panah sekaligus yang diselimuti oleh percikan listrik bertegangan tinggi dan membentuk wajah anjing ganas berhasil mengenai tengkuknya dengan telak.
GRAAAWWRR!
Monster itu memekik sangat keras. Seluruh tubuhnya kini teraliri oleh listrik bertegangan tinggi yang bersumber dari ketiga anak panah yang diluncurkan oleh Kakashi barusan.
"Yamato!" seru sensei setelah menapakkan kedua kakinya di atas tanah.
Pria itu menelan ludah berulang kali. Tak percaya jika nyawanya selamat. "Sen...s...enpai?"
"Cepat bangkit lah dan ambil senjatamu. Sepertinya seranganku yang barusan tidak mampu menewaskan monster itu." Kakashi-sensei menoleh ke arah belakang. Rathian itu sedang tersungkur tak berdaya di atas rerumputan setelah sebelumnya harus menahan dahsyatnya tegangan listrik berdaya tinggi.
Yamato menuruti saran dari seniornya itu. Dia berusaha bangkit walau terasa sakit hampir di sekujur tubuh. Terakhir diambil lah Mokutonnya yang tergeletak.
GRR... GRRR...
Wyvern itu menggeram. Ia belum mati. Sama dengan Yamato, makhluk bersayap itu berusaha untuk bangkit dan sepertinya akan mengamuk sejadi-jadinya setelah ini.
Kedua hunter level 4 itu hanya bisa berdiri di tempatnya masing-masing sambil memikirkan langkah apa yang akan diambil selanjutnya.
Sssshhh...DHORRR!
Suara tembakan pistol SOS terdengar dengan sangat jelas dan keras untuk yang kesekian kalinya. Itu tandanya lokasi di mana aku dan Shikamaru berada tidak jauh dari posisi sensei dan Yamato. Asap hijau membumbung sangat tinggi menuju angkasa.
"Yamato, ayo kita teruskan rencana ini. Hanya ini satu-satunya cara." ajak sensei kepada juniornya itu.
Yamato menganggukkan kepalanya dua kali disertai kemantapan, "Baik senpai."
Rathian itu telah bangkit sepenuhnya. Walau ia sudah tidak seprima sebelumnya namun untuk menerjang dan menyembur sepertinya masih lah mampu. Dari dalam mulutnya muncul nafas api yang samar-samar terlihat. Itu pertanda jika pasangan Rathalos ini sedang murka.
GRRROOOAAARRR!
"Lari sekencang mungkin ke arah utaraaa!" perintah Hatake Kakashi kepada Yamato.
H
U
N
T
E
R
"Rathian adalah wyvern yang lebih condong untuk beraktifitas di darat ketimbang di udara. Oleh karena itu prosentase untuk terkena jebakan pitfall trap ini besar, kira-kira tujuh puluh sampai delapan puluh persen." jelas Shikamaru kepadaku.
Kami berdua sedang duduk di atas dahan pohon yang mengapit pitfall trap. Menanti kedatangan Wyvern berwajah mengerikan itu.
"Apa yang akan kita lakukan jika Rathian itu sedang menuju kemari, Shika? Apa kita hanya duduk diam di sini dan menyaksikan wyvern itu terjerembab ke dalam lubang jebakan jaring yang kau buat hingga meledak?" aku bertanya panjang lebar.
Putra semata wayang Nara Shikaku itu menopang dagu dengan telapak tangan kanannya, "Tidak. Secara garis besar memang seperti itu. Tapi kita harus mewaspadai jika wyvern yang merepotkan itu tidak terperangkap dan malah berputar-putar jauh dari rencana semula."
"Apa tindakan antisipasinya?" aku menaikkan sepasang alis.
Wajahnya menunjukkan bahwa sepasang bagian otaknya sedang berpikir keras. Shikamaru tidak menjawab pertanyaanku selama hampir satu menit lamanya.
"Jika tiba-tiba penglihatanmu kabur saat sedang berlari, apa yang akan kau lakukan Sasuke?"
Aku terheran. "Apa maksud pertanyaanmu? Tentu saja aku akan menghentikan lariku."
"Apa kau akan berbelok arah?"
Aku menggeleng.
"Itu yang akan kita lakukan sebentar lagi." pria pemalas itu mengambil dua buah benda bulat kecil berwarna keemasan dari dalam ransel besar miliknya. "Ini dia, flash bomb. Tangkap..."
Aku menangkap flash bomb yang barusan dilempar olehnya.
"Rencananya, kita akan melemparkan benda ini bersamaan ke depan wajah Rathian itu saat posisinya berada simetris dengan pitfall trap ini." jelasnya.
Rerimbunan pohon yang berada di ujung selatan bergoyang-goyang dan mengakibatkan beberapa jenis burung beterbangan spontan ke angkasa. Aku menyadari akan hal itu dan segera mempersiapkan diri. Begitu juga dengan pria bermarga Nara. Tatapan matanya benar-benar serius sekarang.
"Sebentar lagi...Sasuke."
Derap langkah yang menggema semakin terdengar jelas. Gesekan demi gesekan dedaunan di selatan kami semakin keras suaranya. Itu dia...
GROAAAR!
"Sensei!" aku meneriaki sesosok pria yang merupakan pembimbingku sejak awal memasuki dunia perburuan monster. Rathian itu mengejar sensei dan pria bernama Y menuju ke arahku.
"Kakashi-sensei, arahkan langkah monster itu kemari!" seru Shikamaru lantang.
Tanpa perlu menjawab dengan kata-kata, sensei sudah tahu apa yang harus diperbuat. Arah larinya dibelokkan perlahan ke arah kiri agar tepat menuju ke pitfall trap yang sudah disediakan.
"Hosh...hosh...senpai, aku sudah tidak kuat berlari lagi." kata Yamato sembari terengah-engah di tengah larinya. Patut dimaklumi karena tungkai kaki kirinya tadi sempat terkilir.
Aku dan Shikamaru saling berpandangan satu sama lain. Kami mengangguk bersamaan. Jarak wyvern itu sudah semakin dekat dan tepat pada jalur yang sudah direncanakan.
GROAR!
Sesaat setelah makhluk besar itu mengaum, aku memberikan aba-aba kepada dua lelaki itu. "Kalian berdua! Tutup mata dan menyingkir!"
Sekuat tenaga kulemparkan flash bomb ke hadapan Rathian yang nyaris menggigit Yamato dari belakang. Disusul oleh Shikamaru.
FLASSHH!
FLASSHH!
Aku segera menutup kedua mata begitu bom itu terlepas dari genggaman tangan kanan. Cahaya kilat berwarna kuning yang sangat menyilaukan terpancar sedetik kemudian. Dua bom cahaya yang dilemparkan barusan pasti mengakibatkan efek yang dua kalilipat.
GRAARR!
"Sasuke, melompat!" instruksi Shikamaru tegas.
Aku paham. Wyvern itu tinggal beberapa langkah lagi sebelum menginjak pitfall trap yang berisi bom rakitan di dasarnya. Aku langsung melompat ke arah samping dan tidak lama setelah itu terdengar suara...
DDDHHHUUUUAARRRRR!
Ledakan yang terdengar sangat memekikan telinga disertai kepulan asap tebal tercipta. Bahkan pohon damar yang tadi sempat kupanjat tumbang dibuatnya. Asap yang sangat pekat itu membuat paru-paruku sesak dan otomatis aku segera menyingkir sejauh mungkin.
"Uhuk...uhuk..." aku terbatuk-batuk.
Yamato terduduk di atas tanah dengan raut muka cukup pucat dan keringat yang sangat banyak. Pandangannya kosong ke depan.
"Apa tadi itu pitfall trap?" sensei berjalan menghampiriku.
"Iya."
Kakashi-sensei menggaruk rambut bagian belakang kepalanya, "Apa jebakan itu bisa menimbulkan ledakan sekuat barusan? Kurasa tidak."
"Itu adalah jenis pitfall trap versi terbaru."
Suara tenor barusan membuatku sontak menoleh. Dari dalam asap munculah bayangan seorang pria.
"Apa maksudmu Shikamaru?" tanya sensei penasaran.
Pemilik gaya rambut kuncir nanas itu mengedikkan bahunya, "Yaah aku hanya menambahkan beberapa bom di dalamnya yang mampu meledak tanpa melalui pemicu. Dengan kekuatan ledakan yang mirip dengan small barrel bomb per buah membuat aku yakin jika Rathian itu sudah tewas sekarang. Apalagi aku memasang lima sekaligus." dia mengajak kami bertiga untuk melihat langsung ke tempat kejadian.
Bumbungan asap mulai memudar dan pandangan sudah tidak seburuk tadi. Aku menyaksikan sendiri tubuh wyvern itu dari jarak tiga meter. Daya ledak yang cukup dahsyat ditambah jumlah bom yang cukup banyak membuat tubuh wyvern itu hancur lebur tak utuh. Sayap kirinya patah, isi perutnya terburai, dan yang paling parah adalah kepalanya remuk. Berliter-liter darah masih membasahi area di sekitar situ. Baunya anyir, membuat perut mual.
"Haaahh, melihat kondisinya yang separah ini aku yakin tidak ada bagian tubuhnya yang bisa diambil sebagai item." keluh Kakashi-sensei dengan muka pasrah.
"Yang terpenting kita semuanya selamat. Terutama keempat peserta ujian ini." sambung Yamato.
"K...kau yang memakai topeng kucing itu kan?" Shikamaru mengamati wajah Yamato dengan seksama.
"Hahaha, iya benar. Maaf kalau aku membuka topeng dan menunjukkan wajah asliku. Perkenalkan nama asliku adalah Yamato Tenzo. Panggil saja Yamato. Dan Y adalah nama sandiku." pria itu berpose ojigi kepada aku dan Shikamaru. Kami berdua pun membalasnya walau agak canggung.
"Yosh, masalah sudah selesai kan? Ayo kita lekas hampiri Naruto dan Sakura serta pulang ke desa setelahnya." ajak sensei pada akhirnya.
-TSUZUKU-
Maaf-maaf kalau endingnya aneh dan kurang greget. :D
Oke, author mau mengucapkan terima kasih bagi para readers yang masih setia membaca fic ini. :)
