DISCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO
RATE : T
WARNING : AU, 1ST POV
MONSTER HUNTER©CAPCOM
.
.
.
(AUTHOR NOTE : Diharapkan kepada readers sekalian untuk mencari nama monster yang author cetak tebal di *monsterhunter. wikia* demi kelancaran dan kenyamanan dalam membaca.)
.
.
.
~Elements~
Hari yang sangat melelahkan serta menegangkan itu pun usai sudah. Kami Tim 7 telah sampai di ibukota Negara Api yaitu desa kampung halaman kami masing-masing pada siang hari setelah menempuh perjalanan panjang dari hutan Sairento. Hutan tempat berlangsungnya pertarungan sengit antara kami berenam melawan target, Iodrome dan kawanannya, maupun melawan tamu tak terduga, Rathian.
Sesampainya di desa kami wajib langsung menuju ke rumah kepala desa untuk menyelesaikan laporan ujian serta setelah itu menerima tanda kelulusan kami di level 2. Sertifikat hunter level 3 memiliki perbedaan hanya pada bagian jumlah bintang dari sertifikat hunter level sebelumnya. Ada tiga buah bintang berwarna keemasan yang tertera di ujung atas sertifikat nantinya.
"Baiklah semuanya. Kita sudah sampai di depan rumah kepala desa. Kalian sudah tidak sabar kan untuk menerima sertifikat hunter level 3?" tanya sensei penuh semangat. Tidak seperti biasanya dimana dia selalu santai juga kurang gairah.
Naruto yang berdiri di sampingku sontak mengangkat kedua tangannya ke udara bak anak kecil, "Yosh! Aku sudah tidak sabar ingin membuang ke tong sampah sertifikat level 2 dan memajang baik-baik sertifikat level 3 di depan pintu rumahku."
"Naruto, kau seperti bocah kampungan saja. Mengerti?" sela Sakura. Menyindir polah si rambut durian.
Putra Minato Namikaze itu bersikeras dengan keinginannya. "Ini tidak kampungan Sakura-chan. Ini namanya kebanggan."
"Tapi tingkahmu yang seperti itu untuk pria berusia dua puluh lima tahunan terkesan sangat kampungan dan kekanak-kanakan."
Aku hanya bisa mengeluh di dalam hati melihat kelakuan mereka berdua yang tak kunjung dewasa. Terutama si Dobe bodoh itu.
"Senpai dan anggota Tim 7..."
Suara bariton barusan membuat pertengkaran kecil Naruto dan Sakura terhenti. Aku menggerakkan leher ke samping.
Yamato memandangi wajah kami berempat, "Maaf, tapi sepertinya kita harus berpisah di sini. Saya harus segera menemui Danzou-sama untuk melaporkan hasil ujian Uchiha-san dan kawan-kawan sekarang juga." ucapnya sopan.
Sensei menggaruk belakang rambutnya, "Baiklah kalau begitu. Yamato, terima kasih banyak." pria bermasker itu menyodorkan telapak tangan kanan ke depan. Bermaksud untuk menyalami bawahan Danzou.
Yamato membalas jabatan tangannya, "Sama-sama senpai. Senang bisa bekerja sama denganmu lagi seperti dulu." dia tiba-tiba menyunggingkan senyuman.
Sensei memberikan tatapan malas, "Yaah itu sudah lama ya. Nostalgia."
Kami berempat ikut berjabat tangan dengannya satu per satu. Dimulai dari Naruto, aku, Shikamaru, terakhir Sakura. Setelah pria berelemen kayu itu beranjak pergi dari hadapan kami, sensei segera mengajak aku dan yang lain untuk masuk ke dalam.
"Kakashi-sensei, ada hubungan apa sih antara kau dengan orang yang mengaku bernama Yamato itu?" tanya Naruto penasaran sambil berjalan menuju ke ruangan Hi Tate.
Yang ditanya hanya mengangkat bahu, "Entahlah. Yang jelas itu sudah cukup lama terjadi."
Pipi Naruto menggembung, "Beuh, pakai berlagak rahasia segala."
"Jangan suka mengusik privasi orang, Naruto." tegurku. Pria aneh itu hanya membalasnya dengan tatapan sinis.
Tanpa terasa kami telah sampai di depan pintu ruang kerja Sarutobi-sama. Pintu berdaun ganda yang memiliki simbol huruf kanji 'Hi' itu dijaga oleh dua orang petugas. Hanya dengan melihat rupa Kakashi-sensei saja membuat mereka berdua tahu apa yang harus dilakukan.
Kreeett...
Tanpa disadari dari dalam ruangan muncul Kurenai-sensei serta keempat anak didiknya yang juga merupakan rekan lain tim. Sepertinya mereka baru saja selesai melapor.
"Naruto, lihatlah apa yang kupegang ini!" seru Kiba seraya menunjukkan kepada kami Tim 7 sebuah kertas perkamen berukuran kira-kira 30 kali 20 centimeter. Itu sertifikat hunter level 3. Sebuah benda prestisius yang tidak mudah didapatkan oleh sembarang hunter.
Reaksi Dobe mudah ditebak. Membuka lebar-lebar mulutnya dan mengamati dari jarak sangat dekat perkamen yang Kiba pegang. "Sebentar lagi aku akan memiliki ini Kiba."
Hinata sedikit menyembunyikan tubuhnya di belakang Kurenai ketika mengetahui Naruto ada di dekatnya. "Naruto-kun..."
"Shikamaru!" tanpa basa-basi Chouji langsung memeluk erat tubuh rekan satu timnya itu. Sedangkan yang dipeluk hanya bisa pasrah tanpa perlawanan.
"Lepaskan aku Chouji."
Aku ingin bertanya kepada mereka. "Bagaimana dengan jalannya ujian? Apakah lancar?"
Kiba menepuk dada penuh rasa percaya diri, "Tentu Sasuke. Kekompakan kami berempat mampu membunuh seekor Velocidrome tanpa membutuhkan waktu yang lama. Apalagi kami sempat jalan-jalan dulu setelah menyelesaikan ujian."
Kutanggapi ocehannya, "Cih, jangan dulu sombong. Monster target tim kami, Iodrome, lebih sulit ketimbang monster target tim kalian. Dan juga kami telah berhasil membunuh monster yang datang tak diundang. Wyvern bernama Rathian."
Mendengar kata Rathian membuat perhatian seluruh anggota Tim 8 teralih kepadaku. Tim kami, 7, seakan selalu dinaungi oleh marabahaya yang diluar dugaan. Saat misi memburu dua ekor Apceros tiba-tiba datanglah seekor Yian Kut-Ku. Dan kemarin seekor wyvern hijau tiba-tiba mampir ke tengah-tengah kami berenam.
"Rathian?" Shino yang selalu membisu tiba-tiba saja angkat bicara.
Naruto memasang wajah sombong, "Heh, kalian tidak mengetahui kan seberapa mengerikannya makhluk besar dan buas itu?"
Sebuah jitakan keras mendarat di pelipis pria berkumis itu. Hadiah dari Sakura tepatnya. "Bodoh! Kau saja terus-terusan tidak sadarkan diri selama pertarungan berlangsung."
"Sakit Sakura-chan..." rengeknya.
Kurenai-sensei penasaran dengan pembicaraan barusan. "Kakashi, apa benar kau dan timmu menghadapi bahaya tak terduga dalam ujian kemarin?"
"Iya benar. Aku saja tak menyangka dan mengalami banyak kendala kemarin." jawab Kakashi sekenanya.
Shikamaru mendahului masuk ke dalam. "Hoahm...ayo masuk. Jangan lama-lama."
Aku setuju. Tim yang dipimpin oleh hunter wanita itu berlalu dan kami berlima telah menghadap ke seorang kakek berambut tipis yang bahkan bisa dibilang nyaris botak. Beliau terus menghisap cerutu sekalipun benda yang menciptakan asap itu hampir habis.
"Uhuk uhuk. Tim 7 yang dipimpin oleh Kakashi kan?" cerutunya dimatikan di asbak dan berdiri dari tempat duduknya.
Kakashi-sensei menunduk, "Benar Sarutobi-sama. Saya kemari ingin menyampaikan laporan tentang keberhasilan ujian kenaikan level bagi keempat murid saya, termasuk Shikamaru." kepalanya lalu diangkat.
Sepasang mataku menangkap empat buah perkamen yang diletakan berjajar di atas meja kerja Hi Tate. Itu pasti sertifikat untuk kami.
"Kerja bagus Sasuke, Naruto, Sakura, dan putra Shikaku." kepala desa menyiapkan empat buah sertifikat untuk diberikan langsung kepada kami para peserta ujian.
Shikamaru menanggapi sinis, "Ck, malas jika selalu nama ayahku yang dibawa-bawa."
"Sarutobi-sama, asisten pengawas ujian yang diperintahkan langsung oleh Danzou-sama kebetulan tidak bisa menghadap kemari karena katanya ada kepentingan mendadak dengan Danzou-sama." sensei memberitahu.
Hi Tate acuh akan hal itu. "Tidak apa-apa. Itu urusan Danzou. Yang jelas uhuk aku akan memberikan kempat sertifikat hunter level 3 ini kepada kalian berempat sekarang juga."
"Yeee!" teriak Naruto penuh semangat seperti biasa.
Satu per satu sertifikat pun diserahkan ke tangan kami. Dimulai dari Naruto, Sakura, Shikamaru, dan aku urutan paling terakhir.
"Ada beberapa pesan yang ingin aku sampaikan." kalimat barusan membuat perhatian kami semua teralih. Kakek tua itu menarik nafasnya dalam-dalam.
Telunjuk kanan dia angkat, "Pertama, kenaikan menuju level ketiga itu berarti tanggung jawab, bahaya, serta kesulitan akan meningkat. Tapi uhuk juga reward akan turut meningkat pula." itu pesannya yang kesatu.
'Aku sudah tahu akan hal itu.' batinku.
Jari tengah kanannya dia angkat juga, "Kedua, seorang sensei sudah jarang ikut berpartisipasi bersama kalian dalam menjalani sebuah quest. Sesekali saja. Itu berarti di antara kalian nanti akan dipilih satu orang sebagai kapten tim."
Naruto tanpa diduga langsung bereaksi, "Aku yang akan menjadi kaptennya."
"Bodoh." sahutku.
Sakura pun sepertinya tidak setuju. "Jika kau yang menjadi kapten maka itu sama saja dengan bunuh diri tim."
"Cepatlah Hi Tate. Aku sudah ingin pulang dan meringkuk di kasur untuk hibernasi." Shikamaru sepertinya benar-benar bosan.
Terakhir jari manis kanan yang diangkat, "Ketiga, kalian sesekali boleh menjalankan quest secara individual dan mungkin akan dipanggil untuk bekerja sama dengan hunter dari desa lain." itu pesan terakhirnya.
Jadi sebagai hunter level 3 ada poin-poin yang sangat berbeda dengan hunter level 2? Aku baru tahu. Adanya seorang kapten di dalam tim, boleh menjalani quest perorangan, dan akan bekerja sama dengan hunter dari wilayah lain. Itu tiga hal yang tidak ada pada level kedua.
"Kalian berempat keluar dulu ya karena aku akan berbincang-bincang berdua saja dengan Sarutobi-sama." perintah barusan yang keluar dari mulut sensei membuat kami bertiga bingung. Tidak untuk Shikamaru karena si pemalas itu sudah pamit duluan tanpa permisi.
"Sensei, memangnya ada apa kok tiba-tiba kami langsung disuruh keluar?" Sakura diliputi rasa penasaran.
Pria berambut keperakan itu memberikan isyarat agar kami semua keluar sekarang juga. Mau tidak mau kami pun harus keluar dari ruang kerja Hi Tate tanpa perlu protes lebih lanjut.
Saat pintu bersimbol kanji 'Hi' itu ditutup, aku samar-samar mendengar kata 'Rathian' disebut di dalam. Jadi itu hanya masalah kemarin. Sepertinya.
H
U
N
T
E
R
Libur dua hari kami dapatkan setelah menjalani ujian melelahkan itu. Dan untungnya kelulusan menjadi pencapaian akhirnya. Tidak sia-sia aku dan yang lain bertarung hingga nyaris tewas dan juga terluka parah.
Pagi hari yang cerah menanti. Hari ini libur telah usai dan aku jujur tidak tahu misi perdana apa yang akan kami jalani sebagai seorang hunter level 3. Jadi kuputuskan saja untuk mengunjungi rumah Naruto yang letaknya hanya beberapa blok ke arah kiri dari rumah kecil yang diinventariskan oleh pihak Konoha untuk aku tinggali.
Aku tak menyangka akan bertemu sensei di depan pintu rumah Naruto.
"Kakashi-sensei, apa yang kau lakukan di sini?" tanyaku langsung.
Pria itu menoleh perlahan, "Sasuke, aku akan mengajari kalian tentang sesuatu yang penting. Kau dan Naruto lebih tepatnya. Cepat pakai armormu dan bawa senjatamu lalu pergi ke tanah lapang yang ada di ujung timur desa." tiba-tiba dia langsung menyuruhku.
"Memakai armor dan membawa Amaterasu? Sebuah pertarungan?" jujur aku tak mengerti maksud dari perkataannya.
Sensei hanya menjawab dengan anggukan kepala, "Semacam itu lah. Kau ke sana duluan. Nanti aku akan menyusul setelah Naruto kubangunkan."
Daripada banyak tanya maka aku menurut saja dengan perintahnya yang misterius itu. Segera kupakai satu set armor standar yang biasa kupakai lalu bergegas menuju ke tempat yang ditunjukkan oleh pria lesu itu.
Tak perlu menunggu terlalu lama. Hanya berselang sepuluh menit begitu aku sampai, dari kejauhan terlihat dua orang pria yang sedang berjalan beriringan. Di depan adalah sensei yang tetap asyik membaca buku anehnya dan di belakangnya ada Naruto yang masih terlihat mengantuk.
"Terima kasih telah datang duluan Sasuke." ujarnya enteng begitu sampai.
"Hn."
Naruto mengucek-ucek matanya yang berair, "Sensei, apa yang kau inginkan sih dengan menyuruhku kemari padahal aku masih enak bermimpi?"
Hunter level 4 itu hanya menanggapi dengan candaan. "Haha, maaf-maaf Naruto. Aku mengajak kalian ke sini adalah untuk mengajari kalian apa yang dinamakan dengan elemen sebuah senjata."
Aku mengambil posisi duduk bersila di atas rumput. Sedangkan Naruto duduk selonjoran.
"Kalian tahu kan elemen? Suatu kekuatan yang dimiliki oleh sebuah senjata dan mampu mengakibatkan dampak serangan yang lebih dahsyat lagi?"
Aku mengangguk saja.
"Iya aku sudah tahu." jawab Naruto asal-asalan.
Pria bermata satu itu membuka sebuah gulungan tebal yang sedari tadi dipegangnya dan menunjukkan isinya kepada kami berdua. Terdapat empat simbol dan beberapa penjelasan di bawahnya.
"Aku akan mengajari kalian tentang elemen dasar terlebih dahulu. Lihatlah kemari, ke gulungan ini." telunjuk kanan sensei mengarah ke beberapa simbol yang tercetak di situ.
"Ada empat elemen dasar yang wajib kalian ketahui. Api, air, tanah, dan angin. Untuk elemen air, tanah, serta angin, senjata harus menyentuh melalui perantara yang bersangkutan untuk menciptakan jurus. Hanya elemen api lah yang tidak perlu menggunakan perantara." jelas sensei. Kemudian dia melihat ke arah kami berdua, "Ada yang ingin ditanyakan?"
Naruto mengangkat tangan kirinya, "Maksudnya bagaimana sensei melalui dan tanpa melalui perantara?"
Jujur aku juga kurang paham akan hal tersebut.
Pria berusia tiga puluh sembilan tahun itu mendesah, "Haah. Begini, untuk menciptakan jurus bagi para pemilik elemen dasar air, tanah, dan angin, mereka harus menyentuhkan senjata mereka ke substansi masing-masing terlebih dahulu."
"Susubasi?" celetuk Naruto.
Kupukul bahunya, "Dengarkan dulu tolol."
"Apa katamu Teme?"
Sensei tidak mengindahkan pertengkaran kami dan tetap melanjutkan penjelasannya. "Pemilik senjata berelemen air harus menyentuhkan senjatanya ke dalam air terlebih dulu. Pemilik senjata berelemen tanah harus menyentuhkan senjatanya ke permukaan tanah terlebih dahulu. Dan begitu juga dengan pemilik senjata berelemen angin."
Lagi-lagi Naruto bertanya, "Tapi sensei, serangan angin yang berputar-putar di Rasenganku waktu itu dapat muncul tanpa perlu bersentuhan dengan apapun?"
Ingin rasanya kupukul wajahnya dengan keras. "Kau benar-benar bodoh ya? Memangnya di sekelilingmu waktu itu tidak ada udara?"
Pria berkumis itu memajukan bibirnya karena kesal.
"Untuk Sasuke memang tidak perlu menyentuh substansi karena Amaterasu merupakan senjata berelemen api." kata Kakashi.
Gulungan perkamen tebal itu kembali digulung lalu diletakkan di atas permukaan tanah. Sensei gantian membuka gulungan kedua yang belum diperlihatkan kepada aku dan Naruto.
Di permukaannya tercetak dua lingkaran yang saling bersatu. Dan jumlahnya lebih dari satu pasang.
"Ini dinamakan elemen gabungan serta turunan. Akan kujelaskan singkat tentang elemen turunan. Sejauh ini baru ditemukan tiga elemen turunan yaitu petir seperti milikku, batu, dan es. Petir dari api , batu dari tanah, sedangkan es dari air." telunjuk kanan sensei melingkari sebuah simbol petir lalu ke simbol es dan terakhir batu.
Aku mengangguk-angguk pertanda paham. Naruto pun demikian kali ini. Kebodohannya tidak terekspos lagi.
"Setelahnya adalah..." sensei menunjuk ke sekumpulan pasangan lingkaran yang saling bersatu satu sama lain, "...elemen gabungan atau biasa disebut combo element."
Angin pagi sepoi-sepoi menyapa kami bertiga. Mengiringi pembelajaran penting mengenai sesuatu yang belum kumengerti sebelumnya.
Pria berambut perak itu mencoba menyelesaikan penjelasannya, "Ada beberapa elemen gabungan yang berhasil dicatat di sini. Pasir dari pergabungan tanah dan angin, lahar dari pergabungan api dan tanah, laser dari pergabungan cahaya dan air, dan petir hitam dari pergabungan petir dan kegelapan. Masing-masing pemilik elemen itu adalah hunter-hunter kuat yang sangat disegani di kancah perburuan monster. Elemen pasir milik Gaara sang putra dari Kaze Tate keempat, elemen lahar milik Pakura yang dikenal sebagai hunter wanita terkuat dari Suna, elemen laser milik Yagura sang Mizu Tate keempat, dan elemen petir hitam milik Darui yang disebut-sebut sebagai tangan kanan dari Rai Tate."
Sensei mengambil nafas sebelum kembali melanjutkan, "Yamato yang kemarin kita temui itu adalah salah satu pengguna combo element yang kebetulan berasal dari desa ini. Elemen kayu dari pergabungan tanah dan air. Hunter yang hanya memiliki satu elemen saja atau biasa disebut dengan single element contohnya adalah aku yang memiliki elemen petir, Gai yang memiliki elemen batu, lalu Asuma yang memiliki elemen angin. Mayoritas pengguna elemen merupakan hunter yang sudah berpengalaman dan berada di level 4."
Walaupun terdengar cukup rumit namun aku mampu mencerna dengan baik apa yang baru saja disampaikan. Sedangkan Naruto hanya menggaruk-garuk rambutnya, entah paham atau tidak orang itu.
"Dan sebagai catatan, menggunakan elemen turunan atau gabungan tidak perlu menyentuh ke substansinya. Hanya elemen dasar kecuali api yang perlu bersentuhan." jelas sensei lagi.
Sebentar, ada sesuatu yang aku ingin tanyakan. "Kakashi-sensei."
Alis kirinya terangkat, "Apa Sasuke?"
"Tentang elemen cahaya dan kegelapan itu, apakah ada atau hanya kiasan belaka?"
Dia langsung menepuk dahinya, "Aduh, aku lupa menjelaskan yang ini. Iya, kedua elemen itu ada. Dan untuk kalian ketahui, elemen cahaya dan elemen kegelapan merupakan elemen paling langka yang ada di dunia hunter."
Mungkinkah aku memiliki elemen kegelapan?
Sensei tiba-tiba saja menunjuk ke arah pedang besarku lalu gantian ke tombak besar Naruto. "Sasuke, elemenmu sepertinya adalah combo element yaitu api dan kegelapan. Sedangkan Naruto..."
Yang bersangkutan terhenyak.
"Milikmu juga combo element yaitu angin dan cahaya. Kalian berdua dianugerahi senjata yang luar biasa."
-TSUZUKU-
Author akhirnya bisa update setelah seminggu lebih tidak update. :D
Maafkan author ya readers. :3
Di fic ini author tidak menggunakan prinsip elemen yang ada di game Monster Hunter series. Sebagian dari Naruto, sebagian dari Monster Hunter, dan sebagian lagi karangan pribadi author. Hehehe.
Terima kasih sudah membaca!
