DISCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO
RATE : T
WARNING : AU, 1ST POV
MONSTER HUNTER©CAPCOM
.
.
.
(AUTHOR NOTE : Diharapkan kepada readers sekalian untuk mencari nama monster yang author cetak tebal di *monsterhunter. wikia* demi kelancaran dan kenyamanan dalam membaca.)
.
.
.
~Using Elements Attack~
Elemen api dan kegelapan katanya?
"Sensei, apa kau tidak sedang melawak? Angin dan cahaya yang menjadi milikku?" Naruto mencoba mencari kepastian.
Pria santai itu mengacungkan jempol tangan kanannya, "Hm, betul. Pendapatku barusan tidak mungkin salah karena aku sudah paham tentang masalah seperti ini."
Elemen kegelapan bukannya dikatakan sebagai elemen langka bersama dengan cahaya? Lalu combo element katanya?
Kupegang pedang andalanku dengan kedua tangan dalam posisi memapah, lalu kuperlihatkan kepada Kakashi-sensei, "Tapi kenapa aku merasa sangat lelah sesaat setelah mengeluarkan serangan api berwarna hitam itu? Dan beberapa kali kucoba lagi untuk mengeluarkan api hitam setelah itu tapi tidak ada hasilnya."
Kakashi mengangguk-angguk, "Aku tahu aku tahu. Akan kujelaskan lagi hal yang tidak kalah pentingnya dengan elemen senjata, yaitu kekuatan yang mampu memunculkan elemen. Tanpanya senjata seorang hunter hanyalah akan menjadi senjata biasa."
Aku memperhatikan dengan sangat antusias. "Apa itu?"
Naruto juga turut memberi suara, "Sebaiknya tidak berbelit-belit seperti yang tadi."
Anggota San Koken'nin itu menyilangkan kedua tangannya di depan dada, "Anima. Anima adalah nama kekuatan yang aku maksud. Kekuatan yang terjadi dari perpaduan antara energi fisik dan energi mental. Sederhananya seperti itu." jelasnya cukup singkat.
Anima katanya? Seumur-umur aku menjalani karier di dunia perburuan monster semenjak usiaku tujuh belas tahun baru pernah aku mendengar yang seperti barusan.
"Apakah hanya seorang hunter saja yang memiliki amina atau apa itu tadi sensei?" Naruto tiba-tiba mengajukan pertanyaan. Tumben pertanyaannya cukup berbobot.
Telunjuk kiri Kakashi digerakkan ke kanan dan kiri, "Tidak Naruto. Anima adalah energi ketiga yang dimiliki oleh setiap manusia yang hidup di dunia. Hanya saja perlu dibangkitkan dan diolah lebih lanjut. Untuk menguatkan kualitas anima, seseorang perlu melatih kekuatan fisik dan kekuatan mentalnya secara seimbang dan berkelanjutan. Dan serangan combo element lebih menguras anima dibandingkan serangan single element." kali ini penjelasannya panjang dan lebar.
Naruto bergumam, "Jadi itu alasannya mengapa aku langsung jatuh pingsan setelah muncul serangan angin dan cahaya yang bercampur menjadi satu dari Rasengan."
Tidak heran tubuhku langsung lemas sepersekian detik setelah api hitam itu muncul.
Sensei menepuk kedua tangannya sekali, "Yosh, daripada berlama-lama berteori maka lebih baik kalian berdua belajar untuk mengeluarkan serangan elemen masing-masing. Akan kuberi contoh sebelumnya."
Aku dan Naruto disuruh berdiri dan mengamati sensei yang akan mendemonstrasikan serangan elemen dari belakang tubuhnya persis. Dia memasukkan sebuah anak panah ke sebuah ruang kecil di dalam Raikirinya. Lalu diarahkannya secara horizontal crossbow besar itu ke sebuah pohon yang berada jauh di ujung selatan tanah lapang ini.
"Aku yakin Sakura-chan akan senang melihat ini jika saja hari ini dia tidak menjalani pelatihan bela diri bersama Kurenai-sensei." ujar Naruto.
"Lihatlah Naruto, Sasuke. Kalian harus mampu memfokuskan tujuan terlebih dahulu. Tanpa tujuan yang kuat mustahil anima kita akan bereaksi dengan senjata. Jadi itu yang pertama." sensei masih fokus mengarahkan senjatanya ke arah pohon.
Aku mencoba untuk menarik kesimpulan, "Jika dalam kasus ini berarti tujuan sensei adalah ingin menghancurkan pohon itu?"
"Benar." jawabnya mantap.
"Hanya itu saja syarat yang diperlukan untuk mengaktifkan kekuatan elemen, sensei?" Naruto memasang wajah bingung.
"Tidak. Yang kedua adalah kalian wajib menyatukan jiwa dengan senjata masing-masing. Jika dua syarat tersebut sudah berhasil kalian praktekkan maka yang terjadi akan seperti ini..." terdengar tarikan nafas sensei sebelum dia tarik pelatuk crossbow.
(CTAR)
Suara letusan senjata mengawali kemunculan tembakan anak panah bermuatan listrik yang kini telah berhasil mengenai sasaran dan perlahan-lahan membuat daun-daun yang ada di pohon itu terbakar.
"Hebaat." puji Naruto dengan penuh rasa takjub.
Crossbow-nya dia turunkan ke bawah, "Jika aku menggunakan serangan Triple Thunder Dog maka anima yang kupunya akan semakin banyak terkuras. Sederhana kan prinsipnya?"
Aku paham. Tapi biasanya sesuatu lebih mudah untuk diucapkan ketimbang dipraktekkan.
"Baiklah kalian berdua." mata kiri pria lesu itu memandangi kami berdua, "Kalian akan mempraktekan apa yang barusan kuajarkan dengan cara...duel."
Aku dan Naruto sontak saling menatap. Aku jujur saja belum pernah bertarung melawan pria menyebalkan itu sedari pertama kali masuk ke dalam Tim 7 kurang lebih empat tahun silam. Saat aku masih menjadi hunter dengan kasta terendah, aku belum dikelompokkan ke dalam sebuah tim. Baru saat usiaku menginjak dua puluh satu tahun dan berhasil lulus ujian kenaikan level, aku bertemu dengan Sakura, Naruto, dan Kakashi-sensei di dalam tim ini.
"Teme, ayo kita bertarung. Kita akan lihat siapa yang lebih kuat dan lebih dulu mampu memunculkan kekuatan elemennya." pria berambut pirang pendek itu sudah bersiap dengan tombak besar di tangan kanannya.
Mau bagaimana lagi. Aku tak akan mau kalah oleh orang besar mulut seperti dia. Kuambil Amaterasu yang tergeletak di atas rumput lalu memposisikan diri sekian meter di depan Naruto.
"Bagus. Seperti kataku tadi, yang pertama adalah tentukan tujuan kalian masing-masing dan setelah itu satukan jiwa kalian dengan senjata masing-masing. Paham?"
Aku dan Naruto mengangguk kompak.
Desiran angin pagi membuat aura ketegangan sedikit mereda. Aku harus siap sekalipun itu melawan Naruto dan harus mampu, harus, untuk mengeluarkan kekuatan elemen yang selama ini tersimpan selama ratusan tahun di dalam senjata ini. Salah satu dari dua senjata pusaka yang dimiliki klan Uchiha dan pernah digunakan oleh Madara Uchiha untuk mengalahkan elder dragon legenda bernama Fatalis lebih dari seratus tahun yang lalu.
"Bersiaplah..." sensei memberi aba-aba.
Kutatap kedua bola mata Naruto dengan penuh ketajaman dan aku berusaha menghayati sepenuh perasaan pedang berat yang kupegang dengan kedua tangan ini. Saatnya bertarung!
"Mulai!"
H
U
N
T
E
R
Kami berdua langsung berlari ke depan sedetik setelah pembimbing kami membunyikan isyarat dimulainya pertarungan. Aku mengangkat Amaterasu di atas kepala lalu kemudian melompat dan menebas ke arah bawah.
(CTANG)
Naruto menangkis pinggiran pedangku yang tajam dengan tepian tombaknya itu.
"Teme, jangan berpikiran kau bisa mengeluarkan kekuatan elemen dengan mudah ya. Aku yang akan lebih dulu." digerakkan tangan kirinya ke depan menyentuh Rasengan dan sekuat tenaga mendorongku agar menjauh darinya. Aku mundur sejauh tiga langkah ke belakang.
Harus ingat, fokus kepada tujuan dan menjadi satu dengan senjata. Kuambil nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya kembali.
"Heyaah!" Naruto melaju cepat ke arahku lalu menusukkan ujung tombaknya ke depan.
Meleset.
Dengan gesit kuhindari serangannya yang terbilang cukup lambat itu dengan cara serong ke kanan dan kugunakan kesempatan ini untuk menyerangnya balik.
Ayunan pedangku tepat menuju ke arahnya. "Kau jangan lengah bodoh!"
Naruto mendadak menyeringai. Tanpa kusadari dia telah menggeser tombaknya ke arahku.
(BUAK)
"Aah!" perut sampingku terkena tepian tombaknya yang keras dan membuat keseimbanganku goyah.
"Rasakan ini Teme." Naruto memundurkan siku kanannya ke belakang dengan maksud untuk menyerang sepenuh tenaga ke depan, "Keluarlah elemenku!"
(CTANG)
Tusukan tombaknya barusan berhasil kutahan dengan permukaan Amaterasu yang lebar. Lagi-lagi adu kekuatan antar senjata terjadi.
"Heh, mana buktinya Naruto?" sindirku. Kuputar tubuhku 360 derajat sehingga membuat senjataku terlepas dari pucuk Rasengan dan aku berencana untuk menebas horizontal ke arahnya.
"Dobe!" Amaterasu ini mengarah ke bahunya dan sayangnya dia tidak mampu menangkis ataupun menghindar.
"Uwah!" Naruto terlempar beberapa meter ke samping dan kulihat armor yang melindungi daerah bahunya hancur.
Pertarungan ini cukup menguras tenaga. Keringat bercucuran deras di sekujur tubuhku. Nafasku terengah-engah, berusaha menghirup sebanyak mungkin oksigen menuju ke dalam paru-paru.
'Sial, sedari tadi tidak ada sesuatu yang keluar dari senjata besar ini? Apa aku memang belum mampu?' batin ini bergejolak.
"Sasuke dan Naruto." sensei tiba-tiba memanggil nama kami berdua.
Aku menoleh. Begitu pun Naruto.
Buku Icha Icha Paradise-nya ditutup, "Kalian mungkin sudah sehati dengan senjata masing-masing. Namun tujuan kalian masih samar dan mengambang."
Aku menaikkan alis sebelah kanan, 'Mengambang dan samar? Jelas-jelas aku punya tujuan untuk mengalahkan Naruto. Begitu juga dengan orang berisik itu.' batinku.
"Kalian masih menganggap satu sama lain sebagai teman dalam pertarungan. Itu lah kesalahan kalian berdua. Jangan anggap orang yang kalian hadapi sekarang sebagai kawan namun anggaplah sebagai monster atau musuh yang layak dibunuh. Tujuan kalian masih salah." kritiknya tepat sasaran.
Aku kembali melihat ke arah Naruto. Apa aku harus sekuat tenaga ingin berusaha membunuhnya? Tapi bagaimanapun aku harus bisa dan wajib mampu untuk mengeluarkan kekuatan elemen. Perasaanku harus sedikit kumatikan.
"Sasuke, aku akan menghabisimu sekarang juga!" teriak Naruto penuh emosi. Raut mukanya yang sekarang berbeda dari yang tadi. Terkesan serius dan bersungguh-sungguh ingin menghabisi diriku sesuai apa yang barusan dia katakan.
"Naruto, aku juga ingin membunuhmu!" balasku tak kalah keras. Ini akan semakin menarik. Kumantapkan hati dan pikiran untuk mengalahkan Naruto sepenuhnya.
Dia mulai berlari. Begitu juga denganku.
"Hyaaaahhh!" pegangan kedua telapak tanganku mengerat. Adrenalinku serasa terpacu lebih tinggi daripada tadi. Tanpa kusadari percikan api berwarna merah menyala mulai menjalari pedang ini dari pangkal menuju ujung.
"Heeyaat!" Naruto pun sama. Dari pangkal tombaknya muncul pusaran angin yang meliuk-liuk spiral hingga ke ujung.
Amaterasu dan Rasengan beradu kekuatan lagi dan kali ini hasilnya cukup fatal.
BLAAAAAMMM!
Kobaran api dan pusaran angin yang bertarung memicu ledakan dahsyat di tengah-tengah kami berdua. Aku dan Naruto terlempar cukup jauh ke belakang.
"Aaah!"
"Gwaah!"
Terasa cukup nyeri tubuh ini akibat efek benturan antara dua elemen barusan saja. Sempat kulihat kobaran api berwarna merah mulai meredup dari pedangku ini. Aku segera bangkit dari posisi terjerembap.
Plok..plok..plok..plok...
Sensei bertepuk tangan seraya berjalan mendekatiku. Ditepuknya pundakku ini, "Bagus Sasuke. Kau sekarang sudah paham cara mengeluarkan kekuatan elemen bukan hanya dari segi teori melainkan juga dari segi praktek." dia memuji.
"Teme..."
Aku tersentak, kemudian menengok. Naruto menyodorkan tangan kanannya kepadaku, "Kau hebat Sasuke."
Sebuah senyuman kecil terbentuk di bibirku saat itu juga, "Yah, kau juga Naruto." kujabat tangan kanannya erat.
Tapi ada sesuatu yang sedikit mengganjal di pemikiranku. "Sensei, kenapa aku tadi hanya mengeluarkan api biasa dan bukannya api hitam seperti waktu itu?" jujur saja aku sangat heran akan hal ini.
Naruto pun ikut mengajukan pertanyaan, "Aku pun juga seperti itu. Kenapa sensei? Apa kau tahu? Serangan anginku kali ini tidak sedahsyat dan yang paling jelas tidak secepat saat itu." keluhnya.
"Maaf, aku kurang paham akan masalah ini karena kebetulan aku bukanlah pemilik combo element. Akan tetapi menurutku untuk mengeluarkan kekuatan dua elemen sekaligus diperlukan latihan yang keras serta penguatan anima terlebih dahulu. Jika kualitas anima kalian seperti ini maka dipastikan satu sampai maksimal dua kali serang saja kalian akan jatuh pingsan." ucapnya. Telunjuk kirinya diacungkan ke arah Naruto, "Naruto buktinya. Baru satu kali menyerang dengan elemen gabungan angin dan cahaya saja sudah pingsan seperti itu."
Yang ditunjuk warna mukanya langsung berubah menjadi sedikit memerah karena merasa malu.
Terdengar derap langkah kaki yang bertempo cukup cepat di kedua telingaku. Aku langsung menoleh menuju ke sumber suara. Seorang hunter level 2 yang memiliki tugas utama sebagai kurir alias pembawa pesan sedang berlari menuju ke arah kami. Pria yang mudah dikenali karena memiliki corak kehitaman di bawah kedua matanya.
"Hayate, kenapa kau tergesa-gesa sekali datang kemari?" tanya Kakashi-sensei begitu Hayate sampai di hadapan kami bertiga.
"Hosh..hosh..hosh..." dia menundukkan tubuhnya dengan kedua telapak tangan yang bertumpu di lutut. Deru nafasnya yang sangat cepat menandakan jika dia baru saja menempuh perjalanan yang jauh. "Kakashi-san..." panggilnya lirih.
"Tenangkan dulu dirimu Hayate. Baru kau bicara." saran sensei.
Orang itu mengangkat tubuhnya lalu mengelap keringat yang membasahi daerah wajah. "Kakashi-san, ada berita sangat darurat yang harus saya sampaikan kepada anda."
"Darurat?" Naruto menatapku. Aku menggeleng saja karena memang tidak tahu apa-apa.
"Hi Tate-sama barusan saya kabari dan beliau menyuruh saya untuk mengabari langsung kepada anda." ujarnya.
Pikiran Kakashi dipenuhi tanda tanya. "Berita darurat? Cepat katakan apa itu." sepertinya dia mulai mencium aroma bahaya.
Hayate menelan ludah sekali sebelum memulai bicara lagi, "Saya baru saja mendapat informasi dari pihak Kumogakure yang mengatakan bahwa..." dia menjeda kalimatnya sejenak, "...Lao-Shan Lung yang konon sudah tertidur selama 32 tahun di pegunungan Doragon dikabarkan telah bangun dari tidur panjangnya dan kini sedang bergerak menuju ke tambang emas terbesar yang ada di wilayah Negara Petir, Raito Gorudo."
Tak ada reaksi dari sensei. Tapi aku yakin jika sekarang batinnya sedang cukup gelisah atas kabar buruk yang barusan diterima.
"Akh..." Naruto memegangi dadanya tiba-tiba.
"Kau kenapa?" tanyaku.
Ekspresi mukanya berubah menjadi masam. "Nama monster itu...monster yang telah membunuh ayahku."
Aku ingat. Hi Tate keempat yaitu Minato Namikaze tewas dalam pertarungan puncak satu lawan satu melawan Lao-Shan Lung tak lama setelah putra semata wayangnya, Naruto, lahir. Aku sedikit mengerti perasaannya sekarang.
"Apa yang Sarutobi-sama inginkan dariku?" Kakashi-sensei semakin serius.
Hayate merespon, "Anda diperintahkan untuk menghadap sekarang juga."
Lao-Shan Lung. Naga legendaris dengan ukuran tubuh yang konon sebesar sebuah bukit. Monster yang bahkan dikatakan hanya sebagai mitos oleh sebagian orang akibat minimnya saksi mata yang melihat dengan mata kepalanya langsung. Untuk mengalahkannya dibutuhkan partisipasi dari banyak hunter elit dan sampai-sampai dibangun sebuah benteng untuk menghadang langkahnya. Apakah yang barusan saja kudengar ini bukanlah mimpi atau omong kosong belaka? Jika bukan maka kelangsungan hidup banyak orang sedang terancam.
-TSUZUKU-
Chapter 15 sudah author update. :)
O ya, menyangkut konsep anima di sini itu bisa disamakan dengan chakra di dunia shinobi. Anima author ambil dari bahasa latin yang artinya jiwa. Begitu, hoho.
Terima kasih sudah mau membaca. :)
