DISCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO

RATE : T

WARNING : AU, 1ST POV

MONSTER HUNTER©CAPCOM

.

.

.

(AUTHOR NOTE : Diharapkan kepada readers sekalian untuk mencari nama monster yang author cetak tebal di *monsterhunter. wikia* demi kelancaran dan kenyamanan dalam membaca.)

.

.

.

~Meeting~

Aku serta Naruto diajak oleh sensei untuk menuju ke rumah kepala desa. Kami berdua pun menyetujui tanpa keraguan dan langsung bergegas melaju kencang ke sana. Aku melihat Danozu-sama dan tangan kanannya, Ibiki Morino, berjalan di depan gedung terbesar seantero Konohagakure yang juga merupakan tempat tinggal Hi Tate selama menjabat.

"Danzou-sama, anda juga telah mendengar informasi ini?" tanya sensei sembari berjalan mendekat ke arahnya.

Kakek tua berwajah dingin itu mengangguk, "Baru saja. Ayo masuk."

"Sarutobi-sama pasti sudah menunggumu Kakashi." tambah Ibiki.

"Naruto, bagaimana dengan kita?" aku menoleh ke arahnya.

Dia hanya mengedikkan bahu, "Entahlah Teme. Kita tidak punya wewenang untuk ikut campur terlalu jauh menurutku."

Kakashi-sensei menghadap kepada kami berdua, "Naruto dan Sasuke, kalian berdua menunggu saja di ruang tunggu kantor Hi Tate. Sepertinya ini adalah rapat terbatas."

Aku menuruti saja perintahnya. Naruto mengajakku untuk duduk di deretan kursi yang memang sudah disediakan untuk diduduki di ruang tunggu. Sedangkan sensei tetap berjalan terus hingga memasuki sebuah pintu berukuran besar dengan papan yang tertempel di situ bertuliskan 'RUANG RAPAT'.

"Apa kira-kira desa kita akan tetap aman, Naruto?"

Pertanyaanku yang sederhana tidak dijawabnya. Tatapan pria bermata biru itu terlihat datar dan kepalanya sedikit menunduk ke bawah. Apa mungkin kabar tentang bangkitnya monster legenda ini membuat memori kelamnya di masa lalu terungkit kembali?

H

U

N

T

E

R

Di dalam ruangan khusus rapat yang memiliki luas kurang lebih 25 meter persegi sudah nampak beberapa orang yang duduk di kursi. Hiruzen Sarutobi selaku pemimpin rapat darurat kali ini duduk di kursi tunggal yang berada paling ujung utara. Danzou Shimura sebagai wakil kepala desa duduk di kursi tunggal yang berada paling ujung selatan. Di belakang kursinya berdiri lah sosok Ibiki yang setia mengawal sampai ke dalam. Lalu ada Nara Shikaku selaku ahli strategi terbaik dari desa yang turut ambil bagian. Asuma Sarutobi yang juga ikut hadir mewakili San Koken'nin bersama peserta rapat terakhir yang juga sama-sama anggota dari organisasi 'Tiga Penjaga', Kakashi Hatake.

"Ehem, apakah semuanya sudah hadir?" Hi Tate membuka jalannya rapat darurat ini.

Shikaku-san menimpali, "Sepertinya sudah Hi Tate-sama. Lekas saja dimulai."

Suasana di dalam ruangan mendadak berubah menegang perlahan-lahan. "Aku baru saja menerima berita langsung dari Hayate terkait masalah munculnya monster legenda bernama Lao-Shan Lung yang dikabarkan mulai uhuk bergerak menuju ke tambang emas Raito Gorudo di wilayah Negara Petir. Persisnya di sebelah timur laut Kumogakure. Dan kita dimintai bantuan secara langsung oleh uhuk Rai Tate untuk mengirimkan hunter elit yang ada di desa Konoha ini." kata Sarutobi-sama panjang lebar.

Semuanya saling berpandangan satu sama lain. Danzou-sama menopang dagunya dengan punggung telapak tangan kiri, "Bukankah kita tinggal mengirimkan ketiga anggota San Koken'nin? Kakashi, Gai, dan Asuma?" usulannya terdengar cukup rasional.

"Gai sedang menjalani quest dari dua hari yang lalu, Danzou-san." sela Shikaku-san. "Kita tidak mungkin menunggunya kembali sementara bantuan wajib dikirimkan secepat mungkin atau malah harus repot-repot mencarinya di wilayah Negara Air." lanjutnya. Pendapat ayah Shikamaru itu memang selalu berbobot dan dipenuhi pertimbangan matang.

Sepasang bola mata Hi Tate melirik ke samping kiri dimana putra kandungnya sedang duduk, "Asuma, apa luka-lukamu sudah sembuh total? Apa kau sanggup jika harus aku perintahkan untuk menjalankan misi level 5?" tanyanya.

Yang bersangkutan menghela nafas pendek, "Saya cukup yakin jika sepuluh hari istirahat mampu merehabilitasi luka-luka parah yang sempat saya alami setelah menjalani pertarungan melawan Gravios. Tapi saya kurang yakin jika mampu bertarung dalam kondisi seratus persen. Mungkin tepatnya baru tujuh puluh persenan." terlihat raut kekecewaan pada wajahnya.

"Begitu ya." gumam pria tua yang menjabat sebagai kepala desa Konoha. "Kakashi, kau sanggup?" beliau menanyakan kepastian dari sensei.

Pria berambut keperakan itu tidak langsung menjawab. Walaupun tidak mungkin berani menolak mentah-mentah tugas sepenting ini namun di dalam pikirannya sedang terjadi berbagai pertimbangan menyangkut hal ini.

"Saya sanggup Sarutobi-sama." jawabnya penuh ketegasan.

"Bagu..." belum satu kata selesai diucapkan oleh kepala desa tiba-tiba sensei menyela, "Maaf Sarutobi-sama, tapi saya ada permintaan khusus."

Kedua alis beruban milik kakek tua itu terangkat ke atas, "Apa uhuk itu?

Seluruh pasang mata milik orang-orang penting desa Konoha yang ada di dalam ruangan itu menuju ke satu arah. Kakashi Hatake.

"Bolehkah saya mengikut sertakan kedua murid saya yaitu Naruto dan Sasuke ke dalam misi kali ini?" ucapnya sopan.

Hampir tidak ada yang tidak terkejut setelah sensei mengucapkan permintaannya barusan. Dan hal itu merupakan sebuah kewajaran.

Danzou-sama menyanggah, "Kakashi, di mana otakmu? Apa kau pikir membawa kedua bocah yang baru saja lulus level 3 ke dalam misi berbahaya seperti ini akan membawa keuntungan? Ini bukan main-main!" bentaknya keras.

"Apa yang dikatakan oleh Danzou-san ada benarnya Kakashi. Tolong kau pikirkan lagi permintaanmu itu." saran Shikaku-san.

Ibiki menatap sinis ke arah sensei. Sedangkan Asuma-sensei mendongakkan wajah melihat ke arah langit-langit seakan acuh tak acuh dengan hal tersebut.

"Kakashi..." panggil Hi Tate. "Apa pertimbanganmu yang mendasari supaya aku mengijinkan kedua muridmu itu untuk ikut serta ke dalam misi sepenting ini?" nada bicaranya terdengar sangat serius.

Yang ditanyai mengacungkan telunjuk kirinya ke atas, "Satu, karena Asuma belum pulih sepenuhnya. Kehadiran mereka berdua justru dapat menggenapi kekuatan yang kurang di pihak hunter Konoha."

Hi Tate mengangguk sekali. Sepertinya kakek botak itu sependapat dengan sensei.

"Yang kedua, kemarin saat ujian kenaikan level sedang berlangsung tim kami tiba-tiba dikejutkan dengan kehadiran seekor Rathian. Dengan melihat fakta tersebut saya pikir Naruto dan Sasuke sudah sedikit terbiasa dalam menjalankan tugas-tugas yang sulit."

"Aku salut dengan tim 7 didikanmu, Kakashi." pujian barusan terucap dari mulut seorang Asuma.

Tapi kali ini Sarutobi-sama tidak sepaham dengan argumen senseiku. "Tapi Kakashi, seekor Rathian tidak bisa disamakan begitu saja dengan seekor Lao-Shan Lung. Selain uhuk level mereka yang terpaut satu bintang, kekuatan naga berukuran sangat besar itu benar-benar diluar akal sehat." beliau menjeda sejenak sebelum melanjutkan, "Kau tahu kan apa yang terjadi dua puluh lima tahun yang lalu? Seekor Lao-Shan Lung menyerang desa kita dan pihak Konoha kehilangan sangat banyak nyawa pada waktu itu. Yang paling miris adalah kita sampai kehilangan salah satu uhuk hunter paling berbakat dari desa, Minato Namikaze sang Hi Tate keempat. Gurumu sendiri."

"Benar Kakashi." Danzou-sama lagi-lagi memberikan kritikan, "Jika sampai terjadi sesuatu yang buruk maka keputusan nekatmu atau malah keputusan bodohmu itu patut dipersalahkan." nada bicaranya terdengar sarkastis.

Sensei membuka kedua telapak tangannya di depan dada, "Tenang-tenang semuanya. Ijinkan saya mengutarakan pendapat. Menurut saya pertarungan kali ini cukup berbeda dengan apa yang pernah terjadi di desa Konoha puluhan tahun silam. Mengapa saya bisa mengatakan demikian? Karena dahulu kita kekurangan jumlah hunter kuat dan juga tidak didukung sarana prasarana yang memadai. Sedangkan kali ini kita akan menghadang monster raksasa itu di sebuah benteng yang memang sengaja dibangun sejak lama untuk mempersiapkan pertarungan semacam ini." jelas Kakashi panjang lebar.

Sarutobi-sama mendengarkan penjelasan dari sensei dengan seksama dan bijak. Bola matanya bergerak kesana-kemari, menandakan jika pikirannya sedang sibuk mengolah data-data. "Kata-katamu itu ada benarnya juga. Benteng Verzas yang sengaja uhuk uhuk dibangun oleh pemerintah Kumogakure dalam rangka mengantisipasi jika sewaktu-waktu Lao terbangun dari tidur panjangnya memang punya nilai plus. Jauh lebih baik daripada saat desa kita diserang mendadak oleh makhluk spesies itu seperempat abad yang lalu."

Sensei kembali menyuarakan argumennya, "Dan alasan yang kedua atau terakhir, Naruto dan Sasuke memiliki kekuatan spesial yang sangat jarang dimiliki oleh hunter seusia mereka. Kedua anak itu mempunyai combo element."

Wajah Asuma sedikit terhenyak. Ibiki pun tidak jauh berbeda.

Sang wakil kepala desa terlihat ingin menanyakan sesuatu kepada sensei. "Kakashi, elemen apa yang dimiliki oleh kedua bocah bau kencur itu?"

"Naruto elemen angin dan cahaya. Sasuke elemen api dan kegelapan." jawabnya singkat, padat, juga jelas.

"Sudah kuduga." ucap Hi Tate spontan. "Rasengan warisan Minato memiliki kekuatan dahsyat yang dulu jarang dia perlihatkan karena mantan Hi Tate itu lebih sering mempergunakan elemen cahayanya saja. Sedangkan Amaterasu yang merupakan salah satu dari dua senjata keramat milik klan Uchiha memang uhuk memiliki elemen ganda yang mengerikan. Haahh, sayangnya pedang Susano'o sebagai warisan nyata dari Senju Hashirama telah dibawa pergi oleh Uchiha Itachi." kakek tua itu sedikit berkeluh kesah di akhir kalimatnya.

"Jadi...bagaimana, Sarutobi-sama? Keputusan ada di tangan anda selaku pemegang kekuasaan tertinggi di desa." sensei memasang tampang penuh harap.

"Pikirkan baik-baik Hi Tate-sama. Keputusan yang akan anda ambil belum jelas manfaat atau kerugiannya." Shikaku-san memberikan saran kepada sang Hi Tate ketiga supaya tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan.

Hening. Tidak ada yang bersuara. Menunggu sang pemegang kendali tertinggi di pemerintahan desa untuk menentukan pilihannya. Di antara ya dan tidak.

"Aku ijinkan."

Dua kata tadi membuat perasaan senseiku lega. "Terima kasih Sarutobi-sama."

Tapi tentu saja di dalam suatu pendapat atau keputusan terdapat pihak yang kontra dengan hal tersebut. Dalam kasus ini tentu saja siapa lagi kalau bukan...

"Hiruzen! Kau sudah kelewatan dengan membiarkan bocah-bocah seperti mereka turut berpartisipasi ke dalam misi seberbahaya ini!" tegur seorang kakek yang memakai perban di kepalanya. Danzou Shimura.

"Kakashi, tapi aku punya satu permintaan. Jika terjadi hal yang tidak diinginkan maka kau wajib menanggung akibatnya dan harus siap bertanggung jawab penuh. Paham?"

Sensei berdiri dari kursinya lalu menbungkuk ke arah Hiruzen Sarutobi, "Dimengerti."

"Danzou..." Sarutobi-sama menatap mata rivalnya itu dengan cukup tajam, "Keputusan sudah aku ambil. Jika kau mau mengintervensi maka sebaiknya urungkan niatmu itu. Apa yang baru saja kuputuskan sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat." ketegasan seorang hunter yang penuh pengalaman terpancar jelas di wajahnya.

Patut dimaklumi jika wakil kepala desa yang juga merupakan pimpinan dari organisasi San Koken'nin ini tidak suka dengan ide dari sensei. Aku dan Naruto yang baru saja lulus ujian kenaikan level 3 beberapa hari yang lalu sudah diperbolehkan untuk ikut membantu di dalam misi level 5 yang belum kelasnya. Hi Tate sudah bisa menebak tujuan dari sikap kontra sahabat masa kecilnya itu. Beliau, Danzou-sama, menginginkan agar hunter yang dikirimkan nanti berasal dari bawah kepemimpinannya. San Koken'nin pun sebenarnya tidak sepenuhnya dipegang dan diatur oleh kakek tua menyebalkan itu. Dahulu organisasi resmi tiga hunter elit penjaga desa diketuai langsung oleh Hiruzen Sarutobi. Namun lima tahun belakangan Danzou-sama berusaha mengambil alih posisi ketua dari tangan Sarutobi-sama dengan cara kotor yang aku pun kurang tahu persisnya seperti apa. Tapi pada hakekatnya atasan Yamato itu hanyalah sebagai figur mati saja dan Kakashi, Asuma, serta Gai tetap lebih condong untuk patuh kepada Sarutobi-sama.

Untuk kalian ketahui, Danzou-sama telah membentuk satuan unit keamanan desa yang dinamai 'Konoha Special Hunter Operation' atau yang biasa disingkat dengan KSHO. Organisasi ini belum resmi diakui oleh pihak pemerintah Konoha dan sebenarnya masih lah ilegal. Aku kurang tahu tentang tujuan utama pendirian KSHO ini yang beranggotakan Ibiki Morino ,Yamato Tenzo, serta masih cukup banyak yang namanya kurang kukenal. Yang jelas pada kesempatan kali ini beliau sangat kecewa karena tidak bisa memasukkan anggotanya ke dalam misi yang bisa dibilang sangat berkelas. Dan ujung-ujungnya beliau dan organisasi bentukannya tidak akan mendapatkan simpati dari pihak negara lain jika misi kali ini sukses.

Sarutobi-sama bangkit dari tempat duduknya, "Ehem baiklah, sudah jelas kan apa hasil dari rapat darurat ini? Kita intinya wajib mengirimkan bantuan kepada pihak Kumogakure dengan maksud utama agar tetap menjaga hubungan ekonomi dengan desa tersebut. Jika tambang emas Raito Gorudo hancur oleh ulah Lao-Shan Lung, maka uhuk tidak bisa dibayangkan akan seperti apa terganggunya stabilitas ekonomi dunia."

Shikaku-san turut menambahkan, "Tidak hanya dari Konoha saja. Pihak Suna juga akan memberikan bantuan militer kepada Kumo. Kakashi dan Asuma..." matanya menatap bergantian ke arah dua hunter level 4 itu, "...hati-hati."

H

U

N

T

E

R

Rapat akhirnya selesai. Pintu besar bertuliskan 'RUANG RAPAT' terbuka dari dalam dan menampilkan jajaran petinggi Konoha yang baru saja selesai mencari kesepakatan mufakat. Aku dan Naruto bangkit berdiri lalu menghampiri sensei kami.

"Sensei, apa yang kalian semua bicarakan di dalam?" tanya Naruto penasaran.

Sekilas aku melihat Danzou-sama sedang menatap kami dengan tatapan tidak suka dari kejauhan. Entah apa yang sedang beliau pikirkan.

"Kakashi." Asuma-sensei memanggil. Yang dipanggil pun menengok.

Pria berjenggot lebat itu menyalakan rokoknya terlebih dahulu sebelum berucap, "Hi Tate menyuruh kita untuk bersiap-siap setengah jam dari sekarang di depan gerbang desa. Kendaraan untuk kita berempat sudah disiapkan karena mustahil untuk berjalan kaki."

"Berempat?" aku bertanya kepada diri sendiri.

Sensei menggaruk belakang kepalanya seraya menghela nafas panjang, "Sasuke dan Naruto, kalian juga harus bersiap. Kita berempat akan berangkat menuju ke wilayah tambang emas Raito Gorudo."

Aku dan Naruto saling berpandangan satu sama lain. Kurang paham kemana arah pembicaraan sensei itu.

"Kita berempat?" alis kiri Naruto naik.

"Bagimana ya menjelaskannya." sensei malah terlihat bingung. "Intinya kalian bedua sudah kurekomendasikan di dalam rapat untuk menggantikan posisi Gai yang kosong. Kalian berdua ikut di dalam misi kali ini." jelasnya cukup singkat.

Butuh waktu hampir satu menit bagiku untuk bisa menerima kenyataan. Aku? Hunter yang baru naik tingkat ke level 3 beberapa hari lalu disuruh untuk menjalani 'urgent quest' yang bisa dikategorikan sebagai quest level 5? Ini pasti bercanda. Tapi jika tidak, apa yang bisa kami lakukan di sana? Aku dan Naruto?

"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Aku melakukan ini dengan sebuah tujuan yang nantinya akan kusampaikan di sana." kedua telapak tangan pria bermata sebelah itu menepuk masing-masing pundak kami, "Kalian sanggup?" suaranya melembut.

Tanpa pikir panjang Naruto menganggukkan kepalanya penuh kemantapan, "Tentu!"

"Bagus. Kau Sasuke?" sensei menoleh ke arah wajahku.

Mau bagaimana lagi. Jika aku menolaknya maka ini sama saja dengan mengingkari prinsip utama seorang hunter, yaitu melindungi rekan, desa, negara, dan umat manusia dari ancaman monster.

"Baik. Aku sanggup."

-TSUZUKU-

Chapter 16 sudah author update. :)

Apakah ada dari readers di sini yang pernah bertarung melawan elder dragon yang bernama Lao-Shan Lung? Author kebetulan pernah dan perlu perjuangan panjang untuk bisa menang. Itu monster gedhe banget sumpah.

Ye-Ka-We : Author sengaja gak membuat Sasuke dan Naruto IMBA dengan alasan karena menurut author semuanya butuh progress. Lagian mereka berdua baru naik level 3. Kalau kamu baca chapter yang membahas masalah pertarungan antara Tim 7 melawan Iodrome & kawanan Ioprey pasti di sana diperlihatkan Naruto dan Sasuke memiliki stamina yang bagus. Maaf kalau ceritanya kurang cocok di hati, hehe.

Terima kasih sudah bersedia membaca!