DISCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO

RATE : T

WARNING : AU, 1ST POV

MONSTER HUNTER©CAPCOM

.

.

.

(AUTHOR NOTE : Diharapkan kepada readers sekalian untuk mencari nama monster yang author cetak tebal di *monsterhunter. wikia* demi kelancaran dan kenyamanan dalam membaca.)

.

.

.

~Kumo, Suna, Konoha~

Benteng Verzas. Benteng besar yang dibangun sekitar delapan tahun yang lalu dan konon memakan biaya sebesar 6.780.000 ryo. Benteng yang sengaja dibangun oleh pemerintah Kumogakure untuk mengantisipasi serangan dari makhluk legenda bernama Lao-Shan Lung yang dikatakan mendiami wilayah pegunungan Doragon. Kini di puncak benteng setinggi kurang lebih 15 meteran itu telah berdiri seorang pria berkulit cokelat gelap dan berambut putih acak-acakan yang poninya memanjang ke sebelah kiri sehingga mata kirinya tertutup. Pria berpostur cukup tinggi serta atletis itu sedang berdiri menyandar ke dinding benteng dan kedua tangannya dilipat di depan dada. Tatapannya santai seakan-akan dia sedang berada di tengah liburan dan bukannya medan perang.

"Komandan Darui." seorang pria yang memakai armor standar dengan simbol mirip awan di bagian tengah-tengah dadanya langsung memberi hormat begitu sampai di hadapan pria yang dipanggilnya Darui. "Logistik barusan telah sampai semua dan kira-kira mampu mencukupi kebutuhan pangan hingga pertempuran selesai." ujarnya.

Darui menatap ke arah wajah pria itu dengan sorot mata tetap santai. Jari telunjuk tangan kirinya asyik menggaruk ke bagian dalam telinga kiri, "Ohh begitu. Oke, tidak masalah."

"Terima kasih atas perhatiannya komandan." hunter dari Kumo tersebut menurunkan tangan kanannya dari tepian pelipis lalu berbalik arah kemudian beranjak pergi dari situ.

Laki-laki yang disebut-sebut sebagai tangan kanan Rai Tate itu kembali melakukan pose santainya seperti tadi sambil menikmati semilir angin di ketinggian. Apa lagi sekarang masih lumayan pagi dan tentunya sinar matahari yang belum panas membuatnya semakin terlena di dalam aktifitas pasif yang kurang bermanfaat.

"Darui-san, kau tidak boleh terlalu bersantai begitu." tegur seorang pria kurus yang mengenakan kaos tanpa lengan. Di punggungnya terdapat sebuah katana kecil yang sengaja digantungkan di situ. Laki-laki berambut sedikit cepak dan berwarna putih itu memandangi komandannya dengan tatapan meremehkan.

Bola mata hitam Darui bergerak seirama ke arah laki-laki yang baru saja menegurnya, "Omoi?"

"Ck, kau di sini itu berposisi sebagai komandan, Darui-san. Bagaimana kita nanti bisa menang melawan naga yang sangat besar ukurannya itu jika kau terus-terusan berdiam sedari subuh di atap sambil melamun." kalimat sindiran ini keluar dari mulut pria yang dipanggil dengan nama Omoi.

Seketika tangan kanan Rai Tate itu langsung membungkukan tubuhnya 90 derajat ke bawah, "Sumimasen. Maafkan aku sungguh."

Omoi hanya menggelengkan kepala saja menanggapi reaksi pemimpinnya itu, "Aku tidak mau kau membuat kubu tuan rumah dipandang remeh oleh Suna serta Konoha dengan sikapmu yang seperti itu, Darui-san."

Lagi-lagi pria berambut putih acak-acakan itu melakukan pose serupa ditambah kalimat yang serupa pula, "Sumimasen Omoi. Aku berjanji akan lebih baik lagi." senyuman kecut tebentuk di bibirnya yang sedikit tebal.

Tapi adegan sedikit konyol barusan terhenti seketika saat seseorang berjubah hitam besar dan memiliki corak awan merah melangkahkan kedua kakinya ke situ. Menemui kedua hunter dari Kumogakure.

Omoi memandangi orang tersebut penuh rasa kecurigaan. Sedangkan Darui langsung menghilangkan senyuman kecutnya.

"Jika saja tarif yang Rai Tate bayarkan tidak besar maka mustahil aku mau datang membantu." kata orang itu.

H

U

N

T

E

R

Di sebuah jalan panjang yang lebarnya tidak seberapa yang diapit oleh tebing pasir raksasa, terlihatlah beberapa orang yang sedang berdiri di situ. Seorang pria berambut merah mencolok dengan pakaian yang berwarna serupa dengan rambutnya menatap kedua manusia di depannya yang sepertinya sedang bersiap-siap untuk memulai perjalanan. Di belakang pria merah tadi berkumpul lah banyak pria yang memakai armor seragam dengan ukiran simbol Sunagakure di dada yang sepertinya merupakan pengawalnya. Serta ada juga seorang nenek berpostur cukup gemuk dan pendek di situ.

"Pakura, jangan sampai kau membuat nama Sunagakure dipermalukan nanti." ucapnya datar.

Yang diperintah dengan sigap mencondongkan badannya 45 derajat ke depan, "Baik Gaara-sama. Akan saya ingat serta laksanakan dengan baik."

"Kau juga Kankuro." tambah pria yang dipanggil dengan nama Gaara itu.

Laki-laki yang memakai make-up layaknya pemain Kabuki itu hanya menyeringai jahil, "Hehe, kau tenang saja adikku. Kau pikirkan saja tugas-tugasmu sebagai wakil kepala desa Suna."

Seorang nenek yang memakai tutup kepala dari rajutan ikut memberi wejangan, "Pengendalian senjata benang milikmu masihlah belum sempurna, Kankuro."

"Tenang saja nenek Chiyo. Walaupun aku belum sepandai cucu kandungmu tapi aku akan selalu berusaha." jawab Kankuro penuh keyakinan.

Nenek Chiyo tersenyum kecil, "Baguslah kalau begitu."

Pakura menepuk armor yang melindungi bahu rekannya dalam quest kali ini, "Kankuro-sama, ayo lekas berangkat."

Kakak kedua Gaara itu mengangguk, "Hm."

"Kalian berdua..." putra terkuat Kaze Tate keempat itu menatap bergiliran ke arah Pakura dan setelah itu Kankuro, "...hati-hati."

Kedua hunter utusan desa Suna itu bergegas naik ke dalam kereta beroda empat yang ditarik oleh empat ekor Apceros untuk segera berangkat menuju ke kawasan pegunungan Doragon di wilayah Negara Petir.

H

U

N

T

E

R

Gerbang besar dengan plang yang melintangi bagian atasnya bertuliskan KONOHA. Sensei sedang melapor untuk memulai quest kepada dua penjaga gerbang desa, Kotetsu dan Izumo. Asuma-sensei sedang asyik menghisap rokok sambil berjongkok di pinggir gerbang. Aku dan Naruto sibuk mengamati sebuah benda di tangan kami masing-masing yang memiliki fungsi primer sebagai pelindung kepala di dalam pertarungan. Helm hunter.

"Apa benar helm sebagus ini diberikan cuma-cuma kepada kita, Teme?" tanya Naruto seraya memakaikan benda tersebut di rambut duriannya.

Aku menjawab sekenanya saja, "Mungkin."

Helm ini benar-benar berkualitas. Selama kami menjalani karier sebagai hunter, belum pernah kami memakai aksesoris yang bernama helm. Mungkin kali ini kami wajib memakainya dikarenakan pertarungan yang nantinya bakal dihadapi akan teramat berat dan sangat beresiko. Helm yang memiliki duri-duri kecil di bagian atas-tengah dan bercorak merah dipadu sedikit hitam ini bernama Rathalos Helm. Sedangkan helm yang sudah dipakai oleh teman satu timku yang menyebalkan itu bernama Diablos Helm. Helm yang memiliki sepasang tanduk besar di masing-masing sisinya yang memang sebagai ciri khasnya.

"Naruto, Sasuke, ayo lekas berangkat." ajak sensei setelah dia selesai menulis laporan untuk memulai quest. Kali ini sensei tidak memakai armor standar desa Konoha yang berwarna dasar hijau daun dan di bagian dadanya terukir lambang desa Konoha. Armor yang dia kenakan kali ini adalah full-set Khezu Armor. Armor yang berwarna dasar perak keputihan hampir senada dengan warna rambut sensei dan tidak memiliki corak apapun. Sayangnya armor full-set tersebut tidak tersedia bagian helm-nya sehingga rambut jabrik panjang sensei tidak terlindungi oleh apapun juga.

"Padahal aku baru saja menyalakan batang rokok ini." keluh sang pembimbing tim 10, Asuma Sarutobi. Dilemparkannya rokok kesayangannya ke atas tanah lalu dia berdiri dari posisi jongkok. Asuma-sensei pun telah mengenakan full-set armor seperti yang dikenakan oleh sensei kami. Armor miliknya benar-benar terlihat mengerikan. Bagaimana tidak? Armor berwarna cokelat tua itu memiliki tiga buah duri cukup besar nan tajam di bagian pelindung bahu. Sebuah duri kecil di masing-masing sikunya. Dan yang paling mencolok adalah sebuah duri besar yang runcing di bagian dada dimana terlihat seperti ada wajah seekor monster di situ. Itu adalah Monoblos Armor.

Empat ekor Anteka berbaris berjajar di depan gerbang. Monster herbivora berwujud seperti rusa kutub yang seharusnya hidup di daerah bersalju itu memiliki kecepatan lari di atas rata-rata herbivora sehingga direkomendasikan oleh Hi Tate sebagai kendaraan kami berempat. Walaupun Konoha bukan berada di daerah yang beriklim kutub namun monster-monster itu telah dikembang-biakkan sejak masih bayi sehingga mampu beradaptasi di cuaca panas dengan bulu mereka yang lebat.

Aku segera memasang Rathalos Helm ini di kepalaku lalu menyusul ketiga rekanku dalam misi kali ini yang sudah naik di atas punggung Anteka masing-masing.

"Kalian semua sudah siap? Quest kita berempat yang akan dijalani ini akan sangat-sangat berat. Jadi aku akan berikan kesempatan bagi siapa saja dari kalian bertiga, terutama Sasuke dan Naruto untuk mengundurkan diri sebelum terlambat." ucap sensei. Sorot mata kirinya menunjukan dedikasi tinggi seorang hunter dalam mengemban misi.

Aku tak bereaksi apa-apa. Naruto menggelengkan kepala.

"Resiko kita kali ini adalah nyawa. Dan prosentase kematian kita cukup besar." tempo perkataannya berusaha dibuat pelan untuk menekankan makna tersurat bahwa pertarungan melawan Lao-Shan Lung nanti merupakan sebuah pertarungan yang teramat sangat berbahaya.

"Aku tidak takut sensei."

Aku menoleh ke arah Naruto yang berada persis di samping kiriku.

Terpancar aura keberanian dari wajahnya. "Aku akan membuat monster itu membayar apa yang telah dilakukan spesiesnya yang lain kepada ayahku dua puluh lima tahun lalu." sorot matanya kali ini berbeda dari yang biasa aku lihat.

Sensei tersenyum, "Bagus. Bisa kita mulai sekarang?"

Kami bertiga mengangguk serempak. Termasuk juga Asuma-sensei.

Sensei menarik tali kekang Anteka yang ditungganginya dengan kuat, "Majuuu!"

H

U

N

T

E

R

Sementara dari pihak Suna serta Konoha telah berangkat, pihak Kumo selaku tuan rumah tidak mau membuang-buang waktu. Omoi sedari tadi mondar-mandir di gudang yang ada di bagian tengah benteng Veznas untuk mengecek amunisi, obat-obatan, serta logistik supaya tidak terjadi kesalahan dalam prakteknya nanti. Sang komandan, Darui, masih berjalan dari satu balista ke balista lain dan dari satu meriam ke meriam lain untuk memastikan jika senjata-senjata utama itu tidak mengalami kerusakan karena telah mangkrak di benteng ini selama bertahun-tahun lamanya. Tanpa pernah diurusi sama sekali.

"Balista keempat?" dia menanyai seorang bawahannya yang kini sedang mengeceki senjata besar tersebut.

"Balista keempat siap digunakan." jawab sang bawahan.

Pria bertubuh atletis itu melaju ke balista selanjutnya yaitu yang kelima.

"Balista kelima?"

Anak buahnya kembali melakukan pengecekan.

Dari arah pintu yang menghubungkan ke dalam benteng muncullah seorang pria yang memakai armor bersimbol Kumogakure. Pria itu berlari dengan langkah terburu-buru ke arah komandannya.

"Komandan Darui!"

Dia menengok, "Ohh kau. Sudah kau pantau pergerakan monster itu?" tanyanya.

"Sudah komandan. Monster itu tadi sempat saya lihat dari kejauhan menggunakan binocular dan terlihat telah sampai di daerah lereng gunung Doragon yang kira-kira jaraknya lima belas kilometer dari benteng ini." jawab pria yang sepertinya ditugasi oleh Darui sebagai pemantau itu.

Darui tidak balas menjawab. Informasi barusan membuat pikirannya harus bekerja lebih keras lagi untuk menyusun strategi supaya pertarungan nanti berjalan lebih baik dan bukan malah sebaliknya.

"Baiklah. Terima kasih atas kerja kerasnya. Maaf kalau aku membuatmu kelelahan." pria itu malah meminta maaf sembari menggaruk-garuk rambut bagian belakangnya.

"Tidak masalah komandan. Saya permisi dulu." pria bawahan Darui itu pun angkat kaki dari situ untuk melanjutkan pekerjaannya.

" 'Black Lightning' Darui. Aku tidak menyangka akan berjumpa lagi denganmu di sini." suara berat ini berasal dari mulut pria berjubah hitam dan bercorak awan merah yang sedari tadi memang berdiri diam di dekat situ. Kali ini dia angkat bicara.

"Kau..." gumam Darui. Nampak ekspresi ketidak sukaan pada wajahnya atas kehadiran orang itu. Salah satu anggota Akatsuki.

"Jangan kira kau boleh memerintahku semaumu sendiri nanti. Aku dibayar hanya untuk membantu menghabisi Lao saja." lanjutnya. Tangan kirinya memegang sebuah bungkusan transparan yang berisi ratusan koin emas ryo.

"Seandainya saja Bee-sama bisa ikut maka desa tidak akan membuang-buang banyak uang untuk menyewamu." ucap Darui dengan nada sedikit sinis. Dia masih tidak bisa percaya kepada salah satu anggota Akatsuki itu sekalipun mereka berdua sekarang berada di pihak yang sama.

"Ketidakhadiran wakil Rai Tate itu justru membuat pundi-pundi uangku semakin berlipat ganda." sahut lawan bicara Darui itu dengan ketusnya.

Matahari mulai naik perlahan ke atas. Awan-awan memudar dan mengijinkan bagi sinar mentari untuk mencapai permukaan bumi tanpa hambatan.

"Apa kau punya tujuan lain?" kalimat tanya dari pria berjuluk Black Lightning ini seperti sebuah pertanyaan interogasi.

"Entahlah. Kisame gagal dan pemimpinku belum punya rencana lain." jawabnya penuh kemisteriusan.

Beberapa orang yang berada di sekitar situ kini mulai memperhatikan kedua orang hunter elit yang sedang berdialog itu. Terutama kepada pria bercadar yang sosoknya terbilang cukup mengerikan ditambah reputasinya yang benar-benar negatif.

Mereka berdua diam dalam pikirannya masing-masing. Sepasang pupil hitam milik Darui melirik ke arah samping, kepada pria bertubuh tinggi yang berjalan menuju ke sampingnya.

"Darui..." tangan kanan pria berbola mata hijau itu mengambil gagang pedang berukuran cukup besar yang digantungkan di pinggang kirinya.

Tak perlu berpikir dua kali bagi Darui untuk melakukan tindakan balasan. Pedang lebar berbentuk mirip persegi panjang yang ditaruh di punggungnya segera diambil secepat kilat...

(CTAANNG)

Pedang besar milik anggota Akatsuki yang berbentuk seperti keris besar itu ditahannya dengan pedang pipih miliknya, "Aku tak akan membiarkanmu berbuat onar, Kakuzu."

Pria yang diketahui bernama Kakuzu itu memicingkan kedua matanya, "Aku masih ingin menuntaskan hasrat untuk membunuhmu, Darui."

Percikan listrik berwarna hitam tiba-tiba muncul begitu saja dari pangkal pedang Darui dan seketika menyelimuti seluruh bagian pedang pipih itu. Kobaran api berwarna merah turut muncul seketika di pedang milik Kakuzu. Adu kekuatan pedang ditambah elemen masing-masing menimbulkan tekanan energi yang luar biasa di sekitar tempat itu.

DHUAAARRR!

-TSUZUKU-

Author sudah meng-update chapter 17. :)

Kalau readers mau membayangkan seperti apa bentuk pedang milik Kakuzu maka imajinasikan saja sebuah keris dengan ukuran cukup besar jika berpatokan pada pedang berukuran normal. :D

AnitaNF : Terima kasih sarannya ( y ). Tapi kalau POV-nya diganti sepertinya mustahil. Maaf ya, soalnya sudah terlanjur hingga belasan chapter. :3

PrincessIvvy : Oke. Thank's for your advice. :)

yumi-chan : Nanti ada waktunya. Soalnya mereka bertiga termasuk Sakura kan baru naik level. Gak akan author sia-siakan Sakura kok. :)

Ye-Ka-We : Gak tau, hohoho. Semampu author saja mau sampai mana. :D

Terima kasih sudah mau membaca!