DISCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO
RATE : T
WARNING : AU, 1ST POV
MONSTER HUNTER©CAPCOM
.
.
.
(AUTHOR NOTE : Diharapkan kepada readers sekalian untuk mencari nama monster yang author cetak tebal di *monsterhunter. wikia* demi kelancaran dan kenyamanan dalam membaca.)
.
.
.
~Veznas Fortress~
Perjalanan panjang dari Konoha menuju ke wilayah pegunungan Doragon yang ada di barat laut Kumogakure telah usai. Aku melihat dari kejauhan ada sebuah benteng cukup besar yang menjulang tinggi di atas bukit. Pasti itu tempatnya. Jarak kurang 120 kilometeran mampu ditempuh hanya dengan waktu sepuluh jam saja menggunakan kendaraan monster rusa bernama Anteka ini. Itu pun aku dan yang lainnya hanya beristirahat selama lima belas menit saja di perbatasan Negara Api-Negara Petir.
"Langit sudah hampir gelap. Ayo kita tepikan monster ini lalu lekas masuk ke dalam benteng." instruksi Kakashi-sensei.
Kami berempat turun dari Anteka tunggangan masing-masing. Hanya beberapa meter dari tempat kami memarkirkan monster itu terdapat sebuah kereta beroda empat berlambang desa Sunagakure di pintunya. Empat ekor Apceros berbaris rapi di depan kereta itu.
"Sepertinya itu adalah kendaraan yang digunakan oleh orang-orang dari Suna. Mereka telah sampai lebih dulu sepertinya." Asuma-sensei menganalisa.
"Benar Asuma. Ayo kita masuk ke dalam semuanya." ajak sensei dan kami pun mengiyakan.
Benteng bernama Veznas ini dijaga ketat oleh orang-orang Kumogakure. Aku melihat banyak pria yang memakai armor berwarna hitam dengan ukiran simbol awan di dada mereka berlalu-lalang. Sensei berbicara singkat kepada penjaga pintu masuk benteng sebelum akhirnya penjaga itu menunduk seraya mempersilahkan kami berempat untuk masuk ke dalam.
Lantai satu benteng ini tidaklah terlalu mengagumkan. Hanya ada beberapa meja besar dan kursi-kursi yang mengelilinginya. Juga tumpukan amunisi yang terlihat diletakkan di beberapa tempat.
"Kalian hunter-hunter dari Konohagakure?" tiba-tiba seorang pria ber-armor standar Kumo menghampiri aku dan yang lain dari atas tangga.
"Benar tuan. Kami orang-orang kuat yang akan membasmi Lao-Shan Lung itu, hihi." Naruto nyengir sembari meletakkan kedua telapak tangannya di belakang kepala.
"Baguslah kalau begitu. Rapat hampir dimulai. Silahkan ikuti saya untuk menuju ke ruangan rapat." ajak pria itu. Kami berempat pun menurut saja dan berjalan di belakangnya menuju ke atas lantai dua.
"Silahkan masuk tuan-tuan dari desa Konoha. Silahkan." pria itu membuka sebuah pintu kecil yang terbuat dari baja dengan perlahan.
Di dalam sudah ada beberapa orang yang aku yakin mereka adalah hunter-hunter elit yang akan berpartisipasi di dalam operasi besar ini. Seorang pria berpakaian kaos hitam berlengan pendek yang memiliki rambut putih acak-acakan sedang duduk diam di kursi paling timur sambil menyangga dagunya. Melihat raut mukanya saja aku sudah bisa menebak jika wataknya sebelas-dua belas dengan senseiku. Di samping kirinya duduk seorang laki-laki yang terlihat lebih muda dan memiliki rambut berwarna putih juga. Mengenakan armor standar Kumogakure dan membawa sebilah katana di punggungnya. Di sebelah barat meja ada seorang laki-laki yang mengenakan armor standar Sunagakure berwarna krem dan yang paling menarik perhatianku adalah...wajahnya. Coretan-coretan berwarna ungu yang melintang kesana-kemari di bagian mukanya benar-benar membuatku terheran-heran setengah mati. Apa itu penting ataukah hanya cari perhatian semata? Entahlah.
"Kalian dari Konoha kan?" tanya seorang wanita berwajah dingin yang memakai pakaian tanpa lengan dan bawahan rok. Aku heran dengannya, apakah dia tidak tahu pertarungan seperti apa yang akan berlangsung nanti? Pakaian bebas nan santai seperti itu sama saja dengan cari mati. Atau mungkin saja dia belum ingin memakai armor andalannya.
"Iya benar." jawab Kakashi-sensei.
"Duduklah. Rapat kebetulan baru saja akan dimulai." lanjutnya lagi.
Aku, Naruto, Kakashi-sensei, serta Asuma-sensei duduk di empat kursi kosong yang sepertinya memang khusus disediakan bagi kami berempat.
Pria berkaos hitam yang duduk paling barat tiba-tiba bangkit dari kursinya, "Baik semuanya. Sebelum kita memulai rapat ini maka ada baiknya kita memperkenalkan diri terlebih dahulu. Maafkan aku ya."
Naruto menyikutku sambil berbisik, "Teme, maaf untuk apa sih?"
"Entahlah." jawabku lirih.
Pria yang mempunyai poni panjang hingga menutupi mata sebelah kiri itu mulai memperkenalkan dirinya. "Namaku adalah Darui. Hunter level 4 yang baru saja naik level menjadi 5 beberapa minggu yang lalu. Aku adalah perwakilan dari Negara Petir bersama rekanku yang bernama Omoi ini. Dan..."
Dia menjeda kalimatnya selama hampir sepuluh detik.
"...sumimasen, aku adalah komandan yang akan memimpin penuh dalam operasi menghadang Lao." dia menebarkan senyuman malu seraya menggaruk belakang rambutnya.
'Jadi dia adalah Darui sang pemilik combo element petir dan kegelapan yang pernah diceritakan oleh sensei kemarin-kemarin.' kataku di dalam hati.
"Level 5? Sensei yang katanya adalah hunter terkuat di desa setelah Sarutobi-sama pun baru level 4. Hebaaatt..." omongan Naruto barusan terdengar di telinga sensei.
"Ehem." pria berambut keperakan itu berdehem menanggapi ocehan tak berguna dari si rambut durian.
Kudorong samping kepalanya supaya tidak mengeluarkan perkataan kurang sopan seperti barusan.
"Apa-apaan sih kau ini?!" bentak Naruto tidak terima dengan perlakuanku.
Setelah orang yang bernama Darui itu duduk kembali di kursinya kini giliran laki-laki berambut putih cepak itu yang berdiri.
"Salam kenal semuanya. Aku Omoi, hunter level 3 dari Kumo. Aku bukahlah tipe petarung offensive ataupun defensive. Aku medic hunter." dia memperkenalkan dirinya dengan cukup singkat.
Aku sedikit tercengang begitu mendengarkan penuturannya itu, "Medic hunter ada yang seorang pria juga?" gumamku.
"Namaku Pakura." wanita yang memiliki sepasang rambut memanjang di sisi matanya dan memiliki warna berbeda, oranye, itu tanpa permisi langsung berbicara begitu saja. "Hunter level 4 dari Sunagakure." nada bicaranya terdengar datar.
'Dia Pakura yang memiliki combo element lahar itu kah?' aku membatin.
Laki-laki yang memakai aksesoris coretan aneh di mukanya itu berdiri lalu kemudian menundukkan kepala, "Aku Kankuro. Hunter level 3 dari Sunagakure."
Asuma-sensei terus menatap ke arah orang itu sedari tadi. "Bukankah kau putra pertama dari Kaze Tate keempat?" dia bertanya.
"Iya benar." orang yang bernama Kankuro itu kembali duduk.
"Teme..." Naruto berbisik memanggil namaku.
Kutengokkan kepala ke samping kanan, "Apa?" tanyaku pelan.
"Bukankah pria yang bernama Darui dan wanita yang bernama Pakura itu adalah nama-nama hunter yang disebut oleh sensei saat sedang mengajari kita tentang elemen?"
Aku mengangguk tanpa perlu bersuara.
Setelah empat orang yang berasal dari kedua desa besar itu memperkenalkan dirinya masing-masing, kini giliran kami dari Konoha. Kakashi-sensei langsung berdiri, "Selamat sore dan salam kenal bagi kalian yang belum kenal denganku." dia terkekeh.
"Aku sudah mengenalmu sejak cukup lama Kakashi." sahut Darui, menatap muka sensei dengan tampang bosan.
Sensei membalas perkataan pria berambut putih itu, "Haha, iya-iya kita sudah saling mengenal sejak lama. Baiklah, namaku Kakashi Hatake. Dan pria berjenggot yang sedang menyalakan rokok di sampingku ini bernama Asuma Sarutobi."
Asuma-sensei cuek saja karena koreknya tiba-tiba susah dinyalakan.
"Kami berdua adalah hunter level 4 dari perwakilan Negara Api. Sedangkan dua orang laki-laki yang duduk di samping Asuma itu bernama Uzumaki Naruto yang berambut kuning dan Sasuke Uchiha yang berambut hitam." dia mencoba merangkap sesi perkenalan ini menjadi satu supaya tidak terlalu membuang-buang waktu.
Orang-orang dari desa lain memperhatikanku dan Naruto. Aku hanya diam tanpa banyak berekspresi sedangkan si bodoh itu malah sibuk menebar senyuman ke segala penjuru.
"Mereka berdua adalah hunter level 3 yang baru saja naik tingkat." sensei mengakhiri kalimat panjangnya.
Kankuro menaikkan alis sebelah kanan, "Naik tingkat ke level 4?" sepertinya dia penasaran.
Sensei menggerak-gerakkan telapak tangan kirinya ke kanan dan kiri berulang-ulang, "Tidak-tidak. Maksudku mereka berdua adalah hunter level 2 yang baru saja naik tingkat ke level 3."
"Hah? Baru saja?" pria yang merupakan keturunan langsung dari Kaze Tate keempat itu memasang tampang tidak percaya.
"Bisa apa bocah-bocah amatiran seperti mereka?" sindiran menyakitkan ini keluar dari mulut wanita bersanggul itu, Pakura.
Omoi mengangkat kedua bahunya. Tapi aku tahu jika di dalam hatinya dia sedang meremehkan kami berdua, aku serta Naruto.
"Kalian jangan meremehkan aku ya!" bentak Naruto tiba-tiba. Sepertinya dia langsung tersulut emosi.
"Cih." aku hanya berdecih saja.
Darui mencoba untuk meredakan suasana yang mulai memanas. "Semuanya tenang-tenang. Kalian harus tetap bisa menghormati calon rekan kita di dalam misi ini. Maaf kalau aku terkesan menggurui, sumimasen." lagi-lagi dia meminta maaf tanpa kesalahan yang jelas.
Kakashi-sensei dan Asuma-sensei tidak berkomentar atau bereaksi apapun. Tapi aku yakin mereka berdua merasa tersinggung dengan apa yang dikatakan oleh dua orang dari Negara Angin itu. Terlihat cukup jelas dari sorot mata mereka berdua.
"Oke, bisa kita mulai rapatnya?" tanya Darui. Beberapa dari orang-orang di ruangan ini mengangguk pertanda setuju.
Hunter level 5 itu bangkit dari kursinya lalu bergerak menuju ke depan papan tulis kecil yang ada di ruangan ini. "Sumimasen, tapi mohon semuanya melihat kemari."
Perhatian seluruh orang sekarang berfokus ke arah papan tulis sesuai dengan instruksi dari sang komandan operasi mengalahkan Lao-Shan Lung.
"Monster yang akan kita hadapi nanti ukurannya sangat besar dan juga panjang. Tingginya diperkirakan mencapai 8 meter dalam posisi empat kaki dan 18 meter dalam posisi berdiri dengan dua kaki. Panjangnya diperkirakan sekitar 30 meteran." Darui memberikan penjelasan awal mengenai ukuran serta bentuk tubuh dari target.
"Besar sekali ya." gumam Kankuro penuh rasa takjub bercampur ngeri.
Pria pemilik elemen petir dan kegelapan itu melanjutkan, "Lao-Shan Lung memiliki sebuah tanduk besar di atas hidungnya. Duri-duri sangat keras dan berukuran besar yang menyelimuti setiap bagian dari tubuhnya kecuali perut. Jadi kelemahan murni makhluk ini ada pada bagian perutnya. Benar kan Kakashi-san dan Asuma-san?"
Sensei mengernyitkan dahi, "Apa hubungannya denganku, Darui?"
Tangan kanan Rai Tate itu tertawa renyah, "Hahaha. Maksudku, bukankah kau dan Asuma pernah menghadapi atau minimal melihat jalannya pertarungan melawan Lao-Shan Lung saat makhluk itu menyerang desa Konoha?"
Asuma-sensei menghembuskan asap rokok dari dalam mulutnya, "Ya itu memang benar. Tapi yang menghadapi waktu itu Kakashi. Aku cuma sebatas melihat karena tugasku sebagai pengevakuasi warga biasa."
Sensei pernah ikut bertarung melawan Lao-Shan Lung? Jujur aku baru tahu akan hal ini.
Seluruh pasang mata yang ada kini menuju ke arah pengguna heavy-crossbow itu. "Yah aku pernah membantu melawan makhluk itu dulu bersama dengan Hi Tate ketiga, Hi Tate keempat, Danzou-sama, dan terakhir Jiraiya-sama. Kelemahan telaknya berada di perut. Namun yang sangat perlu diwaspadai dari Lao adalah gigitannya yang sangat mematikan. Lalu yang kedua adalah sabetan ekornya yang panjang dan besar." sensei menuturkan sekelumit pengalamannya saat bertarung melawan Lao-Shan Lung yang pada waktu itu beritanya sempat menggegerkan dunia hunter.
Aku melihat Naruto tidak banyak bertingkah atau berucap saat ini. Aku merasa jika kepahitan di hatinya semakin menjadi-jadi saat monster elder dragon itu dibahas. Ironis memang jika melihat masa lalunya. Ibunya, Kushina Uzumaki, meninggal setelah melahirkannya ke dunia ini. Ayahnya yang merupakan satu-satunya orang terdekat yang dia miliki saat itu harus pergi dari dunia fana hanya berselang tiga hari setelah kelahirannya. Kematian ayahnya akibat kedatangan Lao-Shan Lung yang sangat tiba-tiba ke desa dan terjadi di tengah malam. Aku saja beruntung dapat selamat berkat pertolongan dari hunter-hunter desa yang waktu itu sangat sigap dalam mengevakuasi penduduk.
"Apakah naga besar itu punya elemen?" pertanyaan sederhana ini berasal dari Pakura.
"Tidak. Naga itu tidak memiliki kekuatan elemen apapun. Jika punya maka itu hanya akan menambah tingkat kesulitan bagi kita untuk membunuhnya." jawab sensei.
Darui menulis sesuatu di papan tulis. Setelah selesai lalu dia menyuruh semuanya untuk memperhatikan. "Lihatlah semuanya di bagan ini. Aku sudah merencanakan untuk memisah-misah kelompok bertarung nantinya."
Di situ ada tiga bulatan yang masing-masing di dalam bulatan tertulis 'Penyerang', 'Pengalih', 'Penahan'.
Spidol hitam yang dipegang di tangan kanan pria itu diketuk-ketukkan ke bulatan pertama, "Ini adalah kelompok atau grup yang punya tugas utama untuk menyerang Lao secara frontal. Khususnya di bagian perut." penjelasannya berlanjut, "Lalu yang kedua adalah kelompok atau grup pengalih yang memiliki tugas utama sebagai pengalih perhatian dari sang monster supaya tidak terlalu mengganggu pekerjaan kelompok pertama."
Yang terakhir adalah bulatan ketiga. Tangan kanannya bergerak memutari bulatan itu, "Ini yang ketiga. Kelompok penahan yang punya tujuan utama untuk menahan pergerakan sang monster agar tidak melewati benteng Veznas dimana hal itu akan berdampak kepada makin sulitnya untuk membunuh Lao."
Penjelasan panjang lebar nan rasional telah selesai diucapkan oleh Darui. Aku akui walau pria itu terkesan asal-asalan seperti senseiku namun daya pikirnya tidak patut diremehkan.
Kreeett...
Suara cukup keras yang ditimbulkan dari terbukanya pintu baja yang terhubung ke ruangan ini membuat perhatian siapa saja sontak teralih.
Sesosok manusia berjubah awan merah yang memakai semacam cadar masuk ke dalam ruangan melalui pintu itu yang merupakan jalan satu-satunya. Aku benar-benar sangat terkejut begitu melihat simbol awan merah yang tertera di jubah hitam besarnya.
"Akatsuki?!" sensei melakukan pose siaga.
Asuma-sensei membuang rokoknya yang masih separuh ke lantai lalu menginjaknya. Sepasang pisau melengkung sudah tergenggam erat di kedua telapak tangannya.
"Tenang semuanya, tenang dulu. Kita bisa menyambutnya dengan baik karena dia berada di pihak kita." kata Darui dengan nada sopan. Tapi aku mampu memperhatikan ada pertentangan antara perkataan dengan ekspresi pada wajahnya.
"Mau apa Akatsuki di sini?" Naruto menyiapkan tombak besarnya yang sedari tadi disenderkan ke meja.
Pria berpupil hijau tua itu melangkahkan kedua kakinya hingga sampai di pojokan ruangan. Lalu dia menyenderkan punggungnya ke dinding. "Lanjutkan saja rapat kalian." ujarnya.
Aku merasa wajar jika tidak ada satupun yang menyambut orang dari Akatsuki itu dengan baik. Dia merupakan anggota dari organisasi hunter gelap yang belum jelas diketahui apa tujuan utamanya. Organisasi dimana kakakku yang brengsek itu bergabung. Belum lama ini terdengar kabar jika pria berkulit biru yang waktu itu aku temui di hutan dekat desa Hoshigakure, Kisame Hoshigaki, bertarung melawan Mizu Tate dan pengawalnya di kantor kepala desa Kirigakure.
"Tenang semuanya, turunkan senjata kalian masing-masing. Dia, Kakuzu, memang sengaja diundang oleh pihak desa kami untuk membantu mengalahkan Lao-Shan Lung. Sekalipun dia anggota Akatsuki namun dia ada di pihak kita. Sumimasen, maaf kalau tindakan desa kami tidak berkenan di hati kalian semuanya." pria bernama Darui itu mencoba menjelaskan kondisi yang sebenarnya supaya tidak terjadi kesalahpahaman di antara kami dan pria besar itu.
"Kakuzu ya? Satu dari segelintir hunter level 5 yang ada di Akatsuki dan memiliki reputasi yang sangat buruk. Pria yang dijuluki 'Bounty Man' karena selalu mengedepankan reward di atas segala-galanya." komentar Pakura sembari menurunkan kembali senjatanya sesuai saran dari Darui.
-TSUZUKU-
Chapter 18 sudah di-update. :)
uchiha yardi : Senjatanya Kakuzu itu pedang berukuran besar tapi gak sampai sebesar Kubikiri Hocho atau Samehada. Lebih kecil lagi. Dan bentuknya mirip keris yang melengkung-melengkung gitu.
Terima kasih sudah membaca!
