DISCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO
RATE : T
WARNING : AU, 1ST POV
MONSTER HUNTER©CAPCOM
.
.
.
(AUTHOR NOTE : Diharapkan kepada readers sekalian untuk mencari nama monster yang author cetak tebal di *monsterhunter. wikia* demi kelancaran dan kenyamanan dalam membaca.)
.
.
.
~Lao Coming~
Suasana tegang mereda setelah melihat bahwa salah satu anggota Akatsuki itu tidak melakukan tindakan yang anarkis atau sebangsanya. Dan rapat pun tetap dilanjutkan.
"Baiklah semuanya, perhatikan kemari. Kita akan mengelompokkan sembilan orang yang ada di ruangan ini ke dalam tiga grup. Di grup pertama dibutuhkan seorang hunter yang mampu melancarkan serangan dahsyat dan berani bertarung di bawah tubuh Lao untuk mengincar perutnya walaupun resikonya adalah bisa terinjak oleh kaki besarnya. Yang pertama aku, lalu siapa lagi kira-kira? Maaf kalau terlalu berbelit-belit." lagi-lagi dia meminta maaf tidak jelas sambil menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya.
Tak ada respon instan. Masing-masing orang sepertinya terhanyut dalam pikiran masing-masing. Aku tidak mungkin mampu untuk berada di kelompok dengan resiko terbesar seperti itu. Dibutuhkan kecepatan yang di atas rata-rata agar bisa menghindari empat telapak kaki raksasa monster itu saat sedang menyerang ke bagian perutnya. Hunter yang penuh pengalaman seperti sensei pantas jika digolongkan ke dalam tim penyerang.
"Kenapa kau tidak mengajukan diri sensei?" Naruto menoleh ke arah guru yang telah membimbingnya sejak empat tahun lalu itu.
Sensei tidak menanggapi dan malah bersikap santai. "Aku sepertinya tidak cocok untuk bertugas di bagian seperti itu. Crossbow Raikiri merupakan senjata jarak jauh."
"Haha, apalagi aku? Aku bisa dibilang merupakan yang terlemah di San Koken'nin. Mustahil aku mampu." Asuma-sensei merendah.
"Aku saja."
Orang dari Akatsuki yang bernama Kakuzu itu menyuarakan dirinya sendiri.
Darui melihatnya dengan tatapan sinis, "Kau? Terserah saja." ucapnya singkat.
Kankuro menepuk pinggang wanita yang duduk di sebelahnya, "Pakura, kau saja. Kekuatan elemenmu yang langka ditambah tipe bertarungmu yang offensive pasti akan cocok." sarannya.
"Pakura? Kau bersedia?" tanya sang komandan di dalam quest level 5 ini.
Wanita bersanggul itu menjawab sekenanya, "Terserah kau saja."
Darui mengangguk mantap, "Yosh!" tangan kanannya menulis nama-nama ketiga orang termasuk dirinya yang akan menjadi ujung tombak di dalam pertarungan berbahaya nanti.
Dia selesai menulis lalu berbalik menghadap kami lagi, "Jadi aku tekankan sekali lagi, tim penyerang memiliki tugas terberat dibandingkan dua tim yang lain. Aku, Pakura, serta Kakuzu akan menyerang di teritori bawah perut Lao-Shan Lung. Tim ini wajib mengerahkan seluruh kekuatan yang dimiliki oleh masing-masing anggotanya untuk menyerang hanya di bagian terlemah dari Lao, yaitu perut."
Setelahnya tulang jemari telunjuk kirinya diketuk-ketukkan ke lingkaran kedua yang tertulis 'Pengalih' di papan tulis, "Sumimasen, siapa yang berminat ingin masuk ke dalam tim kedua ini?"
Orang-orang selain tiga yang telah disebut tadi saling berpandangan satu sama lain. Ragu-ragu untuk menentukan apakah keahlian masing-masing cocok atau tidak dengan tugas dua tim yang tersisa.
"Aku." sensei mengacungkan tangan kanannya ke udara.
Darui mengacungkan jempol kanannya, "Bagus Kakashi. Aku juga setuju karena kau adalah hunter tipe deffensive dengan senjata tipe jarak jauh."
"Apa aku cocok jika masuk ke tim pengalih ya?" Asuma-sensei bergumam sembari menghisap rokoknya dalam-dalam.
"Tim pengalih merupakan tim yang memiliki tugas terberat kedua setelah tim penyerang. Tugasnya adalah untuk mengalihkan perhatian Lao dari tim penyerang yang berada di sangat dekat di bawah tubuhnya. Aku pikir Asuma-san cocok jika masuk ke dalam tim ini. Maaf, apakah kau mau?"
Pria bercambang lebat itu hanya mengedikkan bahunya, "Yaah baiklah."
"Bagus. Tinggal satu lagi." Darui mengedarkan pandangannya kepada empat orang hunter yang belum mendapat bagian tim. Termasuk aku.
Naruto mendekatkan kepalanya ke samping telinga kiriku kemudian berbisik, "Teme, apa menurutmu aku cocok jika masuk ke dalam tim pengalih?"
Aku membalasnya lirih, "Jangan bodoh. Kau kujamin mati jika nekat seperti itu."
"Darui..." panggil Pakura.
Pria berambut putih acak-acakan itu menaikkan kedua alis.
"Kukira Kankuro-sama cocok jika masuk ke dalam bagian pengalih. Dia adalah hunter tipe deffensive yang memiliki senjata benang yang terbuat dari serat baja." jelas wanita berelemen lahar itu.
Benang yang terbuat dari serat baja? Tidak heran waktu itu pria sialan yang bernama Sasori mampu melilit tubuhku dan yang lain sangat kencang seakan bukan dengan benang standar. Pedang kembar milik Neji pun tidak mampu mematahkannya lewat serangan biasa.
"Jadi kau adalah murid Sasori ya?" Kakuzu tiba-tiba saja bersuara setelah terdiam selama belasan menit.
Laki-laki yang memiliki coretan ungu pada bagian wajah itu menyahut, "Iya. Ada urusan apa memangnya pak tua?" Kankuro memandangi sepasang mata hijau Kakuzu dengan perasaan was-was.
Hunter level 5 itu melangkahkan kedua kakinya menuju pintu. Saat tangan kirinya memegang kenop pintu dia menjawab, "Sasori pernah bercerita jika dia mempunyai seorang murid kesayangan di kampung halamannya." katanya datar.
-Krieeett...Blam!-
Kakuzu keluar dari ruangan rapat.
Semua orang yang ada di dalam ruangan ini tak ada yang bersuara setelah pria besar yang mengenakan cadar itu menutup pintu. Ekspresi wajah Kankuro menyiratkan jika dia sedang memikirkan sesuatu sekarang ini. Menyangkut tentang perkataan dari orang yang bernama Kakuzu itu.
"Sumimasen, bisa kita lanjutkan?" pertanyaan sederhana yang berasal dari mulut Darui memecahkan suasana kaku.
"Silahkan, Darui-san." aku mempersilahkan.
Dengan tetap dalam posisi berdiri di depan papan tulis, dia menulis tiga nama di bawah lingkaran yang bertuliskan 'Pengalih'. Tentu saja nama-nama itu adalah Kakashi Hatake, Asuma Sarutobi, dan paling bawah Kankuro.
Darui mengetukkan ujung spidolnya dua kali ke tulisan yang barusan dia buat, "Tugas tim pengalih adalah mengalihkan perhatian Lao-Shan Lung dari aku, Pakura, dan orang Akatsuki itu. Sebisa mungkin kalian pancing monster berukuran sangat besar itu melalui serangan yang mengincar bagian kepalanya. Jangan mengincar bagian tubuhnya yang lain karena diselimuti oleh duri yang besar dan juga sangat keras. Paham? Maafkan aku kalau saran dariku ini terlalu sulit." dia menebarkan senyuman malu seraya menggaruk rambut bagian belakang.
"Ya, aku sudah paham betul akan hal itu." sensei menganggukkan kepala.
"Sepertinya menarik." komentar sensei dari Tim 10, Asuma Sarutobi.
Darui melanjutkan ke yang terakhir alias tim penahan. "Baiklah, jadi tinggal tiga orang. Omoi, Naruto, dan Sasuke. Kalian sanggup?"
"Serahkan kepadaku komandan!" seru Naruto sambil menepuk dadanya.
"Hn." jawabku.
Darui melihat ke arah hunter yang juga berasal satu desa dengannya, "Omoi?"
Yang ditanya menjawab dengan hormat dua jari.
"Untuk tugasnya, tim penahan terbilang paling mudah. Kalian bertiga harus membantu hunter-hunter biasa dari Kumo yang lain untuk menyerang Lao menggunakan balista atau meriam yang jumlahnya masing-masing empat buah. Tahan makhluk itu agar tidak sampai keluar dari jangkauan senjata di benteng Veznas ini. Nanti juga ada senjata bernama dragonator yang difungsikan sebagai serangan pamungkas. Alat itu akan menjadi tanggung jawab kalian bertiga."
Hunter yang dikatakan sebagai orang kepercayaan Rai Tate itu meletakkan spidol yang sedari tadi dipegangnya di atas meja. "Rapat resmi ditutup. Monster itu diperkirakan akan sampai kemari sekitar dini hari hingga subuh, jadi sekarang kita akan tidur terlebih dahulu dan akan bangun jika lonceng besar yang ada di puncak benteng dibunyikan oleh petugas. Maaf kalau ada kata-kataku yang kurang berkenan." dia menundukkan tubuh 90 derajat ke depan.
Kami berdelapan keluar dari ruangan rapat bersamaan. Ada empat buah ruangan yang bisa dufungsikan sebagai tempat istirahat di sini. Aku dan Naruto sepakat untuk tidur di ruangan yang berada di pojok lantai dua benteng.
"Uwaaahh nikmatnya tiduran setelah seharian beraktifitas nyaris tanpa istirahat." pria berambut durian itu sedang asyik meregangkan otot-otot tangannya sembari merebahkan punggungnya di atas lantai. Armor yang dikenakan sedari tadi dicopot.
Aku duduk menyender di dinding. "Benar. Tidurlah secepat yang kau bisa karena beberapa jam dari sekarang kita akan menjalani pertempuran hidup dan mati." kataku.
Kulihat sekilas sahabatku itu sudah memejamkan kedua matanya. Menggunakan kedua telapak tangannya sebagai bantal. Sebentar lagi...dia akan menemui sosok malapetaka. Monster yang telah merenggut ayahnya sebelum dia sempat berbicara sepatah katapun dengan pria itu, Minato Namikaze. Aku tahu, batinnya pasti akan meradang nanti. Saat-saat seperti ini terkadang aku saling terhubung dengan dia, Naruto. Aku sudah lama tidak ingin mengungkit-ungkit kepedihan itu. Kesendirian yang telah kujalani akibat ketiadaan keluarga, kehampaan dari rasa kasih sayang. Itachi...dia adalah malapetakaku.
H
U
N
T
E
R
Suasana sangat tenang dan senyap di sebuah ruangan. Tempat berukuran lima kali empat meter persegi itu adalah tempat dimana Kakashi dan Asuma beristirahat malam ini. Tidak ada suara sama sekali kecuali tarikan-hembusan nafas konstan yang pelan.
"Kakashi..." tiba-tiba Asuma memanggil.
Tak langsung bereaksi. Pria berambut keperakan itu menggeliatkan tubuhnya yang sedang dalam posisi tidur miring ke samping. "Hm?"
Putra dari Hi Tate ketiga itu menggerakkan lehernya ke samping kanan dan kiri sehingga terdengar bunyi 'krek' yang lirih, "Apa kau masih ingat dua puluh lima tahun yang lalu?"
Kelopak mata kanan Kakashi sedikit menutup, tatapannya menerawang ke langit-langit ruangan. "Ya. Sesuatu yang masih teringat jelas di sini." telunjuk kanan miliknya diketukkan sekali ke pelipis.
Asuma menghela nafas, "Kau tahu? Aku saat itu serasa seperti orang tak berguna. Saat usiaku masih dua puluh satu tahun waktu itu aku hanya diperintah untuk mengevakuasi warga desa." ujarnya.
"Kau masih beruntung." pria bermarga Hatake itu masih tetap memandangi langit-langit, bukan lawan bicaranya. "Aku menyesal telah ikut membantu Minato-sensei dan yang lain. Jika saja waktu bisa diulang maka..."
Asuma mendengarkan rekannya itu merampungkan kalimat.
"...lebih baik aku tidak ikut bertarung." nada bicaranya terdengar serak. Tersirat kegetiran di situ.
Pria bermarga Sarutobi membuang muka ke samping, "Jadi, kau masih dihantui perasaan itu ya?"
Kelopak mata kanannya tertutup pelan-pelan. "Kematian Hi Tate keempat merupakan kesalahanku." kalimat yang terlontar dari mulut Kakashi Hatake ini menyimpan duka dan juga penyesalan yang mendalam.
H
U
N
T
E
R
Seorang pria ber-armor standar Kumo yang memiliki warna dasar hitam sesekali mencubit pipinya agar tidak tertidur. Dia sudah merasa sangat mengantuk. Membuka sepasang indra penglihatannya lebar-lebar seakan-akan sudah merupakan sebuah perjuangan yang sangat melelahkan.
dreg ... dreg ... dreg ...
"Aku ngantuk sekali." keluhnya. Diambil sebuah binocular yang tergeletak di bawah kakinya lalu didekatkan pangkal lensa alat itu di depan mata kanannya persis.
Cangkir kopi milik pria itu yang diletakkan di atas kursi bergetar perlahan hingga air berwarna kehitaman itu muncrat.
dreg ... dreg ...Dreg ... Dreg ...
Hunter dari Kumogakure itu menelan ludahnya berkali-kali. Tangan kanannya yang digunakan untuk memegang binocular bergetar. Keringat dinginnya mulai bermunculan membasahi sekujur tubuh.
Lonceng yang tergantung satu meter dari posisinya berdiri segera dipukul dengan sangat keras sekuat tenaga. Rasa kantuknya mendadak menghilang total.
TENG...TEENNG...TEEENNNG...
H
U
N
T
E
R
"Teme..."
Tubuhku digoyang-goyang dengan keras.
"Teme!"
Pipiku serasa ditampar.
"Ennghh...apa yang kau lakukan kepadaku bodoh?!" mata ini masih terasa berat dan sakit untuk dibuka. Apa sih yang dia inginkan?
Naruto berdiri di depanku sambil menenteng tombak besar Rasengan dan seperangkat armor standar telah terpasang di tubuhnya. "Sasuke, lonceng telah dibunyikan lima menitan yang lalu. Cepatlah!"
Apa?! Lonceng...nya?! Sial, aku harus bergerak sangat cepat. Lao-Shan Lung itu pasti sudah terlihat sedang menuju kemari dari jarak yang tidak terlalu jauh.
"Ayo cepat Teme!"
Aku bergegas memakai armor standar Konoha mulai dari pelindung kaki, paha, dada ditambah punggung, bahu, hingga terakhir lengan. Tak lupa Rathalos Helm pemberian dari desa kupakai. Pedang besar Amaterasu yang diletakkan miring ke dinding aku ambil lalu kutaruh di belakang punggung.
"Ayo Dobe."
Kami berdua berlari kecil menuju ke lantai ketiga atau bisa dikatakan atap. Tempat pertarungan akan berlangsung. Kulihat sudah tidak ada orang di sekelilingku dan Naruto. Sepertinya mereka semua sudah berada di atas.
Pintu lantai tiga dibuka oleh Naruto dan memperlihatkan kerumunan orang yang sedang berbaris di sana. Beberapa orang pria yang memakai armor standar Kumo berlarian kesana-kemari tidak karuan. Suasana sangat gaduh dan juga ricuh. Aku langsung berbaris di eretan terakhir dimana hanya ada laki-laki yang bernama Omoi yang berdiri di situ. Disusul oleh Naruto yang berdiri di sampingku. Langit masih cukup gelap walau tidak memungkiri sudah terlihat adanya cahaya matahari yang bersinar redup di ufuk timur. Ini sudah subuh.
"Kalian bisa melihat Lao sedang bergerak kemari." Darui mengarahkan tangan kanannya ke timur. Dimana samar-samar terlihat sesosok makhluk berukuran sangat besar yang berjalan ke arah benteng menggunakan empat kakinya. Ukurannya luar biasa besar, aku akui itu. Hampir sama persis dengan ukuran tebing yang mengapit di samping kanan dan kirinya.
"Ingat tadi instruksi dan pesan-pesan dariku saat rapat? Tim penyerang yaitu aku, Kakuzu, dan Pakura akan langsung bergerak saat Lao hanya berjarak kurang lebih 300 meter dari sini." kata Darui tegas.
Pria dari organisasi hunter gelap itu tidak ada di sini bersama kami. Dia sedang duduk di kursi sambil menopangkan kaki kanannya di atas paha kiri. Tatapannya fokus ke arah Lao yang sedang berjalan menuju ke arah benteng.
"Sehabis tim penyerang bergerak, tim pengalih akan mengikuti setelahnya. Kakashi, Asuma-san, dan Kankuro-san wajib mengalihkan perhatian makhluk itu supaya lebih tertarik untuk menyerang kalian ketimbang kami tim penyerang yang berada di bawah tubuhnya." lanjutnya.
Gerakan kaki Lao memang terbilang sangat lambat. Mungkin itu dikarenakan ukuran tubuhnya yang sangat panjang dan besar ditambah berat tubuhnya yang pastinya sanggup mencapai 35-40 ton. Oleh karena itu sekalipun bayangan monster naga itu sudah terlihat cukup jelas, kami masih punya kesempatan untuk merumuskan strategi pertarungan.
"Dan terakhir tim penahan, kalian bertiga harus membantu hunter Kumo yang lain untuk menyerang Lao dan sebisa mungkin menahannya supaya jangan kabur dari sini. Omoi akan mengajari Sasuke dan Naruto untuk menggunakan senjata-senjata yang ada. Meriam, balista, dan dragonator." penjelasan panjang diakhiri. Darui berbalik langkah dan kini sudah menghadap ke arah timur dimana monster berjenis elder dragon itu terlihat.
Tubuh komandan kami itu terlindungi oleh armor yang memiliki warna dasar oranye dan sedikit bercorak biru di tiap lekukan tangan dan kakinya. Lima buah duri yang tegak ke atas berada di sepasang pelindung bahunya. Kalau tidak salah dia memakai Tigrex armor. Armor yang dibuat dari berbagai item kepunyaan dari tubuh Tigrex, wyvern yang sangat buas dan memiliki kecepatan manuver sangat tinggi di darat.
"Bersiaplah..." pria berkulit cokelat gelap itu mengambil pedang pipihnya dari punggung.
Kakashi-sensei memasukkan beberapa anak panah ke dalam Raikiri. Asuma-sensei menggenggam erat pisau melengkung di masing-masing tangannya dengan posisi ujung ke luar. Pakura yang sudah mengenakan Lavasioth armor mencabut pedang kecilnya yang berwarna merah bercampur garis-garis hitam dari sarungnya. Tak lupa di tangan kirinya terpasang sebuah perisai bulat yang berwarna abu-abu. Kankuro melemaskan kesepuluh jemari tangannya.
Di barisan terakhir tersisa Omoi, aku, ditambah Naruto.
"Naruto, jangan pakai senjata milik kita terlebih dahulu." aku memberitahukan hal ini karena tugas tim penahan yang pertama adalah menggunakan senjata tidak bergerak yaitu meriam dan balista untuk menahan Lao agar tidak menghancurkan benteng Veznas ini.
Pria berkumis itu mengangguk penuh percaya diri, "Hm."
"Setelah ini kita langsung bergerak menuju ke meriam dan balista." Omoi mengaba-abai.
Dreg ... Dreg ... Dreg ... DREG ... DREG ...
Darui menyetabilkan mentalnya. Nafasnya diatur sebaik mungkin baik itu saat menghirup maupun menghembus. Sebagai orang yang diberi tanggung jawab penuh untuk memimpin quest sangat berat berisikan delapan hunter kuat tentu bukan hal mudah. Makhluk itu telah memasuki jarak jangkauan serang yang sudah direncanakan sebelumnya, 300 meter. Mulutnya terbuka dan menarik udara sebanyak-banyaknya ke dalam tenggorokan...
"Tim penyerang bersiap untuk maju! Setelahnya diikuti oleh tim pengalih! Dan terakhir tim penahan langsung bersiap di posisinya masing-masing!" seruannya yang sangat keras dan tegas barusan membuat monster itu bereaksi.
Lao-Shan Lung membuka mulutnya yang berukuran sangat besar dengan lebar...
RROOOOOOOOOOAAAAAAAAAAAHHH!
-TSUZUKU-
Halo, ketemu lagi sama author di fic ini :) . *gak ada yang kangen*
Di chapter besok Sasuke, Naruto, dan yang lainnya akan bertempur melawan sang 'gigantic elder dragon', Lao-Shan Lung.
Terima kasih telah membaca chapter ini! :)
