DISCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO

RATE : T

WARNING : AU, 1ST POV

MONSTER HUNTER©CAPCOM

.

.

.

(AUTHOR NOTE : Diharapkan kepada readers sekalian untuk mencari nama monster yang author cetak tebal di *monsterhunter. wikia* demi kelancaran dan kenyamanan dalam membaca.)

.

.

.

~The Rocky Mountain Dragon~

"Tim penyerang, langsung bergerak menuju ke sasaraaann!" komandan Darui langsung melompat dari atap benteng ke permukaan tanah lalu diteruskan dengan berlari kencang lurus ke arah depan. Menuju ke sang naga legendaris, Lao-Shan Lung.

-XXXXXXXXXX-

LAO-SHAN LUNG

Species : Elder Dragon.

Tipe Monster : Karnivora.

Ukuran : Sangat Besar (6960 cm).

Elemen : (Tidak Ada).

Gerakan Andalan : Gigitan dan sabetan ekor.

Seekor naga berukuran raksasa yang konon disebut sebagai mitos oleh kebanyakan orang karena nyaris tidak pernah ada yang melihatnya secara langsung. Tidur panjang selama puluhan tahun dan bangkit sebagai malapetaka terburuk bagi siapa saja yang wilayahnya dilewati oleh monster ini. Namun gerakan dan agresifitasnya lambat dikarenakan ukuran tubuhnya yang terlampau besar.

-XXXXXXXXXX-

Pakura menyusul di belakangnya. Anggota Akatsuki yang bernama Kakuzu itu bangkit dari tempat duduknya lalu kemudian dia menarik pedang yang digantungkan di pinggang sebelah kiri. Pedang berukuran kira-kira 3/4 dari besar Amaterasu dan mempunyai desain yang sangat unik atau bisa dikatakan tidak lumrah. Melengkung spiral ke kanan dan kiri hingga ujung. *a/n : mirip keris*

"Bayaranku kurang banyak sepertinya." ucapnya singkat sebelum dia melepaskan jubah besar berwarna hitam dan bercorak awan merah yang dikenakannya. Di dalam jubah itu ternyata Kakuzu memakai armor berwarna dasar hitam gelap berwujud seperti baju zirah samurai dan memiliki simbol awan merah di bagian dada, punggung, dan sepasang pelindung bahu. Sepertinya dua orang pria dari Akatsuki waktu itu juga mengenakan armor yang bentuknya sama persis di dalam jubah identitas mereka.

"Tim pengalih, giliran kita bertiga!" seru sensei sambil tetap fokus menatap ke arah depan. Raikiri-nya dibopong dengan kedua tangan lalu dia bergegas melompat ke bawah sama seperti yang dilakukan oleh ketiga anggota tim penyerang.

"Hai!" sahut Kankuro dan Asuma-sensei bersamaan.

Kedua tim yang total berjumlah enam orang hunter elit telah bergerak sesuai rencana. Kini giliran tim terakhir, tim penahan.

"Sasuke dan Naruto, kalian bisa memilih di antara kedua senjata yang masih tersisa. Meriam atau balista." Omoi langsung menawari kami dua pilihan.

Dari delapan senjata artileri benteng Veznas ini memang tinggal tersisa dua yang belum dikuasai oleh siapapun. Balista dan meriam, masing-masing satu jenis. Mana yang harus kupilih?

Naruto terlihat menimbang-nimbang, "Emm, mana ya? Meriam saja. Atau...balista? Meriam sepertinya lebih kuat. Emm..."

"Apa ada perbedaan yang nampak jelas diantara dua jenis senjata itu?" tanyaku penasaran.

Tangan kanan Omoi bergerak mengarah ke senjata meriam yang ada di sisi kanan, "Itu meriam. Serangannya lebih dahsyat tiga kalilipat ketimbang balista. Namun kekurangannya ada pada 'reload' yang lebih lambat ketimbang balista dikarenakan amunisinya yang berat dan prosesnya cukup pelan."

Tangan kanannya kini berganti menunjuk ke arah sebuah balista yang ada di sisi kiri, "Balista. Senjata mesin panah yang mampu menembakan banyak repetisi dalam rentang waktu yang singkat. Namun efeknya tidak sekuat meriam. Pilih mana? Cepatlah!"

"Aku balista." kataku spontan.

"Aku meriam." kata Naruto.

Laki-laki berambut cepak itu mengangguk penuh kemantapan, "Yosh, segera ambil posisi."

Empat buah balista dan empat buah meriam kini sudah siap untuk digunakan. Omoi kebetulan memilih untuk menggunakan balista dan berdiri dua deret di sebelah kananku.

"Semuanya! Kita tunggu instruksi dari komandan Darui-san untuk menembak." ujar Omoi lagi.

Benar. Kami berdelapan sebagai tim penahan tidak boleh gegabah untuk menembakkan peluru atau amunisi karena justru akibatnya akan mengenai rekan kami sendiri yang sedang turun langsung ke lapangan. Ada perbedaan antara tim penahan yang beranggotakan aku, Naruto, dan laki-laki dari desa Kumo itu dengan hunter-hunter Kumo lainnya sekalipun kami berdelapan sama-sama menyerang menggunakan senjata artileri benteng. Tim penahan dapat terjun ke medan pertempuran langsung jika dibutuhkan sewaktu-waktu. Sedangkan hunter-hunter Kumo biasa yang lain tidak diberikan otoritas untuk melakukan hal tersebut oleh Darui.

Anggota tim penyerang telah mendekati target dengan jarak kisaran 20 meter di depan Lao.

Darui menengok ke belakang di tengah larinya, "Tim pengalih! Segera alihkan perhatian Lao dari kami bertiga!" teriaknya keras.

Kakashi-sensei mengangguk, "Baiklah. Asuma dan Kankuro, ayo kita mulai menyerang!"

Dreg ... Dreg ...

Langkah kaki Lao-Shan Lung itu sangatlah keras sehingga menyebabkan gempa lokal sekuat 3 skala richter di sekitarnya. Akan tetapi gerakannya bisa dibilang lambat sehingga hal itu dapat memudahkan bagi anggota tim penyerang untuk menyerang di area perutnya yang tidak memiliki kulit keras sehingga menjadi bagian terlemahnya, tanpa perlu khawatir akan mudah terinjak oleh keempat kaki besarnya.

Kakashi-sensei mengarahkan moncong large crossbow-nya ke arah muka naga besar itu, "Double Thunder Jackal!"

(CTAR)

Dua buah anak panah meluncur dengan sangat cepat dari Raikiri dan memiliki muatan listrik membentuk seperti hewan jackal yang mengarah ke kepala Lao. *a/n : Jackal sejenis anjing liar yang hidup di hutan*

Tembakan sensei sukses mengenai bagian kepala samping kiri elder dragon itu. Tak ada reaksi kesakitan barang sedikitpun dan monster raksasa itu hanya menoleh kecil.

"Kankuro dan Asuma, giliran kalian membantuku." perintah sensei sembari mengisi ulang anak panah di senjatanya.

Dua orang itu menganggukkan kepala pertanda mengerti.

"Strings Snate!" kesepuluh jari tangannya mengarah ke depan dan sepersekian detik kemudian meluncurlah benang-benang yang terlihat cukup transparan yang kesepuluhnya mengikat bagian cula besar Lao. Monster naga itu sedikit terhenti langkahnya karena Kankuro sekarang berusaha menahan kepalanya melalui bagian cula panjang yang berada di atas hidungnya.

Orang terakhir di dalam tim pengalih kini mulai ikut unjuk gigi. Pria bercambang lebat itu menyabet-nyabetkan sepasang pisau berukuran cukup besar ke udara berkali-kali, "Wind Slash!"

Beberapa bumerang tajam yang terbuat dari angin melaju cepat ke arah wajah Lao dan menyayat kulit wajahnya bertubi-tubi. Namun lagi-lagi tak ada reaksi kesakitan, hanya menoleh seperti tadi. Namun kali ini monster itu mulai terpancing perhatiannya kepada tim pengalih.

"Apa kita sudah boleh menembak?!" Naruto sepertinya mulai tidak sabaran. Meriamnya dipegangi dengan erat sedari tadi.

"Jangan." sergah Omoi. "Seperti kataku tadi, tunggu aba-aba dari komandan."

Saat makhluk itu mulai berbelok ke arah kiri dimana ketiga orang anggota tim pengalih berada, Darui cs mulai memasuki daerah di bawah perutnya.

"Serang sekarang!" seru pria berkulit cokelat gelap itu. Pedang pipihnya mulai memercikan unsur listrik berwarna gelap. Diayunkannya pedang itu 180 derajat vertikal dari arah kiri ke kanan. "Black Thunder : Zeus Rageee!"

(DZZZRAAATT!)

ROOAAAHHH!

Lao meronta saat Darui menyerang bagian perutnya dengan serangan tebasan petir hitam barusan. Efek serangan itu mengakibatkan bagian bawah tubuh Lao-Shan Lung diselimuti oleh listrik berwarna hitam selama beberapa detik.

Pakura sepertinya akan ikut berpartisipasi. "Aku juga ingin merasakan seperti apa menyayat perut seekor naga. Lava Dance!" gerakan tubuhnya meliuk-liuk lincah juga indah seperti layaknya seorang penari. Namun ini bukan tarian biasa pada umumnya. Pedang kecilnya yang berwarna merah garis-garis hitam itu mengeluarkan lelehan lahar dan disayat-sayatkannya senjata itu ke perut Lao yang memiliki kulit berwarna abu-abu keputihan. Goresan pedang lahar itu aku yakin pasti memicu rasa sakit dan panas yang tidak main-main sekalipun dialami oleh seekor elder dragon berukuran luar biasa besar.

ROOAAHH!

Kakuzu melompat roll ke samping kanan guna menghindari injakan kaki depan-kanan dari Lao-Shan Lung. Dia melanjutkan larinya hingga berada persis di bawah perut monster itu bersama Darui dan juga Pakura.

"Minggir kalian berdua." usirnya ketus.

"Apa-apaan kau ini?" heran Pakura.

Darui tidak merespon sama sekali. Dia malah menarik tangan kiri hunter wanita itu untuk pergi menjauh dari situ sesuai himbauan Kakuzu.

Kini tinggal Kakuzu sendirian yang berada di situ. Dia menyiapkan kuda-kuda untuk melakukan serangan.

"Element Change : Wind." seketika bulatan yang ada di pangkal pedangnya itu menyala keputihan. Cahaya putih redup menyinari seluruh bagian pedang melengkungnya. Dia memutar-mutar tubuhnya 360 derajat sambil mengayunkan pedang yang kini mulai mengeluarkan hembusan angin kencang. Angin itu semakin kencang dan kencang sehingga lama-kelamaan menyerupai sebuah puting beliung raksasa.

(WUUUUUUSSSSHHHH!)

Tubuh Lao yang sangat besar perlahan-lahan mulai terangkat ke atas sehingga perutnya sebagai titik paling lemah kini terpampang jelas. Posisi makhluk berjenis elder dragon itu kini berdiri dengan dua kaki.

Komandan sontak menengok ke arahku dan yang lain, "SEMUANYA! SERANG BAGIAN PERUTNYA SEKARAANG!"

Aku langsung mengarahkan senjata balista ini tepat ke sasaran, bagian perut. Begitu juga dengan ketujuh orang lainnya.

"Bersiap untuk menyerang..." Omoi memberikan aba-aba.

Jempol tangan kananku sudah berada di atas tombol balista.

"Serang!"

(DOR!)

(DOR!)

(BOOM!)

(DOR!)

(BOOM!)

(DOR!)

(BOOM!)

(BOOM!)

Kedelapan senjata artileri benteng Veznas secara bersamaan menembakan amunisi masing-masing. Tembakan-tembakan beruntun baik itu ledakan peluru meriam maupun tusukan anak panah raksasa balista menghujam ke bagian perut Lao. Monster raksasa itu meraung keras...

GRAAAAHHH!

Karena diserang frontal dalam keadaan kurang seimbang karena hanya bertumpu pada dua kaki belakang, tubuhnya limbung ke arah samping kiri...

BUUUGGH!

Tubuh seberat kurang lebih 35 ton yang jatuh ke permukaan tanah dengan telak membuat tanah di sekelilingnya bergoncang hebat. Aku pun turut merasakan getaran cukup dahsyat barusan.

"Apakah Lao-Shan Lung itu telah tewas?!" Naruto melotot kegirangan.

"Jangan senang dulu, Dobe." tegurku.

Aku ragu jika monster naga legenda seperti Lao yang ada di hadapan kami ini akan terbunuh hanya dengan serangan seperti barusan. Jika iya maka mustahil hunter-hunter elit Konoha pada masa itu seperti Sarutobi-sama, Danzou-sama, Jiraiya-sama, dan Minato-sama harus bertarung mati-matian hingga mengakibatkan sang Hi Tate keempat harus meregang nyawa. Menurutku...pertarungan sebenarnya baru saja dimulai!

Benar saja perkiraanku. Lao bangkit perlahan-lahan. Kaki-kaki kekarnya yang berukuran sangat besar ditekankan ke tanah dengan keras sehingga goncangan cukup besar terjadi lagi. Ekornya yang sangat besar dan sangat panjang digoyang-goyangkan ke samping kanan dan kiri sehingga mengakibatkan tebing yang ada di sisi-sisinya berguguran. Kepalanya mendongak ke atas...

GGRRRR...RRRROOOOOOOOOOOOAAAAAAAAAAHHHHHHHH!

"Ahhh suara ini!"

"Suaranya sangat keras!"

"Bisa-bisa telingaku tuli!"

Aku langsung menutup kedua telinga ini setelah mendengar suara raungannya yang benar-benar sangat teramat keras. Hingga hunter-hunter Kumo yang ada di sekelilingku mengeluh tidak karuan.

Monster itu menghentikan raungan panjangnya yang amat memekakan telinga siapa saja yang mendengarnya. Kepalanya diputar-putar ke kanan dan kiri berulang kali untuk melemaskan otot leher. Dia terdiam seketika, tidak bergerak barang satu meter sekalipun.

"Ini gawat..." wajah Kakashi-sensei tiba-tiba memucat. Dia mundur beberapa langkah.

"Ada apa Kakashi? Kenapa kau terlihat panik seperti itu?" tanya Asuma sambil menghampiri rekannya sesama San Koken'nin itu.

Kankuro hanya mengamati dari belakang mereka berdua.

"Gerakan itu...iya, aku masih ingat. Ini berbahaya." tidak menjawab pertanyaan dari Asuma-sensei, pria berambut keperakan itu menengok ke arah Darui.

"Darui!"

Yang dipanggil menoleh, lalu menaikkan dua alisnya.

"Ini berbahaya! Lao akan mengamuk!"

Sensei tidak menyangka jika Pakura kini sedang berlari mendekati monster berukuran sangat besar itu. Wanita yang memakai Lavasioth armor itu kini sudah berada persis di hadapan target. Hanya berjarak kisaran 7 meter.

"Aku akan menggunakan kesempatan saat kau melamun untuk menghabisimu." tangan kanannya yang memegang pedang ditekuk ke sebelah kiri-bawah, "Lava Style : Phoenix Bird!" sabetan pedang diagonalnya membentuk seekor burung phoenix besar yang terbentuk dari lahar dan serangan itu terbang meluncur ke arah kepala Lao.

Elder dragon itu membelokkan lehernya ke kanan lalu membelokkan kembali lehernya dengan cepat ke posisi semula seraya membuka mulutnya lebar untuk menangkis serangan yang dilancarkan oleh Pakura.

GROAAH!

Lava Phoenix itu sirna oleh gigitan Lao. Walaupun tidak menutupi fakta jika makhluk besar itu harus merelakan cula panjangnya lumer dan akhirnya patah setelah menerjang serangan lahar bersuhu ribuan derajat barusan.

"Pakuraaa! Lariii!" teriak sensei penuh kecemasan.

Wanita itu tak bisa bergerak seakan terhipnotis oleh sesuatu. Dia mungkin merasa syok saat mengetahui kenyataan jika serangan andalannya yang konon dikatakan mampu menghanguskan tubuh seekor wyvern hingga daging-dagingnya melumer ternyata tidak mampu membuat seekor elder dragon semacam Lao-Shan Lung kewalahan.

Lao menaikkan tubuh bagian depannya 45 derajat ke udara. Lehernya yang sedikit panjang dimundurkan ke belakang dan bersiap-siap untuk melakukan manuver terjangan rahang.

"A...aa..." hunter wanita level 4 itu merasakan jika setiap sendi di tubuhnya kaku seakan-akan tidak mau digerakkan. Mulutnya ternganga lebar.

GRAAAAAHHH!

Dengan sangat cepat kepala naga legendaris itu melaju ke arah Pakura untuk menerkamnya...

"Element Change : Earth!" dalam sekejap Kakuzu sudah berada persis di depan tempat hunter elit Suna itu berdiri lalu dengan sigap pria besar itu menancapkan ujung pedangnya ke dalam tanah. Bulatan yang terukir di pangkal pedang miliknya memancarkan warna cokelat.

DHAAARR!

"Kyaah!"

"Errgh."

Pakura dan Kakuzu terpental ringan ke belakang setelah gundukan tanah yang diciptakan oleh Kakuzu sebagai tameng dihantam oleh taring dan rahang milik Lao.

Kedua orang itu segera bangkit secepat yang mereka bisa.

"Aku tidak menyangka jika orang sepertimu mau menyelamatkan nyawaku." kata Pakura sembari terengah-engah. Keringatnya bercucuran membasahi lekuk tubuhnya yang sintal.

"Siapa yang mau menyelamatkan nyawamu." tukas pria bercadar itu. "Kau harus memberiku uang tip yang pantas setelah ini jika tidak ingin aku habisi." lanjutnya.

Pakura mengamati dengan seksama pedang yang dipegang oleh salah satu anggota dari Akatsuki itu. "Ngomong-ngomong, aku baru pernah melihat ada senjata hunter yang mampu berpindah-pindah elemen seperti milikmu itu."

Kakuzu mengangkat pedangnya horizontal di depan dada, "Nama pedang ini adalah Yottsu no Yoso. Pedang yang memiliki empat elemen dasar sekaligus. Namun harus menunggu interval selama sepuluh menit jika ingin berganti dari satu elemen ke elemen yang lain." jelasnya.

Lao-Shan Lung itu kembali melangkahkan keempat kaki-kaki besarnya. Namun kali ini ada yang terlihat cukup berbeda. Kecepatannya bertambah dan agresifitasnya juga ikut meningkat.

"Darui-san, apa yang harus kita lakukan?!" tanya Asuma-sensei dari kejauhan.

Aku merasakan hal yang buruk akan terjadi. Rencana awal yang sudah dipersiapkan matang-matang dengan cara membagi kerja tim menjadi tiga golongan sepertinya akan sia-sia jika monster super besar itu memasuki mode mengamuk. Jika tadi yang harus dilindungi adalah kelompok penyerang maka sekarang sebaliknya. Kelompok penahan. Lao sedang melaju cukup kencang dari jarak 150 meteran mengarah ke benteng Veznas. Sepertinya dia berniat untuk menghancurkan bangunan besar ini.

Kankuro kembali meluncurkan kesepuluh buah benang serat bajanya untuk menjerat bagian kaki-kaki monster naga itu. Namun sia-sia saja, tenaga Lao-Shan Lung sangatlah besar kali ini sehingga otomatis putra Kaze Tate keempat itu sukses terlempar karena tak kuasa menahan laju dari Lao.

"Uwaaah!"

Kakashi-sensei dan Asuma-sensei sebagai anggota tim pengalih mencoba untuk menghambat laju Lao. Sensei-ku menembaki bagian kepala elder dragon itu sebanyak empat kali tembakan bermuatan petir namun percuma. Makhluk berkulit merah tua itu tidak menggubris sama sekali.

Asuma-sensei mengurungkan niatnya untuk menyerang dengan elemen angin setelah melihat langsung hasil dari serangan Kakashi-sensei serta Kankuro. Lebih baik menyimpan anima untuk sesuatu yang tidak percuma.

"Bagaimana ini..."

Aku menoleh ke arah Omoi yang sedang berbicara sendiri.

Raut mukanya menunjukan rasa keputusasaan. "Jika Lao-Shan Lung itu langsung menghancurkan benteng ini maka...maka habislah sudah." ucapnya lirih.

"Kau tidak boleh langsung menyerah seperti itu, orang dari Kumo!" Naruto mencoba menyemangati. "Pertarungan baru saja dimulai. Jika rencana awal gagal maka kita bisa susun rencana berikutnya." imbuhnya.

"Benar." aku menanggapi perkataannya. "Kita tidak bisa terpaku kepada satu rencana saja."

Dreg .. Dreg .. Dreg .. Dreg ..

Jarak antara Lao dengan benteng sudah semakin dekat. Aku yakin jika benteng ini mampu diluluh lantakkan olehnya sekalipun dibangun dengan pondasi dan bahan-bahan yang sangat kokoh. Apa yang harus kami lakukan?

Tiba-tiba saja Darui mengangkat pedangnya tinggi-tinggi ke udara, "KEPADA TIM PENAHAN DAN YANG LAINNYA!"

Aku dan ketujuh orang yang berada di atap benteng memperhatikan baik-baik apa yang akan dia instruksikan.

"STRATEGI AWAL DIBATALKAN! KALIAN SEMUA DIPERBOLEHKAN UNTUK MENYERANG LAO-SHAN LUNG DENGAN BEBAS!"

Teriakannya yang sangat keras barusan membuat semangat kami melecut. Disamping semakin berbahaya, pertarungan akan semakin menarik jika kami semua boleh menyerang dengan kebebasan mutlak.

Aku menyeringai, "Baiklah, kita akan menyerang dengan sekuat tenaga!"

"Ya!"

"Ayo kita habisi monster itu!"

"Kita bunuh secepatnya!"

"Kau tumben bisa semangat, Teme." sindir Naruto sembari mengangkat sebuah bola peluru berwarna hitam untuk dimasukan ke dalam meriam.

"Yah, aku akan bersemangat menyangkut hal semacam ini." balasku.

Dreg .. Dreg .. Dreg ..

Lao-Shan Lung itu membuat langkah kaki yang mampu menggetarkan bumi. Sabetan ekor yang bisa meruntuhkan tebing. Dan gigitan rahang yang sanggup meremukkan apa saja. Akan tetapi, apakah dia kuat untuk menahan serangan brutal dari delapan buah senjata mematikan ini?

"Bersiap untuk menyeraaanng..." Omoi yang memberi aba-aba lagi sama seperti tadi.

RROOOAAAHHH!

"SERAAANNG!"

-TSUZUKU-

Gak kerasa ya sudah dua puluh chapter yang dipublish. *gak ada yang peduli bego*

O ya, author mau menjawab beberapa pertanyaan dari pereview di chapter kemarin :D =

Felicianz : Ya seperti itulah. Gak jauh-jauh dari prediksimu. :)

Tsumehaza-Arief : Author berusaha runtut dari MH 1, MH 2, dst. Kebetulan author baru menamatkan dua seri pertama doang, hoho. :D

Jadinya ya mungkin elder dragon yang ada berasal dari MH 1 & MH 2 dulu. Kalau untuk membuat monster baru jelas mustahil. Wong monster yang ada saja mendeskripsikannya susah banget. :(

YeKaWe : Alasannya masih rahasia dong, hoho. *sok banget*

Beda sih tetap beda. Tapi gak jauh-jauh dari cerita aslinya.

Terima kasih sudah membaca! :)