Chapter one : Sudah berapa lama?


"Rin."

"Hmm?"

"Mama akan datang kemari. Tidak apakan?" Tanya Len dengan nada memelas. Rin mengalihkan pandangannya ke arah suaminya tersebut. Rin berusah mati-matian untuk tidak mengeluarkan emosi yang sangat dalam pada mamanya.

Rin menurunkan pisau yang tadi ia gunakan untuk mengoles mentega pada roti untuk sarapan pagi mereka berdua, Rin dan Len. Moodnya menjadi kacau saat tau mamanya akan datang kerumah mereka.

"Rin? Kau tak apa? Apa kau tidak suka mama datang kemari?" Tanya Len dengan nada khawatir.

Rin terbengong-bengong.

Perasaan aku kan belum ngomong? Batin Rin dalam hati. Ia mengigit bibir bawahnya. Lalu ia tersenyum.

"Enggak kok. Aku hanya sedikit khawatir. Apa Mama nggak capek ya bolak balik Sapporo-Tokyo?"

"Mama kan naik pesawat Rin. Jadi gak capek lah.." Kata Len seraya terkikik geli. Rin terdiam. Rasanya capek kalau ada Mama dirumah. Bukan hanya capek badan, tapi capek hati pun dirasakan oleh Rin. Uppss...

Padahal Mama itu mama tirinya Len. Gimana kalau mama kandung ya?

Sama aja dong Rin. Kan sama-sama ibu mertuamu, gimana sih?

"Rin kau kenapa sih?" Tanya Len seraya melepas kacamata bacanya. Ia menutup koran yang ia baca sedari tadi. Rin menggeleng pelan, lalu tersenyum.

"Tidak kok Len. Tidak ada apa-apa.." Ujar Rin dengan agak ragu. Len menatap intens istrinya tersebut. Rin yang merasa ditatap seperti itu langsung bersemu merah wajahnya.

"Kamu enggak suka kalau Mama datang ya?"

Rin kaget. "Ti-tidak kok Len... Aku tak bilang seperti itu. Kamunya saja yang suka menghubung-hubungkan."

Defensive. Ciri khas istrinya kalau menyembunyikan sesuatu. Len sangat tahu itu. Len menghela nafas. Gara-gara pembicaraan ini, moodnya mendadak hilang. Ia tak bernafsu untuk memakan roti yang disajikan istrinya itu. Len kembali menghadap ke arah istrinya yang tampak murung tersebut.

"Aku akan ada meeting pagi dikantor. Bisa kah aku membawa rotinya ke ke kantor saja?" Tanya Len berusaha mengalihkan pembicaraan. Rin mendengus pelan. Ia menyiapkankan kotak bekal Len, lalu memasukkan roti oles mentega tersebut. Lalu ia memasukkan kotak bekal tersebut ke tas kantor milik Len.

"Jadi, nanti yang jemput Mama di bandara siapa?" Tanya Rin seraya merapihkan rambutnya yang kira-kira panjang sepinggang. Len menghela nafas. Ssejujurnya, ia tak suka membahas hal ini lagi.

"Nanti aku suruh Lui untuk menjemput Mama.."

"Nyonya Luka sudah datang tadi siang. Ia memindahkan sofa hijau diruang tamu kedekat aquarium."

Rin memijit pelipisnya pelan. Baru saja ia pulang dari kantor, ia langsung disambut oleh laporan dari salah satu pembantunya.

Ia heran dengan Mamanya itu. Kenapa Mamanya itu suka sekali memindahkan barang-barangnya tanpa seizinnya?

Rin menghela nafas. Inilah alasan Rin kurang suka dengan Mertuanya tersebut.

Mamanya satu ini suka sekali memindahkan barang tanpa seizin yang punya. Suka menghina Rin bahwa Rin itu dari golongan commoner. Selalu mengejek Rin kalau Rin tak bisa membahagiakan Len. Selalu bilang bahwa Rin selalu berantem dengan Len sehingga hingga sepuluh tahun pernikahan antara Rin dan Len belum di karuniani seorang anak pun.

Tapi nyatanya tidak seperti itu. Mereka selalu bahagia. Dengan atau tanpa anak. Rin kembali menghela nafas.

Sepuluh tahun pernikahannya dengan Len. Mereka belum dikaruniani seorang anak pun. Yap, Rin trauma. Sudahh empat kali Rin mengalami keguguran. Dan saat di cek oleh dokter, dinding rahim Rin memang sangat lemah sehingga divonis tak bisa membawa seorang anak pun. Vonis itu mematahkan semangat Rin yang sedaru kecil jika sudah menikah ingin memiliki banyak anak.

"Rin deaaar! Mama kangen kamuu! Bagaimana kabarmu sayang?" Tiba-tiba Luka, Ibu tiri Len sekaligus mertua Rin menghampiri Rin yang sedang terbengong-bengong.

"B-baik kok ma.." Balas Rin dengan pelan. Sebenarnya ia enggan untuk bicara dengan mertuanya itu. Luka tersenyum dan dengan elegannya merangkul pundak Rin.

Rin langsung diserang pusing. Benar deh, ia tak ingin berbicara dengan siapa pun hari ini. "Ma, aku izin sebentat ya.. Aku agak pusing. Mungkin karena kurang tidur.." Ujar Rin berusaha sopan. Luka nampak kecewa.

"Kutang tidur? Kamu abis make love ya sama Len?" Tanyanya. Rin mendelik. Pertanyaannya sangat sopan sekali bukan? Membicarakan hal ini sekarang malah membuatnya tambah pusing.

"Engg.. Aku ke ke kamar dulu. Permisi.." ujar Rin yang berusaha menghindari mertuanya itu. Rin pun masuk kekamar dan meringkuk di dalam hangatnya selimut.

Tbc

Hai IA kembali. IA update yang ni duluan soalnya chap 1-4 masih pendek. Jadi masih bisa di upload lewat android IA yang lagi ngambek hehehe

Makasih yang udah revieww

Last, minta reviewnya yap..

Next chapter : Aku dan Si Putri hujanku.