Kutukan Nyi Roro Kidul
Summary : "Sakuraaaa… awasssss…." Teriak Naruto tak digubris Sakura. Ia masih terpaku ditempat. "Sakuraaaa… pergi dari situ…" teriaknya lagi. Lagi-lagi ia diacuhkan. 'Jangan-jangan peristiwa itu terjadi lagi. Gawat.' Batin Naruto ketakutan. Ia takut Sakura dibelenggu sesuatu yang gaib hingga ia tak bisa bergerak. Ia pernah mengalaminya dulu.
DISCLAIMER : Naruto Belongs to Masashi Kishimoto
Genre : Supernatural dan Horor
WARNING
Banyak OC dan bertebaran typo di sana-sini, OOC, horor gagal, kata-kata tak baku, FEM NARU
Rating : T
Pair : No Pair
Author note:
Wah ada juga yang ngikutin Tumel Queen of Shouth. Ai tersanjung. Tapi Ai nggak ngerti kenapa ada yang ngira panglima yang ditemuin Naruto itu Sasuke? Ai kan hanya bilang ia tampan, pake baju ala bangsawan Jawa dengan aura agung dan senyum mencurigakan. Kenapa malah dibilang Sasuke?
Panglima itu muncul lagi di fic ini, tapi sekali lagi itu bukan Sasuke. Di fic ini chara anime Naruto yang saya pinjam nggak banyak kok hanya Naruto, Sakura sekeluarga, Jiraiya, Tayuya, dan Izumo. Sisanya nama-nama OC.
Don't Like Don't Read
Chapter Two
Mebuki nangis di ruang tamu, ditemani suaminya. Di depan mereka ada ketua tim SAR. Mereka sudah dua hari nyari Sakura dan temannya, tapi tak kunjung bertemu. Pencarian terpaksa mereka hentikan karena ombak gelombang Parangtritis sangat ganas, setinggi 5 meter. Sangat berbahaya jika nekat.
"Hu hu hu…. Kenapa kalian menghentikan pencarian? Bagaimana dengan putri kami?" kata Mebuki sambil tersedu sedan.
"Maaf, nyonya. Kami tak bisa berbuat apa-apa. Mungkin anda bisa minta bantuan orang pintar untuk menerawang." Kata Pak Sani, ketua tim SAR.
"Orang pintar?" tanya Kazuki terheran.
"Ya, orang pintar. Di Parangtritis ada cerita Nyi Roro Kidul yang dipercayai keberadaannya. Mungkin putri anda jadi korban Nyi Roro Kidul. Mungkin orang pintar itu bisa menolong menerawang."
"Di jaman modern seperti ini, kalian masih percaya hal begituan?" tanya Kazuki tak percaya.
"Ya, kami percaya. Soalnya sesaat sebelum gelombang itu datang, ada pengunjung yang mendengar ringkikan kuda. Terserah anda percaya atau tidak."
"Suamiku. Kita coba saja. Bukankah di negara kita juga ada legenda tengu, siluman rubah yang dipercayai keberadaannya?"
"Tapi… Ini agak di luar logi…" Kazuki masih ragu.
"Demi Sakura, putri kita satu-satunya." Potong Mebuki. "Hik hik hiks…." Ia kembali terisak-isak tak dapat menahan rasa sedih.
"Baiklah. Ini demi putri kita." Kata Kazuki mengalah. Kazuki melembut hatinya, mengingat putri kesayangannya yang jadi korban. "Apa kau tahu alamat orang pintar itu?" tanyanya pada Pak Sani.
"Ya. Saya kenal kuncen Parangtritis."
"Tolong antar aku ke sana."
"Baiklah."
SKIP TIME
"Hu hu hu…Bagaimana ini, Ki? Sodara saya jadi korban pantai selatan. Apa ini ulah orang yang sama? Hiks hik hiks…" tanya Merry berurai air mata.
"Aku tak tahu, Nak. Aku akan berdoa dulu memohon petunjuk pada Allah SWT. Tolong bantu sholat tahajud dan doa yang khusyuk juga." Kata Jiraya, bingung.
Kenapa hal aneh yang sama terjadi terulang lagi? Naruto kembali bermasalah dengan konon ratu lelembut yang sama sepeti dulu. Seolah Naruto itu punya bakat menarik peristiwa gaib di sekitarnya. Padahal ia gadis biasa yang tak punya ilmu kebatinan. Ia juga tak berasal dari orang sakti. Keluarganya pun biasa saja.
Mungkin itu sudah jadi takdir gadis itu. Feelingnya mengatakan Naruto akan terus menemui peristiwa yang berhubungan dengan dunia gaib di sepanjang hidupnya. Semoga gadis itu baik-baik saja dan Allah selalu melindunginya.
SKIP TIME
"Lepasss… lepaskan aku…" teriak Sakura meronta masih berpakaian renang.
Tangannya nyeri dan memerah gara-gara dipegangi oleh dua orang laki-laki berpakaian ala pengawal istana. Ia memakai blangkon, jarit dan bertelanjang dada. Di pinggangnya terselip golok. Pegangannya di lengan Sakura bukannya mengendur malah mengeras gara-gara rontaan Sakura.
"Diam kamu! Jangan banyak omong!" bentak salah satu dari mereka bengis dan kasar.
"Tidak. Aku tak mau. Adu-du-duh sakitttt…." Teriak Sakura meringis kesakitan. Ia terus meronta. Kakinya menendang dengan lemah.
Tendangannya sama sekali tak berefek apa-apa pada dua pengawal itu layaknya kepakan sayap. Mereka terus membawa Sakura pergi melewati terowongan panjang yang transparan seperti kaca. Mungkin di waktu lain Sakura bakalan takjub melihat keindahan isi lautan dari dinding transparan itu. Ya, lain kali, tapi tidak dengan cara seperti ini. Ia tak sudi diseret kasar dan diperlakukan layaknya ia sampah.
Semakin lama Sakura merasa gemetaran. Gratakkk gratakkkk…, bunyi giginya bergemeletukan saling beradu. Sakura merasakan hawa dingin dan oh yeah mistis luar biasa. Hawa nan dingin dan suara angin nan lembut berputar-putar di sekitarnya. Semakin jauh ke dalam terowongan hawa dingin itu semakin terasa.
Sampai di ujung terowongan, mereka memasuki ruangan ah salah seperti gua. Entahlah Sakura tak bisa menyebutkannya. Bangunannya terbuat dari batuan hitam seperti gua dengan air menetes di langit-langit. Di bawah kakinya mengalir air eh salah seperti lendir yang Huekkk bau sekali. Ia sampai ingin muntah.
Sakura diseret paksa hingga ia memasuki ruangan selanjutnya. Di sana ia melihat banyak orang berpakaian lusuh seperti rakyat jelata jaman kuno. Mereka bekerja membangun bangunan nan megah berwarna putih seputih mutiara dan indah, menyilaukan mata. Tatapan mereka melas, seolah mereka menderita dan tak bahagia.
Sakura juga melihat ada seorang dari mereka yang berhenti mengusap peluh yang berucuran. Ctarrrr….ctarrr….ctarrr… Ia langsung dicambuk berulang kali, hingga tubuhnya memerah dan keluar darah. "Adu-du-duh, sa-sa-sakittt. Ampun Tuan." Jeritnya menyayat hati. Sakura sampai tak tega melihatnya.
"Diam! Siapa suruh berhenti. Cepat bangun kembali hingga bangunan istana untuk kanjeng ratu selesai. Jangan sampai kanjeng ratu murka." Bentak sang penjaga dengan bengisnya. Ia sama seperti orang yang menyeretnya, tapi bajunya lebih bagus dengan hiasan emas pada pinggiran bajunya.
"Jalan!" bentak pria yang menyeret Sakura kesal.
Sakura dengan tertatih dan lecet di kakinya terpaksa mengikuti dua orang itu. 'Oh Kami-sama, apa aku akan berakhir seperti mereka. Ku mohon tolong saya Kami-sama.' Doa Sakura.
Dia diseret di depan istana. Di atas sana bertahta seorang ratu nan cantik jelita. Ia mengenakan baju kebesaran bangsawan jawa lengkap dengan mahkota keemasan bertengger di atas kepala. Bunga melati menguntai di kiri dan kanan tiaranya. Rambutnya panjang hingga pantat, lurus nan halus, kemilau hitam legam. Di pinggang ada sabuk emas diikat dengan selendang sutra nan halus warna hijau.
Tapi Sakura sangat takut dengan wanita agung itu. Singgasananya sangat aneh dan tak biasa. Sandarannya dari kerang, sedang pegangan tangannya dari kepala ular yang menjulur dan bermata merah marah. Di bagian kaki meliuk layaknya badan ular. Hiiii, Sakura bergidik ngeri.
Di belakang sang bangsawan itu berdiri di kanan kiri para wanita cantik dengan kemben dan jaritnya. Dua orang yang paling dekat dengan sang ratu memegang payung, mengipasi sang ratu. Di lantai mereka bertebaran melati dan mawar merah, Tapi mata Sakura menangkap warna merah berbau tajam yang Sakura yakini itu darah.
Asap dupa dan api berkobar di sepanjang dinding hingga singgasana sang wanita itu. Di dindingnya Sakura lihat berukiran ular memanjang berwarna hijau, dengan sisik emas, berbau anyir berakhir depan pintu bagian kepalanya kanan kiri. Ia terlihat nyata seperti ular sungguhan. Lidahnya menjulur panjang dan tetesan air liur diantara mulutnya berbau anyir.
Di langit-langit, Sakura lihat guratan ular-ular kecil yang jumlahnya tak terhitung membelit para laki-laki dan perempuan dengan darah menetes dari atap. Orang-orang itu ada yang berteriak ketakutan, menahan sakit. Tapi ada pula yang mendesah seolah sedang dilanda birahi.
"Sopo cah ayu iku? Mreneo, nduk!" tegur wanita agung itu membuat Sakura mengalihkan pandangan dan terfokus pada wanita itu. (Siapa gadis cantik itu? Ke sinilah!)
Sakura tak berani menggerakkan tubuhnya. Ia terlalu takut dengan aura mistis wanita cantik itu. Gratakkk gratakkk gratakkk. Gemetaran di tubuhnya semakin hebat. Takut ia akan bernasib seperti orang-orang di atas langit-langit itu.
"Ampun, gusti. Dia tumbal segoro kidul. Dia lancang mengenakan baju warna hijau, warna kebesaran sang ratu."
"Apa? Lancang sekali kamu manusia. Pengawal bawa ia ke ruang para budak!"
"Sendiko, gusti." Kata mereka dengan hormat. "Ikut aku!"
"Tidak, aku tak mau. Tolong lepaskan saya. Saya ingin pulang."
"Diam!" bentaknya.
"Hi hi hiiii…" Ada dengusan geli seorang pria nan tampan dan ia juga pakai pakaian bangsawan. Diantara blangkonny ada tiara terbuat dari emas, ciri khas untuk yang berkedudukan tinggi. Di tangan, lehernya yang bertelanjang dada dan pinggang juga dihiasi perhiasan terbuat dari emas. Jarit sutra motif parang warna putih membuat pria itu semakin tampan. Sakura terhipnotis oleh ketampanan pria itu.
"Ada apa kau kesini, Panglima Bayu Segoro?" Tukas wanita bangsawan itu kesal.
"Hanya ingin melihat bagaimana Nyi Roro Kidul yang luar biasa cantik itu kesal." Katanya enteng.
"Huh… jangan meledekku, Bayu Segoro. Aku tak lupa dengan kegagalanmu mengambil tumbal Orochimaru. Apa kau tahu kalo hal itu membuatmu jadi bahan tertawaan seisi kerajaan Kidul?"
Wajah tampannya memerah merasa terhina. "Tertawakan saja terus. Kalo kau berhadapan dengannya, aku tak yakin kau pun bisa menang." Ejeknya terang-terangan.
"Kau berani meledekku. Kau lupa siapa aku? Aku ini Nyi Roro Kidul penguasa laut Kidul."
"Ya, dibawah Kanjeng Ratu kidul."
"Diam. Aku pasti bisa mengalahkan Kanjeng ratu. Pasukanku dari para tumbal pesugihan ditambah para manusia bodoh yang berani melanggar pantangan, jumlahnya sangat banyak. Pasti bisa menandingi sang ratu." Katanya jumawa. "Kau lihat istana megahku pun hampir jadi. Aku akan merayakan kemenanganku itu di istana baruku." Lanjutnya.
"Semoga saja berhasil. Kanjeng ratu itu sangat sakti. Ada Cunting manik dan Dewi Lanjar yang jadi senopati, abdi setianya. Beliau juga memiliki koco Benggolo yang membuat sang ratu mengetahui segala yang terjadi di laut dan daratan. Kau harus hati-hati."
"Terima kasih. Tapi aku telah menyelubungi istanaku ini dengan tabir yang tak bisa ditembus Koco Benggolo milik sang ratu. Apa kau akan membantuku?"
"Aku? Tidak, aku netral saja. Aku ingin liburan." Katanya hendak beranjak pergi. Ia berhenti ketika mencium aroma tubuh yang tak asing di hidung bangirnya. 'Ini seperti aroma gadis itu.'
"Tunggu pengawal!" katanya memberhentikan sang pengawal yang hendak menyeret Sakura pergi.
Ia mendekati gadis malang itu. Semakin mendekat semakin jelas aroma wangi nan menggiurkan milik gadis yang seharusnya jadi pengantinnya atau lebih tepatnya budak seksnya itu. Ia tanpa ampun memasuki otak gadis itu. Bisa ia lihat gadis itu tak seorang diri waktu terseret ombak. Ia bersama Naruto, tumbal yang diincarnya.
Bedanya gadis itu bisa ditarik ke segoro kidul, tapi Naruto tidak. Di lautan sana, ia melihat Naruto masih memeluk erat tubuh Sakura. Ia tak berniat melonggarkan pelukannya sedikitpun. Ia dengan tenang mengikuti arus, bukan sebaliknya melawan seperti korban terseret arus pantai selatan lainnya.
"Gadis pintar." Katanya.
"Siapa?" tanya Nyi Roro Kidul.
"Naruto, gadis yang dulu ditumbalkan Orochimaru dan berhasil selamat. Aku akan membantumu kali ini. Aku mau dia sebagai hadiah."
"Terserah." Kata Nyi Roro Kidul angkuh.
Ia mempersilakan Bayu Segoro membawa Sakura. Baginya gadis itu tak penting, jadi terserah mau diapakan. Biasanya sih tumbal dijadikan emban sekaligus budak seksnya Bayu Segoro yang terkenal hyper seks sepertinya juga. Sedangkan ia bersiap-siap menangkap Naruto, gadis yang dulu lolos dari genggaman tangannya karena sang ratu ikut campur. Memang sehebat apa sih dia?
"Mandakini…" Panggil Nyi Roro Kidul pada anak buahnya.
Ular di sisi kiri pintu bergerak mendekat Nyi Roro Kidul. Tebakan Sakura benar, ular itu hidup ternyata. Ia bukan hanya hiasan dinding. Ssss… ia mendesis, tubuhnya menggeleser, bergerak dengan perutnya yang licin itu.
"Sssssttt…. Saya Nyi. Apa tugas Nyi ratu?" katanya berat.
"Pergilah ke permukaan laut. Bawa gadis itu di hadapanku!" titah Nyi Roro Kidul.
"Daulat, nyi ratu." Katanya sebelum pergi menghilang.
Nyi Ratu Kidul tersenyum angkuh dibalik singgasananya. Ia bersiap turun dari tahta dibantu dayangnya. Ini waktunya ia bertemu para pemujanya yang ingin bersekutu dengannya. Ya selama ini yang ditemui para pemujanya itu bukan Kanjeng Ratu Laut Kidul asli, melainkan Nyi Roro Kidul sang patih.
SKIP TIME
Naruto mengapung mengikuti arus. Ia tak tahu cara menyelamatkan diri di lautan. Instingnya yang memerintahkan agar dia tak melawan arus, tapi menungganginya. Makanya itu sekarang ia diayun-ayun ombak di bawah laut. Tangannya mendekap erat tubuh Sakura. Naruto gelagapan di dalam air. Air asin memasuki rongga hidung dan mulut, meski ia berusaha menahannya.
"Uhukkk uhukkk.." Ia terus tersedak. Matanya perih, tak bisa melihat apapun. Ia tetap tabah dan percaya pertolongan Allah itu ada. Ia lirik Sakura yang pingsan dengan nafas teratur seperti tidur. Semoga mereka bisa selamat dan arus ini berubah jadi arus balik sehingga tubuhnya dan Sakura terangkat ke atas.
Syurrrr…huanggg….Syurrrr… geleombang itu bergulung-gulung dengan Naruto di dalamnya didalam laut, melewati patahan nan dalam, membuat mata Naruto melotot tajam. "Uhhhh..uhukkk..uhukkk.." rintihnya lirih. Dadanya terasa sesak, ditambah lagi air asih itu memasuki rongga dadanya.
'Apa ini akhir dari hidupku, ya Allah? Tak apa-apa ya Allah. Saya ikhlas menerimanya selama saya tak mempermalukan nama-Mu dengan mengkhianati teman terbaikku.' Batinnya lirih, pasrah.
Tubuh mungilnya terbanting-banting diantara batuan karang. Perlahan arus balik terjadi menghempaskan Naruto ke atas permukaan air laut. Byurrrr…byurrr..byurrrr… Tubuh Naruto dan Sakura terangkat ke atas dan mengapung. Untung Naruto masih pake jaket pelampung jadi ia tak butuh tenaga ekstra untuk tetap mengapung.
"Huah huahhh huah…." Bunyi Naruto dengan rakus menghirup udara segara. Hidungnya terasa panas akibat air yang masuk. "Alhamdulillah. Aku berhasil ke atas. Ngomong-ngomong pantai itu mana, ya?" tanyanya bermonolog.
Sejauh mata memandang ia hanya melihat lautan nan luas. Tak ada sama sekali ia melihat segaris daratan. Biru-biru dan biru, hanya itu yang terlihat. Di bawah lautan nan biru dan jernih dengan ikan-ikan kecil berseliweran. Di atas ada langit biru seperti warna matanya berhiaskan burung camar. Kuak kuak kuak…Bunyinya riuh mengejar rizki Allah berupa ikan.
Kruyukkk, perutnya berbunyi nyaring. Ia lapar, tapi apa yang bisa ia makan di tengah lautan begini? Syukurlah ada salah satu burung camar yang tak sengaja menjatuhkan mangsanya. Plukkk, bunyi ikan jatuh. Lewatlah bangkai ikan depan mata Naruto. Naruto langsung menyambarnya.
"Bismillahirroh manir rohim. Allahumma laka sumtu wabika amantu wa ala rizkika aftortu ya arrhamarrohimin." Doa Naruto sebelum memakan ikan itu mentah-mentah.
Apa boleh buat kan? Ia terpaksa makan mentah-mentah karena tak mungkin ia memasaknya lebih dulu di lautan bebas ini. Toh itu makanan halal. Orang Jepang juga makan ikan mentah-mentah dan mereka baik-baik saja hingga kini. Ini pasti anugerah dari Allah yang kasihan pada umatnya yang terdampar di lautan bebas nan ganas.
Aneh perutnya tak bergejolak ingin muntah. Ia biasa saja seolah itu hidangan lezat. Rasa amis enek juga tak ia kecap. Ia malah merasakan nikmat, dan gurih seolah sudah dibumbui. Sekali makan perutnya terasa kenyang seketika. "Alhamdulillah." Katanya mengucapkan syukur.
Ia lihat langit tak lagi biru, tapi berubah jadi lembayung, tandanya sudah sore. Naruto mempersiapkan diri untuk wudhlu dengan susah payah soalnya sambil memegangi Sakura agar tak terlepas dari genggaman tangan. Ia pun sholat dhuhur dijamak dan diqosor dengan asar, pake isyarat mata dan kepala.
Saat ini tak memungkinkan ia sholat dengan normal. Kakinya tak berpijak pada tanah lho ya. Gimana ia duduk takhiyat. Meski demikian Naruto yakin Allah mengetahui kesulitannya dan kesungguhan niatnya sholat di tempat darurat.
Selesai sholat ia lihat sang matahari terbenam dengan indahnya ke dasar lautan. "Masya Allah, indah sekali." Gumamnya mengagumi gradasi warna nan indah saat sang surya kembali ke peraduannya.
Warna lembayung merah bercampur dengan air laut membuat laut seperti cermin yang berkilau indah. Itu luar biasa sekali. Ia bersyukur diberi kesempatan menikmati keindahan tiada tara yang tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.
"Kalo matahari di depan matanya berarti Barat di sana. Jadi pantai mungkin di sebelah kanannya." Gumam Naruto kini tahu arah.
Ia berbalik arah, meyakini arah pantai dengan ilmu sosial yang dulu dipelajarinya di sekolah soal arah mata angin. Ia berenang ringan, tak ngoyo mumpung laut sedang tenang. Ia tak ingin kehabisa energi sebelum kakinya menyentuh bibir pantai.
Langit berubah warna jadi menghitam, berhiaskan bintang-bintang. Kini Naruto berhenti untuk sholat maghrib dan Isya', lagi-lagi dijamak dan diqosor. Ia sholat dengan khusyuk. Seusai itu, ia menengadah melihat langit.
"Hmm, itu rasi Gubug Penceng. Itu titik Merak dan titik Dubhe. Utara itu ditunjukkan oleh garis yang terbentuk dari dua titik itu. Berarti utara sebelah sana." Kata Naruto yakin.
Ia sedikit berganti haluan, sepertinya arahnya melenceng dari arah seharusnya. Maklum matahari kan arahnya nggak akurat. Kadang condong ke utara kadang condong ke selatan. Jadi tak tepat ke Barat.
Saat sedang asyik-asyiknya berenang. Tiba-tiba lautan bergolak. Angin puyuh bergerak cepat membuat lautan bergerak memutar membentuk pusaran air dan siap menelan Naruto dan tubuh Sakura.
"Astaggfirullah al adzim.. Aaaa…" teriak Naruto berusaha sekuat tenaga memegangi tubuh Sakura jangan sampai terlepas. Apapun yang terjadi mereka harus bersama.
Di dalam lautan muncullah ular yang sangat besar berwarna hijau dengan sisik keemasan. Lautan bergolak hebat. Air asin kembali menerpa wajah Naruto gara-gara ulah ular itu. Bau anyir tercium kuat, menguar dari tubuh sang ular yang sangat panjang yang terlihat dari pantulan cahaya remang-remang dewi malam. Kepala ular itu naik ke atas berdiri tegak, menghadap Naruto.
Di kepalanya bertengger tiara agung keemasan. Matanya merah. Lidahnya menjulur dan tiada henti mendesis. Diantara tubuh ular itu muncul sesosok wanita dengan baju jaman dulu. Dia berjarik dan berkemben warna hijau. Rambutnya digelung berhiaskan bunga melati dan tusuk konde satu warna emas diantara sanggulnya.
Mereka menatap Naruto marah. "Ehemmm…" Naruto berdehem, meneguk ludahnya susah payah. 'Jangan bilang kalo mereka akan membawanya ke lautan gaib seperti waktu itu atau yang lebih buruk lagi ke istana laut kidul.' Batinnya ketakutan.
Apa yang terjadi pada Naruto selanjutnya? Berhasilkah ia selamat dari serangan Mandakini dan Nyi Roro Kidul? Apa kali ini Kanjeng Ratu kembali membantunya seperti tempo dulu? Ikuti kisahnya chapter depan.
TBC
Akhirnya Ai publish juga chapter duanya. Mumpung idenya masih nempel di otak. Kalo lupa kan ntar diskontinyu seperti fic-fic Ai lainnya. Nunggu inspirasi itu susah lho.
