Kutukan Nyi Roro Kidul

Summary : "Sakuraaaa… awasssss…." Teriak Naruto tak digubris Sakura. Ia masih terpaku ditempat. "Sakuraaaa… pergi dari situ…" teriaknya lagi. Lagi-lagi ia diacuhkan. 'Jangan-jangan peristiwa itu terjadi lagi. Gawat.' Batin Naruto ketakutan. Ia takut Sakura dibelenggu sesuatu yang gaib hingga ia tak bisa bergerak. Ia pernah mengalaminya dulu.

DISCLAIMER : Naruto Belongs to Masashi Kishimoto

Genre : Supernatural dan Horor

WARNING

Banyak OC dan bertebaran typo di sana-sini, OOC, horor gagal, kata-kata tak baku, FEM NARU

Pair : No Pair

Author Note :

Fic ini hanya terdiri dari 3 chapter aja kok, nggak multi chapter. Ini Ai buat sebagai selingan biar nggak bosen. Ai mendadak aja, pas lagi nunggu lappy selesai diservis pengin bikin fic horor, meski gagal sih. Keknya nggak terlalu horor deh.

Don't Like Don't Read

Chapter 3

"Kau yang bernama Naruto?" tanya wanita cantik berkemben hijau itu.

"Ya. Namaku Naruto." Kata Naruto tegas, tak memperlihatkan rasa takut. Ia percaya Allah akan selalu melindungi hambanya dimana pun ia berada. Ia yakin 100% Allah tak akan menyi-nyiakan hambanya yang membutuhkan pertolongan-Nya.

"Ikut aku." Kata wanita itu dingin.

"Tidak. Aku ingin pulang."

"Ikut!" Bentak.

"Aku bilang tidak ya tidak."

"Kau berani melawanku? Ssssst..."

Wanita itu mendesis, lidahnya menjulur keluar seperti ular. Bibirnya memanjang dan lancip hingga dekat telinga seperti hantu wanita bermulut robek ala Jepang. Matanya merah, memicing dan menyorot bengis padanya, menunjukkan kekejian apa yang bisa ia lakukan pada orang-orang yang menentangnya. Ular itu mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi hingga mencapai 5 meter, menimbulkan riak yang besar bagai deburan ombak kecil.

Byurrrr, deburan ombak kecil akibat gerakan ular itu menerpa wajah Naruto. "Uhukk uhukkk..." Naruto terbatuk-batuk. Air asin itu berhasil memasuki hidung dan mulutnya. Perih dan panas kembali menerpa hidungnya. "Oh oh oh..." gumam Naruto tak percaya.

Ia pikir ular itu dan wanita itu dua hal yang berbeda, ternyata tidak. Wanita itu ternyata penampakan si ular biar bisa berkomunikasi dengannya. Tampak di depannya kini ular berkepala dua, satu kepalanya tetap ular dan satunya berkepala setengah manusia setengah ular. Tapi Naruto tak bisa diam terheran-heran dengan fenomena aneh itu.

Ular itu bergerak cepat, secepat kedipan mata. Kepalanya meluncur ke arahnya siap menerkamnya dengan air liurnya yang berbisa. Refleks Naruto menutup mata dan membaca "Astaghfirulllah al adzim." Gumamnya. Otaknya ngeblank, tak bisa mengingat ayat-ayat suci yang kiranya bisa membantunya. Hanya kalimat istighfar saja yang teringat di otaknya.

Tepat saat lidah ular itu sudah mengenai wajah Naruto, air liurnya sempat menetes di wajah Naruto, gerakannya terhenti. Tubuhnya bergetar kepanasan gara-gara kalimat sederhana itu. Ia selama hidup ratusan tahun belum pernah mendengar kalimat itu. Kalimat pendek itu ternyata punya pengaruh besar padanya.

Ular mencoba lebih dekat lagi, dan lagi-lagi gadis itu mengucapkan kata sialan itu. Kini bukan hanya tubuhnya yang bergetar kepanasan, ekornya di ujung sana ia rasakan hangus. Ia terpaksa melompat mundur. "Hentikan!" desisnya tak suka.

Naruto membuka matanya lagi. Ular itu sudah menjauhi dirinya. Matanya tak lagi merah. Ular itu kini kembali menampakkan wajah wanita nan cantik dan ramah. Wajah menyeramkan nan bengis itu hilang berganti dengan senyuman ramah. Tapi Naruto tak bisa membalas senyum itu.

Senyum itu begitu dingin, tak sampai ke mata, dan ada aura magis. Itu mengingatkannya pada senyuman pria tampan yang dulu akan membawanya pada kasus jadi tumbal Nyi Roro Kidul. Ia masih bergidik ngeri jika teringat kembali peristiwa itu.

"Ikutlah denganku! Kau akan hidup enak, bergelimang harta bersamaku." Rayunya semanis madu.

"Tidak. Aku ingin pulang."

"Apa gunanya pulang ke rumah? Kau hanya akan kembali hidup miskin dan kesepian. Bersamaku kau bisa menikmati makanan mewah dan pakaian yang indah-indah."

"Tidak. Aku sudah bersyukur dengan apa yang ku punya saat ini. Permisi, aku mau pulang."

"Kauuu..." desisnya kesal. Ular itu kembali menggerakkan tubuhnya, menimbulkan gelombang yang membuat tubuh Naruto terbanting di lautan. Nyaris aja pegangannya di tubuh Sakura terlepas. "Jangan keras kepala. Kau bisa mati di sini." Rayunya lagi.

"Tiap yang hidup pasti mati. Aku sudah ikhlas jika nyawaku harus dicabut saat ini." Katanya tenang, setelah berhasil membuat tubuhnya kembali tegak. Ia tak boleh memperlihatkan rasa takut. Ngomong-ngomong soal takut. Kenapa ya rasa takutnya hilang? Padahal tadi ia masih gemetaran tak karuan. Lidahnya aja kelu. Kini lancar sekali ngomongnya kayak mulutnya punya program tersendiri.

Ular itu semakin marah. Kini ia menyerangnya lagi, tubuhnya membelit Naruto dan Sakura kuat-kuat, hingga terdengar suara gemeretak. Yah semoga saja tak ada tulangnya yang retak. Naruto mencoba menggerakkan tubuhnya, tapi percuma. Belitannya begitu kuat. Mana ia tak ada senjata di tangan pula.

Kepala ular itu terbuka lebar dan siap menelannya hidup-hidup. 'Huh, ternyata tak sesulit yang diomongin Bayu Segoro. Dasar pecundang.' Batin Mandakini. Ia sudah menelan tubuh kedua gadis itu. Tapi "Uhhhhh..." panas sekali. Mulutnya seperti terbakar. Panasnya bahkan mengalahkan panas api milik Nyi Roro Kidul.

"Uwahhhh..." rintihnya, tak tahan lebih lama lagi. Bau gosong tercium di inderanya. Ternyata daging di mulutnya ada yang gosong berasap, persis seperti ujung ekornya. Spontan ia mengeluarkan tubuh gadis itu bersamaan dengan lendir dan air ludah.

Tubuh kedua gadis itu terjatuh ke dalam lautan. Plungggg, bunyinya. Tapi tubuh itu tak tenggelam, melainkan mengapung. Mandakini yang merasa kesakitan, mengamuk. "Uahhhh... Sssst..." Desisnya kesakitan. Ia mengibaskan tubuhnya nan panjang. Kali ini bukan ombak kecil yang ia lahirkan, tapi gelombang pasang dan siap mengancam, menenggelamkan tubuh Naruto hingga ke dasar samudra.

Kenyataannya gelombang air itu sama sekali tak menyakiti gadis itu. Gelombang itu tak ubahnya seperti rintik gerimis. Kemarahan Mandakini semakin hebat. Ia merasa sangat terhina. Ia menyemburkan api bercampur racun berbisa pada Naruto.

Lagi-lagi tak bisa. Gadis itu sama sekali tak merasakan panasnya. Mandakini semakin memperbesar semburan apinya, tetap saja gadis itu tak terluka. Rupanya ada selubung tipis, seperti balon yang melindungi gadis itu dari serangannya.

Kini serangan berbalik. Ada dorongan tenaga dalam yang sangat kuat, menyerangnya. Mandakini berusaha bertahan, melawan pancaran tenaga itu. "Uhhhh..." desisnya menahan serangan. Kekuatan aneh yang baru muncul itu begitu kuat, hingga Mandakini terdesak. Tubuhnya terdorong ke belakang, Mandakini tetap bertahan. Tiba-tiba kekuatan itu berubah menjadi cahaya yang menerjang tubuh Mandakini tanpa ampun.

"Uwahhhhhh..." Jeritnya kesakitan. Cahaya itu membuat tubuhnya seperti dibakar panas api neraka, menyerang tiap sel-sel dalam tubuhnya dan melumpuhkan seluruh inderanya. Ia tak kuat lagi.

Mandakini segera kabur, menghilang ke dasar lautan. Ia meninggalkan medan pertempuran. Apa boleh buat? Ia tak mau mati, hangus terbakar di sana. Kekuatannya tak cukup hebat menandingi kekuatan gadis itu. 'Sialll. Pantas Bayu Segoro kuwalahan menghadapi gadis itu. ' Batin Mandakini. Rupanya gadis itu kuat. Dia terlalu meremehkannya. Sekarang ia kena akibatnya.

"Aaaa..." raung Mandakini, tak berdaya. Tubuhnya melayang, memasuki istana Nyi Roro Kidul dengan tubuh hangus dan luka dalam yang parah. Brukkkk, ia terjatuh tepat di bawah kaki Nyi Roro Kidul.

"Ampun Nyi. Hamba gagal. Gadis itu kuat sekali." Kata Mandakini mengerahkan sisa-sisa tenaganya. Tubuhnya menggelepar di lantai. Luka bakar di sekujur tubuh dan luka dalamnya begitu hebat. Ia pun tergeletak tak berdaya di lantai.

Mata Nyi Roro Kidul melotot, tak percaya. Mandakini salah satu senopati kepercayaannya yang sakit mandraguna kalah. Bahkan kini ia sekarat. 'Pasti gadis itu kuat. Rupanya Bayu Segoro tak membohongiku.' Batin Nyi Roro Kidul.

"Pengawal!" bentaknya murka.

"Sendiko dawuh, gusti ratu."

"Bawa Mandakini ke ruang pengobatan."

"Daulat, gusti." Kata pengawal itu patuh, membawa tubuh Mandakini yang kini gosong dan menyusut hingga seperti ular sawah.

"Kalian jaga istana ini. Aku sendiri yang akan turun tangan membawa gadis itu." Raung sang ratu murka.

"Aku ikut." Kata Bayu Segoro.

"Ku pikir kau sedang bersenang-senang dengan gadis musim semi itu."

"Mana mungkin. Ada hal yang lebih menarik dari hal itu di luar sana." Katanya tegas.

"Baiklah. Kau boleh ikut."

Nyi Roro Kidul kini bersama Bayu Segoro berangkat, hendak menangkap Naruto. Mereka tak tahu bahwa Naruto tak lagi berada di sana. Ada kekuatan lain yang membawanya pergi.

SKIP TIME

Di istana Segoro Kidul, yang berkilauan mutiara dan tenang tampak seorang wanita nan cantik berbusana ala bangsawan Jawa lengkap dengan mahkotanya. Wanita itu begitu agung dan wajahnya bercahaya seolah tak mengijinkan siapapun melihat wajah beliau. Tiba-tiba istananya berguncang hebat. Dari balik kaca, dinding istananya transparan seperti dari kaca berkualias unggul, nampak air laut bergolak hebat.

"Ada apa ini? Kenapa istana kita berguncang? Apa ada orang sakti yang sedang bertapa di sekitar pantai selatan?" tanya Sang ratu pada ajudannya.

"Maaf, Kanjeng Ratu, saya tak tahu." Kata Cunting Manik, ajudan kepercayaannya.

"Koco Benggolo. Perlihatkan padaku apa yang sebenarnya sedang terjadi?"

"Kasinggihan dhawuh, Kanjeng Ratu." Kata Koco Benggolo dari balik kaca, berbentuk menyerupai laki-laki tua yang tubuhnya sudah ubanan dan mengenakan baju ala para pendeta Hindu.

Kini sosok laki-laki tua itu menghilang, berganti dengan pemandangan pertarungan antara Naruto versi Mandakini. Mandakini terlihat hebat dengan tubuhnya yang sangar, melawan seorang anak manusia yang ringkih dan gemetaran. Dari hitungan di atas kertas, harusnya Mandakini yang menang. Faktanya Mandakini yang malah terbakar hingga gosong. Ia juga mengalami luka dalam hebat dan terpaksa melarikan diri dari medan pertempuran. Gadis itu sama sekali tak terluka. Ia hanya mengucapkan "Alhamdulillah."

"Cukup, Koco Benggolo."

"Sendiko dhawuh, Kanjeng Ratu."

"Maaf Kanjeng Ratu, ada yang saya tak mengerti. Mengapa Mandakini kalah, padahal gadis itu terlihat lemah. Saya tak merasakan kekuatan apapun dari dalam tubuhnya."

"Kau salah Cunting Manik. Gadis itu memang terlihat lemah, tapi sebenarnya kuat. Ia dilindungi cahaya wahyu. Kau lihat bukan ada tabir pelindung di sekeliling tubuhnya? Itu membuatnya sihir apapun tak akan pernah bisa menembusnya dan menyakitinya."

"Bagaimana ia bisa mendapatkan kesaktian sehebat itu? Apa itu anugerah dari Kanjeng Ratu?"

"Bukan dariku. Itu dari Pencipta Alam semesta. Untuk mendapat ilmu itu, kau tak perlu bersusah payah bertapa, ataupun puasa. Kau cukup melakukan lelaku seperti yang biasa dilakukan Muhammad."

"Siapa itu Muhammad, Kanjeng. Penguasa lelembut mana?"

"Dia manusia biasanya, tapi ia manusia terpilih, kekasihnya Allah. Orang yang mengikutinya akan selamat di dunia dan akhirat. Tak ada hal apapun yang bisa menyakitinya di dunia ini dari bangsa jin maupun manusia."

"Sungguh luar biasa, Kanjeng Ratu. Pantas jika Mandakini kalah telak."

Kanjeng Ratu Laut Kidul tersenyum. Tak disangka ia akan bertemu salah satu umat Islam nan taat itu lagi, setelah sekian lama berlalu. Itu anugerah besar untuknya. Biasanya yang datang orang-orang penghamba setan alias pemuja yang ingin harta, tahta, dan kepopuleran.

Ia malas menemui orang-orang itu. Ia sudah lelah mengingatkan agar mereka tak meminta apapun padanya. Ia sudah capek mengatakan bahwa ia tak mampu mengabulkan permintaan apapun mereka. Jadi ia biarkan saja Nyi Roro Kidul, patihnya yang menemui mereka lalu menyesatkannya.

Anggap saja itu pelajaran mahal untuk mereka agar tak pernah bersekutu dengan setan dan iblis. Bayarannya sangatlah mahal. Sungguh bodoh sekali mereka itu.

Istana kembali berguncang hebat. Lautan mengamuk. Itu menyadarkan Kanjeng Ratu Laut Kidul untuk segera bertindak kalo tak ingin istana hancur, rata dengan tanah.

"Sebaiknya kita ke sana, sebelum istana ini hancur."

"Daulat, Kanjeng Ratu."

Kanjeng Ratu Laut Kidul menaiki kereta kencananya. Di samping kanan ada Cunting Manik. Di belakangnya mengikuti para prajurit wanitanya. Mereka berangkat menuju tempat Naruto berada.

SKIP TIME

Naruto mengucap syukur bahaya sudah lewat. Ia meneruskan perjalanannya yang tertunda. Ia berenang santai, diiringi angin malam yang semilir membuainya. Karena lelah dan sudah larut, ia pun terkantuk-kantuk. "Duakkk..." kepalanya berbenturan dengan kepala Sakura. "Astaghfirullah al adzim." Gumamnya.

Ia membelalakan matanya, menahan kantuk yang menyerang dengan hebat. "Huahhh.." ia menguap. Ia tak dapat menahan lebih lama lagi. Ia memutuskan menyobek kain kerudungnya jadi dua, dengan tetap memegangi tubuh Sakura. Satu bagian untuk mengikat tubuh Sakura dan dirinya agar tak lepas, dan sisanya dililitkan di atas kepala sebagai hijab.

"Nah, kalo gini kan nggak perlu takut lepas." Katanya puas. "Huahhh.." ia menguap lebar. Akhirnya ia menyerah dan membiarkan angin malam membuainya. Sebelum tidur, ia masih sempat membaca ayat kursi dan doa tidur.

Nyi Roro Kidul dan Bayu Segoro muncul ke permukaan air dari air lautan yang tersibak. Tubuhnya bagian bawah masih ia biarkan terendam dalam air. Air dibelakangnya mengambil bentuk berupa singgasana. Bayu Segoro berada di sampingnya bersedekap.

"Manusia macam apa dia? Di tempat seperti ini pun ia masih bisa tidur nyenyak."

"Bagaimana kalo manusia bodoh?" kata Nyi Roro Kidul dengan nada mengejek. "Bangun, hei manusia!" katanya dengan suara bagai petir menggelegar. Tapi Naruto masih tetap tertidur pulas.

Nyi Roro Kidul marah, merasa dipermainkan. Ia mengirimkan tenaga dalamnya dan membentuk pusaran angin untuk menghempaskan manusia itu sebagai hukuman. Aneh pusaran angin itu sama sekali tak mengenai gadis itu. Ia hanya berputar-putar seperti gangsing.

Nyi Roro Kidul terbelalak kaget. Ada juga manusia yang tak mempan dengan pusaran anginnya. Kini ia menyerang gadis itu dengan ajian badai selatan. Ajian itu akan membuat air bergolak bagai gelombang Tsunami nan hebat dan akan menerjang dan melumat tubuh gadis itu. Lagi-lagi gelombang Tsunami itu tak mempan apa-apa. Ia hanya membuat Naruto diayun-ayun, dan tidurnya semakin pulas.

"Kurang ajar. Ia bisa menangkal ajian badai selatanku. Kini terimalah ajian petir membelah bumi." Teriaknya murka.

Dari tangan Nyi Roro Kidul keluar cahaya yang membuat langit mendung, gelap gulita. Dari langit, keluarlah petir yang menyambar-nyambar dengan suara menggelegak dan memekakkan telinga. "Ha ha ha... kali ini kamu pasti mampus." Teriak Nyi Roro Kidul.

Petir itu sama sekali tak menyakiti tubuh Naruto. Ia malah merasa nyaman, seolah tidur dalam ruangan yang menggunakan penghangat ruangan. Wajah Nyi Roro Kidul merah padam. Ia pun naik pitam. "Kurang ajar. Kenapa semua ajianku sama sekali tak mengenainya?"

"Kan sudah ku bilang dia itu sakti mandraguna. Lebih baik kita serang bersama."

"Kau benar, Bayu Segoro."

Keduanya, Bayu Segoro dan Nyi Roro Kidul menyatukan kekuatan. Mereka mengeluarkan ajian andalan mereka masing-masing. Langit dan laut berguncang hebat. Gelembang pasang saling berdeburan siap menelan apapun yang diterjangnya. Angin tornado membuat gelombang itu semakin besar dan ganas. Petir menyambar-nyambar ikut meramaikan suasana. Semuanya maju bersamaan menyerang Naruto.

Dari tubuh Naruto muncul cahaya menyilaukan yang dengan mudah menghalau serangan dua lelembut terkuat di segoro Kidul. Laut dan langit pun kembali tenang. Sekarang ajian mereka berbalik dan mengenai tubuh merreka. Mereka terpental jauh ke belakang, meninggalkan luka dalam yang menganga.

"Aaaa..." teriak keduanya, terjatuh dalam air. Dengan sisa tenaganya, merreka mengubah bentuk air jadi beku menyerupai lantai, sehingga mereka tak jatuh terperosok ke dalam lautan nan dalam.

"Ohokkk..." Dari bibir keduanya, keluar darah kental.

Tepat saat itulah terdengar suara gemerincing kuda dari dalam air. Air terbelah jadi dua dan muncullah kereta kencana Kanjeng Ratu Laut Kidul beserta pasukannya. Ia tersenyum agung. "Sepertinya kau kesulitan, Roro Kidul dan kau, Bayu Segoro."

Kanjeng Ratu Laut Kidul membantu punggawa istananya dengan menyalurkan tenaga dalam pada permukaan es yang mereka pijak, karena tenaga mereka berdua melemah dan air beku itu mulai meleleh dan retak.

"Itu pelajaran untuk kalian berdua agar tidak sombong. Sifat jumawamu-lah yang telah mencelakakan kalian."

"Ampun, Kanjeng Ratu. Siapa sebenarnya dia? Mengapa kami tak bisa mengalahkannya?"

"Dia manusia biasa. Hanya saja ia memohon dengan teguh pertolongan pada Sang Pencipta dan menerima dengan ikhlas setiap pemberiannya. Manusia yang seperti itu sulit ditandingi apalagi hanya dengan sihir. Kita akan hancur binasa jika tetap nekat melawannya." Kata Kanjeng Ratu Laut Kidul.

"Ampuni kebodohan kami, Kanjeng Ratu. Kami tak tahu siapa yang kami lawan. Apa yang sekarang harus kami lakukan?"

"Sebaiknya kau lepaskan tawananmu yang merupakan teman gadis ini." Titah Kanjeng Ratu.

"Membebaskannya? Itu tidak bisa!" kata Nyi Roro Kidul marah. "Ampuni atas kelancangan saya. Bukankah kita berhak menawan manusia yang telah berani mengusik alam kita?" katanya merendah, menyadari kesalahannya. Saat ini nyawanya di ujung tanduk. Jika melawan sekarang, ia pasti mati. Kekuatannya sudah hilang akibat pertarungan tadi.

"Itu benar. Tapi ada juga pengecualiannya, Roro Kidul. Dia mampu menghancurkan istana dan semua bangunan di Kerajaan bawah laut Segoro Kidul, demi sahabatnya itu. Apa kau ingin itu terjadi?"

"Tidak Kanjeng Ratu." Kata Nyi Roro Kidul cepat. Ia tak mau usahanya sia-sia belaka. Ia sudah bersusah payah ribuan tahun membangunnya, mengerahkan seluruh manusia yang tertipu olehnya jadi budaknya dan segenap wana balanya.

"Saya akan melepaskannya." Katanya menyerah. Ia lalu pergi dari hadapan Kanjeng Ratu Laut Kidul bersama Bayu Segoro, kembali ke istananya dengan susah payah.

"Apa ia akan melakukan apa katanya itu Kanjeng Ratu? Nyi Roro Kidul terkenal sangat licik." Kata Cunting Manik.

"Dia pasti melakukannya. Dia tak punya pilihan. Lihat sebentar lagi tawanan itu pasti dibebaskan."

"Lalu bagaimana dengan dia, Kanjeng Ratu?"

"Biarkan saja. Tuhannya sudah mengurusnya. Kita pergi. Urusan kita sudah selesai." Katanya menyuruh sang kusir balik arah, kembali ke istana.

Setengah jam, setelah kepergian Kanjeng Ratu Laut Kidul, Sakura terbangun dengan raut ketakutan. Ia merasa mimpi buruk. Ia seperti dibawa ke istana Nyi Roro Kidul. Banyak pemandangan mengerikan dalam perjalanan itu.

Hiii, tubuhnya bergidik ngeri. Ia menggigil kedinginan. "Kenapa ia merasa dingin, ya? Dan kenapa kamarnya gelap sekali?" katanya bingung, masih belum sadar. Matanya menatap ke atas, terkejut setengah mati.

Kenapa ada bintang-bintang di langit-langit kamarnya? Dan kenapa tubuhnya basar, seperti terendam oleh air? 'Jangan katakan padaku, kalo ia masih di lautan?' pikirnya ngeri. Terakhir kali yang ia ingat, sebelum mimpi buruk itu datang, ia kan terseret arus. "Eh, arus? Jangan-jangan dugaannya tadi benar?" gumamnya.

Dengan takut-takut ia melihat ke bawah. 'Haaa, mami. Sakura mengambang di lautan.' Batinnya desparated. "Gimana caraku pulang?" gumamnya bingung, secara ia kan nggak tahu arah. Di lautan lepas, tanpa kapal, dan tanpa te...

Matanya terbelalak menyadari ada seseorang di sebelahnya. Itu bukannya Naruto? Oh, God. Jadi ia menyelamatkan nyawanya hingga rela terseret arus laut juga. "Naruto." Gumamnya terharu. "Kau memang sahabat terbaikku yang paling setia. Aku beruntung memiliki teman sepertimu." Katanya senang.

Yah, pantas jika Sakura senang. Tak setiap orang memiliki teman yang setia, dan rela berkorban apa saja, termasuk nyawa. Betapa beruntungnya dia. Naruto, sahabat Indo-nya yang pertama, rela menantang maut demi dia. "Aku janji aku akan jadi teman setia. Suatu saat saat kau dalam kesulitan, aku janji akan membantumu, meski nyawaku taruhannya. Terima kasih teman." Katanya berjanji dalam hati.

Naruto terbangun tepat saat ia merasakan udara berganti jadi sejuk. Berarti pagi sudah menjelang. Ia mengerjab-ngerjabkan bulu matanya, heran. Di depannya terlihat Sakura tersenyum manis padanya. "Selamat pagi." Katanya riang.

"Eh, pagi." Balas Naruto tertular ceria. Ia lalu sholat shubuh, sebelum berbincang dengan Sakura.

"Sekarang bagaimana kita pulang?" tanya Sakura.

"Gampang. Kita tinggal berenang ke arah sana. Aku yakin itu utara."

Sakura tersenyum. Well soal arah mata angin serahkan pada Naruto. Dia ahli menentukan arah, meski tanpa kompas. "Hei, bagaimana kalo kita lomba? Siapa yang paling cepat sampai, itu yang menang."

Naruto sok mikir. "Hmm, boleh saja. Apa hadiahnya?"

"Traktir makan. Aku duluan." Kata Sakura mencuri start.

"Ihh curang." Kata Naruto mengejar Sakura yang duluan berenang di depan.

Mereka berenang berdampingan dengan riang. Pagi ini cerah. Udara nan sejuk menyegarkan keduanya. Mereka lega bahaya sudah lewat.

SKIP TIME

Kazuki dan Mebuki naik mobil. Mereka berniat ke rumah kuncen Pantai Parangtritis yang diberi tahu oleh Pak Sani. Di tengah jalan, mereka bertemu Kyai Jiraya. Mereka pun berhenti untuk menyapa. "Pak Kyai mau kemana?"

"Saya mau ke pantai Parang Kusumo."

"Untuk apa? Pak Kyai mau liburan di sana?" tanya mereka heran.

Untuk apa seorang kyai ke pantai. Kok nggak matching dengan imagenya ya. Pantai kan terkenal sebagai sarang maksiat. Bisa dari pengunjungnya yang umumnya pake baju buka aurat dan kadang-kadang ada aktivitas baku syahwat diantara pengunjung. Bisa juga karena konon pantai Parang Kusumo ini gerbang menuju istana Nyi Roro Kidul, makanya banyak yang bertapa untuk muja atau nyari wangsit.

"Semalam saya dapat mimpi. Naruto dan Sakura yang hilang akan ketemu di sana."

"Benarkah, Kyai? Mereka selamat?" kata Mebuki berkaca-kaca bahagia.

"Saya tak tahu, namanya juga mimpi. Lebih baik kita coba ke sana."

"Kalo begitu sama-sama saja, Pak Kyai."

"Baiklah."

Jiraya, Kazuki dan Mebuki naik mobil bersama ke pantai Parang Kusumo. Baru juga mereka memarkirkan kendaraan mereka. Dari kejauhan sudah terlihat Naruto dan Sakura yang sedang istirahat diantara bebatuan karang. Mebuki dan Kazuki berlari tergopoh-gopoh menghampiri anaknya.

"Kamu selamat, Nak. Puji syukur, Kami-sama. Engkau telah melindungi putri hamba." Kata Mebuki senang.

"Iya aku selamat, Ma. Ini berkat Naruto. Kalo tidak ada dia, mungkin aku sudah tewas."

"Kau terlalu membesar-besarkan, Sakura. Kita selamat karena Tuhan belum menghadapi kita menghadap pada-Nya. Bukan karena aku."

"Tapi kau kan berjasa besar menolongku. Kau rela terseret arus demi aku. Aku berhutang budi padamu, Nar."

"Benarkah itu, Nak. Terima kasih banyak. Budi baikmu itu akan selalu ku ingat."

"Jangan begitu, Bu. Aku sudah banyak merepotkan keluarga ibu. Kalau bukan karena Paman Kazuki aku pasti masih takut masuk kolam. Jadi kita impas."

Mereka lalu bercengkrama bersama. Karena lapar, mereka pun makan mie ayam di kedai pinggir jalan. Setelah itu mereka pulang ke rumah masing-masing.

Semenjak peristiwa itu, semua berjalan normal. Mereka menjalani kehidupannya masing-masing. Tak ada Nyi Roro Kidul dan bawahannya yang datang untuk balas dendam atau apa-apa. Seolah-olah peristiwa di laut itu hanya mimpi. Ya, mimpi yang sangat buruk.

Btw, di sela-sela mimpinya ia seperti melihat bayangan wanita bermahkota dengan kereta kencana yang wajah tak bisa ia lihat dulu. Ia seperti ngomong sesuatu padanya, tapi hanya samar, tak begitu jelas terdengar. Maklum ia ngantuk. Jadi ia anggap saja itu hanya bunga tidur.

Sebulan setelah peristiwa itu, keluarga Sakura pindah. Ia tak lagi tinggal di Jogja dan kembali ke Jepang. Ia sedih harus berpisah dengan sahabat baiknya, tapi ia percaya jika ada jodoh, mereka pasti bertemu kembali.

Oh ya ada kabar gembira. Ia lulus tes renang, malah ia dapat nilai tertinggi. Tayuya sampai melongo kaget. Dalam waktu dua minggu aku sudah jago renang? Oh wow itu luar biasa. Mungkin itu hikmah dari peristiwa terseretnya arus laut kidul. Ia jadi jago renang. Ya iyalah. Nggak mudah lho berenang melawan arus laut.

Ada satu lagi kawan. Naruto sekarang tak mau lagi menginjakkan kaki di Pantai Parangtritis. Ia mulai takut sang ratu lelembut itu kembali balas dendam. Ia kan malas disuruh bertarung. Capek tahu.

Selain itu juga itu karena desakan Merry. Ia tak ingin lagi dapat serangan jantung gara-gara denger Naruto berhubungan dengan Nyi Roro Kidul. Ia tak mau Naruto celaka dan ia masih belum mau nyekar di tengah lautan kidul. Seperti ada perahu saja yang mau ke sana.

Jadi, ia memilih jualan di Taman Sri Wedari atau Gembira loka. Tempatnya ramai juga kok dengan para pengunjung dan dagangannya laku keras. Dan yang terpenting ia tak dihantui was-was terseret arus lagi.

"Es teh es teh... Siapa mau beli?" teriak Naruto menjajakan dagangannya.

"Saya beli." Kata seorang ibu membeli semua es tehnya yang ada di nampan.

Naruto lega. Dagangannya sudah laku keras. Ia istirahat di pinggir kolam, tempat koleksi ikan kebun binatang Gembira Loka. Ia menghitung hasil dagangan hari ini. Ia memisahkan uang untuk modal dan keuntungan. Di tengah-tengah keasyikan menghitung uang, ia mendengar suara yang tak asing.

Ning nang ning gung... suara alunan gamelan terdengar jelas di telinganya. Ia melongokkan kepala mencari sumber suara. Tak ada suara tip atau speaker kok. Tapi ia jelas mendengar alunan gamelan. Suaranya seperti dari arah belakang. Dengan kepala patah-patah, Naruto nengok ke belakang.

Matanya terbelalak melihat seorang wanita cantik berbusana ala Bangsawan Jawa jaman dulu sedang tersenyum padanya. Tangannya membelai untaian melati yang ada membelit rambut nan panjangnya. Bibirnya mengalunkan tembang Lingsir Wingi. Hiiii... Bulu kuduk Naruto berdiri.

"Apa kabar Cah ayu?" katanya dengan sorot bengis dibalik senyumnya yang menawan hati.

END

Akhirnya tamat juga. Terima kasih yang udah mau baca fic horor gagal ini. Terakhir RnR please.

Omake

Nyi Roro Kidul kembali ke istananya dengan tubuh terluka parah. Ia dibantu para pelayannya ke peraduan. "Kurang ajar. Gadis keparat itu sudah mempecundangiku. Ia juga telah membuat istanaku rusak." Katanya meraung murka.

"Tapi itu bukan akhir segalanya. Aku bersumpah akan membalas sakit hati ini. Dengar ini Naruto. Suatu saat nanti, saat kau lengah. Aku akan datang lagi. Aku akan menyesatkanmu dan 7 anak turunmu nanti. Akan ku jadikan kalian budakku yang hina. Ingat ituuuu." Raungnya sambil tertawa terbahak-bahak kesetanan.

End Omake