.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

SasuSaku AU Fanfiction

Typo yang mungkin luput dari mata saya *ojigi*

.

.

Selamat membaca kawan-kawan ^_^

.

.

"Hal terindah yang dapat kita alami adalah misteri. Misteri adalah sumber semua seni sejati dan semua ilmu pengetahuan."

-Albert Einstein-

.

.

.

Hari Minggu.

Hari di mana kata 'bebas' benar-benar terasa artinya di kehidupan para remaja terlebih anak sekolahan seperti Sakura.

Setelah enam hari penuh otak Sakura ditekan dengan segala beban tugas sekolah, kini Sakura bisa luntang lantung semaunya. Mengenyampingkan segala tugas yang menumpuk untuk dikumpulkan pada hari Senin atau Selasa atau di hari lain pada minggu depan, Sakura mencoba menikmati masa remajanya dengan sedikit bersantai.

Yah,,, namanya juga manusia. Manusia hanya bisa menyusun rencana, tapi segalanya hanya yang di atas-lah yang mengatur. Bahkan tak ada satupun manusia yang mengetahui kejadian yang akan terjadi di masa yang akan datang selain tuhan. Sekalipun satu detik setelah detik inipun tidak ada yang tahu.

Angan-angan tidur sampai jam 10 siangpun sirna kala Sang Ibu Tercinta membangunkan Sakura dengan segala cara hebatnya untuk membatu ibunya di akhir pekan ini.

Sakura hidup di tengah-tengah keluarga yang sederhana. Tidak kaya juga tidak miskin. Ayah Sakura bekerja sebagai pegawai kantoran biasa, sedangkan ibu Sakura adalah ibu yang mandiri, beliau membuka loundry kecil-kecilan untuk menambah pemasokan uang di keluarga Sakura. Terlebih tak lama lagi Sakura akan memasuki perguruan tinggi yang otomatis memerlukan uang yang lebih banyak ketimbang sekolah menengah biasa.

Dan jadilah Sakura merelakan jadwal akhir pekannya dengan membantu sang ibu. Dengan 2 kali cubitan di pipi, 4 kali cubitan di hidung, 5 kali tepukan di bokong Sakura, dan beberapa cara ajaib yang dimiliki ibunya, pertempuran inipun berakhir dengan Sakura yang mengibarkan bendera putihnya.

Walau dengan misuh-misuh dan dengan stelan piyama pink panjang tanpa corak yang masih melekat pada tubuhnya, Sakurapun berangkat menunaikan perintah sang ibu.

Dengan mata yang masih belum terbuka sepenuhnya, Sakura berjalan dengan sedikit terhuyung mengendarai sepeda pink-nya.

Haiihh.

Hari ini Sakura mengukir sejarah pertama dalam hidupnya, bangun jam 4 dini hari untuk mengantar pakaian loundry klien Sang Ibunda tercinta.

Berdasarkan cerita dari sang bunda, hari ini Sang Klien harus mengambil baju yang dilaundry di tempat Ibu Sakura. Katanya, pakaian yang dibungus rapi di dalam plastik bening yang berada di keranjang sepeda Sakura ini sangat penting bagi hidup dunia dan akhiratnya. Karena Sang Ibunda masih sibuk dengan urusan dapurnya, Sakuralah yang diutus untuk misi penting itu.

Sakura kembali menggerutu pelan kala udara dini hari yang dingin berhasil menerobos piyama pink Sakura. Intensitas gerutuan Sakura semakin besar kala Sakura mengingat pesan ibunya bahwa rumah Sang Kilen Ibunya itu berada 5 block dari rumah Sakura.

Cih.

Sakura masih ingin tiduuurrrr.

Memang apa susahnya sih datang ke depan rumah Sakura, terus ketuk pintu baik-baik dan melakukan transaksi jual-beli dengan baik pula.

Emang klien ibu Sakura itu artis yang setiap waktu dikejar paparazi apa? Sampai harus pagi buta begini mengambil laundry miliknya. Mana jarak tempat pertemuannya jauh begini lagi.

Sakura membanting stir sepedahnya saat seorang pria berlari menerjangnya tiba-tiba.

Dan. Kecelakaan kecilpun tak terelakkan.

"Brak."

"Aduh."

Sakura meringis sambil memegang salah satu siku tangannya yang terasa perih. Belum sempat Sakura melemparkan sumpah serapahnya, pria beramput panjang di depannya ini langsung mengambil bingkisan baju yang tergeletak di samping sepeda Sakura.

"Eh? Itu baj-"

Kalimat Sakura terputus saat tiba-tiba pria misterius ini menyodorkan selembar kertas bon lengkap dengan beberapa helai uang kertas tepat di depan wajah Sakura.

Pria yang mengenakan jaket parasut tebal itu menatap geram ke arah Sakura yang termanggu di bawahnya. Dengan tidak sabaran pria itu berjongak di depan Sakura lalu menyelipkan bon beserta uang kertas tadi di salah satu telapak tangan Sakura.

"Aku tak punya banyak waktu."

Detik berikutnya pria yang mengenakan pakaian mecurigakan dengan stelan hitam itu menghilang di balik kabut pagi.

Sakura mengerjabkan matanya beberapa kali.

Apa ini pembegalan?

Ah tidak. Pria tadi hanya mengambil baji laundry dan membayar bonnya.

Apa ini-

"Aw." Sakura meringis ketika rasa perih menjalari salah satu siku tangannya.

Ah... Sakura jadi lupa menyembur pria itu.

Dengan misuh-misuh Sakura bangun dari duduk tidak elitnya. Dengan langkah dramatis Sakura menegakkan sepedah milik Sang Ibu tercinta yang stir kemudinya terasa bengkok ini.

"Sial."

Dengan bahu terkulai Sakura mendorong sepedahnya di tengah kabut pagi. Belum genap ia melangkahkan kakinya sepuluh langkah, sebuah suara maskulin menghentikan langkahnya.

"Haruno?"

Sakura membalikkan badannya ke arah sumber suara.

"Se-sensei?"

Sakura menatap horor pria berdarah Uchiha yang tengah berlari kecil ke arahnya.

Aduh. Di kepala Sakura kini memutar salah satu adegan roman picisan ala India dengan latar belakang bunga-bunga.

Oke, stop.

Pria berahang tegas itu kini berada tepat di depan wajah Sakura.

Aduduh. Makin tampan saja.

"Kenapa kau di sini?"

"Em? Aku?" Sakura menggaruk pipinya dengan jari telunjuk rampingnya.

Tunggu.

Pipi?

Oh iya. Sakura belum sempat cuci muka!

Dengan segera Sakura membalikkan badannya, memunggungi sensei tercintanya ini.

Sakura kembali membelalakkan matanya ketika ia ingat belum sempat menyisir suarai pink-nya.

Astaga... Apa-apaan ini.

Dengan grasak-geusuk Sakura merapikan apa yang bisa ia rapikan dari penampilannya.

"Maaf, sensei. Saya sedang buru-buru. Ohayou gozaimasu."

Setelah berojigi singkat tanpa menatap lawan bicaranya, walau sedikit terhuyung karena kondisi sepedahnya paska kecelakaan kecil tadi, Sakura tetap mengayuh sepedahnya dengan cepat.

Lengkap sudah penderitaanmu, Sakura.

Ckckckck.

.

.

.

"Haah."

Sakura kembali menghela nafasnya pasrah.

Kalau mengingat kejadian minggu pagi kemaren, gairah hidup Sakura mengawang entah ke mana. Emerlad miliknya menatap kosong ke arah Kakasih sensei yang telah selesai dari cuti nikahnya. Sinar Sang Emerlad meredup.

Sakura tahu, ia tak secantik Ino dengan segala gimik ke-berbie-annya. Sakura juga tidaklah selembut Hinata dengan auranya yang kuat. Sakura hanya Sakura. Gadis biasa yang bagaimapun ingin terlihat cantik di depan pangeran pujaannya. Dan kejadian kemaren itu cukup membuat mood untuk pergi ke Akatsuki-nya langsung turun ke level terbawah.

Apa yang harus ia lakukan ketika bertemu dengan Sasuke sensei nanti?

Bagaimana reaksi Sasuke sensei nanti?

Apa Sasuke akan menatap Sakura dengan pandangan aneh?

Haih...

Cukup dengan sikap dingin pria itu. Jangan lagi pandangan aneh.

Haah...

Kalau begini, kesempatan Sakura untuk bersanding dengan sensei-nya itu menjadi mustahil.

"Hoy."

Sakura segera melempar apa saja yang berada di jangkauan tangannya ketika suara melengking itu menyapa gendang telinganya.

"Aw!"

Sebuah senyum kemenangan terlukis di wajahnya. "Pig."

Sambil menggerutu Ino kembali melepar kamus bahasa Jepang Sakura yang tadi terlempar ke arahnya kembali ke arah pemiliknya. "Kau kira berat kamus mu itu seringan kapas, apa."

Sakura mengangkat bahunya acuh.

"Oh iya." Ino menggeser kursinya mendekati meja Sakura yang berada di belakangnya. "Besok aku dan Hinata mau keluar. Kau ikut?"

"Terserah."

.

.

.

Dan di sinilah Sakura. Di depan pintu kaca gedung instansi dalam bidang perlesan bernama Akatsuki. Setelah menarik ulur nafasnya, Sakura pun memberanikan diri masuk ke dalam gedung itu.

Di setiap langkah kakinya Sakura merasakan degup jantungnya yang menggila. Di kepalanya berseliweran kalimat dengan awalan 'bagaimana kalau' yang membuat hantinya ketar-ketir tak karuan.

Oke. Sekarang mantapkanlah hatimu, Sakura. Apapun yang akan terjadi, terjadilah. Kau harus berfikir secara dewasa sekarang.

Detak jantung milik Sakura semakin menggila ketika ia mendudukan dirinya di kursi yang berada tepat di depan meja guru. Beberapa kali Sakura berusaha untuk menelan salivanya agar rasa gugup yang menggigit tenggorokannya berkurang.

Detik-detik berlalu tanpa berhasil mengurangi rasa gerogi Sakura. Dan ketika satu persatu kursi di kelas ini mulai penuh, saat itulah Sakura menyadari satu hal.

Kok kelas ini terasa lebih ramai, ya?

Apa mungkin para predator cinta Sasuke sensei kembali lagi ke kelas ini?

Haih...

Dasar para wanita yang tidak konsisten.

Sebentar-sebentar Sasuke sensei.

Sebentar-sebentar Gaara sensei.

Dasar labil.

Dan rasa gugup Sakurapun tergantikan dengan ekspresi bingung ketika Ino, sahabat pirangnya datang dengan ekspresi yang sama dengan miliknya.

"Loh, pig. Kenapa kau ada di sini?" Oke. Sakura mulai berfikir yang iya-iya, kalau sahabat pirangnya ini hendak menikungnya, dan memiliki hasrat terpendam untuk menjadikan sensei idaman Sakura itu sebagai hak milik gadis pirang itu seorang.

"Akulah yang seharusnya bertanya seperti itu, forehead. Kenapa kau ada di sini?" Dan Sakurapun memiliki firasat buruk ketika mendengar nada serius Ino. "Inikan kelasnya Gaara sensei."

"Eh?"

Oke. Tolong kubur Sakura saat ini juga. Mungkin karena rasa gugupnya yang over, Sakura sampai salah kelas begini. "Aw. Aku salah kelas. Kalau gitu aku mau masuk kelasku dulu, sebentar lagi masuk." Dengan ringisan pedih yang terpahat jelas di wajah Sakura, gadis pink itupun melangkah menjauhi Ino

"Tunggu." Ino menangkap salah satu pergelangan Sakura. "Kau tidak... Gila, kan?"

What the...

Dengan kesal Sakura menghentakkan pegangan Ino di tangannya. "Apaan sih." Sakura melempar tatapan tertajamnya pada Ino.

Ino mengangat bahunya acuh. "Yah.. Kali aja gitu kamu setres karena keluarnya Sasuke sensei dari Akatsuki."

Say what?

"Apa?"

Ino menatap Sakura bingung. "Loh, kau tidak tahu? Sasuke sensei resmi keluar hari ini. Karena itu, kelas ini jadi milik Gaara sensei. Kelas Gaara sensei yang lama ada perbaikan AC. Di sana panas. Gila aja kalau kami har..."

Sakura tak lagi mendengar perkataan Ino. Kepala Sakura terasa berputar.

Tidak.

Ini tidak boleh terjadi.

.

.

.

.

Please call 911.

Ini kondisi yang gawat darurat. Tolong panggilkan pemadam kebakaran, ambulans, atau kalau perlu tolong panggilkan Densus 88.

Sakura. Si Gadis pink a.k.a pemeran utama kita sedang dalam kondisi hati yang tidak baik. Sejak dua pekan yang lalu, gadis ini tak lagi memiliki antusiasme dengan euforia meluap-luap ketika ia hendak pergi ke Akatsuki. Bahkan ia sering kali bolos dan terdampar di kamar Ino selama berjam-jam untuk mengelabui Sang Bunda dan Ayahanda tercinta.

Tapi, selihai-lihainya orang dalam menyembunyikan bangkai, pasti akan tercium juga. Padahal Sakura sudah menyimpan bangkai itu di dalam tanah, tapi Sang Ibu tercinta tetap mengetahui belangnya. Atau singkatnya, Sang Ibu mengetahui kedoknya selama ini.

Jadilah Sakura kena marah selama berjam-jam di ruang tv dengan kepala tertunduk sambil bersimpuh di lantai yang dingin.

Ibunya mulai berbicara tentang masalah sekolahnya, sampai ke masalah keuangan keluarga.

Dan saat itulah Sakura tahu, kalau keuangan orang tuanya sedang mengalami kerisis besar-besaran.

Dan...

Sakura merasa menjadi anak yang luar biasa durhaka dengan bolos selama dua pekan dari Akatsuki. Kedua orang tua Sakura sedang berusaha menstabilkan keuangan keluarga mereka, dan tindakan Salura yang membolos dari Akatsuki sama saja dengan membakar uang kertas satu koper penuh tepat di hadapan orang tua Sakura. Dan Sakura tahu, instansi perlesan seperti Akatsuki itu bukanlah instasi biasa, selain hasil yang maksimal mereka juga butuh bahan bakar yang maksimal juga. Uang bulanan yang harus kedua orang tua Sakura setor itu hampir separuh dari gaji ayahnya yang pekerja kantoran biasa.

Sakura dilema.

Apa... Sakura berhenti saja dari Akatsuki?

Lagi pula...

Sasuke-sensei pujaannya sudah tidak ada lagi di sana. Dan lagi...

Sakura menatap ibunya yang tengah memarahinya dengan mata yang hampir keluar.

Sebagai bagian dari daging Ibunya, Sakura paham. Kemarahan Ibunya ini hanyalah temeng untuk membendung tangisan wanita paruh baya ini.

"Ibu..."

Ini adalah kata pertama yang keluar dari bibir Sakura sejak ia bersimpuh di lantai ruang tv yang dingin.

"Berhentikan saja aku dari Akatsuki."

.

.

.

Ino menatap simpatik Sahabat karibnya dan memberikan beberapa tepukan halus di pundak Sakura. Sebagai sahabat Sakura sejak mereka masih di taman kanak-kanak, Ino cukup paham tentang kehidupan Sakura. Selain kisah percintaan yang terkadang seret, Sakura termasuk gadis yang memiliki peruntungan yang buruk dalam hampir segala hal.

Terlebih Sakura itu anak tunggal di keluarga kecilnya. Apa-apa saja yang bururusan keluarga pasti terlempar ke arahnya. Yah... Ino cukup mengetahui sifat kedua orang tua Sakura yang begitu menyayangi anak semata wayang mereka. Jadi, mereka tidak akan tega membagi beban mereka ke pundak rapuh Sakura.

Tapi, jangan sebut Ino sebagai sahabat karib Sakura kalau ia tidak tahu menahu tentang tabiat Sakura. Gadis itu pasti akan melakukan segala cara agar kedua orang tuanya tak lagi menanggung beban kehidupannya.

Dan Ino masih belum percaya ketika kemaren malam Sakura bercerita padanya via telpon, kalau Sakura akan melupakan Sasuke-sensei pujaannya dan keluar dari Akatsuki. Ino bahkan memerlukan waktu sepersekian detik untuk mencerna perkataan Sakura. Dan berakhir dengan celotehan panjang Ino tentang the power of love yang akan mempersatukan Sakura dan pangeran kuda putihnya di akhir cerita mengenaskan ini.

Sebelum sambungan telpon mereka bernar-benar terputus, Ino sempat mengucapkan sepatah kalimat yang mungkin terdengar klise, tapi kalau menilik sitkon yang ada sekarang sih... Sakura butuh kalimat pendorong itu.

"Say, badai akan berlalu. Jadi, yang tabah ya. Jodoh gak akan ke mana kok."

Dan sambungan itu terputus.

Haih.

Masih terekam jelas di kepala Ino. Sebagai sahabat zaman bahorok Sakura, Ino sempat melongo Ketika suatu pagi gadis itu bercerita di belakang kelas mereka kalau gadis itu memiliki ketertarikan dengan seorang pemuda yang lebih dewasa dari mereka.

Bahkan Ino sampai membuat notifikasi tersindiri di kalender ponselnya untuk hari bersejarah itu. Hari di mana sahabat pink-nya itu jatuh cinta. Dan hari ini juga, Ino membuat notifikasi baru di kalendernya, hari di mana sahabatnya harus merelakan cinta pertamanya.

Haih.

Tak ada yang bisa menerka alur kehidupan manusia, bukan?

.

.

.

Sakura segera melangkahkan kakinya menuju Sang Bunda Tercinta berada kala beliau memanggil namanya.

Sakura sudah bertekad, kalau dia akan menjadi anak baik kedepannya. Ia bukan lagi anak sekolah menengah pertama yang masih berpangku tangan pada orang tua. Cukup dengan segala keteledorannya yang ia lakukan dalam kurun waktu beberapa jam yang lalu. Ia tak mau lagi membuat kedua orang tuanya pusing untuk menghidupinya.

"Kau sedang sakit?" Sakura hanya menampilkan senyum terbaiknya kala Sang Bunda menanyai keadaannya. "Kurasa kau benar-benar sakit. Tapi, kalau sakit ini membuat mu jadi tambah rajin, sering-sering lah sakit seperti ini."

Sakura meringis mendengar kalimat terakhir Sang Bunda. Setelah mengambil pakaian yang telah dibungkus rapi di dalam kertas bening serta alamat lengkap tujuannya, Sakura segera berangkat menunaikan tugasnya.

Sakura mengayuh sepedahnya dengan semangat. Walau panas matahari teramat menyengat kulitnya, senyum cerahnya masih setia berpendar.

.

.

.

Kalian tahu alasan Ino memanggilnya jidat atau forehead?

Alasannya cukup sederhana.

Karena Sakura memiliki dahi yang ukhuk-lebar-ukhuk. Dan kelebihan Sakura ini malah dijadikan sebagai icon gadis merah muda ini.

Hell yeah.

Sakura benci itu.

Dan sayangnya, untuk situasi saat ini, Sakura mencoba mengabaikan segala spekulasi tentang dirinya yang dibuat oleh Ino.

Dan -amit-amit-jangan-sampai-Ino-memergokinya- menurut gadis pirang itu, ekspresi Sakura saat ini akan membuat daun muda yang mendekat akan menjauhi mereka. Yah... Saat itu, Sakura sedang mengkerut melihat Ino yang sedang melancarkan serangannya ke arah daun muda yang tak sengaja lewat di depan koridor kelas mereka. Sakura bersumpah demi hidupnya bahwa Sakura tidak ikutan tebar pesona kala itu. Saat itu dahi Sakura mengkerut dalam yang membuat dahi lebarnya dipenuhi keruta dalam.

Dan kini, Sakura terpaksa memakai ekspresi yang sebenarnya ingin ia bumi hanguskan dari wajahnya itu. Tapi... Untuk saat ini sepertinya tidak bisa.

Sakura menatap horor plang nama keluarga yang berada di tembok pagar sebuah rumah mewah yang tak bisa Sakura jabarkan dengan kata-kata.

Uchiha.

Dan hanya ada satu keluarga bermarga Uchiha di kota ini.

Glek.

Sakura menatap ragu bingkisan plastik yang ada di pelukannya.

Haih... Apa yang harus Sakura lakukan? Beberapa hari belakangan ini bisa dibilang ia telah -lumayan- berhasil menata kembali hatinya, dan memasukkan nama Uchiha ke dalam daftar nama manusia yang harus ia hindari.

Sakura berjengit kaget ketika sebuah tepukan pelan bersarang di salah satu bahunya. Refleks Sakura membalikkan badannya, menatap Sang Pelaku yang hampir membuatnya merasakan heart attack ringan.

"Hn."

Kedua bola mata Sakura membulat kaget.

"Anda?!"

Dia kan... Dia kan orang yang menabrak Sakura tempo hari. Orang yang menyebabkan pertemuan terakhir Sakura dengan Sasuke sensei pujaannya hancur total.

"Aa, Haruno." Pria berambut hitam panjang klimis berkucir itu menatapnya datar. "Ini."

Sakura mengernyit lagi ketika melihat beberapa lembaran kertas berwarna hijau ke depan mukanya. Sakura menyerahkan bingkisan yang sedari tadi ia peluk ke arah pria tanpa ekspresi di depannya ini, dan terjadilah transaksi jual beli antara pria itu dan Sakura. Apa pria yang ada di hadapannya ini termasuk keluarga Uchiha? Apa semua Uchiha memiliki wajah tanpa ekspresi? Bahkan Sakura mulai menebak-nebak, di mana kiranya para manusia berdarah Uchiha itu membuang ekspresi mereka. Yah, mungkin Sakura akan mengikuti jejak mereka dengan membuang ekspresi laknat yang selalu membuat Ino mengeluarkan ultimatum panjangnya tentang kecantikan seorang wanita.

Sakura ber-ojigi dengan kaku ketika pria di hadapannya melakukan hal yang sama ke padanya, dan setelahnya pria itu masuk ke dalam gerbang rumah itu.

Sakura kembali mengernyit ketika menyadari keabsenan seorang satpam di rumah mewah itu. Rumah mewah tanpa satpam itu... Sedikit aneh. Setelah mengangkat bahunya acuh, gadis itu menaiki sepedahnya.

Hah. Pagi hari indah.

"Cekiiiittt."

"Eh?"

Sakura segera membanting stir sepedanya ketika sebuah tangan menghentikan laju sepedanya.

"EH?!"

Dan Sakura lebih terkejut lagi ketika ia melihat siapa pelakunya.

.

.

.

Sakura menyelipkan rambutnya ke belakang telinganya gugup. Bulu kuduknya meremang ketika pria di sampingnya ini mengulum senyum anehnya, lagi. Sakura tak habis pikir dengan pria ini. Bukankah tadi ia terlihat begitu cuek dengan kehadiran Sakura di depan rumahnya. Tapi kenapa sekarang malah...

Sakura kembali melemparkan wajahnya ke arah jendela mobil sport mewah ini. Bahkan selama di perjalanan mereka, Sakura merasa minder berada di dalam mobil ini.

"Sampai."

Sakura kembali bergidik ngeri ketika mangkap nada ceria plus menggoda dari pria yang duduk di sampingnya ini.

Dengan gerakan kaku Sakura menatap Sang Pemilik mobil lalu ber-ojigi rendah. "Terimakasih." Setelah mengatakan kalimat itu, Sakura segera keluar mobil ini dan segera masuk ke dalam rumahnya.

Horor.

Asli.

Segila-gilanya Sakura terhadap Sasuke sensei-nya, Sakura bukanlah penggila keluarga Uchiha yang akan menggilas semua pria berdarah Uchiha. Sekalipun Sakura merupakan salah satu aktivis Anti Daun Muda, bukan berarti Sakura menyukai semua pria yang umurnya di atas rata-rata. Terlebih pria yang mengantarnya pulang tadi. Kalau mengingat perubahan ekspresi pria itu yang drastis selalu berhasil membuat bulu roma Sakura berdiri berkali-kali.

Sakura menghela nafasnya pelan ketika mengingat sepedahnya yang masih berada di halaman rumah Uchiha. Tadi ketika pria yang mengaku bernama Itachi itu menahan laju sepedahnya dengan memegang jok belakang sepedahnya, Sakura yang saat itu kaget langsung membanting stirnya dan... Yeah.. you know lah ya.

Dan yang membuat Sakura lebih kaget lagi adalah ketika Itachi datang dengan sebuah cengiran penuh di wajahnya. Satu pertanyaan yang muncul di kepala Sakura. Kemana perginya ekspresi dingin nan datar pria yang memiliki garis keriput di sisi-sisi wajahnya itu?

Beruntungnya Sakura tidak langsung melempar sendal jepitnya ketika pria itu menawarkan tumpangan pada Sakura karena merasa bersalah pada stir sepedah Sakura yang bengkok, lagi.

Ada apa gerangan di balik judul?

Pada awalnya Sakura menolak mentah-mentah. Mana ada orang yang tidak dikenal yang bertingkah seperti itu dan dapat bersikap sederatis itu dalam kurun waktu sepersekian detik.

Atau jangan-jangan, pria yang baru saja menancap gasnya pergi dari depan rumah Sakura tadi adalah orang yang berbeda dengan pria yang melakukan transaksi jual beli dengan Sakura ketika berada di depan kediaman Uchiha tadi?

Sakura baru saja menghempaskan tubuhnya di atas kasur miliknya ketika suara merdu Sang Bunda Tercinta meneriakkan namanya.

Haih.

Baru saja Sakura hendak merilekskan otot-otot punggungnya yang tegang. Dengan langkah malas dan wajah ditekuk Sakura berjalan menuju asal suara Sang Bunda.

"Ada telpon untuk mu." Wanita paruh baya itu menyerahkan ganggang telpon rumah yang berwarna putih itu tepat di depan hidung mungil Sakura. "Laki-laki," Sakura merotasikan bola matanya ketika menangkap nada menggoda Sang Bunda.

"Moshi moshi,"

"Hn."

Tubuh Sakura menegang ketika mendengar suara yang berada di sebrang sana.

Jangan bilang kalau ...

"Sasuke... Sensei?"

Jeda beberapa detik.

"Hn."

Sakura merasakan punggungnya tersiram air dingin. Haduh. Bukankah kemarin Sakura bertekad untuk melupakan sensei-nya yang satu ini. Kenapa sekarang sensei-nya itu malah menelponnya? Dan lagi, dari mana sensei-nya itu tahu nomor telpon rumahnya?

"A... Ada apa sen... sensei?"

Hell yeah.

Sakura bahkan tak bisa mengatasi rasa gugup yang menggerogoti lehernya. Beberapa hari belakangan ini dirinya memang tak pernah bertatap muka dengan sensei tercintanya ini lagi. Dan ketika mendengar suaranya yang terasa begitu dekat bahkan lebih dekat dari urat nadi di lehernya sendiri ini... Sakura malah merasa melayang untuk beberapa alasan.

"Hanya memastikan mu sampai di rumah." Sakura menahan nafasnya ketika mendengar helaan nafas berat di sebrang sana. "Baiklah. Aku tutup telponnya. Jaa."

Dengan perlahan Sakura meletakkan ganggang telpon rumahnya ke tempatnya sedia kala.

Bloody hell.

Boleh Sakura teriak sekarang?

"Mmpphhhhhh!?"

Dengan menggunakan sebelah tangannya, Sakura menutup bibirnya rapat-rapat ketika rasa membuncah itu tak lagi bisa ia tahan. Dengan langkah seringan kapas Sakura berlari-lari kecil ke arah kamarnya. Setelah memastikan pintu kamarnya terkunci, Sakura langsung menatap cermin besar di dinding kamarnya. Menatap ekspresi aneh yang tercetak di wajahnya.

Haduh.

Kalau begini Sakura jadi tidak bisa berhenti berharap kan?

.

.

.

Setiap orang yang jatuh cinta pasti pernah melakukan hal konyol dalam mengekspresikan cintanya.

Aku menjamin kalimat di atas dengan telingaku.

.

.

.

TBC

.

.

.

Kenapa alurnya jadi kecepetan gini -_-

Well, ini di luar perkiraanku. Awalnya aku kepengen ngebuat twoshot, tapi idenya malah belum sampai ke ending-nya -_- Jadi, chapter ini akhirnya aku bagi jadi dua.

Dan yah... Ini udah lewat dua bulan dari deadline yang aku buat sendiri. *dikeroyok reader*

Ada banyak alasan kenapa aku telat updet fict ini. :v

Dan saya ucapkan terimakasih banyak untuk para reviewer yang telah mereview fanfict ini *peluk satu-satu*.

Balasan rivew chapter kemarin ^_^

BLACK 'SS' PEARL : hehehe. Tapi janji ye di chapter depan diaca *acung golok*

Shinohara Akari : Ini udah chapter dua ^_^ Maaf kalau mengecewakan orz

Shienchan : *tos* hahaha *ketawa setan* setiap hal di dunia ini selalu ada pro dan kontranya. Terimakasih sudah mereview (y)

Onii Ky : Huwahahaha :v ini baru fict pembukaan. Entar kalau ni fict tamat, ane mau buat fict yang agak berat *peluk* yang sabar ye mbak bro :p

dorii : etdah Jhe. Komenan elu paling panjang ;v *peluk* temen elu mirip sama 'beberapa' temen sekolah ane -_- Oh ya ampun. Ada apa dengan dunia ini?

Kumada Chiyu : Terimakasi entah deh ini cerita bakalan menarik atau enggak ke depannya. Tapi saya usahakan ini cerita jadi menarik *ojigi* orz

ReginaIsMe16 : Nyiahahaha :v daun hampir kering? Aduduh. Ati-ati loh, entar Si Pantat Ayam datang :v

Taxl : Please, jangan panggil gue dengan sebutan itu -_- hiks. Itulah dia, saya pengen nyoba hal baru dan memperhalus gaya kepenulisan ff saya. Tapi entahlah ya, ini berhasil atau tidak *peluk Tesa* Oh iye, expefic teh naon? Di google kok kagak ada ya?*katrok*

Floral White : *cengo* ukhuk. Rasanya itu... BAHAGIA BANGET. Asli. Biasanya saya hanya ngebaca fictnya kakak, eh sekarang kakak ngereview fict saya? Kira-kira kemaren aku mimpi apa ya? *mikir cantik*. Hehehe, terimakasih kak ^_^9

elqykun : Buat temen ane yang kehilangan accountnya *peluk* Nyiahahaha. Makannya Tami... Password itu dihapal *senyum setan* Kasih tahu gak ya... Hehehe, yang jelas Sasuke udah jadi guru les kan?

vanny-chan : Iya, salam kenal juga ^_^ Eh? Bukan, bukan. Ini bukan Sakura VOP. Ini sudut pandang orang ketiga serba tahu, cuman yang diceritain di sini emang kebanyakan Sakura sih ;v Oke boss ^_^

Ifahara : Yosh! Semangat ^_^

Namikase Kushina : Oke boss ^_^

CrimsonEmerlad : Terimakasih senpai *ojigi* hehehe. Typo ini emang udah melekat dengan diri saya. Tapi saya usahain untuk meminimalisir ke-typo-an ini *apa dah*. Saya juga setuju banget loh sama Sakura :v

SinHye : Terimakasih ^_^ Hiks. Maaf mengecewakan kamu, updetnya ampe lumutan begini :'(

Refunny : Kasih tahu gak yaaaa... *senyum tengil* hehehe, yang jelas Sasuke udah jadi guru les di Akatsukti kan? Oke bos. Saya usahain updet cepet ^_^

Lhylia Kiryu : Hahahaha. Untuk yang satu itu emang diambil dari pengalaman pribadi saya *ups* Oke boss ^_^

HN : Daun Mudanya? Sai sama Naruto *senyum jahil*. Hehehe. Yang jelas di sini Daun Muda sebagai topik pembicaraan atau temanya ^_^ *sok misterius*

Akhir kata, sampai jumpa di chapter terakhir ^_^/

Dan saya usahakan publish as soon as posible. Peluk cium untuk kalian semua :*

Regards.

Elni.

Edited