DISCLAIMER: I do not own Detective Conan. Characters are belong to Gosho Aoyama

Part 1

White Hallway

Lorong-lorong rumah sakit terasa begitu lengang. Dinding nya yang putih seolah tidak mau bersikap ramah kepada orang di sekelilingnya. Kursi-kursi yang bersandar di dinding kosong, tak seorang pun duduk di sana. Mereka semua berdiri, beberapa menatap ragu pintu ruang operasi yang berada di ujung lorong. Beberapa dari mereka tertunduk, sambil berkali-kali menghirup napas panjang.

"Kudo-kun…" ucap wanita itu dengan sangat pelan. Sebelah tangannya menyentuh bahu Shinichi dengan lembut. Mereka berdua berdiri di dekat pintu yang sedari tadi tidak kunjung terbuka. Shinichi tidak menjawab panggilan wanita di sampingnya, dia hanya menundukkan kepalanya dalam-dalam, berusaha menenangkan hatinya.

Melihat Shinichi yang tidak menanggapi dirinya, wanita itu melepaskan tangannya dari pundak Shinichi. Ditatapnya wajah Shinichi, lalu wajah-wajah lain yang ekspresinya hampir bahkan sama persis dengan wajah Shinichi yang dilihatnya kali ini. Semuanya, Eri, Kogoro, Agasa, bahkan para polisi yang selalu sedia bertugas. Wanita itu kembali menarik napas dalam-dalam, berusaha tetap menjaga kejernihan akalnya. Dia sangat paham bahwa di saat-saat seperti ini kebanyakan orang akan merasa panik dan tidak mampu berpikir panjang. Bahkan bagi seorang Shinichi Kudo, bahkan bisa saja jika saat ini dia diberikan teka teki yang paling mudah sekali pun, dia tidak akan bisa menyelesaikannya seperti biasa.

Namun, semakin lama dia berusaha untuk tenang, semakin dia merasa bahwa berpikir panjang pun tidak akan dibutuhkan pada saat-saat seperti ini.

Wanita itu kembali memandang Shinichi melalui sudut matanya dan kini dilihatnya Shinichi mengepalkan tinju kanannya erat-erat. Shinichi memejamkan matanya dan menggeretakkan giginya, seolah dia merasakan sakit yang amat sangat, mungkin hampir sama dengan rasa sakit ketika tubuhnya akan mengecil atau kembali seperti semula. Tidak, bahkan lebih sakit dari itu. Dia ingat betul bagaimana semuanya terjadi. Malam yang gelap, bangunan usang yang sudah tidak terpakai, ruangan yang pengap dengan dinding dan lantai yang dingin, dan semua orang yang menjadi saksi ketegangan malam itu.

Mereka bersembunyi di balik dinding, pintu, ataupun di selasar-selasar tangga. Beberapa dari mereka tetap berada di luar gedung dan bersembunyi di tempat parkir, ataupun di balik bayang-bayang pohon. Mereka saling mencari kesempatan untuk menjatuhkan sama lain, mencari bayang-bayang musuh di balik bayang-bayang sendiri. Telinga dan mata mereka difungsikan dengan maksimal agar mereka tetap bisa melihat dan mendengar paling tidak dalam satu hari ke depan. Mereka semua memegang senjata masing-masing, entah itu revolver, pistol, rifle ataupun senapan. Sel-sel otak mereka sudah diset terhadap suara-suara mencurigakan dan segera berbalik menyerang untuk mempertahankan hidup mereka.

Namun, terkadang kewaspadaan itu justru berbalik menyerang diri sendiri.

Shinichi masih ingat bagaimana dia mendengar suara langkah dari belakang dan dia melihat sesuatu yang mengejutkan saat dia berbalik.

"Ran…"

Di depannya berdiri sosok yang sudah lama dikejarnya, sosok yang selalu membuat jantungnya berdetak dua kali lebih cepat karena rasa takut. Ya, rambut perak panjang dan tubuh yang tinggi itu…Gin! Tangan kanannya memegang leher Ran, tidak, mungkin hampir mencekiknya, sementara tangan kirinya yang berbahaya itu memegang sebuah pistol yang entah sudah berapa kali menembakkan peluru untuk mencabut nyawa manusia dan diarahkan ke pelipis Ran. Shinichi melihat tangan Ran yang diikat dengan tali. Dia bisa melihat bekas gesekan tali yang membuat pergelangan tangannya lecet dan berdarah walaupun tidak parah. Melihat semua itu, Shinichi merasakan darahnya mendidih dan bergejolak. Ingin rasanya dia segera menembakkan pistol yang ada di tangannya ke arah pembunuh berdarah dingin yang berdiri di depannya itu, jika dia tidak ingat tentang mulut pistol yang menempel di pelipis teman masa kecilnya itu.

"Lepaskan dia, Gin…" ucap Shinichi dengan suaranya yang sedikit bergetar karena menahan amarah. Tenang, Shinichi, jangan sampai melakukan hal yang sembrono…

"Heh, kalau aku melepaskannya sekarang, kenapa aku harus susah-susah mencari dan menangkapnya?" jawab Gin dengan nada dinginnya yang seperti biasa.

"Shin-ukh!" Gin mempererat cengkeramannya pada leher Ran.

"Jangan sakiti Ran!" teriak Shinichi berlari ke depan beberapa langkah.

"Eits, maju beberapa langkah lagi, kau akan mengucapkan selamat tinggal pada kekasihmu ini," Gin menarik pelatuk pistolnya dan menekan mulut pistol ke pelipis Ran.

Ran!

"Apa yang kau inginkan!?" teriak Shinichi.

"Hei, tidak perlu berteriak seperti itu. Mudah saja, tarik mundur semua orang yang kau bawa ke sini dan kita selesaikan ini semua dengan baik-baik. Walaupun sebenarnya aku tidak suka cara pengecut dengan lari seperti itu."

"Sejak awal kalian memang sudah menggunakan cara pengecut, lalu kenapa harus malu menggunakannya sekarang?"

"Sebaiknya kau jaga kata-katamu kalau kau masih ingin bertemu dengan teman wanitamu ini. Nah, sekarang jatuhkan pistolmu," perintah Gin dengan senyum yang mengerikan. Shinichi belum bergerak, dia masih terus menatap mata Gin dengan penuh kebencian.

"Jatuhkan pistolmu!" bentak Gin. Akhirnya Shinichi menurunkan tangannya dan melepaskan pistol di tangannya.

"Sekarang ambil transceiver yang ada di kantong bajumu itu, dan katakan kepada semua orang untuk mundur."

"Jangan, Shinichi…" rintih Ran dari balik cengkeraman Gin.

"Cepat!"

Perlahan tangan Shinichi meraih saku blazer hitamnya dan mengeluarkan sebuah transceiver dari dalamnya. Didekatkannya transceiver itu ke mulutnya dan ditekannya sebuah tombol.

"Di sini Shinchi, penggantian rencana…" ucap Shinchi dengan suara pelan.

Gin tersenyum lebar.

"Tarik semua—"

DOR!!

Sebuah pistol terlempar dan darah menetes di atas lantai.

"Lari, RAN!" teriak Shinichi. Ran yang bingung dengan apa yang terjadi, menyadari bahwa orang yang sedari tadi menahannya kini telah tertunduk dengan memegang sebelah tangannya yang berdarah, segera berlari menjauh dari tempat yang hampir menjadi tempat terakhirnya itu.

"Bocah detektif sialan…" geramnya sambil terus memegang tangan kirinya yang kini telah mengeluarkan darah sangat banyak.

"—Kuulangi, tarik semua anggota mereka, jangan biarkan satu pun tersisa!!" tegas Shinichi lalu mematikan dan memasukkan kembali transceivernya ke dalam saku.

"Huh, tidak kusangka kau bisa bergerak secepat itu…" kini Gin berusaha menegakkan kembali tubuhnya. Tangannya masih terus mengeluarkan darah.

"Ya, aku berlatih keras untuk berjaga-jaga jika situasi seperti tadi terjadi."

"Hoo, jadi kau sudah memperkirakan semua hal yang kemungkinan besar akan terjadi?"

"Daripada membahas itu, lebih baik kau menyerah Gin. Aku yakin, semua rekan-rekanmu sudah diamankan di bawah…"

"Jangan mengabaikan perkataanku. Walau sehebat apa pun kau bukanlah Tuhan yang dapat memprediksi semua hal.."

"Heh?"

"—Mati..!"

"KUDO-KUN!!"

DOR!!!

To be Continued