DISCLAIMER: I do not own Detective Conan. Characters are belong to Gosho Aoyama
Part 2
Astonishment
"KUDO-KUN!!"
DOR!!
Suara pistol itu membuat Shinichi tersentak dan ia dapat merasakan tubuhnya terjatuh ke samping dengan keras karena kehilangan keseimbangan. Ia memejamkan matanya, berusaha menahan rasa sakit pada tubuhnya, tetapi…tidak, dia tidak merasakan apa pun! Tubuhnya tidak terasa sakit sama sekali, kecuali rasa sakit karena terjatuh. Tapi, bukan itu! Dia tidak merasakan rasa sakit sebagaimana seseorang yang tertembak peluru pistol. Dia malah merasakan sesuatu yang menimpa dan menahan tubuhnya. Shinichi membuka matanya dengan cepat, dan dia melihat warna cokelat kemerahan yang familiar di matanya. Diingatnya lagi suara yang memanggilnya tadi. Suara itu…
"Haibara…" Shinichi meraih kedua lengan atas temannya itu tanpa beranjak duduk sedikit pun. Dia masih belum bisa menghilangkan rasa terkejutnya karena kejadian yang terjadi dengan begitu cepatnya.
"Sudah berapa kali kubilang," wanita itu mengangkat kepalanya perlahan. "…panggil aku Shiho." Shinichi melihat senyuman yang lemah di depan wajahnya.
Baru saja Shinichi mengambil posisi duduk dan mendorong Shiho dari atas tubuhnya, sebuah suara 'klik' terdengar dari balik kepala Shiho. Shinichi mengangkat kepalanya dan melihat orang yang telah menembakkan peluru pistol itu beberapa menit yang lalu.
"Vodka!?"
"Cukup untuk semua adegan lovey-dovey ini…Sherry, aku tak menyangka kau akan melempar tubuhmu untuk menyelamatkan bocah detektif ini. Di mana kau saat itu? Aku tidak melihatmu sama sekali," ucap Vodka masih mengarahkan pistolnya ke kepala Shiho.
"Heh, aku hanya kebetulan berada di luar ruangan saat aku melihatmu dari balik cermin yang ada di sudut ruangan sana. Aku melihatmu dengan pistol di tangan yang kau arahkan ke kepala Kudo…untunglah cermin itu cukup besar sehingga aku bisa melihat semuanya dengan cukup jelas," jawab Shiho dengan nada dinginnya seperti biasa sebelum akhirnya merintih pelan dan memegan lengan kanannya. Shinichi yang menyadari itu segera melempar pandangannya ke lengan Shiho. Di lihatnya blazer cokelat yang dikenakan Shiho telah berlubang dan mengeluarkan darah dari dalamnya. Dia baru sadar bahwa tangannya yang tadi menahan lengan Shiho juga telah merah terkena darahnya yang segar.
"Haibara, kau…" Shinichi melonggarkan genggamannya pada lengan Shiho, tidak bermaksud untuk membuatnya merasa lebih sakit.
"Ternyata tembakanku tidak sepenuhnya sia-sia," Vodka berkata dengan nada mengejek. Shinichi mengangkat kepalanya lagi dan melihat wajah Vodka yang benar-benar membuatnya muak.
"Vodka, seharusnya kau bisa melobangi kepala wanita pengkhianat itu," sebuah suara mendekat dari belakang Shinichi diikuti dengan suara langkah dari sepatu berhak rendah yang biasa dipakainya. Shinichi menoleh dan melihat Gin berjalan mendekatinya.
"Maaf, Kak, karena sejak awal wanita ini bukanlah target peluruku."
"Tidak masalah, karena aku lah—" Gin mengarahkan pistolnya ke kepala Shinichi dan tersenyum sinis, "—yang akan melobangi kepalanya dan kepala detektif ingusan ini."
Gin menarik pelatuk pistolnya dengan pelan, seolah dia sangat menikmati saat-saat seperti ini. Situasi saat dia bisa melihat dengan jelas ketakutan dan kebencian yang ada di dalam mata orang-orang yang akan segera ia cabut nyawanya. Dia merasakan kesenangan dari dalam hatinya, hingga rasanya ia ingin tertawa terbahak-bahak. Ya, walaupun ini adalah orang-orang terakhir yang akan dibunuhnya, bagi dia itu bukanlah suatu masalah. Dia adalah malaikat pencabut nyawa yang bisa menggantikan kematian dengan kesenangan pribadi, walaupun itu berarti dia juga harus ikut mati.
Shinichi menggenggam kedua lengan wanita yang duduk di depannya dengan erat. Ditariknya tubuh teman seperjuangannya itu ke dalam pelukannya. Namun, kedua matanya masih terus menatap Gin, menatapnya dengan penuh kemarahan juga kebingungan. Dia sadar bahwa dia sudah tidak bisa kabur lagi. Terperangkap di keadaan seperti ini membuatnya merasa sangat kesal. Seandainya dia bisa meraih pistol yang ada di sampingnya dan menembakkannya ke arah Gin yang posisinya lebih dekat dengannya dibandingkan Vodka, tentu semuanya akan menjadi mudah. Tapi, tidak dengan sebuah mulut pistol yang menempel di balik kepala Shiho. Dia yakin, saat dia baru akan meraih pistol itu, maka saat itu nyawa wanita yang ada di pelukannya ini akan melayang, walau secepat apa pun gerakannya.
Shinichi memejamkan mata dan menundukkan kepalanya. Dia benci saat tahu bahwa dia akan kalah, namun dia lebih membenci keadaan saat orang lain juga harus ikut terluka karena dirinya. Ran, Haibara, seandainya…
DOR!!
Dia bisa menebaknya, suara itu bukan berasal dari belakang kepalanya, namun dari balik tubuh wanita di depannya dan dia bisa merasakan tubuh di dalam pelukannya telah melemah.
Giliranku…
Namun, dia tidak merasakan apa pun. Sebaliknya, dia malah mendengarkan suara sesuatu terjatuh. Shinichi segera membuka matanya, memastikan apa yang sebenarnya terjadi. Dan dilihatnya Vodka telah terjatuh dengan satu luka tembak tepat di kepalanya. Shinichi segera mengalihkan perhatiannya ke arah Shiho yang telah memejamkan matanya. Diraihnya sebelah pergelangan tangannya dan dia masih bisa merasakan denyut nadi dari baliknya.
Siapa!?
"Siapa di sana!?" Gin berteriak. Di arahkannya pistolnya ke seluruh penjuru ruangan. Mencari-cari sosok yang telah menjatuhkan partner kerjanya yang setia itu.
Tak lama kemudian, terdengar suara langkah perlahan yang semakin lama semakin terdengar jelas. Shinichi dan Gin sama-sama menolehkan kepalanya ke arah pintu yang ada di ujung ruangan itu dan seseorang yang tak pernah mereka kira pun muncul.
"Kau…" bisik Shinichi.
"—Vermouth?" Gin menyebut nama itu dengan suara yang hampir tidak terdengar. Vermouth dengan setelan hitam yang menempel ketat di tubuhnya tersenyum pelan. Sebelah tangannya memegang sebuah pistol. Dan di belakangnya, Shinichi dan Gin dapat melihat seseorang yang baru saja meninggalkan ruangan itu.
"Ran!" Shinichi memanggil gadis itu dengan suara yang cukup keras.
"Shinichi!" Ran segera berlari mendekati Shinichi, meninggalkan sosok Vermouth di belakang.
"A, apa yang terjadi? Apa yang kau lakukan, Ran?! Kenapa wanita itu ada di sini bersamamu?!" tanya Shinichi bertubi-tubi dengan wajah yang sangat cemas.
"A-aku bertemu dengannya saat aku berusaha melarikan diri. Dia memintaku untuk membawanya ke tempatmu berada…aku tidak bisa lari karena dia mengancamku dengan pistolnya," jelas Ran dengan suara yang bergetar. Shinichi menatap Ran lekat-lekat, tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
"Maaf, Angel," Vermouth berjalan beberapa langkah ke depan dan berhenti tepat di samping Ran yang telah berlutut di dekat Shinichi. "Aku tidak bermaksud menakutimu, karena jika tidak begitu kau tidak akan membawaku ke sini."
Vermouth menolehkan kepalanya dan melihat sosok yang ada di dalam pelukan Shinichi. "Berterimakasihlah, Cool Guy…paling tidak aku telah menyelamatkan nyawa Sherry."
"—Vermouth, apa yang kau lakukan?" tanya Gin dengan ekspresinya yang dingin, walau kedua matanya dengan jelas menunjukkan ketidakpercayaan. Dia menurunkan tangannya yang memegang pistol. "Sepertinya kau mulai tidak waras…"
"Sejak awal kita berdua memang tidak waras, Gin," jawab Vermouth. "Lebih tepatnya tidak ada yang waras di dunia ini."
"Apa maksudmu melakukan semua ini? Tiba-tiba muncul dan membunuh Vodka…apa yang ada di kepalamu yang penuh dengan rahasia itu?"
"Tidak ada, aku hanya melakukan apa yang seharusnya kulakukan, karena aku adalah orang yang tahu balas budi," Vermouth kembali maju beberapa langkah. Angin malam yang melewati bingkai-bingkai jendela yang tidak memiliki kaca itu, meniup rambut pirangnya yang halus dan indah. "Waktu kita sudah habis, Gin. Aku rasa sudah saatnya semua ini diakhiri."
"Apa maumu?" tanya Gin menahan rasa geramnya. Dia sudah muak dengan kelakuan wanita yang penuh rahasia ini.
"Begini saja," Vermouth mengeluarkan sesuatu dari saku setelan hitamnya, sebuah sapu tangan yang sudah terlihat usang.
"Itu!" Ran berseru, melihat sesuatu yang familiar baginya yang dipegang oleh Vermouth.
"Maaf, Angel, kupinjam sebentar—," ucapnya tanpa menolehkan kepala. "—Akan kukembalikan jika semuanya sudah selesai."
"Satu lawan satu," ucap Vermouth dengan penuh kepercayaan diri. "Saat sapu tangan ini menyentuh lantai, saat itulah kita menembak. Bagaimana? Adil, bukan?"
"Aku tidak mengerti jalan pikiranmu," Gin mengangkat pistolnya diikuti Vermouth yang melepaskan sapu tangan itu dari ibu jari dan telunjuknya.
"Satu-,"
"Tapi, jika itu keinginanmu…"
"—Dua,"
"…Aku akan melayaninya dengan senang hati," Gin tersenyum lebar.
"—Tiga!"
"…Vermouth!"
To be Continued
Writer's Note: Aah, chapter 2 selesai juga…tapi entah kenapa theme nya jadi menyimpang gini..malah jadi ke action, hahaha XD
Semoga chapter 3 akan lebih banyak romance nya..akan diusahakan :gomenne:
Sebenarnya sempat bingung, apakah ingin memunculkan Vermouth atau Akai di tengah-tengah cerita. Tapi, setelah dipikir-pikir, emosinya akan lebih terbawa kalau Vermouth yang dikeluarkan. Jadi, begitulah ceritanya.
Selain itu, di baris akhir ingin ditambahkan kata DOR! lagi, tapi tidak jadi. Dua chapter berturut-turut diakhiri dengan kata DOR! sepertinya akan mengerikan XD
Terima kasih yang sudah mau baca, Review nya ditunggu..arigatou gozaimasu~
