DISCLAIMER: I do not own Detective Conan. Characters are belong to Gosho Aoyama

Part 3

Understanding

"Kalian baik-baik saja?" tanya Vermouth sambil mendekati ketiga orang yang terduduk diam di ruangan itu.

"A-aku baik –baik saja," jawab Ran sambil memegangi kedua pergelangan tangannya yang lecet. "Hanya lecet sedikit…tapi kalau Shinichi dan—," Ran tidak melanjutkan ucapannya. Dia memperhatikan Shinichi yang masih diam tanpa menjawab pertanyaan Vermouth barusan.

"Cool guy?" Vermouth mengalihkan perhatiannya ke detektif muda yang masih memandangi sesosok tubuh yang terbaring beberapa meter darinya. Sepertinya pemuda itu masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Bagaimana semua hal terjadi hanya dalam waktu singkat dan tidak dapat diprediksi, termasuk kematian seseorang yang selama ini selalu menghantui nyawanya dan banyak orang. Ya, lelaki berambut perak itu terbaring di sana dengan sebuah pistol yang masih setia menemaninya hingga akhir di tangan kirinya yang kini sudah tidak mampu bergerak lagi. Darah segar mengalir dari dada kirinya dan merubah sebagian rambut peraknya yang indah itu menjadi berwarna merah. "Hey, Cool guy, are you and that girl alright?"

Shinichi tersadar dari lamunannya dan menemukan Vermouth memegang sebuah pistol yang menempel di dahinya.

"Kau berencana menghabisi semua orang yang ada di sini?" tanya Shinichi berusaha tetap tenang. Vermouth tersenyum mendengar tanggapan Shinichi dan menjauhkan pistol itu darinya.

"Tenang saja," Vermouth menyimpan pistol itu di sarung yang ditempelkan di pinggangnya. "Aku tidak ada niat sama sekali untuk membuat kalian menyusul Gin. Lagipula, aku sudah bilang sebelumnya, aku orang yang tahu balas budi."

"Tapi, kenapa…?" Ran bertanyadengan ragu-ragu. "Kenapa kau membunuh rekanmu sendiri?"

"Dia bukan rekanku," jawab Vermouth dingin. "Sejak awal kami hanya berada di dunia yang sama. Tidak ada alasan bagiku untuk membiarkannya hidup atau pun mati, namun aku tidak bisa diam saja melihatnya mengancam kehidupan orang yang pernah menyelamatkanku."

"Hanya itu saja? Kau yakin kau tidak memiliki niat yang lain?" tanya Shinichi menatap mata Vermouth dengan tajam.

"Itu hakmu untuk percaya atau tidak. Tapi, sejak awal aku memang tidak suka dengan cara Gin yang terlalu kasar. Lagipula dia selalu meragukan tindakanku yang dia katakan serba rahasia."

"Tapi, dengan apa yang kau lakukan sekarang ini, bukannya tidak mungkin kau juga akan dibunuh oleh pihak organisasi bukan?"

"Aku melakukan semua hal dengan sangat sadar dan penuh perhitungan, kau harus tahu itu. Selain itu, aku tidak berniat untuk mati dan menanggung semuanya sendirian. Aku bukan orang bodoh yang rela mati untuk melindungi organisasi yang sudah hampir jatuh ini."

"Maksudmu?" tanya Shinichi tidak mengerti dengan arah pembicaraan Vermouth.

"Cepat atau lambat, organisasi ini akan segera jatuh dan tidak akan ada satu pihak pun yang akan melindungi organisasi berbahaya seperti ini. Semua kegiatan kami akan dihentikan perlahan-lahan atau secara langsung dan aku yakin kekuatan yang selama ini kami bangun tidak akan ada apa-apanya jika dibandingkan dengan seluruh kekuatan yang akan melawan kami. Itulah mengapa aku berpikir tidak ada alasan untuk mempertahankannya lebih lama lagi."

"Lalu, bagaimana dengan pimpinan kalian?" Shinichi kembali bertanya dengan nada ragu.

"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Jika orang-orang kepercayaannya sudah tidak mampu berkutik lagi, maka dia pun tidak akan berbuat macam-macam. Dia hanyalah orang tua yang lemah dan tidak berdaya, walau kuakui dia punya suatu kekuatan yang membuat banyak orang bisa tunduk kepadanya, termasuk aku. Oh, ya, ngomong-ngomong," Vermouth mengalihkan perhatiannya ke arah wanita yang ada di dalam pelukan Shinichi. "Bagaimana dengan Sherry? Dia tidak mati, bukan?"

"Tenang saja," tubuh di dalam pelukan Shinichi itu tiba-tiba menjawab. "Aku cukup keras kepala untuk menyerah dan mati begitu saja." Mendengar suaranya, serentak ketiga orang itu menolehkan kepala mereka.

"Hoo," Vermouth bergumam sambil tersenyum tipis. "Berterimakasihlah padaku karena kepalamu tidak jadi berlubang."

"Tentu saja, aku akan mengatakannya dalam keadaan yang lebih normal dari sekarang," Shiho menjawab dengan senyum yang penuh rasa kelegaan sambil berusaha menopang dirinya sendiri dari dalam pelukan Shinichi. "…Ya, saat semuanya—,"

"SHARON, AWAS!!!"

Vermouth merasakan seseorang mendorong tubuhnya ke belakang dengan sangat keras diikuti dengan sebuah suara tembakan. Ia menutup kedua matanya, lalu tubuhnya dan tubuh orang yang mendorongnya terlempar beberapa meter ke belakang. Merasakan sakit pada punggungnya, Vermouth segera membuka matanya dan melihat seseorang telah terbaring di atas tubuhnya. Darah orang itu mengalir dan membasahi setelan hitam yang dipakainya. Tanpa pikir panjang, Vermouth segera mengambil pistol yang tersimpan di saku pinggangnya dan mengarahkannya ke kepala berambut perak yang kini sedang memegang pistol dengan sisa-sisa tenaganya.

Pintu ruang operasi terbuka, membuat semua orang yang berada di tempat itu segera berlari mendekati seorang dokter yang baru saja keluar dari dalamnya. Sebuah kereta dorong dikeluarkan dan didorong keluar oleh dua orang perawat. Eri, Kogoro, Miwako mengikuti kereta itu sambil terus memandang wajah yang terbaring di sana. Shinichi yang sedari tadi hanya tertunduk sambil bersender pada dinding di dekat pintu ruang operasi memutuskan untuk memastikan semuanya kepada dokter yang kini sedang berdiri di depannya terlebih dahulu.

"Dokter, bagaimana keadaannya?" Shinichi bertanya, berusaha agar tetap tenang.

"Kudo-san, pelurunya ditembakkan ke punggung sebelah kiri dan mengenai jantung. Kami sudah mengeluarkan pelurunya dan melakukan operasi untuk menutup luka yang ada di jantungnya. Namun, keadaannya sangat kritis dan dia kehilangan banyak darah. Kami sudah berusaha menghentikan pendarahannya. Tetapi, hingga saat ini dia belum di dalam kondisi aman dan harus selalu dipantau kondisinya. Walaupun kemungkinannya untuk selamat sangat kecil, tapi kami akan terus berusaha."

"Sebesar apa kemungkinannya untuk selamat dan kembali normal?" Shinichi tidak ingin bertanya 'sekecil apa' karena dia tidak ingin bersikap pesimis di saat-saat seperti.

"Jika dilihat dari kondisi medis, kemungkinannya hanya sekitar duapuluh hingga tigapuluh persen. Sekarang ini semuanya tergantung dengan keinginan pasien sendiri untuk terus bertahan." Jawaban dokter itu membuatnya tersentak. Tigapuluh persen!?

"Dokter, tidak adakah yang bisa dilakukan?" Shinichi kembali bertanya dengan suara bergetar.

"Kudo-san, pelurunya mengenai katup jantung dan membuat darah bersih serta darah kotor tercampur. Pada keadaan seperti ini, biasanya seseorang tidak akan bertahan lama dan bisa saja segera meninggal saat belum sempat dibawa ke rumah sakit. Namun, dia bisa bertahan hingga sekarang saja sudah sangat bagus. Pihak dokter akan selalu memantaunya dan memberikan perawatan terbaik untuknya, karena itu kami memohon kepercayaan Anda," dokter itu menjelaskan dengan panjang lebar. Dia sudah sangat terbiasa menangani rekan para pasien yang memiliki kekhawatiran sangat besar.

Shinichi terdiam sesaat. Dia berusaha mencerna semua perkataan dokter itu kepadanya. Namun, entah kenapa dia merasa sangat sulit berpikir. Seolah-olah semua perkataan yang masuk ke dalam telinganya terpantul kembali dan tidak bisa masuk ke dalam otaknya yang biasanya sangat dia andalkan. Dia lalu menarik napas dalam-dalam dan menatap kedua mata dokter itu, berusaha untuk menampakkan rasa percaya dari dalamnya.

Aku akan menanyainya lagi setelah aku merasa lebih tenang…

"Baiklah, kalau begitu mohon bantuannya," Shinichi berkata sambil menundukkan kepalanya. Dokter itu membalas dengan menganggukkan kepalanya pelan lalu mengalihkan perhatiannya kepada wanita yang berdiri di samping Shinichi sejak tadi. Dokter itu memperhatikan perban yang membalut lengan kanannya.

"Bagaimana dengan luka Anda, Miyano-san?" tanya dokter itu sambil tersenyum.

Wanita yang dipanggil Miyano itu balas tersenyum sebelum akhirnya menjawab, "Ah, sudah terasa lebih baik. Tidak ada masalah, walau mungkin aku akan kesulitan untuk memegang barang dalam beberapa hari ke depan. Terima kasih atas perhatiannya."

"Syukurlah…kalau begitu saya permisi dulu," dokter itu menganggukkan kepalanya pelan lalu meninggalkan Shinichi dan Shiho. Shiho membalasnya dengan senyuman pelan lalu mengalihkan perhatiannya kepada pemuda di sampingnya setelah dokter itu sudah berjalan cukup jauh dari mereka.

"Kau tidak ingin melihatnya?" tanya Shiho dengan hati-hati, berusaha tidak membuat Shinichi merasa lebih khawatir lagi. Shinichi menggelengkan kepalanya pelan.

"Nanti saja, biarkan paman dan bibi menemaninya terlebih dahulu. Kurasa mereka lebih khawatir dibandingkan aku. Lagipula, ada sesuatu yang masih ingin kukerjakan," Shinichi menjawab tanpa melihat wajah Shiho sedikit pun. Dia beranjak meninggalkan Shiho dengan langkah perlahan.

"Kudo-kun…"

"Kau juga istirahatlah," Shinichi berkata tanpa menoleh. "Aku tidak ingin profesor mengkhawatirkanmu lebih dari ini." Shinichi kembali berjalan tanpa berbalik sedikit pun. Shiho hanya memandangi punggung lebar yang terasa dingin itu dengan perasaan cemas. Dia bisa melihat kecemasan dan kekhawatiran dari suaranya yang dingin dan terdengar sombong seperti biasa. Dia juga bisa melihat ketidakberdayaan dan penyesalan di kedua matanya yang sayup-sayup selalu memandang dengan tatapan kosong. Bagaimana rasa sakit seseorang dapat membuat orang lain merasa begitu menderita, bagaimana ketidakberdayaan seseorang membuat orang lain tidak dapat lagi berpikir dengan jernih. Apakah itu yang ada di pikiran Shinichi sekarang? Jika itu yang dipikirkan dan dirasakannya, maka ia sulit untuk memahaminya karena dia tidak pernah mengalami hal yang sama. Dia juga akan kesulitan untuk membantu Shinichi menenangkan pikirannya karena dia sendiri tidak mengerti seperti apa kegalauan itu. Dia tidak akan bisa membantunya, kecuali jika dia boleh menyamakan keadaan ini dengan saat ia kehilangan kakaknya untuk selama-lamanya…

To be Continued