DISCLAIMER: I do not own Detective Conan. Characters belong to Gosho Aoyama
Part 4
Guilt
Wanita berambut cokelat kemerahan itu berjalan di koridor rumah sakit yang sepi. Udara di sekitarnya terasa dingin. Tentu saja, ini sudah memasuki awal musim dingin dan dia tidak mengenakan sweaternya. Ia bahkan bisa melihat uap napasnya sendiri. Ia berusaha menghangatkan dirinya dengan memeluk tubuhnya sendiri dan mempercepat langkahnya. Ya, dia tidak sempat mengambil baju hangatnya karena terburu-buru keluar dari kamar tempat dia dirawat saat dia tersadar dan menemukan detektif Sato bersamanya.
"…Detektif Sato?" Shiho berkata dengan suaranya yang masih lemah.
"Syukurlah, kau sudah sadar," wanita berusia awal duapuluhan itu tersenyum lega.
"Ini…" Shiho memandangi langit-langit putih ruangan itu dan menyadari sesuatu yang membelit lengan kanannya. "…di rumah sakit?"
Detektif Sato mengangguk pelan. "Kau tertembak dan tidak sadarkan diri. Untungnya, kau tidak terluka parah."
"Bagaimana dengan yang lain? Kudo-kun? Mouri-san?" dia tiba-tiba teringat dengan suara tembakan yang membuat Vermouth dan Ran terlempar beberapa jauh ke belakang. Mendengar pertanyaan itu, Sato terlihat berpikir sesaat sebelum menjawab pertanyaannya.
"Kudo-kun baik-baik saja…tapi Ran…" suaranya tertahan karena tidak sanggup lagi melanjutkan jawabannya. Shiho terkejut mendengar jawaban itu, kedua matanya terbuka lebar dan kedua belah bibirnya terbuka sedikit. Dia kembali teringat dengan tembakan itu. Ya, tembakan itu ditujukan oleh Gin ke arah Vermouth, namun Ran menyadarinya dan melempar dirinya sendiri untuk menyelamatkan Vermouth. Shiho merasa dirinya sangat tidak berguna karena telah membiarkan orang luar yang tidak terlibat apa pun menjadi korban dalam kejadian ini. Dia memejamkan matanya dan mengepalkan tangannya erat-erat.
"Di mana mereka sekarang?" tanya Shiho sambil menatap mata detektif wanita itu lekat-lekat.
"Kudo-kun dan yang lain sedang menunggui Ran di depan ruang operasi. Aku diminta untuk—," belum sempat Sato melanjutkan perkataannya, Shiho sudah beranjak dari tempat tidurnya menuju pintu di ruangan itu.
"Miyano-san!" seru Sato berdiri dari tempat duduknya. "Kau mau pergi ke mana?" Sato bergegas mendekati Shiho yang sudah membuka pintu itu dan meraih sebelah tangannya dengan cepat.
"Ruang operasi, aku tidak bisa diam saja di sini," jawabnya dingin sambil menepiskan tangan Sato yang memegang lengannya. Sato tersentak kaget dan tidak bisa menjawab apa pun. Shiho segera meninggalkan kamar rawatnya dan melangkah cepat menuju ruang operasi. Dia tidak bisa diam saja membiarkan wanita itu terluka apalagi mati. Sudah cukup baginya mengacaukan kehidupan banyak orang, dan dia tidak ingin mengacaukan lebih banyak hal lagi. Dia tidak bisa membiarkan orang yang tidak bersalah mati…dan dia tidak bisa membiarkan Kudo kehilangan hal penting di dalam hidupnya untuk kedua kalinya…
Shiho berhenti tepat di depan pintu ruang ICU sambil masih merapatkan kedua tangannya di depan dadanya. Sebenarnya dia bisa saja kembali ke kamarnya sebentar untuk mengambil baju hangat miliknya sebab sejak awal dia bukanlah orang yang tahan dengan suhu rendah seperti ini. Tapi entah kenapa, kedua kakinya menuntun langkahnya menuju tempat ini. Dia ingin memastikan semuanya dan dia merasa bisa mengabaikan rasa dingin ini untuk beberapa saat.
Ia meraih kenop pintu dengan perlahan. Kenop pintu itu terasa lebih dingin dibandingkan dingin yang menusuk tubuhnya. Sesaat dia ragu untuk memutar kenop pintu itu dan hanya tertunduk diam. Beberapa perawat yang berjalan di koridor rumah sakit memperhatikannya dengan pandangan heran karena ia tidak kunjung bergerak dari situ. Dia memejamkan matanya dan wajah Shinichi yang penuh penyesalan dan ketakutan muncul di dalam benaknya. Dia tidak pernah melihat wajah itu sebelumnya, wajah yang dingin dan pandangan yang kosong seolah-olah dia tidak lagi memiliki akal sehatnya.
Kenop pintu itu diputar dan pintu pun terbuka perlahan. Dari balik pintu yang belum terbuka sepenuhnya itu, Shiho sudah bisa melihat Ran yang terbaring lemah di atas tempat tidur. Namun, dia tidak bisa melihat orang lain yang berada di ruangan itu. Ia pun mendorong pintu itu perlahan, berusaha tidak menimbulkan suara, dan kali ini dia melihat semuanya dengan lebih jelas. Ia melihat pengacara Eri yang sedang memegang sebelah tangan anaknya dengan erat sambil terus-terusan menangis. Kacamatanya telah berembun karena air mata yang menggenang. Wajahnya yang biasa terlihat dingin dan keras, kini terlihat begitu rapuh dan menyedihkan. Di belakangnya, Detektif Kogoro berdiri sambil memegang kedua bahu istrinya. Berkali-kali ia berusaha menenangkan istrinya dengan membelai pelan pundaknya ataupun membisikkan sesuatu di telinga istrinya. Eri yang kacau karena melihat keadaan putrinya yang tidak berdaya, seolah tidak menghiraukan usaha suaminya yang berusaha menenangkannya, terus menerus memanggil nama Ran dengan suaranya yang mulai serak karena menangis seperti kaset rusak.
Shiho menarik napas dalam-dalam, memberanikan diri untuk memasuki kamar itu. Kogoro dan Eri menoleh, menatap wajah yang terlihat asing sekaligus familiar bagi mereka.
"Maaf," ucap Shiho dengan suara yang hampir tercekat. "…aku hanya ingin melihat keadaan Mouri-san."
"Kau…," ucap Kogoro dengan nada ragu.
"Maaf, aku belum pernah memperkenalkan diri sebelumnya dengan benar…aku Shiho Miyano…"
"Kau detektif kepolisian?" tanya Eri. Ia menghapus air mata yang telah membasahi pipinya dan melepaskan kacamatanya, berusaha untuk melihat lebih jelas wajah wanita muda yang berdiri di ujung ruangan itu.
"Bukan…bisa dibilang aku adalah rekan Kudo dalam menyelidiki kasus yang sama."
"Jadi kau tahu mengenai organisasi itu? Kau tahu tentang orang yang melukai Ran?" tanya Kogoro dengan suara yang mulai meninggi. Shiho mengangguk pelan.
"Kalau begitu, tolong beritahu kami!" pinta Eri sambil berdiri dari tempat duduknya. "Apa yang sebenarnya telah menimpa Ran?"
Shiho menarik napas pelan dan menatap kedua mata orang tua yang terlihat sangat cemas itu. "Aku takut belum bisa memberitahukan semuanya sekarang. Masih banyak hal yang belum pasti dan aku tidak ingin melibatkan lebih banyak orang lagi."
"Kau bisa bicara begitu sementara anak kami berada di ambang kematian!?" bentak Kogoro. Eri menahan suaminya yang sudah hampir maju beberapa langkah.
"Apa yang terjadi pada putri anda juga merupakan tanggung jawab saya. Saya masih belum mendapatkan berita apakah organisasi itu sudah dijatuhkan atau belum, karena itu saya tidak berani mengambil resiko memberi tahu kalian dan menambah daftar orang yang harus dimusnahkan oleh mereka. Saat semuanya berakhir, saya pasti akan menjelaskan semuanya," jelas Shiho berusaha meyakinkan kedua orang itu. "Seperti yang kukatakan tadi, aku ke sini hanya ingin melihat keadaan Mouri-san."
Eri mengalihkan pandangan ke arah putrinya yang belum juga siuman. "Kau mengenal putri kami?"
"Ya…kurang lebih…dia mirip dengan…kakakku…" Shiho menjawab sambil menundukkan kepalanya.
"Kakak?" tanya Kogoro.
"Ya, kakakku…dia juga dibunuh oleh organisasi itu," jawab Shiho sambil maju beberapa langkah. Dia berjalan mendekati tempat tidur tempat Ran berbaring. Eri dan Kogoro bergeser beberapa langkah. Kini mereka bertiga berdiri berdampingan. "Mouri-san sangat mirip dengan kakakku…karena itu aku tidak ingin hal yang sama terjadi padanya."
"Miyano-sa—,"
"RAN!!" terdengar suara seorang wanita memasuki ruangan itu dan ketiga orang itu pun menemukan Sonoko sudah berada di dalam sambil berlari menuju tempat Ran berbaring.
"Sonoko…" ucap Eri dengan suara tercekat karena sedikit terkejut. Shiho mundur beberapa langkah, memberikan ruang untuk gadis itu berdiri di samping tempat tidur Ran.
"Ran, Ran, Ran!!" panggil Sonoko berkali-kali sambil memegangi kedua bahu Ran. "Ran, bangun, Ran! Kumohon bangunlah!"
"Sonoko-san…"
Sonoko mengalihkan perhatiannya ke arah Eri yang sedang menatapnya dengan mata yang kembali berair. "Bibi, apa yang terjadi dengan Ran!? Kenapa dia tidak menjawabku!?"
Eri berjalan mendekati Sonoko dan meraih kedua bahunya yang gemetar lalu mengusapnya perlahan. "Tenanglah, Sonoko…Ran hanya belum sadarkan diri, dia akan segera bangun, tenanglah…"
"Mana bisa aku tenang!! Ran adalah teman terbaik yang aku miliki selama ini, kalau terjadi apa-apa dengannya…!" mata Sonoko menemukan sesosok wanita yang terlihat asing di dekatnya.
"Kau…siapa kau?" tanya Sonoko dengan mata nanar. Kekalutan terpancar jelas dari dalam matanya.
"Aku—,"
"Aku tahu! Kau yang membuat Ran menjadi seperti ini 'kan? Iya 'kan!?" Sonoko meraih leher baju Shiho yang tidak berkerah dengan kedua tangannya. Dia menatap kedua mata wanita yang lebih tinggi beberapa centimeter darinya itu dengan penuh kemarahan.
"Sonoko, tenanglah!" Kogoro berusaha menenangkan gadis itu sambil berusaha melepaskan kedua tangannya yang menarik baju Shiho. "Miyano-san bukanlah orang yang telah melukai Ran! Dia ke sini hanya menjenguk Ran!"
Sonoko membiarkan kedua tangannya yang kini telah diraih oleh Kogoro namun kedua matanya yang telah merah karena menangis tetap menatap Shiho dengan tajam.
"Lalu, siapa? Kalau bukan wanita ini, lalu siapa? Kenapa orang asing ini ada di sini??" Sonoko berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Kogoro. Kini dia mendekati Eri dan memegang kedua lengan wanita yang berusia akhir tigapuluhan itu. "Bibi, siapa yang telah melukai Ran?? Aku akan mencarinya dan membuatnya mengalami hal yang sama dengan Ran!"
Mendengar ucapan Sonoko, Eri tidak sanggup menjawab apa pun. Dia hanya bisa melihat wajah itu dengan matanya yang telah kembali basah. Wajah di depannya itu terlihat begitu menyedihkan, matanya telah basah dan pipinya telah sembap oleh air mata. Tangannya terus menerus menarik lengan bajunya, memintanya untuk memberi tahu siapa sebenarnya yang telah melukai Ran. Eri memejamkan matanya dan melingkarkan tangannya pada punggung Sonoko yang gemetar. Eri mengusap-usap punggung Sonoko dengan lembut untuk menenangkannya. Sonoko yang berada di dalam pelukan Eri, membenamkan kepalanya sambil terus menerus menangis.
Melihat itu, Shiho tahu bahwa ia tidak seharusnya berada di tempat ini sekarang.
"Aku permisi…" ucapnya pelan sebelum akhirnya keluar dari pintu yang masih terbuka sejak tadi. Dia menutup pintu di belakangnya dan berniat untuk segera pergi dari tempat itu. Namun, kata-kata Sonoko yang tadi ditujukan padanya menghentikannya.
"Aku tahu! Kau yang membuat Ran menjadi seperti ini 'kan? Iya 'kan!?"
Shiho merasakan kedua kakinya lemas dan dia menyenderkan tubuhnya pada pintu di belakangnya. Dia menundukkan kepalanya dan samar-samar dia masih bisa mendengarkan isak tangis Sonoko dari balik pintu itu. Perkataan Sonoko begitu menghujam hati dan mengganggu pikirannya.
Ya, seandainya aku tidak ada, maka Mouri-san pun tidak akan mengalami nasib seperti ini…
Shiho berusaha menegakkan kembali tubuhnya dan beranjak dari tempat itu saat dia menemukan salah seorang yang sangat penting dalam hidupnya telah berdiri di depannya sambil memandanginya dengan pandangan sedih dan cemas.
"Ai-kun…" pria gemuk itu menyebut namanya pelan. "…aku tidak dapat menemukanmu di kamarmu saat aku menemukan beberapa perawat yang mengatakan melihat seorang wanita berambut cokelat kemerahan sedang berdiri di depan ruang ICU…aku langsung tahu kalau—," Profesor Agasa tidak melanjutkan perkataannya karena Shiho telah memeluknya dengan sangat erat. Shiho membenamkam kepalanya di dalam dada profesor dan berusaha menahan rasa sakit yang ia rasakan. Ia berusaha menahan air mata yang sudah menggenang di matanya agar tidak jatuh dan membasahi baju profesor. Namun, dia tidak bisa menyembunyikan tubuhnya yang gemetar di balik pelukan itu. Akulah yang melukainya, bukan Gin…bukan siapa pun…
"Ai-kun…"
"Maaf, profesor…biarkan aku seperti ini sebentar…"
Akulah yang seharusnya terbaring tak berdaya di tempat itu…bukan dia…
To be Continued
