Maaf, baru update sekarang. Tiba-tiba aku kehilangan ide dan tidak tahu mau dilanjutkan ke mana arah ceritanya. Jadinya part kali ini agak sedikit ngasal…dan mungkin agak OOC juga…gomennasai -__-

DISCLAIMER: I do not own Detective Conan. Characters belong to Gosho Aoyama

Part 5

Thank You

"Profesor," panggil Shiho sambil menoleh ke arah jendela yang ada di ujung kamar tempatnya dirawat. Hujan, sudah hampir satu jam yang lalu hujan turun. Tepatnya sesaat setelah ia keluar dari kamar Ran dan bertemu dengan profesor. Profesor membawanya kembali ke kamar, karena kondisinya masih belum pulih dan menurut profesor ia masih butuh istirahat. Padahal menurut Shiho, lukanya tidak lebih dari bekas tembakan yang sama sekali tidak fatal di lengan kanannya. Kecuali, saat profesor mengatakan kalau Shiho akan membutuhkan bantuannya untuk mengambil barang-barang yang akan ia gunakan. Shiho pun tidak bisa menyalahkannya, karena alasan profesor yang satu ini memang benar ia rasakan. Tapi, saat profesor mengatakan kalau ia butuh lebih dari sekedar istirahat…Shiho merasa kalau itu terlalu berlebihan.

"Ya? Ada apa, Ai-kun?" tanya profesor sambil tersenyum hangat kepadanya.

"Apa kau…bertemu Kudo saat ingin menjengukku tadi?" tanya Shiho dengan sedikit ragu.

"Shinichi?" profesor mengalihkan perhatian dari rak baju di depannya. "Tidak, aku tidak bertemu dengannya. Saat ke rumah sakit ini, aku langsung menanyakan di mana kamarmu berada dan tidak ke tempat lain. Memangnya dia tidak menemani Ran?" profesor kembali sibuk memasukkan dan menata pakaian yang akan Shiho gunakan selama menginap di rumah sakit ke dalam rak baju yang setinggi pinggangnya itu. Di samping kaki profesor tergeletak tas yang biasa dipakainya kemping dan Shiho bisa memastikan semuanya berisi baju yang baru dibelikan profesor untuknya.

"…Tidak, dia bilang dia belum ingin menjenguk Ran…" jawab Shiho sambil tetap memandangi jendela itu. "Menurutnya, Eri dan Kogoro pasti lebih dibutuhkan di samping Ran saat ini dibandingkan dia."

Profesor tidak langsung menyahuti perkataan Shiho. Dia masih terus memasukkan dan merapikan baju-baju Shiho dengan gerakan yang cukup pelan. Shiho tidak tahu, apakah ini disebabkan karena umurnya yang sudah tidak lagi muda, atau dia memang sengaja melakukannya sambil memikirkan jawaban untuk menjawab perkataan Shiho. Sesaat, Shiho merasa profesor tidak menghiraukannya dan akhirnya Shiho mengalihkan perhatiannya dari jendela itu ke tempat profesor berada.

"Profesor," panggil Shiho, bermaksud meminta jawaban.

"Hmm?" profesor menutup pintu rak kecil itu dan mengambil tas kempingnya yang sudah kosong. Dia berjalan menjauhi Shiho dan meletakkan tas itu di atas meja yang ada di dekat pintu keluar.

"Apa menurutmu Kudo akan baik-baik saja?"

Profesor tidak bergerak dari tempatnya dan Shiho tidak bisa melihat wajahnya karena profesor memunggunginya. Sesaat aura sunyi yang aneh berada di antara mereka berdua, di dalam ruangan itu. Shiho masih terus memandangi punggung profesor, berharap ia dapat segera memberikan jawaban untuknya. Namun, profesor masih terus diam, tidak bergerak sedikit pun dari tempatnya.

"Profesor…"

"—Tidak, dia tidak akan baik-baik saja," ucap profesor membalikkan badannya dan memandang kedua mata Shiho lekat-lekat dari kejauhan. Shiho kembali memandangi jendela itu, berusaha menghindari tatapan profesor.

"Bagi Shinichi, Ran adalah…seseorang yang sangat berharga…" ucap profesor tetap berdiri di tempatnya. Dia berusaha membuat Shiho menoleh dengan kata-katanya, namun dia tidak berhasil.

Shiho memejamkan kedua matanya perlahan dan menarik napas untuk kemudian menghembuskannya dengan pelan. "Aku tahu…" ucapnya masih dengan kedua mata tertutup. Ia lalu membuka matanya. "Aku tahu itu…"

Profesor memejamkan kedua matanya dan mengangguk pelan. "Baiklah, kalau begitu besok aku akan menemanimu lagi. Apa ada hal lain yang kau inginkan? Akan kubawakan besok untukmu."

"Tidak, terima kasih, Profesor. Baju-baju itu sudah lebih dari cukup."

"Baiklah kalau begitu." Profesor tersenyum lembut dan berjalan menuju pintu keluar. Ia menolehkan kepalanya sebelum meraih kenop pintu itu.

"Kalau ada apa-apa, segera hubungi aku, Ai-kun," ucap profesor dengan nada sedikit khawatir. Profesor tidak mendapatkan jawaban apa pun, walau dia tahu kalau Shiho mendengar semua itu dengan jelas. Ia berbalik dan memandangi kenop pintu yang sudah berada di tangannya itu. Ia paham kalau wanita yang sudah dia anggap sebagai anaknya sendiri itu tidak bisa diganggu saat ini. Ia merasa kalau membiarkan gadis itu tenggelam dalam pikirannya sendiri akan jauh lebih baik dibanding memaksanya untuk menjawab pertanyaan atau menanggapi permintaannya.

Profesor memutar kenop pintu itu, keluar dari kamar dan menutup pintunya kembali. Shiho kembali memejamkan matanya.

"Maaf, Profesor…"

Shiho beranjak dari tempat tidurnya dan menyingkirkan selimut putih yang menutupi sebagian tubuhnya. Dia merasa bersyukur bahwa tidak ada sebuah selang pun yang dihubungkan ke tubuhnya karena itu akan sangat mengganggunya sekarang, dan dia tidak ingin ada seorang pun atau apa pun yang mengganggunya di saat-saat seperti ini.

Shiho mendekati jendela itu dan menyentuh kacanya yang mulai berembun. Ternyata suhu kamar ini tetap saja tidak lebih panas daripada udara luar yang tentunya dingin karena hujan yang tidak kunjung berhenti. Rasa dingin itu membuatnya menyadari bahwa lagi-lagi ia lupa untuk mengenakan sweaternya, walau jelas-jelas sweater itu tergantung di kursi yang ada di dalam ruangannya. Ia tidak lagi peduli dengan suhu yang dingin, karena baginya suhu yang dingin tidak lebih dari keseimbangan dunia akan adanya suhu panas, tidak jauh berharga dari adanya malam setelah adanya siang.

Dan ia melihat sesuatu yang membuatnya berbalik dan berlari keluar dari kamarnya.

Hujan terus turun dengan derasnya walau tidak diikuti oleh angin yang biasanya membuat ranting-ranting pohon bergoyang dan menggugurkan daun-daunnya. Hujan itu membasahi semua hal yang ada di bawahnya; bangku-bangku taman yang dingin dan diam, pohon-pohon yang daunnya telah berguguran di akhir musim gugur, termasuk seorang pemuda yang tengah berdiri diam dengan rambut dan pakaiannya yang sudah basah kuyup. Kepalanya menengadah, menatap langit gelap yang menumpahkan air matanya, seolah ia terus meminta kepada langit agar tidak menghentikan tangisannya. Entah kenapa, dia merasa mulai bisa menyukai hujan itu karena hujan membuatnya melupakan air matanya sendiri.

Tiba-tiba sesuatu menghalangi pandangannya dari langit yang gelap dan titik-titik air yang terus jatuh ke mukanya. Dia tidak lagi merasakan basahnya air hujan di kepala ataupun di wajahnya.

Payung?

Shinichi membalikkan badannya dan menemukan seseorang berdiri di hadapannya sambil memegang payung besar berwarna biru. Tubuh di depannya tidak berpakaian basah seperti dirinya, begitu juga dengan kepala atau pun wajahnya. Shinichi menatap muka itu dengan ekspresi kosong, seolah dia bingung kenapa sosok itu bisa berada di depannya sekarang. Sosok itu pun membalas tatapan matanya dengan tatapan yang lurus dan terlihat dingin. Namun, di dalam tatapan yang dingin itu terdapat rasa kasihan dan terluka.

"Shiho…"

"Kau terlihat…menyedihkan…" ucap Shiho singkat dengan nada sarkastiknya yang seperti biasa. Shinichi diam, tidak menjawab apa pun. Dia hanya kembali menatap wajah di depannya itu dengan penuh kebingungan.

"Ada sesuatu di wajahku?" tanya Shiho dengan nada datar. Shinichi kembali tidak menjawab dan hanya memandang kedua mata biru di depannya itu.

Kemudian dia menundukkan kepalanya dan tertawa kecil.

"Kau pikir aku sedang melucu?" Shiho bertanya dengan sedikit kesal. Matanya terlihat mengejek.

"Heh, tidak…aku hanya ingat saat aku menanyakan hal yang sama padamu, sehari sebelum kau sakit…"

"Oh, ya? Aku tidak ingat kalau ada kejadian seperti itu. Aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kali aku masuk angin."

"Sepertinya kau bukan hanya sering flu dan masuk angin. Kelihatannya ingatanmu juga sudah mulai memburuk…"

"…Dan jika kau tidak segera mengeringkan dirimu, kau akan benar-benar masuk angin, Kudo-kun…"

Shinichi tersenyum tipis dan menundukkan kepalanya.

"Rasanya sesaat yang lalu…" Shinichi mengangkat kepalanya, "…aku merasa begitu kacau hingga aku tidak bisa berpikir dengan jernih. Tapi, kau membuatku merasa lebih baik…"

"Eh?"

"Terima kasih, Shiho…"

To be Continued