DISCLAIMER: I do not own Detective Conan. All characters belong to Gosho Aoyama
Chapter 6
Forgotten Scar
"Terima kasih, Shiho…" ucap Shinichi dengan senyuman lembut di bibirnya. Wajahnya yang masih terlihat lelah dan matanya yang terlihat sembab, entah karena hujan atau air mata, tidak mampu menutup kelembutan yang terpancar dari senyumannya. Shiho menatap kedua mata itu lekat-lekat, mencari-cari kebohongan di dalamnya. Seingatnya, pria di depannya itu belum pernah sekali pun mengucapkan terima kasih kepadanya secara langsung seperti ini. Namun, dia tidak menemukan sebersit kebohongan pun dari matanya, yang ada hanyalah ketulusan dan kelembutan.
Shiho memejamkan matanya dan menghela napas pendek.
"Asal kau tahu saja, aku tidak melakukan apa pun. Aku hanya kebetulan berjalan di sekitar sini dan melihatmu yang sedang berdiri kebasahan. Jadi, kau tidak perlu berterima kasih," Shiho membuang mukanya, tidak ingin pipinya yang mulai kemerahan karena malu terlihat oleh pemuda di depannya itu. Sial, malah aku yang berbohong…
"Tidak masalah, aku tidak berterima kasih untuk payung yang kebetulan kau bawa bersamamu. Aku berterima kasih kepadamu yang selalu muncul di saat-saat aku membutuhkan dukungan seorang teman."
Shiho terdiam mendengar jawaban Shinichi. Ah, iya…teman…
"Mungkin kau tidak pernah tahu, Shiho…kalau aku—,"
"—Bagaimana kalau kita segera masuk, Kudo? Kalau boleh jujur, aku tidak ingin masuk angin sekarang, dan aku tidak ingin merawatmu jika kau juga terserang flu," Shiho berkata dengan nada dingin dan menundukkan kepalanya. Shinichi tidak berani melanjutkan ucapannya. Dia heran melihat Shiho yang tiba-tiba menjadi dingin. Walau ia tahu kalau Shiho memang seringkali bersikap dingin, tapi dia tidak mengerti dengan perubahan sikapnya barusan. Sesaat ia terlihat lembut walau nada bicaranya tetap sarkastik, namun sesaat kemudian dia terlihat dingin, lebih dingin dibandingkan suhu udara di sekitar mereka.
Shinichi tidak menjawab apa pun dan hanya mengikuti Shiho dari belakang saat dia berbalik dan berjalan menuju pintu masuk rumah sakit. Shinichi memandangi tubuh di depannya itu dengan tatapan bingung. Dilihatnya tubuh Shiho yang mungil dan bahunya yang kecil. Memang, tubuh 'Ai Haibara' dewasa yang ada di depannya ini lebih tinggi dan terlihat lebih 'wanita' jika dibandingkan dengan Ran. Gerak-geriknya juga terlihat lebih lembut dibandingkan Ran yang sedikit tomboy bahkan gagah jika mengingat keahliannya dalam membela diri. Namun, di matanya sekarang, Shinichi melihat sosok yang rapuh dan lemah; sosok yang tak mampu melindungi dirinya sendiri.
Mereka berhenti tepat di depan pintu rumah sakit. Shiho menurunkan payungnya, menutupnya dan meletakkannya di tempat payung yang berada tidak jauh darinya. Saat Shiho sedang meletakkan payung itu ke dalam keranjang payung, Shinichi menyadari lengan kanannya yang dibalut dengan perban putih.
"Lenganmu…" bisik Shinichi dengan suara yang hampir tidak kedengaran. Namun, suara hujan yang begitu deras tidak menghalangi Shiho untuk mendengar suara Shinichi yang sangat pelan itu. Shiho mengangkat lengannya dan memperhatikannya sesaat.
"Hanya luka kecil…aku tidak akan mati karenanya," Shiho kembali berjalan menuju ke dalam rumah sakit, meninggalkan Shinichi yang masih terlihat bingung melihat luka di lengannya.
Dia bahkan tidak ingat kalau aku tertembak…heh, dasar detektif bodoh…
Shinichi menatap Shiho yang terus berjalan meninggalkannya tanpa menoleh sedikit pun. Dia mengingat luka yang ada di lengan wanita itu, dan sebuah suara tembakan terngiang di telinganya. Suara tembakan, rambut cokelat kemerahan, tubuh yang jatuh di atas tubuhnya…luka itu…!
"KUDO-KUN!!"
"Sudah berapa kali kubilang…panggil aku Shiho."
"Cukup untuk semua adegan lovey-dovey ini…Sherry, aku tak menyangka kau akan melempar tubuhmu untuk menyelamatkan bocah detektif ini…"
Shiho…!
Shinichi berlari menerobos koridor yang baru saja dilewati oleh Shiho. Beberapa perawat yang lewat berbalik heran melihat pemuda yang pakaiannya basah kuyup itu dan berusaha menghentikannya dengan melarangnya berlari atau pun membuat keributan di tempat itu. Namun, Shinichi tidak menghiraukan mereka dan terus berlari menuju seseorang yang tengah berjalan tidak jauh di depannya. Wanita di depannya itu terus berjalan, seolah-olah tidak mendengar langkah kaki yang semakin lama semakin mendekat. Saat jarak di antara kedua orang itu hanya tinggal beberapa langkah, wanita itu menolehkan kepalanya dan melihat seseorang yang selalu melindunginya selama ini. Belum sempat wanita itu berbalik sepenuhnya, Shinichi telah menarik sebelah tangannya dan membuat wanita itu berdiri tepat di hadapannya.
"Shiho!"
"Ada apa? Kau mengagetkanku!" Shiho berkata setengah membentak.
"Maaf…aku…aku tidak ingat kalau lukamu itu disebabkan olehku…"
Shiho tidak menjawab apa pun, hanya memandang wajah Shinichi lalu berganti memandang tangannya yang masih digenggam erat oleh Shinichi.
"Tidak masalah…akan sulit bagiku jika kepalamu benar-benar berlubang saat itu," jawab Shiho sambil membuang mukanya ke samping.
"Maaf…tidak seharusnya aku melupakan hal seperti ini…"
"Sudahlah," Shiho melepaskan tangannya dari genggaman Shinichi dan membalikkan badannya. "Sekarang lebih baik kau ikut aku ke kamar. Sepertinya ada piyamaku yang cukup besar dan pas di tubuhmu," Shiho kembali berjalan meninggalkan Shinichi di belakangnya. Shinichi tertegun sesaat dan baru ingat kalau bajunya sudah benar-benar basah. Ia tersenyum tipis dan berjalan mengikuti temannya itu. Tidak ada suara percakapan apa pun di antara mereka setelah itu kecuali suara-suara langkah di koridor rumah sakit yang mengisi kesunyian di antara mereka.
"Sepertinya ini cukup besar untukmu," Shiho melempar sebuah baju longgar putih yang berbahan tipis. Shinichi menangkap baju itu tepat sebelum mengenai wajahnya. Dibentangkannya baju itu dan dipandanginya dengan pandangan bingung serta sedikit heran.
"Ini kan piyama…" ucap Shinichi datar.
"Lalu…?" Shiho menjawab dengan tidak kalah datar.
"Lagipula ini kan piyama wanita…" ucap Shinichi sambil tetap memelototi piyama itu.
"Terus kenapa?" Shiho mulai merasa risih dengan pertanyaan dan pandangan aneh Shinichi pada pakaian miliknya. Entah kenapa, di mata Shiho sekarang, Shinichi terlihat seperti pria mata keranjang yang sedang bersiap mencuri pakaian dalam wanita.
"Bagaimana mungkin aku memakai pakaian seperti ini??" kali ini Shinichi menurunkan piyama yang sedari tadi dibentangkan di depan wajahnya dan ganti memandang wajah Shiho dengan pandangan sangat bingung.
"Tuan detektif, itu bukanlah piyama wanita bertali spageti yang panjangnya hanya sepangkal paha dan berenda-renda di bagian dada…! Itu hanya piyama biasa berlengan panjang dengan sedikit jahitan di kedua bagian perut di bawah dada. Kau tidak akan terlihat cantik jika memakainya, jadi apa yang perlu kau khawatirkan? Baju itu hanya sedikit tipis. Lagipula, jika piyama itu terbuat dari benang wol, maka aku tidak akan pernah bisa tidur dengan tenang," jelas Shiho sambil memelototi kedua mata Shinichi.
"Tapi…" Shinichi berusaha protes.
"Jika kau tidak mau memakainya, maka aku akan melepaskan bajumu dengan paksa dan memakaikan piyamaku yang satu lagi padamu. Asal kau tahu saja, piyama satu lagi yang kukatakan sedikit lebih pendek dan lebih tipis dibandingkan dengan piyama wanita yang kujelaskan tadi…kalau aku tidak salah ingat, rendanya lebih banyak ya?"
Shinichi langsung merinding begitu mendengar perkataan Shiho. Dengan cepat dia melepaskan blazer biru donker nya, melemparkannya ke kursi di sudut kamar dan mulai melepaskan kancing kemeja putihnya. Menyadari bahwa pemuda itu akan melepas pakaian tepat di hadapannya, Shiho langsung mencegahnya dengan memegang kedua tangan Shinichi yang tengah melepaskan kancing kedua kemejanya.
"Hei, aku tidak bilang kau boleh melepaskan pakaian di depanku!" sergah Shiho dengan wajah yang mulai terlihat merah.
"Ah, iya…benar juga…" Shinichi menyeringai karena salah tingkah. "Aku pinjam kamar mandi, ya…" Shinichi segera mengambil langkah cepat menuju pintu kamar mandi di kamar itu. Sepertinya dia masih takut jika Shiho benar-benar akan memakaikan piyama wanita tipis berenda miliknya. Shiho yang melihat tingkah bodoh pemuda itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia berjalan menuju kursi di mana blazer basah Shinichi tergantung begitu saja. Ia mengambil blazer itu dan berniat menggantungkannya di tempat jemuran handuk yang terletak tidak jauh dari kamar mandi saat ia merasa pandangannya menjadi buram dan tubuhnya sempoyongan. Tangannya melepaskan blazer yang ia pegang tanpa sengaja saat pintu kamar mandi terbuka dan Shinichi keluar dari dalamnya. Shiho segera menguatkan dirinya dan mengambil blazer yang tadi ia jatuhkan.
"Shiho?"
"Aku baru saja ingin menjemur blazermu yang basah…" ucap Shiho dengan sedikit gugup dan langsung menjemurkannya tanpa pikir panjang.
"Oh, terima kasih…"
Shiho membalik tubuhnya dan berjalan menuju tempat tidurnya. Namun, dia terhenti saat Shinichi memegang sebelah tangannya dari belakang. Ia berbalik dan menemukan Shinichi yang berwajah serius sedang menatap kedua matanya lekat-lekat.
"Kudo-kun?"
"Temani aku melihat Ran…kumohon…"
To be Continued
