DISCLAIMER: I do not own Detective Conan. All characters belong to Gosho Aoyama

Part 7

The One that Should be Waiting

"Temani aku melihat Ran…kumohon…"

Shiho terdiam mendengar permohonan itu. Ditatapnya kedua mata Shinichi yang memandangnya lekat-lekat, sebelah tangannya masih digenggam oleh Shinichi.

Wanita berambut cokelat kemerahan itu menundukkan kepalanya dan menghela napas. Sebelah tangannya yang lain yang tidak ditahan oleh Shinichi terangkat ke atas dan mendarat tepat di pipi Shinichi. Kepala Shinichi tertoleh karena begitu kerasnya tamparan Shiho dan ia pun menyentuh pipinya yang sudah merah.

"Shi…ho?" mata Shinichi membelalak, tidak percaya dengan apa yang baru saja dilakukan oleh wanita di depannya itu. Shiho dengan ekspresinya yang dingin seperti biasa, menepiskan tangannya dari dalam genggaman Shinichi.

"Cengeng sekali…" Shiho membuang mukanya dan berjalan menuju pintu keluar. "Sepertinya kau memang cocok mengenakan piyama wanita yang kubilang tadi."

Shiho meraih kenop pintu dan memutarnya. Ia berjalan keluar dan berhenti sesaat sebelum ia menutup pintu di belakangnya, meninggalkan Shinichi yang masih terdiam karena tamparannya barusan. Di luar kamar rawatnya, Shiho berdiri sambil memandangi tangan kanan yang ia gunakan untuk menyadarkan Shinichi tadi.

"Bodoh…" ia mengepalkan tangan kanannya sambil berlalu melintasi koridor rumah sakit yang sepi itu.

Shinichi masih terdiam memegangi pipinya yang merah sambil memandangi pintu yang juga terlihat mengejeknya. Ia lalu menurunkan tangannya dan berjalan menuju jendela di ruangan itu. Dilihatnya hujan masih turun dengan sangat deras di luar sana. Saat dia melihat ke bawah, dia tahu kalau Shiho juga melihat dirinya dari tempat yang sama dengan tempatnya berada sekarang beberapa saat yang lalu. Menyadari itu, Shinichi pun tersenyum.

"Heh, bodoh…"


Shinichi memperhatikan sesosok tubuh yang terbaring lemah di hadapannya. Tubuh itu mengenakan pakaian rumah sakit berwarna hijau dan ditutupi selimut putih hingga ke bagian dada. Kedua tangannya terbujur lemah di sisinya dan tangan kirinya terhubung dengan selang infus. Beberapa kabel menghubungkan tubuh wanita yang sangat disayanginya itu dengan sebuah monitor yang memantau tanda-tanda kehidupan di dalam dirinya. Melihat itu semua, Shinichi memejamkan matanya dengan pedih dan duduk di atas kursi di sebelah kanan tempat tidur wanita itu.

"Ran…" ucap Shinichi dengan suara yang sangat pelan dan hampir tidak terdengar. Ia meraih tangan kanan Ran yang tidak terhubung dengan selang infus dan menggenggamnya dengan lembut.

"Aku tahu kau bisa mendengarku…hei, suaraku cukup keras, bukan?" Shinichi berusaha menenangkan dirinya dengan bercanda. Ia juga tertawa pelan, namun tawanya terdengar pahit dan hambar.

"Hei, Ran…aku juga tahu, kau pasti sedang menyumpahiku karena telah membuatmu lelah menunggu…atau mungkin kau sedang marah padaku yang telah melibatkanmu dalam masalahku…" Shinichi menelan ludahnya dan melanjutkan. "…atau mungkin juga, kau sedang merasa berbahagia karena tidak perlu lagi bertemu dengan seseorang yang menyebalkan seperti diriku?"

Shinichi menundukkan kepalanya dan memejamkan kepalanya. Kini kedua tangannya telah menggenggam tangan kanan Ran dengan sangat erat. Ia merasa kedua matanya mulai basah.

"Sudah berapa lama sejak aku berlari meninggalkanmu di Tropical Land?"

Tak ada jawaban, hanya suara pelan dari monitor pemantau detak jantung yang seolah menyahuti pertanyaan pemuda itu.

"Mungkin sudah hampir satu tahun, ya?" Shinichi tersenyum pahit menjawab pertanyaannya sendiri. "Kalau aku tidak segera masuk kelas minggu depan, mungkin aku benar-benar harus mengulang satu tahun lagi."

Masih tidak ada suara dan kini ia merasa benar-benar payah.

"Aku berharap…saat aku akan kembali ke sekolah minggu depan, kau akan menjemputku seperti biasa…memencet bel gerbang rumahku berkali-kali, seolah kau tidak percaya kalau aku sudah kembali…

Mengomeliku karena aku jarang memberi kabar…memaksaku untuk menemanimu ke tempat yang ingin kau kunjungi…atau memaksaku berjanji untuk memberimu hadiah jika kau kembali memenangkan turnamen karate…

Aku sudah tidak peduli apa yang akan kau minta dariku ataupun jika kau memarahiku berkali-kali…

Aku hanya ingin…melihatmu bangun dan kembali tersenyum…" suara Shinichi kembali tercekat, tidak sanggup lagi berkata-kata. Air mata yang dari tadi tertahan di pelupuk mata, jatuh ke pipinya yang mulai terlihat pucat. Ia kembali menunduk, membiarkan air matanya jatuh membasahi tangannya yang menggenggam tangan Ran. Namun, tidak ada suara lembut yang biasanya menjawab pertanyaannya ataupun mengeluh padanya. Suara itu hilang bersamaan dengan hilangnya bayangan hitam yang selalu menghantuinya. Suara itu hilang bersamaan dengan munculnya bayangan hitam yang lainnya.

Bayangan ketakutan akan kehilangan seseorang yang dicintai…

Shinichi menarik napas dalam-dalam, menghapus air matanya dan mengangkat kepalanya. Dilihatnya kembali wajah di hadapannya itu dengan mata yang sudah lebih jernih.

"Sepertinya untuk beberapa saat ini, akan percuma jika aku terus bertanya kepadamu…kau akan kesulitan untuk menjawabku, bukan? Ada beberapa hal yang harus kuurus, tapi tenanglah…kali ini aku akan kembali…"

Pemuda itu tersenyum pedih. "Kali ini akulah yang akan menunggumu…"

Shiho bersender pada dinding di samping pintu yang sedikit terbuka itu. Kedua tangannya terlipat di depan dadanya dan kedua matanya menerawang jauh, melewati jendela di seberang koridor yang masih basah karena hujan yang belum juga berhenti. Pintu yang tadinya hanya terbuka sedikit, kini terbuka lebar. Shinichi keluar dari kamar itu tanpa menyadari keberadaan wanita berdarah campuran yang sedang menatapnya dari sudut mata.

Setelah ia menutup pintu dan berbalik, matanya menangkap sosok wanita yang sedang menatapnya dengan ekspresi bosan. Melihat ekspresi itu, Shinichi tersenyum simpul.

"Lama sekali…"

Shinichi mengangguk pelan. "Banyak hal yang harus dibicarakan…"

Shiho meluruskan posisinya dan mulai berjalan meninggalkan Shinichi, membiarkan pemuda itu mengikutinya dari belakang.

"Sepertinya obrolan kalian menarik," Shiho berkata tanpa berhenti ataupun berbalik untuk menatap Shinichi.

"Ya, begitulah…"

"Lalu, kau sudah sampaikan semuanya?"

"Belum, tentu saja belum…aku akan menyampaikan semuanya…saat dia sudah bisa mendengar dan menjawabku…"

Shiho diam sesaat, tidak langsung menyahuti perkataan Shinichi barusan. Ia terus berjalan hingga berhenti tepat di sebuah mesin penjual minuman otomatis. Wanita itu berbalik dan menunjukkan sesuatu yang baru saja ia ambil dari saku bajunya.

"Mau kopi?"

Shinichi terpana sesaat, sebelum akhirnya mengangguk pelan. Shiho memasukkan koin yang tadi dipegangnya dan menekan salah satu dari beberapa tombol yang ada. Ia lalu menyerahkan salah satu dari dua cup kopi panas yang ia pegang kepada Shinichi. Shinichi menerimanya sambil mengucapkan terima kasih dan mereka pun duduk di sebuah bangku panjang berwarna putih tidak jauh dari mesin penjual minuman itu.

"What kind of treat is this?" Shinichi bertanya bahkan sebelum meminum kopi itu satu teguk pun. Shiho yang sudah mulai meminum kopinya, berhenti dan menatap pemuda itu dengan tatapan mengejek.

"It is not a treat, it is a threat…aku akan membunuhmu dengan meracuni kopi yang kau minum jika suatu saat kau tidak melakukan hal yang sama dengan apa yang sudah dilakukan gadis itu untukmu…"

"Heh? Maksudmu?" Shinichi tidak langsung menangkap maksud wanita di sampingnya itu. Shiho menghela napas panjang, tidak menyangka bahwa pemuda di depannya ini sangat tidak peka dalam hal-hal seperti ini.

"…Aku akan membunuhmu jika kau tidak sabar menunggunya seperti ia sabar menunggumu yang tidak pernah muncul…"

"Begitukah?" Shinichi lalu meminum kopinya seteguk. Shiho tidak menjawab dan terus meminum kopinya.

"Setahuku kau bukanlah orang yang menyukai tipe gadis seperti Ran…kenapa tiba-tiba kau malah mengancamku?"

Shiho masih terus menghirup kopinya perlahan-lahan.

"Woi, Miyano Shi-!"

"Menurutmu apa yang akan terjadi dengan Vermouth dan anggota organisasi lainnya?" potong Shiho sambil memegang cup kopinya dengan kedua tangan. Shinichi terkejut, bingung dengan Shiho yang tiba-tiba mengalihkan pembicaraan.

"Hei, apa maksudmu?"

"Apakah mereka akan benar-benar…dihancurkan?"

Shinichi menatap wanita itu sesaat, menyandarkan punggungnya pada dinding putih yang dingin dan mendongakkan kepalanya, menatap langit-langit. Ia menghirup napas dalam-dalam. "Ya, kurasa begitu. Bukti untuk menghancurkan mereka sudah terkumpul dan tidak akan ada pihak yang mau berbelas kasihan dengan apa yang sudah mereka lakukan semua ini…kecuali ada orang gila yang berambisi sama seperti mereka…"

"Jadi, semuanya akan baik-baik saja?" Shinichi menoleh cepat namun dengan cepat pula ia kembali memandang langit-langit rumah sakit yang bisu itu. Di telinganya, pertanyaan Shiho barusan terdengar ragu dan ada ketakutan di dalamnya. Shinichi ingin menghilangkan keraguan itu, tapi ia juga belum berani menjamin bahwa tidak akan ada masalah lagi setelah ini.

"Entahlah…aku tidak tahu. Tapi, aku ingin hidup tenang setelah ini."

Shiho tertawa hambar mendengar jawaban Shinichi. Dia beranjak dari tempat duduknya dan mendekati kotak sampah yang ada di samping mesin penjual minuman itu. Dibuangnya cup kopi yang sudah kosong itu.

"Sepertinya definisi hidup tenang bagi kita sudah berbeda dengan orang normal…"

To be Continued

Writer's Note: Hwaaa, gomeeen kalo update nya lama…Writer's Block, huhuhuhu…semoga hasil vakum selama hampir 2 bulan ini cukup baik