DISCLAIMER: I do not own Detective Conan. All characters belong to Gosho Aoyama
Part 8
Guessing
Pintu jeruji itu terbuka, menimbulkan suara berderit dari engsel yang sudah mulai berkarat. Di balik pintu itu adalah sebuah ruangan berukuran 2 x 1.5 meter yang dingin dan pengap. Sebuah lampu bercahaya remang tergantung di langit-langit, membuat ruangan itu terlihat lebih suram. Mungkin akan lebih baik jika tidak ada cahaya sama sekali.
Di sudut ruangan itu, seorang wanita berambut pirang duduk di atas lantai, kedua matanya menatap lurus pada dinding di hadapannya. Saat pintu itu terbuka dan ruangan itu terlihat lebih terang, ia melirikkan bola mata birunya, menemukan seorang pria berpakaian seragam berdiri di depan pintu.
"Ada yang ingin bertemu denganmu," ucap pria itu singkat. Wanita itu menghela napas dan dengan patuh berdiri dari tempatnya, meninggalkan ruangan itu bersama seorang pria berseragam lain.
Setelah beberapa saat berjalan, pria berseragam itu membukakan pintu untuknya dan wanita itu sadar bahwa pintu itu tidak berjeruji. Dia diantarkan ke sebuah ruangan yang lebih luas dan lebih terang, jauh lebih baik dibanding dengan tempatnya berada tadi. Tidak seperti ruangannya yang tidak memiliki apa pun di dalamnya kecuali dirinya, di dalam ruangan itu terdapat sebuah meja persegi panjang yang tidak terlalu besar dan tiga buah kursi; dua buah kursi berdampingan dan satu kursi sisanya berhadapan dengan salah satu dari dua kursi tadi. Saat melihat dua orang yang duduk di dua kursi yang berdampingan tadi, wanita itu tersenyum tipis.
Hoo, Sherry dan Cool Guy rupanya…
Ia melangkahkan beberapa langkah ke dalam ruangan itu saat pria berseragam tadi menutup pintu kembali dan menguncinya dari luar. Pria itu berdiri di luar dengan posisi siap dan berjaga. Wanita itu tersenyum mengejek, mungkin dia berpikir bahwa dia sama sekali tidak ada niat untuk melarikan diri. Jika dia ingin melarikan diri pun, dia akan memikirkan cara yang lebih baik dibandingkan dengan menerobos pintu yang sudah jelas-jelas dijaga.
"Senang melihat kalian berdua baik-baik saja," ucapnya sambil berjalan menuju tempat kedua orang tadi duduk. Sebelah tangannya menarik kursi yang masih kosong lalu duduk di atasnya.
"Aku tersanjung, Vermouth," sahut wanita yang duduk di hadapannya. Wanita itu menatapnya dengan mata yang dingin, membuat wajahnya yang memang dingin terlihat lebih menakutkan.
"Heh, Sherry…aku jujur kali ini," ia tertawa hambar. Ia mengangkat sebelah tangannya dan meletakkannya di atas meja. Diletakkannya dagunya pada punggung tangannya dan ditatapnya kedua orang di hadapannya itu dengan pandangan yang sulit dibaca.
"Gayamu masih tetap angkuh, Vermouth," ucap Shinichi datar. Mendengarnya, Vermoth tertawa dengan lebih keras.
"Aku senang dengan tanggapanmu. Itu berarti keadaan yang terpencil dan menyesakkan ini sama sekali tidak mempengaruhiku. Ada rokok?"
"Tidak, kami tidak merokok," jawab Shinichi.
"Oh, ya?" Vermouth sedikit membelalakkan matanya, bertanya dengan nada innocent. "Aku kira kau lanjut merokok setelah aku mengajarkannya pada dirimu yang masih limabelas tahun, Sherry?"
Shiho terkesiap mendengar ucapan Vermouth. Dia tidak menyangka wanita di depannya masih mengingat hal-hal seperti itu. Bahkan dia sudah hampir tidak mengingatnya lagi.
"Maaf, kurasa paru-paruku tidak sekuat milikmu, Vermouth. Jadi, aku tidak melanjutkannya," jawabnya ringan.
"Hoo…" Vermouth mengalihkan perhatiannya pada Shinichi. "Kau tidak merokok, Cool Guy? Yukiko memang tidak merokok, tapi seingatku ayahmu seorang perokok walau tidak segila Detektif Mouri yang bodoh itu."
"Tidak untuk sekarang. Entahlah, mungkin beberapa tahun lagi."
Vermouth tertawa kecil mendengar jawaban kedua orang muda itu. "Heh, kusarankan untuk tidak merokok. Paling tidak umur kalian yang sepertinya pendek itu akan sedikit lebih panjang."
Shinichi dan Shiho tidak menjawab ucapan wanita pirang itu. Mereka pikir, mungkin umur mereka tidak akan lebih panjang dari Vermouth, tapi setidaknya wanita itu akan mati lebih dulu dibanding mereka.
"Oh, ya…Bagaimana keadaan Angel?" tanya Vermouth dengan nada yang mulai serius. Shinichi menelan ludahnya, memikirkan apa yang seharusnya ia jawab. Bagaimana pun juga, wanita di depannya ini sangat menyukai Ran dan Ran pun telah melempar dirinya sendiri untuk melindungi Vermouth. Shinichi tidak tega jika dia harus menyembunyikan kenyataan dari wanita yang berutang budi pada Ran ini.
"…Dia koma dan belum siuman hingga sekarang…"
Vermouth merubah posisi duduknya perlahan dan kini duduk dengan tegak di hadapan kedua orang itu. Dia memejamkan mata sesaat dan membukanya sambil menarik napas dalam-dalam.
"…Lalu, apa tujuan kalian sebenarnya datang ke sini? Memintaku untuk bertanggung jawab karena Angel telah mengorbankan dirinya untukku?"
"Tidak, sama sekali bukan," jawab Shiho menggeleng pelan. "Kami berdua memutuskan ke sini untuk melihat keadaanmu sebagai orang yang telah menyelamatkan kami."
Vermouth tersenyum tipis.
"Tetapi, kami juga ingin menanyakan jika semua anggota organisasi sudah ditangkap kepolisian, termasuk bos kalian itu," Shinichi melanjutkan ucapan Shiho.
"Entahlah, aku tidak tahu. Malam itu aku langsung dibawa ke sini, dan aku sama sekali belum keluar, berbicara atau mendengar apa pun. Tapi, kurasa jika kepolisian Jepang benar-benar hebat maka mereka akan dengan mudah menangkap semua anggota organisasi jika mereka sudah mendapatkan database mereka di markas kami yang mereka temukan beberapa minggu yang lalu."
"Bagaimana dengan bos kalian?"
"Aku juga tidak tahu. Sudah kubilang, bukan? Aku tidak mendengar apa pun sejak aku berada di sini. Maaf, aku tidak bisa memberikan informasi yang kalian inginkan. Kenapa tidak kalian tanyakan langsung kepada polisi-polisi itu?"
Shinichi dan Shiho terdiam sebentar. Mereka saling berpandangan hingga akhirnya Shiho menjawab, "…Kami sudah menanyakannya, tetapi para polisi itu juga tidak bisa memberikan jawaban."
"Memangnya kenapa?" tanya Vermouth merasa tidak mengerti.
"…Database yang ditemukan oleh para polisi itu adalah database palsu. Tidak satu pun data di dalamnya valid. Semua nama dan alamat yang tercantum di situ tidak benar. Walaupun alamatnya asli, tapi mereka tidak menemukan orang dengan nama yang tercantum pada database."
"…Apa…?!"
"Bahkan dataku dan kakakku juga dipalsukan. Begitu juga dengan kedua orangtuaku. Mungkin milikmu juga…"
"…Bagaimana bisa? Kalau semua isi database itu palsu, lalu bagaimana anggota organisasi berhubungan selama ini?" ucap Vermouth tidak percaya.
"Entahlah," jawab Shinichi. "Tetapi, kemungkinan besar mereka memiliki database master yang memuat data sebenarnya. Database yang diletakkan di markas kalian itu adalah database yang sudah disiapkan untuk menghindari kemungkinan terburuk dan saat ini database yang sangat penting baik bagi mereka dan kami itu pasti mereka lindungi mati-matian."
"Itu berarti tidak satu orang pun yang tertangkap kecuali aku?" suara Vermouth mulai meninggi.
"Sepertinya begitu," Shiho beranjak dari tempat duduknya dan berjalan mendekati satu-satunya jendela di ruangan itu. "Kau terlalu setia, Vermouth. Merelakan dirimu sendiri untuk melindungi organisasi yang bahkan tidak memberi tahu informasi sepenting itu padamu."
"Apa maksudmu melindungi?"
"Kau tidak sadar, Vermouth? Memang, yang tertangkap di malam itu bukan hanya dirimu. Tetapi, anggota lain selain dirimu yang tertangkap kurasa bukanlah anggota yang begitu penting," jelas Shinichi meletakkan lengan kanannya di atas meja dan memajukan tubuhnya ke arah Vermouth.
"…Aku tidak mengerti arah pembicaraanmu."
"Begini saja…jika kau menjadi aku, apa yang akan kau pikirkan terhadap dirimu sendiri?" tanya Shinichi merendahkan suaranya. Vermouth diam sesaat, mencerna setiap kata pada ucapan pemuda di depannya itu. Lalu, ia terkesiap, mulutnya terbuka.
"………Kalian ingin mengatakan kalau akulah yang memiliki database master yang kalian katakan itu?!"
"Kami tidak berkata seperti itu," jawab Shiho dengan tenang. "Lagipula analisis kami mengenai database master itu hanya sekedar analisis. Ada kemungkinan bahwa database master itu sejak awal tidak ada dan bos kalian sepertinya memiliki kebiasaan buruk sehingga menyiapkan database palsu dan terlihat seolah mengejek dan mempermainkan kepolisian."
"Tapi, pertanyaannya adalah 'untuk apa?' Bagaimana mungkin mereka dengan santai bermain-main di saat kepolisian telah jelas-jelas mengetahui keberadaan kalian di tanah ini? Itu juga adalah alasanku tetap mempercayai analisis bahwa database master itu benar-benar ada dan mereka memberikan database palsu itu untuk mengulur waktu sehingga mereka dapat mempersiapkan diri untuk melawan kita atau pun melarikan diri dari Jepang ini," ujar Shinichi.
Mendengar semua penjelasan yang logis namun sulit untuk diterimanya itu, Vermouth kembali menjawab dengan nada protes.
"Jika memang benar apa yang kalian katakan, kalau begitu untuk apa organisasi mengirimkan kami malam itu? Apa mereka sengaja melepaskan kami untuk dibunuh dan ditangkap?"
"Tidak, tidak…" Shinichi menggelengkan kepalanya. "Kalian dikirim memang untuk menghancurkan kami dan menjaga agar informasi kalian tidak bocor lebih banyak. Namun, menurut kami, mereka mengirimkan kalian dengan resiko bahwa kalian akan tertangkap ataupun terbunuh. Oleh karena itulah mereka menyiapkan database palsu itu."
"Tapi, kenapa? Bagaimana mungkin?" ujar Vermouth menahan dahinya dengan punggung tangannya.
"Mungkin anggota-anggota seperti kau dan Gin lah yang sebenarnya ditakuti oleh bos kalian," Shinichi menjawab kebingungan Vermouth.
"Bos? Takut kepadaku?"
"Lebih tepatnya ia takut dengan pola pikir kalian yang terlalu cerdik dibandingkan dengan anggota-anggota yang lain. Kesetiaan tidak selalu berakhir baik, mungkin begitu yang dipikirkan olehnya?" Shiho berkata dengan punggung menghadap jendela. Kedua tangannya terlipat di depan dadanya.
Vermouth tidak lagi menjawab. Ia membenamkan kepalanya dalam-dalam, tidak memberikan respon apa pun lagi. Shinichi dan Shiho yang melihat itu juga tidak mengeluarkan suara. Mereka terlihat menunggu tanggapan selanjutnya dari wanita yang baru saja mengetahui kenyataan yang sebenarnya mungkin saja terjadi.
Tak lama kemudian, wanita itu mengangkat kepalanya dan meletakkan dagunya di atas kedua punggung tangan yang ia rapatkan. Wajahnya yang sebelumnya terlihat tidak percaya dan bingung, kini menunjukkan ekspresi dingin dan percaya dirinya yang seperti biasa. Bibirnya menyunggingkan senyuman dingin.
"Hei."
Shinichi dan Shiho mengangkat kepalanya.
"Apa yang bisa kulakukan untuk kalian?"
Kedua orang muda itu pun saling melemparkan senyuman.
To be Continued
