DISCLAIMER: I do not own Detective Conan. All characters belong to Gosho Aoyama
Part 9
Intermezzo
"Terima kasih atas bantuannya," ucap Shinichi seraya menundukkan kepalanya. Shiho yang berada di samping Shinichi juga ikut menundukkan kepalanya dengan pelan.
"Sama-sama. Kami hanya melakukan apa yang bisa kami lakukan," jawab detektif Sato, diikuti dengan anggukan kepala detektif Takagi.
"Semoga apa yang kalian rencanakan bisa berjalan dengan lancar," sambung detektif Takagi dengan senyuman canggungnya yang seperti biasa.
"Ya, kuharap juga begitu," jawab Shinichi ramah.
"Ngomong-ngomong," detektif Sato mengarahkan pandangannya pada Shiho. "Miyano-san, anda sudah keluar dari rumah sakit?"
Shiho terdiam sesaat dan melirik Shinichi singkat. "Ah, iya…begitulah."
"Kalau begitu, kami permisi," Shinichi mengalihkan perhatian. Sato mengangguk pelan.
"Biarkan kami tahu jika ada hal yang bisa kami bantu."
Shinichi dan Shiho menundukkan kepala sekali lagi dan mulai berjalan meninggalkan kedua detektif bagian investigasi itu. Mereka berdua berjalan beriringan menyusuri koridor menuju lobi markas kepolisian pusat Tokyo saat sebuah suara memecahkan keheningan di antara mereka berdua.
Tiririririt-tiririririt
Suara ponsel itu menghentikan langkah mereka berdua. Shinichi tersenyum jengah.
"Punyaku…"
Diambilnya benda yang berbunyi dan bergetar itu dari saku celananya dan dilihatnya sebuah nama terpampang di layar ponsel tersebut.
Ibu?
Shinichi menekan tombol 'Answer' dan menempelkan ponsel itu di telinga kanannya.
"Halo, Ibu?" sapa Shinichi dengan nada sedikit heran, sudah lama sejak wanita yang telah melahirkannya itu meneleponnya.
"SHINICHI! KAU BAIK-BAIK SAJA 'KAN?"
Shinichi menjauhkan ponsel itu dari telinganya. Suara barusan cukup memekakkan dan mendengung-dengungkan telinganya sekarang. Shiho yang berdiri di sampingnya maju beberapa langkah dan menyenderkan punggungnya di dinding. Ditatapnya Shinichi dari sudut mata dengan pandangan mengejek. Shinichi yang menyadari sikap Shiho tersebut, langsung membalikkan badan dan menempelkan kembali ponsel tersebut di telinganya.
"Iya, Ibu…aku baik-baik saja," jawab Shinichi dengan nada yang menunjukkan kalau ia memang baik-baik saja.
"Kau tidak tertusuk pedang atau samurai 'kan?" tanya Yukiko lagi masih dengan nada cemas.
"Tidak," jawab Shinichi singkat.
"Kau tidak tertembak?"
Shinichi menoleh ke arah Shiho sekilas lalu menjawab pertanyaan ibunya.
"Hampir saja…"
"Tergores?"
"Nnng, mungkin saja…"
"Ter-,"
"Dengar, Ibu," Shinichi memotong ucapan ibunya. "Aku tidak apa-apa. Tidak tertembak, tertusuk atau apa pun itu. Aku baik-baik saja dan sangat sehat. Ibu dan ayah tidak perlu khawatir."
"Tapi, Profesor Agasa bilang kau menantang bahaya lagi?"
"Ah, iya…aku memang sedikit nekat kali ini, tapi aku baik-baik saja, Ibu…hanya saja…"
"Hanya saja?"
"…Ran…dia mengalami koma," lanjut Shinichi dengan suara yang tertahan.
"Ran? Bagaimana bisa?" ucap Yukiko tidak percaya.
"Dia…tertembak di dekat jantungnya. Dokter bilang keadaannya sudah mulai stabil, tapi dia masih belum bangun hingga saat ini," jelas Shinichi seraya maju beberapa langkah. Melihat itu, Shiho mengubah sedikit posisi berdirinya dan kembali bersandar pada dinding sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
'Sepertinya ini akan lama…kenapa tidak ada kursi di sekitar sini?'
"Lalu, apa yang akan kau lakukan setelah ini, Shinichi?" tanya Yukiko masih dengan suara khawatir.
Shinichi menghela napas pelan dan memejamkan kedua matanya.
"Entahlah, tapi aku sudah menyiapkan beberapa rencana. Kuharap kali ini aku dapat benar-benar menghancurkan organisasi itu."
"Shinichi, kuharap kau tidak bertindak gegabah," ucap Yukiko. Mendengarnya, Shinichi hanya tersenyum kecil.
"Akan kuusahakan. Kalau begitu, sudah dulu ya, Ibu. Masih ada hal yang harus kuselesaikan. Sampaikan salamku pada ayah," ucap Shinichi sambil memutar tubuhnya menghadap Shiho. Shiho yang menyadari kalau pembicaraan akan segera selesai, menegakkan tubuhnya.
"Ya, akan kusampaikan," jawab Yukiko. "Jika tidak ada kesibukan, mungkin aku akan pulang ke Jepang untuk memastikan bahwa kau baik-baik saja. Jangan larang ibu, Shinichi!"
"Baiklah, baiklah," ucap Shinichi dengan nada pasrah.
"Oh, ya, sampaikan salam Ibu pada Profesor Agasa…juga pada temanmu yang berambut merah itu."
Shinichi menatap Shiho sesaat. "Baiklah, akan kusampaikan."
"Bye, Shin-chan."
"Bye, Ibu."
Shinichi menekan tombol 'Finish' dan memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku celana.
"Ada salam dari ibuku," ujar Shinichi ringan sambil mulai melangkahkan kakinya kembali. Shiho yang berusaha menyamakan langkah, memandang Shinichi heran.
"Untukku?" tanyanya ragu.
"Ya, untukmu…"
Shiho terus berjalan di samping Shinichi. Semburat merah tipis terlihat di pipinya. Cahaya koridor markas kepolisian yang tidak remang-remang itu, membuat Shinichi dapat melihatnya dengan sangat jelas.
"Ada apa? Wajahmu…" tanya Shinichi sambil menunjuk-nunjuk pipinya sendiri. Shiho terkesiap mendengar ucapan Shinichi. Dia juga merasakan bahwa pipinya mulai memanas.
"Tidak apa-apa," ucapnya cepat. "Mungkin aku merasa sedikit…senang?" suaranya mengecil di akhir kalimat.
"Senang katamu?"
Shiho mengangguk pelan. "Ya…aku tidak pernah menerima salam dari seseorang, seingatku."
"Ooo," gumam Shinichi sambil tetap memandang semburat merah wajah Shiho dari sudut matanya. Dia memang sudah beberapa kali melihat ekspresi malu Shiho yang seperti itu saat ia masih menjadi Ai Haibara. Tapi, dia merasa kalau yang kali ini sedikit berbeda dari biasanya.
"Hei," panggil Shinichi. Shiho menoleh.
"Kau yakin tidak apa-apa? Nng, maksudku, wajahmu…"
"Ha?" gumam Shiho tidak mengerti. "Sudah kubilang kan tadi?"
"Bukan itu," Shinichi menggelengkan kepalanya. "Hanya saja kau terlihat…seolah tidak enak badan."
Shinichi memandang Shiho dengan khawatir. Melihat itu, Shiho terkesiap, menyadari bila mungkin saja apa yang dikatakan oleh Shinichi itu benar.
"Ah, mungkin saja. Bagaimanapun kau telah membawaku kabur dari rumah sakit," ucap Shiho ringan, bermaksud sedikit menyindir.
"Hei, kau yang memintaku untuk membawamu!"
"Tapi, kau bisa menolaknya jika menurutmu itu tidak baik."
"Bagaimana aku bisa menolaknya, jika-!"
"Jika apa?" mereka berdua menghentikan langkahnya. Shiho berjinjit dan menatap kedua mata Shinichi dengan tajam. Shinichi menarik kepalanya ke belakang, bermaksud menghindari tatapan itu. Dia baru sadar jika ia menahan napasnya untuk beberapa saat setelah ia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya kembali dengan lesu. Dia benar-benar tidak bisa menghindari mata biru itu.
"Ah, sudahlah…" ucapnya sambil melangkah kembali. Shiho mengikutinya dari belakang sambil menahan keinginannya untuk tertawa. "Aku akan mengantarmu kembali ke rumah sakit dan aku yakin perawat yang menjagamu pasti akan mengomeliku habis-habisan, walaupun ini bukan sepenuhnya kesalahanku."
"Ini kesalahanmu, kau harus akui itu," goda Shiho dengan nada sarkastiknya seperti biasa. Bibirnya membentuk senyuman jahil.
"Ya, ya, baiklah…ini salahku."
Saat sampai di kamar tempat Shiho dirawat, kedua orang muda itu disambut dengan seorang perawat yang sudah siap dengan omelannya.
"Miyano-san, ke mana saja anda dari tadi pagi? Saya mencari anda ke mana-mana. Saya kira Anda kabur dari rumah sakit," perawat itu segera menarik Shiho untuk tidur di tempat tidurnya. Dengan cepat dia mengukur tekanan darah dan suhu tubuh Shiho lalu terkejut saat melihat suhu tubuh Shiho yang terukur pada termometer.
"Oh, Tuhan, 39O C! Dan Anda masih berniat untuk keluar dari rumah sakit," seru perawat itu sambil menuliskan hasil pemeriksaannya pada kertas file yang dipegangnya. Dia memeriksa lilitan perban yang ada di lengan kanan Shiho dan mulai menggantinya dengan yang baru.
"Kudo-san, saya harap Anda tidak lagi melakukan hal seperti ini. Musim dingin baru saja dimulai dan ini tidak baik untuk kesehatan pasien. Miyano-san sudah mulai sehat dan saya harap Anda tidak membuat kondisinya memburuk," ucap perawat itu sambil tetap berkonsentrasi mengganti perban di lengan kanan Shiho.
"Ya, ya, aku mengerti," sahut Shinichi lesu. Melihat itu, Shiho hanya bisa menyembunyikan senyumannya.
Perawat itu selesai mengganti perban Shiho dan melihat jam tangannya.
"Miyano-san, sebentar lagi makan siang Anda akan datang dan saya akan memberikan obat penurun panas untuk Anda. Tolong dimakan setelah makan siang. Jika ada apa-apa, Anda bisa langsung memanggil saya. Saya akan ke sini lagi sore nanti," ucap perawat itu dengan nada yang sangat profesional. Shiho mengangguk patuh. Shinichi yang mendengar perkataan yang sangat teratur itu hanya bisa mengerjapkan matanya beberapa kali.
"Selamat beristirahat, Miyano-san," ucapnya sebelum berbalik, membuka pintu dan menutupnya kembali. Shinichi kembali terbengong melihat sikap perawat itu.
"Sepertinya kau menyukai perawat itu," sindir Shiho menyadarkan Shinichi yang sampai tadi masih menatap pintu ruangan itu. Shinichi berbalik menghadap Shiho dan menunjukkan tampang kesal.
"Ukh, Shiho! Sudah cukup kau mengolok-olokku dari tadi. Bagaimana mungkin aku menyukai perawat itu?" seru Shinichi mendekati tempat tidur Shiho. Kedua tangannya diletakkannya di pinggiran ranjang.
"Kalau tidak suka, kenapa kau melihatnya seperti itu?"
Shinichi menghela napas. "Aku hanya tidak menyangka jika perawat yang menjagamu ternyata seperti itu," Shinichi menunjuk pintu di belakangnya dengan ibu jarinya.
"Seperti itu?" ulang Shiho.
"Ya, seperti dirimu…"
"Seperti aku? Yang benar saja…perawat itu membuatku tidak bisa bergerak di hari pertama aku masuk rumah sakit. Dia melarangku makan yang aneh-aneh, melarangku bangun dari tempat tidur…lalu kau mengatakan dia seperti aku?" protes Shiho.
"Persis!" seru Shinichi dengan nada senang sambil menjentikkan jarinya. "Kau melarang profesor makan makanan yang berkolesterol dan bersikap seperti seorang istri."
"Oh, Tuhan! Cukup, Kudo…sekarang pergilah jika kau tidak ingin suhu tubuhku semakin tinggi. Aku sangat lelah hari ini," Shiho membalikkan tubuhnya dan punggungnya membelakangi Shinichi.
"Baiklah, aku akan pergi. Lagipula tidak ada untungnya membuatmu semakin sakit."
Shinichi menunggu jawaban dari wanita yang biasanya melemparkan komentar yang pedas itu. Namun, tidak ada jawaban. Menyadari itu, Shinichi berbalik dan berjalan menuju pintu keluar.
"Kuberitahu, Shiho," Shinichi mulai memutar kenop pintu. "Kau memang tidak pandai pura-pura tidur."
Shinichi sudah berada di luar ruangan, bersiap menutup pintu di belakangnya. "Jika ada apa-apa, aku ada di ruangan Ran…Cepatlah sembuh."
Suara pintu yang tertutup membuat Shiho membuka matanya. Dia berbalik menghadap pintu tempat Shinichi baru saja keluar dan kembali memejamkan matanya.
"Jika ada apa-apa, aku ada di ruangan Ran…Cepatlah sembuh."
Ucapan itu terngiang di telinganya. Dia bingung, dari kedua kalimat itu, mana yang seharusnya lebih ia pikirkan.
To be Continued
Author's Note: Oh, maaf…lagi-lagi saya sangat lambat dalam meng-update…mohon maaf, mohon maaf :nunduk berkali-kali:. Saya akan segera membuat part 10, hari ini juga. Saya berjanji.
