PLAK
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi tirus Jonghyun. Pemuda itu terdiam dengan pikiran berkecamuk.
"Bajingan! Kenapa kau menuduhku seperti itu?!"
Jonghyun menatap Sungmin yang baru saja meneriakinya dengan tatapan bingung. "Menuduh apa, Min?" tanyanya tak mengerti.
"Jangan bertingkah seperti kau tak tahu apa-apa! Kau benar-benar bajingan!" Sungmin kembali berteriak. Membuat beberapa orang yang berada di sekitar danau menoleh memperhatikan mereka berdua.
Jonghyung bertambah bingung. Pemuda itu sedikit risih dengan tatapan orang-orang di sekitarnya. Ia bergerak menarik tubuh Sungmin ke pelukannya. "Apa yang terjadi?" tanyanya pelan.
Sungmin meronta dalam pelukan Jonghyun. "Jangan memelukku!"
Semakin Sungmin berusaha melepaskan diri dari pelukan Jonghyun, semakin kuat pula pemuda itu memeluk gadis yang merupakan mantan kekasihnya itu.
Sungmin akhirnya luluh. Ia tak lagi melawan Jonghyun. Gadis itu tak bisa menahan tangisnya. "Kenapa kau berkata pada Kyuhyun Sonsaengnim kalau kita pernah melakukan hubungan intim?"
…OxXxoOoxXxO…
Title: Bad Boy Good Girl
Rated: M (biar aman)
Genre: Drama, Hurt/Comfort
Cast: Cho Kyuhyun, Lee Sungmin, Kim Kibum, Lee Donghae, Choi Minho, etc
Disclaimer: Cerita ini milik saya, inisiatif saja, imajinasi saya. Dilarang coppy paste tanpa seijin saya. Apapun yang terjadi, aku berharap KyuMin tetap saling memiliki (?) =A=
WARNING: Gender Switch, gaje, typo(es), aneh, DON'T LIKE? DON'T READ!
Jiji Present
"Aku ingin pulang…" lirih Sungmin.
"Nanti dulu… Kau tak dengar di luar hujan deras dan banyak petir, eoh?" Jonghyun mengusap kepala Sungmin yang basah dengan handuk kecil.
Tadi saat di danau mereka sempat kehujanan. Lalu Jonghyun memutuskan untuk membawa Sungmin ke apartemennya. Mereka baru saja sampai di apartemen sepuluh menit yang lalu tetapi bagaikan bocah kecil, Sungmin terus saja merengek ingin pulang.
"Aku bisa naik taxi kalau kau tak mau mengan-"
"Aku akan mengantarmu. Tapi nanti. Setelah hujan reda," ujar Jonghyun menuntut.
"Tapi kalau Umma marah-"
"Ada aku. Kau tenang saja."
Sungmin mengerucutkan bibirnya kesal ketika Jonghyun terus-terusan memotong kalimatnya. "Menyebalkan!" gerutunya.
Jonghyun menatap Sungmin dengan lembut. "Bajumu basah. Kau harus menggantinya," ujar Jonghyun sembari bangkit. Tangannya menepuk pelan kepala Sungmin sebelum berkata, "Aku ambilkan baju ganti untukmu dulu."
…
Sungmin baru saja melepas kausnya yang basah saat tiba-tiba Jonghyun masuk ke kamar mandi yang tidak ia kunci. "Yah!" pekik Sungmin sembari berusaha menutupi tubuh bagian depannya.
Jonghyun justru mendekat. Ia menarik tubuh Sungmin untuk menabrak tubuhnya. Pemuda itu menunduk melihat punggung Sungmin. Tangannya ia gunakan untuk menyentuh luka-luka memar di punggung Sungmin. "Orang tuamu yang melakukan ini?"
Sungmin tak menjawab. Gadis itu justru bergerak risih di peluka Jonghyun saat mengingat ia dalam keadaan setengah telanjang dan berada di dalam kamar mandi berdua dengan mantan kekasihnya itu. "Nan gwaenchana…" ujarnya meyakinkan Jonghyun.
"Kau tidak baik-baik saja, Sungmin. Orang tuamu benar-benar keterlaluan."
"Lalu kau mau apa?!" sentak Sungmin.
"Aku akan melaporkan mereka."
…Bad Boy…
Kyuhyun berjalan keluar dari apartemennya yang berada di lantai lima belas. Walaupun udara malam ini begitu dingin, ia sama sekali tak berniat mengenakan jaket. Justru kaus hitam tipis dan polos, serta celana pendek selutut yang ia pakai. Guru muda itu berjalan dengan santai menuju lift. Melewati kamar-kamar apartemen tetangganya.
Tap tap tap
Tap tap
Tap…
Kyuhyun menghentikan langkahnya saat melihat dua orang yang baru saja keluar dari satu kamar apartemen. Dua orang itu sepasang pemuda dan gadis. Pemudanya terlihat mengenakan celana panjang dan jaket kulit. Sedangkan si gadis telihat memakai hot pants dengan hoodie kuning. "Ehm!" dehem Kyuhyun dengan keras.
Sepasang pemuda dan gadis tadi menoleh. "Sonsaengnim?" ujar mereka berdua bersamaan.
"Kompak sekali," kata Kyuhyun dengan nada mengejek. "Apa yang kalian lakukan?" tanya Kyuhyun dengan tatapan dingin.
Sungmin yang merupakan gadis yang Kyuhyun lihat itu meremas ujung hoodie yang ia kenakan. Bola mata gadis itu telihat bergerak gelisah. "Ng…"
"Oh, aku tahu. Kalian pasti baru saja melakukan sex?" tuduh Kyuhyun.
"Mwo?! Kami tidak pernah melakukan hal seperti itu, Sonsaeng!" seru Jonghyung tak terima.
Kyuhyun mengibaskan tangannya seolah tak peduli dengan belaan Jonghyun. "Siap-siap saja menerima surat pengeluaran kalian dari sekolah."
"Sonsaengnim!" Sungmin menatap Kyuhyun tak percaya. "Jangan menuduh kami seperti itu."
Kyuhyun mengedikkan bahunya acuh. Sementara Jonghyun tengah meti-matian menahan emosinya.
"Seharusnya jika kau yeoja baik-baik, kau tak akan keluar malam-malam seperti ini. Terlebih pergi ke apartemen seorang namja." Kyuhyun menatap Sungmin. "Kalau sudah seperti ini. Bagaimana aku tidak menuduhmu yang macam-macam? Apalagi Umma-mu pelacur, 'kan?"
Sungmin terhenyak.
"Itu membuatku seratus persen yakin kalau kau juga tak jauh berbeda dengan Umma-mu."
"…"
"Karena pepatah mengatakan, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Itu berarti, seorang anak yang terlahir dari rahim pelacur, maka anak itu juga pelacur."
"Apakah seperti ini sikap seorang Sonsaeng kepada anak didiknya?" Jonghyun mencoba membela Sungmin.
"Mwo?" Mata Kyuhyun menyipit mendengar pertanyaan Jonghyun yang mengarah pada pernyataan.
"Sikap Sonsaengnim bahkan lebih kejam daripada seorang jaksa saat menuntut terdakwa." Jonghyun merangkul pundak Sungmin dan berniat melangkah pergi sebelum Kyuhyun menarik lengannya.
Bugh
Pukulan keras Kyuhyun layangkan ke rahang Jonghyun. "Itu imbalan karena kau berani mengataiku dan mencium kekasihku."
Sungmin hendak menolong Jonghyun namun Kyuhyun mencegahnya dengan mendorong tubuhnya secara kasar dan membuatnya tejatuh.
"Aku tak akan segan untuk berbuat kasar pada kalian jika kalian masih berani mengganggu kekasihku." Kyuhyun menatap datar Sungmin. Kedua lengannya ia lipat di depan dada. "Tunggu saja. Masih banyak kejutan untukmu, Sungmin."
…BBGG…
Sungmin mempercepat jalannya saat merasa seseorang mengikutinya. Ia mendadak menghentikan langkahnya dan membalik tubuhnya menghadap ke belakang. "Nuguya?!" tanyanya memberanikan diri dengan suara cukup keras.
Seseorang muncul dari balik dinding sebuah gedung. Pemuda itu tersenyum kepada Sungmin. "Hai," sapanya.
Sungmin menatap tajam pemuda itu. "Kau membuatku takut, Pabboya!"
Pemuda tadi terkekeh. Tangannya bergerak merangkul pundak Sungmin saat ia telah sampai di samping Sungmin. "Mianhae," sesalnya. "Aku ingin menemanimu berjalan kaki ke sekolah."
"Aish… Kau khawatir padaku?" tanya Sungmin.
"Aniyo."
"Lalu?"
Pemuda tadi mengedikkan bahunya. "Ayo, cepat jalan. Di belakang kita ada orang gila."
"B-benarkah?" Sungmin hendak menoleh ke belakang untuk melihat orang gila tersebut namun pemuda tadi menahan kepalanya.
"Kuhitung sampai tiga, dan kita harus lari, arraseo?" bisik pemuda tadi.
Sungmin mengangguk pelan. Sedikit merasa takut.
"Hana… Dul… Set!"
"HUA!" jerit Sungmin saat merasa kemejanya tertarik saat hendak berlari.
Pemuda itu terpingkal. Cukup puas menggoda Sungmin. Ia melepaskan tangannya yang menarik kemeja seragam Sungmin lalu menepuk-nepuk perutnya yang terasa sakit karen tertawa.
"KIM JONGHYUN!"
…
Kyuhyun memasuki ruang kelas dua F. Seperti biasa, guru muda itu tersenyum dan berpenampilan mempesona layaknya guru pada umumnya. "Johun achim," sapanya pada murid-muridnya.
"Johun achim, Sonsaengnim!" jawab satu kelas dengan kompak.
Seluruh murid, termasuk Kibum bergerak mengeluarkan alat tulis dan bukunya.
Kyuhyun tersenyum sekilas melihat bando yang Kibum kenakan untuk menjaga agar rambut panjangnya tidak mengganggu.
Jonghyun dan Sungmin memasuki kelas bersamaan dengan suara yang sedikit gaduh. Kedua sejoli itu nampaknya baru saja berlari. Terlihat dari keduanya yang tersengal. "Johun achim, Sonsaeng," ujar mereka berdua.
Kyuhyun melipat kedua lengannya di depan dada. Kalau saja bukan di sekolah, sudah ia maki kedua orang di depannya ini. "Cepat duduk!"
Jonghyun dan Sungmin sedikit membungkuk sebelum menuju bangku yang kosong untuk duduk. Mereka duduk di deretan paling belakang.
"Keluarkan pekerjaan rumah kalian," perintah Kyuhyun.
Sungmin yang baru saja mengeluarkan buku dan alat tulisnya langsung menepuk keningnya. "Eottokhae?" gumamnya.
Jonghyun yang berada di samping Sungmin mengernyit. "Wae?" tanyanya dengan suara pelan.
"Aniyo." Sungmin tersenyum.
Jonghyun mengangguk-angguk mendengar jawaban Sungmin. Pemuda itu mengeluarkan tugas rumahnya saat melihat Kyuhyun mulai berkeliling.
Kyuhyun berhenti di meja Eunhyuk ketika tak melihat tugas Eunhyuk di atas meja gadis itu. Guru muda itu mengankat dagu Eunhyuk yang menundukkan kepalanya dengan menggunakan penggaris kayu. "Mana tugasmu?" tanya Kyuhyun.
"A-aku… Mm… Tugasku tertinggal Sonsaeng," jawab Eunhyuk.
Brak
"Maju ke depan!" perintah Kyuhyun dengan galaknya setelah memukul meja Eunhyuk dengan penggaris kayu tadi.
Eunhyuk segera bangkit dan berjalan tergesa ke depan kelas karena takut.
"Siapa lagi?" tanya Kyuhyun.
Donghae melihat itu. Pemuda dengan senyum innocent itu menyembunyikan tugasnya di dalam laci. Ia mengangkat tangannya sebelum melangkah ke depan kelas untuk menyusul Eunhyuk.
"Kalian yang belum mengerjakan tugasku, silakan maju ke depan!" gertak Kyuhyun.
Sungmin mengepalkan tangannya yang bergetar ketakutan. Gadis itu menggigit bibir bawahnya dengan ragu. Ia berniat untuk bangkit dari tempat duduknya namun urung karena Jonghyun menarik lengannya untuk mencegahnya berdiri.
Jonghyun menggeser tugasnya ke atas meja Sungmin. "Tetap di sini," bisik Jonghyun. Pemuda itu bergerak bangkit dari kursinya dan melangkah maju ke dapan kelas.
Kyuhyun menyipitkan matanya. Ia menatap curiga pada Sungmin yang terlihat memperhatikan Jonghyun dengan tatapan khawatir. "Lee Sungmin, kau sudah mengerjakannya?" tanya Kyuhyun dengan penuh kecurigaan.
Sungmin belum menyadari pertanyaan Kyuhyun yang terlontar padanya. Seluruh perhatian terpusat kepadanya yang duduk di barisan tengah deret palig belakang. Ia masih menatap Jonghyun yang juga menatapnya. Melihat Jonghyun yang mengangguk, Sungmin memalingkan pandangannya ke arah Kyuhyun dan dengan ragu menjawab, "Ne. Sudah, Sonsaeng."
Kyuhyun tetap saja tak percaya. Ia mendekati meja Sungmin. Lalu merebut kertas portofolio milik Sungmin. Mata guru muda itu menyipit membaca tulisan Hangeul di pojok kiri atas. "Kim Jonghyun? Sejak kapan namamu berubah menjadi Kim Jonghyun?"
Jonghyun menepuk keningnya. Niatnya menolong Sungmin malah membuat Sungmin semakin dalam masalah.
"I-igeo…"
"Ke depan sekarang!" bentak Kyuhyun.
Sungmin mendongak untuk menatap wajah Kyuhyun yang tengah menatapnya dengan tajam. "Shireo," ujarnya yang dengan santai menopang kepalanya dengan sebelah tangan di atas meja.
"Shireo?" tanya Kyuhyun yang mulai mengangkat penggarisnya.
"Nde. Shireo. Aku tidak akan maju ke depan meski kau memaksaku." Sungmin masih saja berkeras kepala.
"Baiklah, Lee Sungmin, kau yang meminta." Kyuhyun mengayunkan penggaris kayu yang ada di tangannya mengenai punggung Sungmin.
Sungmin tersentak saat merasakan pukulan di punggungnya. Pikirannya melayang pada memori beberapa hari yang lalu saat Appa-nya memukulinya dengan tongkat rotan. "Appo!" teriaknya.
Tubuh Kibum menegang. Ia ingin menghentikan Kyuhyun, tapi ia takut kalau hubungannya dengan Kyuhyun diketahui teman-temannya.
"Maju ke depan sekarang!" bentak Kyuhyun lebih keras sembari memukul punggung Sungmin sekali lagi.
Jonghyun mengeram. Pemuda itu melangkah kasar mendekati Kyuhyun dan Sungmin. "Berhenti melakukan kekerasan!" Dengan berani, Jonghyun mendorong tubuh Kyuhyun.
"Ya, kau itu tidak ada sopan-sopannya sama sekali pada Sonsaengnim!" seru Minho.
Jonghyun menatap Minho dengan sinis. "Apa masalahmu?" tanyanya sarkastik.
Minho berdecak. "Kau dan Sungmin membuat malu saja di kelas ini. Lebih baik kalian berdua pergi!"
Berbeda dengan Minho dan Jonghyun yang rebut, Sungmin justru terdiam dengan kepala menunduk. Pundak kecil Sungmin sedikit bergetar. Tidak bisa disebut menangis karena tidak ada air mata yang keluar dan juga isakan yang terdengar. Gadis itu meringis pelan merasakan perih di punggungnya yang kembali terasa.
"Wae? Kau ingin sok menjadi pahlawan untuk anak pelacur itu?!"
"Minho, hentikan!" gertak Kyuhyun yang tak ingin jika sepupunya terlibat perkelahian.
"Gwaenchana, Sonsaengnim. Namja itu tak akan berani memukulku. Tubuhnya saja kecil begitu," ejek Minho pada Jonghyun.
Jonghyun mengepalkan tangannya menahan emosi. Namun luluh saat melihat pundak Sungmin yang bergetar. "Gwaenchana?" tanya Jonghyun saat mengangkat dagu Sungmin.
"Gwaenchana…" jawab Sungmin dengan lirih.
"Ayo keluar," ajak Jonghyun yang segera menggamit tangan Sungmin.
"Jangan harap kalian bisa seenaknya meninggalkan pelajaranku. Berhenti di depan kelas atau kalian tahu akibatnya," ancam Kyuhyun.
Sungmin menghentikan langkahnya bersama Jonghyun. "Kami memang akan ke depan kelas," ujar Sungmin.
Kyuhyun menahan dengusannya ketika mendapatkan sikap menyebalkan Sungmin. Guru muda itu menghela napas untuk membuang emosinya. "Kim Kibum, tulis hasil pekerjaanmu di papan tulis," suruh Kyuhyun dengan senyum manis.
"Ne, Sonsaeng." Kibum segera bangkit dari tempat duduknya dengan kertas portofilio berisi tugasnya ke depan kelas. Ia mengambil board marker di meja guru dan mulai menuliskan hasil pekerjaan rumahnya.
"Yang lain, cocokkan hasil pekerjaan kalian dengan milik Kibum."
…13elieve to 7ove…
"Kenapa kau tidak mengerjakan tugasku, hah?!" bentak Kyuhyun.
"Aku tidak bisa mengerjakannya, jadi aku tidak mengerjakannya. Aku mendapat kesulitan. Itu sulit, Sonsaeng," jawab Sungmin dengan kesal karena Kyuhyun terus saja membentaknya.
"Itu akibatnya jika kau tak pernah belajar!"
"Aish, Sonsaengnim! Berhenti membentakku!" seru Sungmin. "Sonsaengnim membiarkan yang lain tapi tetap menahanku. Apa mau Sonsaeng?"
Kyuhyun mendengus. "Berhenti mengganggu Kibum."
"Hmph! Itu tidak masuk akal. Sonsaeng macam apa, kau? Pilih kasih!" sindir Sungmin.
"Memang," kata Kyuhyun enteng. "Kau pikir aku ke sini untuk menjadi seorang Sonsaeng?" Kyuhyun mendekatkan wajahnya kepada Sungmin.
Mata Sungmin mengerjab lugu. "Maksudmu?" tanyanya tak mengerti.
"Tujuan utamaku ke sini bukan untuk menjadi pengajar. Tapi untuk menjaga Kibum sampai ia lulus tahun depan." Kyuhyun menyandarkan punggungnya di sandaran kursi yang ia duduki yang berada di ruangannya. "Aku. Cho Kyuhyun. Usiaku sembilan belas tahun. Seharusnya tahun ini aku masuk universitas di London. Tapi karena kau-" Kyuhyun menunjuk wajah Sungmin dengan bolpoin yang ada d tangannya.
"Naega?" Sungmin semakin tak mengerti. Tapi di samping itu, perasaannya semakin berkecamuk. Ia menyukai Kyuhyun sejak awal ia melihaatnya saat ia membolos pelajaran Kim Sonsaengnim. Dan sekarang, setelah mengetahui bahwa Kyuhyun masih muda, ia bertambah menyukainya. Sungmin berkhayal, bagaimana kalau nanti Kyuhyun membalas perasaannya? Ia akan memiliki seseorang yang bisa menjaganya lagi. Melindunginya dan membelanya di depan orang tuanya yang egois.
"Ya!" Kyuhyun menggebrak meja untuk menyadarkan Sungmin dari lamunannya. "Apa kau mengerti dengan apa yang kukatakan?"
"Nde…" jawab Sungmin lesu. "Maafkan aku. Aku tidak bermaksud jahat kepada Kibum. Aku hanya iri padanya karena dia pintar. Selain itu, dia juga lebih seksi dariku. Maka dari itu aku merasa iri. Ia juga memiliki seorang Umma yang menyayanginya. Lalu…" Sungmin menggigit bibir bawahnya sebelum melanjutkan, "Ia juga memiliki seorang Appa yang selalu memanjakannya, walaupun sebenarnya itu adalah Appa-ku-"
Brak
"Itu Appa Kibum!" bentak Kyuhyun yang baru saja menggebrak meja.
Sungmin menatap Kyuhyun dengan wajah memelas. "Terserah saja. Kau akan membelanya karena dia adalah kekasihmu. Kibum… Ia memiliki kehidupan yang sempurna. Dan sekarang, dengan penampilan barunya, semakin banyak saja namja yang menyukainya," lanjut Sungmin. "Kibum memiliki semua hal yang tidak kupunya. Orang tua, kepintaran, teman, dan… seseorang yang ia cintai." Sungmin melirik Kyuhyun.
Kyuhyun mendecih pelan. "Sudah selesai curhatmu?" tanya Kyuhyun sinis.
Sungmin menggeleng. "Sonsaengnim, bisakah kau memaafkanku atas kesalahan yang kulakukan terhadap Kibum?"
Kyuhyun menaikkan sebelah alisnya. "Tergantung."
"Mwo?"
"…"
"Maksud Sonsaeng?"
"…"
"Tergantung bagaimana?"
"Tergantung alasanmu."
"Alasan?"
"Apa alasanmu sampai kau ingin aku memaafkanmu?"
Sungmin mendesau. "Aku menyukai Sonsaeng."
…Tebeseh…
BACA DULU
Annyeong, apa kabar? :)
Aku balik bawa chapter 3 buat Bad Boy Good Girl.
Mian masih pendek. Soalnya kalo panjang2, aku ga bisa. Kapasita otakku Cuma segini =A="
Buat yang kemarin nanya, kok judulnya kayak kebalik? Emang aku sengaja. Biar jadi teka-teki, siapa yang bad dan siapa yang good di sini sebenernya.
Trus kmarin ada yang bilang, Sungmin bad girl, tapi kenapa cengeng? Jadi chingu, Sungmin itu ga seburuk yang dipikirkan orang2. Di balik sikap buruk Sungmin, Sungmin nyimpan banyak penderitaan. Jadi dia itu kelihatan baja di luar tapi rapuh di dalamnya.
Trus ada lagi yg bilang knapa Kibum ga di kasih penjelasan fisik jadi sulit bayanginnya. Padahal aku udah kasih penjelasan fisik Kibum di chapter 2 lo… Chingu kurang teliti bacanya nih. Trus, Kibum kelas berapa? Di chapter satu udah dijelasin. Kibum itu temen satu kelas Sungmin. Dan waktu awal chapter satu, dimana saat Kim Sonsaengnim ngabsen murid2nya, di sana Sungmin bolos. Itu berarti Kim Sonsaeng ada di kelas Sungmin. Dan di sana aku juga udah tulis kata 'kelas dua'. So, aku ga salah dong, ya :)
Trus yang request masa lalu Kibum sama Sungmin, ntar di chapter 4 kalo ga chapter 5. Tenang aja, flash back pasti ada kok ;)
Segitu aja chingudeul.
Jangan lupa review lagi, OK? Review yang nae superman juga, oi =A=
GomaWOOK
ThanKYUMIN :*
Last…
KyuMin is Real :D
Surakarta, 23 Oktober 2014
Jiji Choi *love sign
