DISCLAIMER: I do not own Detective Conan. Characters belong to Gosho Aoyama.

Part 10

If Only…

Pintu itu terbuka, menunjukkan sebuah sosok langsing berpakaian dan bertopi hitam. Sosok itu mendekati sebuah kursi santai yang menghadap jendela besar yang terbuka. Di luar jendela itu terletak sebuah beranda dengan pemandangan langit malam yang tertutupi berbagai bangunan tinggi dan megah. Cahaya yang terlihat dari bangunan-bangunan itu mirip dengan cahaya bintang yang biasanya dapat terlihat di langit malam yang terbuka. Hanya saja, cahaya itu tidak berkelap-kelip seperti bintang yang malu-malu. Justru sebaliknya, cahaya itu bersinar sepanjang malam hingga sinar matahari mengalahkannya. Cahaya itu menunjukkan betapa hebatnya peradaban manusia di tengah kota lautan manusia itu.

Sebuah gelas kristal memantulkan pemandangan itu dalam sebuah landscape kecil di antara cairan berwarna merah. Sesekali cairan itu bergoyang pelan, mengaburkan pemandangan yang terpantul di dalamnya. Sang pemegang gelas pun tersenyum melihatnya, menertawakan nasib kesombongan yang ia pikir dapat ia pecahkan kapan pun seperti gelas di dalam genggamannya itu.

"Bos," panggil sosok wanita berbalut pakaian hitam itu. Tubuh di dalam pangkuan kursi yang kelihatannya merupakan tujuan si pemanggil itu tidak memberikan jawaban, tetap asyik memandangi gelas di tangannya.

"Kenapa Anda melakukan semua ini?" tanya sosok itu tidak bergerak di sudut ruangan. Wajahnya terlihat tenang, namun suaranya terdengar bingung dan heran.

"Maksudmu?" orang yang dipanggil bos itu akhirnya mengeluarkan suara.

"Membiarkan Gin mati dan Vermouth tertangkap…apa tujuan Anda sesungguhnya?"

Sosok yang ditanya itu tidak menjawab, masih terus memain-mainkan cairan merah di gelas yang dipegangnya.

"Bos-!"

DOR!

Sebuah suara tembakan membuat wanita itu tidak mampu melanjutkan perkataannya. Dinding tepat di samping kepalanya kini telah berlubang oleh sebuah peluru. Wanita itu terdiam dan tetap memasang wajah tanpa ekspresinya, namun ia tidak bisa menyembunyikan kedua tangannya yang bergetar di sisi tubuhnya. Ia dapat melihat sebuah pistol yang masih berada di tangan bosnya itu dan dia tidak punya alasan untuk membuat orang itu melepaskan tembakannya lagi.

"Kau berani menanyakan hal seperti itu kepadaku…Kir?" ucap orang itu dengan nada suara yang dingin. Tidak berani mengganggunya lebih jauh lagi, Kir menundukkan kepalanya dan berniat beranjak dari ruangan itu. Ia tengah memutar kenop pintu saat suara yang dingin itu berbicara dengannya.

"Aku tidak pernah berniat mengorbankan Gin ataupun Vermouth…"

Kir berhenti dan menutup kembali pintu yang sudah terbuka sedikit itu.

"Mereka sendirilah yang membuatku berubah pikiran."

Kir berbalik dan menatap sosok yang kini telah berdiri dari tempat duduknya itu. Hanya punggungnya yang menatap Kir dengan dingin dan angkuh.

"Aku menyukai Vermouth…Dia cantik, pintar dan kemampuannya sangat hebat. Dia memiliki seribu wajah dan mampu menyerupai siapa saja. Dia mampu membunuh orang tanpa ragu dan menghalalkan segala cara…

…Tapi dia cerdik, terlalu cerdik…Hingga aku ketakutan dengan kecerdikannya itu…"

Kir mendengarkan itu semua dengan seksama, tidak melewatkan satu kata pun.

"…Orang cerdik seperti dialah yang dapat membuat perubahan yang tidak pernah diduga…dan aku tidak menginginkan itu."

Kir maju beberapa langkah, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Sepengetahuaannya, Vermouth adalah anggota kesayangan bosnya ini. Lalu apa dengan alasan sesederhana itu, semua ini dapat terjadi?

Sosok itu tertawa pelan. "Mungkin kau bingung dengan alasanku yang terdengar bodoh itu, tapi itulah kenyataannya. Memang hanya itu alasan yang kubutuhkan untuk tidak membutuhkannya lagi."

"Bagaimana dengan Gin?" tanya Kir singkat. Di sudut hatinya yang paling jauh, dia masih takut jika orang itu kembali melepaskan tembakannya. Oleh karena itu dia menanyakan pertanyaan singkat itu sambil terus berdoa di dalam hatinya.

"Untuk menyingkirkan Vermouth, hanya ada dua cara. Membunuhnya atau membuatnya tertangkap polisi. Namun, pilihan pertama sangat sulit untuk dilakukan."

"Kau bisa menyuruh Chianti atau Korn untuk menembaknya…"

"Tidak semudah itu," sosok itu berbalik dan kini wajahnya lah yang menghadap Kir.

"Walaupun Chianti sangat membenci Vermouth, namun alasan seperti itu tidak dapat kugunakan untuk membuatnya membunuh Vermouth. Lagipula, Vermouth adalah anggota yang berharga. Semua anggota tahu hal itu. Jika kuminta Chianti untuk membunuhnya pun, dia dan anggota lain pasti akan mempertanyakannya. Aku malas mengarang-ngarang cerita hanya untuk membuat mereka semua percaya dengan alasanku," jelas orang itu panjang lebar.

"Jadi?"

"Yang kemampuannya hampir sama dengan Vermouth adalah Gin…" ucapnya ringan sambil tersenyum licik.

"Jadi kau bermaksud membuat Gin membunuh Vermouth? Tapi, yang terjadi justru sebaliknya," ucap Kir tidak mengerti.

Bos organisasi itu berdecak dan menggerak-gerakkan telunjuk tangan kirinya yang bebas, bermaksud menunjukkan pada Kir jika ia salah.

"Justru, yang terjadi hingga saat ini sesuai dengan keinginan dan perkiraanku…"

"Aku tidak mengerti!" kini Kir berbicara dengan nada yang mulai meninggi. Dia sudah tidak sabar dengan tingkah bos nya yang berputar-putar ini.

"Sehebat apa pun Gin, aku tahu dia tidak mempunyai kemungkinan yang besar untuk mengalahkan Vermouth. Jadi, aku menggunakan Gin untuk membuat Vermouth mendapatkan pilihan yang kedua…" sebuah senyuman mengerikan terukir di bibir orang itu. Dia mendekatkan gelas yang dipegangnya sedari tadi ke bibirnya dan mulai meneguk cairan itu hingga tinggal separuhnya.

Kir yang mendengar itu terbelalak tidak percaya. Mulutnya terbuka sedikit dan matanya memandang wajah di depannya itu dengan perasaan yang campur aduk.

Puas dengan minuman yang telah mengaliri dahaganya, orang itu meletakkan gelasnya di atas meja kecil di samping kursi santainya.

"Lagipula, jika Vermouth tidak terbunuh, mungkin suatu saat ia akan kembali dan mungkin ia masih bisa berguna," ucapnya diakhiri dengan suara tawa yang membuat Kir merasa mual. Kir lalu menundukkan kepalanya dan berjalan kembali mendekati satu-satunya pintu yang ada di ruangan itu. Sebelah tangannya meraih kenop pintu dan memutarnya. Ia sudah berada di luar ruangan dan akan menutup pintu tersebut saat orang itu menyebut namanya.

"Kir…kusarankan untuk tidak bertindak gegabah jika kau tidak ingin mengalami hal yang sama dengan mereka…"

Kir hanya menatap sosok itu dari sudut matanya dan menutup pintu di belakangnya, meninggalkan orang itu dengan suara tawanya yang tetap terdengar dari balik daun pintu tebal yang telah tertutup.

Ia berjalan meninggalkan tempat itu menyusuri koridor yang terang dan panjang. Di sepanjang jalan ia hanya dapat menemukan orang-orang berbaju hitam yang berdiri tegak dengan muka menyeramkan. Dia merasa jika orang-orang itu memandangnya dengan pandangan curiga, atau memang wajah dan pandangan mereka sudah seperti itu sejak awal.

Kir berusaha untuk tidak memedulikan mereka dan terus berjalan hingga tiba di sebuah ruangan luas yang mirip dengan lobi hotel berbintang lima. Ia berjalan keluar dari tempat itu setelah dua orang membukakan pintu yang sangat besar untuknya. Saat melihat pintu itu hanya satu yang ada di dalam pikirannya.

Ah, jika sendirian aku pasti tidak akan mampu membuka pintu ini…

Wanita berambut hitam itu berjalan mendekati mobil miliknya yang terparkir di halaman bangunan itu, membuka kuncinya dan masuk ke dalamnya. Ia menghidupkan starter dan mulai menjalankan mobil itu keluar menuju jalan raya.

Setelah mobilnya mulai menjauhi tempat yang didatanginya tadi, ia mengambil ponsel dari saku celananya dan handsfree dari tempat kecil yang seharusnya menjadi asbak rokok di dalam mobil. Ia menyambungkan handsfree itu dengan ponselnya dan mulai menekan beberapa tombol. Ia lalu menempelkan handsfree itu di telinganya. Tak lama kemudian, sebuah suara menjawab panggilannya.

"Jodie?" panggilnya.

"Rena? Di mana kau?" tanya suara itu dengan nada sedikit terkejut.

"Maaf, aku baru bisa menghubungi kalian. Kejadian beberapa lama yang lalu membuatku tidak bisa bergerak. Aku menyalahkan kalian dan kepolisian Jepang untuk hal ini. Bagaimana pun aku juga mempunyai tujuanku sendiri."

"Oh, maafkan kami. Kami tidak berniat mengganggumu," jawab Jodie dengan nada pura-pura menyesal. Sejujurnya dia tidak bisa menahan senyumnya karena di saat-saat seperti ini Kir masih sanggup bercanda.

"Baiklah, aku tidak bisa menghubungi lama-lama. Hanya ada satu hal yang ingin kusampaikan," Kir menarik napas sesaat. "Semua yang telah terjadi pada organisasi beberapa waktu ini telah diperkirakan oleh 'orang itu'. Dia jugalah yang menginginkan terbunuhnya Gin dan tertangkapnya Vermouth."

"A-apa!" ucap Jodie tidak percaya.

"Yang bisa kukatakan…'orang itu' adalah orang gila yang lebih gila dari Gin dan Vermouth. Dia menganggap nyawa manusia tidak lebih dari seekor semut. Berhati-hatilah."

Jodie terdiam sesaat dan dengan suara sedikit bergetar ia menjawab, "Baiklah…"

"Kalau begitu sudah dulu-"

"Hei! Apa kau sudah tahu?" seru Jodie tiba-tiba, memotong perkataan Kir.

"Apa?"

"Bahwa database yang ditemuka kepolisian Jepang adalah palsu?"

"Oh, Tuhan!" ucap Kir pelan. "Ini menyulitkan saja."

"Mungkin kau bisa membantu kami menemukan yang asli?"

Kir menghembuskan napas dengan sedikit keras. "…Menambah pekerjaanku saja," ucapnya malas.

"Aku tahu kau bisa diandalkan, Rena."

Tanpa menjawab apa pun lagi, Kir menekan tombol yang tergantung di handsfreenya dan kembali berkonsentrasi pada jalan di depannya.

"Siapa?" tanya pria berkumis kelabu itu dari balik punggung Jodie yang baru saja memasukkan ponselnya ke dalam saku blazernya. Jodie berbalik dan menemukan atasannya, James Black, di belakangnya.

"Mizunashi Rena. Seperti biasa, dia memberikan informasi terbaru yang ia dapatkan," jawab Jodie sambil tersenyum.

"Lalu, info apa itu?" tanya James lagi.

"Bahwa kematian Gin dan tertangkapnya Vermouth telah direncanakan oleh bos mereka sendiri."

Mendengar itu, James tidak mengeluarkan satu kata pun, kecuali, "Gila…"

"Ya, tanggapanmu sama saja dengan Rena," Jodie mulai berjalan keluar dari ruangan itu. "Aku ingin tidur, ini sudah terlalu larut. Aku akan menghubungi bocah detektif itu besok pagi untuk memberitahukan berita ini." James hanya mengangguk dan berjalan mendekati jendela yang terbuka di ruangan itu. Pandangannya terarah kepada langit malam yang terlihat muram.

"Seandainya Akai masih ada di sini bersama kita semua," ucap James pelan, berusaha agar tidak terdengar Jodie. Namun, pendengaran Jodie masih terlalu baik untuk tidak mendengarnya. Dia hanya menunduk dan berjalan meninggalkan James di ruangan itu.

Ya, seandainya…

To be Continued