DISCLAIMER: I do not own Detective Conan. Characters belong to Gosho Aoyama

Part 11

Bitter

Wanita itu berlari dan terus berlari melewati jalan-jalan yang kotor dan sepi. Dinding-dinding di sekitarnya begitu tinggi dan dingin. Lampu jalanan di sekitarnya menyala sangat redup, bahkan mati sesekali. Hanya cahaya bulan yang membantunya untuk melihat belokan-belokan yang ia lewati. Sesekali ia terjatuh dan meninggalkan bekas lecet di telapak tangan serta lututnya. Ia akan berhenti, mengatur napasnya sesaat dan kembali berdiri. Lalu ia akan kembali berlari dan terus berlari.

Napasnya telah tersengal-sengal dan kedua bibirnya terus terbuka, berusaha mengambil oksigen sebanyak mungkin. Peluh telah memenuhi dahinya dan mengalir di pipinya, seperti airmata yang berusaha ia tahan sejak tadi, namun tetap saja mengalir. Sekilas matanya menangkap bayangan hitam terpantul di dinding-dinding bata yang tinggi itu dan napasnya akan semakin memburu, takut jika bayangan itu berhasil menangkapnya.

Suara burung gagak yang berkoak-koak membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Ia menutup kedua telinganya, berusaha mengurangi suara-suara yang membuat dirinya semakin takut. Tetapi, percuma saja. Suara-suara itu terdengar semakin kencang di telinganya. Malah kini suara-suara aneh yang terdengar seolah mentertawakan dan mengejek dirinya juga mulai terdengar.

Pengkhianat…pengkhianat…

Suara itu terus berdengung-dengung di kepalanya, membuat kedua tangannya yang gemetar menutup telinganya semakin rapat.

Pengkhianat…pengkhianat…pengkhianat!

Kini ia menutup kedua matanya juga dan menggertakkan giginya kuat-kuat, berharap suara-suara itu segera menghilang dari pendengarannya. Bahkan ide gila untuk merusak gendang telinganya sendiri sempat terlintas di otaknya yang sudah kacau.

Pengkhianat! Mati saja kau! Mati!

Ia terjatuh untuk kesekian kalinya, namun kali ini ia tidak sanggup lagi untuk bangun. Tenaganya telah terkuras habis dan ia hanya bisa tersengal-sengal, berusaha mengatur napasnya. Wajahnya menghadap lantai jalanan yang kotor dan kedua tangannya masih berada di sisi kepalanya. Kemudian ia mendengar suara langkah yang semakin lama semakin dekat. Ia kenal benar dengan suara langkah itu, walaupun terdengar seperti langkah berat biasa.

Wanita itu mengangkat tubuhnya dengan sisa-sisa kekuatan yang dimilikinya. Diangkatnya kepalanya dan dia menemukan dinding yang sangat tinggi di hadapannya. Jalan buntu!

"Kau tak bisa lari lagi…" langkah itu berhenti tepat di belakangnya dan sebuah suara yang sangat dingin menyapanya. Saat itu juga, wanita itu merasakan jantungnya berhenti berdetak. Matanya membelalak dan kedua tangannya yang kini menahan tubuhnya bergetar hebat.

"Ada apa? Apa yang kau takutkan?" tanya orang itu dengan nada mengejek. Wanita itu samar-samar mencium bau tembakau dan alkohol dari sekitar tubuh orang itu. Bau yang sangat membuatnya mual.

Wanita itu memberanikan diri untuk memutar kepalanya, dan melihat sosok orang berlangkah berat itu tepat di belakangnya. Ia mendongakkan kepalanya dan menatap wajah yang menyeringai itu dengan penuh kebencian. Ia ingin sekali berdiri, melayangkan satu pukulan ke wajah sombong itu dan melarikan diri secepat mungkin, namun ia sudah terlalu lelah untuk melakukan semua itu.

Dan saat sebuah pistol diarahkan padanya oleh orang itu, ia menutup kedua matanya dengan pasrah…

"Pengkhianat tetaplah seorang pengkhianat…Sherry!"


"HENTIKAN!"

Suara itu menghentikan tangannya yang tengah memasukkan sesendok bubuk kopi ke dalam sebuah cangkir. Spontan ia meletakkan sendok yang tadi dipegangnya dan bergegas menuju sumber teriakan itu, sebuah kamar di lantai dua. Ia memutar kenop pintu di hadapannya dengan cepat dan mendapati orang yang dicarinya terduduk di atas tempat tidur dengan keringat yang membasahi wajahnya. Ia segera mendekati orang itu dan berdiri di sisi tempat tidurnya dengan wajah bingung.

"Kudo-kun, ada apa?" tanya Shiho dengan suara sedikit cemas, walau wajahnya tetap dingin seperti biasa. Shinichi menoleh, menatap wajah dingin itu dengan matanya yang masih merah dan nanar. Bibirnya yang kering dan belum dibasahi oleh seteguk air pun memanggil nama wanita di hadapannya itu.

"…Shiho…"

Shiho mengerjapkan mata dua kali saat mendengar Shinichi menyebut namanya. Ia membungkukkan tubuhnya sedikit.

"Kudo-ku-!"

Shiho belum selesai mengucapkan nama Shinichi saat ia merasakan tangan kirinya ditarik dan tubuhnya terjatuh.

"…Shiho, aku…melihatmu ditembak…" ucap Shinichi dengan lirih, hampir tidak terdengar jika saja kini telinga kiri Shiho tidak berada tepat di sisi kepala Shinichi. Shiho terdiam mendengar ucapan itu. Lebih tepatnya, dia tidak tahu harus menjawab apa…dalam keadaan seperti ini. Tangan kirinya masih digenggam erat oleh Shinichi dan tangan kanannya ia gunakan untuk menahan tubuhnya. Kepalanya terbenam di balik bahu Shinichi dan tangan kiri Shinichi yang menahan punggungnya erat membuatnya tidak dapat bergerak. Kaki kanannya tertekuk di atas tempat tidur sementara kaki kirinya yang tertinggal berjinjit kecil di atas lantai. Ya, posisi yang sangat tidak nyaman…

"…Aku tidak tertembak, kau bisa lihat aku baik-baik saja…" ucap Shiho, berusaha untuk terdengar senormal mungkin. Namun, Shinichi masih belum melepaskan dekapannya dari Shiho.

"Kau bermimpi, Kudo-kun," lanjut Shiho, berharap Shinichi segera melepaskannya agar ia bisa segera bernapas dengan lega. "…itu hanya mimpi buruk. Asal kau tahu saja, aku bermimpi buruk hampir setiap hari."

Tetapi, Shinichi tetap diam. Shiho bisa merasakan detak jantung Shinichi yang sangat cepat. Mungkin Shinichi tidak pernah bermimpi buruk, pikirnya…dan Shiho merasakan kini dia benar-benar sulit untuk bernapas.

"Kudo-kun, jika kau tidak segera melepaskanku, maka aku bisa saja mati seperti yang kau mimpikan barusan-!" Shinichi segera mendorong tubuh Shiho dari pelukannya dan memegang kedua bahunya dengan erat. Shiho tersentak dan balas memandang kedua mata Shinichi yang memandanginya dengan rasa takut.

"…Ah, iya…maksudku, aku rasa aku tidak jadi mati kehabisan napas…" ucap Shiho gugup. Saat melihat mata Shinichi yang memandanginya seperti itu, dia bingung harus berkata apa. Shinichi memimpikan dirinya tertembak…ya, Shinichi bermimpi tentangnya…lalu apa? Bukankah itu sebuah mimpi buruk? Tapi, kenapa dia malah merasa ada sesuatu yang aneh?

Dia merasa sedikit…senang?

Apakah dia merasa senang mengenai kenyataan bahwa Shinichi memimpikannya, walau itu adalah sebuah mimpi buruk? Benar-benar perasaan yang aneh yang tidak masuk akal…

Shinichi menghembuskan napas lega sambil menundukkan kepalanya dengan lesu.

"Syukurlah, itu semua hanya mimpi…"

"Kurasa kau harus lebih banyak bermimpi buruk agar kau terbiasa dan tidak bersikap mengejutkan seperti tadi," Shiho berkata dengan dingin, ia ingin melupakan perasaan aneh yang ia rasakan beberapa saat yang lalu. Perasaan yang membuatnya tidak bisa melepaskan pandangannya dari Shinichi.

"Tidak, terima kasih. Aku tidak ingin lagi bermimpi buruk seperti tadi. Kau tahu 'kan? Perasaan takut yang amat sangat, namun kau sulit untuk melarikan diri darinya…itu hal yang mengerikan."

"Ya…paling tidak, mereka tidak lebih mengerikan dibandingkan kenyataan. Jika kau bilang sulit melarikan diri dari mimpi buruk, lain ceritanya dengan kenyataan. Kau tak akan pernah bisa lari dari kenyataan, Kudo-kun…

Kau hanya cukup bangun dari tidurmu untuk lari dari mimpi buruk, namun tidak sesederhana itu untuk lari dari kenyataan…"

Shiho mengatakan itu semua dengan ekspresi dingin dan nada sarkastiknya seperti biasa. Shinichi memandang wanita di depannya itu dengan pandangan takjub. Ya, wanita itu memang benar. Kau memang tidak akan pernah bisa lari dari kenyataan…mungkin hal itulah yang selama ini disadari olehnya sehingga ia bisa mengatakannya dengan begitu jelas dan tepat. Mungkin ia ingin mengatakan ini secara tidak langsung, bahwa seribu mimpi buruk tak akan pernah sebanding dengan sebuah kenyataan. Ya, kurang lebih seperti itu…

Sementara Shiho yang baru saja mengeluarkan kata-kata yang berhasil membuat Shinichi terpana, merasa sedikit lega. Dia sudah berhasil menghilangkan perasaan aneh yang dari tadi berputar-putar di kepalanya…dan juga hatinya. Diam-diam Shiho menghembuskan napas lega…

"Ehem!" sebuah suara menyadarkan kedua pemuda itu dari pikirannya masing-masing dan membuat mereka melihat ke arah pintu masuk kamar itu. Profesor Agasa sudah berdiri di sina dengan wajah memerah.

"Nnngg, sarapan sudah siap…apakah kalian tidak lapar?" tanya profesor sambil diselingi suara batuk yang dibuat-buat. Melihat profesor, Shiho membuang mukanya yang ia rasakan mulai memanas. Sejak kapan profesor di situ? Pikirnya.

"Ah, iya…tentu saja kami akan segera turun. Terima kasih, Profesor," ucap Shinichi dengan santai dan tersenyum lebar, merasa tidak enak dengan profesor yang sudah sengaja mengajak mereka sarapan. Mendengar jawaban santai itu, Shiho mengarahkan pandangannya pada Shinichi dan memandangnya dengan pandangan kesal. Shinichi yang menyadari tatapan Shiho yang mengerikan itu balas memandangnya dengan bingung. Ia merasa tidak melakukan apa pun yang dapat membuat Shiho merasa kesal.

"Hei, Shiho, ada apa? Apakah kau sudah selapar itu?" tanya Shinichi dengan polos…terlalu polos bahkan. Shiho masih menatapnya dengan tajam seperti elang yang bersiap memangsa buruannya.

"Cepat-turunkan-tanganmu-!" ucap Shiho dengan penekanan pada setiap katanya. Shinichi segera melihat kedua tangannya dan menemukannya masih berada di atas kedua bahu Shiho. Dengan cepat Shinichi menurunkan kedua tangannya dan memaksakan sebuah senyuman, berharap Shiho tak akan menghujaminya dengan kata-katanya yang menusuk.

Shiho hanya menggelengkan kepala melihat tingkah detektif muda itu. Ia segera berdiri dari tempat tidur Shinichi dan menyadari kedua kakinya mulai kesemutan karena posisi yang aneh tadi.

"Haah, kau berutang padaku, Tuan Detektif," ucap Shiho sambil berjalan menuju pintu tempat Profesor Agasa berada.

"Ha? Apa maksudmu?" tanya Shinichi tidak mengerti.

Shiho meraih kenop pintu dan bersiap menutup pintu di depannya. "Sudahlah, tidak usah dipikirkan. Cepatlah turun jika tidak mau sarapanmu kuberikan kepada anjing liar yang belakangan suka mampir ke sini."

"Ya, baiklah," Shinichi mengangguk. Shiho menarik pintu itu saat Shinichi kembali membuka mulutnya, teringat akan sesuatu yang harus disampaikan.

"Oh, ya, Shiho! Kau tidak lupa, bukan? Kita akan menjenguk Ran siang ini," tanya Shinichi tersenyum lembut. Shiho menahan tarikannya pada pintu yang hampir tertutup itu.

"…Ya, tentu…aku tidak akan lupa," jawab Shiho sambil lalu dan segera menutup pintu itu perlahan, meninggalkan Shinichi yang tersenyum mendangar jawaban Shiho itu.


Shiho berjalan menuruni tangga bersama Profesor Agasa. Setelah sampai di lantai satu, profesor mendekati meja makan untuk mengambil sehelai roti panggang yang telah dibuat Shiho, sementara Shiho terus berjalan menuju meja dapur, melanjutkan ritual membuat kopi yang sempat tertunda tadi.

"Jam berapa kau akan pergi bersama Shinichi?" Profesor Agasa menarik salah satu kursi dan duduk di atasnya, mulai menggigit roti gandum yag dipastikan berkalori rendah itu. Selama Shiho bertugas untuk menyiapkan makanan, bisa dipastikan Profesor Agasa tidak akan dapat menikmati makanan berlemak dan berkalori tinggi.

"Sekitar jam sepuluh nanti, itu pun jika salju tidak turun dengan lebat," Shiho menuangkan air panas ke dalam cangkir merah kesayangannya. Ia mengaduk kopi itu perlahan dan menatap pusaran air kecil yang terbuat karenanya.

"Kuharap Ran segera sadar. Sudah tiga minggu berlalu sejak ia tidak sadarkan diri," ucap profesor sambil melayangkan pandangannya pada tumpukan salju di halaman belakang yang terlihat dari salah satu jendela yang terbuka.

Shiho menghentikan tangannya yang terus mengaduk cairan hitam yang sebenarnya sudah tidak perlu diaduk lagi itu. Matanya menerawang pada minuman favoritnya itu dengan pandangan kosong. Ya, sudah tiga minggu…dan gadis itu tidak pernah menunjukkan tanda-tanda akan segera bangun. Sedikit pun tidak. Walaupun sekedar gerakan kelopak mata ataupun gerakan jari yang samar-samar, ia tidak pernah menemukannya. Gadis itu seolah tidur dengan sangat lelap dan tidak ada yang tahu kapan ia akan bangun.

Sudah dua minggu sejak ia kembali ke rumah Profesor Agasa. Satu minggu di rumah sakit membuatnya sangat bosan, terlebih dengan sikap perawatnya yang sangat kaku dan keras, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan, ia meminta Shinichi membawa dirinya kabur dari rumah sakit saat mereka akan menemui Vermouth.

Sedangkan Shinichi sudah tinggal di sini sejak kejadian di malam itu berakhir. Sebenarnya, Shinichi bersikeras untuk menginap di rumah sakit dan menjaga Ran serta Shiho. Namun, Shiho dan profesor melarangnya dengan alasan bahwa ia juga butuh istirahat. Shinichi pun tidak bisa membantah dan akhirnya menuruti perkataan orang tua dan wanita muda itu.

Shinichi akan menjenguk Ran dan Shiho setiap hari. Ia akan terlebih dahulu menjenguk Ran, duduk di kursi di sisi tempat tidurnya, memandangi wajah teman masa kecilnya yang tidak berdaya itu dan berbicara dengannya walaupun tidak akan ada jawaban yang menyahutinya.

Ia akan membicarakan banyak hal; kisah Sherlock Holmes yang sudah berulang kali ia ceritakan pada Ran, kasus-kasus yang pernah ia pecahkan, pertandingan liga Jepang yang membuatnya sangat bersemangat, kebodohan-kebodohan yang pernah mereka lakukan di masa kecil. Semua kisah itu akan berakhir pada permohonan maaf Shinichi karena telah membuatnya menunggu dirinya dan membuatnya tidak sadarkan diri seperti saat ini.

Ya, seperti itulah Shinichi menghiasi hari-harinya…dan di balik pintu itu Shiho akan berdiri beberapa lama, mendengarkan penggalan-penggalan kisah detektif muda itu. Lalu, ia akan berjalan menuju kamarnya sendiri dan menunggu Shinichi mendatangi kamarnya.

Jika Shiho bisa membayangkan wajah Shinichi yang muram dengan senyuman yang sedih saat menjenguk Ran, maka semua kesedihan itu seolah tidak bersisa saat ia datang ke kamar Shiho. Entah karena ia ingin menunjukkan pada Shiho jika ia baik-baik saja atau karena dia tidak ingin Shiho mengejek wajahnya yang terlihat menyedihkan.

Di kamar Shiho, Shinichi akan menceritakan keadaan Ran dan menceritakan analisis-analisis sementaranya mengenai kejadian yang terakhir menimpa mereka. Kepada Shiho juga lah Shinichi menjelaskan rencananya untuk menemui Vermouth dan segala kemungkinan yang akan terjadi selanjutnya. Lalu, Shinichi akan meletakkan kepalanya di sisi kanan tempat tidur Shiho dan tertidur hingga Shiho membangunkannya saat hari sudah hampir sore.

Mungkin Shinichi tidak pernah menyadarinya jika di saat ia tertidur Shiho akan memandangi wajah tidurnya lekat-lekat. Lalu tanpa sadar jarinya yang lentik akan menyentuh rambut hitamnya dan tangannya yang menjadi bantalan tidurnya. Shiho sendiri tidak pernah mengerti mengapa melihat wajah Shinichi dan menyentuhnya seperti itu membuatnya merasa tenang. Dia pun tidak pernah berniat untuk mengerti. Baginya, mengetahui jika Shinichi ada di sisinya di saat kacau seperti ini membuatnya merasa lebih tenang.

"Hei, Shiho…kopi ini untukku, ya?"

Shiho tersadar dari lamunannya dan melihat cangkir merah yang dari tadi berada di hadapannya sudah tidak ada. Saat dia menoleh ke samping, di melihat Shinichi sedang meminum isi cangkir tersebut.

"Aku belum bilang iya, Bodoh," ucap Shiho sambil mendelik. Shinichi tersedak mendengar jawaban Shiho dan menatapnya kesal.

"Aku tidak bodoh," balas Shinichi.

"Ya, kau bodoh," Shiho berjalan meninggalkan Shinichi yang mulai meringis merasakan kopi buatan Shiho. "Kuberitahu, aku tidak suka memasukkan gula ke dalam kopi."

Shinichi meletakkan kopi itu dia atas meja dapur dan meringis. "Ukh, kopi ini bahkan lebih buruk dari mimpiku semalam…"

To be Continued

Author's Note: Hmm, kepanjangan gak ya? Tiba-tiba aja pengen bikin yang rada panjang, haha…Semoga gak geje dan tetap in character ^^