DISCLAIMER: I do not own Detective Conan. All characters mentioned in this fiction belongs to Gosho Aoyama.
Previously: Tiga minggu telah berlalu sejak Ran mengalami koma dan berada di rumah sakit. Shinichi dan Shiho telah kembali ke rumah profesor dan mereka berencana untuk bekerja sama dengan Vermouth yang telah tertangkap. Bagian sebelumnya berkisah tentang Shinichi yang bermimpi tentang Shiho yang dikejar oleh seseorang, dan Shiho yang selalu memperhatikan Shinichi selama ia berada di rumah sakit.
Part 12 : Pear Blossom
Words : 2.547
Summary : "…Lalu, apa artinya bunga pir?" Pria itu tersenyum dan menjawab, "…Persahabatan abadi…"
Part 12
Pear Blossom
"Shinichi, kau tidak jadi pergi? Ini sudah hampir jam sepuluh," Profesor Agasa menghampiri Shinichi yang tengah duduk di sofa ruang tengah sambil memangku sebuah laptop. Shinichi terkesiap dan melihat jam tangannya. Pukul 09.50. Sepuluh menit lagi dia berencana akan pergi menjenguk Ran di rumah sakit bersama Shiho.
"Iya, aku akan segera berangkat. Aku keasyikan mencari informasi tentang penangkapan beberapa anggota organisasi saat insiden tiga minggu yang lalu. Untunglah kau sudah memasang wireless di rumahmu, Profesor…aku jadi tidak perlu meluangkan waktu untuk pergi ke kafe internet."
"Jadi, apa yang sudah kau temukan?" tanya profesor sambil membuka lembaran koran di depannya, berharap menemukan berita yang menarik untuk dibacanya.
"Tidak banyak," Shinichi mulai menutup panel-panel yang tadi dibukanya dan sebuah suara khas yang berbunyi menandakan bahwa ia sudah mematikan laptop tersebut. "Hanya beberapa artikel mengenai penangkapan anggota organisasi yang kebanyakan merupakan agen biasa. Ya, selain Vermouth tentunya…juga Gin dan Vodka yang tewas di tempat. Tapi, berhubung database yang asli belum ditemukan, kepolisian belum mengetahui identitas asli Gin dan Vodka."
"Mungkin kau bisa mendapatkan informasi lebih banyak dari Vermouth. Bukankah kau sudah menemuinya kira-kira dua minggu yang lalu?"
Shinichi menutup layar laptopnya dan mendesah pelan.
"Belum, aku belum mendapat informasi apa pun dari Vermouth. Sepertinya dia masih tidak percaya dengan kenyataan bahwa dia hanyalah sebuah tumbal bagi organisasi tersebut. Kita harus menunggu hingga dia merasa sedikit lebih tenang."
"Tapi, Shinichi…apa kau yakin jika kita bisa mempercayainya?" kali ini giliran profesor yang menutup lembaran koran di hadapannya dan menatap Shinichi yang masih duduk di sofa dengan pandangan khawatir.
"Entahlah, Profesor," Shinichi beranjak dari tempat duduknya dan berjalan mendekati profesor yang duduk di kursi meja makan. Ia meletakkan laptop itu di atas meja makan. "Jujur saja, aku belum sepenuhnya percaya padanya. Namun, hanya dia yang kita miliki sekarang, dan melihat keadaannya…kurasa kita bisa sedikit percaya padanya."
"Sedikit? Mendengarmu bicara seperti itu, aku sekarang jadi lebih ragu kepadamu dibandingkan dengan Vermouth."
Sebuah suara menghampiri mereka dari arah ruang bawah tanah. Shinichi dan profesor menoleh dan menemukan Shiho tengah berjalan mendekati mereka.
"Apa maksudmu, Shiho?" Shinichi membalas pertanyaannya dengan nada kesal. Walaupun sedikit, ia merasa cukup tersinggung dengan ucapan wanita itu barusan.
"Kalau kau saja ragu dengan apa yang kau katakan, bagaimana kita akan berhasil menjatuhkan organisasi?"
Shinichi mengangkat sebelah alisnya dan menatap Shiho dengan pandangan kesal.
"Aku tidak ragu dengan apa yang kukatakan. Aku hanya mengatakan bahwa mungkin kita bisa sedikit percaya kepada Vermouth…berhubung hanya dia sumber informasi yang paling akurat yang bisa kita dapatkan sekarang."
"Tidak, Kudo-kun. Percaya atau tidak percaya…itu pilihannya. Kita tidak bisa mempercayainya hanya sampai ukuran tertentu karena itu hanya akan menyulitkan kita sendiri dan juga dirinya."
"Maksudmu?" Shinichi mengerutkan dahinya tidak mengerti.
"Jika kita setengah-setengah dalam mempercayainya, maka kita akan kesulitan untuk membuat keputusan ataupun menjalankan sebuah rencana. Kita akan sibuk memikirkan jika hal yang dikatakannya benar atau tidak dibandingkan mengkonsentrasikan pikiran kita kepada rencana untuk menjatuhkan organisasi. Hal yang sama juga akan terjadi pada Vermouth. Dia akan berpikir dua kali untuk menyampaikan sesuatu kepada kita jika ia tahu bahwa kita tidak sepenuhnya percaya kepadanya. Apakah hal seperti ini juga perlu kujelaskan, Kudo?"
Shinichi terdiam, memikirkan perkataan ilmuwan muda yang memang terdengar masuk akal tersebut.
"Apa yang dikatakan Ai-kun ada benarnya, Shinichi. Mungkin memang sulit mempercayai orang seperti Vermouth, tapi jika kau benar-benar ingin mendapatkan apa yang kau inginkan maka kau harus memikirkan kembali tentang kepercayaan yang baru saja Ai-kun katakan," Profesor Agasa menatap Shinichi dan Shiho bergantian sambil tetap berusaha menunjukkan senyuman untuk meringankan suasana.
"Aku tidak menyuruhmu untuk percaya atau tidak percaya kepada Vermouth. Kalau kau tanyakan kepadaku, aku sendiri pun masih tidak percaya dengannya. Tetapi, kuharap kau dapat mengerti apa yang kukatakan sehingga kita dapat yakin dengan langkah-langkah selanjutnya," Shiho membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju pintu ruang depan.
"…Ya, aku tahu," Shinichi menolehkan kepalanya dan melihat Shiho sudah membuka pintu ruang depan. "Hei, kau mau ke mana?"
"Ke rumah sakit, memangnya ke mana lagi?"
Mendengar jawaban itu, wajah Shinichi memerah karena malu. Sesaat, percakapan mereka membuatnya lupa bahwa mereka akan menjenguk Ran di rumah sakit.
"Apa mau kuantar, Shinichi?" tawar profesor. "Kebetulan aku sedang tidak ada urusan."
"Tidak usah, Profesor. Kami akan jalan kaki seperti biasa. Oh, ya…profesor ingin dibelikan sesuatu untuk makan malam?" tanya Shinichi sambil berjalan menuju tempat Shiho berdiri menungguya.
"Bahan makanan masih banyak. Tetapi kalau kalian ingin membeli makanan di luar, jangan lupa belikan satu untukku," jawab profesor sambil tersenyum lebar.
"Tentu, akan kubelikan salad yang banyak untukmu," Shiho tersenyum penuh arti. Mendengar itu, profesor hanya bisa meringis sedangkan Shinichi hanya berusaha menahan tawanya. Ia tahu kalau profesor tak akan bertambah gemuk selama Shiho tinggal di rumah itu.
Shinichi baru saja akan melangkah menuju teras saat ia tersadar akan sesuatu.
"Ah!" Shinichi berbalik dan berlari menuju lantai dua rumah itu. Shiho yang sudah berdiri di teras sejak tiga menit yang lalu melihat jam tangannya dan melongokkan kepalanya ke dalam rumah. "Ada apa lagi, Kudo-kun? Sekarang sudah sepuluh menit lewat dari jam sepuluh!"
Pertanyaan Shiho terjawab tak lama kemudian dengan sebuah benda yang menutupi kepalanya.
"Kau melupakan ini," ucap Shinichi tersenyum lebar. "Kita tidak bisa membiarkanmu berkeliaran di kota tanpa benda ini, bukan?"
Shiho memegangi kepalanya dan ia merasakan sebuah topi menutupi kepala dan rambutnya. Ia mendongakkan kepalanya dan menemukan wajah Shinichi tepat di hadapannya dengan senyuman khas yang terukir di bibirnya. Bahkan di saat seperti ini…ia masih saja…
"Ayo pergi, Shiho…"
Tangan gadis berambut cokelat itu menyusuri bunga-bunga segar yang tersusun rapi dengan plastik yang sudah membungkusnya. Mawar, daisy, lili; hampir semua bunga yang pernah ia ketahui ada di toko bunga itu. Tetapi bunga-bunga itu terlihat begitu indah, sangat bertolak belakang dengan perasaannya sekarang.
"Nona, ada yang bisa saya bantu?" sapa seorang gadis berambut pendek mengenakan sebuah celemek. Gadis itu menoleh dan mengangguk, "Aku sedang mencari bunga yang tepat untuk menjenguk temanku yang sakit. Mungkin anda bisa membantuku?"
Gadis berambut pendek itu mengangguk dan mengambil sebuah buket yang terisi penuh dengan mawar kuning.
"Mawar kuning ini merupakan kebanggan toko kami dan yang paling sering dicari oleh para pelanggan. Saya rasa teman anda akan menyukainya," wanita itu meletakkan bunga tersebut di tangan pelanggan di depannya. Gadis berambut cokelat itu menatap buket yang ada di tangannya dengan pandangan bingung. Tidak, bukan ini yang dicarinya…
"Maaf, kurasa…"
"Lho? Anda…Nona Suzuki?" sebuah suara memanggil dari balik punggung gadis itu. Wanita yang dipanggil suzuki itu menoleh dan menemukan seorang pria berambut cokelat berkacamata berdiri di belakangnya.
"Oh, anda…Subaru-san?"
Pria itu mengangguk sambil tersenyum ramah.
"Kebetulan sekali kita bertemu di sini. Sudah beberapa lama sejak kita terakhir bertemu, bukan?"
Sonoko mengangguk pelan dan membalas senyumannya. Lalu, perhatian pria itu teralih pada buket mawar kuning yang ada di tangan kenalannya itu.
"Anda sedang mencari bunga? Untuk kekasih anda?"
Pipi Sonoko bersemburat merah saat mendengar pertanyaan ini. Ia lalu menggelengkan kepalanya. "Bukan, ini untuk temanku, Ran. Dia sedang dirawat di rumah sakit, dan aku tidak tahu bunga apa yang tepat untuk kubawakan padanya."
"Ran? Maksud anda Mouri-san? Dia dirawat di rumah sakit?"
Sonoko mengangguk. "Karena itu, paling tidak aku ingin menghiburnya dengan bunga yang kira-kira bakal ia sukai. Saat kutanyakan kepada pelayan toko, dia menunjukkan mawar kuning ini kepadaku."
Okiya Subaru, pria berumur 27 tahun itu menatap mawar kuning yang ada di tangan Sonoko. Ia lalu menoleh kepada gadis pelayan toko yang berada tidak jauh dari Sonoko.
"Apa toko ini juga menjual bunga dari pohon buah-buahan?"
Penjaga toko itu terkesiap mendengar pertanyaan pria dewasa itu. "Ah…tidak banyak, tapi kami menanam beberapa."
"Kalau begitu, ada bunga pohon pir?"
"Eh? Pir?" gumam Sonoko bingung dengan pertanyaan pria itu.
"Saya rasa kami menjualnya. Sebentar, akan saya ambilkan." Pelayan toko itu berjalan menjauhi mereka dan masuk ke sebuah ruangan lain yang ada di toko itu.
Sonoko menatap mawar kuning di tangannya lalu bergantian menatap pria di depannya itu dengan pandangan bingung.
"Kenapa bunga pohon pir? Anda ingin menanam pohon pir?" tanya Sonoko tidak mengerti. Pria itu tertawa ringan.
"Ah, tidak. Bunga pir itu untuk temanmu. Bukankah tadi kau bilang kau sedang mencari bunga yang cocok?"
"I, iya…tapi kenapa bunga pir?"
Subaru tersenyum penuh arti. "Kau pernah dengar tentang floriography?"
"Furo- apa?" Sonoko mengerutkan kedua alisnya.
"Floriography. Atau lebih dikenal dengan bahasa bunga…"
"Ya, aku rasa…aku pernah dengar." Sonoko menggaruh-garuk kepalanya yang tidak gatal. Subaru tersenyum dan melanjutkan penjelasannya.
"Floriography merupakan bentuk komunikasi yang dikenal pertama kali pada masa pemerintahan Ratu Victoria di Kerajaan Inggris, atau disebut juga era Victoria. Dengan menggunakan bunga ataupun rangkaian bunga, orang-orang mengirimkan kode-kode khusus untuk menyampaikan perasaan mereka yang sulit diucapkan dengan kata-kata. Misalnya, bunga mawar merah untuk rasa cinta, lili gunung untuk rasa percaya, dan bunga persik untuk kemurahan hati…"
"Lalu, apa artinya bunga pir?" tanya Sonoko dengan wajah polos.
"…Persahabatan yang abadi," Subaru kembali melemparkan senyuman ramahnya. "Sebenarnya, mawar kuning yang kau pegang juga bisa melambangkan persahabatan, tapi kurasa akan lebih baik jika dirangkai bersama bunga pir."
Sonoko mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti. Tidak lama kemudian, gadis pelayan toko datang dengan sebuah buket kecil di tangannya.
"Untung saja nyonya kami memiliki persediaan bunga pir. Tidak banyak, tapi saya rasa ini cukup," pelayan itu memberikan bunga di tangannya kepada Subaru.
"Terima kasih. Ini bunga yang bagus," Subaru lalu memberikan bunga itu kembali kepada si pelayan. "Maaf, tapi bisakah anda merangkaikan mawar kuning ini bersama bunga pir itu di dalam sebuah keranjang kecil?"
"Oh, tentu saja!" pelayan toko itu tersenyum lebar dan Sonoko pun memberikan buket yang ia pegang kepada pelayan itu. "Anda dapat langsung ke kasir sementara saya merangkaikan bunga ini untuk anda."
Sonoko dan Subaru mengangguk lalu mereka berdua berjalan menuju kasir.
"Ngomong-ngomong, Subaru-san," ucap Sonoko sambil mengeluarkan dompet dari dalam tasnya. "Anda juga membeli bunga di sini?"
"Tidak…aku sedang mencari beberapa benih sayuran, tapi benih sayuran yang kucari stoknya sedang kosong."
"Anda menanam sayuran?" tanya Sonoko tidak percaya. Ia kira hanya orang-orang membosankan yang memiliki hobi berkebun.
"Begitulah, aku suka berkebun. Berkebun dapat mengurangi stress saat aku kesulitan melanjutkan tesisku. Memangnya ada apa? Anda terlihat sedikit kaget…"
"Tidak, tidak apa-apa!" Sonoko menggelengkan kepalanya cepat. "Aku hanya sedikit tidak menyangka."
"Semuanya 2700 yen," ucap kasir kepada Sonoko. Sonoko segera mengeluarkan tiga lembar uang seribuan yen dari dalam dompetnya dan memberikannya kepada si kasir.
"Kembali 300 yen. Ini pesanan anda…terima kasih banyak, silahkan datang kembali."
Setelah menerima uang kembalian, sebuah rangkaian bunga dan mengucapkan terima kasih, Sonoko keluar dari toko itu bersama Subaru.
"Jadi, anda akan langsung pergi ke rumah sakit?" tanya Subaru setelah mereka berada di luar toko.
"Iya, sudah jam setengah sebelas lebih. Aku harus segera ke sana karena jam kunjungan pagi hari hanya sampai jam makan siang," Sonoko menjawab sambil melihat jam tangannya.
"Kalau begitu, mau kutemani? Aku juga ingin melihat keadaan Mouri-san…"
"Selamat pagi, Kudo-san. Ingin menjenguk Mouri-san?" sapa seorang perawat yang berada di balik counter resepsionis.
Shinichi mengangguk. "Dia tidak sedang menjalani pemeriksaan 'kan?"
"Tidak, Anda bisa langsung datang ke kamarnya…dan jam kunjungan akan berakhir pada jam makan siang," jawab perawat itu ramah.
"Baiklah, terima kasih banyak," Shinichi tersenyum dan meninggalkan meja resepsionis itu, menghampiri Shiho yang sedang berdiri membaca papan nama pasien di lantai satu rumah sakit itu.
"Bagaimana?" tanya Shiho saat dia menyadari Shinichi sudah berada di dekatnya.
"Kita bisa langsung menjenguknya, tapi hanya sampai jam makan siang."
"Tidak masalah. Kalau kau masih ingin menjenguknya setelah itu, kita bisa kembali setelah makan siang." Shinichi hanya tersenyum mendengar saran Shiho.
Mereka berdua pun berjalan dan memasuki lift yang ada di ujung koridor rumah sakit. Setelah beberapa saat, sebuah bunyi terdengar dan mereka tiba di lantai yang mereka tuju.
"Sudah hampir satu bulan, ya?" ucap Shinichi tiba-tiba. Shiho menoleh dan tidak menjawab apa pun. Ia hanya memandang detektif muda di sampingnya itu dari sudut matanya.
"Kapan kira-kira dia akan bangun…?" lanjut Shinichi seolah bertanya pada dirinya sendiri. Shiho dapat menangkap nada penyesalan di balik pertanyaan itu, dan dia tidak berniat menjawab karena ia sendiri tidak tahu kapan wanita itu akan kembali bangun.
Mereka tiba di depan sebuah kamar dan Shinichi membuka pintu kamar itu. Shinichi membiarkan Shiho masuk lebih dahulu lalu menutup pintu di belakangnya.
Dari tempat ia berdiri, Shiho dapat melihat jelas wajah pucat yang biasanya tersenyum ramah setiap bertemu dengannya walaupun ia jarang sekali membalas senyuman itu. Ya, seorang gadis berambut hitam di atas sebuah tempat tidur dengan kasur berseprai putih terbaring di tengah-tengah kamar itu.
'Mouri-san…'
Shiho yang bermaksud membiarkan Shinichi menemani Ran terlebih dahulu, berjalan menuju jendela yang ada di kamar itu. Gorden jendela tersebut sudah terbuka, tetapi jendelanya tetap tertutup. Mungkin perawat yang mengurus Ran tidak ingin angin musim dingin memperburuk keadaan sang pasien.
"Ran…"
Shiho menoleh dan melihat Shinichi sudah duduk di sisi tempat tidur Ran. Pemuda itu memandang wajah di hadapannya lekat-lekat dengan pandangan yang menyedihkan. Penyesalan, kesedihan, ketakutan, keraguan; semuanya bercampur menjadi satu dan Shiho dapat menangkap semua perasaan itu walau hanya melihat sekilas. Ia juga melihat Shinichi tersenyum…senyuman yang pedih, tidak seperti senyuman khasnya yang lebar dan bangga.
"Hei, aku datang lagi…kuharap kau tidak bosan," adalah kalimat pertama yang diucapkan oleh bibir detektif muda yang biasa menjelaskan analisisnya di hadapan banyak orang. Kini, kalimatnya hanya didengarkan sepasang telinga yang berdiri tanpa bicara apa pun. Sedangkan sosok yang ia ajak bicara, kemungkinan besar tidak mendengar ucapannya.
"Kali ini aku datang bersama Miyano…kau belum mengenalnya, bukan? Cepatlah bangun, dan akan kukenalkan ia padamu…"
Shiho memejamkan mata saat mendengar ucapan itu. Dia membuang wajahnya dan kembali menatap luar jendela yang terlihat begitu putih.
"…Miyano adalah kenalanku selama menyelidiki kasus belakangan ini. Dia wanita yang cantik dan cerdas. Kau pasti akan senang mengenalnya…"
'…Tidak, Kudo…dia tak akan pernah senang bertemu dengan wanita yang membuatmu harus membohongi dirinya…'
"Aku tidak punya banyak cerita untukmu kali ini, karena belakangan aku hanya berdiam diri di rumah profesor…Tapi, beberapa hari yang lalu ibuku menelepon dan mengatakan bahwa ia akan segera pulang ke Jepang. Kurasa dia juga ingin segera menjengukmu…dan, Ran…"
Shiho terus berdiri dan mendengarkan suara Shinichi yang terdengar sedikit gemetar tanpa berniat mengganggunya sedikit pun. Ia merapatkan mantel yang dipakainya dan menghela napasnya perlahan. Dingin…ya, musim dingin belum berakhir dan ia berharap musim semi akan segera datang. Paling tidak, dengan begitu suasana muram yang ia rasakan belakangan ini tidak akan terasa begitu menyesakkan…
Shiho masih terus diam tanpa menoleh dan berbicara sedikit pun. Kini ia mendengar Shinichi menceritakan pengalamannya saat pertama kali belajar menggunakan pistol bersama ayahnya di Amerika kepada Ran. Udara semakin dingin, walaupun pemanas di ruangan itu jelas-jelas menyala. Shiho terpikir untuk membuka jendela karena ia melihat cuaca di luar cukup cerah dan mungkin akan membuat ruangan ini sedikit hangat.
"Shiho..!" Shinichi memanggilnya saat ia baru saja selesai membuka jendela itu, walaupun tidak terlalu lebar. "Ada apa? Kenapa kau membuka jendela itu?"
"Di sini terlalu dingin," jawab Shiho tanpa menoleh. "Kurasa dengan begini akan menjadi sedikit lebih hangat…"
"Oh…begitu…"
Shiho melihat jam tangannya. Pukul 11.05. Sebentar lagi jam makan siang dan mereka harus menyelesaikan kunjungan mereka pagi ini.
"Kudo-ku…!"
TOK TOK TOK!
"Eh?" Shinichi menoleh ke arah pintu masuk, menyadari suara ketukan yang baru saja terdengar.
"Biar aku yang buka," Shiho berbalik dari tempatnya berdiri. "Mungkin orangtua Mouri-san yang datang."
Ia lalu berjalan menuju pintu masuk dan memutar kenop pintu tersebut. Ia baru saja ingin mengucapkan salam saat suaranya tertahan begitu melihat seorang pria berambut cokelat berdiri di hadapannya. Ia merasakan bulu kuduknya berdiri dan detak jantungnya menjadi lebih cepat untuk beberapa saat. Tidak ada salam yang terucap dari bibirnya yang mulai gemetar, melainkan hanya sebuah nama yang cukup membuatnya ingin segera menutup pintu itu dengan keras sekarang juga.
"…Subaru…Okiya…?"
To be Continued
Author's Note: Lagi-lagi saya meminta maaf atas kebiasaan saya yang tidak meng-update fic ini dalam waktu yang sangat lama…3 bulan? Ya, 3 bulan…Saya mengerti, pasti pembaca sekarang ingin menendang dan membuang saya ke laut karena ketidakdisiplinan saya ini. Beberapa review yang saya terima belakangan tidak jauh-jauh dari pertanyaan 'kapan akan di-update?'…dan saya merasa malu dan bersalah saat membaca itu semua…sekali lagi, mohon maaf.
Sebenarnya saya melakukan beberapa observasi pada Detective Conan untuk membuat sebuah cerita yang lebih baik. Beberapa waktu belakangan saya gunakan untuk membaca beberapa chapter penting dari manga detective conan dan melakukan chara analysis, sehingga tokoh di fic ini tetap in-chara. Saya juga membaca beberapa fic DC lainnya untuk mendapatkan ide dan mengetahui gaya penulisan yang baik. Karena itu, jika ada pembaca yang menyadari gaya penulisan saya yang sedikit berubah, harap beritahu saya jika perubahan ini baik atau buruk.
Selain itu, mulai chapter 12 ini, saya menggunakan format baru sebelum cerita dimulai. Saya memasukkan ringkasan cerita sebelumnya untuk mengingatkan pembaca sehingga tidak perlu membuka bagian sebelumnya. Juga saya sertakan summary bagian yang akan diceritakan dan jumlah kata sebagai patokan saya menulis untuk chapter-chapter berikutnya. Tentunya, jumlah kata tidak termasuk author's note dan aksesoris lainnya ^^
Terima kasih atas perhatiannya. Review ditunggu :D
