DISCLAIMER: I do not own Detective Conan. All characters mentioned in this fiction belongs to Gosho Aoyama.

Previously: Tiga minggu telah berlalu sejak Ran mengalami koma dan berada di rumah sakit. Shinichi dan Shiho telah kembali ke rumah profesor dan mereka berencana untuk bekerja sama dengan Vermouth yang telah tertangkap. Bagian sebelumnya berkisah tentang Sonoko yang bertemu dengan Subaru Okiya di toko bunga. Mereka berdua pergi menjenguk Ran di mana Shiho bertemu dengan Subaru Okiya dalam tubuh aslinya untuk pertama kali…

Part 13 : Who I am

Words : 2.234

Summary : "Jadi, kau ini siapa, Miyano Shiho?" Sebuah senyuman sedih yang tidak ditujukan kepada siapa pun tersungging di bibirnya. Aku…adalah orang yang merusak kehidupan mereka…

Part 13

Who I am

"…Subaru…Okiya…?"

"Ng?" pria yang disebut namanya itu menatap wanita di hadapannya dengan pandangan bingung. "Maaf, apa kita pernah bertemu?"

Shiho yang sama sekali tidak menyangka akan kedatangan orang yang paling ia hindari selama ini tidak bisa menjawab apa pun. Ia terpaku di tempatnya berdiri. Kedua belah bibirnya terbuka tanpa sedikit pun suara yang keluar. Kedua matanya menyiratkan keresahan dan sebelah tangannya yang masih memegang kenop pintu pun sedikit bergetar.

Shinichi yang tidak bisa melihat Subaru karena terhalang oleh tubuh Shiho merasa bingung karena Shiho tak juga bergerak dari tempatnya. Ia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan mendekati Shiho.

"Shiho…" panggilnya sambil menepuk bahu kiri Shiho begitu ia tepat berada di belakangnya. Sedikit terkejut, Shiho menoleh dan menemukan Shinichi dengan wajah bingung.

"Ada apa?" tanya Shinichi belum sempat memperhatikan siapa sebenarnya yang datang. Shiho hanya terdiam, tidak mampu menjawab apa pun. Namun, Shinichi dapat melihat dengan jelas kecemasan yang tampak dari kedua matanya.

"Kudo Shinichi?" sebuah suara menyebut nama yang belakangan sudah jarang disebut-sebut itu. Shinichi mengalihkan pandangannya dari Shiho dan melihat Subaru Okiya menyapanya sambil tersenyum ramah. "Anda detektif muda yang terkenal itu 'kan? Detektif yang dengan senang hati meminjamkan rumahnya kepadaku untuk ditinggali sementara aku mencari tempat tinggal yang baru…"

"Ah…i, iya…" kini Shinichi mengerti mengapa Shiho bersikap aneh. Shiho yang berdiri di depannya memegang lengan bajunya dengan erat. Wajahnya menunjukkan ekspresi yang sama saat ia merasakan kehadiran anggota organisasi hitam lainnya. Ya, indera keenam yang cukup menyulitkan sekaligus menguntungkan…

"Aku sangat senang bisa bertemu dengan Anda di sini, Kudo-san…di tengah-tengah isu media yang mengabarkan bahwa Anda terlibat dalam kasus yang rumit dan tidak muncul dalam waktu yang lama, ini adalah suatu kebetulan yang menyenangkan," nada ramah itu tidak menghilang, bahkan terdengar semakin intens. Shiho yang masih membelakangi pria berumur duapuluh tujuh tahun itu, melepaskan tangannya dari lengan baju Shinichi dan berjalan keluar melewati ruang kecil yang tersisa di antara Subaru dan bingkai pintu. Suara Shinichi menghentikannya sejenak.

"Shiho, kau mau ke mana?"

"Toilet," Shiho melanjutkan langkahnya tanpa menoleh lagi, dengan topi dan poni yang semakin menutupi matanya. Subaru dan Shinichi hanya menatap wanita muda itu dengan pandangan bingung.

"Kalau aku boleh tahu…" Subaru bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari punggung Shiho yang mengenakan sweater putih itu. "…siapa wanita itu?"

Shinichi yang tidak merasa curiga sedikit pun dengan pertanyaan itu menjawabnya dengan ringan. "Ah, dia temanku. Kami bertemu dalam suatu kasus…sikapnya memang suka begitu, jadi tolong dimaafkan…"

"Bukan masalah…aku sering diperlakukan begitu saat berada di luar negeri. Bagaimana pun juga, tidak semua orang suka dengan sikapku yang terlalu ramah ini. Aku tidak bisa menyalahkannya…"

"Anda pernah tinggal di luar negeri?" tanya Shinichi berusaha membalas keramahan pria itu.

"Ya, Amerika dan cukup lama…sebenarnya aku ingin sekali pergi ke negeri kelahiran Holmes, tapi belum pernah kesampaian. Aku akan melakukan apa pun untuk pergi ke sana, walau itu berarti aku harus bertemu mayat sekali pun…" ucapnya diakhiri tawa ringan.

"Hahaha, jangan berkata begitu. Anda tidak akan menginginkannya. Tidak ada yang lebih buruk dibanding melihat manusia yang tidak bernyawa…" Shinichi bergeser ke samping dan memberi jalan kepada Subaru dengan isyarat tangannya. Subaru mengangguk pelan.

"Ah, terima kasih…kukira aku tidak akan diizinkan masuk," mahasiswa fakultas teknik Universitas Toto itu melemparkan sebuah senyuman lebar sementara Shinichi menutup pintu yang terbuka di belakangnya. Shinichi lalu mempersilakannya duduk di sebuah sofa yang berada tidak jauh dari tempat tidur Ran.

"Ngomong-ngomong, bagaimana Anda tahu kalau Ran dirawat di sini?" tanya Shinichi sambil menempatkan dirinya di samping Subaru.

"Aku kebetulan bertemu dengan Suzuki-san di sebuah toko bunga. Dia kebingungan mencari bunga yang cocok untuk menjenguk sahabat terbaiknya."

"Jadi Anda melihat bahwa bunga yang paling cocok adalah bunga pir ini?" tanya Shinichi sambil memperhatikan rangkaian bunga pir dan mawar yang ada di tangan Subaru.

"Ya, begitulah…" tanpa diminta, Subaru memberikan rangkaian kecil itu kepada Shinichi di sampingnya yang disambut ucapan terima kasih oleh Shinichi.

Shinichi beranjak dari sofa itu dan berjalan menuju rak setinggi perut yang berada tepat di samping tempat tidur Ran. Diletakkannya rangkaian berwarna putih dan kuning itu di atas rak.

"Lalu, di mana Sonoko?" tanya Shinichi sambil menyentuh sebuah kelopak bunga pir perlahan dengan jarinya. Seandainya Ran bisa membuka matanya sekarang, dia pasti akan sangat senang, pikirnya.

"Di toilet…mungkin dia akan berpapasan dengan temanmu yang pirang itu. Oh, ya, ngomong-ngomong…"

Shinichi menoleh dan kembali berjalan mendekati sofa tempat Subaru duduk.

"…temanmu tadi, kalau boleh kutahu…siapa namanya?"

"Shiho…" Shinichi kembali duduk di samping Subaru, menyunggingkan senyuman tipis di bibirnya. "Miyano Shiho…"


"Ngomong-ngomong, Subaru-san…apakah kau melihat penculik yang lain?" anak kecil itu bertanya kepada sesosok pria berkacamata yang sedang melepaskan ikatan pada seorang pria tua yang tidak sadarkan diri.

"Ya, dia pingsan di dekat tangga…dia pasti berusaha kabur namun kehilangan keseimbangannya saat berlari…"

"Tapi, wow! Subaru-san seperti Superman!" seorang gadis kecil berbandana berseru riang dengan mata berbinar-binar.

"Benar!" sambung seorang anak kecil dengan bintik-bintik di wajahnya. "Bisa menyimpulkan bahwa sesuatu yang buruk sedang terjadi hanya dari petunjuk yang sedikit lalu pergi menyelamatkan kami!"

"Ya, benar…" kali ini giliran anak kecil berambut coklat kemerahan menanggapi aksi pria yang baru saja menyelamatkan mereka semua dari ulah dua orang penculik tidak berotak. "…pergi mencari kami hanya karena lampu rumah tidak menyala…seolah-olah kau sudah mengawasi rumah kami sepanjang hari…"

Pria yang berjasa di hari itu pun tersenyum sebelum menanggapi ucapan di gadis kecil pirang.

"Ya, sebenarnya aku memang memperhatikan rumahmu seharian…" jawab pria itu membenarkan perkataan si anak kecil. Seolah tidak menangkap maksud tersembunyi dari si kecil pirang, pria bernama Subaru itu melanjutkan jawabannya. "…menunggumu untuk pulang…"

'Eh!' gadis kecil berambut merah itu terbelalak ketakutan, seraya menggenggam erat lengan baju anak laki-laki yang berdiri di depannya.

"Aku membuat terlalu banyak kari untuk makan siang hari ini, makanya aku berpikir untuk membaginya dengan kalian…"

Shiho menahan kedua tangannya pada tepi wastafel. Ia menundukkan kepalanya dan memejamkan matanya, berusaha menghilangkan ketakutan yang ia rasakan sejak tadi…ketakutan tidak biasa yang disebabkan oleh kemampuan aneh yang mungkin hanya dimiliki olehnya yang lahir di organisasi.

Cih! Kenapa dia selalu mampu menyembunyikan baunya yang menyeramkan itu dengan senyuman dan kata-katanya yang ramah. Orang itu…dia berbeda dengan Vermouth yang tidak segan-segan mengeluarkan aura dinginnya yang menusuk dimana pun dia berada…

Sebelah tangannya meraih penutup keran dan memutarnya. Shiho lalu mencuci mukanya berkali-kali, memastikan bahwa wajah yang ramah dan misterius itu menghilang dari pikirannya.

Ia mengangkat kepalanya dan melihat wajahnya yang basah dari balik cermin. Sepasang mata hijau keabu-abuan, sebuah hidung yang cukup mancung untuk ukuran orang Jepang dengan kulit putih yang sedikit pucat, dan rambut cokelat kemerahan…tampilan fisik yang kemungkinan besar ia dapatkan dari ibunya yang bahkan ia tidak tahu wajahnya seperti apa.

Shiho lalu memutar tutup keran itu hingga airnya berhenti, mengeringkan wajahnya dengan sebuah sapu tangan dan bersiap memakai kembali topi yang tadi ia lepaskan saat pandangan matanya bertabrakan dengan seseorang yang baru saja keluar dari salah satu pintu toilet.

"Suzuki-san…"

Gadis berumur tujuhbelas tahun yang dipanggil itu balik menatapnya dengan perasaan kaget dan sedikit ketidaksukaan.

"Kau…? Sedang apa kau di rumah sakit ini?" tanya Sonoko, seolah menahan sesuatu yang lebih kasar yang ingin diucapkannya.

"Aku…sedang menjenguk Mouri-san bersama Kudo. Tapi, tenang saja…kami akan segera pulang."

"…Siapa…?"

"Eh?" Shiho tidak bisa menangkap dengan jelas apa yang baru saja didengarnya.

"Siapa sebenarnya kau ini? Kasus apa yang melibatkanmu dan Shinichi? Lalu, apa itu organisasi? Kenapa Ran jadi korbannya!" suara yang tadi terdengar ditahan, kini terdengar lebih tinggi diiringi dengan tatapan kemarahan. Sonoko menggertakkan giginya, berusaha menahan diri dari berteriak lebih jauh.

Shiho menatap kedua mata cokelat itu sebentar sebelum ia menggelengkan kepalanya pelan. "…Maaf, aku tidak bisa memberitahukan semua hal itu sekarang. Itu hanya akan memperumit semua masalah yang telah terjadi hingga kini."

Mendengar jawaban itu, Sonoko spontan membalas, "Paling tidak, beritahu aku…siapa sebenarnya kau ini? Kau kah yang membuat Shinichi tidak pulang selama ini?"

"…Mungkin bisa dibilang begitu…"

"Jadi, kau ini siapa, Miyano Shiho?" kali ini Sonoko sudah benar-benar tidak bisa menahan dirinya lagi. Kedua tangannya meraih bahu Shiho dan mengguncangkannya dengan lumayan keras. Matanya menatap nanar wajah wanita yang lebih tinggi sepuluh centimeter darinya itu.

"…Aku…aku…"

Tiririririt-tiririririt

Suara itu menghentikan Shiho dari menjawab pertanyaannya dan ia merasakan cengkeraman tangan Sonoko pada kedua bahunya mulai melonggar.

Sonoko melepaskan kedua bahu Shiho dan meraih ponselnya yang berbunyi dari dalam saku blazer seragamnya.

ID Caller

Kudo Shinichi

"Shinichi…?"

Eh…?

Sonoko menekan tombol 'Accept' dan menempelkan ponsel itu di telinga kanannya.

"Shinichi? Ada apa?"

"Hei, Sonoko! Ke mana saja kau? Bukankah kau ingin menjenguk Ran? Ini sudah hampir jam duabelas dan Subaru-san mencari-carimu…" terdengar suara Shinichi yang khas dari balik telepon.

"Ah…iya…ba-baiklah. Aku baru saja dari toilet…aku akan segera ke sana," jawab Sonoko terbata-bata. Tidak menyangka kalau 'percakapan' dengan Shiho cukup menghabiskan waktunya.

"Ya, cepatlah ke sini…Oh, ya! Apa kau bertemu dengan Miyano?"

Sonoko melirik sosok yang masih berdiri di depannya. Ia lalu menghembuskan napas pelan.

"Ya…dia ada di sini bersamaku…"

"Oh, begitu…katakan kepadanya kalau kita akan segera pulang," ucap Shinichi, tanpa bisa menebak kalau terjadi hal yang sedikit tidak terduga di antara kedua gadis itu.

"…Ya, tentu…"

Sonoko menekan tombol 'End' dan memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku blazernya. Ia berjalan menuju pintu keluar toilet itu tanpa menghiraukan Shiho yang masih berdiri dan memandangi punggungnya dari belakang.

Ia berhenti saat pintu itu sudah terbuka lebar.

"Shinichi menyuruhmu kembali ke ruangan Ran…dia bilang kalau kalian akan segera pulang," ucap Sonoko dingin tanpa berbalik. Ia lalu menutup pintu itu di belakangnya dan Shiho dapat mendengar suara langkahnya yang semakin lama semakin menghilang.

"Jadi, kau ini siapa, Miyano Shiho?"

Shiho menundukkan kepalanya. Sebuah senyuman sedih yang tidak ditujukan kepada siapa pun tersungging di bibirnya.

Aku…adalah orang yang merusak kehidupan mereka…


Markas Rahasia FBI, Kota Beika

12.13 p.m.

Seorang wanita pirang berkacamata sedang sibuk di hadapan monitor PC nya. Telunjuk tangan kanannya dengan cepat mengscroll mouse yang dipegangnya dan kedua matanya bergerak cepat meneliti berbagai hal yang tertulis di layar komputer itu, berusaha menemukan hal yang dicarinya sejak tadi. Sebelah tangannya yang lain mengetuk-ngetuk meja perlahan, tanda bahwa ia sedang berusaha menyabarkan dirinya sendiri.

Tak lama kemudian, sebuah mug sedang berwarna hitam disodorkan ke hadapannya, menghalangi pandangannya dari monitor. Kepalanya mendongak dan menemukan bosnya sedang berdiri sambil memegang secangkir minuman di tangannya yang lain.

"Black tea. No sugar," ucapnya ramah.

"Thanks, James," jawabnya sambil mengambil mug itu dari tangan James.

"Masih berkelut dengan data-data, Jodie?" tanya James sambil ikut memperhatikan monitor komputer itu. Jodie menyesap minumannya sebentar dan meletakkan mug itu tidak jauh dari sisinya. Dia mengklik mousenya beberapa kali lalu memutar kursinya menghadap James. Sebelah tangannya meraih mug hitam tadi dan kembali menyesap isinya pelan.

"Ya, sejak tadi subuh. Aku tidak bisa berdiam diri karena organisasi itu bisa melakukan apa saja bahkan di waktu yang sempit sekali pun."

"Lalu, apa yang kau dapatkan?"

"Tidak banyak. Aku hanya menambah list kasus-kasus yang diperkirakan merupakan ulah mereka. Tidak ada banyak bukti, tapi cukup menambah list untuk menjebloskan mereka ke penjara…"

"…dan aku yakin, kau pasti lupa menghubungi detektif itu," seringai James, disambut dengan wajah tidak percaya dari Jodie.

"For God's sake! Aku benar-benar lupa! Anyway, thanks, James…kau mengingatkanku," ucap Jodie sambil meraih sebuah ponsel dari balik saku cardigannya.

James mengangkat bahunya, "Anytime…"

Jodie lalu menekan beberapa tombol dan menempelkan ponselnya di telinga kanannya. Tidak lama, sebuah suara menjawab panggilannya.

"Halo, Kudo?" ucap Jodie membuka percakapan.

"Ya, ada apa Jodie-sensei?" jawab Shinichi dengan sedikit heran. Firasat buruk, itu yang dirasakannya.

"Ada yang ingin kubicarakan denganmu. Bisa kita bertemu di restoran pasta yang baru dibuka di kota Haido?" Jodie melirik cepat jam tangannya. "Limabelas menit dari sekarang…my treat…"

"Oh, baiklah…kebetulan aku baru saja pulang dari rumah sakit Haido. Tidak sampai sepuluh menit jalan kaki dari sini."

"Ok. Oh, ya…bisa kau ajak teman pirangmu itu sekalian?" tanya Jodie sambil membuka laci meja kerjanya dan mengambil kunci mobil. "Mungkin dia juga perlu tahu hal ini."

"Tentu, dia bersamaku sekarang…"

"Well, then…see ya…"

Jodie menyelesaikan panggilannya dan memasukkan ponselnya ke dalam saku. Ia bergegas menuju pintu depan ruangan itu dan membukanya.

"Jodie!" Jodie menoleh dan melihat James kini sudah duduk di tempatnya duduk tadi.

"Yes?"

"Akan kulanjutkan pekerjaanmu…tapi jangan lupa, my favourite…as always…"

"With pleasure, my Lord…"

"Be careful, won't you?"

"I will…" Jodie tersenyum lebar dan menutup pintu di depannya, meninggalkan James bersama beberapa staf yang sedang asyik menyantap makan siang mereka.

"Want some, James?" tanya seorang Amerika berkulit hitam.

"No, thanks…I am waiting for my pasta," jawab James. Ia mulai sibuk melakukan hal yang sama dengan Jodie sebelumnya, mencari data kejahatan organisasi sebanyak mungkin yang bisa ia dapatkan.

"Oh, yeah…and you will be starving until she comes back," sahut seorang staf lain yang baru saja masuk lewat pintu belakang. James menoleh dan melihat seorang agen berbadan besar datang dengan sebuah bungkusan di tangannya.

"Please, don't start, Camel…I am doing my job," James menatap agen bernama Camel itu dengan pandangan bosan.

"You are too stubborn, BossWhy don't you just eat with us? Jodie akan lama, percayalah…" Camel meletakkan bungkusannya di atas meja. Diambilnya sesuatu dari dalam bungkusan itu dan dilemparkannya ke arah James. "Eat it!"

Sebuah hamburger mendarat tepat di kedua tangan James. Ia menatap para agennya dengan tidak percaya. Agen-agen yang dipandangnya hanya melemparkan cengiran penuh makna kepada bossnya yang tidak menyukai fast food. James mengangkat bahunya dan mulai membuka kertas pembungkus hamburger itu. "I think I don't have another choice…"

Saat para agen itu sedang sibuk menikmati makan siang mereka, sebuah news feed muncul di monitor komputer, dengan headline yang cukup besar dan dua buah foto yang menghisasinya; seorang wanita eropa berwajah klasik yang cukup berumur dan seorang wanita yang sedikit lebih muda berambut pirang keemasan.

Dua selebriti senior, muncul dan menghilang!

To be Continued

Author's Note: Lanjut setelah sekian lama…mohon maaf kepada para pembaca yang sudah menunggu lama. Tugas semester ini benar-benar membuat saya tidak ada waktu untuk melanjutkan cerita ini. Semoga setelah ini bisa update lebih cepat.

Oh, ya…selingan cerita yang ada di tengah-tengah adalah cuplikan File 755. Semoga tidak menjadi spoiler yang berarti hahaha XD