DISCLAIMER: I do not own Detective Conan. All characters mentioned in this fiction belong to Gosho Aoyama.
Previously: Tiga minggu telah berlalu sejak Ran mengalami koma dan berada di rumah sakit. Shinichi dan Shiho telah kembali ke rumah profesor dan mereka berencana untuk bekerja sama dengan Vermouth yang telah tertangkap. Bagian sebelumnya berkisah tentang pertemuan Okiya Subaru dan Shiho. Shiho yang meragukan identitas Subaru tidak pernah merasa tenang. Di lain sisi, Sonoko tidak mempercayai Shiho dan mempertanyakan jati dirinya. Part sebelumnya ditutup dengan Jodie yang mengajak Shiho dan Shinichi makan siang, dan sebuah newsfeed internet yang akan menjadi sebuah klu masalah selanjutnya.
Part 14 : (Not) A Murderer
Words : 3.120
Summary : "APA KAU TIDAK TAKUT AKU BUNUH!" suara itu terdengar jelas di antara semilir angin yang melewati mereka berdua. "Tidak! Kau bukan pembunuh, karena itu aku tidak takut jika kau akan membunuhku."
.
.
.
Part 14
(Not) A Murderer
.
.
"Ah, Jodie-sensei!" sapa Shinichi kepada seorang wanita yang menghentikan mobilnya di depan restoran pasta yang terlihat cukup ramai. Wanita itu menurunkan kaca jendela mobilnya dan mengeluarkan kepalanya, menunjukkan senyum ramah kepada sepasang pemuda pemudi di hadapannya.
"Oh! Kudo dan Miyano…kalian sudah sampai rupanya?" balasnya riang. Keceriaan terlihat jelas di wajahnya walaupun wanita berumur duapuluh tujuh tahun itu terlihat sedikit lelah.
Shinichi mengangguk. "Ng, tempat ini tidak jauh dari rumah sakit Haido…" Jodie melempar senyumannya kembali.
"Jadi, apa kita akan berbicara di mobil atau tempat yang lebih sepi?" wanita di samping Shinichi akhirnya mengeluarkan suara.
"Bicara apa kau, Shiho? Kita akan bicara sambil makan di dalam…iya 'kan, Sensei?" tanya Shinichi yang dibalas dengan sebuah anggukan.
Shiho menatap detektif muda dan agen FBI itu dengan tatapan bingung. "Kukira, kita akan membicarakan hal yang penting. Apa tidak berbahaya jika kita membicarakannya di tempat yang ramai?"
Shinichi dan Jodie saling berpandangan lalu melemparkan senyuman lebar kepada gadis itu. Gadis berambut coklat kemerahan itu bergidik ngeri.
"Justru karena ramai, makanya tidak akan ada masalah, Miyano-chan!" seru Jodie, merasa sedikit geli dengan kepolosan gadis jenius di depannya itu.
"Oh…" gumam Shiho mengerti.
"Baiklah, aku akan memarkirkan mobilku dulu. Aku tidak ingin membuang uang gara-gara harus membayar denda karena parkir sembarangan," Jodie mulai menutup jendelanya. "Kalian duluan lah untuk mencari tempat."
Mobil Jodie melaju pelan menuju tempat parkir yang berada di basement restoran itu. Shinichi melambaikan tangannya sebelum mengajak Shiho untuk masuk ke dalam restoran itu.
.
"Apa!" Shinichi menatap wanita di hadapannya dengan pandangan tidak percaya. "Itu gila!"
Wanita itu menghembuskan napasnya pelan dan menggelengkan kepalanya. "Oh, ayolah…aku bosan mendengar tanggapan yang sama berulang kali."
"Menurutku itu hal yang hebat…" sahut Shiho datar, "…menyingkirkan orang-orang berpotensi yang berada di dekatmu karena adanya kemungkinan potensi itu akan balik menyerangmu…pikiran hebat yang hanya dimiliki orang jenius tidak berhati," tangan kanannya menopang kepalanya, bosan dengan hal-hal tidak terduga yang dihadapinya belakangan ini. Kematian Gin, tertangkapnya Vermouth, kondisi Ran, dan…Subaru Okiya. Kalau dia bisa pergi, dia ingin sekali meninggalkan tempat itu, pulang ke rumah profesor dan tidur untuk menenangkan diri.
"Lagipula…" lanjut Shiho sambil memandang Shinichi dengan senyuman tipis, "Semuanya tepat seperti yang kau duga. Kau tidak punya alasan untuk merasa sekaget itu."
"Bodoh, tentu saja aku kaget. Bagaimana pun juga, aku tidak menyangka kalau pemimpin mereka selicik dan segila itu," balas Shinichi memandang Shiho kesal.
"Hoo, apa yang bisa kau harapkan dari seorang pemimpin organisasi kejahatan besar di dunia ini yang melakukan berbagai tindak kriminal tanpa memikirkan nyawa dan perasaan orang? Belas kasih? Kepedulian? Mungkin kau yang gila, Tuan Detektif?" Shiho mengalihkan pandangan ke jendela di sampingnya, tidak berniat menatap detektif muda di sampingnya yang ia pastikan sedang menatapnya dengan intensitas kekesalan yang semakin tinggi.
"Selain itu, kita juga sudah memberitahukan analisis yang ternyata benar ini kepada Vermouth, jadi kita tidak perlu mengoreksi ucapan kita sebelumnya…"
"Vermouth?" Jodie menaikkan sebelah alisnya, kalimat Shiho barusan mengganggunya. Shinichi hanya bisa menepuk dahinya dengan tangan kirinya. Kenapa hari ini dia cerewet sekali?
"Apa maksud kalian?" nada suara Jodie terdengar menginterogasi.
"Aaa, itu…" Shinichi mengibas-ngibaskan tangan di depan dadanya, bermaksud menghindar dari pertanyaan Jodie. Tetapi, usahanya kurang berhasil. Jodie menatap kedua orang muda di hadapannya, meminta penjelasan yang dapat memuaskan rasa penasarannya.
"Apa yang sudah kalian berdua lakukan? Aku harap kalian bisa menjelaskan semuanya dengan baik," Jodie menjaga suaranya agar tetap tenang, tidak ingin menarik perhatian orang-orang di sekitarnya. Shinichi yang merasa sudah tidak bisa mengelak lagi, menatap Shiho tajam dari sudut matanya; melemparkan ancaman tanpa suara yang hanya dibalas dengan senyuman sinis dari ilmuwan muda itu.
"Aaa, sebenarnya kami hanya mengunjungi Vermouth kira-kira dua minggu yang lalu…" jawab Shinichi sambil tersenyum canggung. "…dan yaah— sisanya seperti yang dikatakan oleh nona di sampingku ini…"
"Maksudmu…sekarang Vermouth sudah tahu kalau penangkapannya juga rencana dari bosnya sendiri?" suara Jodie mulai meninggi. Ia merasa kalau kedua orang di hadapannya itu mulai tidak waras.
Shinichi menjawab pertanyaan itu dengan anggukan pelan, berharap Jodie akan merasa puas dengan jawabannya barusan.
"Apa kalian sudah gila! Membocorkan top secret macam ini kepada penjahat berdarah dingin seperti wanita itu? Apa yang kalian pikirkan!"
"Kami tidak membocorkan top secret," Shiho menghirup moccacino pesanannya dan meletakkannya kembali di atas tatakan. "Kami hanya menyampaikan apa yang kami pikir sebenarnya terjadi. It is simply an analysis."
"Tapi, tetap saja-!"
"Ditutupi pun tidak ada gunanya, Jodie-sensei. Cepat atau lambat dia akan menyadarinya…" Shiho menatap mata Jodie lekat-lekat, berusaha meyakinkan jika apa yang telah ia dan Shinichi lakukan adalah benar.
"…Dan jika kita bisa memanfaatkan kebenaran ini dengan baik, bukannya tidak mungkin Vermouth akan berbalik membantu kita," Shinichi melanjutkan perkataan Shiho sambil memutar-mutar spaghetti bolognaisse di hadapannya dengan sebuah garpu. Ia memasukkan satu suapan ke dalam mulutnya.
"Meminta bantuan kepada wanita kejam itu? Kalian benar-benar sudah gila!" Jodie meneguk kopi di hadapannya hingga tersisa setengah cangkir, frustasi.
"Koreksi. Dia yang menawarkan bantuannya kepada kita—ah, kami…" Shiho kembali menghirup minumannya dengan tenang.
Agen FBI itu menyangga kepalanya dengan tangan kanannya, menatap kedua orang di hadapannya dengan tidak percaya.
"Ya…dan kalian pun membuatnya menjadi gila karena berniat memberikan bantuan kepada kau—mantan anggota mereka. Lalu, kau—warga sipil yang mengetahui banyak rahasia mereka…" Jodie menatap Shiho dan Shinichi bergantian, "…dan secara tidak langsung, kami—biro penyelidikan terbesar di dunia yang sudah lama mengejar mereka. Tidakkah kalian pikir tindakan kalian terlalu gegabah? Bagaimana jika ini adalah jebakan?"
"Mereka tidak akan repot-repot menyingkirkan anggota berharga mereka seperti Gin dan Vermouth hanya untuk menjebak kita, Sensei," ucap Shinichi dengan nada yang tidak ingin membuat Jodie semakin emosi. Tetapi, percuma. Jodie yang dari tadi masih berusaha tenang kini terdengar mulai geram.
"Kenapa tidak? Kita bahkan tidak tahu apa tujuan mereka sebenarnya dan seberapa besar organisasi mereka. Mungkin di luar sana masih banyak Gin-Gin dan Vermouth-Vermouth yang lain, sehingga kehilangan seorang Gin atau pun Vermouth bukanlah masalah besar bagi mereka. Tidak ada jaminan jika Vermouth yang tertangkap itu bukanlah jebakan dan tidak akan kembali kepada mereka—!"
"—Tetapi, info ini berasal langsung dari pimpinan mereka. Atau kau meragukan Mizunashi-san, Jodie-sensei?" potong Shiho dingin.
Jodie terdiam, menyadari kalau pembicaraan mereka mulai berantakan. Ia mengambil cangkir kopi yang sudah mulai dingin di depannya dan menghirupnya pelan, berusaha meredakan emosinya yang meledak-ledak. Dia bersyukur dia masih bisa menahan suaranya sehingga tidak menarik perhatian orang-orang di sekitar mereka.
"Maaf, aku jadi emosi…" ucapnya pelan lalu menarik napas dalam-dalam. Shinichi berusaha menyunggingkan senyum.
"Tidak apa-apa, Jodie-sensei. Kelihatannya kau terlalu lelah. Mungkin pembicaraan ini bisa kita lanjutkan nanti?"
Jodie tidak langsung menjawab. Dia memperhatikan lasagna yang ia pesan dan belum ia sentuh sejak tadi. Ia mengedarkan pandangannya dan menemukan island salad yang dipesan Shiho juga belum dimakannya sedikit pun. Shinichi yang tadi sempat ia lihat sedang menikmati spaghettinya juga belum menghabiskan makan siangnya itu. Kelihatannya pembicaraan barusan benar-benar menghilangkan selera makan mereka bertiga.
"Info dari Rena-san adalah info yang hampir seratus persen bisa kita percaya, tapi…" Jodie menarik napas pelan sebelum akhirnya kembali menatap kedua orang cerdas di hadapannya itu.
"…jika harus dibantu oleh wanita pembunuh itu—"
"Aku juga wanita pembunuh," ucap Shiho ringan, seolah tidak ada beban saat dia mengucapkan kalimat itu. Shinichi dan Jodie membelalak, tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.
"Shiho…"
"Yang kita butuhkan sekarang adalah info. Di saat kita kehilangan jejak mereka seperti ini dan di tengah-tengah kemungkinan bahwa mereka sedang berusaha melarikan diri atau bahkan bersiap menyerang kita…kita tidak bisa mengandalkan hal lain selain orang yang pernah terlibat sangat dalam dengan mereka seperti Vermouth," Shiho berusaha menelan perasaan tidak enak dari hal yang ia ucapkan beberapa detik yang lalu. Mengakui bahwa dirinya seorang pembunuh…Huh, seharusnya aku mengakuinya dari dulu…
"Apa yang dikatakan Shiho ada benarnya, Jodie-sensei," Shinichi melanjutkan, masih dengan sebuah senyuman pencair suasana yang dia sunggingkan di bibirnya. "Terlepas dari kenyataan jika dia adalah pembunuh dan anggota organisasi, kita membutuhkannya sekarang."
Jodie masih terdiam. Otaknya dengan cepat mencerna segala perbincangan yang terasa berat baginya itu. Di satu sisi ia merasa jika penjelasan mantan anggota organisasi di depannya itu beralasan. Tetapi, di sisi lain hati kecilnya tidak mengizinkan pembunuh ayahnya itu bekerja sama dengan mereka.
"Kami sedang berusaha percaya padanya…kuharap Sensei juga bisa melakukan hal yang sama…"
"…Itu pun jika kau benar-benar menginginkan semua ini selesai dengan cepat," Shiho mengambil cangkir keramik berisi moccacino yang tinggal sedikit itu dan menghabiskannya dalam dua teguk. "Bagaimana, Agent Starling?"
Jodie menghela napas panjang. Rasanya ada sesuatu yang berat memenuhi dadanya sekarang. Kepalanya mulai terasa pusing karena kurang tidur beberapa hari terakhir. Tapi, dia tidak bisa meninggalkan semua ini tanpa tanggapan yang jelas—iya, atau tidak…
"Bagi agen mana pun, keberhasilan misi adalah prioritas utama," Jodie akhirnya kembali berbicara dengan suara yang sedikit bergetar. "Hal ini tidak perlu dipertanyakan lagi…"
Senyum Shinichi mulai terkembang, berharap argumen panjang di siang itu akan membuahkan hasil.
"…Tetapi, di dunia ini ada hal-hal yang tidak mudah untuk diabaikan begitu saja. Masa lalu, amarah, ketakutan…kebencian," Jodie menatap mata Shinichi yang terlihat sedikit kecewa. "Maafkan aku, aku tidak bisa menerima wanita itu…walau aku akui penjelasan kalian memang masuk akal."
Jodie beranjak dari tempat duduknya sambil membawa mangkok lasagnanya yang masih penuh.
"Jika kalian masih keras kepala, silahkan hubungi bosku…aku tidak peduli dan tidak akan melarang kalian," ucap Jodie tanpa memandang mereka berdua. Sekarang dia hanya ingin meminta seorang pelayan membungkus makanannya, mengambil pasta titipan James, dan segera pulang untuk meringankan sakit kepalanya.
"Kau yakin?" tanya Shinichi menatap agen yang kini benar-benar terlihat lelah di matanya itu. Agen wanita itu hanya melempar senyuman lemah.
"Mungkin suatu saat nanti aku akan mengerti. Tapi, untuk sekarang…maaf," Jodie berjalan meninggalkan mereka berdua menuju meja kasir tanpa menoleh lagi.
.
Shiho memutar keran shower dan membiarkan lebih banyak air membasahi tubuhnya. Ia menundukkan kepala; tetesan air jatuh dari ujung-ujung rambutnya yang basah. Jejak air yang ditinggalkan di kulit putihnya terasa dingin…dan menjadi menusuk di tengah udara malam musim dingin. Namun, sesuatu lebih menusuk di dalam sana. Dalam. Dingin. Menyakitkan.
"Aku juga wanita pembunuh…"
DUK!
Kepalan tangannya yang pucat memukul dinding di depannya. Bagaimana bisa ia terpuruk karena kata-katanya sendiri?
"…jika harus dibantu oleh wanita pembunuh itu—"
Matanya ia pejamkan rapat-rapat. Bibirnya terkatup rapat dan rahangnya mengeras. Otaknya berpikir keras. Seharusnya, ia menyadari hal ini sejak dulu.
Tidak. Bukan begitu.
Ia sudah menyadarinya sejak awal. Tetapi, mengakuinya…itu hal yang baru saja dilakukannya.
Lalu, bersedih karena mengakui dirimu seorang pembunuh? Akalnya hanya bisa mengatakan kalau reaksinya adalah sesuatu yang bodoh dan tidak berguna.
Ia adalah seorang pembunuh dan itu adalah hal yang tidak bisa disangkal. Tidak di saat dirinya bahkan berusaha mempercayai seorang pembunuh lain. Tidak pula di saat ia meyakinkan orang lain untuk mempercayai pembunuh sepertinya dan orang itu.
Apa yang kau pikirkan, Miyano Shiho? Meminta orang untuk mempercayai penjahat? Mempercayai pembunuh? Mempercayai wanita itu? Mempercayai…dirimu sendiri?
DUK!
Kali ini giliran kepalanya sendiri yang berantukan dengan dinding di hadapannya.
Ia tidak bisa menyalahkan Jodie-sensei yang tidak bisa mempercayai Vermouth. Bagaimana pun Vermouth telah membunuh ayahnya duapuluh tahun yang lalu. Jodie-sensei tidak punya alasan untuk mempercayainya begitu saja.
Lalu, bukankah dia sama saja dengan Vermouth? Sama dengan para penjahat organisasi lainnya? Tetapi, mengapa orang-orang bisa mempercayainya?
Masa lalu kah? Riwayat kejahatan kah?
Seberapa berhargakah dirinya sehingga orang-orang di sekitarnya bisa mempercayai dirinya, sementara ia tidak jauh berbeda dari seorang Vermouth?
Bahunya bergetar pelan. Sepertinya tubuhnya sudah tidak sanggup menahan dingin yang lebih jauh dari ini. Jika dibiarkan lebih lama, mungkin ia akan benar-benar masuk angin. Akan banyak hal yang tidak bisa dilakukannya jika ia masuk angin beberapa hari ke depan.
Ia kembali memutar keran dan air shower pun berhenti mengalir. Ia mengambil kimono handuk miliknya dan berjalan keluar dari kamar mandi. Ditutupnya pintu kamar mandi di belakangnya dan suara orang tua yang cukup lama tinggal bersamanya menyambutnya.
"Ah, Ai-kun! Kau lama sekali…Ini musim dingin, jangan mandi terlalu lama. Nanti kau bisa masuk angin," Profesor Agasa mengambil sebuah mug di atas meja dan memberikannya kepada Shiho.
Shiho menatap mug itu heran lalu berganti menatap wajah profesor yang tersenyum ramah.
"Susu hangat…agar kau tidur nyenyak malam ini."
Shiho kembali menatap mug itu dan menerimanya dengan ragu. Dipandanginya susu putih di dalamnya. Senyum tipis tersungging di bibirnya.
"Terima kasih, Profesor," Shiho melangkah meninggalkan profesor dan berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Ia membuka pintu kamarnya dan menoleh sekali lagi sambil tersenyum lembut. "Selamat tidur."
"Selamat tidur."
Shiho langsung menutup pintu kamarnya begitu ia memasuki kamarnya.
Lelaki berumur limapuluh dua tahun itu memandangi pintu kamar Shiho cukup lama. Ada yang aneh dengan gadis itu hari ini, pikirnya. Bukan berarti biasanya dia tidak aneh. Hanya saja, hari ini, lebih tepatnya setelah ia pulang dari menjenguk Ran bersama Shinichi, pandangannya terlihat berbeda. Kosong, seolah bingung dan hilang arah. Ilmuwan tua itu sudah menanyakan berkali-kali jika gadis itu baik-baik saja. Namun, berulang kali pula ia hanya menjawabnya dengan senyuman dan ucapan 'Jangan khawatir'.
Sama seperti setelah kejadian pembajakan bus itu.
Tidak, mungkin lebih aneh.
Profesor hanya menghembuskan napas pelan dan berjalan menuju pintu masuk rumahnya. Ia berniat mengunci pintu rumahnya saat suara ketukan pintu dan suara pemuda terdengar dari baliknya. Profesor pun membuka pintu itu.
"Profesor...mana Shiho?" tanya Shinichi. Matanya mencari-cari sosok berambut cokelat itu dari balik badan
"Oh, dia baru saja naik ke kamarnya. Ada apa, Shinichi-kun? Malam-malam begini…" Profesor menggeser badannya, membiarkan Shinichi masuk ke dalam rumahnya.
Shinichi melepaskan sandalnya dan menggantinya dengan sandal rumah. Ia melangkah masuk namun tiba-tiba berhenti tepat di samping kamar mandi yang pintunya terbuat dari kaca.
"Ia baru saja mandi?" tanya Shinichi singkat.
"Ya…memangnya kenapa?" profesor menutup pintu rumahnya dan berjalan mendekati Shinichi. Shinichi menatap pintu itu lekat-lekat lalu bergegas menaiki tangga menuju kamar Shiho.
"Oi, oi! Shinichi-kun!" profesor memanggil Shinichi, tidak mengerti dengan sikap anehnya yang tiba-tiba. "Dia sudah tidur! Shinichi-kun!"
BRAK!
Terlambat. Hanya suara debaman pintu yang membalas panggilan profesor. Profesor hanya bisa kembali menatap pintu itu dengan pandangan heran dan penasaran. Sepertinya sesuatu memang terjadi di antara mereka berdua setelah mereka meninggalkan rumahnya tadi pagi. Sesuatu yang hanya bisa dimengerti dan diselesaikan oleh mereka berdua.
.
"Shiho?" Shinichi melemparkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar. Kamar itu begitu gelap, tidak ada satu lampu pun yang dihidupkan. Ia berjalan ke tengah ruangan, tempat di mana tempat tidur wanita itu seharusnya berada. Ia memandangi tempat tidur itu lekat-lekat, berusaha menyesuaikan kegelapan dengan matanya. Namun, ia tidak menemukan siapa pun tertidur di atas tempat tidur itu.
Hembusan angin malam mengenai wajahnya, meniup helai rambut hitamnya. Shinichi mencari sumber angin itu dan menemukan pintu menuju beranda terbuka lebar. Tirai tipis yang menutupi pintu itu melambai pelan. Ia mendekati beranda itu dan melihat Shiho sedang berdiri menghadap ke luar beranda. Rambut cokelat kemerahannya melambai oleh angin malam. Dilihatnya Shiho masih mengenakan kimono handuk putih miliknya.
"Shiho…apa yang kau lakukan? Masih mengenakan kimono handuk seperti itu…kau bisa masuk angin."
Wanita itu tidak bergeming. Semilir angin seolah menutup telinganya.
"Selain itu, kau juga mandi air dingin di malam musim dingin seperti ini? Kau sadar dengan apa yang kau lakukan, bukan?" Shinichi berhenti tepat di belakang Shiho yang masih berdiri diam seolah tidak menyadari kedatangannya.
"Oi, Shiho!" Shinichi meraih kedua bahu Shiho dan memutar tubuhnya hingga mereka saling berhadapan. Shiho menundukkan wajahnya.
"Dari mana…?" suara itu terdengar sedikit bergetar.
"Hah?"
"…dari mana kau tahu kalau aku mandi air dingin tadi?"
Shinichi memperhatikan ilmuwan muda itu bingung. Beberapa saat kemudian, ia tersenyum tipis.
"Bodoh! Apa ini saat yang tepat untuk menanyakan hal seperti itu?" Shinichi melepaskan jaket cokelat miliknya. Disampirkannya jaket itu pada kedua bahu Shiho yang mungil. "Masuk dan tidurlah. Aku tidak tahu apa yang sedang kau pikirkan, tapi jika kau melakukan hal bodoh seperti ini lagi, aku tidak akan mau mengurusmu jika—,"
"Jawab saja pertanyaanku…" potong Shiho datar. Mendengar perintah itu, Shinichi menggelengkan kepalanya pelan.
"Pintu kamar mandinya tidak berembun. Kalau kau mandi air hangat, seharusnya pintunya berembun."
Shinichi diam, menunggu jawaban datar namun sarkastik milik wanita muda di hadapannya itu. Namun, Shiho kembali diam dan terus menundukkan kepalanya. Sejak tadi, tidak sedikit pun pandangan mereka bertemu.
Tidak bisa menebak sikap aneh partnernya yang tiba-tiba itu, Shinichi hanya menepuk kedua bahu Shiho dengan kedua tangannya.
"Tidurlah. Sudah malam. Kalau ada hal yang mengganggumu, kita bicarakan dengan tenang besok…"
"Kudo-kun…"akhirnya suara yang jernih itu kembali terdengar.
"Apa?"
Shiho mengangkat kepalanya. Kedua bola mata hijau keabu-abuannya menatap Shinichi lekat-lekat. Di sudut matanya terlihat air mata yang masih menggenang…dan Shinichi masih bisa melihat jejak air mata yang tersisa di kedua belah pipinya.
Malam itu, suara angin yang berhembus lembut terasa begitu menenangkan bagi Shinichi. Namun, gemerisik daun yang dibuat olehnya terasa begitu memilukan.
Sama seperti suara gadis di hadapannya yang bergetar dan begitu menyayat hati…
"Kenapa…kau bisa mempercayaiku?"
"Eh?"
"Apa yang kau pikirkan sehingga bisa mempercayai orang sepertiku?" Shiho kembali bertanya, namun dengan nada yang lebih menuntut.
"A-apa maksudmu?"
Shiho meraih kerah polo shirt Shinichi dan menariknya dengan kuat.
"Katakan padaku! Bagaimana bisa kau mempercayai wanita pembunuh sepertiku!" Shiho berteriak dengan air mata yang kembali mengalir di pipinya. Shinichi menatap Shiho nanar, tidak percaya.
"…Pembunuh?" suara Shinichi begitu pelan, nyaris tidak terdengar.
"Jawab aku, Tuan Detektif!" Shiho mengguncang-guncangkan tubuh Shinichi. "Apa yang ada di kepalamu sehingga kau bisa bekerja sama denganku? Begitu mempercayaiku dan tidak meragukanku sedikit pun! Apa kau tidak takut aku khianati!"
Pertanyaan yang terlontar dari bibir pucat ilmuwan wanita itu terasa begitu mengiris. Suara serak karena isak tangis yang menyelingi teriakannya tidak mampu membuat Shinichi menjawab semua pertanyaannya.
"APA KAU TIDAK TAKUT AKU BUNUH!"
"Tidak!"
Jawaban tegas Shinichi menghentikan teriakan Shiho, membelalakkan matanya. Di sudut hatinya, ia tahu Shinichi akan menjawab persis dengan apa yang dikatakannya barusan. Namun, mendengarnya secara langsung bukanlah hal yang mudah untuk ia percayai.
"Kau bukan pembunuh, karena itu aku tidak takut jika kau akan membunuhku."
Kedua tangan Shiho yang masih menggenggam kerah baju Shinichi bergetar. Kedua belah bibirnya terbuka.
"Miyano Shiho, kau harus ingat ini!" Shinichi menaikkan nada suaranya. "Kau BUKAN seorang pembunuh dan tidak sekali pun kau pernah menjadi pembunuh selama hidupmu! Karena itu berhentilah menyalahkan dirimu sendiri!"
Shiho tertegun. Air mata semakin deras membasahi pipinya.
"Aku tidak punya alasan khusus untuk mempercayaimu…aku hanya ingin percaya. Hanya sesederhana itu…"
Shiho melihat senyuman tulus di wajahnya. Tidak ada maksud tersembunyi; begitu murni dan lembut. Pandangan matanya begitu teduh, seolah meyakinkan bahwa semua hal yang dikatakannya barusan bukan hanya untuk menghibur dirinya. Kedua tangan yang menahan bahunya seolah memberi kekuatan baginya untuk tetap berdiri, walaupun kedua lututnya sudah sangat lemas. Kekuatan dan kepercayaan diri yang hilang beberapa saat yang lalu pun seperti kembali lagi dan menjadi keyakinan baru dalam hatinya.
Ya, dia selalu ada. Pemuda itu selalu ada bersamanya saat dia membutuhkannya—
"Kudo….kun…"
—selalu ada saat dia merasa takut dan cemas—
"…kenapa?"
—selalu ada saat bahaya mengikutinya—
"…kau—?"
Shiho berjinjit pada ujung-ujung jarinya. Jaket yang menutupi bahu dan tubuhnya terjatuh, membiarkan angin di malam itu kembali membelai kimono handuk yang dikenakannya. Kedua tangannya yang tadi memegang kerah polo shirt Shinichi, kini telah bertautan di belakang leher pemuda itu…
Di sebuah malam musim dingin yang sepi namun memilukan hati, bibirnya yang pucat pun menyapu bibir sang detektif dengan lembut…
.
.
To be continued
.
.
Author's Note: Setelah 14 chapter, akhirnya ada sedikit perkembangan antara Shinichi dan Shiho…haaaah. Maaf, jika pace-nya terlalu lambat. Apa boleh buat, saya ga begitu suka yang cepat2, hahahaha XD
Adegan romantus ini, mungkin bawaan valentine kali, yah? Padahal sendirinya gak ngerayain valentine -_- Tapi, jujur…saya butuh setengah jam lebih hanya untuk membuat paragraf terakhir. Adegan kissing pertama yang saya buat…saya tidak ingin membuatnya terlalu vulgar, namun tetap berkesan. Adegan terakhir di chapter ini akan membuat perkembangan baru di antara mereka berdua, hehehe…
Lepas chapter ini, akan ada konflik baru yang akan menuju konflik utama.
Yang jelas, biggest thanks to all readers. Tanpa kalian, saya sebagai author tidak akan berarti.
Saran dan kritik selalu ditunggu. Saya butuh banyak saran untuk membuat fic saya ini menjadi lebih baik. Kritik pedas pun tidak masalah…asal bukan flame, hahahaha XD
