DISCLAIMER: I do not own Detective Conan. All characters mentioned in this fiction belong to Gosho Aoyama.
.
Previously: Tiga minggu telah berlalu sejak Ran mengalami koma dan berada di rumah sakit. Shinichi dan Shiho telah kembali ke rumah profesor dan mereka berencana untuk bekerja sama dengan Vermouth yang telah tertangkap. Bagian sebelumnya berkisah tentang pertemuan Shinichi, Shiho dan Jodie yang membicarakan organisasi dan Vermouth. Di tengah pembicaraan, Shiho mengakui dirinya sebagai seorang pembunuh, sama seperti Vermouth. Shiho pun mulai mempertanyakan dirinya sendiri, dan merasa kacau. Di tengah kekacauannya itu, ia pun mencium Shinichi.
.
Part 15 : Unsolved
Words : 3.374
Summary : "Ya, gunakan hatimu. Lalu, pikirkan dengan kepalamu. Kadang hati terlalu buta untuk mengerti mana yang lebih baik. Saat itu kau harus tetap menggunakan kepalamu," Yusaku melemparkan senyuman seorang ayah kepada anaknya.
.
.
.
Part 15
Unsolved
.
.
"Shinichi-kun?"
Profesor memanggil Shinichi yang baru saja menuruni tangga dengan wajah tertunduk. Poninya menutupi matanya sehingga profesor tidak bisa melihat jelas ekspresi pemuda satu itu.
"Shinichi-kun, bagaimana dengan Ai-kun? Sepulang dari rumah sakit tadi dia terlihat aneh. Apa kalian bertengkar?"
Seolah tidak mendengar pertanyaan profesor, Shinichi terus berjalan menuju pintu rumah profesor dan membukanya. Profesor menatap punggung pemuda itu heran, tidak mengerti kenapa dia seolah tidak mengindahkannya.
"Dia hanya flu," jawab Shinichi tanpa berbalik menghadap profesor. Suaranya terdengar dingin dan ini membuat profesor tidak begitu mempercayai jawaban Shinichi barusan. "Besok juga sembuh. Aku pulang dulu, Profesor."
Shinichi menutup pintu di belakangnya tanpa mengucapkan selamat malam yang biasa diucapkannya. Profesor kini hanya bisa menatap daun pintu yang kaku dan dingin di hadapannya, benar-benar tidak mengerti dengan kelakuan dua muda-mudi yang sudah dia asuh beberapa bulan terakhir. Ilmuwan tua itu lalu menghela napas, berjalan menuju pintu dan menguncinya, tidak lupa memasang rantai pengunci.
"Aku harap besok mereka berdua benar-benar sudah 'sembuh'…" gumamnya.
.
.
Wanita itu terduduk lemas di beranda kamarnya. Sebuah jaket kulit cokelat kembali tersampir menutupi bahu dan punggungnya. Jari-jari tangannya memegang ujung kerah jaket itu, merapatkannya sehingga bisa mengurangi rasa dingin yang ia rasakan saat ini. Air mata sudah tidak lagi mengalir di kedua belah pipinya yang mulai terlihat pucat. Sebagai gantinya garis jejak air mata dapat terlihat walaupun di bawah penerangan cahaya bulan yang remang-remang.
Ia memejamkan matanya sambil berusaha mengatur napasnya yang memburu beberapa menit terakhir. Ia tidak habis pikir, bagaimana ia bisa meracau dan akal sehatnya bisa terdistorsi hanya karena kejadian tadi siang; dan lebih buruk lagi, ia telah melakukan hal yang seharusnya tidak ia lakukan…
…membuat hatinya kembali ragu serta mengacaukan pikiran dan perasaannya. Bahkan, mungkin hal yang dilakukannya tadi juga bisa mengacaukan pemuda yang baru saja keluar dari kamarnya itu.
Shiho masih mengingat semuanya: teriakan dan kelakuan bodohnya; bibir Shinichi yang lembut dan hangat; ciuman balasan Shinichi yang singkat dan dingin; dan dua buah tangan yang mendorongnya pelan, memaksanya untuk menghentikan ciuman kepedihan itu. Namun, ia tidak bisa mengingat bagaimana wajah Shinichi setelah itu. Yang bisa Shiho ingat hanyalah kepala Shinichi yang tertunduk dan suaranya yang sedikit bergetar saat ia kembali memakaikan jaket itu di bahu Shiho.
"Sudah malam. Tidurlah. Masih banyak yang harus kita lakukan besok."
Shiho kembali memejamkan matanya. Ingin rasanya ia menangis lagi, mengingat betapa dinginnya suara Shinichi saat itu. Tetapi, air matanya telah habis, habis menangisi nasibnya yang bahkan ia sendiri tidak mengerti.
Dengan pelan dan dengan kaki yang mulai terasa dingin dan kaku, Shiho beranjak dari tempatnya. Ia menutup pintu berandanya, membiarkan tirai itu terbuka sehingga mungkin ia masih bisa memandang bulan yang begitu bulat dari tempat tidurnya. Ia lalu menyeret kedua kakinya menuju tempat tidurnya yang masih rapih, seperti seorang pengelana yang berjalan tertatih-tatih di tengah gurun pasir.
Shiho membaringkan tubuhnya perlahan dengan jaket Shinichi yang kini mengalasi tubuhnya. Dipandanginya bulan yang terlihat begitu terang dan sempurna. Ia merasa bulan yang cantik itu tersenyum padanya.
Mengejek.
Mengejeknya yang tidak bisa memahami perasaannya sendiri, juga mengejek kelakuannya yang seolah tidak tahu di mana sebenarnya dia berdiri.
Bagaimana pun juga seharusnya dia tahu bahwa pemuda yang telah berkali-kali menolongnya itu bukan miliknya. Seharusnya dia paham bahwa pemuda yang seringkali mengalihkan perhatiannya itu mencintai wanita lain. Seharusnya ia juga mengerti bahwa tidak ada alasan bagi ia dan pemuda itu untuk saling mencintai.
Tidak ada alasan bagi mereka untuk bersama selain karena alasan pencarian keadilan dan kebenaran.
Matanya mulai terasa berat dan perih, memaksanya untuk segera mengistirahatkan dirinya. Shiho kembali menatap beranda yang dihiasi pemandangan bulan itu sekali lagi sebelum akhirnya memejamkan matanya. Ia bahkan tidak terpikir untuk mengganti kimono handuknya terlebih dahulu dengan piyama yang dibelikan profesor saat dia beru keluar dari rumah sakit. Sambil menahan air matanya yang terasa akan kembali tumpah, ia berharap saat ia membuka mata nanti, ia tahu bahwa semua ini tak lebih dari sekadar mimpi…
.
.
"Shin…"
"Uh…"
"Ayo, bangun!"
Shinichi merasakan sinar matahari yang menyilaukan mata menyentuh kulit wajahnya. Ia pun menyingkirkan punggung tangan yang menutupi matanya. Ia menggosok matanya dan memijit pelan batang hidungnya agar rasa kantuknya hilang.
SRAAK!
Sinar matahari yang tadi hanya sedikit menyentuh kulitnya kini terasa lebih menyilaukan, membuatnya memicingkan mata. Seseorang telah membuka gorden jendela rumahnya lebar-lebar.
"Ayo, cepat bangun! Sudah jam berapa ini? Kau tidak sekolah memangnya?"
Suara itu?
"Shin-chaaaaan!"
Shinichi tersentak begitu menyadari panggilan itu dan segera bangun dari tidurnya. Karena terlalu terburu-buru, ia kehilangan keseimbangan dan jatuh dari tempatnya tidur.
"Adu-du-duuuh," ia menggosok belakang kepalanya yang membentur lantai. Sosok yang membangunkannya itu pun bergegas mendekatinya.
"Hei, kau tidak apa-apa 'kan? Siapa suruh tidur di sofa seperti ini?"
Mendengar ucapan itu, moodnya yang memang sedang kacau belakangan ini, ditambah jatuh saat bangun tidur, membuat tekanan darah detektif muda itu sedikit naik.
"Siapa juga yang suruh ibu membangunkanku seperti itu?" balas Shinichi ketus sambil masih menggosok-gosok belakang kepalanya. Mendengar jawaban itu, ibunya memasang wajah cemberut.
"Ibu 'kan hanya ingin membangunkanmu yang kesiangan! Kenapa kau jadi marah-marah?"
"Aku tidak marah-marah!" balas Shinichi lagi kini menatap ibunya kesal.
"Itu namanya marah!" mantan aktris terkenal itu mulai meninggikan suaranya.
"Sudah kubilang aku tidak marah!"
"Shin-!"
"Hei, hei! Sudah. Hentikan kalian berdua…" sebuah suara yang dalam menghentikan pertengkaran mulut ibu dan anak di pagi hari yang cukup cerah itu. Mereka berdua menolehkan kepalanya dan melihat seorang pria berkacamata yang tengah serius membaca koran pagi.
Shinichi yang melihat orang yang menegur kelakuan bodoh mereka berdua itu, membelalakkan matanya tidak percaya.
"Kenapa ayah juga ada di sini?" tanyanya masih dengan nada suara yang sama dengan yang ia gunakan pada ibunya tadi.
"Lho? Memangnya salah kalau seorang ayah ingin menjenguk anaknya?" tanya Yusaku tenang tanpa mengalihkan perhatiannya dari koran yang sedang dibacanya.
"Yusaku! Kau mengambil kata-kataku!"
"Shinichi, minta maaf kepada ibumu. Tidak seharusnya kau bicara seperti tadi kepadanya," seolah tidak mempedulikan ucapan istrinya barusan, Yusaku menasehati anaknya dengan tenang, "Ibumu hanya ingin membangunkanmu."
"Eh?"
"Kau juga, Yukiko. Kau tahu 'kan anak ini sedang banyak masalah? Seharusnya kau bisa membangunkannya dengan lebih lembut," Yusaku mengambil cangkir kopi yang ada di hadapannya dan menyesapnya pelan. Ia lalu kembali tenggelam dalam rangkaian huruf-huruf kanji yang terpampang di depan matanya.
"Aku?"
"Iya, kalian berdua…"
Yukiko dan Shinichi saling memandang dari sudut mata mereka. Pasangan ibu dan anak ini memang memiliki tingkat kekerasan kepala yang hampir sama. Tidak heran sulit menghentikan mereka berdua jika sudah bertengkar seperti tadi. Di saat seperti itu, kelihatannya hanya sang kepala keluarga yang mampu mendamaikan mereka berdua.
"Ayo, cepatlah. Aku sudah lapar," ucap Yusaku lagi dengan nada sedikit memaksa.
Shinichi menghela napas pelan dan menundukkan kepala di hadapan ibunya. "Maafkan aku, Ibu. Aku tidak bermaksud berbicara keras seperti tadi. Aku hanya sedikit lelah."
Mendengar ucapan tulus anak semata wayangnya itu, Yukiko pun tersenyum lembut. "Ibu juga minta maaf, Shin-chan. Seharusnya ibu bisa dengan lebih lembut membangunkanmu yang sedang kelelahan."
Shinichi membalas senyuman ibunya pelan. Sesaat, Shinichi merasa bersyukur bahwa ia masih memiliki orangtua yang begitu memperhatikannya dan menyayanginya…walaupun terkadang cara mereka menunjukkan kasih sayangnya bisa dibilang sedikit aneh.
Sebenarnya, ia tidak pernah memiliki masalah dengan cara ibunya membangunkannya sejak dulu. Hanya saja, hari ini dia merasa kepalanya begitu penuh seolah-olah akan pecah. Mungkin gara-gara kejadian semalam…
Ya, mungkin saja…
"Nah, kalau begitu, sekarang kita sarapan," Yusaku melipat korannya dan berjalan menuju meja makan sambil membawa cangkir kopinya. Sesaat ia terlihat mencari sesuatu. "Yukiko, mana kopiku?"
"Ehhh? Sudah habis lagi? Tunggu sebentar. Kubuatkan lagi," Yukiko bergegas menuju dapur untuk membuat kopi kesukaan suaminya.
Shinichi hanya tersenyum geli melihat pasangan suami istri yang entah kenapa selalu terlihat konyol itu.
"Heh, ayah masih saja meminum kopi seperti minum air putih…aku tidak mau bertanggung jawab kalau ayah jadi cepat mati," Shinichi mengangkat bahunya. Mendengar tanggapan anaknya, sang penulis terkenal pun menarik kursi dan tersenyum penuh makna kepada anaknya.
"Katakan itu padaku tujuh tahun lagi, Nak," tanggapnya santai. Shinichi hanya menggelengkan kepalanya dan berjalan menuju wastafel di dekat dapur untuk mencuci muka dan menggosok giginya.
.
"Jadi, Ran belum sadar?" tanya Yukiko dengan suara sedikit khawatir. Shinichi menggelengkan kepalanya. Ia lalu menggigit roti bakarnya dengan nafsu yang mulai berkurang.
"Apa dia menunjukkan tanda-tanda akan sadar?" tanya Yukiko lagi tanpa melepaskan pandangan pada anak kesayangannya itu. Shinichi kembali menggeleng.
"Sampai saat ini…belum."
Yukiko menghela napasnya yang terasa berat dan menoleh ke arah suaminya. Yusaku yang memang biasanya tenang, tetap terlihat tenang. Ia kembali meminum kopinya dan tenggelam dalam koran pagi yang dipegangnya.
"Sekarang kau hanya perlu menemaninya," ucapan Yusaku yang tiba-tiba membuat Yukiko dan Shinichi menoleh. Sang kepala keluarga ini senang sekali memberi komentar-komentar yang tepat sasaran. "Ini saatnya untukmu menunggunya…sama seperti halnya dia selalu menunggumu dengan sabar."
Shinichi tidak memberikan tanggapan apa pun, tidak mengangguk atau pun menggeleng. Ia hanya tertunduk, memandangi dua lembar roti yang telah disiapkan Yukiko untuknya. Saat ini pikirannya sudah bercabang, terpecah belah. Ran, organisasi hitam, FBI, dan lebih dari semua itu…
Shiho.
Ada sesuatu yang aneh yang dirasakannya sejak semalam yang membuatnya tidak bisa tidur dengan nyenyak. Ia merasa tindakan yang dilakukan Shiho semalam sedikit aneh…tidak seperti biasanya. Atau mungkin, jika ingin dikatakan dengan kata-kata yang lebih ekstrem…tidak seharusnya.
Ia merasakan sesuatu mengganggu hatinya. Aneh. Sangat aneh. Lebih aneh daripada perasaan saat dia gagal mencegah pelaku suatu kasus melakukan bunuh diri. Lebih aneh daripada saat dia gagal menolong seseorang yang seharusnya ia selamatkan.
Mungkin sekarang Narumi Asai* dan Akemi Miyano sedang menertawakannya…
"Shin-chan?"
Shinichi menegakkan kepalanya, tersentak mendengar ibunya yang tiba-tiba memanggilnya.
"Bagaimana kabar temanmu yang berambut merah itu?"
Ah.
"Kudengar dia juga terluka. Dia baik-baik saja 'kan?" tanya Yukiko tersenyum lembut. Sebenarnya dia tidak ingin menambah beban anaknya dengan menanyakan hal-hal seperti ini, tapi dia tidak bisa mengabaikan rasa penasarannya.
"Dia baik-baik saja," Shinichi menjawab tanpa memandang sang penanya. "Kukira."
"Kau kira?" Yukiko mengulang ucapan Shinichi dengan bingung. Untuk beberapa saat, ia merasa tidak mengenal anaknya sendiri.
Merasakan suasana yang mulai tidak sehat itu, Yusaku melipat korannya dan meletakkannya di atas meja.
"Anak muda," ucap Yusaku sambil beranjak dari tempat duduknya yang kontan membuat Shinichi menoleh. "Ayo, temani aku menikmati angin pagi di beranda kamarmu."
"Eh?" heran, Shinichi hanya melayangkan pandangan bingung kepada ayahnya. Yukiko yang tidak mengerti, terlihat menautkan alisnya.
"Heh? Sejak kapan kau jadi suka menikmat angin pagi?"
Yusaku tersenyum mendengar pertanyaan istrinya. "Aku selalu suka, kau saja yang tidak pernah tahu karena selalu bangun kesiangan."
"Yusaku!"
"Ayo, Shinichi…" Yusaku menepuk bahu kanan Shinichi tanpa mengindahkan istrinya yang kembali cemberut karena candaannya yang terkadang memang tidak lucu. Shinichi yang masih belum terbangun dari kebingungannya, akhirnya berdiri dan mengikuti ayahnya.
Ayah dan anak itu berhenti begitu tiba di beranda kamar Shinichi. Sang ayah melipat tangannya di selusur beranda dan menyenderkan tubuhnya. Shinichi berjalan mendekati ayahnya, berdiri di sampingnya dan memandang langit yang cukup cerah pagi itu.
"Apa kau mau ikut ke Amerika?" tanya Yusaku santai.
"Ayah sudah tahu jawabanku…"
Yusaku mendengus pelan, tersenyum.
"Tapi, kau tidak kelihatan bahagia di sini."
"Tidak ada anak yang bahagia ditinggal orangtuanya untuk hidup sendiri di rumah sebesar ini," sahut Shinichi dengan sedikit sarkastik. Sudut bibirnya naik sedikit, berniat menyindir ayahnya untuk mencari sedikit hiburan.
Mendengar jawaban anak semata wayangnya itu, Yusaku tertawa pelan.
"Aku baru tahu kau bisa berbicara dengan nada seperti itu. Belajar dari siapa?"
Shinichi tersentak sesaat. Sebuah wajah melintas dalam pikirannya. Kira-kira, apa kabar gadis itu hari ini?
"Tetangga sebelah…"
Yusaku menoleh dan menangkap ekspresi bingung di wajah Shinichi. Ia pun tersenyum penuh makna.
"Teman yang kata ibumu berambut merah itu? Aku ingin melihatnya walau sekali. Sepertinya dia wanita yang menarik…"
"Heh…aku tidak tahu ayah masih suka bermain dengan gadis-gadis muda…?" Shinichi tersenyum mengejek. Sudah lama sekali sejak ia berbicara empat mata dengan novelis misteri terkenal ini…saat peluncuran virtual game untuk anak-anak kaya itu, mungkin. Sedikit banyak, Shinichi menikmatinya.
"Huh, kau pasti terpengaruh omongan ibumu yang di awal musim gugur sering menelponmu dan mengeluh kalau aku sering pulang malam karena bermain dengan wanita-wanita muda…Yah, walaupun aku tidak menyangkal kalau wanita-wanita muda itu sedikit memberiku masalah…"
"Berarti benar perkiraan ibu selama ini…" Shinichi mulai merasa rileks. Ia menyenderkan punggungnya di selusur beranda, mendongakkan kepalanya.
Yusaku tertawa lepas. "Terserah saja kau mau menyimpulkan apa."
Shinichi ikut tertawa mendengar ucapan ayahnya.
"Lalu…"
"Ng?" Shinichi menoleh menghadap ayahnya.
"Kau tidak ingin bercerita dengan ayahmu ini?"
Shinichi menatap ayahnya sesaat lalu kembali mendongakkan kepalanya. Ia menatap lekat-lekat langit biru yang tidak tertutup atap rumahnya.
Ia menarik napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan. "Aku bingung…"
"Hm?"
"Wanita berambut merah itu…aku bingung apa yang kupikirkan tentangnya. Kukira selama ini aku menganggapnya sebagai partnerku dalam usaha menghancurkan organisasi. Tetapi, entah kenapa…"
"Kau menyukainya?" potong Yusaku menatap anaknya dengan intens. Ia mencari kebenaran di balik mata anaknya yang jelas menampakkan keraguan itu.
Shinichi menggeleng pelan. "Aku…tidak tahu…"
"Kau tidak merasa ragu hanya karena sebuah pelukan atau ciuman 'kan?" tanya Yusaku dengan nada menyelidiki.
Shinichi tersentak mendengar pertanyaan ayahnya. Mukanya yang tadi terlihat datar, kini terlihat gugup dan pipinya mulai bersemburat merah.
"Ta-tahu dari mana?" ucapnya setengah berteriak. "Ayah tahu dari mana kalau dia menciumku?"
"Hoo, jadi dia yang menciummu? Aku tidak tahu," Yusaku terlihat tersenyum puas, puas menemukan jawaban hanya dengan menebak-nebak. "Seorang pria biasanya merasa bingung kalau ada seorang wanita yang menciumnya atau menyatakan cinta kepadanya. Walaupun mungkin dia tidak begitu memiliki perasaan kepada wanita itu…kurasa aku juga pernah seperti itu."
"Ayah hanya menebak-nebak!" teriak Shinichi tidak percaya. "Ayah menjebakku…"
Yusaku tertawa lepas. Ia menegakkan tubuhnya, berjalan masuk ke dalam kamar, sebelum akhirnya menepuk kepala anaknya pelan.
"Kau masih hijau kalau begitu saja masih bingung. Dengarkan kata hatimu, Shinichi…"
"Eh?"
"Hanya kau yang tahu jawabannya. Bukan aku, ibumu, Ran ataupun wanita yang kau ceritakan tadi. Hatimu tahu apa yang sebenarnya kau rasakan. Hatimu yang tahu dengan siapa kau merasa lebih nyaman. Hatimu yang tahu siapa yang kau sayangi sebagai wanita dan siapa yang kau sayangi sebagai seorang teman…"
"…Hati…?"
"Ya, gunakan hatimu. Lalu, pikirkan dengan kepalamu. Kadang hati terlalu buta untuk mengerti mana yang lebih baik. Saat itu kau harus tetap menggunakan kepalamu," Yusaku melemparkan senyuman seorang ayah kepada anaknya.
Shinichi menatap ayahnya tanpa berkedip, seolah tidak percaya dengan kata-kata yang baru saja didengarnya.
"Aku percaya padamu…bagaimana pun kau adalah anakku," Yusaku meninggalkan Shinichi yang masih terdiam di tempatnya.
Shinichi masih tidak bergerak hingga beberapa menit kemudian. Dia hanya berdiri di sana, membiarkan angin pagi musim dingin mengibarkan sedikit bagian bawah kemeja putihnya dan meniup helai rambut hitam yang ia peroleh dari ayahnya.
.
"Ya, gunakan hatimu…"
.
Shinichi memejamkan matanya dan mendengarkan hatinya.
Kenapa semuanya menjadi rumit seperti ini? Apakah hanya karena sebuah ciuman? Tidak. Lebih dari itu…
Semuanya, sejak pertama kali mereka bertemu. Ketidaksukaan yang dia rasakan. Kekesalan. Namun, rasa itu kemudian berubah menjadi penyesalan dan perasaan bersalah.
Lalu, rasa bersalah pun berubah menjadi perasaan ingin bekerja sama, saling melindungi, dan saling membutuhkan. Ya, sebagai partner…mereka memiliki tujuan yang sama yang ingin dicapai dengan cara yang hampir sama pula…
Kemudian, saat ini mungkin saja semua itu sudah berubah. Wanita itu kini terlihat berbeda di matanya.
Di hatinya.
.
"Lalu, pikirkan dengan kepalamu…"
.
Tapi…benarkah semudah itu?
Jika benar, lalu bagaimana dengan Ran? Gadis teman masa kecilnya yang selalu bersamanya. Yang selalu menjaga dan menemaninya. Lebih dari semua itu…
Seseorang yang selalu menunggunya dengan tulus…yang kini tengah terbaring di ambang kematian karena ulah dirinya. Ia tidak mungkin meninggalkannya karena ia sangat menyayanginya.
Lalu, apa yang harus dilakukannya?
Siapa sebenarnya yang ia butuhkan?
…Siapakah yang lebih membutuhkan dirinya…?
.
"—Jangan biarkan aku sendiri—"**
.
"Seandainya aku juga bisa kehilangan ingatan seperti dirinya, maka aku akan sangat bahagia…karena aku bisa memulai semuanya dari awal, dan mungkin aku akan bisa hidup bersamamu—"***
.
"Shinichi…"
.
"Kudo-kun…"
.
BRAK!
"Shin-chan! Kau mau ke mana?" teriak Yukiko saat melihat anaknya yang tiba-tiba turun dari lantai dua dan segera keluar dari rumah sambil membanting pintu. Yukiko bergegas menuju pintu yang baru saja dibanting Shinichi, namun ditahan oleh Yusaku saat ia baru saja ingin membuka pintu dan melihat ke mana Shinichi pergi.
"Yusaku?" tatap Yukiko heran. Yusaku hanya tersenyum pelan.
"Biarkan saja dia. Dia sedang belajar menyelesaikan masalahnya sendiri. Kau harus percaya padanya…"
"T-tapi—!"
"Dia adalah anak kita…percayalah sedikit kepadanya," ucap Yusaku dengan nada menenangkan.
Mendengar jawaban Yusaku, Yukiko tidak lagi bisa membantah. Ia hanya menatap suaminya itu lalu berganti menatap pintu yang baru saja menjadi saksi perubahan Shinichi yang sadar atau tidak, cukup mengejutkannya sebagai seorang ibu.
Anaknya sedang belajar…hanya itu yang dapat ia mengerti.
.
.
"SHIHO!" untuk kedua kalinya, Shinichi membanting pintu dengan keras. Shiho yang saat itu sedang menghadap layar komputer di ruangan bawah tanah pun otomatis terkejut. Ia berdiri dari tempat duduknya dan menghadap Shinichi yang tengah berdiri tersengal-sengal di ambang pintu.
"Kudo-kun…" ucapnya hampir tak terdengar. Suatu hal yang mengejutkan baginya untuk melihat Shinichi yang tiba-tiba mendatanginya setelah apa yang dilakukannya semalam.
Apa yang ingin dilakukan Shinichi? Memarahinya? Membentaknya? Oh, tidak. Mungkin lebih dari itu semua. Bisa saja Shinichi memintanya untuk tidak menemuinya lagi. Dan dia akan dengan sangat senang hati melakukannya, karena itu artinya dia bisa melupakan semuanya tanpa penyesalan sedikit pun.
"Shiho…" Shinichi mengucapkan nama itu sekali lagi sambil berjalan mendekati wanita yang dipanggilnya. Ia berhenti tepat di depan Shiho yang sedang menatapnya dengan berbagai macam perasaan.
Kedua pasang mata itu saling berpandangan, mencari kebenaran dari dirinya masing-masing. Sejak ia meninggalkan kamarnya hingga ia berdiri tepat di hadapan wanita itu sekarang, Shinichi tidak henti-hentinya menanyakan kembali apa yang telah ia pikirkan. Ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa perasaan ini adalah benar. Ia pun berusaha meyakinkan dirinya bahwa ini adalah yang terbaik untuk semuanya, siapa pun itu. Ran, Shiho, ataupun dirinya sendiri.
Tetapi, pertanyaan kecil itu selalu muncul di sudut hatinya?
Benarkah ini?
Apakah akal dan hatinya sudah berjalan dengan sinergis?
Tidak tahu. Ia pun sungguh tidak tahu. Mungkin ia baru akan tahu setelah ia mengatakan ini pada wanita di hadapannya.
Ya, mungkin saja…tidak ada salahnya mencoba, bukan?
"Shiho, aku…"
"Eh…" Shiho menatap Shinichi bingung. Dia tidak mengerti dan tidak bisa menebak apa yang akan dikatakan Shinichi padanya. Dia berusaha mencari tahu, tapi tidak ada hal yang bisa menjadi klu untuknya. Paling tidak, jika dia bisa menebaknya terlebih dulu, dia bisa mengantisipasi rasa sakit yang kemungkinan besar akan ia rasakan.
Tapi, ia tidak bisa melakukannya. Sekarang, ia hanya berusaha menguatkan hatinya atas apa pun yang akan dikatakan Shinichi kepadanya.
"Shiho, kukira…aku…"
Shiho memejamkan matanya. Mempersiapkan telinganya untuk mendengarkan apa pun itu dengan jernih.
"…Aku—!"
Tiririririt-tiririririt
Shinichi terdiam. Shiho membuka matanya. Sesuatu telah mengganggu mereka.
Perlu beberapa saat sampai mereka sadar kalau itu adalah suara ponsel. Shinichi segera mengeluarkan benda kecil itu dari saku celananya, saat dia tahu kalau itu adalah suara ponselnya.
"Maaf…" ucapnya pelan sambil membuka flip-phone miliknya. Ia melihat sebuah nama terpampang di layar ponselnya.
.
ID Caller
Suzuki Sonoko
.
"Sonoko?" gumamnya pelan. Shiho sedikit tersentak mendengar nama itu. Mungkin tentang Mouri-san, pikirnya.
Shinichi menekan tombol 'Accept' dan menempelkan ponsel itu di telinga kanannya.
"Sonoko? Ada apa, sepagi ini—,"
"Shinichi! Cepat ke rumah sakit!" suara Sonoko terdengar setengah berteriak sekaligus sedikit bergetar. Shinichi bisa menebak kalau Sonoko sedang menangis. "Ran…Ran…"
Mendengar nama itu, Shinichi merasakan ketakutan yang luar biasa. Ketakutan yang sama saat Ran tertembak dan dibawa ke rumah sakit dalam keadaan tidak sadarkan diri. Ketakutan akan menghilangnya wanita itu dari sisinya untuk waktu yang tidak pernah mampu ia perkirakan.
"Ran? Ada apa dengan Ran, Sonoko? Katakan padaku!" Shinichi tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran dari balik suaranya, dan kekhawatiran itu tertangkap jelas oleh telinga Shiho. Mau tidak mau, Shiho pun ikut khawatir. Bagaimana pun, kematian gadis itu bukanlah hal yang pernah diinginkannya.
"Aku tidak mengerti! Cepatlah ke sini, Shinichi!" serak Sonoko, seperti orang kehilangan harapan. Mendengar jawaban itu, Shinichi semakin kalut. Baru saja ia ingin memanggil Sonoko lagi, sambungan telepon sudah terputus.
"So-sonoko!" percuma, Sonoko sudah memutuskan panggilannya. Shinichi menekan beberapa tombol untuk menghubungi Sonoko balik. Tetapi, Sonoko me-reject panggilan itu, berkali-kali. Frustasi, Shinichi menarik rambutnya sendiri.
"Sial!"
"Ada apa dengan Mouri-san, Kudo-kun?" tanya Shiho berusaha tetap tenang, tidak ingin membuat Shinichi bertambah kacau.
"Aku tidak tahu! Sonoko tidak menjelaskan apa pun padaku, dan sekarang dia tidak mengangkat teleponnya! Apa yang harus aku lakukan!" Shinichi kembali mencengkeram kuat rambutnya.
Melihat Shinichi yang begitu kalut, begitu bingung hingga tidak mampu berpikir dengan jernih, Shiho pun mengerti seberapa berharganya Ran untuk detektif muda yang satu itu. Shiho menelan ludahnya, berusaha melenyapkan perasaan tidak enak yang sekarang berputar-putar di hatinya. Ia meraih tangan Shinichi yang masih setia mencengkeram rambut hitamnya sejak Sonoko meneleponnya beberapa saat yang lalu.
Merasakan genggaman kuat Shiho pada pergelangan tangannya, Shinichi mengangkat kepalanya dan melihat Shiho yang sedang menatap matanya lekat-lekat.
"Kita ke rumah sakit…sekarang!"
.
To be Continued
.
.
Author's Note: Lagi-lagi update lama. Sepertinya para pembaca harus terbiasa dengan kebiasaan saya yang satu ini, hahaha :D
Sebenarnya, chapter ini ingin saya buat lebih panjang dari ini…tapi karena takut kepanjangan, jadi saya stop di sini. Selain itu, biar bikin tambah penasaran juga, hahaha
Shinichi mulai menyadari perasaannya? Mungkin saja. Yang jelas, dia hampir mengatakan sesuatu pada Shiho namun terpotong di tengah-tengah. Jangan marahi saya, karena di situlah letak serunya, hahaha.
Yang jelas setelah ini, bakal ada perkembangan tidak terduga. Antara penggemar Shin-Ran dan Shin-Shi, salah satu akan bersedih di chapter depan. Kalau saya sih, di tengah-tengah…bisa menangis apa pun yang terjadi, hahaha XD
*Oh, ya…Narumi Asai yang disebut di chapter kali ini adalah pelaku pembunuhan berantai di kasus 'Moonlight Sonata'. Mungkin ada yang masih ingat? Salah satu wujud kegagalan Shinichi sebagai seorang detektif, dan salah satu kisah di DC yang benar-benar saya sukai.
**Lalu, dialog ini adalah ucapan Ran yang bisa dibaca di volume 23, kasus pembunuhan di atas kapal, berlatarbelakangkan kelompok perampok yang menghilang selama duapuluh tahun.
***Dan yang ini, adalah ucapan fenomenal bagi penggemar AiCon atau ShinShi yang diucapkan Haibara di movie 4 'Captured in Her Eyes'.
Baiklah, sekian dulu chapter kali ini.
Saran dan kritik diterima dengan senang hati :D Review yaa ^^
