DISCLAIMER: I do not own Detective Conan. All characters mentioned in this fiction belong to Gosho Aoyama.
.
Previously: Tiga minggu telah berlalu sejak Ran mengalami koma dan berada di rumah sakit. Shinichi dan Shiho telah kembali ke rumah profesor dan mereka berencana untuk bekerja sama dengan Vermouth yang telah tertangkap. Bagian sebelumnya berkisah tentang kegelisahan Shinichi mengenai perasaannya terhadap Shiho. Saat ia baru saja akan mengatakan sesuatu kepada Shiho, sesuatu terjadi pada Ran.
.
Part 16 : I'll be by Your Side
Words : 4102
Summary : Shinichi menegakkan tubuhnya kembali dan memandang Shiho untuk menemukan bahwa Shiho juga tengah memandangnya. "Dia orang yang kusukai…"
.
.
.
Part 16
I'll be by Your Side
.
.
"Shinichi!" Sonoko berlari mendekati Shinichi yang juga tengah berlari menghampirinya. Sonoko meraih kedua lengan baju Shinichi dan menatapnya kalut. Air mata telah membasahi kedua belah pipinya yang mulai terlihat pucat karena menahan emosi yang bercampur aduk. Kedua matanya yang merah menatap Shinichi nanar.
"Shinichi! Ran! Dia—!"
"Apa yang terjadi, Sonoko? Katakan padaku!" Shinichi menggenggam kuat kedua pergelangan tangan Sonoko, menuntut jawaban yang dapat memuaskan rasa penasaran sekaligus menghilangkan rasa takutnya.
"Ran…tiba – tiba ia terlihat aneh. Saat aku sedang menjenguknya, dia…" Sonoko menutup mulut dengan tangannya dan tidak melanjutkan perkataannya.
Sonoko menggelengkan kepalanya kuat – kuat. Ia tidak bisa menjawab apa pun lagi…semuanya terlalu pahit untuk ia keluarkan melalui bibirnya. Tubuh Sonoko bergetar dan ia hanya bisa meletakkan dahinya di dada Shinichi dan kembali menangis…
Shinichi melonggarkan genggamannya pada pergelangan tangan Sonoko dan membiarkan teman sekelasnya itu menangisi teman masa kecilnya yang sekarang bahkan ia tidak ketahui keadaannya. Shinichi melayangkan pandangannya ke depan pintu kamar rawat yang seringkali ia datangi. Di depannya, ia dapat melihat detektif Kogoro sedang mengusap-ngusap punggung istrinya yang juga tengah menangis, sama seperti Sonoko…
Shiho yang melihat pemandangan yang kelabu itu hanya bisa terdiam. Ia memandang sekilas pada Sonoko yang tengah menangis dalam dada Shinichi. Gadis yang biasanya bersikap sinis padanya itu bahkan tidak terganggu dengan keberadaannya. Hanya ada satu alasan mengapa dia merasa tidak terganggu…
Ia terlalu sedih dan kacau untuk menumpahkan kekesalannya kepada gadis berambut merah itu seperti biasa…
Sedangkan Shinichi…ia kembali menemukan mata itu di wajah sang detektif muda. Mata yang dipenuhi dengan kesedihan, ketakutan, kekhawatiran. Semuanya. Semuanya bercampur aduk di mata hitam kebiruannya yang kini menatap sepasang suami istri yang juga tengah kacau dengan perasaan dan pikirannya masing – masing.
Shiho maju beberapa langkah, mendekati kedua orangtua gadis yang selalu mengingatkannya kepada kakaknya. Kogoro yang menyadari kehadiran gadis yang baru sekali ia temui itu hanya menganggukkan kepala sekali, tanda bahwa dia menghargai kedatangan gadis blasteran itu. Gadis yang ia ketahui cukup jauh terlibat dengan kasus organisasi yang telah menimbulkan musibah kepada anaknya itu. Namun, tidak sedikit pun ia menyalahkan wanita yang tengah membalas anggukan kepala kepadanya itu.
Ia tidak akan pernah menyalahkannya…
Sampai ia tahu bahwa aku adalah mantan anggota yang membelot terhadap organisasi…sampai ia tahu kalau aku menjadi penyebab tidak langsung semua ketidakberuntungan yang terjadi pada putrinya. Ia tidak akan pernah menyalahkanku, ucap Shiho dalam pikirannya.
Tiba – tiba pintu yang ada di ujung koridor terbuka, menampakkan seorang dokter yang baru saja keluar dari dalamnya. Kontan semua orang yang berada di situ bergerak mendekati sang dokter yang wajahnya terlihat sedikit pucat. Hati mereka mulai mencelos. Tidak dapat dipungkiri bahwa mereka merasakan firasat yang tidak begitu baik.
"Do-dokter?" Eri hanya bisa mengatakan satu kata itu dengan suaranya yang mulai serak.
"Ran…dia baik – baik saja kan, Dokter?" Kogoro menanyakan hal yang persis ingin diketahui istrinya.
Dokter itu menatap wajah suami-istri di hadapannya sebelum menjawab pertanyaan mereka dengan sedikit berhati – hati.
"Ran-san…kondisinya sudah kembali stabil."
Mendengar satu kalimat itu, tanpa disadari semua yang berdiri di sana menghela napas lega yang sedari tadi mereka tahan. Tak ayal, kecerahan mulai tampak di wajah mereka yang muram sejak tadi.
"Ada kontraksi tidak teratur pada otot bilik di mana luka tembak itu berada. Kondisi Ran-san sempat tidak stabil. Namun, kami sudah melakukan kejut jantung dan sekarang kondisinya sudah tidak membahayakan," jelas dokter itu kembali.
"Syukurlah…" gumam Eri, Kogoro, dan Sonoko hampir bersamaan. Shinichi dan Shiho pun tersenyum lega.
"Lalu, apa Ran akan segera bangun?" tanya Shinichi penuh harap.
Dokter itu memandang Shinichi sesaat sebelum memberikan jawabannya. "Tentang itu…semuanya tergantung pada Ran-san sendiri. Kita berharap ia segera bangun karena jika hal seperti ini terjadi lagi…saya takut ia tidak akan bisa bertahan," dokter itu melanjutkan perkataannya dengan nada simpatik.
Orang – orang terdekat gadis berambut panjang itu pun kembali dengan raut muka cemas mereka.
"Kami akan terus memantau keadaan Ran-san dan melakukan yang terbaik untuk menyelamatkannya. Sekarang kita hanya bisa berdoa agar Ran-san segera sadar dari koma, dan untuk itu peran orang-orang terdekat sangat dibutuhkan. Akan sangat bagus jika keluarga dan teman – temannya dapat menemaninya," ucap dokter itu berusaha meyakinkan wajah – wajah cemas di hadapannya.
"Baiklah. Terima kasih, Dok," Kogoro menganggukkan kepalanya. Dokter itu membalas anggukannya dan beranjak meninggalkan kelima orang itu setelah mengucapkan permisi. Tak berapa lama kemudian, dua orang perawat keluar dari kamar rawat Ran. Eri, Kogoro, dan Sonoko segera memasuki kamar itu setelahnya.
Shinichi masih terdiam di sana, menatap pintu itu dengan pandangan kosong. Ingin rasanya ia menyusul orang – orang itu, masuk ke kamar Ran dan memastikan bahwa semuanya memang baik – baik saja seperti yang dikatakan dokter barusan.
Tetapi, kakinya terasa berat, tubuhnya terasa kaku. Perasaan yang sama ini…
…Hal sama yang ia rasakan setiap kali ia berdiri di depan pintu ini…
Ia takut bahwa itu adalah hari terakhirnya menatap wajah pucat yang sudah ia kenal sejak ia kecil.
Memikirkan itu saja, dadanya terasa sesak. Tanpa sadar tangannya gemetar dan setetes air mata telah lolos, mengalir di pipinya.
…Ran…
Saat pikirannya sedang terpusat pada seseorang yang terbaring di balik pintu itu, sesuatu yang dingin menyentuh sebelah tangannya yang bergetar pelan. Shinichi terkesiap dan mengalihkan pandangan pada tangan kanannya. Sepasang tangan kini tengah menggenggam tangannya lembut.
"Kudo-kun…?" Shinichi mendengar namanya dipanggil oleh wanita di sampingnya.
Ah, iya…bagaimana ia bisa melupakan bahwa wanita ini juga ada bersamanya sekarang? Selalu saja begitu. Setiap kali ia tengah tenggelam memikirkan Ran, ia selalu melupakan hal di sekitarnya. Apa pun dan siapa pun itu. Salah satunya adalah gadis berambut pirang kemerahan itu.
Saat ia tengah mengajak Ran bicara setiap kali ia menjenguknya, wanita ini juga berada di dekatnya. Namun, ia hanya diam…berdiri di dekat jendela dan sesekali melirik detektif muda itu. Sebenarnya, ia sadar akan tatapan yang sulit diartikan yang dilempar wanita itu setiap kali ia mulai bernostalgia dan menceritakan berbagai hal kepada Ran. Tetapi, ia akan segera menepisnya…menganggapnya sebagai tak lebih dari pandangan kasihan dan simpati.
"Kudo-kun…" wanita itu memanggilnya sekali lagi dan kali ini ia benar – benar tersadar dari lamunannya. Shinichi hanya menatap wajah oriental itu dengan mata tak fokusnya.
"…Tanganmu gemetar," ucapnya dengan nada sedikit khawatir. "Kau…kedinginan?"
Shinichi hanya terdiam. Ia kembali menatap wajah Shiho dengan pandangan yang ia sendiri tidak begitu paham. Ia tak tahu harus menjawab apa karena, jujur, ia sama sekali tidak merasa kedinginan. Bahkan, ia merasa tangan Shiho mungkin lebih dingin dari tangannya. Jadi, siapa sebenarnya yang tengah kedinginan di sini?
Shinichi lalu menggeleng pelan, tidak ingin membuat nada cemas itu kembali terdengar. Namun, ia tidak bereaksi sedikit pun dengan tangan Shiho yang menggenggamnya. Ia merasa…ia hanya ingin seperti ini sesaat saja.
Sepasang tangan dingin itu dengan anehnya menghangatkan perasaannya…walaupun sedikit.
"Kau…menangis?" suara itu terdengar lagi dan terasa sangat berhati-hati. Shinichi tersentak dan menyadari pipinya yang kini sudah basah. Ia lalu menghapus air matanya dengan tangan kirinya yang tidak digenggam Shiho.
"Aa…kalau kujawab tidak, kau pasti langsung tahu kalau aku berbohong," jawabnya ringan. Ia berusaha menambahkan nada santai dalam jawabannya barusan. Tapi, entah kenapa ia merasa itu malah membuat jawabannya terdengar payah.
"Kau tidak ingin melihatnya?"
"Nanti saja," jawab Shinichi datar. Ia kembali memandangi pintu di hadapannya.
"Apa kau takut?"
Deg.
Pertanyaan itu tepat mengenai sesuatu di dalam hatinya. Shinichi menolehkan kepalanya, melihat wajah yang tengah menanti jawabannya. Ia tidak tahu apa alasan di balik pertanyaan itu. Apakah karena khawatir…atau memang sekadar ingin bertanya?
Shinichi menemukan dirinya menyeringai.
"Heh, hari ini kenapa kau cerewet sekali?" Shinichi bertanya balik dengan nada dingin.
Sekilas, wajah Shiho terlihat terkejut mendengar tanggapan itu. Tetapi, wajah itu segera berganti dengan sebuah senyum yang hampir sama dengan seringai Shinichi.
"Benarkah? Wah, aku tersanjung," balas Shiho.
Mendengar jawaban itu, Shinichi pun menatap mata Shiho tajam. Wajahnya terlihat tidak senang. Ia lalu melepaskan tangannya dari genggaman Shiho.
"Sudahlah…" Shinichi berbalik dan mulai berjalan meninggalkan Shiho di belakangnya. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku mantelnya. Shinichi terus berjalan menjauh dari Shiho. Tidak sedikit pun ia berbalik dan Shiho pun tidak terlihat berniat untuk menghentikannya. Namun, setelah jarak yang cukup jauh tercipta di antara mereka berdua, Shinichi menghentikan langkahnya.
"Memangnya apa yang salah dengan rasa takut?" tanya Shinichi dengan suara yang cukup untuk membuatnya terdengar di telinga gadis itu. Mendengar itu, Shiho memasang wajah dinginnya.
"Apa ini waktu yang tepat bagimu untuk tidak terlihat lemah?"
"Lihat siapa yang bicara. Kau bertanya seolah kau tidak pernah berusaha pura – pura kuat," sindir Shinichi. Shiho menghela napasnya yang sejak kapan terasa berat.
"Hentikan ini, Kudo-kun. Aku bertanya bukan dengan alasan untuk membuatmu terlihat lemah di depanku."
Shiho menatap punggung yang berjarak kurang lebih sepuluh langkah di depannya. Ia menghela napas lagi sebelum akhirnya melanjutkan perkataannya.
"Aku sangat kenal seperti apa rasanya takut, seperti aku mengenal punggung tanganku sendiri. Namun, selama ini aku terus berlari menghindarinya sehingga ketakutan itu tidak kunjung menghilang dari diriku. Aku berpura – pura kuat dan menipu banyak orang juga diriku sendiri…
Saat kukira aku telah menyelesaikan masalahku, ternyata aku hanya menumpuk perasaan itu dan membuat diriku menjadi pengecut yang menyedihkan. Aku tahu betul itu dan aku hanya tidak ingin…kau mengalami hal yang sama."
Ucapan Shiho barusan tepat mengenai titik lemah di dalam hati Shinichi. Tidak, bukannya dia tidak ingin terlihat lemah dengan menyatakan ketakutannya. Ia hanya tidak yakin kalau dirinya akan sekuat itu. Ia tidak ingin memasuki ruangan itu dan terjatuh lemas karena melihat Ran yang baru saja melewati kondisi kritis. Ia tidak ingin orang – orang yang kini tengah menemani Ran juga mengkhawatirkannya.
Di samping itu semua, ia tidak pernah malu untuk mengatakan dirinya takut. Ia akan mengatakannya dengan jelas di hadapan orang tuanya, Heiji, atau Ran sekali pun. Tapi, tidak. Tidak di depan gadis yang ia janjikan akan selalu ia lindungi.
Ia tidak bisa mengatakannya pada Shiho.
Cukup lama mereka berdua diam setelah itu. Shinichi hanya menundukkan kepalanya tanpa menjawab apa pun. Sedangkan Shiho…tidak ada tanda – tanda ia akan beranjak dari tempat itu, sampai akhirnya wanita muda itu kembali angkat suara.
"Terserahlah. Aku akan masuk melihat Mouri-san." Shinichi dapat mendengar langkah kaki Shiho yang berbalik dan mulai membuka pintu itu. "Aku tidak akan sepenuhnya mengerti apa yang kau rasakan sekarang. Tetapi, seandainya sekarang Mouri-san sudah sadar, mungkin kau adalah orang pertama yang ingin dilihatnya."
Shinichi tidak melihat senyum pahit Shiho saat ia menutup pintu itu perlahan.
.
.
Kriiing kriiing kriiing
Suara telepon itu menghentikan profesor dari kegiatan browsingnya. Profesor tua itu bergegas menuju telepon yang ada di ruang tengah.
"Halo, Hiroshi di sini…ah, Shiho-kun," jawab profesor saat menyadari suara di balik telepon.
"Ng…ya…hm. Ya, baiklah…Aku segera ke sana."
Profesor menutup teleponnya dan berjalan menaiki tangga menuju kamar Shiho. Ia mengambil sebuah tas dari sebuah rak di samping meja belajar Shiho. Ia lalu membuka pintu lemari pakaian yang ada di sudut ruangan dan mengambil beberapa pakaian, serta handuk.
Setelah memasukkan beberapa barang yang dikira perlu, profesor menarik resleting tas itu dan keluar dari kamar Shiho. Saat ia baru saja menutup pintu kamar Shiho, suara bel terdengar dari pintu depan.
"Ya? Tunggu sebentar," Profesor berjalan tergopoh – gopoh menuju pintu depan. Ia membuka pintu itu dan terheran melihat orang yang kini berdiri di depannya.
"Shinichi-kun?" Profesor bingung melihat ekspresi pemuda di depannya yang terlihat…sedikit menyedihkan. "Bukankah kau di rumah sakit bersama Shiho-kun?"
Shinichi yang terlihat tidak fokus hanya menjawab singkat. "Aa, iya…"
Profesor membiarkan tetangganya itu masuk ke dalam rumahnya. Saat Shinichi baru saja ingin membuka sepatunya, profesor teringat sesuatu dan bertanya dengan ringan.
"Apakah kau ke sini untuk mengambil barang – barang Shiho-kun?" Profesor mengangkat tas di tangannya setinggi dadanya.
Shinichi berhenti melepaskan sepatunya dan menoleh, memandang tas di tangan profesor dengan penuh pertanyaan.
"Barang?" ucap Shinichi tidak mengerti.
"Shiho-kun memintaku menyiapkan ini untuknya. Dia bilang ingin menemani Ran malam ini," jelas profesor. Shinichi memandangi profesor dan tas di tangannya bergantian. Merasa diperhatikan, profesor berdeham dan kembali bertanya pada Shinichi.
"Kurasa…kau ke sini tidak untuk mengambil tas Shiho-kun?" selidik profesor dengan pandangan ragu.
Shinichi mengedipkan matanya beberapa kali sebelum akhirnya mengerti arah pertanyaan profesor. Wajahnya menunjukkan cengiran yang cukup lebar. "Ah, aa…iya. Tentu saja. Aku ke sini memang untuk mengambil tas itu."
Mendengar jawaban yang meragukan itu, profesor menyipitkan matanya.
"Tapi, aneh…Shiho-kun tidak bilang di telepon kalau kau yang akan mengambil tasnya?"
"Oh, itu…mungkin dia lupa," Shinichi mengikat kembali tali sepatu yang tadi sempat ia lepas. "Aku ke sini setelah Shiho menelepon profesor. Sekalian, aku juga ingin mengambil bajuku."
"Jadi, kalian berdua akan menemani Ran-kun malam ini? Apa keadaannya separah itu?" kini nada profesor terdengar khawatir.
"Tidak, Ran baik – baik saja. Kami hanya ingin memastikan bahwa kondisinya tetap stabil sampai 24 jam ke depan. Jika tidak, mungkin tidak satu pun dari kami akan bisa tidur malam ini," Shinichi berjalan mendekati profesor lalu mengambil tas yang dijinjing profesor. Shinichi tersenyum lebar sebelum menarik pintu rumah profesor untuk menutupnya.
"Aku pergi dulu, Profesor. Hari ini profesor terpaksa makan malam sendirian, tidak apa – apa kan?"
"Ya, tentu saja. Jangan khawatir, aku bisa mengurus diriku sendiri," profesor tersenyum polos. "Ah, ngomong – ngomong soal makan…Shiho-kun tidak menyentuh sarapannya hari ini. Kuharap kau bisa membujuknya untuk makan agar dia tidak sakit. Ini musim dingin dan kau tahu gadis itu cepat sekali terkena flu."
Shinichi menganggukkan kepalanya dan menutup pintu itu perlahan.
.
.
"Benarkah tidak apa-apa?"
"Ya," Shiho mengangguk pelan. "Tidak apa – apa. Paman dan bibi pasti ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Aku akan menemani Mouri-san malam ini, jadi kalian tidak usah khawatir."
Shiho menaikkan selimut Ran hingga menutupi kedua bahunya. Tanpa sadar ia menghela napas dengan berat saat menatap wajah tak berdaya di hadapannya. Ia bahkan tidak menyangka, kenapa dia bisa menawarkan diri untuk menjaga Ran malam ini. Tawaran itu keluar begitu saja dari mulutnya, seolah itu adalah suatu hal yang normal untuk ia lakukan.
Dan di sinilah dia sekarang, duduk di samping tempat tidur Ran sambil menunggu profesor membawa barang – barang yang ia perlukan untuk menginap satu malam. Ah, mungkin bisa lebih. Ia merasa tidak bisa meninggalkan Ran begitu saja saat mengingat ucapan dokter beberapa saat yang lalu.
"…Kita berharap ia segera bangun karena jika hal seperti ini terjadi lagi…saya takut ia tidak akan bisa bertahan."
Shiho memejamkan matanya. Bagaimana pun ia tidak pernah menginginkan kematian orang lain lagi semenjak ia kehilangan kakaknya. Apalagi gadis ini, gadis yang pernah sekali menyelamatkannya…gadis yang begitu mirip dengan kakaknya. Ia sama sekali tidak mengharapkannya karena kematian Ran hanya akan memperburuk keadaan…
Shiho menyelipkan tangannya di bawah selimut dan meraih tangan Ran yang tidak dipasangi selang infus. Pandangannya tak pernah terlepas dari wajah yang warnanya hampir sama dengan dinding di sekelilingnya.
"Mouri-san, kapan kau akan bangun?"
Tidak ada jawaban, tentu saja. Sekilas ia teringat dengan sosok yang duduk di sini setiap harinya dan melakukan hal yang sama dengan yang dilakukannya sekarang. Menemukan dirinya di posisi yang sama, rasanya ia ingin tertawa pahit.
"Kau pasti tahu bahwa Kudo duduk di sini setiap hari, berbicara denganmu, berusaha agar kau bisa mendengarnya dan segera bangun. Setiap hari pula, aku hanya bisa memperhatikannya yang begitu mengkhawatirkanmu…"
Shiho diam sesaat. Walau samar, ia masih dapat melihat gerakan halus dari dadanya yang naik turun. Paling tidak, kenyataan bahwa Ran masih bernapas membuatnya bisa menahan sedikit emosinya.
"Mouri-san," lanjutnya. "Apakah alasan bahwa kini Kudo menunggumu tidak cukup untuk membuatmu bangun?"
Ia menggenggam tangan Ran dengan lebih erat, berharap pesannya dapat sampai dengan sentuhan itu. Shiho menundukkan kepalanya.
"Kumohon, Mouri-san…bangunlah."
.
.
Shinichi kembali berjalan menyusuri koridor yang sama di hari itu. Kedua tangannya penuh memegang dua tas jinjing dan sebuah bungkusan plastik. Ia terus berjalan hingga tiba di depan pintu kamar rawat Ran dan memindahkan barang – barang yang dipegangnya ke satu tangan. Satu tangannya yang lain memutar kenop pintu itu perlahan.
Pintu itu terbuka, menampakkan sebuah pemandangan yang tidak biasa di hadapan Shinichi. Shiho berada di sana, duduk menghadap pintu yang baru saja dibukanya. Lebih dari itu, Shinichi dapat melihat Shiho yang tengah menggenggam tangan Ran. Shiho yang menyadari kedatangan Shinichi, mengangkat kepalanya dan balas menatap Shinichi tanpa berkata apa pun. Sekilas, Shinichi dapat menangkap ekspresi terkejut dari wajah Shiho. Mungkin Shiho tidak menyangka pemuda itu akan kembali ke kamar ini, dengan membawa serta dua buah tas yang ia kenali sebagai miliknya dan milik Shinichi.
Shinichi memasuki kamar itu, menutup pintu di belakangnya. Ia merasa tidak perlu menjelaskan alasan kedatangannya kepada Shiho, dan mengapa ia di sini dengan membawa barang – barang Shiho. Ia berjalan menuju sofa yang ada di kamar itu dan duduk di sana. Kedua tas yang ia bawa, ia letakkan di sampingnya. Bungkusan plastik bening yang juga dibawanya, ia letakkan di atas meja di depannya.
Detektif muda itu mengangkat kepalanya, menatap Shiho yang duduk cukup jauh darinya. Ia menemukan Shiho juga menatap dirinya, dengan pandangan yang sulit ia artikan.
"Aku bawakan makanan untukmu. Kudengar dari profesor kalau kau belum makan dari tadi pagi," Shinichi membuka percakapan di antara mereka, berusaha mencairkan suasana yang entah sejak kapan terasa dingin.
"Aku belum lapar," sahut Shiho ringan tanpa menatap Shinichi. Kini pandangannya jatuh kepada gadis di hadapannya. Tangannya masih menggenggam tangan Ran dengan erat.
Shinichi tidak berkata apa pun. Ia lebih dari tahu bahwa gadis ini sulit dibujuk jika sudah mengatakan tidak. Ia menghela napas dan menyandarkan tubuhnya pada sofa yang ia duduki. Ia tidak berniat membujuknya untuk makan lebih jauh lagi.
"Bagimu…Ran itu kau anggap apa?" Shinichi menanyakan sesuatu yang muncul begitu saja di pikirannya. Jujur, dia merasa aneh dengan sikap Shiho sekarang ini. Tangannya yang menggenggam tangan Ran…mau tidak mau ia jadi teringat pada Miyano Akemi.
"Aku bisa menanyakan hal yang sama padamu," jawab Shiho tenang. Mendengar itu, Shinichi mendengus pelan. Ia tertawa kecil.
"Ran, ya?" Ia menatap langit – langit putih di atasnya. "Dia teman masa kecilku, orang yang sangat mengerti diriku, orang yang penting bagiku…"
Shinichi menegakkan tubuhnya kembali dan memandang Shiho untuk menemukan bahwa Shiho juga tengah memandangnya.
"Dia orang yang kusukai…"
Shinichi bisa merasakan ia tersenyum pahit, entah karena perkataan yang baru saja diucapkannya atau karena ekspresi gadis itu. Ekspresi yang menunjukkan bahwa ia cukup terkejut dengan apa yang baru saja didengarnya.
Shinichi terus memandang Shiho hingga Shiho membuang mukanya.
"Mouri-san mengingatkanku pada kakak," ucap Shiho dengan nada getir.
"Eh…"
Shinichi memperhatikan Shiho melepaskan genggamannya pada tangan Ran dengan ragu. Shiho lalu beranjak dari tempat duduknya, berjalan menuju meja yang ada di depan Shinichi. Shinichi terheran saat Shiho meraih bungkusan plastik yang dibawanya dan mulai berjalan menuju pintu kamar itu.
"Kau mau ke mana?" tanya Shinichi tanpa bisa menyembunyikan nada herannya.
"Aku akan makan di luar. Kau jaga saja Mouri-san. Jika ada apa – apa, hubungi ponselku," Shiho lalu keluar dan menutup pintu itu.
Aneh, pikir Shinichi. Baru saja tadi dia mengatakan sendiri kalau dia tidak lapar. Sekarang dia sudah di luar dan dengan mudahnya mengatakan kalau dia akan makan di luar. Dia benar – benar tidak mengerti jalan pikiran mantan anggota organisasi itu.
Mengatakan kalau Ran mengingatkannya pada kakaknya lalu keluar begitu saja…apa Shinichi telah memilih topik yang salah untuk dibicarakan?
"Dia orang yang kusukai…"
Shinichi tersentak begitu mengingat apa yang baru saja dikatakannya. Ia tidak mengerti, bagaimana bisa dia mengatakan itu dengan mudahnya…terlebih di depan gadis itu. Apa yang ia pikirkan?
Ia kembali melemparkan tubuhnya ke belakang, bersandar pada sofa berwarna kuning lembut itu. Ia meletakkan sebelah punggung tangannya di atas dahinya dan menghela napas pelan.
Ah, benar juga…ada yang belum ia sampaikan pada gadis pirang itu.
Shinichi memejamkan kedua matanya perlahan. Rasanya ia ingin tidur sebentar dan berharap Shiho sudah kembali saat ia bangun agar ia bisa mengatakan apa yang ingin disampaikannya tadi pagi. Namun, sesuatu terpaksa menahan rencananya itu.
Shinichi membuka matanya dengan cepat saat ia mendengar sebuah suara yang begitu halus. Ia beranjak cepat menuju satu – satunya tempat tidur di kamar itu. Kedua tangannya menahan berat tubuhnya di sisi tempat tidur. Ia mencondongkan dirinya ke arah Ran, berusaha mencari asal suara yang hampir terdengar seperti ilusi itu…
…dan ia tahu itu bukan cuma perasaannya saja…
"…Shin—," suara itu…begitu halus. Hampir tak terdengar.
"Ran…?"
.
.
"Dia teman masa kecilku, orang yang sangat mengerti diriku, orang yang penting bagiku…"
Shiho mengeratkan pegangan pada bungkusan plastik di tangannya.
"Dia orang yang kusukai…"
Ia menghentikan langkahnya. Ada yang salah dengan dirinya. Dadanya terasa berat dan sesak, tenggorokannya seperti tercekat. Ia merasa seperti seseorang yang tenggelam jauh di kedalaman lautan. Tetapi, bukan…
Shiho menolehkan kepalanya ke samping dan melihat deretan kaca jendela rumah sakit. Salju kembali turun di luar, begitu pelan. Langit tidak terlihat cerah dan tertutup awan kelabu. Jalan – jalan sudah tertutup salju. Pohon – pohon tinggi yang berada di sekitar halaman rumah sakit terlihat seperti orang tua kurus yang tak berdaya. Hanya ada tumpukan salju yang menutupi cabang dan rantingnya yang ringkih.
Ia melangkahkan kedua kakinya mendekati salah satu jendela, tangannya menyentuh kaca di depannya. Dari balik kaca itu, ia bisa melihat pantulan dirinya, seorang Miyano Shiho. Seorang gadis berumur delapanbelas tahun. Seorang mantan anggota organisasi kejahatan yang telah melakukan penelitian yang menentang kehendak Tuhan. Seseorang yang hanya ingin semua ketidakberuntungan dalam hidupnya segera berakhir…
Shiho memejamkan matanya, dingin menelusup melewati jari – jarinya yang beradu dengan lapisan kaca yang terus terkena hawa salju itu. Perasaan dingin itu terus merasuk ke dalam hatinya yang kini bimbang. Ucapan Shinichi tadi terus terngiang di kepalanya.
Salahkah? Salahkah ia jika ia tidak menyukai kata – kata yang diucapkan Shinichi tadi? Salahkah jika ia berharap Shinichi menarik kata – katanya kembali?
Tidak. Ia tidak boleh berpikiran seperti ini, tidak di saat Ran baru saja melewati masa kritisnya. Tidak di saat tak ada seorang pun yang bisa memastikan apakah Ran akan bangun kembali atau tidak. Ia sama sekali tidak boleh membiarkan pikiran picik semacam itu kembali mengisi kepalanya.
Tiba – tiba terlintas keinginannya untuk berbicara dengan seseorang. Profesor Agasa atau mungkin Jodie-sensei mungkin dapat membantu menjernihkan kepalanya. Ia tahu obrolan singkat yang tidak begitu penting terkadang bisa membantu seseorang melupakan masalahnya.
Shiho memasukkan tangannya ke dalam saku mantelnya, berusaha meraih ponsel yang biasanya ia letakkan di sana. Tapi, ia tidak menemukannya. Ia mencari di saku celananya namun ia juga tidak bisa menemukannya.
Setelah diam sebentar untuk mengingat di mana terakhir kali ia menggunakan ponselnya, ia teringat meletakkan ponselnya di meja kecil di samping tempat tidur Ran setelah menelepon profesor sebelumnya. Shiho pun berbalik, berjalan kembali menuju kamar rawat Ran. Ia sudah memutar kenop pintu kamar Ran saat dia mendengar sebuah suara dari dalam.
"Ran…"
Suara yang sama, ucapan yang sama. Apa sekarang Shinichi tengah melakukan aktifitasnya seperti biasa di kamar ini—mengajak bicara teman masa kecil yang belum kunjung sadar—?
Shiho baru saja akan mendorong pintu itu untuk masuk. Namun, sebuah suara lain menghentikannya. Suara yang juga ia kenal, tetapi terdengar begitu rapuh dan parau seolah pemilik suara itu telah berteriak keras dalam waktu yang lama.
Ya, ia tahu. Ia tidak akan salah mengenal suara itu. Suara yang memang jarang ia dengar namun sudah tidak pernah ia dengar lagi selama hampir sebulan terakhir.
"—chi, Shin…ichi…"
Shiho berhenti mendorong pintu itu lebih jauh. Tangannya yang memegang kenop pintu itu terjatuh di sisi tubuhnya.
"Ran? Ran? Kau sudah sadar…? Ran?" suara Shinichi terdengar bergetar di telinga Shiho. Shiho juga bisa mendengar sedikit isak dari dalamnya.
"Apa…itu kau? Shinichi…?" suara parau itu kini terdengar lebih jelas. Shiho mengerjapkan matanya yang mulai terasa perih.
"Ya, ya! Ini aku. Ini aku…Shinichi!" Shinichi tidak bisa menyembunyikan nada bahagia dari suaranya.
Sejenak, Shiho tidak mendengar suara lagi dari dalam kamar itu. Matanya yang terasa perih kembali ia kerjap – kerjapkan. Ia menekan kedua kelopak matanya yang tertutup dengan ibu jari dan telunjuk tangan kirinya.
Kedua suara itu terdengar lagi.
"Aku akan memanggil dokter untuk memeriksamu. Tunggulah sebentar."
Mendengar ucapan itu, Shiho bisa membayangkan Shinichi tengah beranjak dari posisinya dan berjalan menuju pintu yang sudah hampir setengah terbuka. Tanpa sadar, Shiho memundurkan tubuhnya beberapa langkah.
"Tu-tunggu, Shinichi…tunggu—," ucap Ran sedikit keras. Kini Shiho yakin bahwa Ran sudah sepenuhnya sadar.
"…Jangan pergi, Shinichi…"
Shiho yang tadinya berniat meninggalkan itu, kini berhenti dan mendekat kembali ke kamar itu. Ia mendengar suara langkah Shinichi yang berlawanan arah dengan posisi pintu masuk.
"Ya, baiklah. Aku akan tetap di sini. Kau tidak usah khawatir," ucap Shinichi menenangkan.
"Kau tidak akan pergi lagi kan, Shinichi? Tidak akan mengejar bahaya lagi?" tanya Ran berturut-turut. Di balik pintu, Shiho mengangkat tangannya, mencengkeram kerah mantelnya perlahan. Dengan memberanikan dirinya, ia mendekati pintu itu lagi dan mendorongnya dengan sangat perlahan agar tidak menimbulkan suara.
"Mmm, kau tenang saja. Sudah kukatakan, aku akan tetap di sini." Shiho dapat melihat sudut bibir Shinichi yang naik karena tersenyum. "Yang penting sekarang adalah kau cepat pulih. Aku akan terus menemanimu, jadi jangan mengkhawatirkan yang aneh – aneh lagi."
"Benarkah? Kau berjanji?" tanya Ran lagi seolah dia ingin memastikan bahwa Shinichi benar – benar memaksudkan apa yang dikatakannya.
Shinichi meraih tangan Ran yang tidak dipasangi selang infus dan menggenggamnya erat. Ia tersenyum begitu lembut. "Aku janji…aku tak akan pergi lagi."
Kini senyuman yang sama juga terlihat di bibir Ran. Shiho dapat melihat setitik air mata di sudut mata Ran telah mengalir di pipinya.
"Syukurlah. Terima kasih…Shinichi."
Shiho menutup mulut dengan tangannya. Ia mundur perlahan hingga punggungnya menyentuh dinding sisi lain koridor itu. Sekarang matanya benar – benar terasa perih, sangat perih.
Shiho tidak pernah menyangka, air mata akan menular dengan begitu mudahnya…
.
.
.
To be Continued
.
.
