DISCLAIMER: I do not own Detective Conan. All characters mentioned in this fiction belong to Gosho Aoyama.
.
Previously: Tiga minggu telah berlalu sejak Ran mengalami koma dan berada di rumah sakit. Shinichi dan Shiho telah kembali ke rumah profesor dan mereka berencana untuk bekerja sama dengan Vermouth yang telah tertangkap. Bagian sebelumnya berkisah tentang Ran yang akhirnya siuman dari koma.
.
Part 17 : Reunion—Another Encounter
Words : 2.597
Summary : "Kau mirip sekali dengannya—,"
…jantungnya berdetak cepat…
"—Haibara Ai…"
.
.
.
Part 17
Reunion—Another Encounter
.
.
Cklek!
Shinichi menoleh saat dia mendengar suara pintu yang terbuka. Ia melihat Shiho masuk lalu menutup pintu itu kembali.
"Ponselku ketinggalan," ucapnya singkat sambil berjalan mendekati meja kecil yang ada di samping tempat tidur Ran. Saat itulah, Shinichi melihat Ran dan Shiho yang bertemu pandang.
"Ah…" suara kecil keluar dari bibir Shiho. Ia tampak sedikit terkejut melihat keadaan Ran dengan kedua mata yang telah terbuka. "Mouri-san…? Kau sudah siuman…"
"Dia baru saja sadar saat kau keluar tadi, Shiho," jelas Shinichi bergantian menatap Shiho dan Ran. Shinichi lalu menjawab pandangan Ran yang terlihat bingung dengan orang yang baru saja…bisa dibilang, menyapanya?
"Ran, ini Miyano Shiho. Dia—," Shinichi berhenti sesaat, sebelum akhirnya melanjutkan ucapannya. Ia memandang Shiho sekilas, lalu melempar pandangannya kembali pada Ran. "—partnerku yang ikut menyelidiki kasus yang sama denganku selama ini. Aku rasa kau pasti mengingat wajahnya. Dia ada di sana saat Sharon dan kau datang menolongku. Sejak saat itu, dia selalu menemaniku saat menjengukmu di sini."
"A-ah…" gumam Ran sambil terus menatap wajah yang tidak terlihat asing di sisi tempat tidurnya. Ia ingat pernah melihat wanita ini dalam pelukan Shinichi dengan luka di lengannya. Benar…kejadian setelah itulah yang membuatnya terbaring di ranjang rumah sakit seperti saat ini. "Miyano-san, senang berkenalan denganmu."
Shiho menganggukkan kepalanya. Ran bisa melihat senyuman yang terlihat tulus tersungging di wajah orientalnya. "Senang juga melihatmu yang sudah siuman, Mouri-san."
"Kalau begitu—," suara derit kursi terdengar saat Shinichi mendorong dirinya ke belakang dan beranjak dari kursi yang didudukinya. "—aku akan memanggil dokter untuk memeriksa keadaanmu, Ran. Shiho akan menemanimu di sini."
"Biar aku saja yang memanggil dokter," Shiho mencegah Shinichi dengan suaranya. Ia menolehkan kepalanya dan menemukan ponselnya yang ia cari. Ia lalu memasukkan ponsel itu ke dalam saku mantelnya. "Sekalian aku akan menghubungi keluarga Mouri-san dan mengabarkan bahwa Mouri-san sudah sadar."
Tanpa mempedulikan ucapan Shiho, Shinichi terus berjalan menuju pintu dan membukanya. Ia tersenyum.
"Tidak, tetaplah di sini. Biar aku yang menghubungi mereka. Kau temani saja Ran sambil menghabiskan makananmu," Shinichi mengerling bungkusan yang dipegang Shiho. Shiho menatap Shinichi dengan pandangan ingin protes. Tetapi, Shinichi mengacuhkannya. "Lagipula, aku yakin Ran pasti ingin mengenalmu lebih jauh."
Pintu itu pun tertutup, meninggalkan dua gadis yang belum saling mengenal itu dengan suasana canggung di sekitar mereka.
"Si detektif itu…selalu saja seenaknya," keluh Shiho sambil meletakkan bungkusan makanannya di atas meja kecil di sampingnya. Mendengar ucapan yang jujur itu, Ran tersenyum kecil.
"Benar."
Mereka terdiam, suasana canggung pun mulai terasa. Shiho yang tidak tahu harus mengatakan apa lagi, berjalan ke sisi lain tempat tidur dan duduk di kursi yang ditempati Shinichi barusan. Ia hanya duduk di sana, tanpa memperhatikan Ran yang diam – diam mencuri pandang padanya.
Merasa aneh berada dalam satu ruangan dengan seseorang yang baru dua kali ia lihat, Ran berdeham pelan, berusaha mencairkan suasana di antara mereka.
"A, ano…Miyano-san…"
Shiho menoleh cepat, membuat Ran sedikit tersentak. Shiho menatap mata Ran lekat – lekat dan mulutnya sedikit terbuka, seolah ingin mengatakan sesuatu.
"Panggil saja aku Shiho," ucapnya tanpa menatap Ran lagi. Ia beralih menatap salju yang terus turun di balik jendela.
"A—aaa, baiklah…Shiho-san," ucap Ran masih dengan nada sedikit ragu. "Itu…bolehkah aku menanyakan sesuatu?"
"Katakan saja."
Ran menatap Shiho takut – takut. "Tadi Shinichi mengatakan kalau dia dan Shiho-san menyelidiki kasus yang sama. Semacam partner—begitu?"
"…Ya, kurang lebih seperti itu."
"Sebenarnya kasus apa itu? Apa hubungannya dengan orang – orang berbaju hitam yang menculikku, juga Sharon dan semuanya?"
Shiho terkesiap dan berhenti memandangi pemandangan putih yang disukainya. Kini kedua bola matanya yang berwarna hijau keabuan itu menatap Ran dengan sedikit membelalak. Semestinya dia sudah mempersiapkan diri dengan pertanyaan semacam ini. Tetapi, saat pertanyaan itu benar – benar tercetus, ia sama sekali tidak tahu harus berkata apa.
"Shiho…san?"
Shiho menghela napasnya dan menatap Ran lekat – lekat.
"Kau baru saja sadar. Lebih baik kau istirahat dan tidak memikirkan hal – hal berat seperti itu. Bukankah Kudo-kun juga mengatakan hal yang sama padamu?"
"T-tapi…"
"Jika keadaanmu sudah jauh lebih baik, aku akan menceritakannya padamu," Shiho kembali menatap salju yang turun di balik jendela. "Yang harus kau lakukan sekarang adalah beristirahat, tidak ada yang lain."
Mendengar nada tegas dari jawaban Shiho barusan, Ran menghentikan niatnya untuk bersikap keras kepala. Ia hanya bisa menganggukkan kepalanya.
Tidak menangkap protes apa pun dari wanita berambut hitam itu, Shiho beranjak dari tempat duduknya dan mendekati jendela yang dari tadi menjadi pusat perhatiannya.
"Mouri-san…"
Ran mengangkat kepalanya dan memperhatikan sosok yang kini sudah tidak duduk di sisi tempat tidurnya. Sosok itu terlihat begitu sepi dan sendiri, mengirimkan udara dingin ke dalam hati Ran tanpa kesengajaan. Sejenak, Ran mengira pernah merasakan hal yang serupa. Namun, pikiran itu dibuangnya jauh – jauh saat Shiho menoleh dan tersenyum lembut kepadanya.
"Terima kasih…kau sudah bangun kembali."
Kedua mata Ran membulat, sedikit tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. Namun, senyuman yang diterimanya terlihat begitu tenang. Tanpa sadar Ran membalas senyuman itu dengan senyuman yang sama lembutnya.
"Ng…"
Wanita bernama Miyano Shiho itu…rasanya tidak sedingin yang ia kira.
.
.
"Roti?"
Shiho berjalan mendekati pintu otomatis rumah sakit dan mengambil sebuah payung yang ia kenal sebagai miliknya di tempat meletakkan payung. Sebelah tangannya memegang ponsel miliknya.
"Aaa, baiklah. Lalu apa lagi? Aku baru saja akan keluar dari rumah sakit," Shiho menahan ponsel dengan bahunya dan mulai membuka payung miliknya. Ia berjalan melewati pekarangan depan rumah sakit yang sepi dan hanya dilewati beberapa orang termasuk dirinya. Salju turun dengan lebat saat itu, memaksa Shiho untuk menggunakan payung yang dibawakan oleh Shinichi untuknya tadi pagi.
Sudah satu minggu berlalu sejak hari dimana Ran akhirnya bangun dari komanya yang cukup panjang. Setiap hari, Shinichi akan menjenguk Ran bersama Shiho. Mereka akan berada di sana hingga waktu makan siang tiba dan kembali ke rumah profesor. Selepas makan siang, Ran akan ditemani ayah atau ibunya dan disusul Sonoko di sore hari setelah ia pulang sekolah. Semuanya berjalan begitu normal, bahkan terasa terlalu tenang.
"Ya, salju turun dengan lebat di sini. Tidak, aku akan berjalan saja, tidak jauh dari rumah," Shiho berbelok di persimpangan jalan menuju sebuah toko serba ada di salah satu sudut kota beika.
Shiho berjalan melewati pintu otomatis toko itu. Ucapan 'selamat datang' dari pegawai toko, membuatnya menganggukkan kepala pelan. Shiho berjalan mendekati salah satu kounter untuk mengambil keranjang belanja.
"Ya, ya, aku tahu, Profesor. Shinichi masih ingin menemani Ran sampai malam, jadi aku pulang duluan. Hm, iya," Shiho mengambil bungkusan plastik berisi roti gandum. "Tidak, kalau yang satu itu aku tidak akan membelikannya untukmu."
Shiho lalu tertawa kecil mendengar tanggapan profesor Agasa dari balik telepon. "Tiiidak. Pokoknya tidak. Kau harus menjaga pola makanmu, Profesor." Shiho melewati satu rak dan rak lain. Ia lalu berjalan menuju bak pendingin yang berisi makanan jenis daging. Ia mengambil sebuah bungkusan steroform berisi daging ikan tuna.
"Kalau begitu, lekaslah cari istri agar aku tidak cerewet lagi," Shiho menggoda profesor sambil terus sibuk dengan aktivitas belanjanya. Ia lalu berjalan mendekati kounter sayur-sayuran. Saat sedang berjalan, matanya menangkap tulisan yang menarik baginya…diskon kentang. Tanpa sadar dia tersenyum dan di kepalanya dia sudah membayangkan nikmatnya kare untuk makan malam nanti.
Shiho mengambil selembar plastik dan mulai memasukkan beberapa buah kentang ke dalamnya sambil terus berbicara pada profesor lewat ponsel. Rasanya sudah lama sekali dia tidak mengobrol santai dengan profesor seperti ini.
"Lho, kenapa tidak? Kau tidak pesimis 'kan?" Shiho mengakhiri kalimat tersebut dengan tawa manis sambil menyerahkan bungkusan berisi kentang kepada pramuniaga di depannya. Ia menunggu beberapa saat dan menerima bungkusan yang sudah ditempeli label harga untuk memasukkannya ke dalam keranjang. Shiho baru saja akan berbalik dan melanjutkan candaannya dengan profesor, saat dia melihat seseorang yang ia kenal—tidak, lebih tepatnya, seseorang yang ingin ia hindari sebisa mungkin—tengah antri di belakangnya.
"…Subaru…Okiya…" tanpa sadar bibirnya mengeluarkan nama itu dengan sangat pelan. Ia tidak mengerti, setelah berkali-kali melihat pria itu, ia sama sekali belum terbiasa dengan keterkejutan dirinya sendiri. Walaupun, memang pada saat ia masih dalam sosok Haibara Ai, ia lebih mudah menyembunyikan perasaan terkejutnya. Mungkin karena sekarang ia hidup sebagai sosok Miyano Shiho, insting mempertahankan dirinya bereaksi dengan lebih kuat. Tidak untuk menyebutkan bahwa mungkin saja pria yang berdiri di depannya ini adalah salah satu dari mereka.
Shiho tersadar dari rasa terkejutnya saat suara profesor berkali-kali memanggilnya dari telepon. Ia pun buru-buru menjawab panggilan profesor dan bergeser dari tempat ia berdiri agar tidak mengganggu antrian.
"Maaf, Profesor Agasa. Aku akan segera pulang. Ya, sampai nanti," ucapnya cepat dan langsung ia akhiri dengan menekan tombol 'End' di ponselnya. Ia menghela napas pelan sebelum nafasnya kembali tercekat saat suara orang itu memanggilnya dari belakang.
"Miyano-san, bukan?"
Shiho memutar tubuhnya dengan sangat pelan dan menemukan Subaru Okiya berdiri di hadapannya. Pria itu menyunggingkan senyuman tipis. Sweater leher tinggi berwarna hitam dan jaket berwarna cokelat senada dengan warna rambutnya tampak begitu pas di tubuhnya. Sebelah tangannya memegang keranjang belanja dan sebelahnya lagi memegang bungkusan berisi kentang yang baru saja ia ambil. Entah sejak kapan, walaupun ia selalu merasa takut berdekatan dengan pria itu, Shiho merasakan pria itu mengingatkannya pada seseorang.
"…Subaru…san," balasnya dengan suara yang agak pelan. Matanya berusaha menghindari pandangan pria itu.
Pria itu maju beberapa langkah mendekati Shiho. "Aku tidak pernah menyangka akan bertemu denganmu lagi…apalagi di tempat seperti ini."
"Apa yang salah dengan bertemu dengan seseorang di toko serba ada yang bisa didatangi siapa saja?" ucap Shiho ketus. Dia berusaha tidak memperpanjang percakapan dengan pria yang terlihat cukup berumur dibanding dengan dirinya itu. Namun, sepertinya dia telah menyampaikan tanggapan yang salah.
"Ah, maaf. Hanya saja…rasanya kita belum pernah berkenalan secara baik-baik," ucapnya sambil menggaruk bagian belakang kepalanya.
"Apa maksudmu?" Shiho menaikkan sebelah alisnya.
"Aku mengetahui namamu dari Kudo-san sewaktu aku menjenguk Mouri-san di rumah sakit beberapa waktu yang lalu," jelas pria berkacamata itu.
"Aa, begitu," tanggap Shiho singkat. Ia sedikit memiringkan tubuhnya.
Raut ramah tetap tidak hilang dari wajah pria itu. "Kalau aku tidak salah dengar, sewaktu di rumah sakit, Miyano-san mengucapkan nama lengkapku?"
Shiho membelalakkan matanya sedikit tanpa sadar, sedikit kaget dengan pertanyaan tersebut. Teringat sesuatu, ia pun menjawabnya dengan cepat. "Ah, iya. Aku mengetahuinya dari Kudo. Kami pernah melihatmu tidak sengaja di suatu tempat."
"Oh, begitu," Subaru menganggukkan kepalanya beberapa kali.
"Kalau begitu, aku permisi dulu," Shiho menundukkan kepalanya tanpa melihat pria itu. "Aku harus segera pulang."
"Ah, Miyano-san," panggilan pria itu menghentikannya dari berlari ke arah kasir. "Bagaimana kalau kita pulang bersama?"
Shiho tidak mengerti kenapa pada akhirnya ia menganggukkan kepala.
.
Sepasang jejak kaki tampak menghiasi jalan bersalju yang cukup sepi itu. Butiran putih yang jatuh dari langit yang sudah mulai gelap itu tidak kunjung berhenti, tidak semakin lebat, tetapi juga tidak semakin berkurang. Sepasang jejak kaki itu terus berlanjut dan jejak yang ada pun mulai tertutupi butiran salju yang turun. Namun, pemilik jejak-jejak itu hanya terus berjalan tanpa ada sepatah kata pun keluar dari bibir mereka yang mulai kering karena dingin. Tanpa disadari hawa dingin di sekitar mereka terasa semakin dingin.
Hingga akhirnya salah satu dari mereka mengeluarkan suara. "Aa, Miyano-san…"
Yang dipanggil hanya melirikkan matanya.
"…tinggal bersama Profesor Agasa, bukan?"
Shiho terdiam sebentar sebelum akhirnya menjawab, "Benar…"
Pria itu tersenyum. "Sudah kuduga…"
Keheningan kembali menyelimuti mereka.
Merasa tidak nyaman, pria itu menolehkan kepalanya sedikit, berusaha memperhatikan wanita muda di sampingnya. Sadar akan diperhatikan, Shiho melemparkan pandangan sedikit tidak suka.
"Ada sesuatu di wajahku?"
Pria itu menggeleng pelan. "Tidak, aku hanya berpikir apakah kau terkena salju yang turun…"
"Tenang saja, payung ini cukup besar untuk kita berdua," jawabnya menatap lurus ke depan. Tanpa sadar ia mengeratkan pegangan kedua tangannya pada bungkusan belanjaannya. Payung yang ia bicarakan barusan kini sudah ada di tangan Subaru Okiya.
"Ya, kelihatannya begitu," Subaru tidak mengalihkan pandangannya dari Shiho. "Kau mengingatkanku pada seseorang."
Pernyataan itu membuat Shiho menghentikan langkahnya dan menoleh untuk memandang pria berambut cokelat itu. Shiho terdiam, matanya nanar memandang pria yang lebih tinggi dari Shinichi itu.
"Dulu ada seorang anak perempuan yang juga pernah tinggal bersama Profesor Agasa…"
Shiho mengatupkan bibirnya rapat-rapat…
"Kau mirip sekali dengannya—,"
…jantungnya berdetak cepat…
"—Haibara Ai…"
DEG!
Mereka berdua diam. Tidak satu pun bergerak setelah nama itu disebut. Walaupun nama itu tidak merujuk pada dirinya yang sekarang, tapi dia merasa seolah pria itu memanggilnya. Seolah pria itu tahu yang sebenarnya…
"Tapi, aku sudah tidak melihatnya sejak gadis kecil itu kembali ke Amerika bersama orangtuanya…aku harap dia baik-baik saja disana," Subaru Okiya melemparkan senyuman seolah itu pembicaraan yang wajar terjadi dengan orang yangbaru saja dikenalnya. "Kita pulang?"
Seolah terhipnotis, Shiho kembali menganggukkan kepalanya pelan. Ia kembali berjalan beriringan dengan tetangganya itu, pria misterius yang selalu membuatnya merasakan aura yang sama dengan yang dimiliki oleh anggota organisasi hitam. Tetapi, beberapa saat setelah ia menyadari aura tidak nyaman itu, perasaan itu hilang begitu saja. Setiap kali ia menyampaikan kekhawatirannya pada Shinichi, Shinichi hanya akan tertawa dan mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja dan tidak ada hal yang perlu ia khawatirkan.
Pria ini terlalu mencurigakan, bisiknya dalam hati. Muncul begitu saja, tinggal di rumah seorang Kudo Shinichi karena suatu insiden dan terus berada di sana hingga saat ini. Bahkan si empunya rumah pun tidak merasa curiga sama sekali. Mungkinkah sebenarnya pria ini adalah orang yang mereka kenal…?
Tetapi di antara semua hal yang membingungkan tentang pria tampan itu, ada satu hal yang paling tidak ia mengerti—
—ia bahkan tidak terganggu untuk menutupi wajahnya dari pandangan pria ini—!
BUK!
"Miyano-san!"
Shiho meringis dan menemukan dirinya terjatuh. Isi kantung belanjaannya tercecer dan Subaru Okiya sudah berlutut di sampingnya dengan wajah agak khawatir. Ia baru saja akan berbelok di persimpangan jalan saat sesuatu menabraknya dengan sangat keras—
ah—seseorang lebih tepatnya…
…seorang wanita berambut cokelat panjang…
"Kau baik-baik saja, Miyano-san?" tanya Subaru yang dijawab Shiho dengan sebuah anggukan.
"I—I am sorry," suara itu membuat Shiho dan Subaru mengalihkan perhatiaannya pada wanita bermantel abu gelap panjang yang juga ikut terjatuh di hadapannya. Tangan putih pucat wanita itu mulai mengambili barang belanjaan Shiho yang ikut terjatuh dan memasukkannya ke plastik belanja yang terjatuh di dekatnya.
"I was so careless and running too fast. I am so sorry," wanita itu meminta maaf dengan logat British yang sangat kental. Shiho mengedipkan matanya. Sudah lama sekali dia tidak mendengar logat seperti itu, sepertinya dia terlalu lama tinggal di Amerika.
"It's okay," Shiho mendekati wanita itu dan membantunya mengembalikan barang belanjaan ke dalam plastik miliknya. "I am sorry not to pay atten—!"
Shiho terhenti saat tangannya tanpa sengaja menyentuh tangan wanita di hadapannya yang begitu dingin. Ya, tangan wanita itu begitu dingin seolah ia sudah berdiri di bawah salju selama berjam-jam. Tangan putihnya terlihat pucat karena dingin, dan yang lebih mengejutkannya adalah wanita itu tidak mengenakan sarung tangan sama sekali.
Tanpa sadar, Shiho meraih kedua tangan wanita yang mulai kebiruan itu.
"Are you okay? Your hands are so cold," Shiho menggenggam tangan itu erat tanpa sadar. Ada perasaan aneh saat ia memegang kedua tangan yang bisa dibilang kurus itu. Ia lalu melepaskan kedua sarung tangannya.
"Here, you can use my gloves," ujar Shiho sambil memasangkan sarung tangannya pada kedua tangan wanita itu.
"But—," wanita itu berusaha menolak. Shiho menggelengkan kepalanya.
"No, don't worry. I'll be alright," Shiho memasukkan barang terakhir yang tercecer ke dalam plastik belanjaannya, sebungkus kentang yang ia beli untuk makan malam hari ini.
"Thank you very much!"
Shiho tersentak mendengar suara itu. Tangannya yang sudah tidak bersarung tangan melepaskan bungkusan itu kembali ke tanah.
Suara itu…bagaimana mungkin…
"You are so kind…"
…bagaimana mungkin…kenapa ia baru sadar sekarang…
Shiho mengangkat kepalanya perlahan dan melihat wajah wanita yang ditabraknya itu untuk pertama kalinya dengan jelas.
Wajah di depannya tersenyum dengan begitu lembut. Kacamata yang bertengger di wajahnya, rambut cokelat panjang indah yang terjuntai menutupi kedua bahunya, kulit putih itu…terlebih—
"May I—,"
—suara yang pernah ia tahu itu…
"—know your name, Miss?"
Bibir Shiho bergetar, entah karena dingin atau karena tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Kau…"
.
.
To be Continued…
