DISCLAIMER: I do not own Detective Conan. All characters mentioned in this fiction belong to Gosho Aoyama.

.

Previously: Tiga minggu telah berlalu sejak Ran mengalami koma dan berada di rumah sakit. Shinichi dan Shiho telah kembali ke rumah profesor dan mereka berencana untuk bekerja sama dengan Vermouth yang telah tertangkap. Ran pun akhirnya siuman dari koma dan mulai pulih. Bagian sebelumnya berkisah tentang pertemuan kembali Shiho dan Subaru, serta pertemuan dengan seorang wanita asing.

.

Part 18 : Hell Invitation

Words : 3.228

Summary :

Shiho memeluk kedua kakinya. Dagunya bersandar pada lututnya. Bibirnya tersenyum pahit.

Mungkin saja…zombie itu benar-benar ada di dunia ini.

.

.

.

Part 18

Hell Invitation

.

.

"What is your name, Miss?" wanita cantik di depannya itu bertanya sekali lagi karena ia tak kunjung bergerak dari posisinya sekarang. Shiho mendengar jelas apa yang ditanyakan oleh wanita itu, tetapi bibirnya yang bergetar tak kunjung menjawabnya. Ia takut jika ia menyebutkan namanya, maka kekhawatirannya akan benar terbukti.

Melihat gadis berambut merah di depannya tidak menjawab pertanyaannya, wajah wanita asing itu berubah cemas. Kedua tangannya yang memakai sarung tangan meraih tangan Shiho dan menggenggamnya. "Are you alright, Miss? Did I hurt you?"

Shiho masih terdiam. Kini bukan hanya bibirnya saja yang bergetar, kedua tangannya yang digenggam oleh wanita rupawan itu pun ikut bergetar. Kedua mata hijau keabuannya masih menatap tidak percaya pada wajah di hadapannya. Rasanya ia ingin segera pergi dari tempat itu, tetapi di salah satu sudut hatinya ia ingin tahu jika tebakannya ini benar atau salah.

Saat ia tengah bergulat dengan pikirannya sendiri, sebuah tangan menepuk bahunya pelan, sedikit menyadarkannya. "Miyano-san? Kau yakin kau baik-baik saja?"

Shiho menoleh dan melihat Subaru Okiya berlutut di sampingnya. Dengan sedikit berusaha, Shiho menganggukkan kepalanya.

"Ya, aku baik-baik sa-,"

"Madame!"

Sebuah suara lantang mengagetkan mereka bertiga. Ketiga orang yang kini sama-sama tengah terduduk di aspal jalan berlapis salju itu mengangkat kepala mereka. Tepat di belakang wanita bermantel abu itu, berdiri seorang wanita lain yang terlihat lebih muda. Rambut sebahunya berwarna pirang pucat—nyaris putih—dan mantel serta celana panjang hitamnya membuat wajah serta rambutnya yang putih terlihat begitu mencolok. Wanita itu berdiri dengan napas sedikit tersengal. Terlihat jelas bahwa ia baru saja melakukan sesuatu yang menghabiskan cukup energi, misalnya—

"Madame, where did you go? I was looking for you all around!"

—mencari seseorang di tengah cuaca bersalju dan langit yang mulai gelap.

"Minerva!" wanita berambut cokelat yang dipanggil 'Madame' itu berseru.

"I've told you that you can't go anywhere you like! What should I do if you get lost?" wanita bernama Minerva itu belum berhenti menumpahkan rasa cemasnya.

"I—I am sorry," wanita berkacamata itu menundukkan kepalanya meminta maaf. Helai rambutnya menutupi sisi wajahnya saat ia menunduk. Shiho dan Subaru yang sudah cukup dikejutkan dengan kehadiran seorang wanita setengah baya berparas cantik itu hanya bisa terdiam melihat pertengkaran kecil di depan mereka. Tak lama kemudian wanita asing bernama Minerva itu menghela napasnya. Ia memiringkan sedikit kepalanya untuk melihat dua orang lain yang ada bersama 'Madame'nya.

"Ah, I am sorry. Did Madame hurt you anywhere?" tanya wanita itu dengan nada sopan, dengan logat British yang sama dengan sang Madame.

"No, she didn't. We are okay," Shiho yang masih belum tersadar penuh dari pikirannya menemukan Subaru menjawab untuk dirinya. Wanita berambut pirang itu tersenyum.

"Thanks God," wanita itu menghela napas lega untuk kedua kalinya. Ia lalu mengulurkan tangannya pada sang wanita bermantel abu. "Let's go Madame."

Mungkin tidak berani membuat rekannya memarahinya lebih jauh, wanita berambut cokelat itu mengangguk dan melepaskan genggamannya dari tangan Shiho. Ia lalu meraih tangan yang terulur kepadanya dengan ringisan rasa bersalah. Sebuah pandangan kesal menanti dirinya, membuatnya menundukkan kepala sekali lagi, meminta maaf. Wanita bernama Minerva itu menggelengkan kepalanya dan menghela napas pelan. Ia lalu mengalihkan perhatiannya pada gadis berambut cokelat yang masih terduduk di jalan di samping pria berkacamata yang tidak ia kenali. Matanya yang ditutupi kacamata hitam, menyipit perlahan.

"Sorry for disturbing you." Tanpa menunggu jawaban dari orang yang ia ajak bicara, Minerva menarik tangan sang Madame untuk segera meninggalkan tempat itu. Sang Madame yang terlihat masih ingin menyampaikan sesuatu, tergopoh-gopoh mengikuti langkah rekannya yang cukup lebar dan cepat. Ia terus menolehkan kepalanya ke belakang, memandangi punggung kedua orang yang baru saja ia temui yang masih belum beranjak dari posisi mereka. Menelan keraguannya dalam-dalam, wanita berambut panjang itu akhirnya mengeluarkan suara.

"Young Mistress!" suara wanita yang terdengar sedikit berat itu membuat Subaru dan Shiho menoleh.

"See you soon!"

Ucapan itu meninggalkan perasaan aneh di dada Shiho. Ucapan yang menandakan seolah mereka pasti akan bertemu lagi, entah kapan dan dimana…entah direncanakan atau tidak. Bahkan ia tidak mengerti jika pertemuan aneh yang sangat mengganggu perasaannya ini adalah benar atau hanya kebetulan. Ia pun tidak tahu jika ia benar-benar ingin bertemu dengan wanita itu untuk kedua kalinya atau tidak.

Baru beberapa waktu setelah saat itu, Shiho menyesali…

"Miyano-san?"

…ya, seandainya saja ia tidak bertemu dengan wanita itu untuk kedua kalinya.

.

.

Suara tetesan air yang cukup deras terdengar dari balik tirai yang menutupi ruang shower itu. Uap panas samar terlihat mengelilingi tubuh yang terbasuh basah di baliknya. Rambut pirang selehernya dibiarkan basah dengan ujung-ujung yang terkulai menutupi sedikit bagian pundaknya. Wanita itu memejamkan matanya, membiarkan air hangat mengaliri tubuh dewasanya. Sedikit banyak ia merasa menikmati aktivitas yang ia nantikan setelah seharian menghadap layar komputer yang membuat matanya perih.

"Ditutupi pun tidak ada gunanya, Jodie-sensei. Cepat atau lambat dia akan menyadarinya…"

Alis pirangnya mengerenyit pelan mengingat ucapan itu.

"…Dan jika kita bisa memanfaatkan kebenaran ini dengan baik, bukannya tidak mungkin Vermouth akan berbalik membantu kita."

Agen FBI itu membuka matanya perlahan dan menundukkan kepalanya. Butiran air jatuh dari ujung hidungnya yang mancung, khas ras kaukasian. Bibirnya yang tidak sedang diolesi lipstik merah yang biasa ia pakai, sedikit terbuka. Sebuah desisan keluar dari dalamnya, seolah dia merasakan kemarahan yang belum kunjung ia selesaikan.

"Cih…"

Ia memutar keran shower di hadapannya hingga aliran air hangat berhenti membasuh badannya. Wanita itu membuka tirai yang hanya memberi ruang kecil untuknya membersihkan tubuh, mengambil baju handuk yang tergantung tidak jauh dan mengenakannya cepat. Ia bahkan tidak menghiraukan tetesan air dari rambut dan tubuhnya yang membasahi jalan yang ia lewati untuk menuju ke kamarnya. Ia hanya ingin segera mengambil ponselnya dan menelepon seseorang yang ia rasa bisa membantunya menghilangkan pikiran bodohnya yang entah kenapa selalu ia anggap masuk akal.

Saat tangan kanannya meraih ponsel miliknya, ia segera menekan tombol nomor 2, sebuah speed dial yang ia siapkan untuk seseorang yang selalu ia andalkan sejak dua puluh tahun silam. Nada tunggu sambung dari baliknya membuatnya tidak sabaran dan sedikit membanting tubuhnya hingga terduduk di atas tempat tidur ukuran queen miliknya. Saat nada sambung itu berhenti dan sebuah suara seseorang terdengar, ia menghela napas.

"Bos, boleh aku meminta sesuatu?"

Pembicaraan mereka berlangsung tidak lama. Setelah diakhiri dengan ucapan 'Aku mengerti', agen Jodie Starling pun menutup teleponnya.

Seolah sebuah beban besar terangkat dari pundaknya, Jodie menghela napas panjang sambil melemparkan tubuhnya ke belakang. Kedua tangannya terlentang di sisi tubuhnya, rambutnya yang basah tergerai dan mulai membasahi seprai miliknya. Tapi, ia terlalu lelah untuk mempedulikan bahwa tempat tidurnya akan basah karena tingkahnya malam itu. Seandainya boleh, rasanya ia ingin memejamkan mata dan segera tertidur saat itu juga walau masih berbalut baju handuknya. Walaupun, harus masuk angin keesokan paginya, dia hanya ingin segera tidur…dan melupakan banyak hal walau hanya sesaat, termasuk…

Jodie mengangkat sebelah tangannya yang masih menggenggam ponsel. Kepalanya yang masih berbaring menghadap langit-langit, kedua matanya melihat layar ponsel miliknya. Ia lalu menekan tombol 1 perlahan dan menekan tombol 'Call'. Sebuah nada sambung yang sama terdengar namun segera terputus oleh suara wanita—operator.

Wanita amerika itu membiarkan sang operator menyelesaikan kalimatnya sebelum ia memutuskan panggilannya. Ia seolah tengah menunggu seandainya ada suara yang tiba-tiba memutus penjelasan tidak penting milik si operator. Suara yang sudah lama ingin ia dengar sejak kemarin, kemarin lusa, minggu lalu—

"Kau benar-benar sudah tidak ada, ya…"

—sejak orang itu menghilang dari hadapannya begitu saja…

"Shuu—?"

.

.

Shinichi berjalan melewati pagar dan berhenti di depan pintu rumah Profesor Agasa. Ia menutup payungnya dan mulai menekan bel, memanggil nama-nama orang yang ia tahu menempati rumah itu. Udara saat itu sangat dingin, musim dingin benar-benar akan segera mendekati puncaknya. Shinichi mengitarkan pandangan ke sekelilingnya, sambil menunggu seseorang membukakan pintu untuknya. Salju-salju mulai menumpuk di pekarangan rumah profesor. Mobil VW kodok kuning punya profesor pun mulai tertutup salju. Kaca depannya bahkan sudah benar-benar tertutup, membuat Shinichi tidak bisa melihat apa pun di dalamnya.

Shinichi menghela napas, dan melihat uap napasnya sendiri. Benar-benar dingin. Ia berharap profesor atau Shiho akan membiarkannya makan malam di sana, karena beberapa hari yang lalu ia harus mengucapkan selamat tinggal pada masakan ibunya yang sudah kembali ke Amerika. Entah sejak kapan ia jadi menggantungkan diri pada tetangganya itu, padahal biasanya ia baik-baik saja hidup sendiri selama ini di rumahnya…
Shinichi melirik rumah besar di samping rumah profesor. Ia pun menghela napas. Tidak untuk mengatakan bahwa di sana masih ada seseorang yang tinggal juga karena izinnya sendiri. Walaupun sekarang Shinichi tinggal di sebuah rumah lain yang ditempati ibunya sewaktu muda, tetapi mengingat dia sangat sering ke rumah profesor, entah kenapa semuanya terasa menjadi sedikit tidak praktis.

Dia tidak bisa mengusir mahasiswa program doktoral Universitas Toto itu begitu saja bukan?

Tak lama, profesor Agasa datang membukakan pintu untuknya. Sebuah senyuman lebar milik profesor menyambutnya, tidak lupa dengan pertanyaan 'Sudah makan malam?' yang sangat ia nantikan keluar dari mulut profesor. Entah sejak kapan di telinga Shinichi pertanyaan itu terdengar seperti 'Apakah kau mau makan malam bersama kami?'

"Shiho dimana?" tanya Shinichi saat tidak melihat Shiho di ruangan yang sama dengannya. Kini di hadapannya sudah ada sepiring nasi kare yang ia kenali sebagai buatan Shiho karena warnanya yang sedikit merah. Shinichi ingat bahwa Shiho sangat suka menambahkan banyak tomat ke dalam kare buatannya. Lalu, entah hanya perasaannya saja atau bukan, rasanya…kentangnya terlalu banyak?

"Dia langsung masuk ke kamarnya begitu selesai memasak makan malam," jawab profesor Agasa lalu meminum jus tomat yang juga dibuatkan Shiho untuknya. Semenjak insiden penyamaran Vermouth sebagai dokter Araide berakhir beberapa bulan yang lalu, Shiho melarangnya membeli jus tomat kalengan dan sebagai gantinya akan menyempatkan diri membuatkannya sendiri untuk profesor. Tangan profesor sibuk mengklik mouse PC nya, ilmuwan tua itu kembali tenggelam dalam aktivitas browsingnya.

"Oh ya? Lalu, dia sudah makan malam?" tanya Shinichi lagi dengan sesuap kare di dalam mulutnya.

"Mungkin. Dia membawa makan malamnya ke kamar," jawab Profesor sambil melirik ke arah lantai dua.

"Hmmm," Shinichi menganggukkan kepalanya dan melanjutkan makan malamnya yang terasa sangat nikmat di hari yang dingin itu. Ia memasukkan suapan ketiganya saat merasakan ada hal aneh lain di dalam kare itu. Sesuatu yang…melumer. Keju?

"Shinichi-kun," panggil profesor menghentikan kegiatan browsingnya. Ia memutar tubuhnya yang duduk di kursi putar agar menghadap Shinichi. Shinichi mengangkat kepalanya.

"Apa…ada yang aneh dengan Shiho-kun hari ini saat di rumah sakit?" tanya profesor dengan nada cemas. Masih dengan mulut yang penuh, Shinichi menggelengkan kepalanya. Mau tidak mau, dia jadi ikut merasa cemas juga.

Shinichi mengambil segelas air dari atas meja dan meminumnya beberapa teguk.

"Ada apa? Memangnya ada apa dengan Shiho hari ini?"

Profesor diam sesaat. Ia berdiri dan berjalan mendekati meja makan tempat Shinichi berada.

"Tadi dia pulang diantar oleh Subaru-kun," ucap profesor singkat. Shinichi mengangkat sebelah alisnya.

"Oh ya? Bukankah dia paling tidak bisa akrab dengan orang itu?"

Profesor mengangguk pelan. Shinichi bersiap menyendok makan malamnya kembali. "Kare ini bahkan terasa lebih aneh bagiku."

"Bukan itu saja yang aneh," lanjut profesor. Suaranya yang terdengar lebih serius membuat Shinichi menghentikan niat untuk melanjutkan malamnya. "Shiho-kun menanyakan tentang—,"

Shinichi meletakkan sendoknya.

"Eh?"

.

.

Shiho membenamkan kepalanya dalam bantal dan memejamkan matanya rapat-rapat. Ia menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, terus merasa gelisah tentang apa yang ia temui hari ini…juga gelisah tentang apa yang mungkin saja terjadi.

Tidak ada yang pasti. Ia tahu itu sejak ia memutuskan untuk menghentikan penelitiannya dan kabur dari organisasi, walaupun kabur bukanlah rencananya sejak awal. Racun itu…APTX 4869 pun adalah suatu ketidakpastian yang dikembangkan oleh kedua orangtuanya dan ia lanjutkan dengan sangat sadar. Bila ia bisa kabur, bila ia bisa bertemu dengan Kudo Shinichi, bila ia bisa berlindung kepadanya…semuanya adalah hal yang tidak pasti…

…bahkan hingga saat ini, kematian orang yang ia tahu pun menjadi tidak pasti.

Mungkin saja sebenarnya Gin masih hidup. Mungkin saja kakaknya masih hidup, dan mungkin saja…

Shiho menegakkan tubuhnya dan duduk di atas tempat tidurnya. Tangan kanannya menyusuri poninya dari depan dan berakhir menggenggam helaian rambut itu erat-erat.

Semua kepastian dan 'mungkin saja' ini membuat kepalanya sakit.

Mantan ilmuwan organisasi itu menghela napas berat. Ia tidak tahu siapa dan apa lagi yang dapat ia percayai setelah ini. Dia pun telah memutuskan untuk tidak mempercayai dirinya sendiri sejak lama karena ia sadar mempercayai dirinya sendiri hanya membuatnya akan mencoba menghilangkan nyawanya sendiri untuk kesekian kalinya. Kreasi ilmunya sendiri pun sudah lama mengkhianatinya, baik dengan menjadi alat pembunuh yang reaksinya tidak terdeteksi dalam darah bahkan menghalangi usahanya untuk menyusul kakaknya. Ia tidak mengerti apa yang salah dengan keputusannya melanjutkan penelitian kedua orangtuanya. Tidak…sejak awal itu pun bukanlah hal yang menjadi keputusannya sendiri. Sejak kapan ia memutuskan sesuatu untuk kehidupannya sendiri? Selama ini dia hanyalah boneka bodoh yang diperalat organisasi…secara sadar, untuk menciptakan sesuatu yang dapat menentang kehendak Tuhan.

Shiho memeluk kedua kakinya. Dagunya bersandar pada lututnya. Bibirnya tersenyum pahit.

Mungkin saja…zombie itu benar-benar ada di dunia ini.

"Melamun, heh?" sebuah suara menyadarkannya dari pikiran-pikirannya yang rumit. Shiho mengangkat kepalanya dan menemukan Shinichi berdiri di sisi tempat tidurnya. Shinichi lalu mengambil tempat duduk di tempat tidur yang sama, tidak jauh darinya.

"Ada apa?" tanya Shinichi dengan wajah yang terlihat…datar?

"Eh?" Shiho terkesiap mendengar pertanyaan itu. Sepertinya dia masih belum kembali ke alam sadar.

"Ada masalah?" Shinichi bertanya untuk kedua kalinya yang hanya dijawab oleh kedipan mata bingung dari Shiho. Menyerah, Shinichi menghela napas.

"Kau ini…" mata Shinichi menangkap piring yang sudah kosong di bufet samping tempat tidur Shiho. "Kau sudah makan?"

Shiho melirik piringnya yang sudah kosong. "Ya. Kalau kau mau, ambil saja. Di dapur masih banyak sisa."

"Profesor sudah menyiapkan satu porsi untukku tadi. Jika boleh berkomentar, masakanmu aneh…"

"Sejak awal aku tidak memasak untukmu," ucap Shiho ketus.

"Tapi, enak," Shinichi tersenyum lembut. Shiho terdiam mendengar pertanyaan itu. Percakapan sederhana yang bisa terjadi kapan saja ini membuatnya merasa…senang.

"Aku tidak tahu kalau kare bisa seenak itu jika dicampur keju. Yaah, walaupun kentangnya kurasa kebanyakan," Shinichi tertawa kecil. "Tapi, kare dengan rasa tomat khas buatanmu itu…aku suka."

Mendengar itu, entah sejak kapan Shiho merasa pipinya sedikit panas. Ia lantas menundukkan kepalanya agar warna yang hampir sama dengan warna tomat yang mulai menjalar di pipinya tidak terlihat oleh tuan detektif yang pandai bicara itu.

"Aku hanya ingin mencoba hal baru. Itu saja…" ucap Shiho dengan suara pelan.

Beberapa saat kemudian, mereka hanya diam. Tidak ada lagi pembicaraan tentang masakan kreasi baru dengan rasa aneh atau bahan tertentu yang dimasukkan terlalu banyak. Hanya ada suara bel angin dari beranda kamar Shiho yang pintunya belum ditutup. Hawa dingin masuk ke kamar itu, menemani kesunyian yang ada di antara mereka.

"Kudo-kun…" panggil Shiho sembari mengangkat kepalanya yang tertunduk. "Waktu itu, ada sesuatu yang ingin kau katakan kepadaku kan?"

Eh?

Shinichi tahu persis apa yang ditanyakan oleh Shiho, tetapi entah kenapa…rasanya itu bukan saat yang tepat untuk mengatakan semuanya.

"Sebelum kita berangkat ke rumah sakit…di hari yang sama saat Mouri-san sadar dari koma," jelas Shiho, berharap agar Shinichi mengingat apa yang dia maksud. Shiho meluruskan kedua kakinya, badannya sedikit condong ke arah detektif SMA itu.

Shinichi menelan ludah. Ia tahu betul, saat itu semuanya hampir keluar dari lidahnya. Tetapi karena kondisi Ran yang tiba-tiba memburuk, ia pun membatalkan niatnya. Ia selalu mengingatkan dirinya bahwa ia belum mengatakannya pada Shiho sejak hari itu. Apalagi belakangan ini ia jadi sedikit melupakannya karena kegiatannya menjaga Ran di rumah sakit. Shiho pun tidak terlihat mengingat hal tersebut, karena Shiho selalu ada saat Shinichi ada di rumah sakit. Ia tidak menyangka bahwa Shiho akan menanyakannya dengan sangat tiba-tiba. Terlebih di saat wanita itu sendiri terlihat sedang memiliki masalah.

"Jadi…" suara Shiho menyadarkan Shinichi dari pikiran bimbangnya. "…Apa sebenarnya yang waktu itu ingin kau sampaikan padaku, Kudo-kun?"

"I-itu…" Shinichi ragu. Mata Shinichi melirik kanan kiri, bingung dengan apa yang harus ia lakukan. Sementara Shiho seolah mengintimidasinya, menatap wajahnya lekat-lekat, walau sebenarnya dia tidak bermaksud persis seperti itu.

"Itu?"

"Ci-ciuman!" seru Shinichi membuat Shiho memundurkan tubuhnya.

"Ciuman?" ulang Shiho bingung. Shinichi mengatur napas sebelum melanjutkan perkataannya.

"Ciuman waktu itu…aku—," Shinichi menatap wajah Shiho ragu, takut seandainya ia salah bicara. "—minta maaf…"

Shiho tertegun mendengar jawaban Shinichi. Sedikit banyak ia bisa menangkap maksud Shinichi, walau sebenarnya ia tidak tahu apa yang sebenarnya dirasakan oleh pemuda itu. Ia lalu memejamkan matanya dan tersenyum.

"Kau tidak perlu meminta maaf. Saat itu…mungkin, pikiranku lah yang sedang tidak jernih," Shiho memperhatikan ayunan bel angin yang ada di berandanya. "Maaf aku membuatmu terjebak dalam situasi yang sulit."

Shinichi diam saja, ia tidak tahu apa yang harus ia jawab atas perkataan itu sementara dia pun masih ragu apakah keputusannya untuk meminta maaf adalah benar…

Melihat Shinichi yang tidak berkomentar apa pun, Shiho tertawa pelan. Shinichi menaikkan alisnya, tidak mengerti dengan maksud tawa wanita yang sedikit lebih tua darinya itu.

"Benar hanya itu yang ingin kau katakan?" Shiho tersenyum penuh makna. Entah kenapa ia merasa bukan hal itu yang sebenarnya ingin dikatakan oleh Shinichi. Ia membayangkan—atau mungkin mengharapkan—hal yang lebih buruk…?

Menemukan Shiho yang tersenyum dengan tidak biasa, Shinichi paham bahwa ia tidak bisa menyembunyikan hal-hal tertentu darinya. Dia tidak tahu sejak kapan wanita itu dapat membacanya seperti ini, seperti kain yang transparan atau lembar buku yang terbuka. Yang ia tahu, wanita itu adalah seorang ilmuwan, bukan seorang psikolog.

Ia menghela napas, menyerah untuk kedua kalinya di malam itu.

"Baiklah, memang ada hal lain yang ingin kukatakan hari itu," jawab Shinichi sambil tersenyum. Shiho menggenggam seprai di bawahnya erat, bersiap seandainya itu adalah hal terburuk yang pernah didengarnya dari Shinichi.

"Tapi, aku…"

Kudo-kun…?

"…tidak berniat memberitahukannya kepadamu sekarang."

Mulut Shiho sedikit terbuka. "Eh? Kenapa?"

"Kau juga ada masalah yang tidak kau sampaikan kepadaku kan?" Shinichi berdiri dan mengambil piring kosong dari bufet tempat tidur Shiho. "Aku akan memberitahukannya kepadamu setelah kau menceritakan masalahmu kepadaku."

Shinichi berjalan mendekati pintu kamar Shiho dan memutar kenop pintunya. "Jangan terlalu dipikirkan. Aku tidak akan memaksamu menceritakan masalahmu kepadaku. Aku hanya ingin tahu jika ada hal yang bisa kubantu. Kita ini…partner 'kan?"

Shiho mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Seandainya…seandainya saja dia bisa menceritakan kegelisahannya pada Shinichi. Tetapi, ada sesuatu yang menahannya. Sesuatu yang membuatnya tidak ingin melibatkan Shinichi lebih jauh dari ini walaupun ia tahu mereka berdua sama-sama telah jatuh terlalu dalam.

"Jika kau sudah merasa lebih baik, kau bisa menceritakannya padaku. Lagipula…" Shinichi melemparkan senyuman yang begitu lembut pada Shiho. "…Aku memang berniat mengatakannya padamu setelah semua ini berakhir. Walaupun sekarang, semua ini seolah membuatku berpikir akan pilihan 'sekarang atau tidak selamanya'. Tetapi aku yakin aku akan menemukan waktu yang tepat untuk mengatakannya padamu dengan tenang."

Angin malam bertiup sejenak, menghembuskan rambut merah Shiho yang tampak sedikit lebih panjang. Sekarang atau tidak selamanya…

"Nah, jika kau mengizinkanku pulang," Shinichi menarik pintu itu dan bersiap menutupnya. "Selamat tidur, Shiho…"

Cklek.

Pintu itu tertutup dan suara langkah Shinichi yang menuruni tangga terdengar samar di telinga Shiho. Shiho masih memandang daun pintu itu lekat-lekat, seolah pemuda itu masih berdiri di sana. Namun, kenyataan bahwa ia tidak bisa menceritakannya pada Shinichi masih ada di sana, tidak dapat ditutupi oleh apa pun.

Mungkin saja…ya, mungkin saja jauh di dalam hatinya ia kini tidak mampu mempercayai siapa pun.

Kudo Shinichi sekali pun.

Perlahan, sebelah tangan Shiho meraih sesuatu dari balik bantalnya. Ponsel. Ia membuka flip phone miliknya dan membuka email yang sedari tadi ia lihat berulang kali hingga rasanya ia ingin menghapusnya atau bahkan membanting ponselnya agar ia tidak perlu melihatnya lagi.

Sebuah pesan yang ia sesali telah ia baca. Sebuah undangan yang ia sesali akan dia penuhi…

Dear Young Mistress,

…undangan ke neraka—

I want to return your gloves. Let's meet up again next week in the Haido Park.

-Madame in Grey Suit-

—neraka yang lebih gelap dan kejam dibandingkan yang pernah ia datangi sebelumnya. Neraka yang akan memaksanya untuk memilih antara orang yang ia cintai dan orang yang ia cintai.

.

.

To be Continued

.

.

Author's Note s : Menyisipkan sedikit author notes sebelum pembaca membaca chapter ini. Sebelumnya mohon maaf karena saya sudah 'menelantarkan' kisah ini setahun lebih. Really busy and can't prioritize fanfictions among my activities. But, suddenly I just realized of something and then I think that I can't leave this fandom. Saya tidak akan menuliskan banyak hal tentang ini. Hanya saja satu komentar saya. WE NEED MORE CANON FICS IN THIS DC INDONESIA FANDOM. Mungkin fic ini akan menjadi bentuk kampanye saya (sebuah usulan dari sahabat baik yang juga adalah penulis fic yang memiliki nama di fandom Bleach dan Naruto Indonesia) agar teman-teman penulis dapat melihat bahwa membuat Canon Fic dan membuat chara tetap IC tidaklah sulit :) Menjadi silent reader setahun belakangan ini membuat saya sedikit gatal dengan perkembangan karakter yang dikatakan IC, namun sebenarnya tidak mengarah ke situ—terutama untuk tokoh yang saya gemari bahkan sejak saya duduk di bangku SD. Mungkin bukan hal yang pantas dikatakan oleh seorang penulis yang meninggalkan fic nya selama satu tahun, tapi saya hanya ingin menebar 'kebaikan' dengan menulis. Kurang lebih…seperti itu.

Untuk teman-teman yang sudah meninggalkan review, terima kasih banyak. Saya menemukan banyak sekali review yang menginginkan ending dengan pairing ShinShi. Saya juga adalah penulis yang menyukai pairing tertentu, itu sangat manusiawi. Tetapi, fic ini bukan sekadar kisah yang mengarah ke pairing tertentu. Fic ini utuh, dengan semua karakter dan plot yang ada di dalamnya, ingin saya bangun ke sebuah resolusi secara alami. Pairing bisa saya katakan akan menjadi sebuah akibat, bukan sebab. Saya akan senang jika pembaca bisa memahami maksud saya satu ini. Walaupun saya tidak berniat mengkhianati pembaca karena saya tidak bisa mengingkari bahwa fic ini adalah mimpi masa kecil saya yang ingin saya kabulkan dengan tulisan saya sendiri :)