DISCLAIMER: I do not own Detective Conan. All characters mentioned in this fiction belong to Gosho Aoyama.

.

Previously: Tiga minggu telah berlalu sejak Ran mengalami koma dan berada di rumah sakit. Shinichi dan Shiho telah kembali ke rumah profesor dan mereka berencana untuk bekerja sama dengan Vermouth yang telah tertangkap. Ran pun akhirnya siuman dari koma dan mulai pulih. Bagian sebelumnya berkisah tentang pertemuan kembali Shiho dan Subaru, serta pertemuan dengan seorang wanita asing yang mengajak Shiho bertemu dengannya.

.

Part 19 : Eileen

Words : 2945

Summary :

"Alright, I am the same woman as the woman in that photograph. So what? Do you want my autograph, probably?"

Shiho menutup flip phonenya dan memasukkan ke dalam saku mantelnya. "I am more interested in who you are, rather than your autograph. I am afraid that you have a similar face with someone I knew ... "

Senyum wanita itu semakin melebar. "Like who?"

.

.

.

Part 19

Eileen

.

.

Pagi itu Shiho kembali mengurung dirinya di kamar. Ia sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya untuk menyiapkan makan pagi dan sarapan bersama profesor. Profesor yang mengetuk kamarnya di pagi itu hanya mendapat jawaban 'aku tidak lapar' dari gadis yang sudah dianggapnya anak itu. Merasa bahwa gadis itu benar-benar sedang tidak ingin diganggu, Profesor menggendikkan bahunya dan pergi ke ruang penelitiannya. Ada hal baru yang menarik baginya belakangan ini.

Shiho yang menolak mentah-mentah ajakan sarapan Profesor kini tengah menghadap laptop miliknya. Ia menekan-nekan tuts keyboard dengan cepat dan berkutat dengan mesin pencari di internet. Entah sudah berapa kata kunci yang ia masukkan, namun ia tak kunjung menemukan apa yang dicarinya. Ia mengklik mousenya berkali-kali dengan geram saat perangkat lunak internetnya melambat karena terlalu banyaknya halaman yang dibuka. Saat perangkat lunak itu tertutup begitu saja karena tidak kuat, ia membanting mousenya dengan kesal. Desisan terdengar dari balik biliknya.

"Sial!"

Shiho memegangi kepalanya dengan kedua tangannya frustasi. Ia memejamkan matanya rapat-rapat, mulai merasakan kantuk yang menyerangnya. Ya, gadis itu sama sekali tidak tidur semalaman karena berkutat dengan laptopnya. Ada sesuatu yang harus ia cari dan ia tidak punya banyak waktu. Ia harus menemukannya sebelum senja hari ini.

Gadis itu lalu menghela napas berat. Dia tidak berniat tidur. Tetapi, dia membutuhkan sesuatu untuk membuat dirinya tetap terjaga untuk melanjutkan pencariannya. Sarapan dan kopi. Seharusnya ia membukakan pintu untuk Profesor tadi.

Shiho menutup lid laptopnya dengan sedikit kasar. Tidak biasanya ia tidak bisa mengendalikan dirinya seperti ini. Ia menggeram dalam kepalanya. Bagaimana ia bisa tenang jika seseorang yang baru saja kau temui mengetahui alamat emailmu dan mengirimimu pesan untuk bertemu sore ini? Tidak untuk menambahkan, orang itu cukup mencurigakan dengan perawakan dan pembawaan yang menurut dirinya sangat mengingatkannya akan seseorang. Seorang Miyano Shiho sudah sepantasnya penasaran dan curiga.

Shiho menuruni tangga dengan cepat dan menuju ruang makan. Ia berharap akan ada satu potong sandwich saja tersisa untuknya. Namun, setiba di meja makan ia sedikit memelototkan matanya. Hanya ada sebuah piring dengan remah roti di atasnya. Shiho mengangkat piring itu dan mengamatinya seksama.

"Profesor! Jangan bilang kau hanya makan remah roti pagi ini?" teriak Shiho pada Profesor yang ia tahu pasti sedang berada di ruang bawah tanah.

"Tentu saja tidak. Aku menghabiskan sandwich yang kubuat karena kau bilang kau tidak lapar, Shiho-kun. Apa kau sudah lapar sekarang?" balas Profesor dengan suara yang sama kencangnya.

Shiho menghela napas. Oh, baiklah. Bukan salah Profesor jika ia menghabiskan sandwichnya.

"Kuharap masih ada bahan sandwich yang tersisa," keluh Shiho sambil berjalan menuju dapur.

.

Shiho berjalan menuju ruang bawah tanah dengan segelas kopi di tangannya. Untunglah masih ada selada, tomat, dan daging yang tersisa di kulkas untuknya membuat sepotong sandwich. Paling tidak sepotong sandwich itu cukup untuknya sampai siang nanti.

Shiho berhenti di depan pintu ruang bawah tanah dan memutar kenop pintunya cepat, menampakkan Profesor yang tengah mengenakan safety glasses nya sambil menggunakan peralatan las. Shiho menatap Profesor bosan. Entah apa lagi yang dibuat oleh profesor tua itu.

"Hei, Shiho-kun! Kau sudah sarapan?" tanya Profesor menghentikan kegiatannya saat menyadari kehadiran Shiho.

"Ya, masih ada bahan sandwich yang tersisa untukku," jawab Shiho dengan nada sedikit menyindir. Menyadari nada sindiran Shiho, Profesor menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Ah, maafkan aku. Kukira kau benar-benar tidak ingin makan."

"Tidak masalah, Profesor. Sejujurnya, aku tidak benar-benar lapar. Hanya butuh sesuatu untuk membuatku terjaga." Shiho berjalan menuju komputer milik Profesor sambil menyesap kopi miliknya. Ia lalu duduk di kursi putar Profesor dan meletakkan cangkir kopinya di samping komputer itu. Shiho menyipitkan mata melihat halaman yang dibuka oleh Profesor.

"Apa ini?" tanya Shiho sambil meng-scroll halaman yang dilihatnya. "Gosip dunia hiburan? Aku tidak tahu kau menyukai hal-hal seperti ini, Profesor."

Profesor tertawa gugup mendengar pernyataan Shiho. Ia berjalan mendekati Shiho dan berusaha menjelaskan. "Aaa, bahkan pria tua pun juga butuh hiburan, Shiho-kun."

"Oh, tapi kukira bukan hiburan semacam ini?" Sebuah senyum mengejek terukir di bibir tipis Shiho.

"Kadang kita ingin tahu bagaimana kabar idola yang kita sukai, bukan?" Profesor masih berusaha menunjukkan bahwa apa yang dilakukannya itu bisa dikatakan cukup normal.

"Hoo," gumam Shiho pura-pura mengerti. Ia lalu mengklik beberapa halaman yang dibuka Profesor dan membaca judulnya singkat, tidak tertarik. Profesor yang berdiri di belakangnya, memperhatikan halaman-halaman yang dibuka Shiho dengan senyuman yang sedikit dipaksakan. Sepertinya masih ada yang ingin dikatakannya.

"Aa, anu, Shiho-kun," panggil Profesor dengan suara yang masih terdengar gugup. "Bisakah kau tidak mengatakan ini kepada Shinichi? Kalau dia tahu, dia bisa mengejekku setiap kali bertemu dengannya."

Shiho terkekeh pelan. Ia tidak menyangka Profesor akan mengkhawatirkan hal itu. "Ah, ya. Tentu saja. Aku bukan gadis yang suka mengumbar rahasia orang."

Mendengar jawaban Shiho itu, Profesor menghela napas lega dan mengucapkan terima kasih. Shiho hanya menggendikkan bahu, sambil menatap halaman-halaman yang dibuka Profesor dengan bosan ... sampai ia melihat sebuah newsfeed di pojok salah satu halaman.

Dengan cepat, Shiho mengarahkan mousenya ke foto yang dilihatnya dan mengklik foto itu. Ia menegakkan punggungnya dan mendekatkan kepalanya ke arah layar komputer itu. Sebuah halaman terbuka tidak berapa lama kemudian, menampilkan dua buah foto yang menunjukkan dua buah wajah yang dikenalinya. Matanya menatap foto itu dengan penuh teror.

"Ah, berita itu," seru Profesor sambil menunjuk foto di hadapan Shiho. "Itu berita beberapa minggu yang lalu. Sebenarnya berita tentang hilangnya Chris Vineyard sudah banyak beredar di internet sejak lama. Tetapi, ini pertama kalinya berita ini dikaitkan dengan berita lain."

Shiho menatap lekat-lekat halaman dengan judul berukuran besar dan tebal itu.

Dua selebriti senior, muncul dan menghilang!

"Profesor, kau kenal wanita ini?" tanya Shiho dengan suara sedikit bergetar.

"Chris? Ya, tentu saja. Kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya Profesor balik tidak mengerti.

"Bukan. Wanita di sampingnya. Wanita pirang berkacamata itu," jawab Shiho dengan perasaan yang tidak bisa dijelaskan.

Profesor memandang Shiho bingung. Ada apa dengan gadis ini? Kenapa dia begitu penasaran dengan seorang selebriti senior asing?

"Ah ya, aku tahu. Dia juga seorang selebriti seperti Chris. Dia aktris dari Inggris. Tetapi, dia sudah lama sekali tidak muncul di muka umum. Kabar yang beredar mengatakan bahwa dia menderita penyakit yang parah. Ada juga yang mengatakan bahwa dia terlibat dengan bisnis bawah tanah yang ilegal. Tetapi, tidak ada yang tahu kebenarannya. Lalu, belakangan ini dia muncul kembali. Semua orang dan penggemarnya heboh. Mungkin dia akan segera ditawari bermain film layar lebar lagi," jelas Profesor dengan semangat. Sepertinya Profesor juga salah satu penggemarnya. Tetapi, itu tidak membuat Shiho kehilangan rasa penasarannya.

"Bukan itu maksudku!" seru Shiho tidak puas. Profesor sedikit berjengit ke belakang mendengar bagaimana Shiho menanggapi jawabannya.

"A-apa maksudmu, Shiho-kun?"

"Profesor kenal dia 'kan?"

Kali ini Shiho memutar kursinya menghadap Profesor. Ia menatap mata Profesor menuntut jawaban yang ingin didengarnya.

"Shi-Shiho-kun ... ?"

.

.

Hari itu, tidak ada hal yang lebih ditunggu oleh Mouri Ran dibandingkan segera pulang ke rumah yang sudah lama ia tinggalkan. Gadis tujuh belas tahun itu kini tengah ditemani ibunya membereskan barang-barangnya selama tinggal di rumah sakit. Ya, akhirnya hari ini ia diizinkan pulang oleh dokter dengan catatan ia akan memeriksakan dirinya seminggu sekali. Ayah dan ibunya sudah datang pagi sekali untuk menjemputnya. Sonoko yang menemaninya semalam tengah diantar pulang oleh Shinichi yang berjanji akan kembali untuk ikut menemaninya pulang ke rumah. Ran berjalan menuju jendela di samping tempat tidur yang sudah ia gunakan hampir sebulan terakhir. Dilihatnya pepohonan yang masih tertutup salju yang ia lihat setiap harinya. Hari ini cuaca di luar sangat cerah, secerah perasaannya hari ini.

"Ran?" panggil ibunya yang baru saja selesai memasukkan baju terakhir ke dalam tas olahraga yang biasa digunakan Ran jika ada latihan pagi. Ran menolehkan kepalanya sambil tersenyum.

"Kau baik-baik saja?" tanya Eri sedikit khawatir. Ran menganggukkan kepalanya.

"Aku hanya merasa senang akhirnya bisa pulang ke rumah." Ran mengembalikan perhatiannya pada tumpukan salju di luar. Mendengar itu Eri tersenyum lega.

"Kau tidak tahu, Ran, betapa Ibu bosan menemani ayahmu sendirian di rumah," ucap Eri dengan nada bercanda. Ran tertawa kecil mendengar ucapan ibunya. Ran lalu berjalan menuju ibunya yang tengah memasang risleting tasnya.

"Ibu akan tetap di rumah, kan?" tanya Ran dengan nada memohon tersembunyi di dalamnya. Ia meraih kedua tangan ibunya dan menggenggamnya perlahan. Pengacara handal itu tersenyum lembut. Bagaimana bisa ia menolak permintaan anaknya di saat anaknya baru saja melewati maut?

Eri mengangguk pelan yang disambut dengan pelukan tiba-tiba dari putri semata wayangnya.

"Tapi, maaf kalau masakan ibu tidak enak, Ran," ucap Eri.

"Tidak apa. Selama Ibu ada di rumah, aku yang akan memasak."

Mereka berdua pun tertawa kecil.

"Nah, ayo kita pulang," ajak Eri sambil mengangkat tas milik Ran.

"Ah, sebentar, Bu," Ran menarik lengan baju ibunya. "Shinichi sebentar lagi akan kembali ke sini."

Eri membenarkan letak kacamatanya. "Oh ya, benar juga. Coba kau hubungi dia. Jika dia masih lama, katakan untuk langsung menyusul ke rumah saja."

Ran mengangguk dan merogoh ponsel dari saku celananya. Saat dia baru saja akan menekan beberapa tombol, pintu kamar itu terbuka, menampakkan Shinichi yang baru saja kembali.

"Shinichi! Aku baru saja akan menghubungimu," seru Ran sambil mengembalikan ponsel ke saku celananya. Shinichi hanya tersenyum singkat mendengar ucapan Ran. Dia berjalan menuju Eri dan mengambil tas Ran.

"Biar aku yang bawa, Bibi," ucap Shinichi. Eri mengangguk menerima tawaran Shinichi.

Mereka bertiga lalu berjalan menuju lobi rumah sakit. Setiba di lobi, Eri berhenti di depan meja resepsionis.

"Ibu akan menyelesaikan pembayaranmu dulu, Ran. Kamu pergilah bersama Shinichi ke halaman parkir depan. Ayahmu pasti sudah tidak sabar menunggu."

Ran mengangguk kemudian berjalan menuju pintu keluar rumah sakit diikuti oleh Shinichi di sampingnya. Mereka terus berjalan sampai tiba-tiba Shinichi menghentikan langkahnya.

"Ran."

"Ya?" Ran turut menghentikan langkahnya dan berdiri berhadapan dengan Shinichi.

"Maaf, aku ... tidak bisa melindungimu. Kau terlibat dengan semua kejadian ini, itu semua kesalahanku. Maafkan aku, Ran."

Mendengar permintaan maaf Shinichi, Ran tersenyum pelan dan mendekatinya. Diraihnya sebelah tangan Shinichi yang tidak memegang tasnya.

"Ini bukan kesalahanmu, Shinichi. Aku hanya berada di tempat dan waktu yang salah."

"Tapi, Ran—!"

"Shinichi." Ran menggenggam tangan Shinichi erat. "Berhenti menyalahkan dirimu."

Ran menatap kedua mata Shinichi lekat-lekat, seolah ingin meyakinkan bahwa dia tidak pernah menyalahkan Shinichi sama sekali atas apa yang terjadi pada dirinya. Ran tahu bagaimana Shinichi menemaninya setiap hari, menunggu ia terbangun. Ia selalu bisa mendengar suara Shinichi yang menceritakan banyak hal dan terdengar ceria agar dirinya segera sadar. Lalu sekarang di hadapannya, pria itu meminta maaf atas sebuah kesalahan yang menurutnya bukanlah suatu hal yang pernah dilakukannya.

Mendapat pandangan seperti itu, perasaan bersalah yang selama ini membebani hatinya seolah luruh begitu saja oleh kebaikan yang dilihat Shinichi di mata Ran. Tangan Ran yang masih terasa sedikit dingin, serta senyumnya yang selalu terlihat hangat, berhasil membuat setitik air mata keluar dari sudut mata Shinichi. Dalam hatinya ia berjanji ia tak akan pernah membuat Ran terluka lagi.

Melihat airmata Shinichi, mau tidak mau Ran tersenyum geli. Sambil menghapus air mata Shinichi, Ran berkomentar pelan. "Sejak kapan kau jadi cengeng begini, Shinichi?"

"Sejak—,"

Kriiing-kriiing-kriiing

Suara ponsel yang terdengar memotong jawaban Shinichi. Shinichi merogoh saku celananya dan mengernyit saat melihat nama profesor terpampang di layar ponselnya.

"Sebentar, Ran," ucapnya sambil berjalan menjauh dari Ran. Perasaannya tak enak.

"Ada apa, Profesor?" tanya Shinichi dengan nada tidak nyaman.

"Shinichi-kun, ini tentang Shiho-kun," jawab Profesor dengan suara yang terdengar berbisik namun bergetar.

"Ada apa dengan Shiho, Profesor?"

.

.

Shinichi menekan pedal gas dalam-dalam, mengendarai mobilnya dengan laju kencang di jalanan kota Tokyo yang padat. Dahinya mengernyit, membayangkan segala hal buruk yang bisa saja terjadi. Ia terpaksa meninggalkan Ran setelah mendapat telepon dari Profesor.

"Ada apa dengan Shiho, Profesor?"

"Shiho pergi setelah menanyakan sebuah berita di web padaku."

Shinichi berjalan sedikit menjauh dari Ran. "Berita? Berita apa?"

"Tentang seorang aktris Inggris yang muncul setelah sekian lama menghilang. Shiho pergi saat aku baru saja menyadari bahwa aktris itu mirip dengan seseorang!"

Shinichi menggertakkan giginya. Dia sudah tidak paham lagi dengan apa yang terjadi. Dan dia tidak punya ide kemana perginya Shiho.

"Sial, pergi kemana wanita itu!"

Shinichi meraih ponselnya dan membuka email yang dikirimkan oleh Profesor. Ia memandangi foto yang ada di badan email itu. Yang satu adalah Chris, wajah yang sangat ia kenal. Namun, wajah yang satu tidak pernah ia temui sebelumnya. Wajah itu terlihat sedikit mirip dengan Shiho dengan warna rambut yang lebih terang, bentuk muka yang sama namun aura yang terlihat sedikit lebih ceria. Mau tidak mau perkataan profesor membuatnya curiga. Tetapi ia tidak yakin dengan apa yang baru saja terlintas di pikirannya.

"Aku pernah bilang bukan bahwa suatu hari Shiho menanyakan jika aku pernah bertemu dengan orangtuanya? Saat itulah aku baru teringat ..."

Mungkinkah ... ?

Kriing kriing kriing!

Shinichi kembali melihat nama Profesor terpampang di layar ponselnya.

"Ya, Profesor?"

"Shinichi-kun! Aku baru saja menemukan pesan di ponsel Shiho yang ia tinggalkan di kamar! Haido Park, Shiho-kun ada disana!"

Shinichi segera membanting setirnya menuju tempat yang diberitahukan Profesor.

"Aku menuju kesana. Siapa yang mengirim pesan itu Profesor?"

"A-aku tidak mengerti. Di sini tertulis ... Madame in Grey Suit ... "

Madame in Grey Suit?

"Mungkinkah ini orang yang sama dengan foto di web itu, Shinichi-kun?"

Shinichi mengernyitkan dahinya. "Tunggulah, Profesor! Aku akan membawa Shiho pulang."

Shinichi menutup percakapan dan terus melajukan mobilnya menuju Haido Park. Ia memegang setir dengan kuat hingga buku-buku jarinya sedikit memutih.

Demi Tuhan, Shiho! Jangan bertindak gegabah!

Saat ujung matanya menangkap sesosok berambut cokelat kemerahan berjalan memasuki Haido Park, Shinichi meminggirkan mobilnya dan mematikan mesin. Ia lalu keluar dari mobil dan diam-diam membuntuti Shiho. Ia bersembunyi di balik semak saat melihat Shiho mendekati sesosok wanita dengan wajah yang sangat mirip dengan foto yang dikirimkan Profesor.

Shiho, apa yang sebenarnya sedang kau lakukan?

.

.

Shiho berjalan mendekati sebuah bangku yang tengah diduduki oleh seorang wanita berambut cokelat. Wanita itu masih mengenakan mantel abu-abu yang ia pakai sebelumnya. Saat jarak Shiho dan wanita itu tinggal beberapa langkah, wanita itu menoleh dan melempar senyuman manis pada Shiho.

"Ah, Young Mistress! You really came! I've been waiting for you," ucapnya dengan nada ceria.

Shiho menelan ludahnya. Ia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lakukan. Mendatangi tempat yang bisa saja menjadi mulut singa untuknya. Ia memandangi lekat-lekat wajah itu. Tidak salah lagi, wanita ini adalah wanita yang ada di dalam berita itu.

"What's wrong? Have you been sick?" wanita asing itu berdiri dan mendekati Shiho, membuat Shiho memundurkan langkahnya perlahan.

"Who are you?" tanya Shiho dengan suara yang dingin. Shiho mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah foto pada wanita itu. "Are you the same person with this woman?"

Wanita itu terlihat sedikit kaget hanya untuk tersenyum selanjutnya. Ia merogoh sesuatu dari sakunya dan mengeluarkan sepasang sarung tangan.

"Here, like I've promised to you ... your gloves ..."

Shiho tidak berniat bergerak untuk mengambil sarung tangan miliknya. Dia terus memandangi wanita asing itu dengan pandangan menuntut. Wanita itu lalu tersenyum sambil menghela napasnya.

"Alright, I am the same woman as the woman in that photograph. So what? Do you want my autograph, probably?"

Shiho menutup flip phonenya dan memasukkan ke dalam saku mantelnya. "I am more interested in who you are, rather than your autograph. I am afraid that you have a similar face with someone I knew ... "

Senyum wanita itu semakin melebar. "Like who?"

Shiho menahan napasnya sebelum menjawab pertanyaan itu.

"My—!"

Bruk!

Sebuah suara keras membuat Shiho dan wanita asing setengah baya itu menoleh ke arah semak-semak dimana suara itu berasal. Tak lama sesosok wanita lain keluar dari semak itu.

"Well, sorry, Madame. I just caught a peeping cat." Minerva muncul dengan mendorong seorang pria hingga terjatuh ke tanah. Shiho tersentak melihat siapa pria yang baru saja tertangkap oleh Minerva.

"Ku-Kudo-kun!" Shiho berlari dan berlutut di samping Shinichi yang tidak sadarkan diri.

"Oh, I am sorry. Is he your boyfriend? I saw him eavesdropping, so I can't help but made him unconscious. Sorry." Pernyataan maaf Minerva tidak terdengar seperti sedang meminta maaf. Shiho menatap wanita Inggris itu dengan pandangan tidak suka.

"Minerva, you were being a little too cautious." Wanita yang lebih tua berjalan mendekati Minerva dan menghela napas pelan.

"I was not. Besides, I remember seeing him when I was in London, in one of my match." Minerva sedikit berjalan mendekati Shinichi dan memperhatikan wajahnya seksama. Ia lalu melemparkan senyuman sinis pada Shiho. "Yup, he was the one. He was that young detective I met in London, together with her girlfriend ... but, well, then it doesn't make you his girlfriend, right?"

Shiho meraih tangan Shinichi dan menggenggamnya, membuka perlahan jam tangan Shinichi. "What's your problem?"

"Enough, Minerva!" seru wanita berambut panjang itu. Ia lalu berganti menatap Shiho. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya berkata, "Shiho-chan, aku lelah menggunakan bahasa Inggris, dan aku bukan orang yang senang berlama-lama bermain teka-teki. Kita bicarakan semuanya di tempat yang lebih aman."

Shiho membelalakkan matanya saat mendengar wanita itu memanggil namanya dengan begitu familiar. Suara itu, ya tidak salah lagi ...

"I-ibu?"

Wanita itu tersenyum dan berlutut di sisi Shiho. Meraih wajah Shiho dan mengusapnya lembut. "Lama tidak bertemu, Shiho-chan. Kau sudah besar, ya? Terakhir aku melihatmu saat kakak baru saja melahirkanmu di rumah sakit ..."

"Ka-kakak?" Sekarang Shiho semakin tidak mengerti dengan semuanya.

"Ya, Elena, kakakku. Namaku Eileen. Kau boleh memanggilku bibi, Shiho-chan."

Sesaat tubuh Shiho terasa lemas. Kalimat yang baru saja ia dengar terasa seperti petir di siang bolong di telinganya. Bibi? Dia punya seorang bibi? Saat dia percaya bahwa selama ini dia sudah tidak memiliki keluarga dimana pun, sekarang tiba-tiba seorang bibi yang sangat mirip dengan ibunya muncul di hadapannya. Apakah ini hanya sebuah permainan lain?

"Ke-kenapa aku harus percaya bahwa kau adalah adik ibuku?" tanya Shiho sambil menepiskan tangan yang mengusap wajahnya.

"Oh, anak kakakku ternyata cukup galak." Eileen melempar senyuman yang membuat Shiho bergidik ngeri. Ia meraih kedua tangan Shiho dan mulai memasangkan sarung tangan yang ia bawa sedari tadi. "Percaya atau tidak itu masalahmu. Aku berada disini dengan satu tujuan."

"Tujuan?"

Eileen selesai memakaikan sarung tangan itu. Ia meraih kedua tangan Shiho dan menggenggamnya erat. "Membawamu kembali ke organisasi."

.

.

To be Continued

.

.

Author's Note:

Eileen? Siapa itu Eileen? Ahahahaha. Mungkin saya disumpah-sumpahin sekarang, udah jarang update, sekalinya update munculin tokoh baru non-canon. Oh, kalau Minerva itu ada kok di London arc. Eileen ini ... anggap saja pemuas imajinasi saya. Jadi mohon diterima dengan baik, hehehe. Dia kuncinya dari keseluruhan cerita. Ceritanya kemungkinan akan saya selesaikan dalam 7 chapter lagi, berdoa saja biar bisa selesai dengan cepat ufufufu