Disclaimer: Masashi Kishimoto
Rated: T
Genre: Romance
Hinata, Gaara : 6 Tahun
Sasuke : 9 Tahun
Itachi, Neji : 11 Tahun
Chapter 2
Normal POV
Gedung besar nan megah itu sudah mulai dipenuhi oleh berbagai tamu undangan. Banyak orang dengan gaya glamour dan elegan memasuki gedung bercat putih tersebut. Turun dari mobil mewah, berjalan dengan rasa penuh percaya diri dan tentu saja seolah berlomba menunjukkan harta pribadi masing-masing. Pertemuan besar yang diadakan salah seorang pengusaha sukses dengan mengundang para rekan pengusaha luar biasa lainnya hanya untuk sekedar berbasa-basi dan tentu saja menyombongkan kekayaan masing-masing.
Hadir di dalam gedung itu yang empunya acara dalam balutan setelan jas hitam, seorang pemilik perusahaan yang sangat sukses baik di Jepang maupun dunia, memiliki ratusan cabang yang tersebar di seluruh dunia, Uchiha Fugaku dengan didampingi istri dan kedua anak laki-lakinya berjalan menghampiri tamu undangan. Pemilik Uchiha corp itu dengan sangat bangganya memperkenalkan calon pewarisnya kelak, putra sulungnya yang bernama Uchiha Itachi. Itachi yang baru menginjak usia 11 namun sudah masuk ke jenjang SMP tentu membuat semua orang terkagum. Itachi dianugrahi otak luar biasa cerdas dan tampang rupawan khas keluarga Uchiha. Oh jangan lupakan kecantikan ibunya Uchiha Mikoto yang seorang top model terkenal. Ya, keluarga yang sangat sempurna di mata orang banyak, keluarga yang menjadi sorotan karena keharmonisan mereka juga.
Namun ada yang kurang. Keluarga Uchiha memiliki dua orang putra tetapi entah mengapa selalu si sulunglah yang mendapat perhatian, sedangkan si bungsu? Ya, adik kesayangan Itachi tersebut memang tak secerdas kakaknya namun tentu saja masih dikategorikan di atas rata-rata memang tidak terlalu dianggap oleh sang kepala keluarga. Uchiha Sasuke tumbuh hanya dengan perhatian dan kasih sayang dari ibu dan kakaknya, lupakan ayahnya yang seolah sudah puas hanya dengan adanya Itachi.
Jika ada pertemuan seperti ini pastinya Sasuke hanya akan menjadi hiasan di pojok ruangan, menunggu keluarganya selesai bicara dengan rekan bisnis lainnya. Tetapi ada yang berbeda pada pertemua kali ini. Seorang anak perempuan yang lebih muda dari Sasuke langsung menghampiri Sasuke dan tersenyum dihadapannya. Sejenak Sasuke tertegun dengan kecantikan anak itu, meski masih kecil namun Sasuke sangat yakin bahwa nantinya saat anak itu dewasa, ia akan lebih cantik dari ibunya yang seorang top model.
Anak itu tersenyum dan mengulurkan tangannya.
"Hinata, Hyuuga Hinata." Kata anak perempuan itu dengan lugunya.
Sasuke hanya diam terpaku. Anak perempuan itu memiliki sesuatu yang sangat menarik bagi Sasuke. Kecerian dan keluguannya membuat Sasuke merasakan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan. Tentu saja Sasuke sudah terbiasa dengan keseriusan ayahnya sampai lupa akan bagaimana anak kecil seharusnya bertindak dan berpikir.
"Nii-san siapa? Tidak mau kenalan denganku?" Tanya Hinata dengan polosnya.
"Hn. Sasuke. Uchiha Sasuke."
"Sasu-nii. Boleh aku panggil begitu?"
"Hn."
"Hn? Itu iya atau tidak?"
"Terserah."
"Aaa… Sasu-nii sini.. sini..." Hinata menarik tangan Sasuke, membawa Sasuke menuju pojok lain ruangan itu. Menemui seorang anak laki-laki yang seumuran dengan Hinata. Nampaknya Hinata berteman baik dengan anak berambut merah itu.
"Gaara!" panggil Hinata. Sambil terus menarik Sasuke mendekati Gaara.
"Ayo kenalin, ini Sasu-nii. Sasu-nii itu anak dari yang buat acara ini loh." Kata Hinata pada Gaara.
"Oh, ya. Salam kenal Uchiha. Aku Sabaku Gaara." Jawab Gaara santai.
"Hn. Sabaku ya." Jawab Sasuke.
"Nah ayo main. Pasti bosen kan nungguin diam aja." Ajak Hinata. Hinata menarik tangan Sasuke dan Gaara.
Ketiga anak itu sibuk bermain. Meski hanya Hinata yang terus saja mengoceh, namun mereka tampak kompak dan seperti sudah saling mengenal. Tanpa mereka sadari bahwa pertemanan diantara mereka bertiga adalah awal dari sebuah kejadian tak tertuga yang menanti mereka kedepannya.
"Jadi, apa kau setuju?" Kata seorang laki-laki berumur 30-an kepada seorang rekan bisnisnya yang kira-kira berusia sama sepertinya. Mereka berdua berbicara dengan wajah serius. Akhirnya salah seorang dari mereka yang berambut hitam pekat dengan wajah tegas dan dingin itu mengangguk pasti.
"Kurasa sudah waktunya kedua perusahaan kita bersatu." Katanya mantap.
Seorang lagi mengangguk dan memejamkan matanya sejenak. Berpikir lebih jauh. Rambut coklat panjangnya tertiup angin perlahan, lalu mata berwarna pucatnya terbuka dan ia pun mengulurkan tangannya sebagai tanda perjanjian yang baru saja dibuatnya dengan orang didepannya.
"Kita sepakat." Kata mereka berdua bersamaan.
Kedua laki-laki itu keluar dari ruang pertemuan mereka tadi. Di depan ruangan ternyata kedua istri mereka sudah menanti. Kelihatan dengan jelas kalau kedua keluarga itu sedang berusaha untuk bisa saling mengakrabkan diri satu sama lain.
"Kalian sudah sepakat?"
"Ya begitulah. Aku rasa ini saat yang tepat untuk menggabungkan perusahaan kita."
"Mudah-mudahan ini yang terbaik."
"Pasti. Mereka juga sudah akrab apa susahnya?"
"Tapi mereka masih kecil."
"Ya kita tunggu sampai dewasa. Asalkan di biarkan tumbuh bersama saja nanti juga pasti mereka menerimanya."
"Ya semoga."
Malam itu dua keluarga telah sepakat untuk memeprsatukan perusahaan mereka yang berarti mereka harus bisa membuat para pewaris perusahaan mereka terikat dalam hubungan bernama pernikahan. Memang terlihat aneh mengingat anak mereka yang masih kecil, namun demi nama perusahaan mereka menutup mata.
Uchiha dan Hyuuga.
Kedua keluarga yang menutup mata mereka akan perasaan anak mereka sendiri dan lebih memilih perusahaan mereka.
Malam semakin larut di Konoha, tapi nampaknya gelapnya malam tidak membuat sekelompok anak itu berhenti bermain. Kelima anak kecil berbeda usia itu malah semakin tenggelam dalam asiknya permainan. Diantara mereka ada seorang anak perempuan yang terlihat sangat bersemangat dan menjadi pusat dari permainan mereka. Petak umpet. Ya, karena dia satu-satunya perempuan jadilah dia menjadi orang yang berjaga hampir di setiap permainan petak umpet mereka.
"Loh, kok aku lagi?" kata anak itu protes.
"Yah, kau kan perempuan sendiri Hinata."
"Salah sendiri bermain dengan kami. Haha.."
"Eeehh? Itachi-nii sama Neji-nii sama aja. Gentian kan." Rengek Hinata.
"Sudah cepat jaga sana."
"Keburu malam, cepat."
"Huh!"
Merajuk. Hal yang menjadi keuntungan jika dalam suatu permainan hanya ada 1 perempuan maka senjata utama anak itu adalah merajuk. Dan itu pulalah senjata andalan Hinata.
"Tuh kan. Hinata mulai lagi."
"Habis kalian nggak mau gentian."
"Anak kecil cengeng."
"Eh? Umur kita sama tahu!"
"Yah, tapi aku nggak cengeng."
"Aku nggak cengeng, buktinya aku nggak nangis tuh. Wek!" Hinata menjulurkan lidahnya mengejek Gaara yang memang satu-satunya yang berumur sama dengan Hinata.
"Ini sudah malam. Udahan ya." Kali ini giliran salah satu anggota tertua di sana sekaligus kakak dari Hinata, Neji yang angkat bicara.
"Uhh.. ya sudah." Hinata memang kesal karena jam bermainnya yang dirasanya terlalu singkat, tetapi Hinata sadar begitu melihat langit yang mulai gelap.
Mereka berlima pulang kembali ke rumah kelurga Uchiha. Untuk menghabiskan liburan mereka, Neji, Hinata dan Gaara diijinkan untuk menginap di rumah keluarga Uchiha. Kedekatan orangtua mereka tentu saja jadi alasan utama mengapa mereka menjadi sahabat dekat. Nej, Itachi, Hinata, dan Sasuke bersekolah di sekolah yang sama, hanya Gaara saja yang pasti dating berkunjung ke Konoha untuk menemui sahabat-sahabatnya itu. Gaara masih memiliki 2 orang kakak, laki-laki dan perempuan tetapi sayangnya kedua saudaranya tidak begitu dekat dengan Neji dan yang lain. Sedangkan Neji dan Hinata masih memiliki seorang adik perempuan lagi, tapi karena usianya yang masih kecil tentu saja Hanabi, adik Neji dan Hinata itu tidak diijinkan berlibur dengan mereka.
Uchiha, Hyuuga dan Sabaku. Ketiga keluarga dengan kekayaan di atas rata-rata dan pemilik perusahaan terbesar, banyak yang beranggapan ketiga bersaing dan saling serang satu sama lain demi mendapat predikat perusahaan nomor satu, tetapi dugaan banyak orang itu salah besar. Ketiga pemegang perusahaan itu malah justru sudah berteman sejak lama dan saling mendukung untuk urusan pekerjaan. Termasuk anak-anak mereka yang malah menjadi sahabat akrab.
"Nii-san." Panggil Hinata. Sontak Neji, Itachi, dan Sasuke menoleh bersamaan karena memang ketiganya dipanggil dengan embel-embel '-nii'.
"Hehe… semuanya merasa ya?" Tanya Hinata dengan nada jahilnya dan direspon berbeda-beda, Neji hanya menggeleng, Itachi balik tersenyum sedangkan Sasuke mendecih pelan.
"Nee..nee… Aku senang loh jadi seperti punya 3 orang kakak." Kata Hinata.
"Jadi? Aku apa? Tidak dianggap?" Protes Gaara.
"Kalau Gaara yaaa…. Saudara sih." Balas Hinata lagi.
"Anak-anak ayo makan dulu ya." Tiba-tiba seorang wanita muda dan cantik masuk ke kamar tempat kelima anak itu. Nyonya Uchiha tentu saja sebagai pemilik rumah yang baik, menyiapkan makanan bagi para tamunya.
"Ha'I." Jawab kelimanya kompak.
Bunyi alarm jam terdengar dari salah satu kamar di sebuah apartemen sederhana. Tak lama setelahnya sebuah tangan putih pucat meraih jam itu dan mematikan alarm yang berhasil membawanya kembali dari mimpi tentang masa kecilnya. Bangun dengan perlahan dan dengan langkah gontainya, pemilik tangan pucat itu menuju kamar mandi tak jauh dari kamarnya. Tak butuh waktu lama sampai ia berpakaian rapi lengkap dengan sepatu dan tasnya. Meski begitu wajahnya masih terlihat muram terbawa kejadian beberapa tahun lalu yang belakangan ini hinggap manis di mimpinya.
Begitu melirik jam di pergelangan tangannya, barulah orang itu berjalan keluar dari apartemen miliknya. Apartemen yang bertuliskan Uchiha Sasuke di samping pintunya.
TBC
