Disclaimer: Masashi Kishimoto

Rated: T

Genre: Romance, Friendship

Hinata POV

Sakit.

Selalu sakit.

3 tahun aku hidup dalam sakit seperti ini.

Penyakitku?

Tentu saja 'kesepian','sendiri',dan jangan lupa ingatan tentang 'kejaidian' itu. Kejadian yang mebuka paksa mataku tentang kejamnya dunia, tidak ada yang bisa dipercaya selain diri sendiri, dan tentu saja betapa lemahnya aku menghadapi semuanya.

Aku menatap sendu foto yang sudah tidak berbentuk itu. Aku hanya sanggup meremasnya, jangankan membuang merobeknya saja aku tak sanggup. Foto yang sebenarnya mengingatkanku dengan 'dia' orang yang menyadarkanku dari mimpi Indah yang kupercaya dulu. Di dalam foto itu aku masih bisa tersenyum bersama para sahabatku.

"Hinata." Suara Neji-nii membuatku cepat-cepat menyimpan foto itu di laci mejaku.

"Sebentar nii-san." Balasku dan bersiap untuk pergi ke sekolah bersama Neji-nii dan Hanabi.

Semenjak 'kejadian' itu aku berubah tentu saja seperti yang kubilang tadi. Aku berubah tapi tidak depan Neji-nii dan Hanabi. Bagi mereka aku tetap Hinata yang sama seperti dulu. Hanya lebih pendiam sedikit saja. Neji-nii bekerja di perusahaan Tou-san tak jauh dari sekolahku, sedangkan Hanabi juga bersekolah di SMP Konoha, jadilah setiap pagi kami berangkat bersama.

"Nee-chan, besok ada tes matematika. Nee-chan bisa bantu kan?" Tanya Hanabi begitu aku sampai di meja makan.

"Tentu saja. Nee-chan akan bantu sebisa mungkin." Jawabku.

"Ya sekarang makan dan segera berangkat, kalian tidak mau terlambat,kan?" Neji-nii mengingatkan aku dan Hanabi agar tidak terlalu banyak berbicara seperti yang kami lakukan saat bersama seperti pagi ini.

"Ha'I" jawabku dan Hanabi bersamaan.

Setelah kami berpisah untuk menuju kelas kami masing-masing, barulah diriku yang satunya mengambil alih. Menunduk adalah hobi diriku yang satu lagi ini. Aku yang di rumah dan yang di sekolah adalah dua pribadi yang sangat berbeda dan tidak berhubungan satu sama lain.

"Eh lihat,Hyuuga aneh itu. Apa tidak ada posisi lain? Menunduk begitu. Rambut panjangnya terurai ke depan sebagian lagi. Dia itu manusia atau hantu sih?"

Kalimat pertama pagi ini. Tak lama tentu saja bermunculan kalimat lain yang intinya menyebutkan betapa anehnya aku. Tapi tidak masalah toh aku hanya punya diriku sendiri dan tentu saja Neji-nii dan Hanabi. Hanya itu.

TENG TENG

Akhirnya mulai juga pelajarannya setidaknya aku tidak perlu mendengar ejekan mereka sejenak. Pelajaran pertama…. Ah, matematika. Hampir saja aku lupa.

"Selamat siang semuanya! Saya Uchiha Sasuke, guru matematika kalian yang baru."

Eh? Kenapa guru matematika yang tua itu bisa memiliki suara yang berbeda? Reflek aku melihat ke arah depan melupakan hobiku yang selalun menunduk itu.

DEGH

Orang itu.

Aku membulatkan mataku. Orang yang berhasil membuatku memiliki 'diriku' yang lain. Kenapa? Kenapa setelah 3 tahun tidak menampakkan diri, sekarang bisa dengan santainya berdiri di depan? Untuk apa dia kembali? Sekedar kebetulan menjadi guru di sekolah ini? Yang benar saja!

"Sensei! Usianya berapa?"

"Sudah punya pacar belum?"

"Boleh minta nomernya nggak?"

"Akhirnya ada guru muda juga."

Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan itu membuatku kembali menunduk. Tanganku terkepal kuat. Sakit. Untuk apa dia kembali?! Jeritku dalam hati.

"Hn. Sayangnya saya tidak akan menjawab pertanyaan kalian jika bukan tentang pelajaran. Buka buku kalian halaman 25!"

"Huuhhh…!"

Untuk pertama kalinya aku merasa pusing dengan pelajaran kesukaanku itu. Bukan karena slit melainkan guru yang menjadi pengajar itu penyebabnya.

Aku melangkahkan kakiku dengan cepat dan juga sambil tetap menunduk menuju ke kelasku. Istirahat bukan hal yang kusenangi tak seperti anak-anak lain yang malah berharap tidak perlu ada pelajaran.

BUKK

Bagus. Inilah keuntunganku menunduk.

"Go..gomen" lkataku pelan tanpa melihat siapa yang kutabrak dan kembali berjalan.

Sayup-sayup aku dengar orang itu memanggilku begitu aku akan berbelok di lorong. Aku menolah di saat yang tidak tepat. Aku tidak bisa melihat orang itu tertutup segerombol anak yang langsung lewat. Tidak membuang waktu aku kembali berjalan.

Aku teringat akan sosok sahabat kecilku dari Suna. Sudah lama rasanya aku tidak bertemu dengannya. Tepatnya setelah 'kejadian' itu. Mungkin orang tuanya malu jika anaknya bergaul dengan orang sepertiku sekarang. Tanpa sadar aku tersenyum sinis. Dari seorang putri kini aku hanya seorang rakyat yang bergantung pada beasiswa yang berhasil kudapatkan.

Bagaimana dengan perusahaan besar Tou-sanku?

Aku menghela nafas jika membayangkan pertanyaan itu. Jawabannya sederhana, terkadang orang yang sangat kau percayai justru malah menusukmu dari belakang. Hanya itu jawabannya. Dari pemilik perusahaan terbesar di Konoha menjadi pemilik perusahaan kecil yang jika diganggu sedikit akan hancur. Untunglah aku masih mempunyai Neji-nii yang berjuang membangun dan mempertahankan usaha baru Tou-san yang belum genap 2 tahun ditinggal Tou-san. Salahkan kejadian itu. Oh.. atau lebih tepatnya bersyukur atas kejadian itu sehingga aku bisa merasakan bagaimana rasanya dikhianati begitu saja.

Lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum sinis. Terlalu banyak hal yang terjadi dalam kehidupanku. Terlalu banyak, dan tidak mungkin bisa kuceritakan semuanya secara rinci yang jelas untuk saat ini, tentang bagaimana aku bisa bergantung pada beasiswa dan bagaimana Neji-nii, aku dan Hanabi bisa tinggal di sebuah rumah kecil sudah bisa terjawab.

Pelajaran hari ini berlangsung lama, ya tentu saja karena guru baru itu. Aku tidak akan pernah lupa apa yang telah dilakukannya pada keluargaku. Tidak akan pernah. Berada didekat orang itu jujur membuatku takut. Aku takut apa yang akan dilakukannya lagi terhadap keluargaku. Aku takut keluargaku yang hanya tinggal Neji-nii dan Hanabi harus kehilangan lagi. Kenapa dia kembali ke sini? Kenapa harus di sekolah tempatku menimbah ilmu? Sepanjang perjalanan pulang aku hanya bergumul sendiri mengenai pertanyaan-pertanyaan itu.

"Apa ada masalah di sekolah?" Tanya Neji-nii. Saat ini aku, Neji-nii dan Hanabi sedang makan malam bersama di ruang makan sederhana kami. Kami terbiasa untuk selalu makan bersama, setidaknya itulah cara kami menjaga kedekatan hubungan kami sebagai saudara.

"Tidak ada. Apa wajahku terlihat banyak masalah?" Tanyaku balik. Aku tidak menceritakan tentang kemunculan Uchiha itu. Aku hanya tidak ingin mengganggu konsentrasi Neji-nii di pekerjaannya. Toh selama 'dia' tidak menggangguku, kurasa tak masalah.

"Haha… yah, mana ada masalah yang tidak bisa dihadapi imoutou-ku ini." Kata Neji-nii sambil mengacak rambutku.

"Aaaa… apaan sih nii-san? Berantakan kan jadinya." Protesku.

"Hehehe.. nii-san sama nee-chan kayak anak kecil aja." Kali ini Hanabi yang berbicara.

"Kenapa? Apa imoutou-ku yang ini iri juga?" Nii-san mengacak rambut Hanabi juga, sedangkan 'korban' nii-san itu hanya menggembungkan pipinya sebal.

Ya inilah keluargaku sekarang. Keluargaku yang tersisa dan tentu saja satu-satunya alasan kenapa aku masih kuat melewati 'kejadian' itu. Nii-san langsung mengambil alih tanggung jawab tou-san mengurusiku dan Hanabi di masa SMA-nya, tapi jangan kira nii-san memilih bekerja untuk kami. Daripada bekerja nii-san yang memang suka mengikuti berbagai perlombaan baik akademik maupun tidak, malah semakin aktif ikut perlombaan. Tapi tunggu dulu justru karena itu nii-san mendapat uang sekaligus beasiswa dan tentu saja sebagai adik-adik nii-san, aku dan Hanabi mendapat tempat khusus di sekolah Konoha baik dari SD-SMA karena mereka menganggap kami bisa seperti nii-san yang menyumbang banyak prestasi.

Ah, aku jadi terlalu membanggakan nii-san lagi. Tapi siapa yang tidak bangga memiliki nii-san seperti Neji-nii?

"Bagaimana dengan pekerjaan nii-san?" Tanyaku.

"Yaa… bagus. Kurasa aku berhasil meyakinkan beberapa perusahaan lain untuk bekerja sama dengan." Jawab nii-san dengan bangga.

"Mana ada yang bisa menolak seorang Hyuuga? Hehehe…." Hanabi menimpali dan kemudian beranjak menuju dapur.

"Perusahaan kita boleh jatuh tapi kita pasti bisa bangkit lagi."

Aku mengangguk mendengar perkataan nii-san.

"Hinata, kalau kau sendiri bagaimana?" Tanya nii-san.

"Apanya yang bagaimana?" Tanyaku tidak mengerti.

"Nii-san tahu kau masih belum bisa melupakannya,kan?"

Aku paham betul apa maksud nii-san sekarang. Tapi kenapa nii-san tahu?

"Sudah kubilang,kan? Aku Nii-sanmu, kalau ada apa-apa kau bisa cerita padaku. Jangan kira nii-san tidak tahu apa-apa. Kau sudah bertemu Sasuke?"

"Bagaimana nii-san tahu?"

"Hinata… Itachi dan Sasuke tidak ada sangkutpautnya dengan apa yang kita alami."

"Mereka sama-sama Uchiha nii-san."

"Maafkan mereka. Mau sampai kapan kau hidup dalam bayangan kejadian itu?"

"Mana bisa? Mana bisa aku memaafkan mereka? Mereka dengan seenaknya menghacurkan keluarga dan perusahaan kita. Kenapa malah nii-san memintaku memaafkan mereka."

"Yang salah hanya ayah mereka. Uchiha Fugaku, bukan Itachi maupun Sasuke."

"Sudahlah! Aku tidak bisa memaafkan mereka. Bagiku mereka sama saja!" Aku membentak nii-san untuk pertama kalinya dan masuk ke dalam kamarku.

BRAAKK

Aku membanting pintu kamarku dan bersandar di balik pintu.

'Aku tidak akan memaafkan mereka. Tidak akan pernah! Sudah terlalu menyakitkan apa yang mereka lakukan pada keluargaku.'

Aku menangis dalam diam mengingat bagaimana tou-san bersusah payah menghidupi Neji-nii, aku dan Hanabi setelah kejadian itu. Bagaimana menderitanya tou-san, aku masih bisa mengingat semuanya dengan jelas. Tapi kenapa Neji-nii lupa? Kenapa malah memintaku memaafkan Itachi dan Sasuke?

TBC