Disclaimer: Masashi Kishimoto

Rated: T

Genre: Romance, Friendship

Normal POV

-3 tahun yang lalu-

Pagi yang sepi di sebuah rumah elit di Konoha. Di salah satu kamar bercat biru, seorang laki-laki muda masih terlihat bergelung dengan selimutnya. Hingga kulit pucatnya tertimpa cahaya matahari yang masuk melalaui jendela besar di samping tempat tidurnya yang sengaja dibuka untuk membangunkan salah satu anak pengusaha terkaya di Konoha tersebut.

Perlahan matanya terbuka menampilkan sepasang oniks hitam kelamnya. Di usianya yang bisa dibilang bukan anak kecil lagi tentu saja dibangunkan oleh kaa-san adalah hal yang memalukan karena itu ia lebih memilih tidur dengan tirai terbuka toh kamarnya terletak di lantai 3.

BRAK

Terkejut laki-laki itu bangkit dari tempat tidurnya. Sayup-sayup terdengar teriakan seseorang setelah bunyi keras tadi. Tanpa membuang waktu laki-laki itu keluar dari kamarnya.

"BRENGSEK KAU!"

Suara teriakan seseorang yang sudah tidak asing baginya itu membuatnya kembali terkejut dan berlari secepat yang ia bisa ke sumber suara.

Matanya terbelalak kaget melihat kaa-sannya duduk berlinang air mata. Tak jauh dari tempat kaa-sannya menangis, ada tou-san, dan kedua suami istri sahabat orang tuanya. Tapi ada yang janggal. Kenapa? Kenapa malah tou-sannya berada dalam posisi yang tidak semestinya dengan wanita lain selain kaa-sannya?

Secara naluri ia mendekati kaa-sannya berusaha menghentikan tangisan itu. Hening. Terutama saat tou-sannya menyadari kehadiran salah satu putranya, dengan perasaan campur aduk dan tidak tahu harus berbuat apa, laki-laki muda itu hanya menunduk.

"APA YANG KAU LAKUKAN HAH?!"

Teriakan memekakan telinga itu terdengar sangat menyayat. Bagaimana tidak hari ini di pagi yang semula sunyi, terjadi kejadian mengejutkan. Bagaimana perasaanmu jika mendapati orang yang begitu kau sayangi malah berada di pelukan orang lain? Bagaimana perasaanmu saat orang yang kau hormati malah melakukan hal yang paling memalukan dan mengecewakan? Pagi itu tanpa sadar menjadi pagi yang paling buruk bagi kehidupan kedua keluarga kaya raya itu.

"Kurasa tidak perlu ditutup-tutupi lagi. Aku mencintai nyonya Hyuuga ini dan kurasa dia juga memiliki perasaan yang sama sepertiku. Lebih baik kau urusi perusahaan di ujung tandukmu itu." Kata sang kepala keluarga Uchiha dengan dinginnya. Uchiha Fugaku, pagi ini secara langsung menolak keberadaan keluarganya begitu juga Hyuuga Hitomi. Dengan tatapan tak percaya Mikoto menatap suaminya.

"Kurasa sudah jelas juga, Mikoto. Aku akan mengirimkan surat cerai secepatnya. Jangan khawatir kau bisa tinggal disini. Aku juga akan tetap menanggung biaya Itachi dan Sasuke." Lagi dengan nada yang begitu dingin Uchiha Fugaku melukai hati istri dan anak bungsunya.

"KAU-"

"Bukankah sudah kubilang urusi saja perusahaan dan ketiga anakmu itu." Uchiha Fugaku memotong amarah Hyuuga Hiashi dan menarik tangan selingkuhannya itu pergi dari rumah mewah Uchiha, meninggalkan keluarganya yang hancur begitu saja.

"Kaa-san!"

Sasuke memeluk kaa-sannya erat begitu kaa-san kesayangannya itu jatuh pingsan. Air mata Sasuke juga tidak bisa dibendung lagi. Sedangkan Hyuuga Hiashi meremas kepalanya frustasi. Benar yang dikatakan Fugaku, perusahaan Hyuuga memang berada di ujung tanduk hanya tinggal menunggu waktu hingga perusahaannya gulung tikar.

Semuanya terjadi begitu cepat bagi Sasuke. Ia tidak menyangka jika tou-sannya, Uchiha Fugaku yang terkenal dingin dan cuek ternyata menyimpan perasaan pada wanita lain. Sasuke sendiri masih 17 tahun apa yang bisa diperbuatnya? Sementara aniki-nya masih menuntut ilmu di luar Konoha.

"Biar kubantu membawanya ke kamar."

Sasuke terhenyak. Orang dihadapannya. Orang yang dikhianati tou-sannya masih mau memberi saran di tengah pikiran kacaunya. Hyuuga Hiashi bahkan sempat tersenyum kecut menatap Mikoto sebelum membantu Sasuke memapah Mikoto ke kamar di dekat mereka.

"Sasuke, hubungi Itachi jika kau kebingungan. Aku juga tidak mungkin bisa berbuat banyak."

"Arigato." Hanya kata itu yang terucap dari mulut Sasuke. Sambil dengan sekuat tenaga menahan tangisnya. Sasuke membungkuk hormat pada Hiashi.

"Ini bukan salahmu. Kuharap kita masih bisa berhubungan baik Sasuke." Kata Hiashi sebelum pergi meninggalkan kediaman Uchiha.

Sasuke menatap Mikoto sendu. Setelah apa yang dilakukan tou-sannya, kenapa seorang Hyuuga Hiashi malah berbesar hati menolong Sasuke dan kaa-sannya?

Dengan mencengkram tangannya kuat-kuat Sasuke berjanji suatu saat nanti ia akan membalas apa yang telah dilakukan tou-sannya baik kepada keluarganya sendiri maupun kepada keluarga Hyuuga.

"Tou-san?"

Hyuuga Neji putra sulung Hyuuga terkejut mendapati tou-sannya pulang dengan wajah kusut.

"Apa yang terjadi?" tanyanya penasaran.

"Kita harus kuat, Neji. Demi Hinata dan Hanabi." Kata Hiashi pelan.

"Apa maksud tou-san?" Neji kembali bertanya tidak mengerti apa yang dikatakan Hiashi.

Namun bukan jawaban tetapi hanya senyum kecut yang lagi-lagi ditunjukkannya.

Ya. Hari itu menjadi hari terberat tentu saja bagi Hiashi dan Mikoto.

Hiashi begitu bingung memikirkan apa yang akan dikerjakannya sekarang untuk bisa menghidupi ketiga anaknya. Neji yang masih sibuk dengan kuliahnya, Hinata yang masih duduk dibangku SMP dan Hanabi yang masih SD, sebisa mungkin Hiashi ingin terlihat kuat di depan ketiga anaknya namun pada beberapa hari setelah kejadian itu, baru dimulailah semua kesulitan keluarga Hyuuga.

Rumah mewah Hyuuga disita karena memang pinjaman yang tidak bisa dilunasi perusahaan Hyuuga. Hinata yang tahu mengenai pengkhianatan kaa-sannya dan keluarga Uchiha menjadi sangat tertutup dan hanya mengunci dirinya di kamar kecil rumah baru mereka. Hiashi tidak sampai hati menjawab pertanyaan polos Hanabi mengenai kaa-sannya dan hanya bisa bilang bahwa kaa-sannya pergi beberapa lama dan pasti kembali suatu saat lagi.

Tapi beruntunglah Hiashi memiliki Neji. Di tengah kesibukannya kuliah, Neji bekerja juga untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup mereka. Meski tidak banyak membantu Hiashi bersyukur setidaknya ada yang bisa ia andalkan.

Berbeda dengan Mikoto dan Sasuke.

Mereka tidak menghubungi Itachi karena mereka tidak mau membuat Itachi pulang dari luar negeri hanya untuk membantu mereka. Mikoto dan Sasuke juga memilih pindah dari rumah mewah Uchiha dan menempati rumah kecil di perbatasan Suna-Konoha.

Hidup mereka jauh lebih sulit dibandingkan keluarga Hyuuga. Sasuke yang duduk di kelas 12 memang masih bisa melanjutkan sekolahnya hingga lulus. Namun itu pun harus mengemis pada sekolah di dekat rumah baru mereka karena memang mereka tidak memiliki uang dan sepakat tidak menggunakan uang dari Fugaku. Untungnya Sasuke tergolong cerdas dan malah akhirnya mendapat beasiswa penuh.

Sasuke terkadang secara diam-diam meminta bantuan dari sahabat lamanya di Suna yang merupakan anak pemilik perusahaan Sabaku. Sabaku Gaara untuk bisa meminjamkannya uang untuk sekedar makan. Tentu saja Gaara memberikan banyak pada Sasuke setelah tahu apa yang terjadi. Hanya kepada Gaara, sahabat lebih mudanya itu Sasuke bisa menceritakan semuanya. Gaara benar-benar menjadi penolong bagi Sasuke saat ini.

Hinata POV

'Kenapa kaa-san? Kenapa? Hiks..'

Aku kembali menangis malam ini. Entah sudah berapa malam aku menangis. Rasanya begitu sakit saat tahu kaa-san memilih bersama Uchiha itu.

'Selama ini kupikir Uchiha itu baik. Tapi apa? AKU BENCI UCHIHA!'

Lagi-lagi aku hanya bisa menjerit dalam hati. Aku begitu menghormati keluarga Uchiha yang memang tampak sangat hebat dan harmonis. Aku berteman dengan Sasuke-nii dan Itachi-nii karena mereka sangat baik bagiku. Aku menganggap mereka sebagai nii-sanku tapi kenapa?

TOK TOK

"Hinata." Panggil Neji-nii dari luar kamar kecilku.

"Buka pintunya." Kata Neji-nii lagi. Aku sadar, kalau aku hanya bisa mengurung diri di kamar. Aku ingin keluar tapi begitu melihat bagaimana tou-san berjuang keras itu rasanya sangat tidak adil. Apa salah tou-sanku? Apa salah keluargaku sehingga harus terpecah seperti ini?

"Hinata." Kali ini suara tou-san. Suara yang dulunya tegas penuh wibawa itu terdengar serak, lemah menghadapi kejadian itu.

"Keluarlah." Hanya dengan perkataan tou-san itu aku berhambur ke pintu dan membukanya.

"Hiks…tou-san…hiks…" aku menangis di pelukan tou-san. Tou-san juga memelukku erat.

"Maafkan tou-san Hinata." Bisik tou-san tepat ditelingaku. Aku menggeleng dan semakin membenamkan kepalaku ke pelukan tou-san. Air mataku terus mengalir. Aku ingat bagaimana keluargaku dulu menghabiskan waktu bersama. Aku ingat bagaimana kaa-san dan tou-san memanjakan kami bertiga anaknya. Aku ingat bagaimana kami bisa tersenyum bersama. Tapi sekarang apa? Apa yang bisa kami lakukan? Kejadian itu merusak semua kenangan indah kami sebagai keluarga. Kejadian itu menghancurkan keluarga yang aku banggakan selama ini. Kenapa?

Hari itu habis hanya dengan tangisanku. Neji-nii pun tidak bisa melakukan apa-apa selain menatapku sedih. Hanabi hanya bisa menatapku heran. Aku balas memandang Hanabi yang memang belum mengerti.

Aku sadar aku tidak bisa menjadi Neji-nii yang kuat dan melindungi perasaanku dan Hanabi. Aku sadar aku bukan seorang nee-chan yang bisa dibanggakan Hanabi. Melihat Hanabi yang semakin penasaran akhirnya aku sadar. Aku menghapus air mataku dengan lenganku.

'Tidak, aku tidak boleh lemah. Aku akan tetap menjadi Hinata yang ceria demi tou-san, Neji-nii dan Hanabi. Mana bisa aku lemah begini sementara tou-san dan Neji-nii terus berjuang keras demi aku.' Tekadku dalam hati.

"Nee-chan kenapa menangis?" Tanya Hanabi polos.

Aku berpaling pada Hanabi dan berusaha mensejajarkan tinggiku dengannya.

"Ah ya. Kenapa ya? Mungkin kelilipan tadi." Jawabku asal sambil menepuk kepala Hanabi pelan.

"Huh? Nee-chan terlalu lama di kamar sih. Kamarnya kan berdebu." Jawab Hanabi dengan polosnya.

Aku tersenyum kecil.

'Ya.. demi keluargaku yang tersayang aku tidak akan bersedih lagi.'

AKu kembali menatap tou-san dan Neji-nii, mereka terlihat lega begitu aku bisa tersenyum lagi.

'Aku memang benci Uchiha itu tapi demi keluargaku aku akan terus berdiri tegak.'

Sasuke POV

"Benar hanya segitu?"

"Ya. Ini sudah lebih dari cukup. Arigato Gaara."

Hanya inilah yang bisa aku lakukan. Meminta pinjaman uang dari sahabat lamaku. Seorang Uchiha yang terkenal dengan harga dirinya yang tinggi meminjam uang hanya untuk makan? Yah itulah aku sekarang.

"Tak perlu formal begitu, Sasu-nii. Kau dan kaa-sanmu sudah kuanggap keluarga sendiri."

"Hn. Tapi bagaimana pun kau sudah membantuku Gaara."

"Itachi-nii bagaimana?"

"Aku belum menghubunginya."

"Dia pasti juga ingin membantu kan? Dia anikimu Sasu-nii bagaimanapun itu dia harus tahu."

Aku tersenyum tipis. Menertawakan diriku yang selalu saja dinasehati oleh Gaara.

"Hn."

"Penyakitmu itu tidak sembuh-sembuh. Kau sudah bertemu Hinata."

Mendadak raut wajahku berubah. Hinata. Bagaimana kabarnya sekarang? Ah, dia pasti sangat membenci Uchiha saat ini.

"Belum? Kau juga harus menemuinya."

"Tidak. Lebih baik tidak usah."

"Kau takut dia membencimu?"

"Hn. Tentu saja dia membenci Uchiha saat ini."

"Jika dia tahu ceritamu kuarasa dia tidak akan membencimu."

"Kalau begitu lebih baik dia tidak tahu."

"Jangan bodoh. Kau menyukai Hinata sejak lama."

"Hn. Bagaimana kau bisa tau bocah? Tidak perlu asal menebak."

"Bocah? Begitukah cara Sasu-nii memanggilku setelah aku menolong Sasu-nii? Aku yakin kau menyukai Hinata begitu juga dengan Hinata."

"Tidak perlu asal bicara. Aku juga tahu kau juga menyukai Hinata."

"Tidak."

"Ya.

"Tidak."

"Bocah."

Gaara akhirnya terdiam. Dengan wajah jengkel Gaara menghela nafas.

"Buat Hinata menyukaimu." Kataku.

"Dan membuat Sasu-nii menyesal."

"Aku tidak akan menyesal."

"Masa?"

"Hn."

Gaara kembali diam dan menatapku. Aku mengalihkan pandanganku kearah lain.

"Kurasa aku harus pulang." Aku beranjak dari kursiku.

"Sasu-nii." Panggil Gaara.

"Hn?"

"Jujurlah pada perasaan Sasu-nii sendiri."

Lagi-lagi. Seorang Uchiha dinasehati beberapa kali sekaligus kurang dari 30 menit. Jujur? Apa aku kurang jujur? Aku sudah jujur asal tahu saja. Jujur…

Gaara bangkit dan mendahuluiku pergi. Gaara lulus SMP saja belum tapi mampu menasehatiku. Aku iri padanya. Kalau saja semuanya tidak seperti ini. Kalau saja tou-san tidak se-brengsek itu. Kalau saja… kalau saja…

Gelap. Tentu saja ini hampir tengah malam. Aku berjalan seperti orang tersesat. Ya sebenarnya begitulah aku sekarang. Langkahku gontai. Aku lelah. Hatiku yang lelah. Melihat kaa-san yang terus menangis tiap malam, melihat kaa-san yang kehilangan nafsu makannya, melihat kaa-san yang tidak pernah lagi tersenyum hangat, melihat kaa-san yang hidup menderita.

TES TES

Hujan? Aku mendongakkan kepalaku menatap langit hitam itu. Membiarkan tetes demi tetes air membasahi wajahku.

"Haahh…." Aku menghela nafas panjang. Aku merasa sangat bersalah pada Hinata dan keluarganya. Sebagai anak dari orang yang sudah membuat begitu banyak penderitaan bagi keluarga Hyuuga tentu saja membuatku menghindar sejauh mungkin dari keluarga yang sudah kuanggap keluarga keduaku itu. Sebenarnya sudah berkali-kali Neji-nii mengubungiku tapi aku sengaja tidak menggubrisnya. Mana punya muka aku di depan keluarga Hyuuga?

CEKLEK

"Tadaima."

Aku membuka pintu rumahku. Sepi. Aku mengernyitkan dahiku.

"Kaa-san?"

Biasanya semalam apa pun aku pulang, kaa-san pasti akan menungguku. Aku mulai mencari kaa-san.

"KAA-SAN!"

Teriakku panik menemukan kaa-san tergeletak di depan kamarnya tidak sadarkan diri.

"KAA-SAN! "

Aku menunggu kaa-san dengan gelisah di ruang tunggu rumah sakit.

"Maaf apa anda keluarga dari pasien?" Tanya salah seorang dokter yang baru saja keluar dari ruang periksa kaa-san.

"Ha'i. Apa yang terjadi dengan kaa-san?" tanyaku.

"Silahkan ikut saya." Kata dokter itu. Aku mengikuti dokter perempuan itu dengan perasaan campur aduk. Dokter itu membawaku ke ruang kerjanya tak jauh dari ruangan kaa-san tadi.

"Dimana tou-sanmu?" Tanya dokter itu setelah kami duduk berhadapan.

"Kaa-san dan tou-san sudah bercerai. Saat ini hanya aku keluarga kaa-san." Jawabku.

Dokter itu menghela nafasnya mendengar jawabanku.

"Maafkan aku. Tapi kaa-sanmu menderita kanker otak dan aku tidak yakin apa kami bisa berbuat banyak."

Aku membulatkan mataku tak percaya. Selama ini kaa-san terlihat baik-baik saja. Tetapi kenapa malah sekarang dokter ini mengatakan kalau kaa-san menderita kanker otak?

"Tunggu. Anda pasti salah. Kaa-san sehat-sehat saja selama ini." Jawabku,

"Ya begitulah kanker. Ada yang terlihat sejak awal dan ada yang baru terlihat setelah menjadi parah seperti yang terjadi pada kaa-sanmu."

"Tapi itu tidak mungkin. Kaa-san hanya kelelahan saja. Tidak mungkin terkena kanker."

"Maaf, nak."

Aku kembali kehilangan pegangan. Setelah tou-san membuang kaa-san dan aku. Apa lagi sekarang?

Aku memandangi kaa-san yang terbaring lemah. Wajah kaa-san sudah mulai terlihat segar tidak sepucat tadi, tetapi tangannya masih dingin saat kugenggam. Aku duduk di samping tempat kaa-san berbaring. Memandangi selang infus yang baru pertama aku lihat secara langsung. Aku dan keluarga memang tidak pernah sakit parah sampai dirawat di rumah sakit seperti kaa-san sekarang.

Apa yang harus aku lakukan? Menelepon Itachi-nii? Ya hanya Itachi-nii satu-satunya yang harus tahu mengenai penyakit kaa-san. Tapi.. Aku dan kaa-san sudah sepakat tidak akan mengganggu Itachi-nii. Itachi-nii pasti sedang sibuk mengurus kuliahnya.

Aku menggenggam tanganku kuat-kuat.

"Umur kaa-sanmu tidak akan lama, nak. Bukannya aku menakut-nakutimu tapi paling lama kaa-sanmu hanya akan bertahan selama 6 bulan. Itu pun berarti ia harus menahan sakit yang luar biasa. Karena itu jika ada keluarga lain tentu saja akan sangat membantu menyemangati kaa-sanmu." Perkataan dokter tadi mengiang terus di telingaku.

"Gomen." Bisikku pada kaa-san yang masih tidak sadarkan diri.

"Gomenasai."

"Gomenasai kaa-san."

Akhirnya air mataku kembali menetes. Aku merasa gagal menjadi seorang anak. Aku belum bisa membahagiakan kaa-san. Aku belum bisa menghapus air mata yang setiap malam kaa-san keluarkan sejak tou-san mengkhianati kami.

"Kami-sama! Jangan ambil kaa-san! Kumohon…. Jangan ambil kaa-san…"

Yang bisa aku lakukan hanya mengangis keras di samping kaa-san. Memohon agar kaa-san tidak pergi meninggalkanku. Tapi apa artinya? Hanya tinggal masalah waktu sampai semuanya berakhir. Malam itu yang aku lakukan hanya menangis dan memohon pada Kami-sama.

TBC