Disclaimer: Masashi Kishimoto

Rated: T

Genre: Romance, Friendship

~Masih flashback 3 tahun lalu~

Normal POV

Suasana salah satu ruang inap di rumah sakit itu terasa sangat canggung. Dua orang laki-laki dengan status ayah dan anak ditambah seorang wanita yang sedari tadi hanya diam berdiri di samping seorang wanita lain yang berbaring lemah di kasur rumah sakit itu.

Beberapa menit yang lalu entah diberitahu oleh siapa Uchiha Fugaku datang ke ruang rawat Mikoto. Mengingat begitu banyak koneksi sang tou-san tentu saja akan sangat mudah bagi Fugaku mengetahui keberadaan Sasuke dan Mikoto.

"Kau tidak perlu menghubungi Itachi, dia punya kesibukannya sendiri sebagai calon penerus perusahaan." Perkataan Fugaku yang tentu saja terdengar sangat egois itu membuat Sasuke, anak bungsunya mengepalkan tangannya erat-erat.

'Kaa-san sedang sakit, dan KAU hanya peduli dengan perusahaanmu itu?!" batin Sasuke.

"Yah, aku sudah membayar biaya rumah sakit ini. Jadi tidak perlu khawatir." Kata Fugaku dengan enteng dan melenggang keluar dari kamar rawat itu diikuti wanita lain yang sudah menjadi istri barunya.

Sasuke menghela nafasnya berat. Menatap wajah kaa-sannya yang semakin pucat dengan berbagai alat bantu yang menempel di tubuh kurus kaa-sannya. Memang Sasuke sudah berjanji dengan kaa-sannya untuk tidak merepotkan Itachi tetapi perkataan tou-sannya tadi sangat keterlaluan menurutnya.

"Kaa-san, cepatlah sadar." Kata Sasuke sedih.

Sudah hampir 1 bulan Mikoto dirawat di rumah sakit itu. Setiap hari setelah pulang sekolah Sasuke menemani kaa-sannya berharap kaa-sannya akan bangun tapi sampai saat ini belum ada tanda-tanda yang berarti dari Mikoto.

Sasuke kembali mengingat perkataan dokter yang merawat kaa-sannya.

'Hanya dalam waktu 6 bulan. Sedangkan sekarang sudah hampir 1 bulan kaa-san belum sadar. Apa sampai seterusnya akan begini?' Tanya Sasuke pasrah dalam hati.

BRAK
"Sasuke!"

Terkejut dengan kedatangan seseorang secara tiba-tiba membuat Sasuke berjengit dan menoleh ke arah pintu.

"Nii-san?" Kata Sasuke tidak percaya.

Itachi, kakak dari Sasuke menelan ludahnya begitu melihat Mikoto. Peluh dengan jelas terlihat menetes dari pelipisnya. Itachi berjalan mendekati Sasuke dan Mikoto dengan tatapan tidak percaya.

"Apa yang terjadi?" Tanya Itachi mencoba untuk tetap tenang dihadapan adiknya.

Sasuke tidak menjawab dan hanya menunduk.

"Gomen." Jawab Sasuke pelan.

"Tidak. Ini bukan salahmu. Aku sudah tahu semuanya. Maaf baru datang sekarang Sasuke." Itachi membelai wajah pucat Mikoto pelan.

Diam.

Selama beberapa menit kedua kakak beradik itu hanya bisa terdiam.

"Kaa-san, maafkan aku. Aku baru tahu semuanya saat tiba kemarin. Maaf karena aku tidak bisa berada di samping kaa-san. Maafkan aku sudah menjadi anak yang tidak berbakti pada kaa-san." Kata Itachi sambil memnggenggam tangan Mikoto.

"Aku di sini kaa-san. Aku akan menjaga Sasuke mulai dari sekarang." Lanjut Itachi yang entah mengapa merasa kehadirannya sudah dinanti-nantikan oleh Mikoto yang masih belum sadarkan diri itu.

Baik Sasuke dan Itachi tidak ada yang bisa menahan diri mereka untuk tidak meneteskan air mata.

Tanpa mereka sadari Mikoto juga menereskan air matanya sebelum alat penanda detak jantung Mikoto menunjukkan gari lurus tanpa detak lagi dan mengeluarkan bunyi penanda yang membuat kedua bersaudara itu menangis histeris.

"KAA-SANN!" Teriak keduanya.

Proses pemakaman itu hanya dihadiri sedikit orang. Hanya ada Hyuuga Hiashi dan anak sulungnya Neji serta Sabaku Gaara yang hadir selain Itachi dan Sasuke. Fugaku tidak terlihat dalam pemakaman itu.

"Apa yang akan kau lakukan setelah ini Sasuke?" Tanya Gaara begitu upacara pemakaman itu selesai.

"Entahlah." Jawab Sasuke singkat. Pandangannya masih tertuju pada nama kaa-sannya yang tertulis dengan jelas di batu nisan itu.

"Sasuke akan ikut denganku, Gaara. Aku sudah janji pada kaa-san untuk menjaganya." Sahut Itachi.

"Ah,ya. Saya sangat berterima kasih kepada anda Hyuuga-san yang sudi hadir di pemakaman kaa-san." Kata Itachi kepada Hiashi.

"Tidak perlu formal Itachi. Kau harus kuat ya. Kalau ada apa-apa kau bisa menghubungiku meski mungkin bantuanku tidak begitu berarti." Jawab Hiashi.

"Tidak..tidak. Anda sudah sangat baik pada keluarga saya. Terima kasih banyak." Jawab Itachi sambil menundukkan badannya.

Hiashi memegang kedua bahu Itachi dan menatap langsung ke mata Itachi.

"Aku bukan tou-sanmu Itachi tapi dengarlah, kau anak yang baik dan berbakti. Suatu saat kau akan lebih sukses dari tou-sanmu dan membuat Mikoto bangga. Jadilah contoh yang baik bagi Sasuke. Kalau kalian berdua butuh sosok keluarga, datanglah ke rumahku. Kalian sudah kuanggap anakku sendiri." Kata Hiashi.

"Ha'I. Arigatou." Jawab Itachi.

Di belakang Itachi dan Hiashi, Neji berbicara dengan Sasuke dan Gaara.

"Kau yakin tidak ingin bertemu Hinata?" Tanya Neji kepada Sasuke.

"Tidak. Hinata pasti sangat kecewa padaku." Jawab Sasuke.

"Itu bukan salahmu kan? Sudahlah temui saja Hinata." Kata Gaara berusaha membujuk Sasuke agar mau menemui Hinata.

"Sudah kubilang, tidak." Jawab Sasuke lagi.

"Keras kepala." Sindir Gaara.

"Baiklah kurasa sudah cukup. Terima kasih atas kehadiran kalian. Maaf jika acara pemakaman ini hanya berlangsung sederhana." Kata Itachi yang mengakhiri pertemuan singkat Hyuuga, Sabaku, dan Uchiha itu.

"Sasuke, ayo pulang." Kata Itachi setelah tamu yang sedikit itu pergi.

Sasuke hanya diam. Matanya masih memandangi nisan Mikoto.

"Kaa-san akan sedih kalau kau tidak mau pulang." Lanjut Itachi sambil mengacak rambut Sasuke.

"Hn. Aku bukan anak kecil nii-san." Sahut Sasuke.

Itachi terkekeh kecil, lalu memandangi langit oranye itu.

"Sasuke, aku akan membawamu ke Jerman."

"Bukan ke Inggirs?"

"Yah, kurasa sekarang kita tidak ada hubungan sama sekali dengan tou-san jadi.. mungkin lebih baik kita mengejar cita-cita kita sendiri kan?"

"Cita-cita? Itachi-nii serius mau jadi dokter?"

"Ya. Aku ingin menyembuhkan banyak orang seperti kaa-san kurasa. Lagipula belum terlambat bagiku untuk mengulang kuliah." Kata Itachi sambil tersenyum kecil.

"Kalau kau Sasuke?"

"Entahlah. Tapi Jerman pun bagus kurasa." Jawab Sasuke seadanya.

~Flashback 2 tahun yang lalu~
Hinata POV

Aku memulai hariku dengan membuat sarapan bagi Neji-nii dan Hanabi. Hari ini kembali terasa sangat sepi. Setelah pemakaman tou-san 3 hari yang lalu. Kehidupanku, Neji-nii dan Hanabi memang tidak banyak berubah mengingat tou-san sendiri hampir 6 bulan dirawat di rumah sakit.

Kematian tou-san tidak akan menjadi alasanku untuk kembali seperti anak manja yang ditinggal kaa-sannya setahun yang lalu. Aku adalah seorang Hyuuga yang kuat. Aku sudah berjanji pada tou-san untuk menjadi contoh yang baik bagi Hanabi.

"Sarapan sudah siap!"

"Ohayou Hime."

"Ohayou Neji-nii."

"Yatta makan.."

"Hehehe… pela-pelan Hanabi-chan."

Ya beginilah keseharian keluargaku dimulai dengan makan bersama, sekolah, mengerjakan tugas sekolah maupun rumah, dan diakhiri dengan makan bersama lagi.

Untungnya baik aku maupun Hanabi tidak ada yang sampai depresi setelah kematian tou-san. Tentu saja kami sedih tetapi demi tou-san juga kami memilih melangkah maju.

"Hime, hari ini kau pulang sekolah jam berapa?"

"Hm? Jam 2. Ada apa Neji-nii?"

Bukannya menjawab pertanyaanku Neji-nii hanya mengedipkan matanya ke Hanabi sedangkan Hanabi terkikik kecil.

"Kalian merencanakan sesuatu?" tanyaku curiga.

"Ra-ha-si-a. Hihihi…" jawab Hanabi.

Aku memicingkan mataku penasaran dengan apa yang akan dilakukan Neji-nii dan Hanabi.

"Sudah..sudah, berangkat sana. Nanti terlambat." Kata Neji-nii.

"Ha'i." Jawabku dan Hanabi bersamaan.

Aku dan Hanabi berangkat bersama ke sekolah. Sekolah kami sama hanya terpisah gedung saja.

"Eh, itu Hyuuga pendiam itu."

"Seram sekali kalau jalan menunduk mana rambutnya panjang."

Ya, jangan kaget dengan respon dari teman-teman seseolahku. Aku sudah berhasil membuat diriku terkenal tentu saja.

Di mata Neji-nii dan Hanabi aku adalah Hinata yang ceria, murah senyum, dan cerewet. Di mata teman-teman-teman di sekolah aku adalah Hinata yang pendiam, misterius, dan tidak pernah bicara jika tidak ditanya. Di mata guru-guru di sekolah aku adalah Hinata yang menjadi penerus Hyuuga Neji, yaitu tambang medali yang sangat berguna untuk menambah citra baik sekolah.

Kejadian 2 tahun lalu itu memberi pelajaran berharga bagiku. Tidak ada yang bisa dipercaya selain Neji-nii dan Hanabi.

"Hinata.." Aku menoleh mendengar namaku dipanggil,tapi tidak ada satu orang pun yang menghadap ke arahku jadi aku putuskan untuk terus berjalan.

Setelah kejadian itu aku tidak bertemu dengan Gaara salah satu sahabat kecilku. Ah, untuk apa juga aku bertemu dengannya? Tidak ada yang bisa dipercaya lagi kan?

Pelajaran di sekolah berlangsung seperti biasa. Tidak ada yang istimewa. Aku berjalan pulang sendiri tidak seperti siswa-siswi lain yang sibuk bercanda gurau dengan temannya.

Hanya di rumah saja, aku merasa cocok dan nyaman.

"Tadaima." Kataku begitu memasuki rumah. Sepi. Aneh seharusnya Hanabi sudah pulang dan seperti biasanya akan menyambutku dengan hebohnya.

"Hanabi?" panggilku. Aku masuk lebih dalam mencari Hanabi.

"Hana-"

DOR DOR

"Otanjoubi omedetto!"

Aku hanya diam terpaku, mendengar ucapan Neji-nii dan Hanabi. Keduanya tersenyum senang berhasil memberi kejutan bagiku.

"Aaa Nee-chan.. jangan diam saja." Hanabi yang tidak sabar dengan diamnya aku, menarik tanganku dan menyuruhku duduk di salah satu kursi meja makan.

Di hadapanku ada kue tart besar dengan hiasan dan tulisan selamat untukku. Tak lupa lilin dengan angka 15 yang menyala siap untuk ditiup.

"Nee-chan, jangan lupa buat permintaan sebelum ditiup." Kata Hanabi mengingatkan.

Aku mengangguk antusias dan membuat permohonan, sebelum akhirnya meniup lilin itu.

"Apa permohonan nee-chan?"

"Ra-ha-si-a." Jawabku mengikuti perkataan Hanabi tadi pagi.

"Huh, pelit!"

"Hahaha… setiap orang pasti punya permintaannya sendiri Hanabi." Kata Neji-nii.

"Nah..nah.. ayo foto dulu." Neji-nii menyiapkan kamera di hadapan kami, mengaturnya agar dapat memfoto kami bertiga secara otomatis.

"Siap ya.. 1..2…3 Senyum!"

JEPRET

Ya inilah keluargaku. Keluarga Hyuuga seberapa dalamnya kami jatuh, kami pasti akan bangkit dan siap menerima apa yang ada di depan kami. Apapun itu, karena kami bertiga tahu kami tidak sendiri. Meski tou-san tidak ada lagi, tapi aku yakin di sana tou-san masih mengawasi kami bertiga.

TBC