Gomenasai… sebenarnya sudah agak lama chapter ini jadi, tapi agak susah ya masuk ke ffn. Apa reader juga begitu? Padahal buka web lain bisa tapi kalau buka ffn pasti connection not found.#curhat. Jadi ini harusnya sama kemarin di post malah nyantol 1 chapter. Untung malam ini bisa ^^.
Ah, ya jangan pelit-pelit review yaa.. masih merasa banyak yang kurang *bow*. Sekali lagi gomenasai…
Selamat membaca ^^
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Rated: T
Genre: Romance, Friendship
Normal POV
TENG TENG
Bel tanda pulang sekolah baru saja berbunyi di salah satu sekolah elit di Konoha. Tidak membuang waktu, siswa-siswi sekolah itu berebut keluar dari kelas mereka kecuali satu kelas. Seolah terpaku dengan apa yang diajarkan sensei kelas itu atau terpaku pada sosok sensei itu sendiri, penghuni kelas 12-3 tidak ada yang beranjak dari kursi mereka.
Hampir semua siswa (siswi terutama) memperhatikan dengan serius ke sensei mereka yang memang berwajah diatas rata-rata itu. Kecuali satu siswi yang dari awal pelajaran tadi malah menundukkan kepalanya tidak ingin memandang sensei di depan kelasnya.
"Kurasa cukup sampai di sini. Sudah lewat 10 menit juga dari jam pulang." Kata sensei itu.
"Yaaahh…" tidak biasanya jika sensei yang satu ini mengajar, belajar di sekolah adalah hal sangat menyenangkan bagi sisiwi di kelas.
"Hyuuga, ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Jangan pulang dulu, yang lain bisa pulang." Lanjut sensei itu lagi.
Sedangkan yang dipanggil hanya menegangkan bahunya, terkejut. Hanya dia yang ingin pulang tetapi kenapa malah dia yang disuruh tinggal? Tanyanya dalam hati.
Setelah kelas itu sepi, Hyuuga Hinata berjalan menuju ke sensei-nya masih berdiri di depan kelas menunggunya. Hinata hanya menunduk saat sampai di depan sensei-nya itu. Sedangkan sang sensei terlihat bingung memulai pembicaraan.
"Sudah lama ya, Hinata." Kata sensei itu akhirnya.
Diam. Tidak ada satu kata pun terucap dari Hinata. Hinata malah mengalihkan pandangannya ke arah lain dan dengan jelas menunjukkan ketidaksukaannya pada sensei baru itu.
"Kau jadi pendiam. Tadinya kupikir aku salah orang."
"…."
"Kau sangat banyak berubah."
"Kau pikir karena siapa?" Bisik Hinata pelan, sangat pelan tapi sensei di depannya mampu mendengar perkataannya. Sensei itu mengepalkan tangannya erat-erat.
"Karena aku? Apa kau tidak salah? Bukankah itu salah kaa-sanmu sendiri? Cih, begitu ternyata ya keluarga Hyuuga yang terpandang itu. Untunglah perusahaan kebanggaanmu itu sudah tidak ada lagi." Kata sensei itu dengan nada mengejek.
Hinata membelalakan matanya mendengar ejekan dari sensei yang tidak jauh lebih tua darinya itu.
"Ap- Semua itu salahmu dan keluargamu, UCHIHA!" Tanpa basa-basi Hinata akhirnya mampu memaki orang terlebih sensei-nya sendiri, lalu berlari keluar dari kelasnya.
Sedangkan sensei yang ditinggal itu menyandarkan tubuhnya ke meja dan meremas rambutnya frustasi.
"Bencilah padaku Hinata." Bisik sensei muda itu.
BRAK
Tanpa sensei itu sadari ternyata ada seorang siswa lain yang ternyata mendengar percakapannya dengan Hinata. Siswa berambut merah dari kelas sebelah yang sangat dikenal oleh sensei baru itu.
Menunjukkan ekspresi marahnya siswa ber-nametag Sabaku Gaara itu menggebrak pintu dan berdiri tepat di hadapan sensei itu.
"Lihat siapa yang berubah?! Kau atau Hinata, hah?!" Tanya atau lebih tepatnya bentak Gaara. Tidak lagi memperhitungkan status sebagai guru-murid, Gaara dan Sasuke saling lempar deathglare masing-masing.
"Itu tidak ada urusannya denganmu, Gaara. Sudah kubilang berapa kali, kalau kau mau rebut dia!" balas Sasuke tidak kalah keras.
"Dan berapa kali harus kukatakan, kalian saling menyukai!"
"Apa kau tidak lihat tadi, hah?! Dia sudah membenciku! Ambil dia dan buat dia melupakanku!"
"Dengar! Apa yang terjadi itu bukan salahmu dan berhenti bersikap seolah kau membenci Hinata!"
"Kau yang masih bocah mengerti apa, hah?! Menyuruhku jujur sementara kau sendiri?! Sadar atau tidak kau juga sama pengecutnya denganku!"
"Ck!"
Tanpa membalas perkataan Sasuke, Gaara memilih pergi dari kelas kosong itu.
Hinata POV
"Tadaima."
"Okaeri. Eh? Nee-chan kenapa?"
"Tidak apa-apa. Neji-nii belum pulang?"
"Belum. Nee-chan habis menangis?"
"Hanya kelilipan."
Aku tidak menghiraukan tatapan bingung Hanabi dan berjalan menuju kamarku.
CEKLEK
Aku menutup pintu kamarku dan bersandar di pintu itu.
"Karena aku? Apa kau tidak salah? Bukankah itu salah kaa-sanmu sendiri? Cih, begitu ternyata ya keluarga Hyuuga yang terpandang itu. Untunglah perusahaan kebanggaanmu itu sudah tidak ada lagi."
Kata-kata dari Uchiha it uterus terngiang di telingaku.
'Itu salah keluargaku? Yang benar saja! Kalian yang menghancurkan keluargaku! Kalian yang merampas keutuhan keluargaku! Bisa-bisanya kau menyalahkan keluargaku!' Jeritku dalam hati.
"Aku benci Uchiha." Kataku pelan.
Sebisa mungkin aku tidak menunjukkan rasa benciku ini ke Neji-nii maupun Hanabi. Aku hanya tidak mau mereka khawatir padaku yang belum bisa lepas dari masa lalu.
Aku sebenarnya ingin bersikap biasa saja, tapi rasanya selalu begini saat mengingat bagaimana susahnya kami saat kaa-san tidak ada terutama saat perusahaan kami dihancurkan oleh Uchiha itu.
TOK TOK
"Nee-chan?" suara Hanabi sedikit mengagetkanku.
"Ada apa?" tanyaku.
"Ada teman nee-chan datang."
Teman? Rasanya aku tidak punya teman di sekolah. Siapa? Apa Uchiha itu lagi?
Dengan rasa takut aku langsung membuka pintu kamarku dan berjalan cepat ke arah ruang tamu. Aku terkejut mendapati seseorang yang tampak tidak asing bagiku, tapi siapa? Kenapa aku bisa lupa? Rambutnya yang berwarna merah, kulitnya yang pucat.
"Hinata." Panggilnya.
"Ga- Gaara?" jawabku tidak percaya.
Gaara sedikit terkejut mendengarku memanggil namanya. Kenapa dia memakai seragam yang sama denganku? Apa kami satu sekolah?
"Kukira kau sudah lupa padaku." Kata Gaara kemudian diikuti senyum tipisnya.
"Kita satu sekolah?" tanyaku ragu.
"Memang sudah lupa rupanya." Jawab Gaara lagi.
"Aku tidak sadar." Kataku sambil menunduk.
"Selama 3 tahun? Meski tidak pernah sekelas seharusnya kau tidak begitu cepat melupakan teman lamamu."
"Ehh? Salah sendiri tidak menyapaku."
"Sudah. Aku sudah mencoba memanggil namamu. Kau menoleh saja tidak."
"Eto.."
"Kau jadi sering menunduk, karena itu kau tidak sadar jika aku ada di dekatmu."
"Yah.. begitulah."
"Kenapa kau begitu berubah?"
Aku mengalihkan pandanganku ke arah lain saat mendengar pertanyaan Gaara.
"Tidak mau cerita, huh? Ah mungkin memang kita sudah bukan teman lagi ya. Kalau begitu aku pulang dulu." Kata Gaara setelah menungguku yang tidak menjawab pertanyaannya.
Aku secara tidak sadar memegang tangan Gaara, menahannya yang sudah mulai melangkah.
"Tunggu! Bukan begitu sungguh! Aku masih menganggapmu temanku." Kataku.
"Teman? Teman yang bahkan selama ini berada di dekatmu? Apa kau yakin Hinata?" Tanya Gaara lagi.
"Iya. Kumohon, kau masih kuaggap temanku. Maafkan aku karena tidak sadar kalau kau ada di dekatku selama ini."
"Jujur saja, aku yang jadi tidak mengenalmu."
Aku memandang Gaara saat mendengar perkataannya.
"Kau begitu berbeda, tadinya kupikir aku salah orang. Kemana Hinata yang selalu ceria dulu?"
"…."
"Kemana Hinata yang selalu mengajakku dan Sasu-nii bermain bersama?"
"Jangan sebut nama orang itu lagi!"
"Kenapa? Apa salahnya?"
"Salahnya? Salahnya karena sudah menghancurkan keluargaku!"
"Apa Sasu-nii pelakunya?"
Aku terdiam, tidak bisa menjawab pertanyaan Gaara.
"Apa Sasu-nii yang membuat keluargamu hancur? Apa Sasu-nii yang membuat perusahaanmu bangkrut?"
Aku menelan ludahku mendengar pertanyaan Gaara.
"Kemana jawaban yakinmu tadi, Hinata?"
"…"
"Baiklah kurasa hanya ini saja tujuanku datang kesini. Aku tidak marah kau melupakanku, ya mungkin setelah ini kita bisa kembali berteman jika kau mau. Sampai jumpa besok." Kata Gaara lalu berjalan keluar dari rumahku.
"Yah, sudah pulang nee-chan? Cepat sekali." Kata Hanabi yang entah muncul darimana saat melihat Gaara pulang.
"Lho? Nee-chan kenapa lagi?" Tanya Hanabi lagi saat melihatku yang hanya diam saja.
"Tidak apa-apa. Nee-chan istirahat dulu di kamar ya." Kataku pada Hanabi dan kembali masuk ke dalam kamarku.
Aku merebahkan diri di atas kasurku. Kedatangan dan pertanyaan Gaara tadi mengejutkanku. Apa sebegitu berubahnya aku sampai dengan sahabat lamaku bisa terlupakan begitu saja? Selain itu sebenarnya apa tujuan Gaara bertanya tadi? Kenapa Gaara malah membela Uchiha itu. Tapi… pertanyaan tadi ada benarnya.
Kenapa aku menyalahkan Sasu-nii atas kejadian itu. Tapi Sasu-nii tadi pun sudah keterlaluan. Untuk apa dia menjadi sensei di sekolahku? Untuk apa dia memanggilku dan menghina keluargaku? Terserahlah. Yang aku yakin sekarang aku sangat membenci Uchiha! Semua Uchiha tidak peduli itu Sasu-nii maupun Itachi-nii. Bagiku mereka sama saja. Uchiha yang menghancurkan semua yang aku miliki.
TBC
