Disclaimer: Masashi Kishimoto

Rated: T

Genre: Romance, Friendship

Sasuke POV

"Sasuke, kau yakin tidak ikut pindah?" Tanya Itachi-nii begitu melihatku berjalan ke arah dapur.

"Tidak." Jawabku singkat. Aku membuka kulkas mencari sesutau yang bisa menghilangkan rasa hausku.

"Hmm.. Bagaimana dengan Hinata kau sudah bertemu dengannya kan?" pertanyaan dari Itachi-nii membuat gerakanku berhenti. Bukannya menoleh aku malah memilih menundukkan kepalaku.

"Masih belum berani bicara?" tebak Itachi-nii.

Aku menghela nafas dan meneruskan gerakanku meminum jus tomat dari botolnya.

"Sasuke, sejak kapan kau jadi pengecut begini?" Tanya Itachi-nii lagi.

"Sejak 'dia' mengacaukan semuanya." Jawabku.

"Sampai kapan kau mau terus begini?"

"Kau sendiri tidak berani muncul di hadapan Hinata."

"Bagaimana kalau aku berani, hm? Aku hanya merasa akan lebih baik kalau kau yang datang padanya. Lagipula keluarga Hyuuga juga sangat menerima kita."

"Tidak dengan Hinata."

Mendengar jawabanku bukannya membalas Itachi-nii malah tertawa.

"Hahaha…. Kau seperti anak remaja yang sedang jatuh cinta, Sasuke. Apa bertemu Hinata menjadi ketakutanmu sekarang?"

"Ck." Tanpa mempedulikan Itachi-nii aku memilih kembali ke kamarku melanjutkan pekerjaanku sebagai seorang guru.

BLAM

Aku mulai memeriksa hasil ulangan anak didikku. Menjadi seorang guru yah? Sebenarnya aku tidak tau kenapa aku memilih menjadi seorang guru. Aku hanya sarjana lulusan menejemen yang justru terdampar menjadi seorang guru matematika. Entah bagaimana begitu tiba kembali di Konoha setelah pergi menimba ilmu di Jerman, aku tertarik dengan SMA Konoha. Guru, profesi yang mengharuskan aku berhubungan langsung dengan orang lain tentu saja bukan minatku sama sekali. Tapi ya sudahlah toh, ini bisa menjadi pengalaman yang bagus kurasa.

"Haahhh…."

Aku kembali menghela nafas panjang, begitu teringat akan seseorang. Seorang anak perempuan yang sekarang sudah menjadi gadis cantik yang selalu ada di pikiranku. Jika saja aku tidak sepengecut ini. Jika saja 'dia' yang adalah tou-sanku tidak memulai semua ini, aku dan gadis itu pasti sudah menjadi sepasang kekasih yang serasi. Tapi apa sekarang? Gadisku berubah begitu banyak.

'Heh! Apa yang kau pikirkan Sasuke! Gadismu?! Jangan bermimpi! Melihatmu saja dia tidak sudi sekarang!' kataku dalam hati.

Yah, berkat kebodohanku yang malah mengejeknya gadisku akan semakin membenciku. Aku meremas tanganku mengingat bagaimana aku berkata dengan kejam padanya. Lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum sinis, menertawakan diriku sendiri yang semakin hari semakin bodoh.

"Sasuke-sensei! Aku tidak mengerti yang ini."

Hari-hariku sebagai guru berjalan seperti biasa. Misalnya saat ini, saat istirahat yang seharusnya tenang di ruang guru menjadi ramai oleh banyaknya siswi yang berebut untuk bisa bertanya padaku.

"Hn." Aku dengan berusaha sabar menjawab satu persatu pertanyaan mereka hingga jam istirahat habis hanya untuk membantu siswi-siswi itu.

"Anda pasti lelah Sasuke-sensei." Kata salah seorang guru yang duduk tepat di samping mejaku begitu jam istirahat berakhir.

"Ya, begitulah." Jawabku singkat.

"Semenjak ada Sasuke-sensei, ruang guru selalu sesak berisi murid." Kata guru dengan bekas luka melintang di wajahnya itu.

"Siswi tepatnya." Sambung seorang guru lain dengan masker yang selalu menutupi bagian hidung dan mulutnya.

SREK

"Permisi, sensei."

Sontak kami bertiga menoleh kea rah pintu. Ah, itu dia gadisku. Gadis yang begitu kulukai belakangan ini.

"Ano, saya diminta Yamato-sensei mengambil map dimejanya." Katanya pelan sambil menunduk setelah mata kami bertemu.

"Silahkan. Bagaimana kabar aniki-mu, Hinata?"

"Ah, Neji-nii baik-baik saja. Neji-nii juga sering bertanya tentang Iruka-sensei dan Kakashi-sensei."

"Sampaikan salamku untuknya."

"Ha'i."

Aku mengamati gadisku dengan seksama. Mataku tidak lepas sedetikpun dari sosoknya. Meski kau tidak akan memandangku, Hinata. Tapi percayalah aku akan selalu mengawasimu mulai dari saat ini.

"Permisi sensei."

Tanpa aku duga kau malah memandangiku sebelum keluar dari ruang guru. Aku kaget tentu saja. Sebelumnya kau bahkan tidak mau memandangku.

"Sasuke-sensei. Anda masih muda tapi tetap saja, hubungan guru-murid itu dilarang." Kata Kakashi-sensei yang entah mengapa menyadari kalau aku memandangi Hinata dengan pandangan berbeda.

"Aku tahu." Jawabku.

"Keluarga Hyuuga dan Uchiha memang selalu mengejutkan." Lanjut Kakashi-sensei.

"Tolong jangan bahas itu di sini." Jawabku merasa tersinggung dengan perkataan Kakashi-sensei dan merapikan bukuku kemudian keluar dari ruang guru.

"Cukup sampai disini. Silahkan pulang."

Hari ini berakhir seperti biasa. Aku sengaja menunggu semua murid keluar dari kelas baru meninggalkan kelas. Langit sudah berwarna oranye saat aku berjalan melewati lorong sekolah.

"Sasu-nii."

Aku menoleh mendengar panggilan yang tidak asing itu.

"Gaara, sudah kubilang aku sensei-mu di sekolah."

"Ini sudah lewat jam sekolah."

"Meski begitu ini masih di sekolah."

Gaara mengedikkan bahunya, lalu mendekatiku.

"Aku sudah putuskan untuk mengambil Hinata. Tidak apa-apa,kan?" kata-kata Gaara membuatku terkejut, tapi dengan cepat aku mengubah ekspresiku menjadi tidak tertarik.

"Aku sudah bilang rebut dia,kan?" kataku lalu mulai melanjutkan langkahku.

"Jangan menyesal, Sasu-nii." Kata Gaara sebelum dia juga melanjutkan langkahnya.

Aku membereskan barang-barang diatas meja guruku dan bergegas pulang ke rumah. Perjalanan dari rumah ke sekolah tidak begitu jauh, mengingat memang aku dan Itachi-nii memilih rumah di dekat tempat kerja kami berdua yang juga berdekatan. Itachi-nii berhasil mewujudkan cita-citanya sebagai seorang dokter dan sekarang Itachi-nii menjadi seorang dokter ahli penyakit dalam. Itachi-nii berusaha dengan keras menyembuhkan orang-orang yang bernasib sama dengan kaa-san dulu.

CEKLEK

Aku menyalakan lampu dan berjalan ke arah dapur. Jika Itachi-nii sedang lembur seperti sekarang, maka ini adalah giliranku menyiapkan makan malam.

Tidak sampai 30 menit aku berhasil menyajikan beberapa macam makanan yang tentunya berbahan dasar tomat. Aku memilih mandi sebelum makan malam.

Perkataan Gaara tadi membuatku gelisah. Betapa bodohnya aku. Aku yang menyuruh Gaara merebut Hinata tetapi sekarang aku malah memikirkan Hinata. Aku membuat kesalahan lagi. Bagaimana mungkin aku menyerahkan gadis yang kusukai. Bodoh! Setelah dengan sengaja melukai Hinata sekarang aku malah mengatakan kalau aku menyukainya. Yang benar saja Sasuke!

TOK TOK

Aku segera mengeringkan tubuhku dan memakai baju begitu mendengar seseorang mengetuk pintu. Aku membuka pintu itu dan kembali dikejutkan oleh tamu yang datang.

"Sasuke, sudah lama tidak bertemu." Kata orang itu.

"Neji-nii? Silahkan masuk." Aku menggeser tubuhku memberi jalan untuk salah satu sahabat baikku dulu.

"Itachi belum pulang?" Tanya Neji-nii.

"Belum. Itachi-nii lembur hari ini." Jawabku.

"Ada apa Neji-nii datang kesini?" Tanyaku setelah mempersilahkan Neji-nii duduk.

"Langsung saja, Sasuke. Aku ke sini untuk membahas tentang Hinata."

Aku terdiam mendengar kata-kata Neji-nii.

"Beberapa hari yang lalu Gaara datang ke rumah. Kurasa dia berbicara pada Hinata mengenaimu dan Itachi."

Aku mendengarkan Neji-nii dengan serius.

"Hinata memang masih belum bisa menerima kejadian itu. Tapi aku harap kau tidak memasukkannya kedalam hati. Kau tidak salah sama sekali Sasuke."

"Aku tahu."

"Kalian dulunya sangat dekat. Aku yakin kalian bisa kembali dekat seperti dulu."

"Hn."

"Kau tidak berubah Sasuke. Hahaha…"

CEKLEK

"Hm? Neji! Sudah lama sekali."

Itachi-nii yang baru saja masuk ke dalam rumah langsung menyapa Neji-nii. Keduanya berjabat tangan.

"Lihat siapa yang sudah menjadi dokter."

"Haha… kau sendiri juga sudah berhasil membangun usaha sendiri,kan?"

"Yah hanya usaha kecil-kecilan."

"Kecil? Ah.. memang keluarga Hyuuga selalu rendah hati ya."

"Hahaha… bisa saja kau."

"Ada apa ini? Tumben kau mampir."

"Aku hanya perlu berbicara sedikit dengan Sasuke."

"Begitu? Tadi aku juga bertemu Hinata."

"Apa?" tanyaku ke Itachi-nii.

"Iya. Tadi di depan rumah sakit aku bertemu dengan Hinata. Dia sangat cantik sekarang ya." Kata Itachi-nii sambil mengedipkan satu matanya menggodaku.

"Ah.. Jangan begitu Itachi aku tidak mau punya adik ipar yang seusia denganku." balas Neji-nii sambil tersenyum kecil.

"Kupikir Hinata tidak akan menyapaku. Tapi malah dia yang mulai menyapa duluan. Memang dia jadi pendiam ya."

"Iya semenjak kejadian itu dia menutup diri pada orang lain. Kalau dia menyapamu duluan itu salah satu hal mengejutkan, tapi baguslah."

Aku hanya terdiam mendengar Itachi-nii dan Neji-nii berbicara. Hinata menyapa Itachi-nii? Ia bahkan tidak mau menatapku secara langsung.

"Ya sudahlah. Kalau begitu aku pamit dulu."

"Cepat sekali, Neji."

"Yah, dua adikku yang manis menanti di rumah. Hahaha…"

"Enak ya punya adik perempuan."

Itachi-nii mengantar Neji-nii sampai ke depan pintu rumah, sedangkan aku masih tenggelam dalam pikiranku sendiri.

Keesokan harinya, jam pertama mengajar adalah kelas Hinata. Aku memasuki ruang kelas seperti biasa, namun kali ini Hinata melihat ke arahku meski tidak memandang mataku langsung setidaknya ia sudah tidak menunduk lagi.

Hanya merasa dilihat oleh Hinata malah sekarang aku yang tidak nyaman mengajar di depan kelas. Akhirnya untuk menutupi perasaan itu aku hanya memberi murid-murid itu tugas dan malah tidak menjelaskan sama sekali.

Saat aku melihat Hinata, Hinata sedang memandang keluar jendela. Penasaran aku ikut bangkit memutari kelas dan akhirnya ikut memandang keluar jendela.

Ada seseorang yang diperhatikan Hinata. Seseorang yang juga tidak asing bagiku tentu saja. Siapa lagi kalau bukan Gaara. Hinata memandangi Gaara yang sedang mengikuti pelajaran olahraga.

"Ehem. Saya yakin papan tulis itu di depan bukan di luar sana." Kataku mencoba mengalihkan pandangan Hinata dari Gaara.

Hinata yang terkejut dengan keberadaanku hanya menunduk.

"Gomen, sensei." Bisiknya pelan lalu kembali menjawab soal-soal yang kuberikan.

Kenapa aku malah dengan sengaja mengalihkan pandangannya? Aku merasa tidak suka saat Hinata justru melihat Gaara. Gaara apa kau serius dengan perkataanmu? Lagi-lagi aku merasa menyesal sudah membiarkan Gaara merebut Hinata dariku.

TBC

Gomen kalau ada yang mengira author enggak niat update mungkin ini terdengar seperti alasan tapi memang agak susah untuk bisa menyambung ke web ffn. Fic ini sudah selesai sampai chapter ini dari kemarin-kemarin tetapi baru bisa di post sekarang. Sekali lagi gomen kalau masih belum bisa memuaskan reader tapi author akan berusaha lebih keras untuk bisa membuat fic yang bisa memuaskan reader semua. Arigatou.. *bow*