Disclaimer: Masashi Kishimoto

Rated: T

Genre: Romance, Friendship

Hinata POV

"Hinata bisa tolong ambilkan map di meja sensei?"

Aku mendongak mendapati Yamato-sensei berdiri tepat didepanku. Jam istirahat baru saja berakhir dan sebentar lagi memang pelajaran Yamato-sensei. Aku hanya mengangguk dan berbalik menuju ruang guru.

CEKLEK

"Permisi, sensei." Kataku begitu memasuki ruang guru. Aku melihat Iruka-sensei, Kakashi-sensei dan… Sasue-sensei yang sepertinya sedang berbicara sebelum aku datang.

"Ano, saya diminta Yamato-sensei mengambil map dimejanya." Kataku pelan. Aku langsung menunduk begitu sadar kalau Sasuke-sensei memandang ke arahku.

"Silahkan." Mendapat persetujuan aku langsung berjalan menuju meja Yamato-sensei.

"Bagaimana kabar aniki-mu, Hinata?" Tanya Iruka-sensei. Neji-nii memang dulunya juga murid di sini.

"Ah, Neji-nii baik-baik saja. Neji-nii juga sering bertanya tentang Iruka-sensei dan Kakashi-sensei." Jawabku.

"Sampaikan salamku untuknya." Kata Iruka-sensei lagi.

"Ha'i." Jawabku.

Aku memegang map yang dimaksud Yamato-sensei dan berjalan ke arah pintu keluar.

"Permisi sensei." Pamitku sebelum membuka pintu.

Aku melemparkan pandanganku ke Sasuke-sensei yang ternyata masih memandangiku. Mata kami bertemu sejenak tapi kemudian aku langsung keluar dari ruang guru.

Aku menggeleng pelan begitu sampai di luar.

'Ingat apa yang dikatakannya Hinata. Dia yang salah tapi masih bisa menyalahkan keluargamu. Orang seperti itu tidak perlu dianggap.' Kataku pada diriku sendiri.

TENG TENG

Jam sekolah akhirnya selesai. Aku membereskan barang-barangku. Sesekali aku memperhatikan teman sekelasku yang asik bersenda gurau dengan yang lainnya. Aku sebenarnya sedikit iri dengan mereka. Tapi aku lebih tidak mau lagi kalau memiliki seorang sahabat bahkan yang sudah dianggap saudara tapi malah menyakitiku dan menghancurkan semuanya. Aku masih terlalu takut untuk percaya pada orang lain.

Sekolah sudah sepi saat aku sampai di depan gerbang.

"Hinata."

Mendengar namaku dipanggil, aku menoleh ke belakang.

"Gaara?"

"Mau pulang bersama?" ajak Gaara. Aku hanya terdiam.

"Anggap saja aku masih teman lamamu." Kata Gaara kemudian.

"Iya." Jawabku canggung.

Aku sangat ingin bisa akrab lagi dengan Gaara selepas semua ketakutanku untuk mempercayai orang lain. Gaara bukan orang asing tentu saja. Meski sudah lama tidak bertegur sapa, aku masih bisa ingat bagaimana kebiasaan Gaara dulu, kami menghabiskan banyak waktu bersama. Tapi sekali lagi itu dulu. Sebelum semuanya terjadi.

Gaara masih pendiam seperti dulu. Sepanjang perjalanan tidak ada satu kata pun yang kami bicarakan. Diam. Padahal dulunya aku yang memang tidak bisa diam pasti akan terus mengoceh padanya meski hanya dibalas anggukan saja.

"Gaara tidak berubah ya." Kataku tanpa sadar.

Gaara menatapku sejenak lalu tersenyum tipis.

"Kau yang berubah." Jawab Gaara singkat.

Hening.

Selang beberapa menit lagi dalam keheningan. Aku tidak tahu harus berkata apa.

"Kau tahu ada seseorang yang sangat merindukanmu." Kata Gaara kemudian.

Aku menoleh pada Gaara.

"Seseorang yang juga sangat mengenalmu. Seharusnya kau tahu siapa kan?" kata Gaara lagi.

Aku tahu Gaara tidak membahas tentang dirinya. Jika bukan Gaara yang dimaksud, pasti Sasuke yang dimaksudnya.

"Aku tidak ingin membahas orang itu." Jawabku.

"Kau salah jika membencinya, Hinata. Kalian sama-sama korban,kan? Kenapa kau tidak bisa dekat lagi dengan Sasu-nii?" kata Gaara.

"Bagiku yang namanya Uchiha itu sama saja." Balasku.

"Berarti kau juga sama dengan kaa-sanmu yang sudah meninggalkan Neji-nii, kau dan Hanabi?"

"Tentu saja tidak! Aku tidak mungkin berbuat begitu ke keluargaku!"

"Nah, kalau begitu kau sudah menerima Sasu-nii dan Itachi-nii."

Aku terdiam. Aku ingin membalas lagi tapi aku juga sadar kalau Gaara hanya memutar kata-kataku. Memang aku tidak ingin disamakan dengan kaa-san. Apa Sasu-nii dan Itachi-nii juga merasakan hal sama denganku?

"Aku langsung pulang ya." Pamit Gaara begitu tiba di depan rumahku.

Aku hanya mengangguk dan masuk ke dalam rumah begitu Gaara mulai jauh dari rumahku.

"Tadaima."

"Okaeri, nee-chan."

"Ada tugas, Hanabi?" tanyaku melihat Hanabi sibuk mengerjakan sesuatu di ruang keluarga.

"Em. Iya nee-chan bisa membantuku, kan?"

"Tentu saja. Nee-chan mandi dulu ya."

Aku menuju ke kamarku dan kemudian mandi. Aku teringat dengan perkataan Gaara. Rasanya memang benar apa yang dikatakannya tadi. Mana bisa aku menyamakan Sasu-nii dan Itachi-nii dengan Tou-san mereka. Sudah jelas yang menjadi penyebab semuanya itu kaa-san dan Uchiha Fugaku kenapa selama ini aku malah menyalahkan Sasu-nii dan Itachi-nii?

Aku langsung menuju ke ruang keluarga begitu selesai mandi. Neji-nii yang baru saja pulang sudah duduk di samping Hanabi.

"Neji-nii." Panggilku.

"Ah, kau sudah mandi Hime? Ya sudah, Hanabi sama nee-chan dulu ya. Nii-san mau mandi dulu."

"Ha'i."

Aku ikut duduk di dekat Hanabi.

"Nee-chan, tadi aku mengantar temanku ke rumah sakit. Aku bertemu Itachi-nii di sana." Kata Hanabi.

"Itachi-nii? Apa dia sakit?" tanyaku khawatir tanpa sebab.

Hanabi bukannya menjawab tapi hanya tersenyum padaku.

"Ha.. Nee-chan khawatir ya?" kata Hanabi dengan nada menggodanya.

Aku hanya diam, tidak menjawab Hanabi.

"Nee-chan datang saja ke rumah sakit. Kan dekat dari sekolah nee-chan. Hehehe…" kata Hanabi lagi.

"Itachi-nii bicara apa saja?" tanyaku.

"Yaa.. kata Itachi-nii aku sudah besar, tambah mirip Neji-nii. Hehehe… Oh iya, Itachi-nii sudah menjadi seorang dokter lho." Kata Hanabi. Hanabi terdengar bersemangat saat menceritakan Itachi-nii.

"Itachi-nii jauh lebih tua untuk dijadikan kekasihmu, Hanabi." Kataku menggoda Hanabi. Hanabi yang kugoda malah menunduk, terlihat dengan samar wajahnya memerah.

"Apaan sih nee-chan?!" katanya sebal.

Tentu saja respon Hanabi membuatku terkejut. Apa Hanabi benar-benar tertarik dengan Itachi-nii? Aku tidak mengerti, apa Hanabi lupa apa yang sudah keluarga Uchiha itu lakukan? Meski bukan Itachi-nii pelakunya.

"Hanabi, kau benar-benar suka dengan Itachi-nii?" tanyaku.

"Eh? Yaa.. kan Itachi-nii tampan, baik, dokter lagi. Lagipula Itachi-nii tidak terlalu tua juga kan?" Jawab Hanabi pelan. Wajahnya masih memerah dan masih menundukkan kepalanya.

"Apa?"

Aku dan Hanabi menoleh kea rah Neji-nii yang entah sejak kapan berdiri di dekat kami.

"Nii-san?" kata Hanabi terkejut dan malu.

"Oo.. jadi Hanabi sudah besar ya? Sudah bisa suka sama orang. Hahaha…." Kata Neji-nii sambil mengacak rambut Hanabi.

"Eto.. nii-san!" Hanabi menepis tangan Neji-nii yang berhasil membuat rambutnya berantakan.

"Tapi selera Hanabi ternyata orang yang lebih tua ya?" Lanjut Neji-nii sambil tersenyum usil.

"Nii-san!" pekik Hanabi. Wajah Hanabi semakin memerah.

"Cuman beda 6 tahun kan tidak masalah!"

"Ha! Kau mengakuinya Hanabi. Kira-kira apa reaksi Itachi saat tahu kau menyukainya ya? Hahaha.."

"Nii-san!"

Aku memperhatikan Neji-nii dan Hanabi yang sibuk membahas tentang Itachi-nii. Tidak aku tidak cemburu atau semacamnya. Hanya saja. Dia itu Uchiha.

Tanpa sadar aku langsung meninggalkan Neji-nii dan Hanabi dan kembali ke kamarku.

"Hinata?" panggil Neji-nii. Tetapi aku melanjutkan langkahku dan tidak menjawab Neji-nii.

BLAM

Aku merebahkan diri di atas kasurku memandangi langit-langit kamar sambil memikirkan apa yang terjadi belakangan ini. Kemunculan Sasu-nii dan Itachi-nii serta Gaara yang seakan mengubah semuanya lagi.

Sebenarnya ada banyak hal yang terpikir olehku. Apa aku harus berbaikan lagi dengan Sasu-nii dan Itachi-nii? Apa aku dan Gaara masih teman dekat seperti dulu? Kenapa mereka ada di sekitarku sekarang? Haaahh…. Aku pusing sendiri memikirkan apa yang terjadi belakangan ini.

Pagi ini, Hanabi berangkat duluan ke sekolahnya. Biasanya kami selalu berangkat bersama tapi setelah tadi pagi dia menelepon seseorang, Hanabi memutuskan berangkat lebih dulu.

"Neji-nii."

"Ya?"

"Apa Neji-nii tahu siapa yang menelepon Hanabi?" tanyaku penasaran.

"Hm? Masa tidak tahu? Hahaha… baru kemarin kita membicarakan orangnya." Kata Neji-nii sambil tertawa.

"Itachi-nii?" tebakku.

"Ya. Kalau kau Hime? Sudah ada yang kau sukai?" Tanya lebih tepatnya goda Neji-nii.

"Neji-nii sendiri bagaimana? Sebagai yang tertua seharusnya Neji-nii duluan kan?" Tanyaku balik.

"Hahaha… Hime sejak kapan kau jadi pintar membalik pertanyaan?"

"Ya sudah, nii-san. Aku berangkat dulu. Ittekimasu." Pamitku.

" Itterashai." Jawab Neji-nii.

Pagi ini giliran pelajaran Sasu-nii di jam pertama. Saat Sasu-nii masuk ke dalam kelas, untuk pertama kalinya aku memperhatikannya. Aku kepikiran tentang Hanabi dan Itachi-nii. Tapi hari ini pun ada yang aneh dengan Sasu-nii, biasanya dia akan menjelaskan materi tapi untuk kali ini dia hanya memberikan tugas pada kami.

Aku menoleh ke arah luar jendela tepat disampingku. Sekumpulan anak sedang melakukan pemanasan untuk pelajar olahraga mereka. Mataku akhirnya tertuju pada Gaara. Memang mudah untuk tahu yang mana Gaara mengingat hanya dia yang memiliki rambut berwarna merah.

"Ehem. Saya yakin papan tulis itu di depan bukan di luar sana."

Aku menoleh ke sumber suara yang ternyata Sasu-nii sudah ada di sampingku, Sasu-nii terlihat kesal karena itu aku menundukkan kepalaku.

"Gomen, sensei." Bisikku pelan lalu kembali mengerjakan soal yang diberikan Sasu-nii.

Setelah itu pelajaran berlangsung seperti biasa hingga sekolah berakhir. Kali ini karena penasaran aku mampir ke rumah sakit Konoha yang tidak jauh dari sekolahku.

Rumah sakit besar itu dulunya tempat tou-san dirawat. Aku hanya menunggu di depan rumah sakit itu. Terlihat banyak orang berlalu-lalang disana.

"Eh, kau sudah bertemu dengan dokter baru itu?"

"Dokter Uchiha? Sudah hehe… tampan sekali orangnya. Masih muda lagi."

Pembicaraan dua orang perempuan menarik perhatianku. Aku mendengarkan mereka begitu terdengar nama Itachi-nii disebut.

"Hehehe… benar,kan? Orangnya baik dan ramah lagi. Pasti hidupnya sempurna."

"Ah? Masa kau tidak tahu? Dulu keluarganya kan pemilik perusahaan besar itu. Namanya juga Uchiha."

"Iya ya. Aku pernah dengar juga. Ya wajar kalau begitu dia menjadi dokter."

"Wajar apanya? Kedua anak Uchiha itu sudah bisa dibilang keluar dari keluarga mereka."

"Heh? Yang benar?"

Aku ikut terkejut mendengar pembicaraan kedua perempuan itu.

PUK

Aku menoleh ke seseorang yang menepuk bahuku dari belakang.

"Ah, ternyata benar kau Hinata." Kata orang yang menepuk bahuku yang tidak lain adalah Itachi-nii.

"Maaf, aku mengejutkanmu ya?" Kata Itachi-nii lagi sambil tersenyum lembut.

Aku menjawabnya dengan gelengan kepala. Sekarang aku mengerti kenapa Hanabi langsung memerah saat berbicara tentang Itachi-nii. Berbeda dengan Sasu-nii yang meski tampan namun terlihat dingin, Itachi-nii masih sama seperti dulu. Senyum tidak pernah lepas dari bibirnya.

"Kau semakin cantik, Hinata. Ada apa kau kemari? Apa kau sedang sakit?" Pertanyaan Itachi-nii membuatku berhenti menatapnya lekat-lekat.

"Tidak. Aku hanya kebetulan lewat." Jawabku.

"Pasti kau diberitahu Hanabi ya? Kemarin dia bertemu denganku." Kata Itachi-nii lagi.

"Iya. Kata Hanabi Itachi-nii sudah menjadi seorang dokter. Hanabi sangat kagum pada Itachi-nii."

"Benarkah? Haha… dia memang lucu. Senang pasti jadi Neji punya dua adik yang manis."

"Itachi-nii." Panggilku.

"Ya?"

"Aku dengar Itachi-nii dan Sasu-nii keluar dari keluarga Uchiha. Apa itu benar?" tanyaku. Aku penasaran dengan apa yang tadi dibicarakan oleh kedua perempuan itu.

Raut wajah Itachi-nii berubah seketika.

"Em.. sebentar lagi jam kerjaku selesai. Tunggu ya. Tidak baik kalau berbicara hal itu di sini." Kata Itachi-nii lalu berjalan kembali ke dalam rumah sakit.

Tidak sampai 15 menit menunggu, Itachi-nii sudah kembali ke luar rumah sakit.

"Lama ya?" Tanya Itachi-nii.

Aku hanya menggelengkan kepalaku.

"Hinata jadi pendiam ya." Kata Itachi-nii lagi.

Itachi-nii mengajakku masuk ke salah satu kedai sederhana tak jauh dari rumah sakit. Setelah memesan makanan, Itachi-nii menatapku lalu tersenyum.

"Ano.. Itachi-nii.."

"Ya, aku tahu." Belum sempat aku menyelesaikan perkataanku, Itachi-nii memotongnya.

"Aku dan Sasuke memang menolak menjadi pewaris perusahaan Uchiha dan kami juga sudah lama tidak berhubungan dengan Tou-san. Tapi bukan berarti kami keluar dari keluarga Uchiha. Kami masih menghormati tou-san kami tentu saja."

Aku mendengarkan Itachi-nii dengan seksama.

"Tak lama setelah kejadian itu. Kaa-san meninggal." Itachi-nii terlihat sedih saat menyebutkan kaa-sannya.

"Kau tahu, itu sangat berat bagiku terutama bagi Sasuke. Sebenarnya Sasuke melihat secara langsung kejadian itu."

Aku meremas pinggiran rokku mendengar cerita Itachi-nii. Aku membayangkan bagaimana jika saat itu akulah yang melihat kejadian itu secara langsung pasti rasanya sangat menyakitkan.

"Tapi yang lebih membuat Sasuke menderita itu karena dia merasa tidak punya muka lagi bertemu denganmu, Hinata."

Perkataan Itachi-nii barusan membuatku langsung menoleh ke Itachi-nii.

"Aku tahu kau pasti membenciku dan Sasuke kan?" Tanya Itachi.

Aku kembali menundukkan kepalaku, tidak menjawab pertanyaan Itachi-nii.

"Hinata, aku dan Sasuke juga tidak menginginkan kejadian itu. Keluarga Uchiha dan Hyuuga sudah seperti sebuah keluarga besar. Aku sudah menganggapmu, Neji dan Hanabi sperti saudaraku sendiri. Dengan kejadian itu aku juga merasa sudah kehilangan anggota keluarga yang berharga."

"Aku tahu Itachi-nii." Jawabku akhirnya.

"Aku tahu." Tanpa sadar aku meneteskan air mataku. Aku buru-buru mengusapnya dengan cepat.

Itachi-nii mengusap rambutku pelan.

Jauh di dalam hatiku, aku masih sering teringat kedekatanku dengan Sasu-nii dan Itachi-nii, aku ingin semuanya bisa kembali seperti dulu. Mendengar bagaimana Sasu-nii dan Itachi-nii juga merasakan hal yang sama denganku membuatku lega.

"Jangan menangis, Hinata. Aku bisa dibunuh Neji nanti." Kata Itachi-nii sambil tersenyum.

Aku mengangguk.

"Itachi-nii maaf kalau aku sebelumnya membenci Sasu-nii dan Itachi-nii. Rasanya sangat berat saat tahu keluarga Uchiha yang menghancurkan keluargaku." Kataku.

"Tidak apa-apa, Hinata. Tapi seharusnya kau katakana itu ke Sasuke. Dia akan sangat senang mendengarnya." Kata Itachi-nii.

"Ha'i."

"Gadis pintar. Habiskan makananmu." Kata Itachi-nii sambil menepuk kepalaku lagi.

Setelah mendengar cerita Itachi-nii aku jadi ingin bertemu dengan Sasu-nii dan berbicara padanya. Untuk pertama kalinya juga setelah 3 tahun, aku ingin kembali ke aku yang dulu. Kembali dekat dengan keluarga Uchiha yang sudah kuanggap seperti keluargaku sendiri.

TBC