Chapter 6- Perasaan aneh, Pemakaman, dan Me-Mating?


Beberapa hari pun telah berlalu. Setelah kejadian percobaan bunuh diri yang dilakukan oleh Lucy yang digagalkan oleh seorang Natsu, Lucy sudah akrab dengan yang lainnya, dan juga Lucy merasa detak jantung menjadi tidak normal saat ia bertemu pandang dengan Natsu. Lucy selalu saja teringat akan kejadian dimana Natsu menciumnya didalam air. Lucy berpikir, apa maksud Natsu melakukan itu padanya?

Lucy sedang mencari buku diperpustakaan rumah Natsu dan kawan-kawannya. Ia mencari buku-buku pengetahuan. Karena ia mempunyai waktu luang yang banyak, maka ia ingin menghabiskan waktunya untuk membaca. Setelah Lucy mendapatkan buku yang ia cari, dengan segera menarik buku tersebut dan membawanya ke meja. Lucy duduk dengan tenang sambil membaca.

Tiba-tiba terdengar suara permen karet yang meletus dari sebelah Lucy. Lucy terkejut dan menolehkan kepalanya. Didapatinya wajah Natsu yang sangat dekat dengan wajahnya. Wajah Lucy pun memerah.

Crown of Power

by Anyui

.

Disclaimer of Fairy tail is

Hiro Mashima

WARNING : TYPO(S), ROMANCE, SUPERNATURAL, PAIRING(S), OOC

.

.

.

.

.

"Luce? Kau sedang sakit ya?" Tanya Natsu

Lucy menggeleng. Wajahnya masih memerah.

Natsu menatap Lucy dengan heran. Kalau ia tidak sakit, kenapa wajahnya memerah seperti itu? Natsu mengangkat bahunya.

"Kau sedang baca apa?" Tanya Natsu sambil mengangkat buku yang sedang dibaca Lucy.

"Buku-buku pengetahuan. Aku iseng" sahut Lucy

"Areeee? Kau iseng? Kau hebat sekali, Luce" ujar Natsu

Lucy menaikkan sebelah alisnya.

"Kau hebat. Saat kau iseng, kau malah memilih untuk membaca buku..hebaaat!" Ungkap Natsu.

Lucy menutup bukunya dan kembali menaruh ditempatnya.

"Memangnya kalau kau sedang iseng, kau akan melakukan apa?" Tanya Lucy

"Hmm apa ya...mungkin menjahili Gray atau Gajeel hehehe" jawab Natsu dengan polos.

Lucy hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, ia merasa pemuda yang berada dihadapannya ini, yang sekarang ini membuat jantungnya berdebar-debar ternyata hanyalah sesosok pemuda yang bodoh.

"Terserah kau saja, Natsu.." Sahut Lucy sambil berjalan keluar kamar. Diikuti juga oleh Natsu, tentunya.

Natsu tiba-tiba menghentikan langkahnya. Lucy menyadari kalau Natsu yang berada dibelakangnya sedang berhenti mengikutinya. Lucy menoleh dan ia mendapati Natsu sedang merunduk. Matanya tertutup oleh poninya.

"Nee, Luce.." Panggil Natsu

"Ada apa?" Sahut Lucy

"Apa kau sedang berusaha menghindariku?" Tanya Natsu dengan to the point.

Lucy membelalakkan matanya. Lucy bingung harus bagaimana menjawab pertanyaan Natsu. Hanya saja, alasan Lucy berusaha menghindar dari Natsu adalah jantungnya yang berdetak lebih kencang dari biasanya saat berada didekat Natsu.

"Hmm anoo..." Ucapan Lucy terpotong oleh Natsu.

"Apa kau membenciku?" Tanya Natsu lagi

"Eh?"

Natsu tiba-tiba melangkahkan kakinya untuk menghampiri Lucy. Lucy kaget. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Lucy pun melangkah mundur. Natsu masih tetap berjalan mengejar Lucy.

"Berhenti disitu" perintah Natsu

"Tidak" sahut Lucy

"Berhenti"

"Tidak"

"Berhenti atau aku akan menerkammu?" Ujar Natsu. Dengan pertanyaan itu lah Lucy menghentikan langkahnya yang mundur.

"Diam disitu" ujar Natsu. Natsu berjalan menghampiri Lucy. Lucy merasa takut.

Sekarang, Natsu sudah berada dihadapannya. Natsu menatap Lucy dengan tatapan yang tajam.

"Jadi? Apa kau sedang berusaha menghindariku? Apa kau membenciku?" Tanya Natsu dengan bertubi-tubi.

Lucy mengalihkan pandangannya kearah lain. Jantungnya sekarang sudah berkontraksi. Berdebar diatas rata-rata. Lucy berpikir ia akan pingsan dihadapan Natsu.

"Jadi kau tidak mau menjawabnya? Hmm?" Tanya Natsu lagi dengan nada yang begitu sinis.

"Apa salahku sampai kau bersikap seperti ini? Baiklah..aku minta maaf" terang Natsu sambil melangkahkan kakinya meninggalkan Lucy.

Lucy terkejut mendengarnya.

"A-aku tidak membencimu, Natsu" ucap Lucy dengan pelan

"Eh? Benarkah?" Tanya Natsu. Lucy mengangguk.

Natsu kembali ketempat dimana Lucy sedang berdiri.

"Ah syukurlah.. Hmm begini saja, jika aku berbuat salah, kau harus berterus terang padaku. Jangan sekali-kali berusaha untuk menjauhiku. Kau mengerti?" Ucap Natsu

Lucy kembali mengangguk.

Natsu meletakkan tangannya dibahu Lucy. Lucy dirangkul olehnya.

"Yossssh baiklah. Bagaimana kalau kita pergi keluar untuk jalan-jalan?" Usul Natsu dengan nada yang riang.

"Baiklah.. Ayooo" sahut Lucy

XXX

Lucy dan Natsu keluar dari rumah, mereka berjalan beriringan.

"Hmm kita mau kemana, Natsu?" Tanya Lucy

"Kemana saja" jawab Natsu dengan asal.

Lucy menatap dengan tidak percaya kepada pemuda yang berjalan disebelahnya. Ia tidak percaya, pemuda ini mengajaknya berjalan-jalan tapi tidak ada tujuan khusus. Padahal udara dikota ini sudah mulai dingin.

"Dasar! Kalau tahu kita tidak punya tujuan, aku tidak mau ikut denganmu" gerutu Lucy

Natsu menghentikan langkahnya. Lucy menatap Natsu dengan heran.

"Natsu?" Panggil Lucy

"Aku hanya ingin menghabiskan waktu denganmu, Luce" jawab Natsu

Lucy tersenyum. "Baiklah-baiklah. Ayo" ujar Lucy sambil menarik tangan Natsu.

XXX

Natsu dan Lucy sudah berada didalam kereta. Wajah Natsu terlihat sangat pucat.

Lucy khawatir dengan keadaan Natsu.

"Natsu, kau tidak apa-apa?" Tanya Lucy dengan nada khawatir

Natsu hanya menggeleng.

"Kau mempunyai motion sickness ya?" Tanya Lucy. Natsu pun mengangguk.

Lucy bangkit berdiri untuk pindah tempat duduk menjadi disebelah Natsu. Lucy menepuk-nepuk pahanya, mengisyaratkan untuk Natsu berbaring dipangkuan Lucy. Natsu pun berbaring dan memejamkan matanya. Lucy hanya tersenyum sambil membelai rambut merah jambu milik Natsu.

XXX

"Kenapa kita harus naik kereta, sedangkan kau bisa menggunakan sihir teleportasi?" Gerutu Natsu sepanjang perjalanannya menuju kerumah Lucy.

Ya, mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah Lucy di pusat kota Fiore. Lucy berniat membawa Natsu untuk mengunjungi makam ayah dan ibunya.

"Mooouuu, kalau menggunakan sihir, berarti itu tidak bisa disebut jalan-jalan" sahut Lucy

"Haaaaah sudahlah..." Natsu mulai menyerah. Natsu merasa benar apa yang dikatakan Lucy. Kalau memakai sihir, berarti itu bukan dinamakan jalan-jalan.

Lucy hanya tertawa pelan. Natsu menoleh.

"Kenapa kau tertawa?" Tanya Natsu

"Karena ada hal lucu" sahut Lucy dengan santai

"Hal lucu? Seperti apa?" Tanya Natsu kembali

"Kau, Natsu. Kau itu sangat lucu" ujar Lucy dengan riang. Tanpa sadar dikedua pipi Natsu sudah ada semburat merah.

"Lu-lucu apanya?" Natsu menjadi gugup

"Lucu saat mengingat wajahmu saat tertidur dikereta" jawab Lucy sambil mengingat wajah Natsu yang tertidur dipangkuannya.

Wajah Natsu mulai memerah. Natsu mempercepat langkahnya agar Lucy tidak dapat melihat wajahnya yang memerah. Lucy menatapnya dengan bingung.

"Natsu..tunggu aku..." Teriak Lucy

Natsu mulai berlari pelan. "Tidak mau, coba kejar aku.." Ujarnya.

"Moooou, dasar Natsu" gerutu Lucy.

Lucy pun mengejar Natsu, saat Lucy sudah bisa mensejajarkan posisinya dengan Natsu, Lucy merangkulkan tangannya ke bahu Natsu.

"Jangan buat aku berlari lagi atau aku akan membunuhmu" ancam Lucy dengan canda tawanya.

"Sungguh kehormatan jika aku bisa mati ditanganmu. Lucy Heartfilia" sahut Natsu dengan nada meledek.

Keduanya tertawa dan melanjutkan perjalanannya ke rumah Lucy.

XXX

Dari kejauhan, terlihat Kira dan Aki sedang duduk di atap rumah warga.

Kira mengepalkan tangannya saat melihat Lucy tertawa bersama dengan Natsu. Rencananya tidak akan berhasil jika ada vampire-vampire itu yang terus saja mengganggu.

"Kira" panggil Aki

Kira menoleh "Hmm?"

"Wajahmu terlihat kesal. Kau kesal karena rencanamu membuat penyihir itu tenggelam dalam keputusasaan gagal, atau karena kau cemburu melihat hubungan penyihir dengan vampire itu?" Tanya Aki

"Hah?"

"Sepertinya kedua alasan itu benar, bukan?" Tanya Aki kembali.

Kira hanya diam. "Urusaai" sahutnya.

XXX

"Erza, Mira. Kau lihat si flamehead?" Tanya Gray kepada Erza dan Mira yang sedang berbincang-bincang.

"Araa.. Sepertinya dia sedang jalan-jalan bersama tuan putri kita" jawab Mira yang sekarang sedang fangirling.

Gray bersweat-drop.

"Dasar anak itu" gerutu Gray sambil tersenyum menatap keluar jendela.

Erza dan Mira ikut tersenyum.

"Aku turut bahagia melihat Natsu yang sekarang" ucap Erza. Mira mengangguk.

"Aku lihat Lucy-san seperti pelengkap hidup Natsu-san" timpal Wendy yang tiba-tiba sudah bergabung dengan Erza, Mira dan Gray.

"Sepertinya begitu.. Syukurlah.." Sahut Gray.

Walaupun hubungan Gray dan Natsu tidak terlihat baik, seperti contohnya mereka bisa saling mengejek, menjahili, dan melakukan pertengkaran, tetapi masing-masing dari mereka mempunyai kepedulian terhadap nakamanya. Apabila Gray sedang terpuruk atau butuh bantuan, Natsu membantunya. Begitupun sebaliknya.

XXX

Natsu dan Lucy tiba di rumah Lucy. Lucy dan Natsu masuk kedalam dan disambut oleh pelayan-pelayannya. Hanya tatapan-tatapan sedih yang tersirat diwajah para pelayan.

"Hime..kau sudah pulang. Maaf ini siapa?" Tanya Virgo dengan ramah.

"Perkenalkan, namanya Natsu. Natsu Dragneel. Dia ini yang sudah menyelamatkan aku dan juga Loki saat peristiwa itu terjadi" terang Lucy

Virga membungkukan badannya. "Arigatou, Natsu-sama" ucapnya

Natsu yang tidak terbiasa diperlakukan seperti itu hanya bisa tersenyum bingung.

"Hmm Loki..dimana dia?" Tanya Lucy

"Loki-san sedang berada diperpustakaan" ucap salah satu pelayan.

"Hmm baiklah. Tolong kalian buatkan minum untuk Natsu. Aku mau ganti baju" ucap Lucy dengan lembut.

"Baik, Hime" sahut para pelayannya.

"Natsu, aku kekamar sebentar untuk mengganti baju. Kau tunggu diruang tamu ya" ujar Lucy yang disertai dengan anggukan dari Natsu. Natsu pun mengikuti para pelayan yang menggiringnya keruang tamu. Lucy berjalan masuk kekamarnya.

Lucy masuk kedalam kamarnya. Sebelum mengganti baju, Lucy mencuci mukanya. Setelah itu ia membuka lemari pakaiannya untuk memilih baju. Ia mengambil dress berwarna abu-abu dengan motif bunga-bunga berwarna putih. Ia juga mengambil sebuah stocking hitam dan juga cape berbulu berwarna hitam. Tidak lupa dia memakai ankle boot flatnya yang berwarna abu-abu. Setelah selesai, Lucy menata rambutnya. Lucy menggelung seluruh rambutnya keatas. Seperti tata rambut ibunya.

Setelah siap, Lucy keluar dari kamarnya dan berjalan menghampiri Natsu yang sedang menunggunya.

"Natsu.." Panggilnya

Natsu menoleh dan melihat Lucy yang sudah berganti pakaian.

"Ayo" ajak Lucy

Natsu mengangguk dan bangkit berdiri.

Lucy dan Natsu kehalaman depan rumah Lucy, rumah Lucy sangat-sangat luas. Menurut Natsu, bisa jadi ini setengah kota Magnolia.

Lucy berhenti tepat di depan patung malaikat. Disana ada dua batu nisan yang tertulis.

Jude Heartfilia dan Layla Heartfilia.

Lucy menatap nisan tersebut dan berjalan mendekatinya. Natsu tetap berdiri dibelakang Lucy.

"Okaa-san..Otou-san.." Gumam Lucy sambil membelai batu nisan yang dingin tersebut.

Natsu memandang Lucy. Ia takut Lucy kembali terpuruk. Tetapi yang ia dapati dari wajah Lucy adalah..

Senyuman.

"Arigatou, okaa-san..otou-san" ucap Lucy

"Apakah kalian melihatku dari surga? Aku disini baik-baik saja. Dan akan terus baik-baik saja. Maaf aku sempat berpikir untuk menyia-nyiakan kesempatan hidup yang kalian berikan. Aku..minta maaf.." Terang Lucy

"Oh iya, okaa-san..otou-san. Perkenalkan. Pemuda yang dibelakangku ini adalah teman baruku. Sekaligus penyelamatku. Namanya-" ucapan Lucy dipotong oleh Natsu

Natsu membungkukkan badannya.

"Perkenalkan, namaku Natsu. Natsu Dragneel. Aku adalah teman sekaligus akan menjadi sahabat Lucy. Aku memang bukan seorang manusia, tapi aku akan berusaha menjaga Lucy dengan sebaik-baiknya" terang Natsu.

Lucy yang mendengar itu semua hanya tersenyum.

"Terimakasih..terimakasih kalian sudah melahirkan putri yang menurutku sangat menakjubkan. Selain cantik, dia itu ramah, baik hati. Tetapi terkadang putri kalian suka melakukan hal-hal aneh, berpura-pura tegar tapi sebenarnya didalamnya sangat sangat rapuh.." Celoteh Natsu didepan nisan ayah dan ibu Lucy.

Lucy hanya tersenyum mendengar celotehan Natsu. Lucy berjalan mendekat Natsu, dan berdiri disampingnya.

"Sudah cukup curhatanmu pada kedua orang tuaku, Natsu" goda Lucy

Natsu tertawa pelan. "Baiklah..baiklah.."

"Maafkan aku okaa-san, otou-san. Aku tidak sempat untuk membelikan bunga untuk kalian. Tapi..dilain waktu saat aku kembali lagi, aku akan membawakan kalian bunga" ucap Lucy

"Hmm bukan kau saja yang akan kembali, tapi aku juga" timpal Natsu

Lucy tertawa pelan, "Iya-iya. Kita maksudku" ralat Lucy

"Natsu..bisa kau tinggalkan aku sebentar?" Tanya Lucy. Natsu diam beberapa saat dan akhirnya mengangguk.

"Jangan melakukan hal bodoh. Oke?" Ucap Natsu

"Roger" sahut Lucy

Natsu berjalan meninggalkan Lucy. Angin berhembus kencang, Lucy masih menatap makam kedua orang tuanya. Tiba-tiba airmatanya jatuh mengalir ke pipinya.

"Benar apa kata Natsu.. Aku sangat-sangat rapuh" gumam Lucy

XXX

Natsu masuk kembali kedalam rumah Lucy dan mendapati Loki sedang duduk diruang tamu.

"Hey" sapa Loki

"Hmm" sahut Natsu

"Mana Lucy?" Tanya Loki

"Masih di makam" jawab Natsu seadanya

"Oh..souka.."

Loki dan Natsu tidak berbincang-bincang. Mereka hanya diam dan duduk dengan tenang. Setengah jam pun berlalu. Belum terlihat tanda-tanda bahwa Lucy sudah kembali. Natsu dan Loki mulai khawatir.

"Aku akan menyusulnya" ucap Natsu sambil berjalan keluar rumah menuju tempat dimana Lucy berada.

Natsu melihat dari kejauhan, Lucy sedang berjongkok didepan makam ayah dan ibunya. Natsu menghampirinya.

Natsu mengulurkan tangannya untuk menyentuh bahu Lucy, tapi dia mengurungkan niatnya.

Natsu tiba-tiba memeluk Lucy.

"Aku menunggumu.. Kenapa kau lama sekali" bisik Natsu ditelinga Lucy. Lucy tersentak dan menoleh kearah sumber suara. Dan Lucy melihat wajah Natsu yang sudah berjarak beberapa sentimeter saja dari wajahnya. Terlihat wajah mereka memerah.

"A-aku..aku sedang merenung" sahut Lucy sambil melepaskan pelukan Natsu dan bangkit berdiri.

"Merenung? Dasar!" Ujar Natsu sambil menjitak kepala Lucy.

"Kenapa kau menjitakku? Dasar, kenapa semua orang suka menjitakku, tidak kau, tidak Loki, tidak-tidak kedua orang tuaku. Sama saja hahaha" terang Lucy sambil tertawa. Tertawa yang dipaksakan.

Natsu menghela nafas kemudian menarik Lucy masuk kedalam pelukannya.

"Udaranya dingin. Kau bisa sakit. Sayangilah dirimu, Luce.." Ungkap Natsu

Lucy mulai membalas pelukan Natsu.

"Iya, dingin. Kau benar" sahut Lucy sambil membenamkan wajahnya didada Natsu.

Natsu mempererat pelukannya.

"Kau hangat" gumam Lucy

"Tentu saja" ucap Natsu dengan nada yang sedikit tinggi.

XXX

Natsu dan Lucy sudah berada diruang pertemuan bersama dengan Loki.

"Lucy, kau akan tetap tinggal disini kan?" Tanya Loki

Lucy sudah memikirkannya. Ia akan kembali kerumahnya. Tinggal bersama dengan Loki beserta pelayan-pelayannya.

Lucy mengangguk. "Iya, aku tinggal disini. Karena aku juga harus mengurusi dan menjalankan perusahaan" ungkap Lucy

Natsu terlihat kecewa akan keputusan Lucy. Tapi dia tidak berhak apa-apa. Setidaknya, Natsu masih bisa melihat Lucy.

"Kau ingin menjalankan perusahaan? Bagaimana dengan sekolahmu?" Tanya Loki

"Aku tetap bersekolah" jawab Lucy dengan tegas.

Sepertinya keputusan Lucy sudah bulat. Loki hanya bisa menyetujuinya. Dan Loki berjanji akan membantunya.

"Dan apakah kau dan teman-temanmu akan tetap melindungi Lucy?" Tanya Loki pada Natsu

"Iya. Kami akan berjaga disekitar sini secara bergantian. Karena iblis-iblis itu tahu dimana tempat tinggal kami, dan kami takut tempat tinggal kami satu-satunya dihancurkan oleh iblis semacam itu" terang Natsu.

"Baiklah.." Respon Loki

"Tung-tunggu dulu.. Apa maksudnya dengan melindungi aku? Aku tidak mengerti maksud kalian" ujar Lucy

"Kau belum menceritakannya?" Tanya Natsu pada Loki

Loki menggeleng. Natsu memutar bola matanya.

"Begini Luce, aku beserta yang lain, akan melindungimu dari apapun yang membahayakan nyawamu. Ini bukan balas budi dariku karena waktu itu menyelamatkan mu. Tapi ini memang sudah tugas kami semua untuk melindungimu" jelas Natsu

"Mereka sudah tahu asal-usul tentangmu, Lucy" timpal Loki

"Oh begitu..baiklah.. Tapi mungkin aku akan sedikit terganggu jika diawasi oleh kalian dengan metode vampire milikmu dan teman-temanmu" jawab Lucy

"Hah?"

"Aku punya ide.. Bagaimana kalau kau bersama dengan teman-temanmu sekolah disekolah yang sama denganku? Biaya semuanya akan aku yang tanggung. Bagaimana?" Usul Lucy

"Idemu sangat buruk. Aku tidak suka sekolah" protes Natsu

"Eeeehhh? Memang kenapa?" Tanya Lucy

"Rumit" jawab Natsu dengan santai

"Haaah yasudahlah, terserah saja dengan apapun yang akan kalian lakukan" ucap Lucy sambil berjalan kekamarnya.

Natsu dan Loki menatap kepergian Lucy.

"Eh, Loki. Lucy marah ya padaku?" Tanya Natsu

Loki mengangkat bahunya dan meninggalkan ruangan.

"Kenapa jadi aku yang dimusuhi" gerutu Natsu

XXX

Lucy berbaring ditempat tidur kamarnya. Ia memandang langit-langit kamarnya yang diberi cat berwarna biru langit.

"Aku kan hanya ingin lebih dekat dengannya. Natsu baka!" gerutu Lucy

"Kenapa kau mengataiku, Lucy? Kau mau mati ya?" Ucap Natsu yang sekarang sudah berada dikamar Lucy. Lebih tepatnya dipojok dekat balkon kamar Lucy. Lucy yang terkejut akhirnya bangkit duduk.

"Ke-kenapa kau disini?" Tanya Lucy dengan gugup

"Hmm aku pikir kau sedang mandi, jadi aku ingin mengintipmu" jawab Natsu dan seiiring jawaban itu, Natsu sukses mendapatkan lemparan sepatu dari Lucy.

"Ittaaaiii" rintih Natsu sambil mengelus kepalanya yang terkena ankle boot milik Lucy.

"Hentai. Natsu hentai!" Histeris Lucy

Natsu membekap mulut Lucy agar tidak berteriak yang tidak-tidak.

"Ssssuuuutttt"

Lucy memberontak. Natsu berusaha tidak melepaskannya.

"Aku akan melepaskanmu jika kau tidak berteriak yang tidak-tidak" pinta Natsu.

Lucy mengangguk. Dengan segera Natsu melepaskan bekapan mulut Lucy. Lucy bernafas dengan terengah-engah.

"Aku kemari ingin melihatmu. Aku merasa kau marah padaku soal yang tadi" ujar Natsu

Lucy duduk disofa kamarnya diikuti oleh Natsu.

"Iya aku marah. Sangat maraaaah" sahut Lucy

"Hah, maaf kalau begitu. Tapi aku tetap tidak bisa mengikuti kemauanmu tadi. Mungkin yang lainnya bisa, tapi aku tidak bisa" jelas Natsu

Lucy mulai menggerutu tidak jelas.

"Kalau kau mau dekat denganku, aku bisa tiap hari kesini" tawar Natsu

Lucy terkejut saat mendengar tawaran Natsu. Natsu akan kerumahnya tiap hari? Lucy senang mendengarnya. Tapi Lucy menutupi rasa senangnya dengan berekspresi kesal.

"Oh ayolah Lucy. Aku sangat-sangat tidak suka peraturan. Aku tidak suka menghitung. Berpikir adalah sesuatu yang membuatku mual, Luce. Aku akan kabulkan semua kemauanmu, asal jangan menyuruhku masuk sekolah" rengek Natsu

"Hmm yasudah. Kalau begitu aku terima tawaranmu yang pertama" sahut Lucy

"Tawaran pertama?" Ulang Natsu

Lucy memutar kedua bola matanya.

"Kau tadi bilang akan kesini setiap hari. Aku terima kalau tawaranmu seperti itu" jelas Lucy dengan semburat merah dikedua pipinya. Manis sekali, menurut Natsu.

"Baiklah. Aku akan menjadi pengawal pribadimu sekarang" celetuk Natsu

Lucy menaikkan alisnya.

"Bukan pengawal! Aku tidak perlu dikawal olehmu. Cukup temani aku saja" bantah Lucy

"Temani? Hmm aku pikir, kau akan sibuk kedepannya" ucap Natsu

Lucy berpikir juga seperti itu. Bagaimana dia tidak sibuk kalau ia harus bersekolah dan juga mengurusi semua perusahaan milik keluarganya. Lucy menghela nafas. Masa muda yang berat.

"Aaah. Aku tahu!" Ujar Natsu

"Apa?"

"Aku akan menemani kau tidur setiap malam, bagaimana menurutmu? Ide bagus bukan?" Tanya Natsu dengan polos.

Lucy kembali melemparkan sepatunya kewajah Natsu.

"KENAPA KAU SANGAT SUKA MELEMPARIKU DENGAN BARANG-BARANGMU?! SAKIT TAHUUU" histeris Natsu.

"Lagi kau ini. Kenapa juga kau harus menemani aku saat tidur? Dasar hentai" gerutu Lucy

"Eh? Tadi kau bilang kalau aku hangat. Ya mungkin aku bisa jadi penghangat bagimu saat selimut tidak cukup hangat bagimu. Mungkin juga aku bisa jadi pendongeng sebelum kau tidur..mungkin ju-" ucapan Natsu terpotong karena tiba-tiba Lucy tertawa.

"Hahaha kau ini lucu sekali, Natsu. Sangat lucu" ujar Lucy yang masih tertawa.

Natsu menatapnya heran. Apakah Natsu sedang melucu? Sepertinya tidak.

Lucy pun berhenti tertawa dan memandang Natsu.

"Arigatou, Natsu.." Ucapnya sambil tersenyum.

Natsu mengangguk. "Jadi kau setuju dengan ideku?" Tanya Natsu lagi dengan polosnya.

Lucy tersenyum dan mengangguk.

"Tidak untuk yang lain..kau mengerti?" Sahut Lucy. Natsu mengangguk.

XXX

Sudah dua minggu berlalu. Lucy sudah kembali kesekolah sekaligus juga menjalankan perusahaan keluarganya. Sekarang ini sudah memasuki musim dingin. Dimana salju bertebaran dimana-mana, angin berhembus dengan kencangnya. Lucy berdiri dibalkon kamarnya. Ia sudah dua minggu ini tidak berkomunikasi ataupun berhubungan dengan Natsu. Natsu pun tidak pernah kerumah Lucy.

"Natsu baka. Sedang apa dia?" Gumam Lucy

XXX

Ditempat dimana Natsu dan yang lain tinggal.

Natsu sedang terbaring ditempat tidurnya. Matanya terpejam.

"Wendy..sudah dua minggu Natsu tidak terbangun. Apa dia tidak apa-apa?" Tanya Erza dengan kecemasan tingkat tinggi.

"Tidak apa-apa, Erza-san. Dia hanya mengalami tahap pubertas. Aku dan Gajeel-san juga akan mengalaminya" jelas Wendy.

"Hmm hanya untuk para naga ya?" Celetuk Mira

Wendy mengangguk.

"Tahap pubertas? Apa itu?" Tanya Gray

"Hmm maksudnya adalah tahap dimana ketidak stabilan vampire ini akan menghilang. Dimana dia akan bisa mengendalikan seluruh kekuatannya dan juga membuat amarahnya menjadi kekuatan. Dimana kekuatannya juga akan bertambah kuat dan juga sudah waktunya untuk-" penjelasan Wendy terpotong karena kalimat yang dilontarkan oleh Gajeel.

"Untuk me-mating seseorang untuk menjadi pendampingnya" celetuk Gajeel

"Apa itu?" tanya Gray

"Hmm bagi kami para vampire dengan kekuatan naga. Kami akan me-mating seseorang yang benar-benar berarti bagi hidup kami selain orang tua kami" Terang Wendy

"Me-mating itu sama saja memberi sebagian jiwa kita kepada sang pendamping. Sehingga, seseorang dan diri kita sendiri tidak bisa berpaling kesiapapun" timpal Gajeel

"Terus, bagaimana cara untuk me-mating seseorang itu? Dan aturannya? Apakah ada aturannya?" Tanya Erza yang dikepalanya penuh dengan pertanyaan.

"Meminum darah pasangannya" jawab Natsu yang sekarang sudah bangkit duduk.

Teman-temannya tersentak kaget mendengar suara Natsu.

"Natsu? Kau sudah bangun?" Tanya Erza

Natsu mengangguk. Mata Natsu yang tadinya berbola mata hitam, menjadi kemerahan.

"Natsu-san, matamu.." Tunjuk Juvia

"Ah ini..memang seperti ini awalnya. Nanti juga akan kembali seperti semula" jawab Natsu.

Natsu berjalan mendekati jendela kamarnya. Dia melihat salju turun.

'Musin dingin ya?' Pikir Natsu.

Natsu menoleh memandang teman-temannya dan bersandar dijendela.

"Jadi kalian mau tahu saat vampire berkekuatan naga me-mating seseorang?" Tanya Natsu

"Kami hanya penasaran" sahut Mira

"Ya seperti yang sudah dijelaskan oleh Wendy dan Gajeel. Dan tidak ada aturan saat me-mating seseorang tersebut" terang Natsu

"Jadi jika kau jatuh cinta pada manusia, kau boleh menjadikan dia pendampingmu? Begitu?" Tanya Gray

"Begitulah..." Jawab Natsu

"Tapi..manusia bukan makhluk abadi seperti kita. Bagaimana kalian bisa hidup bersama-sama?" Tanya Juvia

"Kami akan memberikan sebagian jiwa kami pada manusia itu. Jadi jika manusia itu menjadi pendamping kami, dia pun akan menjadi makhluk abadi seperti kami" jelas Natsu

"Jadi, saat kalian bertiga me-mating manusia, maka manusia tersebut akan menjadi makhluk abadi seperti kita, sedangkan kami tidak bisa melakukan itu? Begitu bukan?" Jelas Gray.

"Begitulah.." Jawab Natsu

Wendy dan Gajeel mengangguk.

"Ah enak sekali" Gerutu Mira

"Natsu, kau akan me-mating Lucy bukan?" Tanya Mira. Sontak membuat wajah Natsu merah padam.

"Ah-ah ti-tidak. Hahaha ak-aku haha tidak tahu.." Sahut Natsu dengan gugup.

Yang lainnya hanya bisa tertawa melihat kelakuan Natsu.

XXX

"Cantik.."

"Kau berjanji tidak akan mengkhianatiku kan?"

"Aku akan membunuh mereka hahahaha"

Lucy bangun dengan nafas yang tersengal-sengal. Ia baru saja bermimpi buruk. Sudah satu minggu ini, ia bermimpi buruk, mimpi yang sama.

'Apakah akan terjadi sesuatu lagi?' Pikir Lucy

Kira sedang menyamar kembali menjadi Ken. Ia sedang berkeliling kota. Ia melihat sebuah toko pakaian dimana menjual gaun-gaun pengantin. Kira masuk kedalam toko itu. Ia memilih-milih gaun pengantin. Untuk siapa? Untuk Lucy.

Kira berencana untuk membawa Lucy dan menjadikannya pendampingnya. Ia merasa sangat sempurna kalau Lucy yang menjadi pendampingnya. Bagaimana tidak? Ia sekarang dikenal sebagai iblis terkuat, apabila ia memiliki seorang pendamping yaitu seperti Lucy, betapa makmur hidupnya.

Kira terpaku dengan gaun pengantin berwarna hitam. Ia mengangkatnya dan mencoba mengira-ngira ukuran Lucy.

'Hmm sepertinya ini akan bagus' pikirnya

Ia segera membayarnya dan membawa kembali ketempat tinggalnya.

XXX

Lucy merasa tubuhnya sangat lelah, ia merasa tidak sanggup lagi menjalankan perusahaannya dan juga bersekolah. Lucy memijat kepalanya yang terasa sakit.

'Apa yang harus aku lakukan?' Batin Lucy

Lucy ingat kalau sepupunya baru lulus dari universitas tahun ini. Mungkin jika sepupunya ini bersedia, Lucy akan meminta tolong padanya.

Lucy menyalakan laptopnya dan mencari alamat surel sepupunya. Dan dapat!

Ia menuliskan email untuk meminta nomor telepon sepupunya itu.

Sejam setelah itu, Lucy mengeceknya dan ia mendapat balasan email dari sepupunya. Dengan segera ia meraih teleponnya dan menelpon sepupunya.

"Hello?" Sahut seseorang diseberang telepon.

"Sting, I'm Lucy" jawab Lucy dengan menggunakan bahasa asing.

"Eh? Lucy-chan? Ada apa?" Tanya seseorang itu yang sekarang diketahui bernama Sting.

"Apa kau masih di Inggris? Aku ingin meminta tolong padamu" jawab Lucy

"Meminta tolong apa? Hmm besok aku pulang dari sini" ucapnya

Lucy menceritakan kisahnya dari awal sampai pada hari ini. Sting mendengarkan dengan seksama.

"Ah begitu..baiklah, aku akan membantumu. Dan aku akan bilang pada orang tuaku. Dan saat aku kesana, kita akan bicarakan lebih lanjut lagi" terang Sting

"Hmm. Arigatou, Sting" ucap Lucy

"Douitashimaste" jawab Sting. Kemudian sambungan telepon terputus.

Lucy menghela nafas dan kembali membaringkan dirinya ditempat tidur.

"Capek sekali..." Keluhnya

"Kasihan sekali..." Ucap seseorang. Dari suaranya, Lucy sangat mengenalnya. Lucy menoleh kearah jendela dan mendapati sesosok orang yang sangat ingin ia temui.

"Natsu?"

Natsu tersenyum kearah Lucy dan melambaikan tangannya.

"Hai.."

.

.

.

.

.

.

To be Continued


Hallo minna-san, ketemu lagi dengan sayaaaa~~ bagaimana bagaimana menurut kalian chapter ini? aneh kah? baguskah? jelekkah? kudu dibuangkah? aduuuuh sepertinya banyak yang kurang yaaa XD

baiklah aku tidak akan banyak ngomong, aku akan membalas beberapa review yang ada dan masuk dichapter sebelumnya~~

karinalu : Lucy nya putus asa, mau nyusul orang tuanya, tapi digagalin ama Natsu yuhuuuu XD sate iblis? enaknya pake bumbu kacang atau bumbu kecap yaaa #abaikan juga. ini sudah update, bagaimana? XD

zuryuteki : Ini sudah lanjut, bagaimana menurut dirimu? XD

yodontknow : u'r wel ::D

shadow : Hehehe maaciiiihhh XD semangat pucuk pucuk? udah kaya iklan yang ada uletnya(?)

Reka amelia : Berani doong, kan dia sekalian nyelametin Lucy cihuuuuy~~ ini sudah lanjut, hayo dibaca...bagaimana? XD

Hatsune Uchiha : Yoroshikuuu nee~~ hontou? aahh Arigatou XD ini dia next chapternya, bagaimana menurutmu? ;D

Okraaay, sudah semua dibalas bukan? nah..bagi para readers tunggu kelanjutan chapternya yaaaa...ohiya untuk fic-ku yang a Dreamer bakal aku lanjutin setelah ini tamat (mungkin haha) jadi mohon reviewnya saja yaa biar tambah semangat namatin semua fic-fic nya XD

baiklah, aku akan undur diri setelah banyak bacot YoHOOO XD

Jaa neee~