Chapter 9- Sakit dan Perayaan Natal
Beberapa minggu pun berlalu, Lucy kembali masuk sekolah tanpa harus mengurusi urusan perusahaan keluarganya. Karena semua itu sudah di ambil alih oleh Sting dan dibantu oleh Yukino. Dan Sting beserta Yukino kini menetap dirumah Lucy.
Lucy pulang dari dari sekolah, dimana setelah ini liburan musim dingin akan tiba, ia segera berjalan dengan lemas masuk kekamarnya dan melempar tas sekolahnya. Ia merasa tidak enak badan. Kepalanya merasa pusing. Badannya merasa dingin. Ia memutuskan untuk berbaring dengan masih memakai seragamnya. Ia memejamkan matanya.
Crown of Power
by Anyui
.
Disclaimer of Fairy tail is
Hiro Mashima
WARNING : TYPO(S), ROMANCE, SUPERNATURAL, PAIRING(S), OOC
.
.
.
.
.
"Loki, kau baru pulang?" Tanya Sting
Loki yang keluar dari mobil segera menoleh kearah Sting yang menyapanya.
"Begitulah" jawab Loki seadanya
"Mana Lucy-chan?" Tanya Sting lagi
"Dia mungkin sudah dikamarnya" jawab Loki
"Ah, baiklah. Aku akan menemuinya. Sampai jumpa" pamit Sting
Sting berjalan menaiki tangga menuju kamar Lucy. Ia mengetuk pintu tapi tidak ada yang menjawab. Pada akhirnya Sting membuka pintunya dan ia tidak melihat bahwa Lucy berada didalam kamarnya.
"Loh, Lucy kemana?" Gumam Sting
Sting menutup pintunya dan melangkah menjauhi kamar Lucy. Tapi tiba-tiba ia menghentikan langkahnya dan berlari masuk kekamar Lucy.
"Lucy..Lucy kau dimana?" Panggil Sting
Sting mengetuk pintu kamar mandi, tapi tetap tidak ada jawaban.
"Maaf aku masuk" ucap Sting sambil membuka pintunya.
Terlihat Lucy sudah tergeletak dikamar mandinya dengan wajah yang pucat.
"Astaga, Lucy!"
"YUKINOOOO...LOKIIIII!" teriak Sting dari dalam kamar Lucy
Sting dengan segera membopong Lucy untuk membaringkannya diranjang milik Lucy. Setelah membaringkan Lucy, Sting memegang dahi Lucy untuk mengecek suhu tubuh Lucy.
"Panas sekali" gumam Sting. Sting segera menyelimuti Lucy dan keluar dari kamar Lucy.
"Yukino! Loki! Virgo!" Panggilnya
Yukino keluar dari kamar dan menghampiri Sting. Yukino bisa melihat kepanikan diraut wajah Sting. "Ada apa, Sting?" Tanya Yukino
"Lucy sakit, dia pingsan dikamar" jawab Sting dengan nada panik
"Ap-apa? Pingsan?" Yukino segera naik dan masuk kekamar Lucy untuk memeriksanya.
Yukino melihat keadaan Lucy yang kelihatannya makin parah. Wajah Lucy sudah mulai memerah karena panas tubuhnya, nafasnya terengah-engah, keringat dingin keluar dari tubuhnya.
"Panggilkan dokter, Sting" ujar Yukino
Sting mengangguk dan segera menyambar telepon yang berada dikamar Lucy.
Yukino keluar dari kamar Lucy untuk mengambil handuk dan air hangat. Saat gadis itu keluar dari dapur, ia berpapasan dengan Loki yang sedang ingin mengambil minum.
"Loh? Yukino-sama, handuk dan air itu untuk apa?" Tanya Loki
"Untuk Lucy. Lucy sakit dan pingsan. Dia belum sadarkan diri" terang Yukino
"Apa? Pingsan? Bagaimana bisa? Baiklah ayo kita kekamarnya" ajak Loki. Loki dan Yukino pun segera menuju kekamar Lucy.
XXX
Natsu yang sedang menjahili Gajeel dan Gray tiba-tiba merasa sedikit perasaan tidak enak.
'Ada apa ini?' Pikir Natsu
Natsu bangkit berdiri tiba-tiba sehingga mengagetkan teman-temannya.
"Ada apa? Kau mengagetkanku Natsu" ujar Erza
Natsu tidak menjawab dan langsung berlari keluar rumah.
"Mau kemana dia?" Tanya Gray
"Dia mau kerumah Lucy" jawab Gajeel
Gray dan Erza saling memandang. Diwajah mereka terlihat kebingungan.
XXX
Lucy belum sadarkan diri walaupun sudah diperiksa oleh dokter dan sudah diberi obat. Loki, Sting dan Yukino memandang Lucy dengan khawatir.
"Dia sudah berusaha keras sampai detik ini" ucap Sting
Loki dan Yukino mengangguk.
"Ada apa dengan Lucy?" Tanya Natsu yang tiba-tiba muncul dari balkon kamar Lucy
Sting, Loki, dan Yukino menoleh dan ber-sweatdrop.
"Setidaknya kau harus menggunakan pintu kalau bertamu" ucap Loki
Natsu berjalan menghampiri Lucy yang terbaring lemah dengan infus yang tertancap ditangannya.
"Luce.." Panggil Natsu dengan khawatir
Lucy tidak menjawab, matanya masih terpejam, nafasnya sekarang terdengar stabil.
"Dia sudah diberi obat dan diperiksa oleh dokter" terang Yukino
Natsu mengangguk. "Boleh aku menjaganya?" Pinta Natsu
Sting dan Loki saling memandang.
"Baiklah..mohon bantuanmu, Natsu-san" jawab Sting sambil berjalan keluar dari kamar Lucy dan diikuti oleh Yukino.
Loki menyentuh bahu Natsu. "Jika dia sudah sadar, lapor padaku" ucap Loki diiringi anggukan dari Natsu. Loki pun keluar dari kamar Lucy meninggalkan Natsu.
Natsu menarik kursi dan meletakkannya disamping tempat tidur Lucy. Natsu duduk dan meraih tangan gadis yang ia cintai itu. Ia menggenggam tangannya. Natsu benar-benar khawatir pada gadis yang ada dihadapannya. Natsu pun tidak mengerti dengan dirinya, kenapa ia bisa mendapatkan firasat buruk terhadap Lucy?
"Cepat sembuh, Luce.." Ucap Natsu sambil membelai rambut Lucy.
XXX
Lucy berada diruangan yang gelap dan lembab. Ia merasa tubuhnya remuk, semua anggota tubuhnya tidak bisa digerakkan. Kepalanya sangat pening, penglihatannya menjadi buram.
"Bagaimana? Masih belum cukup?" Tanya seseorang yang ada dihadapan Lucy. Lucy tidak bisa melihatnya. Lucy mengedipkan matanya agar pandangannya menjadi jelas, tetapi tetap tidak membuahkan hasil.
Lucy merasakan nyeri di bagian perut. Lucy merasa ditendang oleh seseorang itu. Dan terlempar menabrak tembok. Lucy hanya bisa terbatuk.
'Siapa..siapa' batin Lucy
"Kenapa kau hanya diam? Kau merasa sakit?" Tanya seseorang itu
Lucy tetap tidak menjawab. Lidahnya terasa kelu.
Seseorang itu kemudian menjambak rambut Lucy.
"Matilah,kau.."
Lucy pun membuka matanya, yang ia lihat bukan ruangan gelap, tetapi ini adalah kamarnya. Dan ia juga melihat Natsu disampingnya sedang menatapnya dengan khawatir.
"Luce..kau sudah sadar? Apa yang kau rasakan? Apa yang sakit?" Tanya Natsu dengan bertubi-tubi. Oh Natsu, seharusnya kau tidak bertanya begitu pada orang yang baru saja sadar dari tidurnya.
Lucy masih bingung dengan keadaan sekarang. Ia melihat infus yang tertancap ditangannya. Ia juga melihat Natsu disini.
"Aku kenapa?" Tanya Lucy
"Kau pingsan tadi. Kau demam" jawab Natsu
"Benarkah? Aku merasa sangat pusing, Natsu" ungkap Lucy sambil menutupi matanya dengan tangannya.
"Sebentar, aku akan panggilkan yang lain" Natsu bangkit berdiri tetapi tangannya ditahan oleh Lucy.
"Jangan pergi. Tetap disini" gumam Lucy
Natsu memandang Lucy dan kembali duduk.
"Ada apa? Saat kau tertidur, kau kelihatan kesakitan" terang Natsu
"Aku bermimpi..mimpi itu lagi. Aku sangat-sangat muak dengan mimpi itu..sangat..muak.." Ucap Lucy dengan lirih. Airmatanya keluar dari mata indahnya.
"Mimpi? Kau mimpi apa? Jelaskan padaku" tanya Natsu
"Setiap aku bermimpi seperti ini..pasti..pasti..kejadian itu akan..akan terulang" isak Lucy
Natsu membelalakkan matanya. Natsu bertanya-tanya, Lucy memimpikan apa sampai ia bisa terisak seperti itu. Dan apakah itu firasat Lucy yang merasa akan terjadi sesuatu lagi?
Natsu tidak dapat melakukan apa-apa. Ia hanya bisa memandang Lucy yang menangis. Sungguh menyebalkan memang saat melihat gadis yang dicintainya menangis dihadapannya, tetapi apa boleh buat, ia tidak dapat melakukan apapun. Natsu tahu itu.
XXX
Beberapa hari sudah berlalu, keadaan Lucy sudah mulai membaik. Infusnya sudah dilepas. Ia juga sudah tidak terlihat pucat dan ia juga sudah bisa bangun dari tempat tidurnya. Keadaan Lucy yang membaik membuat senang semua orang.
"Lucy-chan, ini sarapan untukmu" ucap Sting yang sedang membawakan sarapan untuk Lucy kekamar Lucy
"Ah arigatou, Sting. Ah senangnya bisa sakit seperti ini. Aku bisa menyuruhmu untuk melakukan apapun yang aku mau" ledek Lucy
Sting menaruh sarapan di hadapan Lucy dan menyentil dahi Lucy.
"Ah itttaaaaaiii! Apa-apaan kau, Sting" bentak Lucy sambil memegang dahinya yang memerah.
"Habisnya kau ini malah senang sakit. Aku dan yang lainnya khawatir. Jantungku mau lepas dari tempatnya melihatmu tergeletak dikamar mandi" gerutu Sting
Lucy terhenyak mendengar kalimat yang terlontar dari mulut Sting. Walaupun Sting adalah pemuda yang menurut Lucy sangat konyol, tapi hatinya sangat baik.
"Iya-iya maafkan aku" sesal Lucy
"Baiklah, dimakan sarapannya. Loh, dimana si pinky hair? Dia sudah pulang?" Tanya Sting sambil menoleh kesana kemari mencari Natsu.
Semenjak Lucy sakit, Natsu setiap hari, dan hampir setiap malam tidur menemani Lucy. Itu semua bukanlah kemauan Lucy, tapi usul dari Loki. Entah apa yang dipikirkan Loki.
"Natsu? Dia pulang saat aku mandi" jawab Lucy sambil menyendok bubur yang ada dihadapannya.
"Hmm begitu ya, aku mau bertanya satu hal padamu" ucap Sting yang sekarang duduk disamping Lucy
"Apa?"
"Kau sebenarnya menyukai Natsu, bukan?" Tanya Sting dengan to the point dan sontak membuat Lucy tersedak. Lucy terbatuk-batuk mendengar pertanyaan Sting.
"Ap-apa yang kau bicarakan?!" Lucy berusaha menutupi perasaannya.
"Kau tahu, kau tidak bisa berbohong padaku" timpal Sting sambil menyeringai nakal untuk meledek sepupunya itu.
Lucy menunduk, matanya tertutup dengan poninya.
"Aku menyukainya, sangat menyukainya. Saat aku dekat dengannya, hatiku berdebar-debar, saat dekat dengannya aku merasa kehangatan yang telah hilang, saat dekat dengannya aku bisa tertawa lepas, saat dekat dengannya, aku merasa wajahku memanas, saat dekatnya aku merasa selalu terlindungi...aku menyukainya..sangat suka" terang Lucy dengan suara yang pelan.
Sting tersenyum mendengarnya. "Lalu?" Tanya Sting
"Lalu? Lalu apa maksudmu?" Jawab Lucy dengan bingung
"Kenapa kau tidak memberitahukan perasaanmu padanya?" Tanya Sting lagi.
"Aku takut..aku takut dia tidak menyukaiku..dan pada akhirnya hubungan kami akan menjadi canggung" jawab Lucy
Sting tertawa, Lucy yang melihatnya hanya memicingkan matanya. "Kenapa kau malah tertawa?" Tanya Lucy dengan nada kesal
"Tidak-tidak. Baiklah..habiskan sarapanmu. Kita akan berbincang banyak setelah kau pulih sepenuhnya. Oke" terang Sting sambil keluar kamar Lucy.
XXX
Kira melihat Lucy dari kejauhan, mata merahnya berkilat. Ia mendengar apa yang dikatakan oleh Lucy tentang Natsu. Kira mengepalkan tangannya.
"Sial!" Ujarnya
"Tidak..tidak..kau tidak boleh menyukainya.. Tidak boleh" gumam Kira
'Aku harus melakukan sesuatu' pikir Kira
XXX
Natsu yang kembali kerumahnya dengan segera membersihkan dirinya dan masuk kedalam ruang tengah, yang biasa dipakai untuk berkumpul dan berbincang-bincang. Tetapi diruangan itu ternyata hanya ada Wendy.
"Bagaimana keadaan Lucy-san?" Tanya Wendy
"Dia sudah mulai pulih" jawab Natsu
Wendy mengangguk.
"Natsu-san, boleh aku berbicara sesuatu?" Tanya Wendy. Natsu mengangguk.
"Hmm menurutku, kau harus mengungkapkan perasaanmu pada Lucy-san. Aku rasa Lucy-san merasakan perasaan yang sama seperti dirimu. Mungkin ia menunggu pernyataanmu, Natsu-san." Terang Wendy
Natsu terhenyak saat mendengar ucapan Wendy. Apa benar Lucy menunggu Natsu?
Natsu mengangguk. "Aku akan mencari waktu yang tepat"
Wendy menggeleng "Waktu yang tepat itu bukanlah dicari, tetapi kita yang membuatnya, Natsu-san. Ganbatte ne?" Ucap Wendy setelah itu ia keluar dari ruangan meninggalkan Natsu sendiri.
Natsu memandang keluar jendela.
'Lucy..' Panggil Natsu didalam hatinya.
XXX
Malam haripun tiba, Lucy bersiap untuk tidur. Ia sudah menyelimuti dirinya dan memandang keluar jendela. Tidak dipungkiri, saat ini Lucy menunggu kedatangan Natsu.
"Lucy.." Panggil Natsu yang telah tiba dikamar Lucy melalui jendela balkon.
Lucy tersenyum. Natsu menghampiri Lucy dan berbaring disamping Lucy. Lucy membalikkan badannya dan berhadapan dengan Natsu. Mereka saling menatap.
"Kau lama.." Ucap Lucy
"Maaf..aku harus berburu dulu tadi" jawab Natsu
"Hmm souka.."
"Kau mau tidur?" Tanya Natsu
Lucy menggeleng "Aku belum mengantuk"
Natsu membelai rambut Lucy. Lucy sejenak memejamkan matanya menikmati belaian Natsu.
"Nanti kau tidak sembuh-sembuh" ujar Natsu
"Aku pasti akan sembuh" timpal Lucy
Lucy menyentuh pipi Natsu dan membelainya.
"Kenapa seluruh tubuhmu hangat, Natsu?" Tanya Lucy tiba-tiba
"Ada yang bilang, kalau seluruh tubuh seseorang hangat, itu artinya seseorang itu mempunyai hati yang hangat" jawab Natsu
Lucy menyipitkan matanya. "Jadi kalau aku dingin, aku mempunyai hati yang dingin? Begitu?" Ujar Lucy sambil cemberut
Natsu tertawa dan menggeleng. "Alasan sebenarnya itu, aku ini vampire berkekuatan naga api. Diperutku ini seperti magma yang ada didalam gunung berapi" jelas Natsu sambil memamerkan sederet gigi putihnya.
"Hmm begitu ya..dengan begitu kau tidak merasa kedinginan bukan?" Tanya Lucy kembali
"Aku merasa dingin. Aku pernah merasakan dingin yang cukup lama" jawab Natsu
"Benarkah?" Tanya Lucy
Natsu mengangguk. "Aku merasakan dingin saat aku ditinggal oleh naga yang menurunkanku kekuatan ini" jelas Natsu
Lucy melihat wajah Natsu yang menyiratkan kesedihan.
"Dia sudah seperti ayahku sendiri" lanjut Natsu
Lucy mendekatkan dirinya ke Natsu dan memeluk Natsu. Wajahnya dibenamkan didada Natsu.
"Maaf..aku menanyakan hal itu.." Ucap Lucy
Natsu membalas pelukan Lucy.
"Tidak apa-apa..tidak apa-apa." Sahut Natsu
Lucy mengeratkan pelukannya kepada Natsu. Natsu mengelus punggung Lucy dengan lembut.
"Tidurlah.." Gumam Natsu
Lucy mengangguk dan mulai memejamkan matanya. Begitu pun juga Natsu. Dan mereka akhirnya terbawa kealam mimpi.
XXX
Keesokkan paginya, Erza tengah mengelilingi kota, ia sedang berbelanja bahan makanan untuknya dan juga teman-temannya. Erza membulatkan matanya saat melihat sosok yang ia kenal, tanpa ia sadari, ia telah menjatuhkan bahan makanan yang telah ia beli, Erza sangat terkejut.
'Jellal' batin Erza
Erza masih memandangi sosok pemuda yang sedang bercengkrama dengan beberapa orang. Ia sedang tertawa. Kemudian, pemuda yang dikenalnya bernama Jellal itu menoleh kearah Erza dan memandang Erza. Erza mengalihkan pandangannya dan memungut bahan makanan yang telah ia jatuhkan dan kemudian pergi. Tetapi baru beberapa langkah, lengan Erza dipegang oleh seseorang dan akhirnya Erza menoleh dan melihat...
"Erza.." Panggil seseorang itu
"Jellal"
"Hisashiburi, Erza. Bagaimana keadaanmu? Kau baik-baik saja bukan?" Tanya Jellal dengan senyum ramah diwajahnya.
"Seharusnya aku yang menanyakan hal itu..sudah beberapa tahun kau menghilang" sahut Erza
"Ah gomenne telah membuatmu khawatir. Aku.." Ucapan Jellal terpotong karena ada seseorang yang memanggilnya.
"Jellall!"
Jellal menoleh, "Ya, aku datang!" jawabnya.
Jellal kembali menoleh kearah Erza dan mengulum senyumnya. "Aku pergi dulu ya, Erza. Sampai jumpa" pamit Jellal sambil berjalan meninggalkan Erza. Erza hanya memandangi bahu Jellal.
"Aku sangat merindukanmu, Jellal" gumam Erza kemudian ia membalikkan tubuhnya dan berjalan berlawanan arah dari Jellal.
Jellal menoleh. Dia melihat Erza yang sudah menghilang.
"Aku merindukanmu, Erza" gumamnya
XXX
Lucy sedang duduk diperpustakaan rumahnya. Ia sedang membaca buku tentang ilmu-ilmu sihir yang harus ia pelajari. Ia tidak mau terlihat lemah. Ia membuka setiap lembar yang ada dibuku dan membacanya dengan teliti. Ia sudah bertekad untuk mempelajarinya, hingga saat kekuatannya bangkit, Lucy sudah bisa mengendalikan kekuatannya. Tapi tiba-tiba pikiran dan pandangannya teralihkan kearah kalender yang ada di tembok ruangan tersebut.
Tanggal 20 Desember.
"Aaaah, tidak terasa sudah mau natal. Natal pertama tanpa orang tua. Hmm?" Gumam Lucy. Lucy menutup bukunya dan berjalan kearah jendela, dan menatap keluar.
"Okaa-san..Otou-san..kalian melihatku sekarang, bukan? Aku sudh tidak apa-apa..tapi..aku sangat merindukan kalian" gumam Lucy
Lucy mendengar seseorang membuka pintu dan menoleh. Sting sedang berdiri didepan pintu bersama dengan pacarnya, Yukino.
"Sedang apa kau?" Tanya Sting yang berjalan menghampiri Lucy, sedangkan Yukino duduk ditempat dimana Lucy duduk.
"Aku sedang memikirkan sesuatu" jawab Lucy seadanya.
Sting menaikkan alis. "Apa yang kau pikirkan?" Tanyanya
"Ini natal pertamaku tanpa orang tuaku" ujar Lucy tanpa ada keraguan, tetapi didalam kalimatnya tersirat sebuah kesedihan.
Yukino menoleh, Sting pun mendekati Lucy dan mendekapnya.
"Tapi masih ada kami..masih ada aku, Yukino, Loki, para maid disini, ada Natsu, dan teman-temannya..aku yakin natal ini kau tidak akan kesepian. Jangan bersedih" ucap Sting sambil menepuk-nepuk dengan pelan punggung sepupunya.
"Aku tahu..aku tahu.." Sahut Lucy
Lucy melepaskan dekapan Sting dan menoleh kearah Yukino yang sedang tersenyum.
"Jadi..apa rencana kalian untuk natal dan hmm tahun baru tahun ini?" Tanya Lucy
Yukino meletakkan jari telunjuknya dibawah dagunya seperti berpose seseorang sedang berpikir.
"Aku belum tahu, bagaimana denganmu, Lucy-san?" Sahut Yukino
Sebelum Lucy membuka mulutnya, tiba-tiba Sting sudah berbicara.
"Kita semua akan kerumahku. Kita menemui keluargaku. Kau juga Lucy! Ibu dan ayahku mengkhawatirkanmu. Dan kau Yukino, sebagai calon menantu yang baik, sebaiknya kau perkenalkan dirimu pada orang tuaku sekaligus calon mertuamu" jelas Sting sambil mengedipkan sebelah matanya dengan genit kearah pacarnya. Yukino hanya tertawa.
Brakkk!
Tiba-tiba pintu perpustakaan terbuka dan menampakkan seorang Natsu. Lucy bersweatdrop, Yukino dan Sting hanya bisa membelalakkan matanya.
"Tidak! Lucy akan menghabiskan malam natalnya bersamaku dan teman-temanku" ujar Natsu sambil berjalan menghampiri Lucy dan merangkulnya.
Sting yang berada disebelah Lucy dengan cepat menjitak kepala Natsu.
"Apa yang kau lakukan! Kenapa kau menjitakku" tanya Natsu dengan kesal dan ia sekarang sudah melepaskan rangkulannya.
Lucy menjauhi kedua orang tersebut dan duduk disebelah Yukino.
"Kau masuk seenaknya saja kerumah orang lain! Kau-" ucapan Sting terpotong karena Natsu memotongnya
"Aku masuk lewat pintu depan, dan disambut oleh Virgo, lalu dia memberitahukan kalian disini, dan saat aku diluar, aku mendengar rencana kalian yang membawa Lucy untuk kerumah kau! Dia itu sudah ada rencana denganku, Sting!" Cerocos Natsu dengan penuh semangat.
Lucy dan Yukino tertawa.
"Ap-apaaa! Tidak, Lucy akan ikut dengan kami!" Protes Sting
"Tidak! Lucy akan ikut denganku!" Bantah Natsu
"Denganku!"
"Tidak! Denganku!"
Lucy dan Yukino bersweat drop.
"Kenapa mereka harus bertengkar?" Gumam Lucy. Yukino hanya mengangguk.
"Lucy! Kau akan ikut siapa? Aku atau si pirang bodoh ini?!" Tanya Natsu sambil menunjuk kearah Sting.
Hey, Lucy juga berambut pirang.
"Dengar Natsu, bagaimana kalau kau menjelaskan rencanamu itu padaku? Bagaimana aku memilih, jika aku tidak tahu rencanamu. Dan aku juga pirang! Jangan menghina Sting seperti itu!" Ujar Lucy sambil menempatkan kedua tangannya yang dilipat didepan perutnya.
"Begini aku ingin mengajakmu ikut misi denganku" terang Natsu
"Misi?" Ucap Lucy, Yukino dan Sting bersamaan.
Natsu mengangguk. "Saat malam natal, aku dan teman-temanku bertugas menjadi santa claus, dan membagikan hadiah pada anak-anak kecil yang masih percaya pada santa claus. Hmm aku pikir itu akan menyenangkan bagimu. Jadi aku pikir, aku akan mengajakmu" jelas Natsu
"Benarkah? Kau menjadi santa claus? Sepertinya, Kau akan menjadi santa claus yang mengerikan" cela Sting sambil menahan tawanya. Natsu menatapnya sinis.
"Bagaimana menurutmu?" Tanya Natsu pada Lucy
Lucy berpikir. "Apa aku tidak akan merepotkanmu? Lagipula ini kan pekerjaan kalian, bagaimana bisa aku ikut dengan kalian" ucap Lucy
"Merepotkan apa? Tidaklah. Kau akan menjadi partnerku saat membagikan hadiah. Tapi misi ini hanya sukarela, jadi tidak dapat imbalan apapun" jelas Natsu
Lucy menoleh kearah Sting dengan tatapan aku-minta-maaf-aku-akan-ikut-dengan-Natsu. Sting menghela nafas dan mengangguk.
"Jangan macam-macam dengan Lucy. Jaga dia" ucap Sting
Natsu mengacungkan jempol dan memamerkan deretan giginya. "Tenang saja, serahkan padaku! Yosssh!" Sahut Natsu dengan semangat.
Mereka semua tertawa melihat kelakuan Natsu.
Natsu merangkul Lucy dan mereka tertawa. Sting melihatnya ikut bahagia. Lucy bisa melupakan kesedihannya saat dia bersama Natsu.
"Baiklah..baiklah..aku dan Yukino akan pulang besok. Ingat, Natsu! Jaga Lucy. Kalau sampai aku pulang ada luka ataupun terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, kau akan habis dengan tanganku!" Ancam Sting
Natsu memberi tanda hormat kepada Sting. "Siap!"
Sting dan Yukino keluar dari ruangan, meninggalkan Natsu dan Lucy. Natsu duduk disebelah Lucy. Lucy mulai kembali membuka buku ilmu sihirnya. Natsu memperhatikannya.
Lucy yang sadar diperhatikan oleh Natsu, menjadi tidak konsentrasi akan bacaannya. Akhirnya dia menutup bukunya dan memandang mata onyx milik Natsu.
"Kenapa kau memperhatikanku seperti itu?" Tanya Lucy
"Aku hanya membayangkan kau memakai jenggot putih saat kita melakukan misi" jawab Natsu
Lucy menaikkan sebelah alisnya. Jenggot?
"Natsuuuuuuuu!" Ujar Lucy sambil memukul bahu Natsu.
Natsu tertawa terbahak-bahak. "Hahaha aku bercanda..aku bercanda" ucap Natsu disela tawanya yang meledak. Lucy hanya cemberut.
"Jadi bisa kau jelaskan padaku, misinya itu?" Tanya Lucy
"Hmm nanti kita diberi kereta dengan dengan kuda yang punya sayap, lalu kita naik, lalu mengirimkan hadiah-hadiah" jelas Natsu
"Kereta dengan kuda bersayap? Mana ada" bantah Lucy
"Kau tidak percaya? Makanya aku mengajakmu" sahut Natsu
"Jelas aku tidak percaya, mana ada kuda bersayap, maksudmu pegasus? Kita tidak lagi didunia dongeng Natsu. Realistis sedikit" bantah Lucy
"Begini saja, kau lihat aku. Aku vampire, dan kau ini penyihir bukan? Biasanya kita ini berada dicerita dongeng. Tapi kenyataannya kita hidup. Jadi pegasus itu benar-benar ada" jawab Natsu
Lucy berpikir, ada benarnya apa yang dikatakan oleh Natsu.
"Baiklah-baiklah aku mengalah.." Ujar Lucy sambil mengangkat kedua tangannya.
Natsu bangkit dari duduknya dan mengulurkan tangannya, Lucy menatapnya.
"Mau berjalan-jalan denganku Luce?" Ajak Natsu.
Lucy melihat uluran tangan Natsu, kemudian melihat kearah wajah Natsu. Natsu sudah memamerkan cengiran manisnya saat itu. Lucy tidak dapat menahan senyumnya. Sedetik kemudian, Lucy menerima uluran tangan Natsu dan mereka berjalan keluar ruangan.
XXX
Lucy dan Natsu sudah berada ditengah kota kembali. Ia berjalan-jalan dengan senangnya. Mereka berpegangan tangan, mereka menertawakan hal-hal lucu yang mereka temui dijalan.
"Apa kau sudah tidak apa-apa berjalan-jalan keluar seperti ini?" Tanya Natsu
Lucy mengangguk. "Kau tidak lihat aku sudah menggunakan sarung tangan dan penutup telinga?" Ujar Lucy sambil menunjuk penutup telinganya dan juga menunjukkan sarung tangan yang ia pakai.
"Baiklah..baiklah" sahut Natsu
Natsu dan Lucy berjalan sampai pada akhirnya mereka berdua memutuskan untuk duduk ditaman dan membeli minuman kaleng hangat. Tiba-tiba Natsu meletakkan kepalanya dibahu Lucy.
"Hmm Natsu?" Panggil Lucy
"Ya?" Sahut Natsu
"Kau mau hadiah natal apa dariku?" Tanya Lucy
"Aku ingin cinta" jawab Natsu
Lucy terkejut dan menoleh sedikit kearah Natsu. "Ap-apa maksudmu?" ucap Lucy
"Hmm itu...cinta dalam artian lainnya..hmm ya begitulah...aaah bagaimana ya..." Ucap Natsu sambil menggaruk kepalanya.
Lucy berpikir, apa yang dimaksudkan oleh Natsu? Cinta..cinta..cinta?
Wajah Lucy memerah kemudian memukul bahu Natsu. "Natsu hentaiiii!" Teriak Lucy
Natsu tertawa "Aku bercanda..aku bercanda.."
"Aku kan bertanya serius padamu" protes Lucy
Natsu merangkulnya. "Kalau kau, mau hadiah apa dariku?" Tanya Natsu
"Aku tidak mau apa-apa. Cukup kau harus menemaniku setiap saat" jawab Lucy
Natsu blushing.
"Hmm baiklah, Lucy-himee.." Sahut Natsu dengan nada ala Virgo. Mereka berdua tertawa.
Lucy bangkit berdiri.
"Kau mau ramen? Aku akan membelikannya di supermarket itu" Tanya Lucy sambil menunjuk supermarket yang berada diseberang jalan.
"Boleh..tapi yang pedas ya.." Pinta Natsu
"Baiklah, aku pergi dulu" pamit Lucy sambil berlari menuju supermarket.
Beberapa menit kemudian, Lucy pun kembali dengan dua ramen ditangannya.
"Ini.." Lucy menyodorkan ramen yang dipesan oleh Natsu.
Natsu menerimanya dan menaruhnya disampingnya. Dan Natsu juga mengambil ramen milik Lucy dan meletakkannya disamping ramen milik Natsu. Natsu memegang kedua tangan Lucy.
"Luce.."
"Hmm?"
"Aku sudah memikirkan tentang hadiah natal yang akan kau berikan kepadaku" ucap Natsu
Lucy menoleh, "Apa?"
"Aku ingin ayam goreng yang banyak dengan saus tobasco yang banyak pula. Hmm sepertinya enak dimakan saat dingin seperti itu..nyam..nyam..." Ucap Natsu seperti anak kecil.
Lucy tertawa pelan.
"Baiklah..ayo dimakan dulu ramennya" ujar Lucy.
Natsu dan Lucy memakan ramennya dengan lahap. "Setelah ini kau mau kemana, Luce?" Tanya Natsu yang telah menghabiskan ramennya.
"Aku ingin mencari hadiah untuk Loki, Sting, Yukino-san, dan yang lainnya" jawab Lucy
"Aku tidak dibelikan?" Gerutu Natsu
"Katanya kau ingin aku membelikan ayam goreng saus tobasco? Natalnya masih 5 hari kedepan, Natsu" ujar Lucy
"Aaaahh..baiklaaaah" sahut Natsu
XXX
Natsu dan Lucy sedang berada didalam toko pakaian. Ia sedang memilih coat untuk Loki.
"Menurutmu, Loki akan menyukai warna hitam atau yang abu-abu ini?" Tanya Lucy sambil memperlihatkan dua model yang sama dengan warna yang berbeda pada Natsu
"Hmm dua-duanya bagus" jawab Natsu
Lucy menghela nafas. "Ah kau tidak membantuku sama sekali" keluh Lucy
Lucy akhirnya memutuskan untuk membeli coat yang berwarna abu-abu.
Setelah keluar dari toko pakaian yang sebelumnya, Natsu dan Lucy masuk kedalam toko yang menjual berbagai macam syal. Ia akan membelikan Sting dan Yukino syal yang sama.
Lucy memilih beberapa syal. Ia memilih syal berwarna cokelat, dark blue, dan juga tosca. Lucy memilih warna dark blue. Lucy mencocokkannya dengan warna rambut pasangan itu. Sting mempunyai warna rambut yang terang, begitu pun juga Yukino.
"Kita akan kemana lagi?" Tanya Natsu
"Ke toko itu..aku melihat topi berbahan wool yang cocok untukmu" ujar Lucy sambil menunjuk kesalah satu deretan toko dan menarik Natsu untuk pergi kesana. Lucy tertawa gembira, begitu juga dengan Natsu.
Setelah selesai memilihkan topi, Lucy membayarnya dan keluar dari toko. Tiba-tiba Natsu merampas topi yang telah dibeli Lucy dari kantongnya kemudian memakainya.
"Bagaimana menurutmu?" Tanya Natsu sambil mengeluarkan grins-nya yang khas.
Lucy blushing "Cocok" ujar Lucy
"Akan aku pakai sekarang" ucap Natsu
Lucy mengangguk.
"Luce, tunggu disini ya. Aku ingin ketoilet sebentar" pamit Natsu. Lucy mengangguk.
Lucy menoleh kekanan dan kekiri melihat disekitarnya dan melihat beberapa bungkusan yang ia pegang.
Lucy melihat toko yang menjual perhiasan, ia memasukinya. Lucy melihat-lihat dan ia terpesona dengan cincin yang dipajang dilemari kaca depan. Mungkin itu model baru. Tiba-tiba ada yang memegang bahu Lucy. Lucy menoleh dan mendapati Natsu sedang tersenyum.
"Kau disini rupanya. Aku mencarimu ditempat tadi" ujar Natsu
"Haha iya aku hanya melihat-lihat. Ayo kita pergi beli hadiah untuk yang lain" ajak Lucy sambil menarik tangan Natsu. Natsu hanya memperhatikan cincin yang diperhatikan oleh Lucy.
'Apakah dia menginginkan cincin itu?' Batin Natsu
XXX
Lucy sampai dirumahnya, ia berbaring dan menaruh kantong belanjanya di bawah meja belajarnya agar tidak ketahuan oleh yang lainnya. Natsu sudah kembali ke Magnolia. Dia bilang, malam ini tidak bisa menemani Lucy. Menurut Lucy, itu tidak apa-apa. Karena satu hari ini sudah dilewatkan bersama. Lucy merasa kantuk telah melandanya. Ia dengan segera bangkit dan masuk kedalam kamar mandinya. Ia tidak boleh tertidur sebelum ia mandi.
XXX
Natsu sedang berjalan ditengah kota, ia masih ada di pusat kota Fiore. Entah apa yang ingin ia lakukan. Ia berjalan dengan memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya. Natsu masuk kedalam toko perhiasan dimana ia menemukan Lucy.
Natsu melihat cincin yang diperhatikan oleh Lucy dan bertanya pada penjualnya apakah bisa melihatnya. Cincin dengan batu berwarna merah ditengahnya. Sungguh indah dan juga mahal. Natsu pun menghela nafas dan keluar dari toko tersebut.
"Aaaaaah kenapa aku tidak terlahir sebagai seorang pangeran yang kaya raya!" Ujar Natsu dengan kesal sambil memegang kepalanya.
Ia sangat ingin membelikan Lucy cincin itu, tapi harganya sangat mahal. Uang yang dimiliki Natsu tidak cukup untuk membelinya. Natsu pun memutuskan untuk pulang kerumahnya.
XXX
Kira duduk didahan pohon dekat rumah Lucy. Ia memandang Lucy dari kejauhan. Tiba-tiba Taka, Hestia dan Aki ada didahan pohon lainnya.
"Kau sedang apa disini?" Tanya Hestia
"Sedang melihat buruan" jawab Kira
"Kau seperti seorang stalker yang sedang tergila-gila padanya, Kira" celetuk Aki
"Memang" sahut Kira
"Kau ini tidak bisa dipercaya" ucap Taka dengan kekesalannya ia mengepalkan tangannya.
Taka merasa Kira memperlambat rencana untuk membunuh Lucy karena Kira menaruh hati pada Lucy.
Tiba-tiba Taka melayangkan pukulan kewajah Kira, tapi pukulan itu ditahan oleh Kira dengan menggunakan satu tangannya.
"Kau mau menyerangku?" Tanya Kira dan memandang Taka dengan pandangan sinis yang mengerikan.
"Kau lebih memilih mati ditanganku? Hmm?" Tanya Kira sambil meremas tangan Taka. Tulang-tulang Taka pun sudah merasa remuk. Aki yang melihatnya segera melerai pertengkaran itu.
"Sudah Kira..Taka.." Lerai Aki
Hestia pun merangkul Taka. Kira melepas remasan tangan Taka dan memandang kearah Lucy kembali.
"Ayo kita kembali" ajak Hestia. Taka mengangguk.
"Tunggu" ucap Kira
Hestia dan Aki menoleh. Taka tidak mau menoleh kearah Kira.
"Aku peringatkan, kalau kalian menentangku, kalian akan mati ditanganku" ancam Kira
Aki menghela nafas. "Baiklah. Kami kembali" ucap Aki dan kemudian mereka bertiga hilang.
Kira masih memandang Lucy dari kejauhan, terlihat Lucy yang sudah berbaring di ranjangnya dengan menggunakan pakaian tidurnya. Kira tidak melihat keberadaan Natsu. Ia menyeringai kemudian menghilang.
XXX
Kira sudah berada dikamar Lucy, ia melihat kamar Lucy yang begitu rapi.
'Seperti inikah kamar seorang gadis? Berbeda dengan Hestia' batin Kira
Kira memandang Lucy yang tertidur pulas di ranjangnya. Kira mendekati Lucy dan duduk disebelah Lucy. Ia memerhatikan wajah Lucy. Ia mencoba membelai pipi Lucy tetapi Lucy tiba-tiba bergerak. Lucy masih memejamkan matanya, Kira melanjutkan kegiatannya untuk mencoba membelai pipi Lucy. Saat menyentuhnya, Kira merasa kulit Lucy sangat lembut. Setelah membelai pipi Lucy, ia membelai tangan Lucy lalu terakhir ia membelai rambut pirang panjang Lucy sambil tersenyum.
"Kau sangat cantik. Kau lebih pantas denganku, bukan dengan vampire bodoh itu" bisik Kira ditelinga Lucy. Entah apakah Lucy mendengarnya atau tidak.
Kira menyentuh bibir Lucy, wajah Kira mulai mendekat ke wajah Lucy. Kira berniat untuk mencium Lucy. Saat sudah beberapa sentimeter, ia berhenti.
"Aku akan simpan ciuman kita, sampai saatnya nanti" ucap Kira setelah itu mengecup pelan pipi Lucy.
Kira pun menghilang.
XXX
Malam natal pun tiba, Lucy sedang bersiap untuk menjalankan misi bersama dengan Natsu. Dan tidak lupa dengan yang lainnya. Lucy sudah berada di Magnolia, rumah Natsu. Ia bersiap bersama dengan Wendy, Mira, Erza dan juga Juvia. Mereka semua sudah memakai pakaian santa claus versi wanita.
"Wah, sangat cocok untukmu, Lucy-san" puji Wendy
Lucy blushing. "Tetap saja tidak bisa mengalahkan keimutan dirimu, Wendy"
Wendy pun blushing.
"Aaaah aku ingin melihat Gray-sama memakai pakaian santa claus" ujar Juvia yang sekarang matanya sudah berbentuk love. Yang lainnya hanya tertawa pelan.
"Apa kau tidak apa-apa ikut dengan kami, Lucy?" Tanya Erza yang sedang memakai bootsnya.
"Tidak apa-apa. Lagipula Sting dan Yukino sudah pulang. Loki pun juga bersama keluarganya. Dirumah hanya ada maid-maidku" jawab Lucy sambil tersenyum ceria. Lucy sangat menantikan hari ini.
"Baiklah, semua sudah siap? Ayo" ujar Mira diiringi anggukan oleh yang lainnya.
Natsu, Gray, dan Gajeel sudah berada diruang tengah, menunggu kehadiran para gadis.
"Mereka lama" gerutu Gajeel
Natsu dan Gray mengangguk.
Tiba-tiba para gadis pun datang, Gray dan Natsu menoleh. Yang tadinya mereka sedang duduk, mereka berdua bangkit berdiri melihat kedatangan para gadis. Natsu memandang Lucy dengan takjub. Gray memandang Juvia dengan pandangan tidak percaya. Gajeel hanya berdecih.
"Kami sudah siap" ucap Lucy
Natsu dan Gray hanya mengangguk. Wajah mereka memerah. Entah apa yang mereka pikirkan.
Mereka semua keluar dari rumah, dan bersiap-siap pergi. Lucy dan Natsu menoleh kekanan dan kekiri.
"Loh katanya kita pakai kereta yang ada pegasusnya?" Tanya Lucy dengan polos
Gajeel pun bersiul panjang, begitupun juga yang lain. Beberapa menit kemudian, datanglah kereta dengan kuda pegasus.
Natsu menaiki keretanya. Lucy hanya melongo tidak percaya. Natsu mengulurkan tangannya untuk membantu Lucy.
"Ayo" ajak Natsu
Lucy mengangguk dan naik kekereta tersebut kemudian menjalankannya.
Paling depan adalah kereta Erza dan Mira. Diurutan kedua ada Gray bersama dengan Juvia, ketiga ada Wendy dan Gajeel dan terakhir adalah kereta Natsu dan Lucy.
"Bagaimana Luce?" Tanya Natsu
Lucy hanya melihat pemandangan yang indah, ia terbang ke langit. Ia melihat kota dari atas. Lampu-lampu yang terlihat indah. Keramaian dan kepadatan warga dikota.
"Sugoiii. Indah sekali" sahut Lucy dengan takjub
"Nah mari kita selesaikan misi ini!" Ujar Natsu dengan semangat.
"Yeee" sahut Lucy dengan mengangkat satu tangannya keatas menunjukkan semangatnya. Natsu yang melihat tersenyum. Dan mereka tertawa bersama. Mereka tidak peduli dengan udara dingin dimusim dingin ini. Mereka hanya merasa hangat.
XXX
"Natal ya? Apa aku harus membelikan Lucy hadiah?" Gumam Kira yang sekarang sedang berada ditengah kota dengan menyamar sebagai Ken.
Ken (kita sebut saja nama ini kalau Kira lagi menyamar) dia melewati toko perhiasan. Dimana toko perhiasan itu adalah toko dimana Lucy melihat-lihat sebuah cincin.
Ken tertarik dengan cincin yang dipajang didepan. Cincin dengan batu berwarna merah. Itu adalah cincin yang diinginkan oleh Lucy.
"Cantik" gumam Ken
Ken masuk kedalam toko dan membeli cincin tersebut. Setelah membeli, ia memandang bungkusan tersebut dan menyeringai.
XXX
Lucy dan Natsu sudah selesai mengantarkan seluruh hadiah mereka. Mereka berdua terlihat senang, terutama bagi Lucy. Lucy tidak berhenti untuk tersenyum.
"Kau terlihat senang sekali" ujar Natsu
"Tentu saja!" Sahut Lucy sambil tersenyum
"Baiklah, kita sudah selesai. Ayo kita pulang" ajak Natsu.
"Eh tunggu sebentar, bagaimana kalau kita kerumahku sebentar. Aku ingin mengambil hadiah-hadiahku. Dan memberikannya juga" pinta Lucy
"Baiklah.." Jawab Natsu
Lucy mengambil hadiah-hadiah yang ia sembunyikan. Ia mengambil hadiah untuk para maidnya dan juga Loki. Dan diam-diam ia menaruh di pohon natal yang dihias oleh para maidnya.
"Semoga kalian suka" gumam Lucy sambil tersenyum.
Lucy kembali kekamarnya dan mengambil hadiah untuk Sting, Yukino, Erza, Gajeel, Gray, Wendy, Juvia, dan Mira dan kembali menaiki kereta dengan Natsu.
"Ayo kita kerumah Sting" ajak Lucy. Natsu mengangguk.
Sesampainya dirumah Sting, Lucy diam-diam menaruh dua hadiah dibawah pohon natalnya.
"Semoga kalian suka, dan semoga kalian langgeng" ucapnya
Lalu ia keluar.
Natsu dan Lucy menuju ke Magnolia, kerumah Natsu. Saat sudah sampai, Lucy dan Natsu melihat belum ada yang pulang.
"Mereka belum pulang ya?" Tanya Lucy
"Sepertinya begitu" ucap Natsu sambil membuka pintunya. Lucy membawa hadiah-hadiahnya.
"Aku akan menaruh hadiah-hadiah ini sebentar" ucap Lucy. Natsu mengangguk.
Beberapa menit kemudian, Lucy telah selesai menaruh hadiah-hadiah tersebut dan menghampiri Natsu yang sedang berbaring disofa.
Natsu masih mengenakan pakaian santa clausnya. Lucy mendekatinya dan memandangi wajah Natsu yang sedang tertidur. Lucy ingin membelai rambutnya tapi tiba-tiba tangannya telah digenggam oleh Natsu. Natsu telah membuka matanya.
"Gotcha!" Ucap Natsu sambil menyengir.
Lucy blushing.
Natsu bangkit duduk. "Duduklah"
Lucy pun duduk disebelah Natsu. Entah kenapa, saat ini Lucy merasa canggung. Natsu hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Besok aku akan belikan ayam gorengnya" ujar Lucy
"Hehe baiklah" sahut Natsu
Kembali diam, tidak ada percakapan.
'Ini waktu yang tepat bukan ya?' Pikir Natsu
'Kenapa aku jadi merasa canggung seperti ini' batin Lucy
Tiba-tiba terdengar pintu depan terbuka
"Tadaiiimaaaa" ujar beberapa orang. Terdengar dari suaranya itu adalah Mira dan yang lainnya.
Lucy segera bangkit berdiri dan menyambut kedatangan yang lain, begitupun juga Natsu.
"Okaeri" jawab Lucy sambil tersenyum
"Kalian sudah selesai duluan ya?" Tanya Erza
Natsu mengangguk. "Aku mau mengantar Lucy pulang" ucap Natsu
Lucy menahan Natsu.
"Tidak usah, aku akan berteleportasi saja" ujar Lucy
"Benar? Tidak apa-apa?" Tanya Natsu untuk memastikan.
Lucy mengangguk.
"Baiklah. Oyasumi, Luce" ucap Natsu
Lucy tersenyum "Aku pamit dulu ya. Oyasuminasai, minna.." Pamit Lucy.
Lucy pun menghilang.
XXX
Sesampainya dikamar Lucy, Lucy mendapati sebuah kotak kecil berwarna hitam diranjangnya.
"Apa ini?" Ucap Lucy sambil melihatnya.
Lucy membuka kotak tersebut dan terlihat sebuah cincin dengan mata berwarna merah yang bersinar. Lucy tersenyum.
"Natsu.." Gumamnya sambil tersenyum dan memakai cincin tersebut kejarinya.
.
.
.
.
.
To be continued
Haloo minna-san! akhirnya setelah sekian lama, akhirnya author dapat mengupdate fanfic ini yeayyy! apakah kalian senang?! hahaha
gomenasai karena author baru sempet update ini, soalnya laptop rusak dan datanya ilang semua huhuhu :C tapi dengan tekad yang kuat akhirnya aku membuat kelanjutan cerita ini dengan ideku yang pas-pasan...
bagaimana menurut kalian dengan chapter ini? kepanjangan? iya memang. huffft :C
direview aja deh kalo kalian punya kritik, saran, komen, pesan, dsb haha
Nah sekarang waktunya balesin review yang chapter kemaren
DiRa-cchi 7ack: Ini udah maju, bagaimana? haha
karinalu : hehehe :3 doain aja biar Sting bisa bantu-bantu Natsu yahhh~
shiko miomi : gregetan kenapa ciiii? :3 Iya nih Sting ama Yukino lagi lope-lope cihuy haha
Mizuki Hoshiro : Hehe Arigatou~ Ini udah lanjut loh, bagaimana?
Fi-chan nalupi : Hehe thanks! Gak lelah, vampire kan kuat soalnya sering minum susu(?) hmm kalo Sting gabakal balik keinggris kecuali ada perayaan-perayaan gitcuuu wohoho XD Ini udah lanjut, tapi kelamaan ya? haha bagaimana?
Hayati JeWon : Ini udah lanjut, maaf ya kelamaan :)
namikaze anggi : Iya, ini sudah lanjut. gomen kelamaan updatenya hehe :)
guest : Iyees, ini sudah lanjut loh :)
aan komalasari : Iya, ini udah lanjut loh, masih penasaran gak ? hehe
dragln : Hehe makasih! iya ini sudah lanjut :)
Pororo-chan : Hehe thanks!
Reika Aquamarine : (?)
ocha: Hehe terimakasih :3
Oke deh, semua udah dibalesin, nah sekarang pengumuman buat para readers, untuk fanficku yang berjudul I Miss You, kayanya author bakalan pending dulu kelanjutannya, im so sorry. Maaf banget yang udah nungguin kelanjutannya. lalu untuk fanficku yang berjudul A Dreamer, kelanjutannya sedang digarap jadi mohon ditunggu aja ya kelanjutan dan updatenya~
Baiklah, author udah banyak banget ngomongnya. sekali lagi author minta maaf atas keterlambatan updatenya.
Dimohon reviewnya untuk chapter ini. gomenasai dan arigatou. Author pamit undur diri dulu~~~~
Jaa nee
Anyui
