Sang Penunjuk

A Naruto Fanfiction

By

Yamicheru Present

.

.

.

.

.

Seorang bocah yg dianggap sebagai 'produk gagal' dalam sebuah experimen yg dilakukan Orochimaru. Ternyata menyimpan kekuatan tak terduga. Ya bocah yg akan menjadi 'penunjuk' bagi sang 'pembawa perdamaian'.

Note ::

Mengandung typo(s) bahasa semau gue dan penulisan sakarep Yami.

Da Yami mah apa atuh, cuma author nuby nu seuer kakirangan na.

v(^-^)v

Sang Penunjuk

AU, Adventure, Little Fighting.

Chapter 3

Mengabaikan Sasuke yg pergi entah kemana mangabaikan mangejar Kuchiyosenya. Eru lebih memilih untuk memberikan perhatiannya untuk Shinobi yg ada di dekat Naruto. Shinobi itu terlihat seperti mayat hidup yg terus menatap takut Naruto yg sekarang memungguginya dengan pandangan kosong. Memperlihatkan betapa hancurnya mental Shinobi itu.

"Oi Naruto-san dia kenapa ?!" tanya Eru dengan wajah bingung dan penasarannya.

"Abaikan saja, dia hanya Shinobi yg sudah kehilangan mental bertarungnya". "Nanti juga mati sendiri karna frustasi" jawab si pirang dengan cueknya.

"Sebaiknya kita secepatnya pergi ke tempat Kakashi-sensei" lanjut Naruto santai.

'Menyeramkan. Dia berkata sesantai itu setelah membuat mental seorang Jounin hancur seperti itu' batin Eru sedikit terkejut dengan jawaban santai sang Uzumaki.

'Di tambah lagi Chakra Oranye Gelapnya ... Penuh dengan kebencian yg pekat. Kurasa hidupnya sangat berat' lanjut si putih.

"Lalu Uciha itu bagaimana ?!"

"Tenang saja Sasuke punya Sharingan. Dia pasti bisa menemukan posisi kita dengan mengikuti jejak Chakra yg kutinggalkan" jawab Naruto untuk pertanyaan Anjing Ninja Kakashi.

"Baiklah ... Ikuti kami" dan mereka pun mulai melesat menuju tempat Kakashi dan Tazuna. Mengikuti Hewan Kuchiyose itu.

15 menit kemudian.

Sasuke kembali ke tempat dimana Naruto dan Eru berada. Namun sekarang mereka sudah tidak ada disana, bahkan Shinobi 'itu' pun keberadaannya sudah menghilang entah kemana. Uciha itu kembali harus mengeluh dan menyumpahi sang Aniki, satu-satunya keluarga sang Uciha yg selamat dari pembantaian Clannya, karna memberikannya Hewan Kuchiyose yg menurutnya lemah.

"Sial aku ditinggal". "Ini semua karna Kuchiyose bodoh yg di berikan Aniki ... Apanya dengan Kuchiyose terkuat Clan Uciha. Ngomong aja gak bisa" keluh Sasuke yg mencak-mencak sendiri.

"Dasar keriput sial" lanjut si pantat ayam.

Sementara di tempat ke lima ANBU yg mencari keberadaan Ryuuji.

Salah satu dari mereka bersin cecara tiba-tiba dengan suara yg menggelegar. Ingusnya mungkin juga ikut keluar, tapi untungnya, itu tertutupi dengan Topeng Elang yg dia pakai. Sehingga itu sedikit banyak membantunya untuk menjaga Image seorang ANBU yg harus selalu terlihat dingin dan serius.

"Oi kau kenapa Taka ?!" tanya ANBU Bertopeng Rubah. Selaku ketua dalam Timnya saat ini.

"Entahlah Kitsune-san, sepertinya ada yg membicarakan kegantenganku" jawab si Topeng Elang dengan nick name Taka. Pada sang ketua bernick name Kitsune itu.

"Hah~ terserah sajalah" balas Kitsune yg malas menimpali ke narsisan Wakil Ketuanya itu. Ya, Kitsune adalah Ketua Skuad ANBU dan wakilnya adalah Taka. Ini membuktikan bahwa Konoha memberikan perhatian lebih untuk kelompok Ryuuji yg akan mereka Hadapi.

Mengirim kelompok Tim 7 yg di percaya dihuni 'calon Monster' dan di ketuai seorang mantan anggota ANBU yg namanya sudah cukup terkenal di dunia Pershinobian. Di tambah bantuan Tim Elit ANBU yg juga tidak bisa diremehkan. Bukankah ini membuktikan kalau Konoha benar-benar serius memberikan bantuannya untuk seorang Tazuna.

Mengabaikan segala keseriusan yg di perlihatkan Konoha untuk membantu Tazuna. Mari kita tengok seorang Uciha Sasuke yg nasibnya cukup sial itu. Sasuke kini kembali mengaktifkan kembali Sharingannya untuk mengikuti Jejak Chakra Naruto dan Eru. Ya, setiap Shinobi pasti meninggalkan Jejak Chakra setelah mereka menggunakannya. Kecuali mereka adalah Shinobi kelas wahid dengan jam terbang tinggi yg mampu menghapus Jejak Chakra mereka.

"Yosh ! Mari ke tempat mereka dan segera istirahat !" ucap Sasuke setelah menemukan Jejak Chakra rekannya. Dan dengan sekali hentakan kuat bocah itu segera menyusul dengan Shunshin no Jutsu.

.

.

.

.

.

"Appaaaa ...!" teriak Naruto, Eru dan Sasuke saat mengetahui perihal Misi mereka, juga tentang Sakura yg di culik Ryuuji.

Tunggu, kenapa ada Sasuke ? Ya karna Uciha itu dengan semangat extranya menyusul mereka dengan harapan bisa cepat-cepat mengistirahatkan tubuhnya. Namun mendengar perihal Haruno Sakura yg di jadikan sandra, keinginan untuk beristirahat itu segera pupus dan berganti rasa cemas. Ya meski Kakashi sudah menjelaskan ada Kelompok Elit ANBU yg dikirim Hokage untuk membantu Misi mereka, tapi itu tidak sedikit pun membuat kecemasannya berkurang.

"Istirahatlah, malam semakin larut. Ditambah pertarungan kalian juga pasti menguras Chakra". "Besok pagi, kita akan menyusul mereka untuk menyelamatkan Sakura" ucap Kakashi setelah selesai menyampaikan segela informasi yg dirasa perlu pada ke tiga muridnya.

Tak perlu di suruh dua kali mereka pun mulai beristirahat. Namun tidak untuk Uciha Sasuke, kecemasannya membuatnya tidak bisa beristirahat. Apalagi dengan posisi yg tidak nyaman sedikit pun. Tenda mereka sudah hancur dan mau tidak mau, mereka hanya bisa beristirahat dengan menyenderkan tubuh mereka di pohon dengan sebuah api unggun untuk menghangatkan dinginnya malam itu.

'Dia hanya Fans Girl yg mengganggu kehidupanku, tapi kenapa aku mencemaskannya ?!'. 'Apa aku menyukai Sakura seperti yg mahluk kuning itu katakan ?!'

'Tidak. Aku tidak mungkin menyukai 'papan cucian' yg galaknya minta ampun itu'. 'Mungkin gadis seperti Hinata atau Ino lebih cocok untukku ...'

'Lalu kenapa ?!'. 'Ah ... Mungkin karna dia teman kelompokku. Ya kurasa itu alasannya' batin Sasuke.

Sasuke lalu menatap satu per satu temannya yg beristirahat dengan cara yg sama dengannya disetiap pohon yg mengelilingi api unggun. mereka terlihat tidur dengan lelapnya, terlebih Naruto dan Eru yg juga harus bertarung dengan para Bandit dan Nukenin. Bohong jika dia tidak meresa lelah, tapi di sisi lain, keinginan untuk menyelamatkan Sakura begitu besar. Membuat pantat ayam itu resah jika harus menunggu besok pagi.

'Memaksa mereka melanjutkan perjalanan sekarang juga tidak mungkin. Baiklah ...' batinnya sebelum menyabet rangselnya yg tergeletak tidak jauh dari tempatnya. Sedetik kemudian bocah itu mulai melesat melompati pohon ke pohon untuk mengejar para ANBU.

Beruntungnya Uciha itu sempat menanyakan arah Desa Tazuna. Sehingga setidaknya, dia tau tujuannya tidak mungkin salah atau malah tersesat di hutan. Sementara itu Naruto dan Kakashi membuka mata mereka secara perlahan dan saling menatap untuk membuat kontak. Dan agaknya Kakashi menyadari arti tatapan Naruto padanya.

"Yah, mau bagaimana lagi". "Kurasa mereka cukup kuat, lagi pula ada Elit ANBU yg sudah bergerak terlebih dahulu. Jadi kurasa akan baik-baik saja" ucap Kakashi.

"Kalau sensei sudah berkata seperti itu, aku sih hanya bisa menurut, lagi pula kita besok juga akan menyusul mereka" balas Naruto dengan santainya lalu mengambil sebuah kunai dan melemparkannya ke tubuh Eru yg masih asyik tertidur.

Poft ...

Tubuh Eru yg diserang Naruto dengan Kunai berubah menjadi balok kayu. Ternyata tanpa di sadari oleh siapa pun termasuk Sasuke, bocah Kaguya itu menyusul sang Uciha yg berniat menyelamatkan Sakura. Kakashi kembali memejamkan matanya mencoba untuk kembali beristirahat, dan itu pun dilakukan Naruto. Tapi bukan untuk beristirahat, melainkan untuk menemui Rubah berekor sembilan yg di segel di tubuhnya.

"Yo, Kurama". "Ada apa kau memanggilku ?!" tanya Naruto saat berada di sebuah lorong yg digenangi air dan berdiri tepat di depan sebuah penjara raksasa yg dihuni Rubah berekor sembilan yg di panggil dengan nama Kurama itu.

[Hanya meminta bayaran karna telah membantumu dengan memberikan Chakraku dalam pertarungan tadi] balas Kurama dengan serangai liciknya.

"Hnn ... Baiklah, kau tidak sabaran" keluh Naruto lalu dia pun mulai memejamkan matanya, membayangkan kilasan masalalunya. Sebuah kilasan saat dirinya selalu diserang oleh seluruh Warga Desa Konoha.

"Mati kau monster ..!" teriak salah seorang pria dari belasan penduduk Konoha yg menyerangnya. Kaki pria itu dengan telak menghantam dada Naruto yg dalam kilasan ini terlihat berusia sekitar 6 tahunan.

'Aku ...'. 'Hanya karna aku seorang Jinchuriki ...' batin sang Uzumaki sambil terus membayangkan kilasan balik hidupnya yg penuh kepedihan.

'Hanya karna aku Jinchuriki Kyubi ...'. 'Harus mendapatkan perlakuan keji itu ...' lanjutnya sambil memegang dadanya sendiri. Seolah-olah rasa sakit akibat tendangan 'pria' itu beberapa tahun silam masih terasa hingga kini.

"Rasakan ini Monster !" teriak pria lain yg ikut menyiksa Naruto kala itu. Dan tanpa belas kasihan pria itu menginjak-injak tubuh Naruto yg sudah jatuh terlentang akibat tendangan pria pertama.

Tubuh mungil bocah itu di kelilingi belasan pria yg dengan tega menginjak-injak tubuh tak berdaya Naruto. Masih tanpa belas kasihan pria-pria paruh baya itu terus menyiksa Naruto hingga mereka lelah sendiri. Tapi itu agaknya tidak membuat mereka puas karna Naruto yg sudah sekarat pun harus rela mendapatkan 'ludah' mereka. Ya, lelah dengan penyiksaan fisik, mereka masih menyiksa mental bocah itu dengan sumpah serapah dan ancaman yg disertai ludahan itu.

"Cuihhh ... Ini untuk istriku yg terbunuh dalam insiden 6 tahun lalu"

"Nyawamu bahkan tidak pantas menggantikan nyawa anakku yg terbunuh pada waktu itu"

"Kau adalah Monster". "Kau tidak pantas hidup"

"Kau sampah !"

"Sampah !"

Teriak orang-orang yg menyiksa bocah itu, melampiaskan segala bentuk kebencian mereka pada Naruto. Mungkin harusnya kebencian itu mereka tujukan pada Kurama, tapi karna sang Bijuu itu telah tersegel dalam tubuh bocah itu, maka mau tidak mau Naruto harus rela menanggung semua kebencian itu. Kebencian Warga Konoha pada sang Bijuu karna telah mengambil orang-orang terkasih mereka dalam insiden itu.

Teringat jelas dalam fikiran Naruto saat dirinya terkapar tak berdaya setelah dihajar habis-habisan oleh penduduk itu. Beberapa orang melintas melewati tubuh tak berdayanya, tapi tidak ada yg mau menolongnya. Malah dia harus rela mendapatkan makian ataupun tatapan sinis dari mereka.

"Lihat Monster itu ... Sepertinya dia baru saja mendapatkan 'hukuman' dari penduduk Desa"

"Kenapa dia tidak kita bunuh saja ?!"

"Tidak. Kematian tentu saja terlalu bagus untuknya". "Hal yg paling sempurna untuk Monster sepertinya adalah hidup dalam kepedihan"

Berbagai macam umpatan terus masuk ke indra pendengaran Naruto. Dan itu sedikit demi sedikit menimbulkan kebencian kepada penduduk Konoha, dan secara perlahan terus bertambah hingga membenci Konoha. Kepedihannya dan kebenciannya terlalu besar untuk menyadari kasih sayang yg diberikan oleh Hiruzen atau pun Minato. Ya kasih sayang. Setidaknya itulah yg di katakan mereka, namun nyatanya ...

'Dimana Sandaime Hokage ?'. 'Dimana Namikaze Minato yg mengaku ayahku ?'

'Dimana mereka saat aku dihajar penduduk ?'. 'Dimana mereka saat aku membutuhkan mereka ?'

'Tidak ada ...'

'Aku pada kenyataannya aku hanya hidup sendiri ...' batin Naruto masih berkutat dengan kepedihan hidupnya.

Kembali muncul kilasan masalalu Naruto. Naruto kecil terlihat berjalan tertatih-tatih dengan penuh luka di sekujur tubuhnya, apa lagi kalau bukan karna dipukuli dan disiksa penduduk Desa. Dengan susah payah bocah itu ahirnya sampai di rumahnya, Naruto masuk ke dalam rumah tanpa mengucapkan salam karna dia tau tidak akan ada yg menjawab. Percuma.

Maaf Naruto-chan Tou-san ada Misi dari Sandaime Hokage. Dan selama satu minggu ini kau harus hidup sendiri. Jaga dirimu baik-baik ... Namikaze Minato.

Itulah sebuah pesan singkat yg Naruto temukan di meja makan. Ya, meski tinggal bersama sang ayah, Namikaze Minato. Nyatanya Naruto sudah biasa hidup sendiri karna Minato selalu sibuk dengan Misi-Misinya. Dan hanya untuk mengobrol dengannya pun adalah hal yg sulit untuk bocah itu.

Selama Naruto berkutat dengan kepedihannya, ternyata sebuah aura kelam yg pekat menguar di tubuh Naruto. Aura kelam yg penuh dengan kebencian dan kekosongan. Kakashi hanya menatap sosok Naruto yg masih memejamkan matanya dengan tenang itu, menatap bocah itu dengan penuh rasa tak percaya. Keringat deras terlihat membanjiri tubuhnya. Sementara Tazuna sudah hampir pingsan merasakan ketakutan yg menyeruak dalam dirinya. Ya, wajah yg terlihat tertidur dengan damai tapi dipenuhi aura kebencian dan kekosongan yg pekat nyatanya membuat mereka merasakan sensasi yg tidak lazim. Sebuah ketakutan.

Kembali ke alam bawah sadar Naruto.

'Mereka tidak tau jika dalam insiden itu aku juga kehilangan ...'

"Ughhh~" batinannya terhenti. Tak mampu melanjutkannya saat merasakan dadanya sesak dan sakit oleh rasa sedih bercampur benci dan dengki itu.

[Cukup Naruto. Cukup untuk saat ini. Kau akan mati jika kau terus melanjutkannya] ucap Kurama mencoba menghentikan kilasan balik masalalu Jinchurikinya itu.

[Istirahatlah. Tubuhmu terluka cukup parah oleh 'kegelapanmu']. [Aku akan menyembuhkan luka dalammu] lanjut Kurama. Dan Naruto pun kembali pada kesadarannya.

"Gaahhaaaa~" itulah kata pertama yg keluar saat si pirang kembali menguasai dirinya. Tentu saja dengan di barengi muntahan darah dari mulutnya. entah dia sadari atau tidak shapphirenya semakin kelam dan kehilangan cahayanya.

'Dia ... Sepertinya aura gelap itu melukai dirinya'. 'Ditambah lagi mata itu ...' batin Kakashi masih dengan wajah takut bercampur terkejut. Sementara Tazuna terlihat terengah-engah pasca merasakan sensasi mencekam yg dipancarkan Naruto.

"Hah ... Hah ... Hah ... Apa itu ..." gumam pria tua itu dengan nafas memburu.

Sementara di alam bawah sadar Naruto.

[Khuhuhuhu ... Sebentar lagi. Sebentar lagi kau akan segera bangkit sepenuhnya]. [Saat ini mungkin kegelapan itu hanya bangkit saat bocah itu bertarug ...]

[Tapi cepat atau lambat. Saat kegelapan hatinya telah berhasil memakan sepenuhnya cahaya yg ada pada hati Naruto ... Saat itulah kau akan bangkit sepenuhnya, Yami] ucap Kurama dengan tawa penuh kemenangannya di alam bawah sadar Naruto.

Dan secara perlahan bayangan hitam pekat berkumpul di depan Kurama, membentuk sebuah wajah yg sangat mirip dengan Naruto. Hanya saja wajah itu memiliki iris merah darah. Serangai penuh kekejaman menghiasi sosok yg disebut Kurama sebagai Yami itu.

"Aku sangat menantikannya ... Kurama" ucap Yami yg terasa menggema di alam bawah sadar Naruto. Dan setelah mengatakan itu secara perlahan wujud Yami kembali menguar menjadi kegelapan yg menyebar di tempat itu, meninggalkan Kurama yg masih menampilkan senyum rubahnya.

TBC

.

.

.

.

.

Haloooo *teriak-teriak

Yami balik lagi nih, maaf lama gak update fict. Sepertinya Minna-san perlu tau, Yami sekarang pindah bagian dari Personalia ke bagian HRD dan sumpah, semenjak kerja di bagian HRD, waktu Yami buat nulis dikit banget.

Berangkat pagi pulang sore, dan saat di rumah Yami harus juga ngecek berkas-berkas kerjaan Yami. Hari libur ? Free sih, tapi kan Yami pun perlu refresing dan pacar Yami juga suka ngambek kalo Yami gak mau di ajak jalan, jadi ginilah hasilnya.

Sebuah fict yg terkesan terbengkalai. Padahal enggak, Yami masih berusaha buat nerusin semua fict Yami kok. Cuma ya itu tadi, waktu nulisnya itu loh sempit banget. Fict singkat ini aja beres nyampe 9 hari. Jadi mohon maaf untuk Minna-san yg mau sebuah fict yg bikin kalian pegel saat membacanya, Yami bukan lah orang yg tepat untuk itu. Yami gak bisa ngasih word banyak-banyak.

Oke lah itu aja yg bisa Yami jelasin. Mohon pengertiannya Minna-san.

Oh iya review akan Yami balas di kolom review, kenapa ? Supaya keliatan banyak reviewnya xD.

Bukan kok, intinya supaya interaksi Yami dan Minna-san lebih lancar. Siapa tau kan kalo ada review yg bisa bikin fict Yami lebih baik lagi, Yami bisa balas dengan cepat *ngeles xD

Pair ? Seperti biasa, Yami akan buat poling. Silahkan berikan 3 nama Kunoichi yg akan menjadi pasangan 3 Shinobi kita ini.

TTD

Yamicheru