Title : Avenger

Part : 1 (bad habbits)

Rate : T

Cast : Dongbangshinki n others, Genderswitch for Jaejoong n Junsu

Warning : OOC, FF ini milik saya, saya tau idenya pasaran dan ceritanya monotone. Jadi harap bersabar dengan kekurangan FF abstrak saya ini. . .DON'T LIKE DON'T READ, yang BACA WAJIB KOMEN. .GAK TERIMA CACIAN atau MAKIAN. . .


. . . . . . . . . . .

Pagi ini aku terbangun, lebih tepatnya dibangunkan salah satu maid di rumahku. kulirik jam di atas meja nakas, "sshhiitt setengah jam lagi pelajaran pertamaku di mulai" aku bergegas bangun dari tidurku "arghh" aku merasa pusing, hangover? Mungkin. Seingatku semalam aku minum terlalu banyak, melebihi toleransiku mungkin, dan seingatku semalam aku masih bersama salah seorang lelaki yang entahlah tak ku ingat namanya. Tapi pagi ini aku sudah ada di kamarku. Mungkin salah satu pengawalku membawaku pulang. Aku berjalan ke kamar mandi, mengguyur tubuhku dengan air dingin. Berharap tubuhku menjadi lebih segar. Setengah jam kemudian aku telah siap berangkat sekolah. Terlambat. Tapi apa perduliku, toh keluargaku penyumbang terbesar di sana. Dan aku bukan siswa bodoh yang sering terlambat. Aku memacu mobil putihku ditengah keramaian jalanan Seoul. Tak ku perdulikan berapa lama lagi aku akan sampai di sekolah, yang terpenting bagiku adalah aku berangkat sekolah.

Jaejoong pov end _

Pagi ini pelajaran telah dimulai sejak satu jam yang lalu. Seorang lelaki duduk gelisah di tempat. "Junsu-ah, apa kau tak tahu di mana Jaejoong?" bisiknya

"aku tak bisa menghubungi handphonenya"

"ne, sejak semalam handphonenya mati" jawab Changmin

"Shim Changmin, Kim Junsu saya tidak suka siswa saya terus berbicara ketika saya mengajar" bentak Park seosaengnim.

"nde, joesonghabnida" ucap mereka. park seosaengnim melanjutkan kegiatan mengajarnya, tak selang lama seseorang mengetuk pintu kelas mereka.

Tok. .tok. .tok. .

Park seosaengnim berjalan menuju pintu dan membukakan pintu bagi sang 'tamu', semua siswa memperhatikan ke arah pintu. Ketika pintu dibuka terlihatlah seorang gadis cantik dengan rambut coklat yang dikucir kuda, mata besar yang jernih, bibir merah menggoda, dan kulitnya putihnya terlihat sedikit pucat, "annyeonghaseyo, joesonghabnida saya terlambat" ucapnya sembari membungkukkan badannya.

"apa kau tidak tahu ini jam berapa Kim Jaejoong?"

"joesonghabnida" ucap Jaejoong kembali

"cepat masuk dan jangan pernah ulangi perbuatanmu"

"ne, kamsahamnida" Jaejoong melangkahkan kaki jenjangnya, dia segera duduk disamping Shim Changmin.

"annyeong" sapanya pelan pada Changmin, Junsu dan Yoochun.

"dari mana saja, tak biasanya kau terlambat" ucap Changmin

"bukankah sudah ku bilang, aku bukan gadis baik. jadi sesekali melanggar peraturan itu tak masalahkan"

Changmin menggelengkan kepalanya mendengar jawaban Jaejoong, Jaejoong segera mengeluarkan bukunya, dia memperhatikan seosaengnim yang sedang mengajar. Selang satu jam, pelajaran selesai. Seperti biasa, para siswa berhamburan keluar kelas.

"Joongie, kenapa terlambat?" tanya Junsu

"aku telat bangun" jawabnya santai

"semalam tidur jam berapa?" sahut Yoochun

"entahlah, aku tak ingat"

"memang kau ke mana?" tambah Changmin

"haaahhh. . .kenapa kalian mengintrogasiku, aku hanya terlambat dan itu hal biasa bagi seorang siswa."

"tapi itu tak biasa untukmu"

"terserahlah" Jaejoong keluar kelas, kaki jenjangnya membawa tubuh rampingnya ke tempat favoritnya, perpustakaan.

Dia memasuki tempat itu dengan tenang, beberapa siswa sedang membaca di deretan tengah kursi, tempat duduk favoritnya telah diisi oleh seseorang, "Jung Yunho" gumamnya perlahan

Tak berpikir panjang, Jaejoong keluar dari perpustakaan, dia berjalan menuju atap sekolah. Salah satu tempat yang tidak akan dikunjungi oleh siswa lainnya. Dia mendudukan tubuh rampingnya, memejamkan mata besarnya menikmati aliran udara yang berhembus menerpa tubuhnya. Tak selang lama, handphone hitamnya bergetar.

"yeoboseyo"

". . ."

"ne, aku sedang di sekolah"

". . ."

"jinjja?" jawab Jaejoong sedikit terkejut

". . ."

"aku akan ke sana sekarang"

". . ."

"ani, aku ingin melihatnya sekarang juga" Jaejoong mengakhiri pembicaraannya, dia memasukan kembali ponselnya ke dalam saku, kemudian bergegas menuruni tangga. Kaki jenjangnya melangkah mantap menuju kelasnya, diambil tas sekolahnya. Untung saja tidak ada siswa lain di dalam kelas, jadi dia tak perlu repot-repot menjawab pertanyaan mereka. dia segera keluar dari kelas, menuju parkiran mobilnya dan memacu mobil putihnya.

Dari kejauhan, seseorang memandang kepergiannya. Dia nampak mengeluarkan ponselnya, menghubungi seseorang, "ikuti mobil putih itu" ucapnya singkat. Kemudian ia berbalik dan berjalan meninggalkan tempat tersebut.

. . . . . . . . .

"kau tahu kemana Jaejoong?" tanya Changmin pada Junsu

"ani, kenapa sejak kemarin dia selalu menghilang?"

"entahlah" ucap Changmin, kemudian ia terdiam. Mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Jaejoong, "argghh" ucapnya frustasi

"tidak masuk juga?"

"ne, aku sudah menghubunginya puluhan kali. Tak satupun panggilanku yang masuk"

"sudahlah, mungkin Jaejoong sedang ada urusan" sambung Yoochun, tangannya masih melingkar manis di pinggang Junsu yang duduk dipangkuannya.

. . . . . .

Sebuah sedan putih memasuki kawasan gedung perkantoran berhenti tepat di pintu masuk. Sang pengemudi lekas keluar dari mobilnya, seorang gadis cantik berpakaian SMA, ya dia adalah Kim Jaejoong. Setelah dia keluar, seorang petugas dengan sigap memakirkan mobil putihnya. Jaejoong memasuki gedung tersebut, dia disambut oleh dua orang berjas hitam rapi.

"dimana dia?" tanya Jaejoong

"ada di ruangannya nona"

Jaejoong segera melangkahkan kakinya cepat, diikuti oleh dua lelaki tegap yang menyambutnya tadi. Dia memasuki lift menuju ke lantai tertinggi gedung ini.

Ting. . .

Pintu lift terbuka, Jaejoong memasang wajah datarnya. Kakinya terus membawanya menyusuri koridor, sesampainya di depan ruangan bertuliskan Direktur, Jaejoong menghentikan langkahnya. Slah seorang pria yang mendampinginya membukakan pintu untuknya.

"silahkan". Jaejoong mengangguk, kemudian memasuki ruang tersebut.

"Jae" sapa seorang lelaki di dalam ruangan.

Jaejoong menatap kearah lelaki tersebut, "aku ingin melihatnya" ucapnya

"haahh. . kau ini selalu keras kepala. Harusnya kau tak membolos di jam sekolahmu, dan bukankah tadi pagi kau juga terlambat?"

"itu tidak terlalu penting sekarang. Cepat katakan padaku"

"lebih baik kau melihatnya sendiri" lelaki itu berdiri dari kursi Direkturnya, memberikan kursinya pada Jaejoong. Jaejoong berjalan mantap, kemudian mendudukan tubuhnya pada kursi tadi.

"aku baru bisa mengumpulkannya sampai sini. Tapi aku akan mencari informasi sebanyak mungkin tentangnya"

Jaejoong mengangguk, matanya terus mengamati layar di depannya. Tertampang beberapa gambar disertai beberapa kalimat penjelasan.

"kau mengenal lelaki ini bukan?"

"ne" seringaian terpampang jelas diwajahnya, "aku mengenalnya. Dia satu kelas denganku"

"kau bisa memanfaatkannya"

"ne, tak perlu sungkan"

"kau sudah tahu targetmu bukan?"

"ne, setelah sekian tahun aku menunggu ternyata saat ini tiba juga. Gumawo telah membantuku"

"aku akan selalu membantumu"

Jaejoong tersenyum mendengarnya.

"Jae, jangan terlalu sering keluar malam dan mabuk. Apalagi flirting dengan lelaki yang tak kau kenal."

Jaejoong tertawa mendengarnya, "bukankah pengawalku akan selalu mengawasiku? Saat aku mabuk mereka akan membawaku pulang. Dan flirting?" Jaejoong tersenyum menatap lelaki di depannya, "aku tak akan melakukannya jika mengenal lelaki itu" jawabnya santai

"kau ini, dia tak akan senang jika tahu kelakuan nakalmu itu"

Jaejoong tertawa, dia berdiri dari kursinya. Mendudukan dirinya di meja, di depan lelaki tersebut "dia tahu semuanya, dia hanya menyuruhku berhati-hati. Dan aku yakin pengawalku tak akan membiarkan aku terlalu jauh"

"ne, arraso. Tapi kau telalu nakal Jae" ucapnya sembari menggenggam tangan Jaejoong

Jaejoong kembali tertawa, "tapi aku menikmatinya"

"bergaullah lebih sering dengan teman-teman SMA mu"

"tak tertarik"

"kau lebih tertarik menggoda lelaki hidung belang kemudian mengambil uangnya dan menghamburkannya semaumu?"

"ne, itu lebih menantang"

Lelaki itu tersenyum menggelengkan kepalanya, "di keluarga Kim, tak ada wanita nakal seperti mu Jae"

"apa kau bisa mengurangi kenakalanku" ucap Jaejoong sembari mengelus pipi lelaki di depannya

"haaaahhh. . . bahkan kau berani menggodaku eoh?"

Jaejoong tertawa mendengarnya, "aku melakukannya karena aku kesepian"

"ck. .sudah kubilang, pergilah dengan teman-teman SMA mu"

"dan sudah ku bilang, aku tak tertarik"

"ck. . .terserah kau. Asal kau tidak bertindak lebih jauh dari ini"

"arraso oppa"

"Jae, aku akan mengirimkan data mereka pada mu. Kau bisa membacanya lagi setelah di rumah. Sekarang kau bisa kembali ke sekolahmu"

"kau mengusirku? Dan sekarang sudah siang, sejam lagi pelajaran berakhir. Aku ingin pulang saja"

"yakin kau akan pulang?"

"ne, memang aku mau kemana?"

"kau tak ada kencan dengan lelakimu?"

"haaahhh. . .sekarang aku tak punya mainan. Dan ingat oppa, aku hanya bermain dengan mereka saat malam dan hanya di bar. Selebihnya jangan coba-coba menyentuhku"

Lelaki itu tertawa mendengar jawaban Jaejoong, "ku harap kau bisa segera mengakhiri kebiasaan burukmu itu"

"sepertinya susah, karena aku terlanjur menyukai kebiasaanku"

"paling tidak berhentilah menggoda lelaki"

Jaejoong mengangguk, "ne akan ku pertimbangkan, tapi untuk keluar malam dan minum aku yakin tak bisa menghilangkannya"

Lelaki itu menggelengkan kepalanya mendengar jawaban Jaejoong, "haaahhh. .. terserah kau saja Jae, aku akan terus mengawasimu"

"dan aku juga akan mengawasimu, tak akan ku biarkan perusahaan keluarga ku bangkrut di tanganmu"

"hahaha. . .arraso, saya akan bekerja sebaik mungkin nona"

"baguslah." Jawab Jaejoong disertai cengirannya, "oppa aku pulang dulu" Jaejoong berdiri dari mejanya, lelaki itupun ikut berdiri dari kursinya.

"aku akan mengecek ke rumah setelah ini, memastikan kau benar-benar pulang atau berkeliaran di luar"

"ne, silahkan saja. Karena aku benar-benar akan pulang Siwon oppa" Jaejoong berjalan mendekati Siwon

Cup. . .

Jaejoong mengecup sekilas bibir Siwon setelah itu tersenyum nakal dan melangkahkan kakinya keluar, dengan cekatan Siwon meraih tangan Jaejoong, "hei, bukankah barusan kau bilang akan mempertimbangkan untuk mengurangi kelakuan nakalmu itu? Dan sekarang kau berani menggoda dengan menciumku eoh?"

Hahahahaha. . . Jaejoong tertawa, "atau kau ingin lebih?" tantang Jaejoong

"ckk. . .kau ini. Sudah sana pulang. Aku tak sanggup membayarmu mahal"

"aku tak perlu kau bayar" Jaejoong mengerling nakal.

"haiisshh. . .sudah sana" Siwon mendorong tubuh Jaejoong keluar

"ne, aku akan pulang. Bye oppa" Jaejoong segera meninggalkan kantor Siwon.

Siwon memasuki ruangannya kembali, mendudukan dirinya pada kursi Direkturnya, tangannya memegang sebuah bingkai foto, "apa kau yakin dia adik kandungmu?" ucap Siwon kemudian tersenyum menampakkan lesung pipitnya. "Bahkan dia terlalu nakal untuk menjadi adikmu, tapi aku akan menjaganya untukmu." Siwon meletakkan bingkai foto itu kembali, jemarinya masih mengelus pinggiran bingkai foto, "namun, aku tak bisa berjanji tak akan menyukainya". Siwon segera meraih laptopnya, kemudian mengirim beberapa data ke email Jaejoong.

. . . . . . . . . . . .

Disuatu tempat ditengah keramaian kota Seoul seorang lelaki duduk di kap mobil hitamnya, terlihat berbicara dengan lelaki lain di depannya

"bagaimana?"

"ini" lelaki itu menyerahkan beberapa lembar foto seorang wanita yang memasuki gedung perkantoran, "dia hanya pergi ke perusahaan keluarganya, setelah itu dia pulang. Tapi maaf saya tidak bisa memasuki area perkantoran itu. Terlalu banyak penjaga di sana."

"ne, aku mengerti. Perusahaan keluarganya merupakan perusahaan terbesar di sini"

"apa ada yang harus saya kerjakan lagi tuan?"

"tidak untuk hari ini, aku akan menghubungimu lagi"

"ne, kalo begitu saya permisi." Lelaki di atas kap mobil itu hanya mengangguk, dia lebih tertarik memandangi gadis dalam foto tersebut.

. . . . . . . . . . .

Sore menjelang, Kim Jaejoong keluar dari rumah mewahnya. Tak ada make up yang menempel di wajahnya, rambutnya digelung asal tapi tak mengurangi kecantikan alami seorang Kim Jaejoong. dia mengeluarkan mobilnya, memacu cepat mobil putihnya. Jaejoong sangat menyukai tantangan salah satunya adalah membalap di jalan raya.

Tepat dibelakangnya, mobil sport hitam mengikuti laju kendaraan Jaejoong. Jaejoong tak begitu memperhatikannya, toh ini jalan raya. setiap orang akan melewatinya.

Selang lima belas menit, Jaejoong tiba di suatu gedung. Dia turun dari mobilnya, mengambil tas selempang yang cukup besar dari kursi belakang mobilnya. Kemudian memasuki gedung tersebut. Sesampinya di dalam, dia segera menunjukan kartu anggotanya. Kemudian memasuki ruangan untuk mengganti pakaiannya, dan di sinilah dia. Di tengah-tengah para siswa Tae kwondo. Ya, Kim Jaejoong menyukai bela diri sejak beberapa tahun lalu. Dan sejak itu dia rutin berlatih, dan kini dia menyandang ban hitam. Siapa sangka seorang Kim Jaejoong yang sangat modis, cantik, suka berkeliaran tengah malam, menggoda lelaki, mabuk-mabukan ternyata mempunyai keahlian bela diri juga.

Lelaki itu terus mengawasi Jaejoong, mengamati setiap pergerakan Jaejoong. Setelah dua jam berlatih, Jaejoong segera meninggalkan gedung tersebut. Di dalam mobilnya dia menghidupkan handphone hitamnya. Tak disangka, puluhan pesan ia dapat.

"Changmin" gumam Jaejoong. Tanpa membaca pesan Changmin, Jaejoong langsung menghubungi Changmin.

Tak perlu menunggu lama, Changmin segera mengangkat telpon Jaejoong

"Jae, kemana saja kau?"

"hehehehe. .tenanglah. aku baik-baik saja. Aku hanya bosan di sekolah"

"kau pikir aku tak bosan sendirian di sekolah"

"bukankah ada Junsu dan Yoochun?"

"kau pikir mereka akan menghabiskan waktu seharian denganku?"

"ani, pasti mereka sibuk bercumbu di gudang"

"eih?" ucap Changmin terkejut, "kau mengetahuinya?"

"aku sering melihatnya"

"ohh" jawab Changmin

"kenapa kau mengirimiku pesan begitu banyak?"

"aku mengkhawatirkanmu"

"jinjja? Apa kau mulai jatuh cinta padaku?" tanya Jaejoong dibarengi tawa renyahnya

"haaahhh. . .kau ini. Sudahlah, besok jangan terlambat ke sekolah"

"arraso, bye Minnie"

"bye"

Jaejoong meletakkan handphonenya di kursi sebelah, segera memacu mobilnya pergi dari parkiran gedung. Dan seorang lelaki masih mengikutinya.

. . . . . . . . .

Changmin pov_

"Jae, arrggghhhhhhh" ucap Changmin frustasi, "aku benar-benar muak dengan diriku. Aku ingin mengatakannya Jae"

Changmin pov end_

. . . . . . . . . .

Malam ini seperti malam-malam biasanya, Kim Jaejoong memasuki dunia malamnya. Ikut terlarut dalam alunan music yang memekakkan telinga. Menggerakan tubuhnya seirama dengan dentuman music. Tubuh mungilnya berbalut mini dress yang memperlihatkan lekuk indah tubuhnya. Tak jarang beberapa lelaki menghampirinya, dengan seringaian khasnya Jaejoong asik menari dengan mereka. Di suatu sudut ruangan, seorang lelaki mengamati tingkah Jaejoong, tangannya mengepal geram. Setiap malamnya Jaejoong dengan senang hati menemani para lelaki untuk menari atau sekedar minum bersama.

Keringat sudah mengalir di pelipis Jaejoong, Jaejoong menghentikan tariannya. Menduduki salah satu kursi kosong di meja bar. Memesan minuman favoritnya, sang bartender dengan senang hati melayani sang gadis cantik pelanggannya.

Mata Jaejoong terus mengitari seluruh ruangan. Pandangannya tertuju pada seorang lelaki di sudut kanan ruangan. Lelaki tegap berpakaian serba hitam mengawasi Jaejoong. Jaejoong terus mengamatinya, namun lelaki itu segera berdiri dan meninggalkan tempat duduknya.

. . . . . . . . . .

Pagi ini jaejoong tak terlambat lagi masuk sekolah, senyuman manis ia berikan kepada beberapa siswa yang menyapanya. Kakinya terus melangkah membawanya ke loker pribadinya, seperti biasanya. Di pintu loker tertempel surat. Kali ini dua lembar surat menempel disana. Diambilnya surat tersebut, kemudian membacanya

Aku yakin pagi ini kau hangover_

Kau tidak membaca suratku yang kemarin? Tattoo di tubuhmu terlihat jelas semalam_

"siapa kau sebenarnya?" gumam Jaejoong

Drrtt. . .drrtt.. .

Handphone Jaejoong bergetar, dia melihat panggilannya. Tertera jelas siapa yang menghubunginya pagi-pagi begini.

"Siwon oppa" sapanya riang

". . ."

"ne, aku sudah di sekolah? Kenapa?"

". . ."

"bilang saja kau merindukanku"

". . ."

"yakin?"

". . ."

"atau kau menginginkan bibirku lagi?" jawab Jaejoong sambil terkikik

". . ." Jaejoong tertawa mendengar jawaban siwon

"semalam aku tak melakukan apapun. bukankah sudah kubilang aku akan mempertimbangkannya"

". . ."

"ne, aku tak akan jadi anak nakal lagi" Jaejoong tersenyum, "tapi tidak janji" kemudian tertawa

". . . ."

"ne, sebentar lagi masuk. Bekerjalah dengan giat oppa"

". . ."

"saranghae" ucap Jaejoong sembari terkikik, kemudian mengembalikan handphonenya di saku kemejanya.

"saranghae?" ucap seorang pria di belakannya

"Changmin" ucap Jaejoong riang, "sejak kapan kau di sini?"

"sejak kau menginginkan bibirku lagi" ucap Changmin sarkastik

"eih? kau mendengarnya?"

"ne, sangat jelas"

Jaejoong tersenyum, "mendengarkan percakapan orang lain itu adalah hal buruk Changmin"

"aku tahu, mianhae"

"tak masalah. Untuk apa kau ke sini?"

"mencarimu"

"wae?"

"bosan menunggumu di kelas"

"bukankah ada Junsu dan Yoochun?"

"mereka sedang bercumbu di kelas, dan aku malas melihatnya"

"owh"

"Jae, apa tadi itu kekasihmu?"

"memag kenapa?"

"aku hanya bertanya" mereka berjalan menyusuri koridor menuju kelas.

"eumbb. . . jika seseorang sudah berciuman apa mereka sepasang kekasih?"

"mungkin"

"eumbb. . .itu persepsimu bukan?"

Changmin mengangguk

"jika demikian maka dia adalah kekasihku" jawab Jaejoong santai

Changmin sedikit terkejut mendengarnya, begitu juga dengan seorang lelaki yang tak sengaja berpapasan dengan mereka.

Sesampainya di kelas, Jaejoong dan Changmin melihat teman mereka sedang asik melumat bibir pasangannya. Suasana kelas memang masih sangat sepi, biasanya anak-anak baru akan memasuki kelas sepuluh menit sebelum bel pertama dimulai. Dan suasana itu tak disiakan oleh Yoochun dan Junsu. Junsu duduk dipangkuan Yoochun, tangannya menekan tengkuk Yoochun seolah tak ingin melepas ciumannya. Sedangkan tangan kiri Yoochun melingkar indah di pinggang Junsu, tangan kanannya entah sedang melakukan apa di depan tubuh Junsu "mmpphh. . " leguhan mereka terdengar jelas di telinga Jaejoong dan Changmin.

Jaejoong dan Changmin masih berdiri melihat mereka. entah ekspresi apa yang terpampang diwajah Changmin, yang jelas ini bukan pertama kalinya melihat Junsu dan Yoochun bercumbu. Dan Jaejoong ini sudah biasa dia lakukan dengan lelaki diluar sana yang bahkan tak ia kenal, jadi tidak masalah.

"tahanlah napsu kalian, setidaknya sampai pulang sekolah" ucap Jaejoong santai sembari berjalan ke kursinya

Junsu buru-buru melepas ciumannya, bibirnya merah basah. Baju seragamnya sedikit berantakan, dua kancing teratas sudah terbuka begitu pula dengan Yoochun.

"sejak kapan kalian disini" ucap Yoochun santai sembari mengancingkan baju Junsu

"sejak tadi" jawab Jaejoong santai

"kalian melihatnya?" tanya Junsu perlahan

"bahkan mendengar leguhan kalian"

Blusshh. . .wajah Junsu memerah

"jadi kalian berangkat pagi untuk hal ini?" tanya Jaejoong santai

"aa. .aniya"

"iya pun tak masalah bagiku" Jaejoong berdiri, menghampiri Changmin yang masih berdiri di depan kelas

"ayo" ucap Jaejoong menggandeng tangan Changmin. Membawa Changmin pergi dari tempat itu. Jaejoong mengajak Changmin keatap sekolah, tempat yang tenang. Sesampainya di sana, Jaejoong bersandar pada sebuah tembok. Masih menggenggam tangan Changmin

"wae?" tanya Jaejoong sembari mengusap pipi Changmin. Entah apa yang dipikiran Changmin sekarang, dia malah memeluk tubuh Jaejoong. Jaejoong tak menolak pelukan Changmin, dia membalas pelukan erat Changmin.

Dari ujung tangga, seseorang mengawasi kegiatan mereka berdua. Giginya bergemeletuk menahan amarah, dengan langkah cepat dia menuruni tangga, tak lupa membanting pintu keluar atap sekolah. Merasa kaget, Changmin melepas pelukannya.

"mianhae" ucapnya pada Jaejoong

"gwenchana" ucap Jaejoong lembut, "katakan padaku apa yang mau kau katakan, sejak kemarin kau terlihat kacau"

"ani"

"kau tak perlu berbohong padaku" jemari lentik Jaejoong mengusap pipi Changmin

"aku ingin menghabiskan waktuku seharian denganmu"

"sudah kubilangkan, aku sibuk. Kau bisa pergi dengan Junsu dan Yoochun"

"Jae, aku tak mau pergi dengan mereka. aku malas melihat mereka terus-terusan bercumbu di depan ku"

"lalu?"

"aku ingin pergi berdua denganmu"

"aku akan menghubungimu jika aku mau pergi denganmu" ucap Jaejoong sebelum meninggalkan Changmin. Jaejoong berjalan menuruni tangga. Entah mengapa ia ingin sekali menuju lokernya. Mengambil buku pelajaran pertama yang tak jadi diambilnya tadi. Padahal tanpa buku itupun dia bisa mengikuti pelajaran dengan baik. sesampainya di depan loker, dia malah terkejut dengan selembar kertas yang menempel di lokernya

Bagaimana pelukan Changmin?

. . . . . . . . . . . . . .

Tbc_


A/N

Annyeong. . . .saya bawa chap 1. . .kalo ini beneran chap 1. . .hehehehe yang kemaren di itung (?) prolog aja deh heheheheehe *author gak jelas*

Semoga masih ada yang mau baca FF saya, dan makasih ya buat yang udah komen di prolog kemaren. .

Riachan : ini udah lanjut. .baca n review lagi ne ;)

Shippo Baby Yunjae : ini udah lanjut, baca n review lagi ne :0 dan sukses ya buat UN nya. .hwaiting ! ! ! !

Love yunjae : udah update, chap ini di itung chap 1 deh heheheehe*author labil* iya Min 'masih ditolak' ma Jae. .hehehehe

Nobinobi : iya ni udah update, baca n review lagi ne ;)

Yoyojiji : ni udah lanjut, semoga tetep bikin penasaran hehehehe

Lovyj : udah lanjaut. .yunjae momentnya ditunggu ya, kayaknya masih agak lama hehehehe

Makasih reviewnya, jangan bosen baca n review ya ;)

Eh ya. . .WGM udah mpe chap 6 chingu *iklan* dan Make me. . . udah terbit lagi. .sialhkan mampir baca dan review. . .

Terakhir. . .semoga FF ini dapet respon yang bagus juga. . hehehehe *ngarep padahal ceritanya geje, abstrak* . . .yang udah BACA, ,REVIEW pliss. . . DON'T BE SILENT READER

gamsahae