Title : Avenger

Part : 2 (black rose)

Rate : T (bisa berubah sewaktu-waktu:D)

Cast : Dongbangshinki n others, Genderswitch for Jaejoong n Junsu

Warning : OOC, FF ini milik saya, saya tau idenya pasaran dan ceritanya monotone. Jadi harap bersabar dengan kekurangan FF abstrak saya ini. . .DON'T LIKE DON'T READ, yang BACA WAJIB KOMEN. .GAK TERIMA CACIAN atau MAKIAN. . .DON'T BE SILENT READER

. . . . . . . . . . . . . . . . . . .


Bagaimana pelukan Changmin?

"dia lagi?" gumamnya, "jadi orang yang membanting pintu tadi dia, dan dia satu sekolah denganku." Jaejoong memasukan surat yang ia dapat ke dalam lokernya, entah sudah berapa surat yang ia dapat, yang jelas sejak kepindahannya ke sekolah ini satu tahun lalu, enam bulan berikutnya setiap hari dia selalu mendapatkan surat dari orang yang sama. Tak ada nama pengirimnya memang, tapi dia sangat hapal tulisan orang tersebut. "akan ku ikuti permainanmu" seringaian terpasang jelas di wajah Jaejoong.

. . . . . . . . . . . . . .

"Changmin" sapa Jaejoong

Changmin menolehkan kepalanya, "wae?"

"kau tak marahkan padaku kan?"

"aniya. Kenapa harus marah, aku tahu kau sibuk dan tidak suka menghabiskan waktu dengan teman-temanmu jadi aku tak bisa memaksamu untuk pergi dengan ku" jawab Changmin, "dan lagi kau sudah memiliki kekasih bukan? Jadi kau pasti lebih senang menghabiskan waktumu dengan kekasihmu itu seperti Yoochun dan Junsu yang setiap harinya selalu bersama"

"menghabiskan waktu dengan kekasihku? Menurut persepsimu begitu?"

"ne"

"eumb. .kalo menurutmu begitu, aku tak bisa mengelak" Jaejoong tersenyum manis pada Changmin.

. . . . . . . .

Hari ini para siswa SMA Dongbang pulang lebih cepat, para siswa bersorak senang. Sebagai pelajar wajar bukan jika merasa senang ketika jam belajarnya di diskon.

"Jae"

"wae Su-ie?"

"lama kita tidak pergi bersama, kau selalu sibuk dengan perusahaan keluargamu itu" ucap Junsu. Tunggu dulu, perusahaan keluarga, sibuk? Ya, teman-teman Jaejoong selalu mengira bahwa Jaejoong tak pernah pergi bersama mereka karena dia sibuk mengurusi perusahaan keluarganya, apalagi dia adalah satu-satunya anak dari keluarga Kim. Itu semua salah besar, selama ini Jaejoong tak pernah terlibat langsung dalam perusahaan keluargamya, semuanya telah diserahkan pada Choi Siwon. Orang kepercayaan ayahnya, masih muda memang tapi kemampuan berbisnisnya tidak prelu diragukan lagi.

"Jae, jadi bagaimana jika kita pergi bersama? Lagian besok libur bukan"

Jaejoong nampak berpikir, "kau pasti akan menolaknya bukan? Haahh. .ini sudah kesekian kalinya Jae"

"siapa bilang aku tak mau pergi bersama kalian. Sesekali bolehkan meninggalkan perusahaan untuk berkumpul bersama kalian?" Jawab Jaejoong sembari tersenyum.

"jinjja? Waa. .akhirnya aku bisa keluar bersamamu lagi Joongie" ucap Junsu senang.

"Changmin, kau ikutkan?" tanya Jaejoong

"ne, jika kau ikut aku ikut"

"baiklah sampai betemu nanti, sms saja jam berapa dan di mana. Aku akan datang" ucap Jaejoong kemudian meninggalkan mereka.

Jaejoong pov_

"Sibuk? Sesekali bolehkan meninggalkan perusahaan untuk berkumpul bersama kalian?" gumam Jaejooong mengulangi pernyataannya tadi "aktingmu terlalu bagus Jae, mana pernah aku mengurusi perusahaan appa" seringaian terpasang di wajah cantiknya.

Jaejoong pov end_

. . . . . . . . . . . . . . .

Sore menjelang, Jaejoong telah siap untuk pergi bersama teman-temannya. Dia memakai mini dress berwarna pink soft, kakinya jenjangnya terlihat semakin indah. Tattoo di dada kirinya terlihat menyembul dari balik dressnya. Rambut coklatnya ia gelung sedikit berantakan, bibirnya ia poles dengan lipstick senada dengan pakaiannya, wajahnya ia poles dengan make up tipis. Siapa pun pasti akan terpesona dengan penampilan seoran Kim Jaejoong.

Dia segera keluar dari kamarnya, menuruni tangga dengan langkah anggun. Tak disangka diujung anak tangga berdiri seorang lelaki tegap dengan jas hitamnya,

"aku tak ada jadwal kencan denganmu kan?" ucap Jaejoong sembari merangkulkan tanggannya di lehar sang pria.

"ini masih sore bukan? Kau mau kemana?" jawabnya sembari memutar tubuhnya, mendongakkan kepalanya untuk melihat Jaejoong yang sedikit lebih tinggi karena berada di anak tangga paling bawah.

"oppa menyuruhku bergaul dengan teman-teman SMA ku bukan? Sekarang aku ingin pergi dengan mereka"

"dengan pakaian seperti ini?" menatap Jaejoong dari ujung kaki hingga kepala, "gadis nakal"

"wae? Tak ada yang salah dengan pakaianku"

"kalo ke pup dengan pakaian seperti ini ku kira tak masalah. Tapi kau hanya akan pergi berkumpul dengan teman-temanmu Jae."

"lalu?"

"gantilah pakaianmu, dress mu ini terlalu pendek dan tattoo mu terlihat jelas"

"setelah bertemu dengan mereka aku memang ingin pergi ke pup"

"ayo ke kamarmu" Siwon menggandeng tangan Jaejoong menaiki tangga kemudian memasuki kamar besarnya. Siwon terus melangkah masuk menuju almari pakaian jaejoong, dibukanya pintu almari. Siwon memilih beberapa pakaian untuk Jaejoong. pilihannya jatuh pada coat panjang berwarna hitam.

"pakailah, setidaknya paha dan bahumu itu sedikit tertutupi" ucap Siwon sembari tersenyum

"ckk.. . .ne, aku akan memakainya" Jaejoong mengambilnya dari tangan Siwon, "oppa, kenapa ke sini?"

"mengecek keadaanmu"

"ya. .aku sudah besar. Bukan anak kecil yang mudah menangis lagi"

"tapi kau tetap adik kecilku"

"kalau begitu, antarkan aku menemui teman-temanku dan nanti temani aku ke pup"

"ne, aku akan mengantarkanmu. Dan kenalkan aku pada teman-temanmu"

"arraso, aku akan mengenalkanmu sebagai kekasihku" jawab Jaejoong sembari terkekeh.

"haisshh. . kau ini, ayo berangkat"

Mereka menginggalkan rumah mewah Jaejoong, menuju kedai ice cream di kawasan Myeongdong. Mobil hitam Siwon melaju cepat di jalanan, sesampainya di kawasan Myeondong mereka segera berjalan ke tempat di mana Junsu, Yoochun dan Changmin sudah menunggu. Jaejoong dan Siwon memasuki kedai ice cream bersama, tangan Jaejoong menggandeng jemari Siwon. Siwon pun tak keberatan dengan perlakuan Jaejoong.

"annyeong" sapa Jaejoong ceria, "mianhae terlambat"

"Jae, akhirnya kau datang juga" tubuh mungil Junsu memeluk Jaejoong

"aku bukan pembohong Kim Junsu"

Siwon tersenyum melihat ulah kedua anak SMA itu, Yoochun memandangi gadisnya yang selalu bersikap ceria sedangkan Changmin menatap Siwon dengan tatapan yang sulit diartikan.

"kau tak berniat mengenalkan lelaki disampingmu Jae?" ucap Yoochun

"oh. .dia Siwon" ucap Jaejoong, "oppa, mereka teman-temanku. Gadis manis ini Junsu dan itu kekasihnya Yoochun, dan dia teman satu bangku ku Changmin" Jaejoong memperkenalkan mereka satu persatu, dan Siwon menjabat tangan mereka dengan hangat.

"duduklah Jae" ucap Junsu

"ne, oppa duduk dulu ne"

Siwon mengangguk, Siwon duduk berhadapan dengan Changmin, Changmin masih menatap Siwon. Siwon tak memperdulikan tatapan Changmin, dan Jaejoong masih enggan memperdulikan tatapan Changmin pada Siwon dia malah sibuk memilih menu yang akan dia pesan.

"oppa, kau masih menyukai cappuccino kan?"

"ne" jawab Siwon sembari tersenyum

"mau?"

"tentu"

"ice cream cappuccino satu, vanilla satu"

"tunggu sebentar noona" jawab sang pelayan

"Jae, apa dia kekasihmu?" tanya Junsu, "kau belum pernah mengenalkannya padaku sebelumnya"

"sekarang sudahkan"

"jadi?"

"jadi apa Su-ie?"

"apa Siwon oppa kekasihmu?"

Siwon tersenyum mendegar pertanyaan Junsu

"oppa, apa kau kekasihku?" Jaejoong malah bertanya pada Siwon, Siwon hanya terkiki melihat tingkah Jaejoong. kemudian mengusap poni Jaejoong, "kau ini"

"jadi benar kalian sepasang kekasih?" sahut Yoochun.

"menurut kalian seperti itukah?"

Mereka mengangguk, "kalian terlihat serasi" tambah Junsu

"kalo menurut persepsi kalian seperti itu, terserahlah" jawab Jaejoong sembari tersenyum, Siwon ikut tersenyum mendengar ucapan Jaejoong. tak selang lama, sang pelayan kembali membawa pesanan Jaejoong. mereka memakan ice cream, bercanda satu sama lain, setelah menghabiskan waktu sejam di kedai ice cream Siwon berpamitan pada mereka.

"mian, mengganggu percakapan kalian. Tapi aku harus segera pulang" ucap Siwon

"oppa, kau mau pulang sekarang. Lalu aku?" ucap Jaejoong

"bersenang-senanglah dengan mereka, aku akan menjemputmu jika sudah selesai"

"eumbb. . baiklah"

"annyeong"

"annyeong, jalgayo"

Siwon segera keluar dari kedai, Changmin segera menggeser duduknya mendekati Jaejoong.

"dia pekerja kantoran?"

"ne" Jaejoong mengangguk

"pantas saja kau menolak beberapa teman sekolah kita, ternyata seleramu seorang eksekutif muda Jae" sambung Yoochun

"eksekutif muda? Biasanya aku malah berkencan dengan lelaki setengah baya" ucap Jaejoong sembari terkekeh. Yoochun Junsu dan Changmin tertawa mendengar ucapan Jaejoong.

Dari lantai dua, seseorang mengamati mereka. Sejak kedatangan Jaejoong, lelaki itu tak pernah mengalihkan pandangannya. mengamati gerak-gerik seorang Kim Jaejoong.

"mianhe, aku ke toilet dulu ne" pamit Jaejoong, mereka mengangguk. Jaejoong segera berjalan menuju toilet. Selang sepuluh menit dia keluar dari toilet, sesampainya di samping meja pelayan seorang pelayan memberikan secarik kertas pada Jaejoong

"noona, ini untuk anda"

"apa ini? Dari siapa?"

"saya hanya diminta menyerahkan ini pada noona, dan orangnya sudah pergi beberapa saat yang lalu"

"oh, ne gumawo" ucap Jaejoong, dia segera membuka secarik kertas yang didapatnya

Lelaki itu bukan kekasihmu! dan kau terlihat sangat cantik seperti biasanya…

"akan ku ikuti permainanmu" gumamnya pelan, dia segera menuju bangku di mana teman-temannya berada.

"sudah Jae?"

"ne"

"bagaimana kalau kita berkeliling Myeondong? Aku ingin berbelanja" ucap Junsu antusias

"ne, kajja" jawab Jaejoong, "eh"

"wae?" ucap mereka

"apa sebelum ini kalian melihat teman satu sekolah kita berada di sini?"

"nugu?"

"siapapun, yang satu sekolah dengan kita"

"aniya, aku tak melihatnya" jawab Changmin

"aku juga"

"memang kenapa Jae" tanya Junsu

"aniya, hanya bertanya. Siapa tahu mereka menghabiskan akhir pekan di tempat ini juga"

Mereka mengangguk. Setelah membayar ice cream, mereka keluar dari kedai dan berjalan menyusuri jalanan ramai di Myeongdong. Junsu berjalan bergandengan dengan Yoochun, Jaejoong tepat di belakang mereka bersama Changmin. Wajah Changmin nampak buram, entah apa yang dipikirkannya, Jaejoong dengan sengaja meraih tangan Changmin dan menggandengnya

"eih?" Changmin terkejut dengan sikap Jaejoong

"wae? Aku hanya menggandeng mu, keberatan?"

"aniya" jawab Changmin sembari tersenyum, namun Jaejoong tahu bahwa senyuman Changmin itu dipaksakan. Mata Changmin tidak bisa berbohong, meskipun baru mengenalnya satu tahun. Tapi Jaejoong tahu benar sifat ketiga sahabatnya itu.

Mereka terus berjalan mengikuti Junsu dan Yoochun, sampai akhirnya mereka memasuki salah satu gedung. Junsu dan Yoochun dengan semangat memilih pakaian untuk mereka, raut wajah Changmin saat ini sulit ditebak dan Jaejoong masih setia menemani Changmin yang duduk disalah satu kursi yang disediakan di sana.

"Min, kau sedang tidak sehat?"

"aniya, aku baik-baik saja"

"kau tak bisa membohongiku Shim Changmin" jaejoong mengusap pipi Changmin perlahan

"Jae, apa salah jika aku menyukai seseorang?" ucap Changmin menatap lekat mata Jaejoong

"aniya, perasaan suka itu berhak dirasakan siapa saja, wae?"

"termasuk menyukai teman sendiri mungkin"

"eumb. ." Jaejoong mengangguk

"bagaimana jika seseorang yang kau sukai sudah memiliki kekasih?" pandangan mata Changmin berubah sendu

"kalau aku, aku akan memperjuangkannya. Masih sepasang kekasih bukan? belum menikah. Seseorang yang menikah saja bisa bercerai Minnie" ucap Jaejoong santai

"aku masih berjuang"

"apa kau sudah mengatakannya?"

"belum"

"wae?"

"terlalu rumit"

"karena kau yang membuatnya rumit, katakan apa yang ingin kau katakan"

"tak semudah itu Jae. Aku hanya takut kehilangannya"

"kau akan kehilangannya jika tak mengatakan perasaanmu segera"

"bagaimana jika aku justru kehilangannya setelah aku mengatakannya?"

"gadis di dunia ini sangat banyak Changmin"

"arghhh. . ." Changmin mengacak rambutnya frustasi

"hei, jangan mengacak tatanan rambutmu" Jaejoong menyisir rambut Changmin dengan jarinya.

"aku ingin ke toilet Jae"

"ne, cepat kembali Minnie"

Saat ini Jaejoong duduk sendirian, matanya mengamati kedua temannya yang asik berbelanja. Mereka terlihat menikmati moment kebersamaannya. Senyuman terpancar dari kedua wajah mereka.

"semoga kalian selalu bahagia" uap Jaejoong lirih

"noona" ucap seorang anak kecil di samping Jaejoong

"ne, waeyo adik manis?"

"ini"

"apa ini?"

"surat ini dari hyung tampan"

"hyung tampan? Siapa namanya?"

"aku tak berkenalan dengannya, dia hanya memintaku menyampaikan ini pada noona" anak kecil itu segera berlari. Jaejoong mengamati sekitar, tak ada sesuatu yang mencurigakan memang. Tapi pergerakan Jaejoong selalu diamati oleh seorang lelaki tanpa sepengetahuannya.

Aku tak suka melihatmu terlalu dekat dengan Changmin. . .

"Jae"

"Su-ie, sudah?"

"ne, ayo pindah ke lantai atas"

"aku akan menyusul kalian. Changmin sedang di toilet, aku akan menunggunya"

"baiklah, kami ke atas dulu" Yoochun menggenggam erat tangan Junsu, membawanya menaiki escalator.

Selang beberapa saat Changmin keluar dari toilet, wajahnya nampak sedikit basah.

"kau mencuci mukamu?"

"ne, berharap lebih segar"

"tak begitu membantu" jawab Jaejoong santai

Kemudian mereka segera menyusul Junsu dan Yoochun. Setelah lelah berjalan keliling department store, mereka memutuskan untuk makan malam. Setelah makan malam mereka pergi ke tempat karaoke. Junsu memang senang bernyanyi, suaranya pun bagus. Begitu pula dengan Jaejoong, dia juga memiliki suara yang merdu tapi dia sangat jarang mengeluarkan nyanyiannya.

Sesampainya di tempat karaoke, mereka menyanyikan beberapa lagu. Sampai akhirnya Junsu meminta Yoochun untuk menematinya ke toilet. Dengan senang hati Yoochun menemani Junsu. Jaejoong dan Changmin hanya melihat layar dan mendengarkan lagu yang diputar, tak ada dari mereka yang berniat untuk bernyanyi. Jaejoong dengan santainya merebahkan kepalanya di bahu Changmin

"Min, kau tak baikkan hari ini? Kenapa memutuskan untuk ikut pergi?"

"karena ada kau di sini, ku pikir tak masalah selama kau menemaniku"

Jaejoong mengangguk. "Min kenapa mereka lama sekali?"

"seperti tak tahu mereka saja"

Jaejoong terkikik mendengar ucapan Changmin.

"Jae, aku mau keluar sembentar"

"kemana?"

"toilet"

"mau mengecek mereka?" ucap Jajeoong santai

"aniya, aku ingin kencing"

"ne, cepat kembali" Jaejoong menyandarkan kepalanya pada punggung sofa, dia melepas coatnya. Menampakkan bahu dan paha mulusnya. Tak diperdulikan lagi ucapan Siwon, toh ini sudah malam. Pada hari biasanya, disaat seperti Jaejoong sudah memasuki pup langganannya. Jaejoong mengeluarkan ponsel hitamnya, mengetik sebuah pesan kemudian mengirimnya. Tak perlu waktu lama untuk mendapatkan balasan.

Ne, aku akan menjemputmu sejam lagi

Tok. .tok. .tok. .

Suara ketukan terdengar jelas ditelinga Jaejoong, Jaejoong berjalan menuju pintu. Dibukanya pintu room, diluar nampak seorang lelaki berpakaian seragam, ya dia adalah salah satu pekerja di tempat karaoke ini.

"wae?"

"permisi noona, ada surat untuk anda"

"dari?"

"maaf saya tidak tahu siapa namanya. Permisi"

Jaejoong menutup kembali pintu roomnya, mendudukan tubuh rampingnya di atas sofa. Membuaka kertas putih ditangannya.

Mungkin harus ku ulang, aku tak suka melihatmu terlalu dekat dengan Changmin. .dan kau tak perlu memamerkan tubuhmu pada teman-temanmu bukan?

"shiitt. . siapa kau sebenarnya?"

Clek. . .

Pintu room terbuka

"Changmin" ucap Jaejoong, "kenapa wajahmu semakin muram"

Changmin mendudukan tubuhnya didekat Jaejoong, Jaejoong memandang wajah Changmin dengan mata besarnya, "wae?"

Changmin malah memeluk tubuh ramping Jaaejoong

"selalu seperti ini" ucap Jaejoong

"sebentar saja Jae"

"ne, terserah kau saja"

Changmin memeluk tubuh Jaejoong cukup lama, Jaejoong hanya membiarkannya. Yoochun dan Junsu memasuki room, mereka melihat jelas Changmin yang memeluk Jaejoong

"woo. .apa yang kalian lakukan?"

Changmin segera melepas pelukannya

"kau sedang tidak berselingkuh kan Jae" ucap Junsu

Jaejoong mengamati Junsu, bibir merahnya sedikt bengkak. Terlihat jelas kissmark di perpotongan leher dan bahu Junsu

"yang jelas, Changmin tidak menciumku" Jaejoong terkikik sembari memandang Junsu.

Drrtt. . .drtt. . handphone Jaejoong bergetar. Dia mengambil handphonenya, segera membaca pesan yang masuk

"Jae, sejak kapan kau memiliki tattoo?" tanya Junsu, Yoochun dan Changmin ikut memperhatikan tubuh Jaejoong. Di dada kirinya menyembul beberapa tulisan yang tak begitu jelas terlihat karena sebagian masih tertutupi pakaiannya.

"oh. .ini" Jaejoong menyentuh tattoonya, "sudah lama, tapi aku tak perlu memamerkan ini di sekolah bukan?"

"apa tidak sakit?"

"aku pernah merasakan yang lebih sakit dari pada di tattoo"

"apa?"

"sakit hati" jawab Jaejoong

"ya. .jangan bercanda Joongie" ucap Junsu sebal

"jika kau sudah merasakan sakit hati, aku akan tahu seperti apa sakitnya Su-ie" sahut Changmin

"aniya, aku tak mau merasakannya"

"semoga" ucap Jaejoong santai sembari mengambil tas dan coatnya, "aku harus pergi sekarang, Siwon oppa sudah menjemputku"

"kalau begitu kita pulang saja" usul Yoochun

"ne" jawab Junsu

Mereka segera meninggalkan tempat karaoke, diluar gedung seorang lelaki berparas tampan berbadan tegap telah menunggu seseorang di depan mobil hitamnya. Jaejoong tersenyum melihat lelaki itu

"Jae, kau benar-benar sudah dijemput" ucap Changmin lirih

"ne, aku pulang dulu" ucap Jaejoong pada mereka, Jaejoong memeluk tubuh Junsu. Menghampiri Changmin dan membisiki sesuatu. Kemudian pergi meninggalkan mereka.

"oppa, kajja"

Siwon mengangguk, kemudian tersenyum kepada teman-teman Jaejoong. mereka lekas memasuki mobil dan pergi dari tempat itu.

"kau senang?"

"cukup menyenangkan, tidak buruk"

"sering-seringlah pergi bersama mereka"

"akan ku usahakan"

"oppa, kau mau mendengar ceritaku?"

"ne"

"selama enam bulan ini aku mendapatkan surat dari seseorang, tapi aku tak mengetahui siapa orangnya"

"penggemarmu mungkin"

"mungkin, tapi dia seperti terus-terusan mengikutiku. Bahkan sesore ini dia memberiku beberapa surat melalui orang lain. Dan ketika di sekolah, aku akan menemukan suratnya tertempel di pintu lokerku"

"kau memintaku untuk mencari orangnya?"

"aniya, aku akan mencarinya sendiri"

"baiklah kalau begitu"

"aku penasaran dengan orang ini, akan ku ikuti permainannya"

"Kim Jaejoong, mengikuti permainan seseorang? Bukankah biasanya kau yang menciptakan permainan?"

"kali ini berbeda"

"ne terserah kau saja"

Mobil Siwon terus membelah jalanan Seoul, mereka menuju pup langganan Jaejoong, sesampainya di sana, mereka segera memasuki bilik VIP yang sengaja dipesan oleh Siwon.

"kenapa di sini?"

"karena kau bersamaku"

"wae?"

"malam ini aku tak akan membiarkanmu flirting dengan lelaki yang tak kau kenal"

"jadi aku harus melakukannya denganmu?" ucap Jaejoong mendekati tubuh Siwon

"Jae, sudah kubilangkan. Jangan bersikap nakal, aku yakin dia tak akan senang"

"haahh. . .terserahlah" Jaejoong mendudukan dirinya

"kau hanya boleh minum" Siwon menyodorkan sebotol minuman kesukaan Jaejoong, Jaejoong menerima botol tersebut kemudian menegaknya.

"Jae, pakailah gelas"

"terlalu lama"

"kau ini" Siwon mengacak rambut Jaejoong. Jaejoong berdiri dari duduknya, menuju tepian pembatas. Dari sini, dia bisa melihat jelas kerumunan orang yang berdansa dilantai bawah. Mengamati setiap orang yang ada di sana, Siwon berdiri disampingnya. "ingin turun?"

"jika aku turun berarti kau mengijinkanku untuk menggoda salah satu dari mereka" Jaejoong terkekeh

"kalau begitu di sini saja" Siwon meraih pinggang ramping Jaejoong mendekatkan pada tubuh kekarnya.

"oppa, kau tak mencari wanita lain?"

"untuk apa? Bukankah ada dirimu?"

"aku tak bisa menemanimu setiap saat seperti dia"

"tak perlu setiap saat"

"sama saja, aku tak bisa seperti dia"

"jangan jadi dirinya, jadilah dirimu sendiri"

"bukankah kau tahu, Jaejoong tak betah dengan seorang pria saja"

Siwon terkekeh mendengarnya, "tak masalah, karena aku tahu. Kau tak akan bergerak lebih jauh dari ini" Siwon mencium leher Jaejoong menghirup aroma tubuh Jaejoong, "jadi tak masalah buatku kau mau memiliki berapa pria". Siwon kembali menenggelamkan wajahnya di lehar Jaejoong, Jaejoong mendongakkan kepalanya memberi ruang lebih bebas untuk Siwon. Tangannya menyusup ke rambut hitam Siwon seolah menikmati perlakuan Siwon.

Jaejoong tertawa, "aku tak pantas untukmu, carilah wanita lain"

"selama aku mencarinya, kau harus tetap menemaniku. Emmbb. . . dan kau carilah satu pria saja"

Jaejoong terkekeh, "setelah aku menemukannya, aku tak akan bisa kau perlakukan seperti ini"

"setelah kau benar-benar menemukannya, aku akan melepasmu"

"benarkah? Kau yakin bisa melepasku?" ucap Jaejoong menggoda

Hahahhaha. . . ."adik kecil ku ini benar-benar sudah pintar menggoda eoh?"

Mereka masih berpelukan, seorang pria masih mengawasi Jaejoong dari seberang ruang VIP Jaejoong. menatap tajam kearah mereka, sesekali mengarahkan kameranya untuk mengambil gambar-gambar Kim Jaejoong.

Malam semakin bergeser ke pagi, jam 3 pagi. Ya saat ini Siwon sedang menggendong tubuh ramping Jaejoong menuju kamarnya. Jaejoong sudah sangat mabuk, dia tak kuat lagi berjalan. Sesampainya di kamar Siwon segera merebahkan tubuh Jaejoong, melepas sepatunya dan menyelimuti tubuhnya. Dikecupnya dahi Jaejoong, kemudian keluar kamar Jaejoong dan meninggalkan rumah mewah Jaejoong.

Siwon pov_ _

"mianhae" gumamnya, matanya menatap lurus menyusuri jalanan sepi di depannya. Pikirannya entah melayang kemana. "mianhae, aku tak akan terlalu jauh dari ini. Tapi aku benar-benar tidak bisa untuk tidak menyukainya"

Siwon pov end_

. . . . . . . . . . . .

Waktu bergulir, sinar mentari masuk melalui sela tirai kamar Kim Jaejoong, "euummbb" Jaejoong menggeliat dalam tidurnya, merasa terganggu dengan terangnya sinar matahari. Jaejoong membuka matanya, melemaskan otot-otot tubuhnya. .

Tok. . tok. .tok

"ne, masuk"

"mianhae nona, ini ada paket untuk nona"

"dari siapa?"

"maaf saya tidak tahu. Tadi seorang pengantar barang mengantarkan ini untuk nona."

"ne, taruhlah di meja"

"baik. saya permisi"

Setelah sang maid keluar, Jaejoong segera mendudukan tubuhnya, "ahhh" rasa yang tak asing lagi bagi Jaejoong, hangover. Jaejoong terdiam sejenak mencoba menyesuaikan kondisi tubuhnya.

Drrt. .drtt. . handphonenya bergetar

Dia segera mengangkatnya, "yeoboseyo"

". . ." "appa"

". . ." "ne, aku baru bangun"

". . ." " semalam aku bersama Siwon oppa"

". . ." "ne, aku minum"

". . ." "arraso, aku akan menjaga diriku baik-baik. appa, aku sudah mengetahuinya."

". . ." "ne, aku akan melakukannya"

". . ." "aku yakin, aku bisa"

". . ." "ne, jika aku kesulitan aku akan meminta bantuan appa"

". . ." "appa, jagalah kesehatan. Pekerjaanmu itu berbahaya, berhati-hatilah"

". . ." "apa tidak cukup dengan perusahaan terbesar di Korea?"

". . ." "arraso, terserah appa. Yang pasti aku tak ingin appa terkena masalah"

". . ." "bye" Jaejoong mengakhiri pembicaraanya. Dia berdiri perlahan menghampiri bungkusan untuknya. Dibukanya segel pembungkus dengan perlahan. Dia mendudukan dirinya pada sofa di kamarnya, membuka penutup bungkuasan tersebut. Matanya membelalak, Jaejoong cukup kaget dengan isi kotak tersebut.

Dia mengeluarkan isi kotak tersebut, beberapa lembar fotonya ketika di kedai ice cream, bergandengan tangan dengan Changmin, duduk berdua dengan Changmin, berpelukan dengan Changmin di tempat karaoke, saat Siwon memeluknya, dan ketika Siwon mencium dirinya.

"shiiitt. . .kau membuatku semakin tertarik" ucap Jaejoong, dia mengeluarkan isi dalam sebuah amplop berwarna merah.

Kim Jaejoong: beautiful, mysterious, n naughty. . . my black rose..

Tbc_


A/N

Yeahhh. . .chap 2 update. . .

Maaf updatenya lama, apalagi buat WGM dan Make me. . . yang biasanya udah update, tapi belum update. . .tugasnya sudah mulai wow hehehe. . .

Maaf makin geje, dan yang pada nungguin Yunjae sabar-sabar. . .saya masih menyimpan mereka. .hehehe. . .

Eh. . ini cocoknya masuk rate T apa M ya? ?

Eumbb. . .makasih yang udah baca n review di chap kemaren. .nah sekarang udah baca kan. . review lagi ne. . .

Bales review dulu ya ;)

Yoyojiji : ini lanjut chingu, baca n review lagi ne. .semoga tidak bosan ;). . .yang kirimin surat siapa ya? ? hehehehe di tunggu chap berikutnya ya ;)

Aramutiaraa : makasih ara aku juga suka Jae yang nakal. . .kekekeke. . .udah lanjut ni. Jangan lupa baca n review dan jangan bosan ne

HanRJ : konfliknya fitunggu ya, chap-cahap berikutnya pasti ketahuan siapa mereka dan apa hubungan mereka. .jadi jangan bosen baca n review ne ;)\

Nobinobi : siwon punya hubungan apa ya? Hehehehe di tunggu aja ya. . . jangan bosan ma cerita abstrak saya ini ya . .ditunggu reviewnya ;)

Julie loveyunjae :auuuu. . .jangan cubit pipi saya. . . hehehehe hub siwon ma jae apa ya? ? hehehe besok besok bakal ketahuan kok. .ini udah update. .Make me yang chap 1 n 2 YunJae nc. . lainnya bukan. .tapi bakal ada mereka lagi. .secara mereka fav saya hehehehe. . .sekarang baca n review lagine ;)

Caxiebum : YunJae momentnya ditunggu chingu. . .masih disimpen dulu. .hehehe jangan bosan ya ;)

Shim riska : ne, sekarang review lagi ne. . .hubungan siwon ma jae bakal muncul di chap-chap selanjutnya. . kekeke jadi jangan bosan ne ;)

tyaaR : udah update chingu, gak lama kan. .hehehe. . .baca n review lagi ne ;)

CloudSomniaLoveYunJae : hahahaha. . iya iya Jaejoong punya Siwon *ups. .plakkkk. . .hehehehe* ditunggu ne Jaejoong punya siapa besok hehehehe. . .jangan bosan ya ;) ditunggu reviewnya

Lovyj : makasihhh. .iya udah lanjut chingu. .baca n review lagi ne ;)

Makasih semua reviewnya, baca lagi n review lagi ne. . .buat SILENT READER. .PLEASE MUNCULKAN DIRI KALIAN. . . .hargai karya orang lain ;) dan makasih juga buat yang jadiin fav story, masukin ke alert story. .

Ehh author boleh ceritakan. .terserah deh reader mo bilang lebai atau norak hehehhe *yang pasti saya lagi seneng*. . . dari senin kemaren saya harus berdiri kurang lebih 7 jam *paling duduk setengah jam buat makan siang*, dan itu terbayar satu demi satu. Karena akhirnya kemaren saya liat usus manusia asli di depan mata saya sendiri. .dan itu rasanya wow. .trus tadi liet bayi lahir caecar. .kyaaa. . .rasanya pengen cepet-cepet punya bayi *tarik Junsu ahahaha* dan saya pengen banget bisa liet otak, paru" atau jantung manusia. .semoga aja masih ada kesempatan. . *eits. . .jangan mikir author tukang jagal orang ya. . silahkan kalian persepsikan sendiri siapa saya hahaha*

Duuhh banyak omong ya. .hehehehe udah lah ;)

Terakhir

BACA REVIEW NO SILENT READER

Gamsahae. . .