Title : Avenger

Part : 3 (our story )

Rate : T (bisa geser ke M)

Cast : Dongbangshinki n others, Genderswitch for Jaejoong n Junsu

Warning : OOC, FF ini milik saya, saya tau idenya pasaran dan ceritanya monotone. Jadi harap bersabar dengan kekurangan FF abstrak saya ini. . .DON'T LIKE DON'T READ, yang BACA WAJIB KOMEN. .GAK TERIMA CACIAN atau MAKIAN. . .DON'T BE SILENT READER

-kupas tokohnya dulu ya, YunJae sabarrrr. . ;)

. . . . . . . . . . . . . . .

"shiiitt. . .kau membuatku semakin tertarik" ucap Jaejoong, dia mengeluarkan isi dalam sebuah amplop berwarna merah.

Kim Jaejoong: beautiful, mysterious, n naughty. . . my black rose..

"aku akan menemukanmu, dan lihat aku akan benar-benar menakhlukanmu" seringaian terpasang diwajah cantik Jaejoong. .

. . . . . . . . . . . . .

"arghhhh" teriak frustasi seorang pria. Wajahnya nampak kusut, rambutnya berantakan dan kantung matanya terlihat jelas. "kau memang selalu mengenaskan Shim Changmin".

Ya, lelaki itu adalah Changmin. Dulu, saat pertama kali bertemu dengan gadis itu dia selalu bahagia. Menghabiskan waktunya hampir setiap hari dengannya, namun seiring berjalannya waktu semuanya berubah. Ketika gadis itu mengatakan bahwa ia menyukai seseorang, hati Changmin terasa sakit, dan ketika mengetahui bahwa mereka berpacaran, kehidupan Changmin mulai berubah. Gadis itu lebih senang menghabiskan waktunya sendiri. Lebih tepatnya bersama kekasihnya. Dia hanya akan mengingatnya ketika masalah datang, menghabiskan waktu bersama ketika sang kekasih pergi. hanya sebagai selingan? Mungkin. Dan seperti inilah Changmin. kesepian, sakit memendam perasaan. Senyuman yang dimunculkan setiap harinya adalah palsu. Hanya tak ingin membuat sahabatnya khawatir. Ya, terlalu baik memang. Baginya membiarkan sang gadis bahagia lebih penting dari pada perasaannya sendiri, tapi saat ini justru hal itu membuatnya semakin sakit dan terpuruk.

"Jae" sapa Changmin melalui ponsel hitamnya

". . ." "aku ingin bertemu"

". . ." "aku ingin membicarakan sesuatu"

". . ." "aku tak bisa mengatakannya melalui telpon"

". . ." "ne, gwenchana. Aku mengerti kau sibuk. Bye"

Changmin membanting ponsel hitamnya, merebahkan tubuh tingginya pada ranjang yang sudah sangat berantakan karena ulahnya.

. . . . . . . .

Jaejoong pov_ _

Aku baru saja mengangkat telpon dari Changmin. Ya, seperti biasa suaranya terdengar menyedihkan. "kau memang menyedihkan Shim Changmin". aku meletakkan ponsel hitamku, kembali berkutat pada artikel yang dikirimkan Siwon oppa beberapa hari lalu. Aku mengamati gambar yang terlihat dilayar komputerku, membaca dengan teliti setiap keterangan yang ada.

"jadi kau bukan anak kandungnya? Mungkin kau bisa sangat membantuku" gumam Jaejoong disertai seringaian khasnya, "permainan akan kita mulai besok".

Jaejoong pov end_

Jaejoong menutup artikelnya, mematikan komputer dan beranjak pergi. Tidak seperti biasanya, kali ini dia ditemani dua pria berjas hitam rapi. Mobil hitamnya bergerak meninggalkan rumah mewahnya.

Seperti biasa, Jaejoong selalu diawasi oleh seorang lelaki.

Mobil Jaejoong terus bergerak meninggalkan keramaian kota Seoul. Saat ini dia berada di pinggiran Seoul, mobilnya memasuki gedung. Begitu mobilnya berhenti, dia segera turun dan memasuki gedung tersebut. Dua orang pria kekar masih terus mengikuti pergerakan Jaejoong, memastikan keamanan bagi sang tuan.

"dimana mereka?"

"di ruang biasanya nona"

Jaejoong mengangguk, dia segera melangkahkan kaki jenjangnya menuju ruangan yang ditunjukan sang pengawal. Sesampainya di depan pintu, dia segera membukanya dan memasuki ruangan tersebut.

"selamat siang nona" ucap seorang lelaki bertubuh gemuk

"selamat siang tuan Shim"

"silahkan duduk" ucapnya

Jaejoong mendudukan dirinya pada sofa yang tersedia, matanya mengamati lelaki gemuk di depannya, "jadi, kau sudah menerimanya?"

"ne, tuan Kim sudah mengirimkan kepada saya. Apa anda ingin melihatnya nona?"

"aku tak terlalu tertarik dengan bisnisnya ini. Tapi aku ingin melihatnya"

Lelaki gemuk itu, mengambil koper besar disampingnya. Membukanya kemudian menghadapkannya pada Jaejoong, "ini"

"sebanyak ini?" katanya menatap perpuluh-puluh plastic serbuk putih dan ratusan butir pil.

"ne, ini lebih sedikit dari biasanya nona. Biasanya tuan Kim akan mengirimkan dua kali lipat dari ini"

"aku penasaran dengan rasanya" Jaejoong menyentuh bubuk putih tersebut dengan telunjuknya, kemudian menjilatnya.

"nona, tuan Kim tak mengijinkan anda untuk memakainya" ucap salah satu pengawal Jaejoong

"ne, aku tahu. Aku hanya penasaran dengan rasanya, kenapa orang-orang mau mengeluarkan banyak uang untuk benda ini. Dan kenapa ayahku bisa leluasa memasukkan barang ini ke Seoul?"

"ini semua bisnis nona, sangat menguntungkan dan saya akui ayah anda memang hebat. Dia mampu bekerja sama dengan siapapun untuk melancarkan bisnisnya"

"apa ayahku sehebat itu?"

"tentu, dia adalah pemimpin kami. Organisasi ini sudah berdiri sejak lama, dan dia semakin melebarkan eksistensi kami."

"eksistensi para mafia?" Jaejoong terkekeh

Lelaki itu tersenyum, "kami tak akan melibatkan nona terlalu jauh dalam organisasi kami, tapi kami akan selalu membantu dan menjaga nona. Seperti apa yang tuan Kim katakan"

"ne, aku tahu. Tuan Shin, aku tak ingin berlama-lama di sini. Aku hanya diperintah ayahku untuk mengecek kirimannya, dan aku ingin pergi sekarang.

"ne, silahkan nona"

"berhati-hatilah, aku tak ingin kalian mendapat masalah"

"ne, kami akan berhati-hati"

"baiklah, aku permisi" Jaejoong meninggalkan ruangan itu. Berjalan anggun menyusuri koridor gedung.

. . . . . . . . .

Di sebuah kamar, bercat babyblue terdapat seorang gadis yang sedang menghabiskan waktunya bersama sang kekasih. Junsu, Kim Junsu dan Park Yoochun. Dihari libur seperti ini mereka biasa menghabiskan waktu bersama, entah itu di rumah Junsu atau di rumah Yoochun.

"Su-ie"

"ne"

"kau bahagia bersamaku"

"tentu saja, sangat bahagia. Oppa?"

"ne,, aku senang bisa bersamamu. Menghabiskan waktu ku dengan kekasihku yang manis ini" kata Yoochun sembari membelai pipi tembam Junsu.

"oppa, boleh aku bertanya sesuatu?"

"silahkan"

"apa oppa benar-benar hanya memilikiku?" tanya Junsu sembari menatap mata teduh Yoochun. Yoochun menundukkan kepalanya membalas tatapan sang kekasih yang berbaring di pahanya.

"kau tidak percaya padaku?"

"ani, bukan begitu. Aku hanya bertanya saja"

Yoochun tersenyum mendengarnya, membelai rambut coklat Junsu. "duduklah"

Junsu mendudukan tubuhnya menghadap Yoochun, "dengarkan aku baik-baik baby."

Junsu mengangguk. "kau" ucap Yoochun sembari memegang dagu Junsu, "adalah satu-satunya wanita yang ku miliki saat ini. Aku memang pernah memiliki banyak wanita sebelummu, tapi kau sudah mengubah semuanya changi"

"benarkah?"

"kau harus percaya padaku"

"ne aku percaya" ucap Junsu sembari tersenyum. Yoochun semakin mendekatkan wajahnya, Junsu yang mengetahui maksud Yoochun segera menutup mata indahnya. Tak perlu menunggu lama, bibir Yoochun telah menempel di bibir merah Junsu, Yoochun mulai menggerakkan bibirnya perlahan Junsu membalasnya seirama, tangan Yoochun merengkuh tubuh mungil Junsu membelai pelan punggung Junsu. Tangan Junsu menekan tengkuk Yoochun memperdalam ciuman mereka. Tanpa aba-aba, Yoochun merebahkan tubuh Junsu, Junsu tak menolak. Kini tubuh Yoochun menindih Junsu, Yoochun semakin liar melumat bibir Junsu, memiringkan kepalanya untuk memudahkan aksesnya. Tangannya tidak tinggal diam, mulai menyusup ke dalam kaos longgar Junsu. Perlahan Yoochun mulai melepas pakaian Junsu, namun tangan Junsu menahan pergerakan Yoochun, Junsu melepas pangutan bibir Yoochun. Napasnya sedikit terengah, "ooppa, aniya"

"wae?"

"a. .aku belum siap melakukannya"

"kau tak percaya padaku?" tangan Yoochun mengusap bibir basah Junsu

"bukan, begitu. A. .aku akan memberikannya setelah kita menikah"

"kau tak percaya padaku" Yoochun menggulingkan badannya, kemudian duduk disamping Junsu

"oppa, aku percaya padamu. Hanya saja aku belum siap"

Yoochun terdiam sesaat, "kita sudah berjalan setahun lebih bukan? dan kau menolakku berkali-kali dengan alasan yang sama"

"mianhae, aku memang belum siap"

"haahhh. . .arraso, aku tak akan memaksamu." Ucap Yoochun lembut sembari membelai kepala Junsu, "Su-ie, aku mau pulang"

"oppa marah padaku?"

"aniya, tapi memang aku harus pulang. Hari sudah mulai gelap"

"ne". Yoochun segera keluar dari kamar Junsu, Junsu mengantarkannya sampai pintu depan. Terakhir, Yoochun mengecup sekilas bibir Junsu kemudian meninggalkan rumah Junsu.

. . . . . . . . . . . . . . .

Junsu pov_

Aku baru saja mengantar kekasihku pulang, hanya sampai pintu depan rumahku. seharian ini kami bersama. Kami memang selalu menghabiskan waktu libur kami berdua. Apa orang tuaku tidak marah? Tentu saja tidak, mereka sudah tahu hubungan kami. Dan orang tuaku berada di Jepang untuk mengurusi bisnis mereka, jadi kami bisa leluasa.

Kami sudah berpacaran setahun lebih, bahagia. Ya aku bahagia bisa mendapatkannya dan bisa merubah sifat playboy nya. . dan Yoochun oppa selalu perhatian padaku, menyenangkan bukan?.

Hubungan kita memang cukup jauh, tapi aku masih belum mau untuk melewati batasku. Aku masih takut untuk melakukannya, entahlah aku merasa tidak yakin untuk melakukannya. Bukannya aku tidak percaya kepadanya, tapi entahlah, hati dan pikirannku merasa belum yakin untuk menyerahkan apa yang ku miliki kepadanya saat ini.

Junsu pov end_

. . . . . . . .. . . . . . .

Tuutt. . .tuutt. . .

Seseorang dengan sabar menunggu jawaban telponnya.

"yeoboseyo" ucapnya dengan suara huskynya

". . ." "ne, ini aku"

". . ." "aku bosan, apa kau ada waktu untukku? Aku ingin bersamamu malam ini"

". . ." "café biasanya? Kau sedang di sana?"

". . ." "baiklah, aku akan sampai lima belas menit lagi. Tunggu aku"

Lelaki itu menjalankan mobilnya menyusuri jalanan, menuju tempat yang telah ditentukan. Lima belas menit kemudian dia tiba di sebuah café yang cukup besar, dengan penerangan yang sedikit remang. Lelaki itu turun dari mobilnya, memasuki café menuju salah satu sudut ruangan. Di sana seorang gadis berperawakan tinggi yang memakai mini dress merah telah menunggu sang lelaki.

"oppa"

"Kahi, sudah lama di sini?"

"satu jam lalu, sebenarnya aku sudah ingin pulang. Tapi karena oppa menghubungiku dan ingin bertemu denganku jadinya aku tak jadi pulang" jawabnya sambil tersenyum manis

"aku ingin bersamamu"

"kenapa dengan kekasihmu?"

"aku butuh selingan"

"selalu begitu, apa dia memang tak bisa memuaskanmu?" jawabnya nakal

Sang lelaki terkekeh. ."sepertinya kau jauh lebih memuaskan"

. . . . . . . . . . . .

Hari ini aku benar-benar bosan, muak dengan diriku sendiri, muak dengan keadaan, muak dengan lelaki bangsat itu. Jaejoong, aku menghubunginya tapi seperti biasa dia sangat sibuk dengan urusan pribadinya. "argghhhh" . Aku memutuskan untuk keluar dari rumahku, menghirup udara segar. Semoga pikiranku bisa lebih tenang. Aku memacu mobil merahku, aku tak tahu harus kemana. Aku hanya mengikuti instingku membawaku kemana. Hari sudah mulai gelap, seharian ini aku benar-benar menghabiskan waktuku dengan kegiatan yang tidak jelas, setidak jelas perasaanku. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke sebuah café, semoga saja aku mendapat sedikit hiburan di sana. Aku memakirkan mobil merahku, segera keluar dan memasuki café. Aku duduk di tempat yang agak tersembunyi, aku tak ingin banyak orang melihat penampilanku yang sedikit kacau. Aku memesan secangkir cappuccino. Duduk dengan diam, mengamati beberapa pengunjung yang kelaur masuk pintu café. Tak selang lama, pesananku datang. Aku segera menyesap minumanku, pandanganku tetap kearah pintu café, entahlah aku hanya sedang ingin melihat kesana.

Sampai akhirnya aku melihat seseorang yang ku kenal, sangat ku kenali. Dia melangkahkan kakinya menuju salah satu sudut di ruangan café ini, mataku membulat sempurna. Jantungku berdegup cukup kencang, marah? Mungkin. Kecewa? Mungkin. "brengsek" umpatku ketika melihatnya memeluk seorang gadis berpakaian terbuka dibagian bahu dan pahanya. Lelaki itu duduk di sebelah sang gadis memeluk pinggangnya, dan membelai wajah mulusnya, "ciiihhh. . .menjijikan"

"sial" harusnya aku bisa sedikit tenang di sini, tapi ternyata perasaan ku semakin kacau, ini bukan pertama kalinya aku melihatnya bersama para gadis, bahkan ini sudah yang kesekian kalinya. Katakan aku gila karena lelaki yang mengikuti seorang lelaki. Tapi aku benar-benar tak bisa membiarkan ini terlalu lama. Selama ini aku masih mengumpulkan bukti tentangnya, sudah terkumpul memang, sangat banyak. Aku ingin mengatakan pada seseorang tentangnya, tapi aku takut menyakitinya. Aku takut senyumannya hilang seketika karena aku tahu dia sangat mencintai lelaki brengsek itu. Namun jika aku tak mengatakannya, sama juga aku menyakitinya. "argghhh" aku semakin muak dengan diriku sendiri. "hidupmu memang memuakkan Shim Changmin"

. . . . . . . . . . . . . .

Hari ini seperti hari-hari lalu, aku mengikuti seorang gadis. Kalian boleh mengatakan aku tidak waras. Ya, dia sudah membuatku tidak waras. Tapi aku benar-benar tertarik padanya, katakanlah aku memang mencintainya. Semua wanita boleh jatuh dalam pesonaku, tapi hanya dia yang mampu membuatku jatuh dalam pesonanya, hanya dia yang mampu membuatku seperti ini. Dia sudah membuatku bodoh.

Saat ini aku mengikutinya pergi, dia bersama dua orang pengawalnya. Hari ini dia sangat cantik, seperti biasanya. Padahal dia hanya memakai kaos hitam bergaris-garis merah panjang menutupi setengah pahanya yang aku yakin dia hanya memakai hot pants seperti biasanya. Leher jenjangnya jelas terlihat, lengan indahnya tenggelam dalam lengan kaosnya. Rambutnya diikat asal, terkesan acak-acakan namun terlihat sangat menarik. Kakinya beralaskan sneakers putih. Sederhana, namun tetap terlihat sangat amat menarik di mataku. Dia bisa berpenampilan sangat menggoda dan sederhana dalam satu waktu. Dia adalah Kim Jaejoong.

Sejak kepindahannya setahun lalu, aku sudah tertarik kepadanya. Dan mulai enam bulan lalu aku memberanikan diriku untuk menjadi stalkersnya. .aku tidak perduli apa yang akan kalian katakan pada ku, yang pasti aku sangat penasaran dan selalu ingin mengetahui tentangnya. Walaupun sampai saat ini sangat sulit untuk menemukan siapa dia sebenarnya. Dia sering dikelilingi lelaki berbadan tegap, wajar karena dia anak tunggal dari pengusaha terkaya di Korea saat ini.

Aku hanya mengetahui beberapa darinya, kegiatan rutinnya. Kebiasaan minumnya, tempat favorite yang selalu ia kunjungi, salah satunya adalah pemakaman seseorang yang bernama Kim Bum. Di samping makam orang tersebut terdapat dua makam yang selalu ia kunjungi juga, tapi tak ada nama yang tertera di nisannya. Namun aku pernah menemukannya menangis dihadapan mereka. aku sudah mencari informasi tentang Kim Bum, tapi nihil. Aku tak menemukan apa-apa tentang wanita itu.

Aku menghentikan mobil hitamku, cukup jauh dari sebuah gedung yang dimasuki Jaejoong. entahlah apa yang dilakukan Jaejoong disana. Aku ingin memasuki gedung itu, namun setelah ku amati, gedung itu memiliki pengamanan yang cukup ketat. Ada kamera CCTV di bagian depan, dan beberapa orang yang berjaga disana. Aku tak akan menampakkan wajahku di kamera itu, karena sama saja aku membuka kedokku dan itu konyol.

Aku terus mengamati gedung itu, satu jam kemudian mobil Jaejoong keluar gedung. Aku menghidupkan kembali mesin mobilku, kembali mengikutinya. Mungkin kalian heran mengapa aku melakukannya. Sudah kibulang bukan, bahwa aku mencintainya. Dan dia sudah membuatku bodoh.

Sebelum dia masuk di sekolahku, aku pernah bertemu dengannya. Beberapa tahun lalu, tapi saat itu bukan gadis seperti ini yang aku temui. Dia sangat sopan, dan tidak seliar ini. Mungkin karena dulu dia masih kecil, atau Eropa sudah mengubahnya sejauh ini? Entahlah. Apa dia benar-benar gadis yang ku temui saat itu? Aku tidak perduli, yang pasti saat ini aku telah jatuh dalam pesonanya. Dan ini pertama kalinya aku jatuh cinta kepada seseorang sampai segila ini.

Apa kalian ingin tahu siapa aku? Baiklah. . ini aku, Jung Yunho, dan aku memang telah jatuh dalam pesona seorang Kim Jaejoong, my black rose. . wajar bukan jika aku menamainya black rose? Dia sangat cantik, lelaki manapun akan jatuh dalam pesonanya. Namun dia memilki sisi gelap yang entahlah aku belum bisa menemukannya sampai saat ini, yang aku tahu dia tak akan segan untuk membuka diri kepada pria yang mendekatinya, kemudian 'menjatuhkan' pria tersebut. Bukankah bunga mawar itu sangat cantik? Semua orang menyukai keindahan dan wanginya. Namun dia juga memiliki duri yang bisa membuat orang yang mendekatinya terluka. Dan seperti itulah Kim Jaejoong.

. . . . . . . . . . . . . . .

Hari berlalu, hari ini seperti biasanya Jaejoong berangkat pagi ke sekolah. Mengecek lokernya, dan tepat sekali ada sesuatu yang menempel di pintu lokernya, kali ini bukan secarik kertas, melainkan selembar foto dirinya, memakai baju hitam panjang bergaris-garis merah. Jaejoong membalik foto tersebut,

black rose, menggoda dan sederhana dalam satu waktu

"belum bosan mengikutiku? Dan aku juga tak akan bosan mengikuti permainanmu" seringaian terpasang jelas diwajah cantiknya, dia membalikkan tubuh rampingnya kemudian berjalan ke kelasnya.

Sesampainya di kelas, dia mendapati Changmin yang menundukkan kepalanya bertumpu pada meja.

"Minnie" ucap Jaejoong sembari membelai rambutnya

"Jae" jawabnya lirih tanpa mengubah posisinya

"waeyo, kau sangat kacau akhir-akhir ini"

"bukankah waktu itu kau berbisik padaku bahwa kau telah mengetahui apa masalahnya?"

Jaejoong terkekeh mendengarnya, "jadi benar karena itu?"

Changmin menganggukkan kepalanya.

"apa kau membutuhkan bantuanku Minnie?"

Changmin mendongakkan kepalanya, "apa yang bisa kau lakukan?"

"sebuah permainan untuknya, bagaimana?"

"maksudmu?"

"kau selalu ada untuknya bukan? dan dia selalu 'berlari' padamu ketika sedang dalam masalah?"

Changmin mengangguk

"kita balik keadaannya. Tinggalkan dia, dan jangan perdulikannya lagi"

"itu gila jae, aku tak bisa melepasnya begitu saja"

"lihatlah" Jaejoong membelai pipi Changmin, "kau turun berapa kilogram changi? Hidupmu berantakan, memiliki kantung mata, dan senyuman mu itu palsu"

"darimana kau tahu?"

"aku memang tak pernah bersamamu, aku menolak ajakanmu untuk keluar. Tapi jangan kau kira aku tak memperhatikanmu. Aku jauh lebih mengetahui mu dari pada dirinya"

Changmin terpaku dengan perkataan Jaejoong.

"pakai aku, untuk membuatnya merasa kehilanganmu. Bagaimana?"

"kau yakin?"

"kau pikir aku bercanda dengan ini?"

"mulai hari ini kau bisa bersamaku semaumu, dan aku akan membantumu. Kau ingin mereka berpisah?"

Changmin nampak berpikir sesaat

"terlalu lama Minnie, aku anggap jawaban mu iya. aku akan membantumu, tapi jika aku membutuhkanmu, kau harus membantuku. Bagaimana?"

Haaahhh. . . Changmin menghela napas panjang, "apa yang harus ku lakukan?"

"hanya mengikuti ucapanku, Bagaimana?"

"maksudmu?"

"bukankah sudah sangat jelas" jawab Jaejoong masih mengusap pipi Changmin

"aku akan menuruti perkataanmu"

"good boy, mulai sekarang kita partner?"

"ne"

"aku muak melihatmu seperti ini, kau seperti zombie. Aku mau Changmin yang ku kenal setahun lalu. Walaupun aku tahu, saat aku mengenalmu hidupmu sudah kacau. Tapi paling tidak, tak sekacau sekarang ini. Dan aku yakin, sebelum ini kau adalah sosok periang."

"kau yakin sekali dengan ucapanmu"

"karena aku Kim Jaejoong" ucapnya sembari tersenyum

"dan sayangnya, ucapanmu itu benar Jae."

Jaejoong terkekeh mendengar perkataan Changmin.

"Jae, kenapa kau tak pernah mau ku ajak keluar?"

"aku sibuk"

"apa yang kau lakukan?"

"berbisnis?"

"pembohong"

"kau satu-satunya orang yang mengatakanku pembohong"

"karena kau memang berbohong. Perusahaanmu dikendalikan oleh Siwon kan?"

"dari mana kau tahu?"

"perusahaan kita bekerja sama Jaejoongie"

"jinjja?" Jaejoong pura-pura terkejut.

"haahh. . .jangan pura-pura bodoh Jae"

Jaejoong tertawa mendengarnya, "Siwon memang memegang kendali, tapi aku harus mengawasi pekerjaannya bukan?"

"dan aku yakin pula, kau tak melakukannya"

Jaejoong menatap Changmin, "dan sayangnya kau benar"

"apa yang kau lakukan?"

"ikutlah denganku malam ini, dan kau akan tahu"

Selama ini Jaejoong tahu, bahwa perusahaan keluarga Changmin adalah rekan bisnisnya. Lebih tepatnya tuan Shim adalah anggota organisasi ayahnya, yang Changmin tahu perusahaan ayahnya bergerak di bawah perusahaan keluarga Kim. Itu memang benar, tapi itu hanyalah salah satu kedok untuk menutupi eksistensi sebuah organisasi.

. . . . . . . . . . .

Yunho pov_

Hari ini aku berangkat sangat pagi seperti biasanya, kalian tahukan apa yang ku lakukan? Benar, aku menempelkan sesuatu pada loker Jaejoong, dan di sinilah aku. Aku mengawasinya, menunggunya membaca pesanku dan melihat wajah ekspresifnya. Menyenangkan, karena itu aku sangat menikmatinya.

Dia datang, dan bagiku selalu terlihat mempesona. Dia melepas benda yang ku tempelkan pada lokernya. Sedikit terkejut, namun wajahnya berubah seketika. Seringaiannya terlihat jelas, dan aku menyukainya. Ya, aku sangat menyukai segala sesuatu yang berkaitan dengan Kim Jaejoong.

Setelah membaca pesanku, dia berjalan menuju kelas. Aku masih mengamatinya, aku melihatnya mendekati Changmin. apa perlu ku katakan sekali lagi bahwa aku tak menyukai kedekatan mereka?

Aku tahu, Jaejoong akan membuka tangannya lebar-lebar untuk setiap pria yang mendekatinya. Siwon? Ya, aku tahu dia dekat dengan Siwon. Tapi aku tahu pasti bahwa mereka bukan sepasang kekasih. Jangan kalian tanyakan kenapa aku bisa seyakin ini. Sebenarnya, aku merasa sama muaknya ketika Jaejoong berdekatan dengan Siwon, Changmin atau pun lelaki lain. Seperti saat ini, aku ingin menghajar Changmin saat ini juga.

Aku tak mau melihat mereka terlalu lama, aku tak mau emosiku meledak saat ini juga. Bukankah Jung Yunho seorang yang sangat dingin? Ya, aku tak mau menghancurkan image ku di depan semua orang. Aku segera pergi meninggalkan mereka. aku mengambil secarik kertas dari dalam tasku. Menuliskan beberapa kata, kemudian menempelkannya di loker Jaejoong.

Yunho pov end _

Apa kau menikmati waktumu bersama Changmin?

"dia lagi?" Jaejoong tersenyum meremehkan, "Sepertinya aku harus menjalani beberapa permainan sekaligus" ucap Jaejoong

TBC_

. . . . . . . . . . . . . .

Nyah nyah. . .chap 3 ;)

Ceritanya makin gak jelas. .hehehe. . .tapi, udah keliatan kan siapa mereka. jadi yang tanya siapa appanya Jaejoong, sedikit sudah dibahas. Dan penguntitnya Jaejoong juga udah ngaku, dan udah taukan siapa yang disukai Changmin?

Chap depan mau dimunculin YunJae, atau MinJae? hhehehe

Eumb. . .jangan bosan baca dan review ya chingu, walopun saya tau ceritanya abstrak sangat. Tapi review kalian bikin semangat nulis. Kritik n saran boleh kok. Asal kata-katanya gak kasar alias jangan berisi cacian atau makian. . ;)

Makasih yang udah review chap 2 :

Loveyunjae : nah nah udah kejawabkan siapa appa jaejoong, stalker nya Jaejoong. mau scene nya Jaejoong ma Min? chap depan full mereka aja gimana? :p hehehehe. .* enggak ding * mereka tetep ada kok, tuh udah muncul juga. Tapi YunJaenya belom. .chap depan mungkin muncul dikit.

HanRJ : makasih kritiknya, iya nih masih banyak kesalahan hehehehe. . .*perasaan udah diulang bacanya, tapi gitu dipost masih ada yang kelewat juga* Yunho udah nongol nih. Tapi YunJaenya sabar bentar. .

Aramutiaraa : mau rated M? eumb. . boleh *ketawa nista.. .hhahahaha* nunggu make me. . . ya? Ide nc nya mentok nih :P tunggu ya, lagi mau bikin GS nya YunJae, moga aja hasilnya memuaskan :P hehehehe

tyaaAR : stalkernya udah ketahuan kan? Tuh udah ngaku. YunJae momentnya ditunggu ya, chap depan muncul *janji* hehehehe. .mau rated M? *boleh :DD* tapi tunggu beberapa chap lagi mungkin *gak janji :P* besok kalo pindah rated saya kasih pengumuman hohohoho

kucing liar : risih ma Jae ya? Hohoho baru pengen bikin Jae yang nakal :P. .yooo baca n review lagi ne ;)

CloudSomniaLoveYunJae : saya juga dukung Yunho :p hehehe. . .Jaejoong kan mempersilahkan siapa saja buat nyentuh dia :P *ampuuunnn* termasuk Siwon. Dia yang dimaksud WonJae? Rahasia :P

Babyjiji : YunJae moment ditunggu ya, chap depan mungkin muncul. . .WGM udah mpe chap 7 kan ;)

Shippo Baby YunJae : sstttt. .. tenang-tenang. .gak usah nangis. . Yunho udah keluar kan, Siwon itu "temen" nya Jaejoong *plak heheheheehe* di tunggu saja ya, siapa mereka. ini udah update, baca n review lagi ne ;). .moga hasil UN memuaskan ;)

Nobinobi : udah lanjut chingu, baca n review lagi ne ;). . .dia yang dimaksud Siwon? Rahasia :p hehehe.. .bakal muncul di chap chap lanjutnya kok, sabar ya . .Changmin emang kasian. T_T

ChoKyuLate : makasih. . .iya ini udah update se ASAP mungkin hahahaha. . .baca n review lagi ne ;)

Lovyj : sabar buat YunJae nya. . .ini udah lanjut chingu. . baca n review lagi ne. . .keren? makasihhhhhhh ;)

Rara : yang ngestalk. . .tuh udah ngaku :P hehehe. .Jaejoong kan emang nakal, jadi sering keluar malem :P

Jae : mau dijadiin JaeMin aja? Beneran ? hehehehe. . .

Hye Joong : Yunho emang nakutin hehehehe, tapi Jaejoong gak takut ma dia :P

Ji Byul Lee : YunJae ditunggu chap depan ne ;) yang dimaksud Siwon? Rahasia :p Siwon memang suka ma Jaejoong ehhehehe *ampuuunnnn :P

Yoahhh. . .makasih review nya. . .keep review ne ;)

Dan buat yang baca tapi gak review alias SILENT READER tolong tunjukan eksistensi kalian, hargai karya orang ne ;)

Baiklah. .sudah bacakan. . .saya tunggu REVIEW nya. .

Sekali lagi Gamsahae ;)