Title : Avenger

Part : 6 (meet u. .)

Rate : T+ (bisa geser ke M)

Cast : Dongbangshinki (main) n others, Genderswitch for Jaejoong n Junsu

Warning : OOC, FF ini milik saya, saya tau idenya pasaran dan ceritanya monotone. Jadi harap bersabar dengan kekurangan FF abstrak saya ini. . .DON'T LIKE DON'T READ, yang BACA WAJIB KOMEN. .GAK TERIMA CACIAN atau MAKIAN. . .DON'T BE SILENT READER. . .jangan pernah copi cerita saya. . .

. . . . . . . . . . . . . . .

Jaejoong segera menyambar ponsel hitamnya

"Yeoboseyo" ucap Jaejoong

". . . . ."

"ohh. . .Yunho oppa"

". . . ."

"ne, aku di rumah wae?" Jaejoong berdiri dari posisinya, kemudian berjalan menuju balkon kamarnya, "kau berada di depan rumah ku bukan? keluarlah dari mobilmu, aku ingin melihatmu"

Jaejoong memutuskan sambungan telponnya, dia mencari seseorang. Setelah yakin menemukan yang dia cari, dia segera masuk kamar.

"Changmin, aku ingin menemui Yunho"

"dia ke sini?"

"ne, aku akan menemuinya"

"kau akan mengajaknya ke sini?"

"malam ini aku tak berniat memasukan dua orang lelaki ke dalam kamarku" jawab Jaejoong santai

"kau akan pergi dengannya?"

"jika dia mau, kenapa tidak?" Jawab Jaejoong sembari mengambil pakaian dari dalam almarinya.

"dan kau meninggalkanku sendiri?"

"mianhae, tapi aku ada urusan yang tak kalah penting Changmin" jawab Jaejoong dari dalam kamar mandi.

"menggoda Yunho?"

"kurang lebih seperti itu" jawab Jaejoong yang kini telah siap dengan mini dress nya.

"semoga berhasil, dan aku akan menunggumu pulang"

"eumb" Jaejoong mengangguk, "kalo kau bosan, keluarlah. Menggoda Junsu mungkin" lanjut Jaejoong sembari terkekeh.

"cukup menarik"

"baiklah, bye Minnie" ucap Jaejoong sembari mengecup pipi Changmin, kemudian keluar kamarnya dengan tergesa. Kemudian menuruni anak tangga dengan cepat. Sesampainya di tangga terakhir, dia melihat Siwon yang sedang duduk di sofa bersama seorang wanita.

"ehem" goda Jaejoong

"Jae" ucap sang wanita

"Heechul eonni"

"kau mau ke mana Jae? Bukankah ada Changmin di kamarmu?"

"aku ingin menemui Jung Yunho"

Siwon sedikit terkejut mendengarnya, "kau mulai mendekatinya?"

"ne, aku akan memulainya sekarang"

Siwon berdiri dari duduknya, "ne, berhati-hatilah dan bermain secara halus."

"arraso, aku akan pergi sekarang. Bye oppa eumbb. . Heechul eonni, jaga Siwon oppa baik-baik karena meskipun dia terlihat baik dia bukan lelaki baik-baik" ucap Jaejoong sembari terkekeh

"ya" protes Siwon

Jaejoong tertawa mendengarnya, "aku harus pergi sekarang"

. . . . . . . .

Changmin pov_

Aku masih berada di kamar Jaejoong, kamar yang sejak sebulan terakhir ini menjadi tempat yang tidak asing bagiku. Aku merasa sangat nyaman berada di sini, bukan berarti aku tidak nyaman di kamarku sendiri. Tapi di sini berbeda, ya, ada Jaejoong yang selalu menemaniku. Tapi ku rasa mulai saat ini dia akan sibuk dengan mainan barunya, Jung Yunho. Ya, Jung Yunho seseorang yang menjadi pengagum Jaejoong dan selalu mengikuti Jaejoong. awalnya aku cukup terkejut saat mengetahui Yunho adalah orang yang selalu mengikuti Jae, tapi setelah mengikuti dan mendapatkan fotonya saat menempelkan kertas di loker Jaejoong aku semakin yakin bahwa orang itu adalah Yunho.

Sekarang, Jaejoong telah mengetahui pengagumnya. Aku tidak keberatan memang, tapi kenapa sisi lain ku merasa kecewa. Bukankah dari awal aku dan Jaejoong hanya berpartner dan akan saling membantu? Bukankah tujuan awalku adalah mendapatkan Junsu? Tapi kenapa setelah bersama Jaejoong aku merasa sesuatu yang aneh? Aku merasa senang, tenang, dan nyaman bersama Jaejoong. apa ini benar-benar hanya karena aku telah terbiasa dengannya? Atau aku memang jatuh cinta padanya? Haahhh entahlah, yang pasti sekarang aku menikmati setiap kebersamaanku dengan Jaejoong.

Changmin pov end_

Drrtt. . .drrtt. . .

Ponsel hitam Changmin bergetar, sebuah caller id yang tak asing muncul dilayarnya. Changmin melihatnya dengan seksama, seringaian terpancar dibibirnya.

"Yeoboseyo"

"Changmin" ucap lirih dari seberang

"waeyo? Ingin membuktikan ucapanmu sekarang?"

"a. .aku"

"tak perlu segugup itu Su-ie. Tidak sekarang juga tak masalah buat ku, toh kau yang membutuhkanku bukan? sekarang katakan apa maumu!"

"hikss a. .aaku ingin kau ke rumuahku sekarang" ucap Junsu disertai isakannya

"kenapa aku harus ke sana? Kau kesepian?"

Junsu terdiam sesaat hanya isakan kecil yang keluar dari mulut Junsu "jebal" ucap lirih Junsu

"haahh baiklah, aku akan kesana"

Changmin segera menutup telponnya, bergegas keluar dari kamar Jaejoong. Senyuman misterius terpancar jelas dari wajah Changmin.

. . . . . . .

"Siwon, apa yang akan akan dilakukan Jaejoong? dan Yunho bukankah dia"

"ne dia Jung Yunho" ucap Siwon memutus perkataan Heechul

"tapi apa kau yakin Jaejoong bisa melakukannya?"

"awalnya aku sedikit ragu, tapi melihat kemauan Jaejoong yang sangat besar, aku tak bisa menghalanginya dan kita tetap akan mengawasinya"

"ne, embb. . kau sudah baik-baik saja bukan?"

Siwon tersenyum, dia berjalan ke arah Heechul yang saat ini duduk di pinggir ranjangnya. Menyentuh kepala Heechul dan membelainya lembut, "karena kau di sini aku baik-baik saja"

"ku harap kau tak berbohong padaku"

"apa aku terlihat sedang menipumu?"

"seperti yang Jaejoong katakan, kau terlihat baik tapi sepertinya kau bukan lelaki baik-baik"

Siwon terkekeh mendengarnya, "aku memang bukan lelaki baik-baik. mana ada lelaki baik-baik yang setiap harinya tidur bersama wanita cantik dan menggoda sepertimu"

Heechul tertawa mendengarnya, "dengar Choi Siwon, aku pun tak mau tidur denganmu jika kau tak menjanjikan hatimu untuk ku dan ingat jika kau tak memberikan hatimu untukku maka aku akan mengambilnya, benar-benar mengambilnya" ucap Heechul sembari menunjuk dada bidang Heechul.

"aku sudah berjanji bukan, dan aku akan menepati janjiku. Tapi ku minta kau tak menyerah untuk mendapatkannya"

"kau pikir aku akan menyerah begitu saja setelah kau mendapatkan tubuhku? Tidak akan"

Siwon tertawa mendengarnya

"Wonnie, apa kau masih bermain dengan wanita di luar sana?"

"ani"

"jinjja?"

"ck. .aku tak perlu mencari wanita lain untuk memuaskanku karena aku telah mendapatkan semuanya darimu"

"kalau kau telah mendapatkan semuanya dariku, maka buang jauh-jauh Jaejoong dari perasaanmu"

"arraso, aku berusaha sangat keras."

. . . . . . . . . . . . . . . . .

"Yunho oppa"

Seseorang yang dipanggil Yunho itu membalikkan badannya, dihadapannya kini terdapat seorang gadis cantik dengan rambut coklat tergerai indah, bahu dan lehernya terlihat jelas, tubuh rampingnya berbalut mini dress putih yang menutupi sampai pertengahan pahanya, kaki jenjangnya beralas sepatu kets warna senada dengan pakaiannya.

"sudah selesai menatapku?"

"bukankah kau sedang bersama Changmin?"

"ne, dia di kamarku. Wae?"

"apa tak masalah kau menemuiku?"

"Changmin akan segera pergi, ku pikir tak masalah dan aku juga sedang ingin pergi dengan mu bagaimana?"

"masuklah" ucap Yunho sembari membuka pintu mobilnya. Jaejoong memasuki mobil Yunho. Yunho menutup pintu mobilnya, segera memasuki kursi pengemudi.

"kau mau ke mana?"

"kemanapun, asal bersamamu"

Yunho segera menyalakan mesin mobilnya, menjalankan mobilnya dengan perlahan

"kau juga bersikap seperti ini dengan lelaki lain?"

"ne, wae? kau tak menyukainya?"

"sudah jelas bukan bahwa aku memang tak menyukai kau berdekatan dengan lelaki lain. Termasuk Siwon dan Changmin"

Jaejoong tertawa mendengarnya, "kalau begitu, teruslah bersamaku agar aku tak berdekatan dengan lelaki lain"

"putuskan Changmin"

"bagaimana jika aku mengatakan bahwa aku tak punya hubungan dengan Changmin?"

"bagaimana aku bisa percaya?"

"dia hanya seperti lelaki lainnya yang selalu menemaniku"

"dan begitu juga denganku bukan?"

"kau mempermasalahkannya? Bukankah kau ingin bersamaku? Jadi tak masalah bukan jika aku hanya menganggapmu seperti mereka, yang penting kau bisa bersamaku bukan?" ucap Jaejoong sembari membelai pipi Jaejoong

"aku tak ingin kau samakan dengan mereka"

"emmbb. . . apa kau benar-benar hanya akan bersamaku jika aku memperlakukanmu berbeda dengan mereka? apa kau benar-benar akan menuruti permintaanku jika aku terus bersamamu?"

"kau bisa mempercaiku"

"aku butuh bukti, tak hanya ucapan"

"beri aku kesempatan untuk membuktikan seluruh ucapanku"

"tentu, kenapa tidak. Tapi aku tak ingin kita berdekatan selama di sekolah dan dihadapan Changmin"

"maksudmu?"

"sudah jelas bukan? dan di luar sekolah kau bisa menemuiku sesukamu." Jawabnya, "oppa bisakah kau berbelok kiri di traffic depan?"

Yunho mengangguk. Menuruti permintaan Jaejoong. Yunho terus mengemudikan mobilnya sesuai permintaan Jaejoong. sampai akhirnya mereka memasuki kawasan apartemen mewah. Setelah memakirkan mobilnya, Yunho segera turun. Jaejoong segera menggandeng lengan kekar Yunho. Memasuki gedung apartemen mewah tersebut.

Mereka segera memasuki lift, dan memencet angka 20.

Ting. .pintu lift terbuka. Jaejoong masih menggandeng pergelangan lengan Yunho, berjalan meninggalkan pintu lift yang terbuka. Sesampainya di depan sebuah pintu berwarna hitam, Jaejoong segera menyentuh sebuah layar dan clek. . terbukalah pintu hitam tersebut.

"ayo masuk" ajak Jaejoong

"apartementmu?"

"ne, kau menyukainya?"

Yunho mengangguk, mengamati beberapa foto Jaejoong yang terpasang di dinding ruang tersebut.

"hei, kenapa menatap fotoku seperti itu? Bukankah kau bisa menatapku langsung?" goda Jaejoong. Yunho segera mengalihkan pandangannya menatap Jaejoong yang saat ini sedang menuang wine ke dalam gelasnya.

"Jae"

"eumb?"

"apa kau tak bisa sehari saja tanpa alcohol?"

"wae?" jawab Jaejoong sembari mendekati Yunho dengan segelas wine ditangan kirinya

"aku tak suka melihatmu mabuk di depan mereka" jawab Yunho dingin

"jika di depanmu?" ucap Jaejoong sembari menyusuri pipi Yunho dengan bibir gelasnya.

Yunho terdiam.

"aku tak bisa tanpa alcohol, jadi belajarlah menyukaiku yang mabuk dihadapanmu"

"kenapa kau mengajakku kemari?"

"kenapa? Kau takut hanya berdua denganku?" jawab Jaejoong yang kemudian dengan sengaja memepet tubuh Yunho

Yunho masih memandang wajah Jaejoong.

"sudah ku bilang bukan bahwa mulai sekarang kau bisa menemuiku sesukamu dan kau bisa menemuiku di sini. Aku akan memberikan kode apartemenku padamu, kau bisa datang sesukamu"

"kau percaya padaku?"

"bukankah kau yang ingin aku bisa mempercayaimu dan memberimu kesempatan?"

"kenapa aku tak boleh menemuimu di rumah?"

"di sana ada Changmin"

"dia tidur di rumahmu?"

Jaejoong mengangguk kemudian mendudukan tubuhnya pada sofa putih panjang, "kau bisa tidur di sini jika kau mau"

"tanpamu?" ucap Yunho masih datar, kemudian mendudukan tubuhnya disamping Jaejoong.

"jadi, kau mau tidur denganku?"

Yunho menatap Jaejoong tajam, "dengar Jae, aku hanya mau berada disekitarmu. Jika aku berada di sini dan kau di rumahmu bersama Changmin itu sama saja"

"arraso, kau bisa menghubungiku jika ingin bertemu denganku"

"kapanpun?"

"ne, kapan pun" jawab Jaejoong, "dan bisakah kau hilangkan nada dinginmu itu jika sedang bersamaku oppa?" pinta Jaejoong

"akan ku coba"

"oppa, apa yang kau ketahui tentang ku?" tanya Jaejoong, jemarinya sudah sibuk membelai pipi tegas Yunho.

"aku hanya tau kebiasaanmu"

"hanya itu?"

Yunho mengangguk.

"tapi aku tak tahu apapun tentangmu, aku ingin tahu semuanya. Boleh?"

"apa yang ingin kau tahu tentang ku?"

"semuanya, tentang hidupmu dan keluargamu. Aku ingin bertemu dengan ibumu"

"wae?"

"karena aku sudah lama tak merasakan sentuhan seorang ibu" jawab Jaejoong

"kau merindukannya?"

Jaejoong mengangguk, "sangat"

"kau bisa bertemu ibuku saat ini juga"

"tapi ini terlalu larut, dan saat ini aku sedang ingin bersamamu" ucap Jaejoong sembari memeluk pinggang Yunho

"Jae"

"eumbb?"

"ku mohon jangan berdekatan dengan lelaki yang tak kau kenal lagi"

"jika dengan lelaki yang ku kenal?"

"ani"

"protektif, bahkan kita baru berinteraksi sehari"

"jika menyangkut dirimu, aku akan selalu bersikap protektif"

"wae?"

"karena aku mencintaimu"

"cinta? Kau mencintaiku? Kau yakin?"

"bahkan tak pernah seyakin ini"

"kau tahu, aku bisa menyakitimu kapanpun"

"aku tak perduli"

"benarkah?"

"ne"

Jaejoong terkekeh mendengarnya, "terserah kau, aku sudah mengingatkanmu"

. . . . . . . . . . . . . . . . . .

Changmin berdiri di depan sebuah rumah, kaki jenjangnya ia langkahkan mantap menuju sebuah pintu. Sesampainya di depan pintu bercat putih tersebut, jemarinya dengan sigap membukanya. Segera memasukinya dan mengunci rapat.

Kaki jenjangnya berjalan memasuki rumah tersebut, suasana cukup sepi hanya cahaya kuning redup yang menghiasi ruang. Changmin segera menaiki anak tangga menuju lantai dua. Rumah ini tak asing lagi untuknya, cukup sering ia menghabiskan waktunya di sini.

Dia terus berjalan mantap menuju sebuah kamar di lantai dua, sesampainya di depan sebuah kamar dia segera memutar knop pintu, dan benar saja pintu tersebut tidak di kunci. di dalam kamar nampak remang. Namun, terlihat jelas di mata Changmin seorang gadis yang sedang menangis di lantai kamarnya. Di depannya tersebar beberapa gambar.

Changmin berjalan mendekati sang gadis, mendudukan dirinya disamping sang gadis dan membelai lembut kepalanya.

"Changmin" ucap sang gadis lirih disela isakannya

"ne, ini aku"

Grep. . .sang gadis segera memeluk tubuh kekar Changmin

"wae? kenapa menangis?"

"Yoochun hikkss"

Changmin mengambil satu lembar foto di depannya, seringaian jelas terpasang dibibirnya.

"kau menangisinya? Bodoh"

Junsu terus terisak di dada Changmin

"berhentilah menangis" ucap Changmin sembari memegang bahu Junsu yang bergetar dan menjauhkannya sedikit dari tubuhnya, "jadi, kau memintaku kemari hanya untuk melihatmu mengis seperti ini?"

Junsu semakin meneteskan air matanya, Changmin mengusap lelehan air mata Junsu

"dengarkan aku baik-baik Kim Junsu, kau hanya membuang-buang waktu ku"

"wae?" ucap Junsu lirih, "kenapa kau tak pernah memperhatikanku lagi?"

"bukankah kau sudah mendapatkan perhatian dari Yoochun, jadi tak salah bukan?"

"aa. .aaku butuh kau"

"membutuhkanku? Ya, membutuhkan ku di saat seperti ini. Saat Yoochun tak bersamamu, saat Yoochun tak bisa kau hubungi, saat Yoochun menyakitimu, saat kalian bertengkar. Kau pikir aku tak punya urusan lain"

"hiikkss. .kau benar-benar berubah, bahkan saat ini, saat aku mendapatkan foto-foto Yoochun dengan gadis lainpun kau benar-benar tak perduli padaku"

"kau bilang aku tak perduli? Dengar, saat kau menelponku tadi, aku sedang bersama Jaejoong dan aku meninggalkannya hanya untuk menemuimu. Kau bilang aku tak perduli?"

"hikkss. .kenapa kau membentakku?"

"karena aku muak denganmu"

"aku pun muak dengan diriku sendiri. Aku tak mau melepas Yoochun, dan aku tak mau kau menjauhiku"

"kau tak ingin melepas Yoochun? Tapi Yoochun sudah melepasmu. Kau tak mau aku menjauhimu? Sayangnya aku tak mau lagi berdekatan denganmu"

Hati Junsu terasa semakin sakit mendengar ucapan Changmin.

"jebal. . jangan bicara seperti itu"

"wae? itu kenyataannya. Yoochun memiliki wanita lain di belakangmu, sikapnya tak pernah akan berubah dan kau, berhentilah berpura-pura tak mengetahuinya. Dan aku, aku tak mau menjadi Changmin yang selalu bersamamu lagi"

"hiikksss. . jangan bicara seperti itu ku mohon"

"haaahhh. . .aku bosan melihatmu seperti ini" Changmin beranjak, meninggalkan Junsu. Junsu semakin terisak dengan perlakuan Changmin. dia berharap kedatangan Changmin bisa menenangkannya seperti biasa, namun salah. Changmin justru membuatnya semakin terpuruk dan Junsu benar-beanr tak menyukai sikap Changmin, dia sangat kehilangan Changminnya, dia ingin Changminnya kembali.

Junsu beranjak dari duduknya, menyusul Changmin dengan langkah cepat.

"Changmin" ucap Junsu sembari menarik pergelangan tangan Changmin. saat ini mereka berada di tengah tangga rumah Junsu

"wae? aku mau pulang"

"pulang atau ke rumah Jaejoong?"

"kenapa? Wajar bukan jika aku menginap di sana?"

"a. .aaku tak ingin kau pergi. jebal jangan pergi dan jangan seperti ini" ucap Junsu sembari memeluk erat Changmin. Changmin menyeringai.

"apa maumu?"

"aa. .aku ingin kau yang dulu"

"putuskan Yoochun"

"a. .aaku tak bisa memutuskannya"

"kalau begitu aku tak bisa"

"ku mohon"

"kenapa kau ingin aku kembali seperti dulu?"

"aku membutuhkanmu, kau yang selalu menemaniku dan menjagaku selama ini. aku tak mau kehilanganmu"

"kau membutuhkanku? Tapi aku tak membutuhkan wanita milik orang lain. Putuskan Yoochun"

"aku tak bisa memutuskannya tanpa alasan" ucap Junsu masih dengan air mata yang menetes dari mata indahnya

"alasannya sudah jelas bukan? dia berselingkuh"

"aa. .aaku"

"kau tak percaya? Bodoh"

"ne. .aku memang bodoh"

"ikut denganku" ucap Changmin sembari melepas pelukan Junsu dan menarik pergelangan tangan Junsu.

. . . . . . . . .

"oppa, kapan kau akan memutuskan gadismu itu?"

"wae?"

"aku muak melihatmu dengannya"

"bukankah sebulan ini aku lebih sering bersamamu, Kahi"

"tapi tetap saja, dia akan menghubungimu saat kita sedang bersama"

"eummbb. . .cemburu eoh?"

"Yoochun oppa, kau harus memutuskannya" ucap Tiffani

"Fanni, Kahi. .dengar, aku masih ingin bermain-main dengannya, aku tak bisa memutuskannya"

"apa yang kau dapat darinya?"

"dengar kalian memang memberikan apa yang ku inginkan. tapi Junsu itu berbeda dan aku tak mendapatkannya dari kalian, dia adalah pelengkap dalam kehidupanku. Sudahlah, aku tak mau membahas ini lagi, dan ingat kita kesini untuk bersenang-senang bukan untuk membahas hubunganku dengan Junsu." Ucap Yoochun, mereka melanjutkan acara minum mereka.

Dari kejauhan seorang gadis dan seorang lelaki berperawakan tinggi mengamati mereka. sang gadis semakin terisak melihat mereka dan sang lelaki tersenyum senang melihatnya.

"kau sudah mendapatkan alasan untuk memutuskannya bukan?"

"kau mengatur semuanya kan Shim Changmin"

"apa kau bilang? Aku mengaturnya? Konyol."

"ne, kau mengatur semuanya bukan"

"jangan berkata bodoh Kim Junsu. Apa yang kau lihat adalah kenyataan, jangan pernah menyalahkanku atas semuanya. Apa yang kau lihat adalah Park Yoochun, kekasihmu yang sedang bercumbu dengan wanita-wanitanya dan kau hanya dijadikan mainan untuknya"

"ani, kau bohong. Kau berbohong"

"aku berbohong? Untuk apa? Untuk mendapatkanmu?" Changmin tertawa, "kau pikir aku sangat membutuhkanmu? Ani. Aku memiliki Jaejoong yang lebih segalanya dari pada kau, yang bisa memberikan apa yang ku mau. Tidak seperti mu, gadis bodoh yang tak mau melepas kekasihnya yang jelas-jelas telah berselingkuh."

"cukup" teriak Junsu, "aku tak suka kau membandingkanku dengan Jaejoong dan dengar aku lebih baik dari Kim Jaejoong, aku akan memutuskan Yoochun dan akan ku buktikan semua perkataanku padamu" ucap Junsu, yang kemudian keluar dari ruang VIP dan meninggalkan Changmin.

Changmin terdiam melihat kepergian Junsu, hatinya terasa perih dan sakit melihat Junsu menangis. Dia ingin menenagkan Junsu, tapi egonya berkata lain.

"arrgghhh. . . ." Changmin mengacak rambutnya frustasi, "ini semua karena kau Park Yoochun. Lihat, aku benar-benar akan membuat Junsu menjauhimu. Aku akan membuat Junsu menjadi milikku, bukan lagi menjadi mainanmu seperti sekarang"

Changmin segera menyambar botol minuman yang tersedia di mejanya. Menegak isinya dengan emosi.

. . . . . . . . .

TBC_ _ _ _

Mian chap ini tidak memuaskan. . .gimana kalo mulai chap depan pindah rate aja? *di rate T saya kurang leluasa mau memakai kata yang sedikit nyerempet, walopun emang sejak kemaren kata-kata yang saya pake udah sedikit nyerempet hehehehe* baiklah, jadi mau pindah rate, atau tetep di T+ *nanggung* aja?

Terimakasih atas respon yang kalian berikan. . .terimakasih untuk alert story, fav story, komentar dan semuanya. . maaf tidak bisa membalas satu per satu, tapi saya sudah baca semua komentar kalian ;)

dan jujur saja, saya masih agak kecewa sama silent reader yang bertebaran semakin banyak di FF saya, padahal sudah jelas bukan bahwa saya tidak menginginkan Silent Reader. .dan saya bingung sebenarnya apa yang diinginkan para Silent Reader. . *mungkin memang benar silent reader tuh penggemar kita, tapi penggemar yang tidak mendukung secara nyata *

Terserah kalian. . .yang jelas siapapun bisa kasih review di sini, tanpa kecuali, termasuk mereka yang gak punya akun di FFn. . .dan saya juga tidak ikhlas FF, saya dibaca tanpa ada feed back sama sekali. . .

Baiklah, cukup sekian. . .

READ n REVIEW. .NO SILENT READER

Gamsahae. . . . . ;)