Title : Avenger

Part : 7 (beginning)

Rate : T++ (rate yang aneh :P)

Cast : Dongbangshinki (main) n others, Genderswitch for Jaejoong n Junsu

Warning : OOC, FF ini milik saya, saya tau idenya pasaran dan ceritanya monotone. Jadi harap bersabar dengan kekurangan FF abstrak saya ini. . .DON'T LIKE DON'T READ, yang BACA WAJIB KOMEN. .GAK TERIMA CACIAN atau MAKIAN. . .DON'T BE SILENT READER. . .jangan pernah copi cerita saya. . .

Chingu. . .chap depan pindah rate M ya, jadi cari Avenger nya jangan di rate T ;)

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Hari ini seperti hari-hari lalu, aku baru saja pulang dari tempat mereka, kekasihku. Mereka? ya, aku memiliki beberapa kekasih, play boy? Terserah kalian ingin menyebutku apa. Kahi, Tiffani dan Junsu, mereka kekasihku. Terkadang aku merasa muak dengan hidupku, kalian pikir hidupku indah? Tidak. Kalian pikir hidup mewah seperti ini menyenangkan? Tidak. Kalian pikir hidup bebas sepertiku mengasikkan? Tidak. Aku butuh orang yang selalu bersamaku, mendengar keluh-kesahku, memberiku dukungan, memberiku kehangatan, dan memberiku perhatian. Aku ingin hidup normal seperti mereka, seperti orang-orang yang memiliki keluarga lengkap, memiliki seorang umma yang menyambutmu setiap kau pulang sekolah, memberimu pelukan saat kau sedih, mendengar keluhmu, memperhatikanmu, menyiapkan makananmu, mengurusmu ketika kau sakit, menenangkanmu saat kau kalut, juga seorang appa yang akan melindungimu, menjagamu, membimbingmu, bahkan memarahimu. Sedangkan aku, aku tak memiliki semua itu, memang aku memiliki orang tua lengkap. Tapi mereka tak pernah menganggapku seperti layaknya anak mereka, mereka hanya menggelontoriku dengan uang dan uang. Aku muak dengan hidupku.

Haahh, bahkan aku rela menukar seluruh hartaku agar aku mendapatkan itu semua. Tapi, sayangnya tak ada orang yang mau kesepian dan menyedihkan sepertiku.

Aku sudah mencoba berbagai cara agar orang tuaku memperhatikanku, mulai dari membolos, berkelahi, keluar malam, mabuk, mengajak kekasihku menginap di rumah, memakai obat, dan terakhir aku katakan pada mereka bahwa aku menghamili kekasihku. Tapi, apa yang ku dapat? Mereka hanya berkata, memboloslah jika kau bosan itu tak terlalu berpengaruh padamu. kau lelaki bukan, jadi wajar jika berkelahi. keluar malam sesekali tak masalah, toh kau sudah dewasa dan hal paling gila adalah mereka dengan santai memberiku uang berlimpah untuk menggugurkan kandungan kekasihku. Konyol, sebejat dan sebrengsek apapun diriku, aku tak akan membunuh darah dagingku sendiri.

Hahh. . .dan apa kalian percaya bahwa aku pernah menghamili seseorang? Meskipun aku melakukan hubungan dengan banyak wanita, tapi aku tak pernah lupa memakai pengaman. Jadi, aku tak pernah mengeluarkan benihku dalam rahim mereka. Aku hanya ingin melakukannya dengan orang yang benar-benar ku cintai. Katakanlah aku munafik, tapi itu kenyataannya.

Dan jika kalian bertanya kenapa aku memiliki tiga wanita, akan ku jawab karena mereka bisa memberiku semua yang ku inginkan, mereka melengkapi hidupku. Setidaknya dengan mereka aku merasa tidak begitu kesepian.

Kahi dan Tiffani, mereka akan dengan senang hati memberiku perhatian secara bergantian. Melayaniku, memberiku pelukan, memberiku kehangatan, memberikan tubuh mereka.

Junsu, gadis manis yang membuatku merasa bimbang. Dia selalu ada untukku, memelukku, mendengar keluhku, perhatian padaku, satu-satunya wanita yang menjadi kekasihku dan masih bisa menjaga hal yang paling berharga darinya, aku memang ingin melakukannya dengan Junsu, tapi dia selalu menolakku dan aku muak ditolaknya seperti itu. Tapi disisi lain, aku menyukainya dan menurut teman-temanku aku beruntung memilikinya.

Haahh. . .entahlah, aku sendiri masih bingung dengan hidupku. Awalnya aku hanya ingin mendapatkan perhatian dari orang tuaku dengan pulang membawa wanita yang berbeda, tapi nyatanya aku tak mendapatkan apa yang ku inginkan dan sampai sekarang aku telah terbiasa dengan semua itu. Terbiasa tanpa perhatian orang tuaku, meskipun aku masih sangat ingin mendapatkan itu semua dan terbiasa dengan banyak wanita, meskipun saat awal pacaran dengan Junsu aku bisa hanya hidup dengannya tapi dalam perjalannya, aku tidak bisa mengubah kebiasaanku.

Yoochun pov end_

Hari ini sekolah libur, ya ujian akhir di depan mata. Para siswa diliburkan untuk lebih mempersiapkan diri mereka.

Seperti biasa, siang ini Changmin berada di rumah Jaejoong. menghabiskan waktu liburnya bersama Jaejoong. belajar? Tentu saja tidak. Untuk Changmin dan Jaejoong ujian bukan hal yang mengerikan, mereka yakin bisa mengerjakan setiap soal tanpa perlu bersusah payah. Salahkan kepintaran mereka yang diatas rata-rata dan itu adalah nilai plus yang dimiliki Jaejoong dibalik sisi nakalnya.

"Jae"

"eumbb"

"kau tak bersama Yunho?"

"jelas aku sedang bersamamu Minnie"

Changmin mendudukan dirinya di belakang Jaejoong yang sedang memangku laptop tipisnya.

"Jae" ucap Changmin sembari memeluk Jaejoong dari belakang, "aku rasa aku benar-benar tertular sikap nakalmu. Tapi aku menyukainya, dan aku menyukai berdekatan dengamu. Aku pikir emmbb. ."

"emmbb. . .apa?"

"haahh aku pikir aku jatuh cinta padamu"

Jaejoong terkekeh mendengarnya, "jangan konyol Changmin, kau mencintai Junsu bukan aku dan aku hanya akan menyakitimu jika kau benar-benar mencintaiku."

"tapi aku merasa nyaman bersamamu, aku senang berdekatan denganmu, itu cukup bukan untuk menegaskan bahwa aku memang jatuh cinta padamu."

"Tidak" jawab Jaejoong sembari meletakkan laptopnya disamping tubuh mereka kemudian memutar tubuhnya berhadapan dengan Changmin,"dengar Minnie, kau merasa nyaman denganku karena aku mengetahui semua tentangmu dan sebaliknya, kau senang bersama denganku karena kau bisa bercerita dan melakukan apapun denganku. Terlebih karena kau terbiasa bersamaku."

"bagaimana jika ternyata aku memang mencintaimu?"

"aku memang gadis brengsek yang suka menggoda lelaki, tapi aku tahu apa beda cinta dan terbiasa. aku terbiasa bersama lelaki yang tak ku kenal, menggodanya, mendapatkan uangnya kemudian meninggalkannya. Tapi aku tak mencintai mereka, karena menurutku jika aku mencintai seseorang maka aku akan terus memikirkannya bahkan saat bersama orang lain sekalipun, selalu merindukannya, jantungku akan berdetak lebih cepat saat melihatnya, dan semakin memacu saat dia menyentuhku. apa kau seperti itu terhadapku?"

"jika aku merasakannya, jika aku benar-benar mencintaimu apa kau akan membalasnya?"

"mungkin, yang pasti yakinkan dulu perasanmu dan ingat jika kau mencintaiku kau harus siap untuk kusakiti dan kukecewakan" ucap Jaejoong sembari terkekeh

"Jae kau bilang jika menatap orang yang kau cintai maka jantungmu akan berdetak cepat bukan?"

Jaejoong mengangguk

"dan akan semakin cepat saat kau menyentuhnya, aku ingin membuktikannya"

"menyentuhku? hei bukankah kau sudah sering menyentuku" ucap Jaejoong sembari membelai pipi Changmin.

"aku ingin membuktikannya, apa jantungku semakin berdetak saat menyentuhmu"

Changmin menyentuh pipi Jaejoong, satu tangannya memegang pinggang rampingnya. mendekatkan wajahnya, Jaejoong menutup matanya, Changmin semakin mendekatkan wajahnya mengecup bibir kenyal Jaejoong, menyesapnya sesaat kemudian melumatnya. Tangan Changmin semakin merengkuh tubuh Jaejoong, Jaejoong hanya mengikuti permainan Changmin membalas setiap lumatan yang Changmin berikan tanpa ada perasaan apapun.

Changmin dengan sengaja merebahkan tubuh Jaejoong di atas karpet tebal yang sedari tadi menjadi alas mereka. menindih tubuh Jaejoong. Semakin dalam mencium bibir cherry Jaejoong, dan mengeksplor rongga mulut Jaejoong. Bohong jika Jaejoong tidak menikmati sentuhan Changmin, tapi hal ini sudah biasa ia lakukan dengan lelaki lain, bahkan dengan Siwon dan Changmin sendiri.

"mmpphh. . " Jaejoong mendesah di bawah tubuh Changmin, tangannnya meremas rambut Changmin.

Napas mereka seakan tercekat, Changmin menyudahi ciumannya memberi kesempatan pada Jaejoong untuk menghirup udara sebanyak-banyaknya. Jaejoong mendongakkan kelapanya, kesempatan ini tak disia-siakan Changmin. Changmin menjilat leher jenjang Jaejoong, mengecupinya. Saat Changmin sedang menikmati permainannya dengan Jaejoong, ponsel hitamnya bergetar, Changmin hanya meliriknya sekilas, seringaian terpasang jelas di wajahnya. Dia menekan layar ponselnya, membiarkan si penelpon mendengar suaranya.

"Jae" panggil Changmin dengan suara beratnya

"emmbb" Jaejoong hanya bergumam, "sshh. . .aahhh. ."

Tanpa ijin Changmin menjilat telinga Jaejoong, bagian sensitive tubuhnya. Menyusuri rahang Jaejoong, semakin turun dan berhenti di perpotongan leher dan bahu Jaejoong, menjilatnya mengecup kemudian menghisapnya kuat "ssshh. .Minnie"

Puas bermain dileher Jaejoong, Changmin kembali ke bibir merah bengkak Jaejoong, menciumnya dengan ganas, desahan mereka terdengar jelas bahkan oleh seseorang yang menelpon Changmin.

"hahhh. . . sudah selesai?"

"maksudmu?" ucap Changmin sembari mengusap saliva yang menempel di bibirnya.

"sudah selesai menyentuhku untuk memanasi Junsu?"

Changmin sedikit terkejut mendengar ucapan Jaejoong

"dengar, aku tahu jika Junsu menelponmu tadi dan kau sengaja menerimanya tanpa menjawabnya. Kau membiarkan Junsu mendengar desahan kita bukan?"

"ckk. ."

"Minnie, sudah ku bilang kau tak mencintaiku. Kau tak bergetar saat menyentuhku, mungkin kau menikmatinya akupun begitu, tapi hanya sekedar nikmat itu bukan cinta dan kau masih tak bisa melupakan Junsu saat melakukannya denganku, bukan? mungkin kau malah membayangkan bahwa aku Junsu" ucap Jaejoong sembari terkekeh

"haahhh. . "

Jaejoong segera bangkit dari posisinya yang berbaring di sebelah Changmin, "emm. .kurasa kau harus membalas pesan Junsu"

"mwo?"

"kau pikir aku tak tahu kalau Junsu mengirimimu pesan sejak tadi, tapi kau tak membalasnya bukan? dan ku pikir dia bosan menunggu balasmu makanya dia menelponmu, tapi kau malah memanasinya"

"aku harus membalas apa?"

"apa yang dia tulis?"

"dia ingin aku menemaninya belajar seperti biasanya"

"ku rasa permainan kita berhasil. Dia merasa kehilanganmu bukan?"

"ne, tapi aku tak ingin menghentikannya sampai sini"

"maksudmu?"

"aku ingin merebut Junsu dari Yoochun, aku ingin melihat Yoochun menderita tanpa Junsu, aku muak dengan sikap Yoochun pada Junsu"

"kau hanya ingin Junsu bukan? datangi dia dan kau tak perlu membuat Yoochun lebih menderita. Aku yakin Yoochun akan kehilangan Junsu jika kau berhasil mendapatkan semua perhatian Junsu lagi"

"kau yakin?"

"aku tak pernah tidak yakin dengan ucapan dan pilihanku"

"aku percaya padamu, aku akan menemui Junsu"

"ne, temui dia dan emmm ku rasa Junsu harus merasakan ciumanmu Minnie" jawab Jaejoong sembari terkekeh

. . . . . . . . . . . . . .

Aku mencoba mengirim pesan pada Changmin, tak hanya sekali bahkan puluhan kali. Tapi pesanku tak dibalasnya. Aku masih masih bersabar, mungkin sore nanti dia akan membalasnya. Aku masih menunggu balasan dari Changmin, tapi sampai saat ini dia tak membalas pesanku. Mungkin dia bahkan tak membaca pesanku. Haahh. . .apa ini yang Changmin rasakan ketika aku hanya bersama Yoochun? Apa sesepi ini perasaan Changmin? apa sesakit ini ketika aku mendiamkan Changmin? apa Changmin merasa sekecewa ini ketika aku hanya memikirkan Yoochun? Apa ini balasan dari Changmin?

Mengapa aku lebih kacau saat tak ada Changmin? mengapa aku merasa kehilangan Changmin? mengapa aku merasa kesepian saat tak ada Changmin? mengapa aku dadaku sakit saat aku melihat Changmin lebih memilih bersama Jaejoong? mengapa aku marah ketika Changmin membandingkan ku dengan Jaejoong? arrghhhh. . . aku muak dengan diriku sendiri.

Aku tak tahan seperti ini, aku tak bisa terlalu jauh dengan Changmin, aku tak bisa tanpa Changmin, aku tak bisa tanpa perhatian Changmin, aku ingin Changmin seperti dulu, aku ingin Changmin hanya perhatian padaku, aku ingin Changmin tak mengacuhkanku, aku ingin Changmin.

Yoochun? Argghhh. . . aku memang mencintaimu, tulus sangat tulus. Tapi bisakah kau mencintaiku dengan tulus juga? Aku tahu semuanya, jelas sangat jelas. Selama ini aku bertahan dan berpura-pura tak mengetahuinya, berharap kau benar-benar bisa kembali padaku, hanya memilikiku, hanya mencintaiku. Tapi kenyataannya justru kau meninggalkanku, justru kau kembali kekebiasannmu. Benar, aku tak bisa bertahan seperti ini.

Haahh. . . aku harus menghubungi Changmin sekarang, aku tak ingin dia meninggalkanku terlalu jauh. Aku membutuhkannya. Aku mengambil ponsel putihku, menghubungi Changmin dan berharap dia mengangkat panggilanku. .

Junsu pov end_

Junsu masih setia menunggu jawaban telponnya. . wajahnya nampak was-was, dia takut Changmin tak mau mengangkat telponnya. Namun wajahnya berubah seketika saat telponnya tersambung.

"Changmin" panggil Junsu antusis, namun tak ada sahutan suara Changmin.

"Jae" terdengar suara berat Changmin.

Raut wajah Junsu berubah seketika

"emmbb. . sshh. . .aahhh. ."

"ssshh. .Minnie"

Kembali terdengar suara desahan Jaejoong, Junsu tak kuat lagi menahan air matanya. "Changmin" ucapnya lirih, ponselnya terjatuh seketika dia terisak. Air matanya terus meluncur dari mata indahnya. Dia duduk memeluk lututnya, air mata terus mengalir, nafasnya tersengal, dadanya terasa sangat sakit.

Drtt. . .drtt. . . ponsel putih Junsu bergetar. Terlihat jelas sebuah pesan masuk. Junsu meliriknya sekilas. Setelah yakin siapa pengirimnya, dia segera menyambar ponsel putihnya dan memabaca pesannya.

Satu jam lagi aku sampai di rumahmu

Junsu membacanya dengan jelas, itu pesan dari Changmin dan Changmin akan ke rumahnya. Junsu melempar asal ponselnya, mengusap kasar lelehan air matanya. Kemudian beranjak dari duduknya menuju kamar mandi.

. . . . . . . . . .

"Jae, aku ada di apartement mu"

"benarkah?"

"aku ingin kita bertemu sekarang"

"ne, aku akan kesana"

Setelah mendapat kepastian dari Jaejoong, Yunho segera menutup telponnya. Duduk diam di ruang tengah apartemen Jaejoong, mengganti-ganti chanel televisi di depannya. Tak begitu tertarik dengan siaran yang ada.

Sedangkan Jaejoong bergegas mengganti pakaiannya, saat ini dia berada di kamar sendirian. Changmin telah pergi beberapa menit yang lalu, menemui Junsu mungkin.

Cklek. .

Merasa ada seseorang yang membuka pintu kamarnya, Jaejoong menolehkan kepalanya. Benar, di depan pintunya berdiri seorang Choi Siwon.

"oppa"

"kau akan pergi?"

Jaejoong mengangguk sembari mengoles foundation di leher kiri bawahnya.

"menemui Yunho?" tanya Siwon sembari berjalan mendekati Jaejoong

"ne, waeyo?"

"ani" jawabnya sembari memeluk Jaejoong dari belakang

"oppa, kau sudah memiliki Heechul eonni, dan kita sudah berjanji bukan jika salah satu dari kita telah menemukan seseorang maka tak akan seperti ini lagi"

"aku merindukanmu" ucap Siwon sembari mencium kepala Jaejoong

"jangan seperti ini, aku tak mau mengecewakan Heechul eonni. Aku yakin dia mencintaimu, belajarlah mencintainya. Bukan memanfaatkannya seperti apa yang oppa lakukan padaku" jawab Jaejoong

"aku tak pernah memanfaatkanmu"

"benarkah? Sayangnya aku tahu jika kau hanya memerlukanku untuk mengusir rasa sepi dan kehilanganmu. mungkin dulu aku tak menyadari, tapi sekarang aku sudah besar, bukan anak kecil yang bisa dikelabuhi"

Siwon terkekeh mendengarnya, "dan kau menikmati kedekatan kita bukan, kenapa kau menyuruhku untuk menghentikannya?"

"aku memang menikmatinya, tapi itu tidak cukup dan aku tak ingin bersikap egois. Di luar sana ada seseorang yang mencintaimu dengan tulus, sedangkan aku. Aku hanya mengikuti permainanmu, dan juga bermain denganmu."

"haahhhh. . .biarkan seperti ini seberntar saja Jae" pinta Siwon

"oppa, aku tak punya banyak waktu"

Siwon memutar tubuh Jaejoong, membelai pipi mulusnya. Kemudian mengecup bibir cherrynya, hanya sekedar mengecup dan menempelkannya tanpa lumatan seperti biasanya. Siwon melepas kecupannya, memeluk tubuh Jaejoong erat, "aku melihatnya saat bersamamu"

"jangan melihatnya lagi, jangan melihatku, kau memiliki orang yang mencintaimu dengan tulus. Lihatlah dia"

"aku sedang berusaha"

"dan berusahalah menjadikanku adik kecilmu seperti dulu"

Siwon melepas pelukannya, "adik kecil? Kau sudah sebesar ini dan kau sangat nakal"

Jaejoong terkekeh mendengarnya, "oppa, aku pernah mengatakan bahwa aku akan menghentikan semua kelakuan burukku jika aku berhasil melakukannya"

"kapan?"

"aku sedang memulainya, aku yakin ini tak perlu waktu lama"

"yakin sekali"

"karena aku Kim Jaejoong"

"kau keras kepala seperti ayahmu, cantik seperti ibumu, nakal seperti kakakmu, tapi kau juga memiliki sifat manis Kibum"

"karena aku memang bagian mereka, ah sudahlah aku tak ingin menangis dihadapanmu"

"aku tak mau melihatmu menagis lagi, berbahagialah. Cari kebahagianmu"

"tentu, mereka akan membayar air mata yang pernah ku keluarkan" ucap Jaejoong disertai senyuman misteriusnya.

"aku akan membantumu, berhati-hatilah"

"ne, aku pergi" ucap Jaejoong kemudian mengecup pipi kiri Siwon.

. . . . . . . . . . . . . .

Klik. .pintu apartement terbuka, Jaejoong segera memasuki apartement mewahnya. Terlihat jelas seorang Yunho yang menyandarkan punggungnya pada punggung sofa, menutup rapat matanya, nafasnya mengalun halus. Jaejoong tersenyum melihatnya kemudian mendekati Yunho perlahan, dan duduk di sampingnya. Mematikan televisi yang sejak tadi menyala.

Jaejoong memperhatikan garis tegas wajah Yunho. Ku akui, kau menarik namun sayang sekali kau adalah keturunan keluarga Jung. Salahkan ayahmu atas apa yang akan ku perbuat padamu.batin Jaejoong.

"kenapa melihatku seperti itu?" ucap Yunho tanpa membuka matanya

Jaejoong tersenyum, "ku pikir kau tertidur"

"ani" jawab Yunho kemudian membuka matanya, menatap lekat wajah Jaejoong.

"wae? ada yang aneh dengan penampilanku?"

Yunho menggeleng, dia masih menatap lekat Jaejoong kemudian mengulurkan tangannya. Mengusap pelan wajah halus Jaejoong.

"kau baru saja bersama Changmin?"

Jaejoong mengangguk

"apa yang kau lakukan dengannya?"

"kenapa?"

"aku hanya ingin tahu" jawab Yunho tangannya terus menyusuri wajah Jaejoong, semakin turun ke leher Jaejoong, menyusapnya perlahan

"kau ingin tahu apa yang ku lakukan dengannya?"

Yunho terdiam tak menjawab, dia masih mengusap leher Jaejoong mendekatkan wajahnya pada leher Jaejoong. Jaejoong tak menolak.

Entah setan apa yang memasuki Yunho hingga bergerak sejauh ini. dia beanr-benar tak memperdulikan imangenya di depan Jaejoong, yang ia tahu, ia terus ingin dekat dengan Jaejoong dan memiliki Jaejoong. Yunho benar-benar buta oleh Kim Jaejoong.

Yunho mengecup leher kiri bawah Jaejoong, kemudian menyesapnya menimbulkan bercak kemerahan di sana.

"apa itu yang Changmin lakukan?"

Jaejoong terdiam

"aku tak suka dia menandaimu seperti itu. bukankah kau bilang Changmin bukan kekasihmu dan dia hanya kau anggap seperti lelaki lainnya? Bagiku, kau milikku"

Jaejoong tersenyum mendengarnya, "milikmu?" ucap Jaejoong sembari membelai wajah Yunho, "apa bukan milikmu, bahkan akupun tak memilikimu"

"aku ingin kau benar-benar menjadi milikku, selamanya" jawab Yunho kemudian memeluk erat tubuh Jaejoong

"Yun. ." ucap Jaejoong sembari meremas rambut Yunho, "kau benar-benar mencintaiku?"

"kau tak percaya padaku? Apa yang harus ku lakukan agar kau percaya?"

"eumbb. . .aku ingin kau hanya bersamaku, terus bersamaku. Menjagaku, tak meninggalkanku dengan alasan apapun"

"ne"

"tapi aku tak ingin hanya ucapanmu saja"

"apa aku perlu menuliskannya lalu menandatanginya?"

Jaejoong tersenyum, "jika itu bisa membuatmu terus bersamaku kenapa tidak"

"kau memiliki kertas dan materai?"

Jaejoong melepas pelukannya, "semuanya ada di kamarku" jawab Jaejoong kemudian menarik lengan Yunho.

Sesampainya di kamar, Jaejoong meminta Yunho untuk duduk di depan meja komputernya. Jaejoong memberikan kertas dan materai untuk Yunho.

"kau ingin menuliskannya bukan? ini"

"apa yang kau inginkan? aku akan menuliskannya agar kau percaya padaku"

"benarkah? Kau yakin? Aku tak ingin kau menyesal" ucap Jaejoong

"aku tak akan menyesal, asal kau bisa menjadi milikku"

"berjanjilah, kau akan terus bersamaku, mencintaiku, tak akan meninggalkanku dengan alasan apapun, dan menuruti permintaanku. Jika kau melanggar janjimu emmbb. . .terserah kau akan menuliskan apa jika kau melanggarnya"

Yunho menuliskan sesuatu di kertas itu, kemudian menempel materainya dan menandatanganinya.

"ini cukup?" ucap Yunho sembari menyodorkan kertasnya

Jaejoong membacanya, Got cha aku mendapatkanmu Jung Yunho.

"kau yakin akan melakukannya jika kau melanggar janjimu?"

"aku lelaki yang bisa dipegang janjinya Jae"

"apa kau yakin tak akan menyesal menulis ini?"

"ne, aku tak akan menyesal" jawab Yunho yakin sembari menatap Jaejoong.

"baiklah, aku akan menyimpannya"

"dan bisakah mulai detik ini juga kau hanya menatapku?" ucap Yunho

Jaejoong tersenyum menatap Yunho, "ne. aku hanya akan melihatmu tak akan berpaling ke lelaki lain"

. . . . . . . . . .

Changmin telah sampai di rumah Junsu. Changmin memiliki duplikat kunci rumah Junsu, jangan heran karena Changmin adalah orang kepercayaan orang tua Junsu untuk menjaga anak semata wayangnya itu. dengan langkah pasti Changmin menaiki tangga rumah Junsu, suasana rumah Junsu selalu seperti ini. Hanya cahaya remang yang menyinari seluruh sudut ruangan, tidak tampak menyeramkan justru terlihat hangat dan sangat nyaman.

Changmin membuka pintu kamar Junsu, namun dia tak mendapati Junsu di dalamnya. Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar Junsu namun kosong, akhirnya dia memutuskan untuk memasuki kamar besar Junsu. Sesampainya di samping ranjang Junsu, seseorang bertubuh mungil memeluknya erat dari belakang. Changmin sedikit terkejut atas perlakuan tiba-tiba tersebut. Kemudian ia memutar tubuhnya. "Junsu"

"ne" jawab Junsu parau

"kenapa kau berpakaian seperti ini?" tanya Changmin sembari memandang tubuh Junsu. Saat ini Junsu berdiri di depannya, rambut coklatnya ia kucir asal, dia hanya memakai kemeja putih longgar yang panjangnya hingga pertengahan paha putihnya, dua kancing teratasnya ia buka, menampakkan leher dan bahu indahnya.

"apa kau menyukainya?" jawab Junsu masih dengan suara paraunya

"konyol, cepat ganti pakaianmu. Aku ke sini hanya untuk menemanimu belajar"

"tapi aku ingin membuktikan ucapanku" jawab Junsu sembari meraih tangan kekar Changmin yang kemudian ia lingkarkan pada pinggang rampingnya.

Changmin sedikit terkejut dengan ucapan Junsu

"kau mau bukan? ku harap kau belum puas dengan tubuh Jaejoong" lanjut Junsu

Changmin segera tersadar dari keterkejutannya, mencerna baik perkataan Junsu, kemudian dia menyeringai dan "tentu, lakukan. Buktikan ucapanmu, meskipun kau masih berhubungan dengan Yoochun, tapi ku rasa tak masalah" ucapnya sembari meraih pinggang ramping Junsu mendekatkan tubuh Junsu pada tubuhnya, "karena kau yang ingin membuktikannya, mulailah. Lakukan sesukamu, aku akan menuruti permainanmu Kim Junsu" ucap Changmin dengan suara beratnya ditelinga Junsu.

TBC_

Nyah nyah. .update. . .maaf semakin gak jelas bin abstrak. . .hehehehee. . . .

Makasih buat yang udah review di chap kemarin. . .kecup-kecup :* :*

Chap ini review lagi ne. .hehehehe

Chap depan pindah rate ke M ya. . .buat jaga-jaga aja sih. . siapa tau otak yadong saya sedang aktif, jadi gak perlu ribet lagi. . hehehehe tapi gak janji chap depan ada NC-nya ;)

Silent Reader saya semakin banyak. . .haisshhh. . .bingung gimana caranya agar kalian nongol. .tapi makasih karena udah mau baca tulisan saya, saya masih berharap kalian berbesar hari untuk menampakkan diri. . .

Emmb. . .buat yang mau berteman dengan saya silahkan follow atau mention twitter saya *iklan. .heheheehe* trie0621

Baiklah. . akhir kata. . .. . .READ N REVIEW. . .

GUMAWO. . .