Title : Avenger
Part : 8 (tease)
Rate : M
Cast : Dongbangshinki (main) n others, Genderswitch for Jaejoong n Junsu
Warning : OOC, FF ini milik saya, saya tau idenya pasaran dan ceritanya monotone. Jadi harap bersabar dengan kekurangan FF abstrak saya ini. . .DON'T LIKE DON'T READ, yang BACA WAJIB KOMEN. .GAK TERIMA CACIAN atau MAKIAN. . .DON'T BE SILENT READER. . .jangan pernah copi cerita saya. . .
-BAGI YANG UDAH BACA CERITANYA. . .BOLEH LANGSUNG KE BAGIAN PALING BAWAH -
. . . . . . . . . . . . . . . . . .
Changmin segera tersadar dari keterkejutannya, mencerna baik perkataan Junsu, kemudian dia menyeringai dan "tentu, lakukan. Buktikan ucapanmu, meskipun kau masih berhubungan dengan Yoochun, tapi ku rasa tak masalah" ucapnya sembari meraih pinggang ramping Junsu mendekatkan tubuh Junsu pada tubuhnya, "karena kau yang ingin membuktikannya, mulailah. Lakukan sesukamu, aku akan menuruti permainanmu Kim Junsu" ucap Changmin dengan suara beratnya ditelinga Junsu.
Junsu mendorong mundur tubuh Changmin. Changmin mengikuti semua pergerakan Junsu, menatap intens wajah Junsu. Junsu sedikit menekan bahu Changmin, mengisyaratkan untuk duduk. Tanpa ragu Changmin mendudukan tubuhnya pada ranjang Junsu yang secara otomatis membuat Junsu duduk di pangkuannya. Changmin melihat ekspresi wajh Junsu yang nampak ragu, namun dia malah semakin menggoda Junsu. Memeluk pinggang Junsu semakin erat dan menciumi pipi Junsu.
"kenapa tak lekas memulainya, aku tak suka menunggu ini terlalu lama, ckk Jaejoongie tak akan selama ini dalam bertindak" ucap Changmin memanasi Junsu, karena dia mengetahui jelas bahwa Junsu tak suka dibandingkan dengan Jaejoong dan benar, Junsu terpengaruh dia mencium bibir Changmin dengan kasar. Changmin menikmati setiap gerakan bibir Junsu kemudian dia merebahkan tubuhnya dan menarik tubuh Junsu hingga saat ini posisi Junsu berada di atas tubuh Changmin.
Changmin melepas ciuman Junsu, mengusap perlahan bibir merah bengkak Junsu dengan ibu jarinya.
"Su-ie, berubah pikiran? Jika tidak cepat lakukan, aku akan mengikuti permainanmu"
Junsu masih nampak ragu namun dia segera bangkit dan menduduki tubuh Changmin. Menaikkan kaos Changmin hingga melewati kepalanya dan melemparnya asal. Kemudian Junsu membuka kancing ketiganya, menurunkan lengan kemejanya hingga bahu dan sebagian dadanya terlihat jelas.
"k. .kau menyukainya?"
"aku ingin melihat semuanya"
Mendengar ucapan Changmin, Junsu membuka seluruh kancing kemejanya menampakkan tubuh indahnya. Dada kencangnya masih ditopang dengan bra berwarna hitam, membuatnya terlihat lebih err. .seksi. Changmin menyunggingkan seringaiannya, tangannya ia ulurkan kepunggung Junsu kemudian melepas pengait bra Junsu. Junsu memejamkan matanya dia merasa takut, ragu dan entahlah semuanya bercampur.
Changmin merengkuh tubuh polos Junsu membuatnya terjatuh dalan pelukannya, dia segera melepas pengikat g-string Junsu kemudian melepasnya asal. Junsu terlihat sangat gugup bahkan Changmin bisa merasakan tangan dingin Junsu dan degupan kencang jantung Junsu. Changmin tak memperdulikannya dia malah membalikan posisinya, menindih tubuh polos Junsu membelai wajah Junsu dan berucap "kau berubah pikiran? kita bisa menghentikannya sampai sini"
"a. .ani. a. aku aku hanya bingung untuk memulainya. .Changmin"
"eumb?"
"la. .lakukanlah. ma. .masuki aku.."
"ne aku akan melakukannya dan ingat jangan menyesal setelah ini" ucap Changmin sembari membelai dada Junsu
"ahhnn. .a. .aku tak akan menyesal"
Changmin menegakkan tubuhnya melepas pakaiannya yang tersisa dan kembali menindih tubuh Junsu.
Jujur Changmin masih ragu untuk melakukannya tapi ingat dia lelaki normal yang tak akan menolak wanita yang mau menyerahkan tubuhnya. Dia menekan daerah pribadinya dengan Junsu menggeseknya perlahan. Bibinya sibuk melumat bibir kenyal Junsu dan tangannya sibuk membelai pinggang dan payudara Junsu.
"eummbhh" terdengar jelas suara leguhan Junsu. Jujur ini pertama kalinya mereka merasakan nikmat seperti ini. Kejantanan Changmin mulai menegang dan kewanitaan Junsu telah basah. Changmin meningkatkan rangsangannya pada tubuh Junsu, membuat Junsu lebih bergairah dan lebih basah.
Changmin melepas ciumannya, memperhatikan tubuh Junsu yang menggeliat dibawahnya dan terengah.
"kau yakin?"
Junsu mengangguk
"kau masih bisa menghentikannya sekarang"
"a. .aani. .aaku mau kau"
"benarkah?"
"aaku tak perduli kau menganggap ku murahan a. .asal kau tetap bersamaku"
"apa maumu setelah ini?"
"a. .aaku mau Changmin-ku"
"eumbb. . .hanya itu?"
"shhhh" Junsu tak mampu menjawab dengan baik. Tubuhnya seperti terbakar, panas dan ingin merasakan lebih.
"aku akan memasuki mu sekarang"
Junsu mengangguk, mengigit bibirnya dan memalingkan wajahnya menghindari tatapan Changmin.
Changmin tahu bahwa Junsu merasa takut dan Changmin pun merasa ragu tapi sekali lagi dia adalah lelaki normal.
Changmin mengarahkan kejantanan besarnya dalam lubang Junsu.
"sshh aahh" desahan Junsu terdengar jelas saat Changmin menggesekan daerah pribadi mereka.
Changmin menatap ekspresi Junsu, matanya memerah menahan air mata. Kemudian Junsu memejamkan matanya air mata mengalir dari sudut mata tertutupnya
"arhh" Changmin memasukan kepala kejantanannya kemudian malah merebahkan tubuhnya diatas tubuh Junsu dan memeluknya.
"aku tak mau melakukanna sekarang"
Junsu membuka matanya,menatap Changmin penuh tanya.
Changmin membelai wajah Junsu, "dengar, aku tak ingin melakukannya sekarang tapi aku akan memintanya setelah ujian kita selesai dan mulai malam ini kau milikku" ucap Changmin yang kemudian mencium bibir Junsu dengan lembut.
. . . . .
"ahhh. .Yoochun. .fasterr"
"arghh. ." Yoochun menghentikan aktivitasnya, mengeluarkan kejantanannya dari tubuh Kahi
"oppa" protes Kahi, "aahh. .kita belum selesai. kenapa kau menghentikannya"
"Kahi mianhae. aku harus pergi" ucap Yoochun kemudian memakai pakaiannya tergesa
"f*ck..apa-apaan kau meninggalkanku begitu saja"
"dengar Kahi. .selama ini kau hanya pemuasku. .dan saat ini aku sudah puas bermain denganmu"
"maksudmu?"
"aku ingin hubungan kita berakhir. Jangan hubungi dan jangan temui aku lagi. Aku bosan denganmu"
"mwoya?" ucap Kahi, "kau yang datang padaku dan kau yang meninggalkanku begitu saja?"
"ne. .dan mulai detik ini jangan ganggu kehidupanku lagi"
"aku tak mau"
"aku tak main-main, jika kau mengganggu kehidupanku kau akan tahu akibatnya"
"owh. .arraso jadi kau seperti ini karena Junsu mu itu?"
Yoochun menatap tajam Kahi
"hah pantas saja kau mendesahkan namanya, kau membayangkan bercinta dengannya bukan? iyakan?"
"ne. .aku membayangkannya. wae?"
"aku yakin kau hanya bisa membayangkannya saja"
"itu urusanku dan jangan pernah ikut campur urusanku" Yoochun meninggalkan Kahi
"ciihhh. . .kau itu lelaki menyedihkan" teriak Kahi. .
Yoochun keluar dari kamar Kahi, pikirannya sedikit kacau. Bayangan Junsu tercetak jelas dikepalanya.
"arrhhh" ucap Yoochun sembari mengacak rambutnya.
. . . . . . . . . .
Yoochun pov_
Shit. . .kenapa aku jadi seperti ini? kenapa aku mengingat Junsu saat bersama Kahi? Kenapa aku justru menyebut namanya saat mencumbu Kahi? Kenapa bayangannya memenuhi pikirannku? Kenapa aku merasa sangat bersalah? Kenapa dadaku terasa sesak? Kenapa aku merasa kehilangannya? Kenapa aku takut seperti ini? arrhhhh. . .
Apa yang terjadi padaku? Apa aku harus menemui Junsu sekarang? Apa aku harus kembali padanya seperti dulu lagi? Apa aku keterlaluan padanya? Apa aku benar-benar mencintainya? Oh God. . .
Haaahhh. . .aku harus menemuinya, aku harus meminta maaf padanya, aku harus memulainya dari awal.
Aku menyetir mobil merahku dengan kecepatan penuh. Aku tak perduli dengan umpatan orang-orang terhadapku, yang aku tahu aku harus menemui Junsu sekarang, ya, aku harus menemuinya. Aku tak ingin kehilangannya begitu saja.
Yoochun pov end_
. . . . . . . . . . . . .
"Jae"
"eumb?" ucap Jaejoong singkat, saat ini Jaejoong sedang bergelung dipelukan Yunho. Menikmati kehangatan yang Yunho berikan.
"aku ingin kau bertemu ibuku, karena aku tak main-main dengan janjiku"
Jaejoong menyeringai, "kapan?"
"setelah kita bangun besok pagi"
Jaejoong mengangguk, kemudian melepas pelukannya dan beranjak dari ranjang besarnya. Yunho masih menatap Jaejoong, Jaejoong berjalan menuju sudut kamarnya. Membuka lemari kecil yang berisi berbagai macam minumannya. Memilihnya sebentar kemudian mengambil sebuah botol bening berisi cairan merah. Membuka botolnya perlahan, kemudian menuang isinya kedalam gelas.
Yunho beranjak dari posisinya, mendekati Jaejoong yang sedang menikmati wine mahalnya sembari menatap gemerlapnya kota Seoul dari jendela besar kamarnya. Tanpa ragu Jaejoong menegak setiap cairan yang ia tuangkan.
Yunho memeluk pinggang ramping Jaejoong dari belakang, menyandarkan dagunya pada bahu kanan Jaejoong.
"Jae, bisakah kau tidak minum malam ini saja?"
"ani, aku tidak bisa"
"wae?"
"karena aku ingin tidur nyenyak malam ini"
"kau bisa tidur tanpa cairan memabukan ini"
Jaejoong terkekeh, "sayangnya sudah puluhan kali aku mencobanya, dan hasilnya nihil"
"aku akan membuatmu tertidur malam ini"
Jaejoong membalik posisinya, menghadap Yunho yang masih memeluk pinggangnya. Menatap wajah Yunho dan menyusuri wajah tegas Yunho dengan jemari lentiknya, "jadi kau akan meniduriku?" tanya Jaejoong seduktif
Yunho terdiam, Jaejoong tersenyum meremehkan ekspresi Yunho.
"Yunho oppa, kau tahu? aku menyukai semua ekspresi dan tindakanmu padaku. Aku yakin kau tak akan memeluk wanita lain diluar sana dan aku yakin kau hanya melakukan ini denganku"
"kenapa kau sangat yakin?"
"eumb?" ucap Jaejoong sembari memiringkan kepalanya mengecupi rahang tegas Yunho, "karena aku Kim Jaejoong, dan karena kau hanya melihatku"
Jaejoong kembali menegak minuman di tangan kirinya, matanya tak lepas dari tatapan tajam mata Yunho. Setelah menghabiskan isinya, Yunho meraih gelas ditangan kiri Jaejoong, lalu menjatuhkannya, "aku tak ingin melihatmu mabuk malam ini"
"sudah kubilangkan, bahwa aku tak bisa melepas kebiasaanku dan aku juga sudah berjanji bahwa aku hanya akan mabuk didepanmu, bukan di depan lelaki lain"
"hanya untuk malam ini. Bagaimana?"
Jaejoong nampak berpikir, kemudian tersenyum "apa yang akan kau lakukan agar aku bisa tertidur? Bagaimana jika caramu itu tak bisa membuatku tidur?"
"aku akan membuktikannya bahwa aku bisa membuatmu tidur tanpa alkoholmu itu"
"benarkah? Jika tidak berhasil, jangan harap aku akan meninggalkan kebiasaanku"
"emm" gumam Yunho sembari mengangguk. Yunho memeluk erat tubuh ramping Jaejoong, membelai rambutnya perlahan, "sudah larut, tidurlah"
"aku masih ingin seperti ini" jawab Jaejoong mengeratkan pelukannya
Tanpa basa-basi, Yunho langsung mengangkat tubuh ramping Jaejoong, membawanya ke ranjang putih besar di kamar Jaejoong dan menidurkannya.
Jaejoong menatap lekat wajah Yunho, kemudian mendudukan dirinya "aku ingin berganti baju" ucap Jaejoong. Yunho mengangguk.
Jaejoong beranjak dari duduknya, memasuki kamar mandinya dan berganti pakaian. Tak perlu selang lama Jaejoong keluar dari kamar mandi. Make-up tipisnya telah ia hapus, rambutnya ia urai, tubuh rampingnya hanya berbalut baju tidur berwarna merah model kimono. Kontras dengan kulit putih susunya.
Dia berjalan mendekati Yunho yang duduk di pinggir ranjangnya, "aku ingin tidur sekarang, dan ku harap caramu bisa menidurkanku"
Jaejoong menaiki tempat tidurnya, merebahkan tubuh rampingnya. Yunho mengikuti pergerakan Jaejoong. Memeluk erat tubuh Jaejoong, menyenderkan kepala Jaejoong pada dada bidangnya. Membelai punggung dan kepala Jaejoong.
"kenapa kau mencintaiku?" tanya Jaejoong
"entahlah, aku merasakannya sejak lama"
"kenapa tak mengatakannya?"
"karena terlalu banyak lelaki yang kau dekati, tapi kau tak pernah menatapku"
Jaejoong tersenyum, "tapi sekarang aku tak hanya menatapmu bukan? bahkan aku dipelukanmu"
"eumbb" jawab Yunho singkat
"Yunho, kau terlalu dingin tapi kau membuatku sedikit panas" ucap Jaejoong sembari memainkan jemarinya di dada bidang Yunho
"pejamkan matamu"
"aku tak akan bisa tidur"
"turuti permintaanku, diamlah, pejamkan matamu" ucap Yunho, dia meneruskan kegiatannya. Memeluk erat Jaejoong dan mengelus rambut dan punggungnya.
Entah perasaan apa yang dirasakan Jaejoong, yang jelas ia merakan kehangatan dan nyaman dengan perlakuan Yunho, perlahan dia menuruti permintaan Yunho. Memejamkan mata indahnya dan menyamankan posisinya didekapan Yunho.
. . . . . . . . . . . .
"Wonnie, apa kau yakin Jaejoong aman bersama Yunho" ucap seorang wanita yang sedang berada dipelukan seorang lelaku bertubuh kekar
"aku percaya padanya Chullie, dan aku tak akan melepas Jaejoong sendirian. Seperti biasa, dia selalu dijaga"
"bagaimana dengan perusahaan?"
" Sebentar lagi aku akan membuat mereka jatuh"
"semoga tak memakan waktu lama, kita sudah cukup lama menunggu"
"ne"
"emmbb. ..Wonnie apa kau yakin Jaejoong tak akan jatuh cinta sungguhan pada Yunho?"
"wae?"
"Jaejoong itu gadis normal, cantik, bersinar, mempesona dan Yunho dia seorang lelaki normal yang kurasa dia tampan dan menarik"
"tampan dan menarik, benarkah?"
Heechul mengangguk, "hanya gadis bodoh yang mengatakan bahwa Yunho itu tak menarik, dia manly, menawan, dan arghhhh"
"kau memuji lelaki lain saat bersamaku dan terlebih saat tubuh kita menyatu seperti ini" ucap Siwon.
"aahh. . .Wonnieehh. . .sshhh"
"jangan melihat lelaki lain" ucap Siwon
"nehhh. . argghhh. . .stopp it, aahhku lelahh"
"ini hukuman untukmu Cinderella" Siwon tak menghentikan aktivitasnya.
. . . . . . . . . . . .
Dilain pihak, Yoochun masih mengendarai mobil merahnya. Jarak yang dituju lumayan jauh, disepanjang perjalanan Yoochun terus memikirkan kekasihnya, Kim Junsu.
Mobil mewahnya memasuki kawasan perumahan mewah di mana Junsu tinggal. Suasana sepi, terang saja saat ini sudah dini hari. Yoochun terus memacu mobilnya, di belokan ke tiga, Yoochun memelankan laju mobilnya kemudian menghentikannya di depan sebuah rumah. Ya, rumah Kim Junsu.
"Changmin?" ucap Yoochun saat mengetahui sebuah mobil hitam terparkir di halaman rumah Junsu. Tanpa pikir panjang, Yoochun segera memasuki rumah Junsu. Jangan heran dari mana dia mendapatkan kunci rumah Junsu, sudah jelaskan bahwa Yoochun masih kekasih Kim Junsu.
Yoochun membuka cepat pintu utama rumah Junsu, suasana rumah Junsu remang, hangat dan menenangkan. Bergegas Yoochun menaiki tangga rumah Junsu, menghampiri kamar Junsu dilantai dua.
Berhenti sejenak di depan kamar Junsu, napasnya sedikit terengah. Kemudian dia memutar knop pintu kamar Junsu, kamar Junsu nampak remang. Hanya lampu tidur berwarna kuning yang menyala diatas meja nakas di samping ranjang besar Junsu, namun itu tak menghalangi pandangan Yoochun. Terlihat jelas dimata Yoochun bahwa terdapat dua orang diatas ranjang kekasihnya. Dengan segera Yoochun mencari saklar lampu kemudian menghidupkannya. Mata Yoochun membelalak melihat keadaan di depannya, napasnya semakin terengah, jemarinya mengepal kuat. Ya, Yoochun melihat kekasihnya, Kim Junsu tidur berbantalkan dada telanjang Changmin. Jangan lupakan punggung atas dan lengan Junsu yang terekspos jelas serta pakaian yang berserakan di lantai kamar Junsu.
Yoochun melangkahkan kakinya menendekati Junsu dan Changmin, "brengsek" ucap Yoochun sembari menggulingkan tubuh Junsu. Junsu berguling dan terbangun, matanya membelalak kaget mendapati Yoochun di kamarnya, "Ch. .chunnie" ucap Junsu tergagap.
Changmin membuka matanya, memandang kearah Yoochun dan menyunggingkan seringaiannya, "waeyo?" ucap Changmin santai.
Namun berbeda dengan Yoochun, kepalan tangannnya sudah melayang ke pipi Changmin sesaat setelah Changmin menyelesaikan pertanyaannya.
Junsu menjerit melihatnya, Changmin mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya "hanya seperti ini kekuatanmu?"
"brengsek kau Shim Changmin, apa yang kau lakukan pada kekasihku?" ucap Yoochun masih memukul wajah Changmin
Changmin tersenyum meremehkan, tak membalas perlakuan Yoochun padanya. Junsu terduduk disamping Changmin hanya bisa menangis dan menjerit melihatnya.
"tanyakan saja pada Junsu"
"shiit. . ." umpat Yoochun, dia masih melayangkan pukulan ke pipi Changmin. Changmin geram dengan perlakuan Yoochun, dia bangkit dari posisi tidurnya. Terlihat jelas tubuh topless Changmin.
Buaghh. . . Changmin membalas pukulan Yoochun, Yoochun tersungkur di lantai. Kemudian Changmin duduk dipinggir ranjangnya, meraih tubuh Junsu yang bergetar yang hanya tertutupi selimut tebal kemudian memeluknya.
"uljima" kata Changmin sembari mencium kepala Junsu, Yoochun melihat jelas perlakuan Changmin.
"brengsek, jangan menyentuh Junsu" ucap Yoochun sembari memukul kembali wajah Changmin
"aaa. . .hentikan" teriak Junsu, "Yoochun oppa, hentikan dan cepat keluar dari rumahku"
"apa?" ucap Yoochun tak percaya, Changmin menyeringai.
"aku mau kau keluar, sekarang" teriak Junsu
"kau mengusirku? Aku kekasih mu" teriak Yoochun
"kau bukan lagi kekasihku"
"mwoya? Kau memilih si brengsek ini? kau memilihnya? Kau menyerahkan tubuhmu padanya?"
"ne, aku memilih Changmin, aku menyerahkan tubuhku pada Changmin"
"see. . .keluarlah dari sini. Junsu tak membutuhkanmu lagi" ucap Changmin
"brengsek, aku tak akan tinggal diam Kim Junsu" ucap Yoochun kemudian keluar dari kamar Junsu dan membanting pintu kamar Junsu.
Junsu semakin terisak, Changmin memeluk tubuh Junsu erat.
"menyesal?"
Junsu terdiam
"terserah kau, masih menginginkan aku di sini atau tidak" ucap Changmin yang kemudian melonggarkan pelukannya
"andwe" ucap Junsu disela isakannya, "jangan tinggalkan aku" Junsu memeluk erat tubuh Changmin
"ku harap kau tak menyesal setelah ini"
Junsu menggelengkan kepalanya, "jangan hikss. .tinggalkan aku. .hikkss"
"wae?"
"aku mau kita seperti dulu lagi, aku mau Changminku kembali. Kita mulai dari awal. Jebal. .hikkss"
"benarkah?"
Junsu mengangguk
"ne, aku tak akan pergi selama kau tak meninggalkanku dan tak mengkhianatiku. Bagaimana?"
Junsu mengangguk, Changmin membalas pelukan Junsu, mengusap punggung Junsu perlahan.
Cukup lama tanggisan Junsu mereda, Junsu melepas pelukannya. Mendongakkan wajahnya emnatap wajah Changmin kemudian menjulurkan jemarinya mengusap memar di wajah Changmin
"appo?" ucap Junsu
"ne"
Junsu menjauhkan tubuhnya, "tunggu sebentar, aku akan mengobatinya"
Changmin tersenyum, Junsu berdiri, masih memakai selimut tebal kemudian mengambil kotak obat di almari kecilnya.
Dengan telaten dia membersihkan luka memar Changmin, kemudian mengolesinya dengan zalf. Changmin terus memperhatikan wajah Junsu, manis. Ya Junsu terlihat sangat manis dalam jarak sedekat itu. Changmin mengulurkan jemarinya, mengusap perlahan wajah tirus Junsu.
"kemana pipi tembammu?"
"eumb?" Junsu mendongakkan kepalanya, pandangan matanya bertemu dengan pandangan mata Changmin, semburat merah tercetak jelas di pipi Junsu, "su. .sudah selesai" ucapnya gugup.
Changmin masih membelai pipi Junsu, mendekatkan wajahnya pada wajah manis Junsu kemudian menempelkan bibirnya pada bibir merah Junsu. Mengecupnya dan menyesapnya perlahan kemudian melepasnya.
Junsu sedikit terkejut dengan perlakuan Changmin, matanya masih memandang wajah Changmin. Changmin tersenyum, "aku berubah pikiran"
Deg. . .jantung Junsu semakin berdetak cepat.
"aku ingin kau malam ini" ucap Changmin sembari merengkuh tubuh ramping Junsu, "bagaimana?" bisik Changmin ditelinga Junsu.
Junsu mengangguk sekali. tanpa pikir panjang Changmin mempererat pelukannya, dan. . . .
_TBC. . . .
Nyahhh. . . .akhirnya update, masih ada yang mau bacakah? *semoga. .
Semoga chap ini memuaskan, tapi menurut saya ada yang kurang. Kurang dapet feel buatnya, *setelah kejadian di delete nya Make me. . saya. . .rasanya menyebalkan. .*dg alasan Title/summary is not fiction G rated n not suitable for all audience* huweee. . . . emang salah satu faktor di deletenya make me. .adalah keteledoran saya, tapi kan yang ngelanggar Cuma 1 ff yang lainnya gak ngelanggar. . . .tapi kenapa ke 7 nya di hapus ? ? ? ! *haaahhh. . .sudahlah. . .
Eummbb. . .makasih buat yang udah pada review di chap kemaren. Review dan komen kalian selalu saya tunggu. Dan maaf jika chap ini banya typonya. . hehehehe. . .
Baiklah. .terakhir. . .READ n REVIEW. . .SILENT READER tolong hargai karya orang kalo kamu mau dihargai sama orang lain juga ;)
GAMSAHAE. . . .
. . . . . . . . . . . . . . .
ANNOUNCEMENT
Annyeong. . .saya Jaexi lewat Avenger, saya ingin memberitahu tentang pengunduran diri saya. Mulai saat ini saya tidak lagi menjadi author di FFn, saya belum tahu apakah ini untuk selamanya atau untuk sementara. Yang pasti mulai pemberitahuan ini publish, saya tidak akan lagi mempost ff saya di sini.
Bagi kalian yang masih berkenan membaca ff saya, silahkan hubungi saya melalui twitter saya trie0621 atau kalian bisa ke
Terimakasih atas 3 bulan yang berkesan ini, tanpa kalian saya bukan apa-apa di sini, terimakasih atas sambutan positif kalian terhadap cerita saya. .saya berharap readers tetap mendukung cerita saya di wordpress pribadi saya. . .terimakasih. . .
dan maaf atas ketidak-bertanggungjawaban saya . .
(tidak menutup kemungkinan bahwa Avenger ini akan dihapus juga oleh admin FFn)
Terakhir. . .sampai bertemu dilain tempat *big hug*
trie0621
_jaexi_
